Naik | Turun

 

Selulit

Memberi nama anak

“Apalah arti sebuah nama” sebut sebuah peribahasa atau apalah namanya, nama hanyalah identitas yang disematkan untuk membedakan individu dari individu lainnya. Nama mungkin adalah pakaian bagi seseorang.

“Apalah arti sebuah nama” apabila hal itu ditanyakan sekali lagi maka artinya sangatlah tinggi, nama adalah keeksistensian seseorang dalam komunitas, nama adalah cirri khas sebuah budaya, nama adalah lambang kemakmuran tak pelak banyak juga artis yang dulunya orang biasa saja rela mengganti namanya ketika sudah tersohor.

Begitupun bagi ku sebagai seorang bapak, orang tua bagi anak-anakku. Hak yang nanti diminta oleh anak-anakku adalah pemberian nama yang baik bagi mereka. Maka haruslah kutunaikan kewajiban itu, memberikan nama yang baik, memberikan nama yang tidak akan menyulitkan perjalanan hidupnya kelak.

Kegiatan member nama ini begitu menyenangkannya, diliputi rasa kekhawatiran akan kesalahan pengejaan atau leksikal atau bahkan dalam segi arti akan membuat penyesalan di kemudian hari.

Pemilihan dasar bahasa juga tak luput dari kegiatan menyaring nama ini, sebagai muslim yang ingin mentaati Rasulnya tak pelak saya selalu memilih nama yang berbau arab, walau kadang tergiur juga tuk member nama dalam kosakata bahasa Indonesia. Setelah ditelusuri pun kosakata bahasa Indonesia banyak yang mengadopsi kosakata luar seperti Arab, sansekerta, latin ataupun Inggris.

Hal yang ingin sekali ku gunakan dalam pemilihan nama anak adalah dari segi keunikan, unik dan jarang dipakai sehingga tak terkesan pasaran, nama yang unik biasanya memberikan kebanggan bagi pemiliknya kelak. Dan hal itu tentu saja akan membuat si penyandang nama menjadi lebih mudah diingat.

Namun nama selain unik juga ku hindari penggunaan kata yang panjang dan rumit, takut sipenyandang nama susah nulisnya kelak. Kedua anakku sebelumnya selalu memiliki 3 suku kata dalam namanya, tradisi ini harus diturunkan, sebisa mungkin semua anak-anakku memiliki 3 suku kata dalam namanya.

Si sulung bernama HAFIDZA GHAIDA SILMI yang berarti wanita yang dipelihara dengan kelembutan dan kedamaian sednagkan sibungsu ku beri nama MUHAMMAD ROMIZ SYAHZADA yang berarti manusia terpuji yang memiliki ciri seorang pemimpin, anak ke-3 ku kelak pun harus memiliki nama dengan 3 suku kata.

Sampai saat ini pun belum ku temukan kata yang pas untuk calon anak ke-3 ku, padahal dokter memperkirakan HPL nya awal januari..
SELENGKAPNYA - Memberi nama anak

Tentang Form Baru PPN dan hal yang penting mengenainya

Kembali Dirjen Pajak melalui peraturan terbaru nomor : PER-44/PJ/2010 merubah format formulir SPT Masa PPN. Dimana SPT Masa PPN ini yang selanjutnya disebut dengan SPT Masa PPN 1111, terdiri dari :

a. Induk SPT Masa PPN 1111- Formulir 1111

b. Lampiran SPT Masa PPN 1111 :
1.Formulir 1111 AB - Rekapitulasi Penyerahan dan Perolehan;
2.Formulir 1111 A1 - Daftar Ekspor BKP Berwujud, BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP;
3.Formulir 1111 A2 - Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Dalam Negeri dengan
Faktur Pajak;
4.Formulir 1111 B1 - Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Impor BKP
dan Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari Luar Daerah Pabean;
5.Formulir 1111 B2 - Daftar Pajak Masukan yang Dapat Dikreditkan atas Perolehan
BKP/JKP Dalam Negeri; dan
6.Formulir 1111 B3 - Daftar Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan atau yang
Mendapat Fasilitas,

c. SPT Masa PPN 1111 wajib diisi oleh setiap PKP selain PKP yang menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan.

d. SPT Masa PPN 1111 dapat berbentuk formulir kertas (hard copy); atau data elektronik.

e. SPT Masa PPN 1111 baik dalam bentuk formulir kertas (hard copy) maupun dalam bentuk data elektronik dapat digunakan oleh PKP yang dengan jumlah transaksi TIDAK LEBIH DARI 25 (dua puluh lima) dokumen dalam 1 (satu) Masa Pajak.

f. SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk data elektronik WAJIB digunakan oleh PKP yang dengan jumlah transaksiLEBIH DARI 25 (dua puluh lima) dokumen dalam 1 (satu) Masa Pajak.

g. SPT Masa PPN 1111 yang disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy) bentuk, isi, dan ukuran sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini tidak boleh diubah.

h. SPT Masa PPN 1111 yang disampaikan dalam bentuk data elektronik harus menggunakan aplikasi e-SPT yang telah disediakan oleh Dirjen Pajak dan Induk SPT Masa PPN 1111 tetap disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy).

i. Dalam hal tidak ada data yang dilaporkan dalam Lampiran SPT Masa PPN 1111, maka Lampiran SPT Masa PPN 1111 tidak perlu dilampirikan.

j. Formulir SPT Masa PPN 1111 dalam bentuk formulir kertas (hard copy) dapat digandakan atau diperbanyak sendiri oleh PKP.

k. Dalam hal PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN untuk Masa Pajak sebelum Masa Pajak Januari 2011, pembetulan dilakukan dengan menggunakan formulir SPT Masa PPN yang sama dengan formulir SPT Masa PPN yang dibetulkan.

Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai diberlakukan untuk pengisian dan pelaporan SPT Masa PPN mulai Masa Pajak Januari 2011.

Download peraturan DI SINI
Download Formulir Masa PPN 1111 DI SINI

source : pajak-kita
SELENGKAPNYA - Tentang Form Baru PPN dan hal yang penting mengenainya

Kado Rindu Buat Ayah

Entah perayaan hari apa kini, yang pasti hari ulang tahunnya pun sudah terlewatkan. Sepertinya juga tak ada hari khusus yang ditetapkan akan berat dan hebat tanggung jawabnya. Setidaknya ada 75 negara yang menjadikan pekan ke-3 dibulan Juni setiap tahunnya untuk memberikan off day kepada sosok ini untuk dapat merenungi tugas hebatnya mengiringi keluarga. keberadaannya dalam tugas dan tanggung jawabnya, namun tidak di negeri ini. Sosok ini hampir terlewatkan untuk dikenang bahkan di bicarakan, namun kesannya tak akan pernah luntur dalam sebuah kehidupan. Ayah, dalam sekian malam kadang terselip rasa rindu.

Teringat banyak hal yang membuat ikatan dirimu dan egoku begitu menggumpal, berseberangan bagaikan timur dan barat. Namun kau tak pernah putus asa menyapaku di pagi hari, hanya untuk mengusap dahiku dengan air wudhu. Tak jarang pula kita berbeda pendapat, hingga hampir tangan kita beradu kepalan. semua itu tak lain karena miripnya kekeras kepalaan yang kau turunkan kepadaku.

Di sela-sela kutulis ini kita tak lagi berdekatan, sayup-sayup lantunan syair dan lagu yang mengambang di udara yang memasuki telaingaku, merambat pelan hingga sampai di lyric-lyrik ini;

….Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan……..

Ayah, lambat laun ku mulai sadar bahwa usia tak akan pernah berbohong betapa hikmah sebuah perjalanan sangatlah hebatnya tergambar di dalam setiap petuahmu. ketika kutub-kutub tubuh kita terpisahkan jarak dan waktu kau selalu berpesan;

“sebuah tiang besar telah ku tegakkan diatas kapalmu, singkaplah layar itu agar terkembang, agar setiap angin meniupnya dengan kencang. agar kau tahu bahwa dunia ini begitu luasnya. Namun ingat di perjalanan kelak aka nada banyak tiang-tiang lain yang akan tegak disamping tiangku itu, ingat ucapanku nak, jangan pernah kau robohkan tiangku itu!”

Bertahun-tahun kuanggap itu hanyalah pesan biasa seorang ayah yang hendak ditinggal pergi anaknya, bertahun-tahun pula ku tak memahami makna kalimat itu. hingga suatu saat ku menyadari kebodohanku, ku menyadari kenaifanku. dunia ini begitu luasnya, perjalanan seorang laki-laki akan menancapkan tiang baru di setiap masa, memberinya arti sosok laki-laki. memberinya warna indah untuk ditularkan kepada anak-anak cucunya.

Yah, aku baru menyadarinya bahwa perjalanan lelaki itu bagaikan air yang selalu mengalir dari hulu ke hilir, di setiap kelokan, di setiap kubangan, di setiap das, di setiap bendungan, air terjun dan diantara bebatuan perjalanan air akan menjernihkannya hingga ketika tiba dimuara air ini akan siap menyatu dengan luasnya samudera.

……Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia……

Satir dan Elegi terngiang dalam setiap baris kemeranggasan kayu tua yang mulai lapuk termakan usia, bulir-bulir sendu kepayahan yang amat sangat menahan hempasan ketika aku pun mulai sanggup berkata ‘tidak’ .

Lekuk-lekuk pipimu membuatku yakin bahwa ketidak hadiranmu ketika ku lahir didunia ini bukanlah kesengajaan, ku tahu kau sangat menginginkan menimangku sesaat ketika ku lahir. tapi lihatlah puteramu ini, hanya bisa menangis dan berteriak ketika sedikit saja beban hinggap.

Ayah dalam sisa-sisa pengabdianmu pada tugas kebapakanmu, ku tersandar dalam kenyataan bahwa kau tak lagi sekekar dulu tuk mengangkatku ketika ku jatuh, tuk menarikku ketika ku terjerembab, tuk menggapaiku ketika ku tersandung dan ayah, sisa-sisa duka ku pun masih tertinggal di bingkai jendelamu.

……Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban………..

Ayah, kita pernah duduk berdua diatas batu dipinggir telaga. melihat tenangnya bayangan rembulan diatas permukaan air, hingga tiba-tiba butiran-butiran air membuyarkan lamunan dan mulai mengaburkan ketenangan air telaga. tiap tetes, tiap percikan air hujan itu siapakah yang akan menghitungnya? siapakah yang peduli terhadapnya? Seperti itulah dirimu mendekap rasa takutku, mengajarkan bagaimana menghadapi dunia ini. tiap tetesnya tiap percikannya tak terhitungkan karena memang ku tak pernah memperhatikan. namun kau tetap memercikkannya, kau tetap meneteskannya tanpa lelah.

Hingga bayangan rembulan itu kembali tercipta diatas tenangnya air telaga, kau tak pernah lelah. kini aku rindu untuk duduk berdua denganmu di pinggir telaga.

Apalah makna hari untuk sebuah pemberian, kukirimkan rindu bersama tiupan angin malam, lirih hampir tak terdengar. bersama itu pula ku kirimkan kado terindah untukmu agar akupun bisa merasakan berat bebanmu, Ayah……

-Lyric : Titip rindu buat ayah~Ebiet G. Ade~-
SELENGKAPNYA - Kado Rindu Buat Ayah

Surat rindu untuk putri sulungku

Waktu ayah tulis surat ini sungai kecil didepan rumah kita dulu mulai mengering nak
Pohon-pohon bamboo di pinggirnya pun menyisakan akar yang mencadas.

Nak…
Diujung kamar ini kutuliskan segenggam rindu
Dibalik jendela kamarmu dulu
Tempat kau biasa duduk termangu
Hingga kadang kau lupa waktu

Nak…
Saat engkau lahir, kucium, ku peluk dan kegendong engkau seakan tak kan terpisahkan,
Saat ibumu tidur, kucium lagi, ku peluk lagi dan kugendong engkau semalaman.
Engkau bukti tak terpisahkannya cintaku dan ibumu
Engkau ikatan erat yang takkan terputuskan oleh apapun jua

Nak…
Kusandangkan nama untukmu dalam untaian do’a
Agar aku selalu ingat untuk apa engkau lahir didunia ini
Agar aku selalu ingat bagaimana seharusnya engkau dibesarkan
Cita-cita mulia aku dan ibumu yang akan selalu kau pegang teguh
Wanita yang terpelihara dengan kelembutan dan kedamaian

Nak…
Ingatkah kau waktu kecil?
Rambutmu selalu tergerai, dan hanya mau duduk dipangkuan ku saat menggelungnya
Kurasakan nikmat tiada tara kala membelai rambut panjangmu yang memerah diujungnya
Kini masih kusimpan bekas-bekas rambut itu
Kan ku keluarkan kala ku ingat dirimu

Nak…
Membesarkanmu adalah sebuah anugerah
Saat semua makanan terhidang dimeja, namun kau tak menyentuh sedikit pun masakan ibumu
Kau cari aku dan kau tarik tanganku hanya tuk sekedar mengecap kue jalanan
Saat itu kau mengendap berlindung dibalik punggungku agar ibumu tak memarahimu
Betapa bangganya menjadi tameng pelindungmu dari amarah ibumu

Nak..
Mungkin ayahmu dulu terlalu keras mengajarkanmu berhitung ataupun mengeja
Hingga tiap malam tak pernah kering matamu karena tangis
Ayahmu tak tahu lagi bagaimana harus mengajar karena ayahmu tak pernah belajar
Namun tahukah kau nak…
Ayahmu akan selalu menangis bahagia bermalam-malam ketika mendapati dirimu telah menjadi orang berada.

Nak…
aku dan ibumu masih menyimpan sepatu merah berhak tinggi itu
sepatu yang dulu kau idam-idamkan, walau aku dan ibumu tak setuju kau memakainya kala kau minta ijin ke sebuah pesta.
Hingga suatu malam kau merusaknya, karena haknya patah menjadi dua
Maafkan aku dan ibumu nak, penghasilan kami hanya cukup membelikan sepatu murah untukmu…

Nak…
Maafkan ayahmu ini yang sering memarahimu
Maafkan ayahmu ini yang sering melarangmu
Maafkan ayahmu ini yang membatasi siapa temanmu
Maafkan ayahmu ini yang selalu menyuruhmu pulang sebelum matahari pulang ke peraduan
Maafkan ayahmu ini yang selalu mengajarimu
Maafkan ayahmu ini yang sering menanyakan keberadaanmu
Maafkan ayahmu ini yang selalu cerewet
Semua karena ayahmu ini terlalu khawatir akan masa depanmu.

Nak…
Sedih, pedih dan sakit rasanya ketika menyadari bahwa ternyata kau bukan milikku
Kau adalah roh titipan Yang Maha Memberi, kau adalah tiupan Yang Maha Mencipta
Kusadari kesalahanku itu dimalam-malam panjang dihadapanNYA

Nak..
Sejak saat itu kutahu makna keberadaanmu, makna keberadaanku dan makna tugas kebapakanku kepadamu.
Tugasku bukanlah membuat agar engkau dikagumi orang
Namun agar engkau dikagumi dan dicintai oleh-NYA

Nak…
Tugas terberatku selama keberadaanmu adalah aku harus terlebih dahulu dekat dengan-NYA
Agar menjadi contoh bagimu sesuai keinginanYA, bukan seperti keinginanku.

Nak…
Tak pernah kusisihkan kerikil dari jalanmu, karena itu hanya akan membuatmu kerdil
Tak pernah kularang kala kau dekat dengan api, karena itu hanya akan membuat mu beku
Cukup genggamlah tanganku yang mulai rapuh ini, mari mendekatkan jiwa kita dan bersama kita merasakan perjalanan yang sebenarnya.

Nak..
Ketika itu sudah terjadi
Takkan pernah kulepaskan genggaman tangmu kala kau mengeluh payah
Takkan pernah kubiarkan engkau terjatuh saat kakimu mulai lunglai
Akan selalu ku kuatkan engkau saat engkau mulai menyerah
Karena mengenalNYA kita memang tak boleh berhenti.

Nak..
Hapuslah air matamu, tataplah cakarawala
Ketika engkau hampir putus asa, niscaya ayahmu akan selalu dibelakangmu

Akhirnya nak..
Kelak apabila semua manusia telah dikumpulkan dihadapan peradilan Yang Maha Adil, dan kudapati jarakku teramat jauh dariNYA, memang begitulah adanya
Namun bila boleh meminta asa, kuingin melihatmu dekat denganNYA
Aku akan bangga karena itulah bukti bahwa tanggung jawabku telah tertunaikan.


~Dari ayah yang sedang rindu~

NB : diikutsertakan dalam "lomba menulis surat inspiratif"
SELENGKAPNYA - Surat rindu untuk putri sulungku

Kata itu begitu indah terucap, IBU

Wanita perkasaku kini terbaring lemah (15 September 2006)

Tak sengaja menangkap judul sebuah artikel dari blog opick ‘Sekeping hati untuk Bunda’. Sebuah kalimat pendek yang akhir-akhir ini sering membuat perhatianku tak urung langsung teralihkan. Yah…kata atau kalimat yang didalamnya ada penggalan bunda, ibunda, ibu,emak, mamak atau yang berartian sama. Kata yang akan langsung mengantarkan memory ingatanku ke sosok lemah yang kini terbaring tak berdaya diatas pembaringan didalam kamar dibagian rumah kebanggan kami.

Ibu yang kukenal dulu adalah seorang sosok yang tegar, tahan banting bahkan aku dulu menjulukinya ‘wanita perkasaku’ kini sedang bergumul dengan sakitnya. Sakit yang tak kami duga kedatangannya, sakit yang telah ditetapkan Allah atasnya. Wanita perkasaku kini berada dalam pembaringan, mencoba melawan sakitnya dengan desahan nafas penuh kesabaran, walau kadang kulihat sedikit air mata mengalir dari pipi keriputnya. Jemarinya yang pecah-pecah mencerminkan tanggung jawabnya akan kami namun begitu lembut ketika menyentuh kulit kami, kini terasa keriput dan kekuningan menandakan sudah tinggal sedikit kekuatannya tuk bertahan.

Ketika tangisku pecah memandang penderitaannya, hanya sedikit yang mampu diucapkannya, ‘Tolong jangan menangis’ ucapnya lirih. Semakin menjadi tangisku saat ucapan itu keluar dari sisa tenaganya. Diletakkannya tangannya diatas kepalaku, namun tak sanggup lagi kiranya kalimat berikutnya tuk dikeluarkannya. Senyumnya menyungging ketika ditatapnya cucunya, cucu pertamanya yang baru sempat disentuhnya, belum sempat digendong dan dicumbunya. Diciuminya cucu yang juga putrid pertamaku dan dibisikinya yang lirih terdengar,’jadilah wanita kuat untuk keluargamu’ pesannya.

Baru setengah Tahun yang lalu tumor itu diketahui, setelah menggerogoti tubuh ibuku tanpa diketahui. Karena memang letaknya didalam ususnya. Sehingga saat gumpalan sel yang tak stabil itu mulai menutupi jalannya makanan dan mengganggu sitem percernaan tubuh ibu baru gejala mulai nampak. Dan kemudian dokter memvonis harus operasi untuk mengangkat tumor itu.

Apakah masalah selesai setelah tumor itu diangkat? Ternyata tidak. Masalah yang lebih pelik mulai muncul, ternyata operasi itu membuka pintu baru untuk beberapa masalah yang muncul, mulai dari penolakan tubuh atas terapi kemo, hingga gangguan lambung dan kerja usus yang tak optimal lagi. Sehingga membuat penderitaan ibu semakin hebat. Namun kami hanya bisa pasrah dan tawakkal. Dokter sudah bekerja semaksimal mungkin. Manusia boleh berusaha namun Allahlah penentunya. Wanita perkasaku kini terbaring lemah diranjang, tanpa tenaga tanpa keriangan yang dulu selalu menghiasai hari-hari kami. Ada yang hilang dalam hidup keluarga kami. Tempat kami menumpahkan keluh kesah kami, Tempat kami memuji kelezatan masakan yg kami makan, tempat kami mencari cermin ketika jiwa kami mulai lelah. Ibu…..

Kini anakmu yang dulu selalu kau andalkan telah jauh dari sisimu, 2 minggu yang kulewatkan bersamamu dalam sakitmu adalah waktu paling berharga dalam hidupku karena diwaktu itulah kutahu aku bisa membalas sedikit penat dan lelahmu membesarkan putramu, walau penat dan lelah yang kurasakan tidak sebanding dengan pengorbananmu selama 19 tahun yang kau curahkan tuk menjadikanku seperti sekarang ini.Ibu titikan airmata penderitaanmu kini akan menjadi sebentuk kristal pengabdianku untukmu.

Ibu…..tidakkah engkau ingin melihat lucunya cucumu?
Ibu…..telah kubangunkan istana untukmu disisiku..tidakkah engkau ingin melihatnya?
Ibu……bahkan adik terkecilku pun belum penuh mendapatkan kasih sayangmu
Ibu …..aku minta berjuanglah untuk kami.

Dari sekian banyak permintaan kami, ibu…..tolong kabulkan lah yang ini…bersediakah ibu berjuang demi kami? Sehingga dapat kulihat lagi senyuman dibibirmu..karena tak kan indah mentari pagi kami tanpa senyummu.

Ya Allah….kalaulah ini ujian berilah kesabaran dan ketabahan kepada ibuku untuk melawan sakitnya.
Ya Allah….Kalaulah ini peringatan ampunilah kami ya Allah
Ya Allah….tiada daya, tiada kekuatan melainkan dariMU.


~~
Wanita yang perkasa (17 September 2006)

Ibu……
Anakmu kini akan menemuimu
Memenuhi panggilanmu
Saat rindu sudah begitu besar
Rasanya tak sanggup lagi tuk bersabar

Ibu……..
Darah yang mengalir ditubuh ini bergolak
Ketika tahu engkau sedang meradang menahan sesak
Darahmu ini merasakan deritamu
Sudah seharusnya kutatap wajahmu
Dan kudekap semua sakitmu
Sehingga tak akan ada lagi rintihan

Ibu……
Kau besarkan aku dengan airmata dan darah
Kini kan kuhapus airmata itu dengan baktiku
Dan kan kutebus darah itu dengan pengorbananku diatas semua manusia dibumi ini
Walau pun itu tidaklah ada secuil
Untuk airmata dan darahmu
Tapi itulah kesanggupan buah hatimu ini…
Ibu……….
Anandamu kini sudah kau jadikan manusia pilihan
Saat tiada lagi pilihan didunia ini
Karena jalan yang kau berikan adalah ketetapan
Sepasti jalanku keluar dari rahimmu dulu.

Ibu……..
Orang bilang kasihmu sepanjang jalan
Dan sayangku hanya sepanjang penggalah
Memang seperti itulah ada nya
Namun percayalah bundaku sayang
Panjang penggalah ini adalah sepanjang umurku.

Ibuku saying….
Sebentar lagi anandamu pulang
Kan kubiarkan hatimu menatap putramu ini
Ibuku sayang.....
Saat kembaliku nanti
Pastikan anandamu ini masih bisa menatap senyummu
Ibuku sayang…..


~~
Rintik hujan itu datang tiba-tiba (18 September 2006)

Senin pagi itu kumulai hari dengan begitu cerah secerah terpaan mentari hangat di balik semu awan putih, Namun dibalik cerahnya pagi itu tersembunyi rapat dalam relung hati kepedihan ketika melihat penderitaan orang yang paling kusayangi diatas ranjang sakitnya. Subhanallah….1 bulan yg lalu ketika kukunjungi ibu, masih dalam keadaan segar walau ada bekas operasi pengangkatan tumor di bagian tubuhnya. Namun ketika melihat ku dan cucunya rasanya tiada terpancar penampakan orang sakit diwajahnya. Yang ada adalah senyum ceria, gelak tawa dan ucapannya yang lembut namun begitu membekas dalam hati.

Dan sekarang ibu tak ada lagi disisiku, Tiada lagi sosok wanita perkasa dalam hidupku. Tokoh panutanku dalam hidupku, mentor setiaku dalam membesarkan anakku. Murobbi terhebatku dalam mengarungi lika-liku iman dalam hati.Dan guru paling faham akan keinginan-keinginkaku. Tiada lagi sosok itu yang akan kutelpon dimalam hari tuk kumintai sekedar pendapatnya, atau untuk meminta nasehat bagaimana meluluhkan sifat manja istriku.

Disenin pagi itu ketika kuterduduk dengan teh hangat di kantin belakang kantorku, dikejutkan oleh deringan Hand Phone yang tak biasanya sepagi ini ada telpon dari keluarga di malang.Sehingga dengan sedikit perasaan khawatir kuangkat dan suara pertama yang kudengar adalah tangisan. Semakin gundah hatiku dibuatnya, dan ketika kabar itu sampai di gendang telinga barulah hati ini merasa berdegup semakin kencang dan darah terasa begitu cepat terkesiap kekepala.

Ibu akan dikuburkan jam 3 sore, kala itu jam 9 pagi kugesah seluruh tenaga dan kemampuan tuk bisa hadir sebelum jam 3, namun apa bisa dikata, menyemayamkan jenazah lebih cepat lebih baik, dan prinsip itu bertentangan dengan kondisi lalu lintas, baik udara maupun darat. Sehingga jam 5 baru kusampai ditempat tujuan. Tak sempat lagi kumasuk kedalam rumah langsung kususul ibu ke makamnya, kuterduduk disebelah nisannya dan diatas gundukan yang masih basah dan wangi oleh bunga. Tak ada kata yang keluar dari dalam mulut karena memang tiada kalimat yang harus kuucapkan selain do`a. Tak ada air mata yang mengalir deras karena memang pesan terakhir yang ditinggalkannya untukku adalah “ojo nangis le”. Disebelahku adikku laki-laki menungguiku, kemudian kuberdiri dan kushalatkan ibuku dengan shalat ghaib karena tidak memungkinkan lagi tuk shalat jenazah di pemakamannya. Kemudian adik bungsuku menyusulku dan menumpahkan seluruh kepedihannya ditangkupan dadaku, tidak seperti adik tertua yang bungsu ini memang masih kecil satu-satunya adik perempuan yang kumiliki wajar bila pedihnya amat sangat ditinggalkan sosok ibu dalam usia yang masih belum dewasa untuk mengerti apa yang terjadi.yang dia tahu hanya dia tak akan pernah melihat ibunya lagi.Apalagi belaian mesra, ajaran lembutnya, atau pujian sayangnya.

Sekembaliku dari makam ayah sudah menunggu disertai sanak saudara dan tetangga yang turut berduka cita. Kulihat ketegaran diwajah ayah, walau sesekali ada titikan airmata disela-sela kelopak matanya yang mulai keriput dan menghitam.Kupandangi sosok yang mulai melemah kondisinya didepanku itu, kucium tangannya dan akupun dirangkulnya seakan tak akan dilepaskannya lagi.Begitu lama sehingga airmatanya tak lagi terbendung.

Malam ketiga dirumah tempat kudibesarkan kulewati dengan menghibur diri dan adik-adikku, kuturuti semua keinginannya, kubelikan semua yang dimintanya. Agar supaya kenangan akan ibu akan sedikit terlupakan.Sehingga ketika ku akan kembali ke rumahku dilampung masih berat rasanya mereka melepasku, karena kini akulah pengganti sosok ibu bagi adik-adikku. Karena akulah yang menghabiskan masa terlama bersama ibu. Sehingga ilmu dari beliau akulah yang paling banyak menyerapnya.

Dengan menyisakan perasaan sedih kutinggalkan keluargaku yang sebenarnya masih membutuhkanku, karena didalam keluarga akulah yang paling tegas, mewarisi ketegasan ibu dalam mengambil setiap keputusan, karena ragu-ragu akan celaka pada akhirnya.Dibalik senyumanku ada terbersit pedih ketika ku bertemu sesama sanak saudara maupun kerabat dan handai tolan.Sosok ibu yang kini meninggalkan warisan 3 putranya dengan kesabaran dan kelembutannya tak akan pernah hilang karena bagiku tidak akan pernah ada sosok ibu pengganti atau mantan ibu, selamanya ibu adalah sosok terindah dalam kehidupan manusia.

Allahummaghfirlaha warhamha wa aafiha wa`fuanha…..Ya Allah Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah segala dosa dan kesalahan ibuku, Ya Allah Engkau Maha Pemaaf maka maafkanlah kekhilafan dan ketidak tahuan ibuku. Ya Allah Jadikanlah tempat beristirahatnya sekarang menjadi taman surga baginya. Ya Allah, jadikan kami putra-putrinya menjadi shaleh dan shaleha sehingga sanggup menjadi penyambung amalnya. Ya Allah matikanlah ibuku bersama para syuhada dan orang baik-baik. Sehingga mendapatkan tempat terindah disisiMU disurgaMU. Allahummagh firli waali waalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiiroh.Amiin.

~~
Hari ini Ulang Tahun Ibu (07 Desember 2009)

Puji Syukur pada-Mu Ya Allah, hari ini ibundaku telah genap berusia 51 tahun, seandainya beliau masih ada disisiku. Suatu masa yang panjang dan berarti bukan hanya baginya dalam menjalani hidup, tapi merupakan tetes-tetes perjuangan yang terajut menjadi kesuksesan empat putra-putrinya.

Ibuku bukan seorang sarjana, bukan pula seorang cendekia. Ibuku lahir dari sebuah keluarga biasa, tapi ibuku terlahir dengan semangat yang luar biasa.

Tiga tahun berlalu, sudah dua kali ulang tahun ibuku, aku tak bisa mencium pipinya. Di sela-sela waktuku bekerja, kutemukan bait-bait puisi dari relung hati yang mewakili perasaanku untuk ibu. Pagi ini, didalam sebuah kartu ucapan merah jambu, kuselipkan puisi itu dan kukirimkan dengan harapan akan di saat ulang tahun ibuku. Hanya dengan do’a kupanjatkan kepada Allah, agar dengan ridho-Nya ibu mau menyentuh dan membacanya, sayang ini hanya sebatas tulisan pun belum pernah ada perangko yang bisa mengantarkannya menembus surga.


Ibunda...
Di tirai pagi kubersandar pada dinding kesedihan
Di senandung alam kuberbaring pada rajutan kerinduan

Ibunda...
Telah jauh jarak antara kutub-kutub tubuh kita
Membentang kerinduan didalam anak-anak sungai diujung mata kita

Ibunda...
Coba kukumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Coba kupilah yang terbaik untuk isi kerinduanku

Tapi bunda...
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku

Dunia... ah apalah arti dunia ketika surgapun ditelapak kakimu
Menopang segala yang ada ditubuh, hati dan luangan kasih sayangmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu... kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda

Tidak bunda...
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang ada di dalam dada hamba, betapa hamba mencintai dan menyayangi ibu hamba.
Amien.

Mother You are the one and only.

SELENGKAPNYA - Kata itu begitu indah terucap, IBU

Kaki-kaki tak bersepatu

Euforia kemenangan Indonesia atas Malaysia masih terasa membuncah di dada, kemenangan berarti setelah selama ini kepercayaan diri yang merosot dari rentetan pertandingan yang hampir tidak pernah memuaskan penggila bola.

Bola itu bundar kawan, Indonesia itu kampung sepakbola. Tidaklah bisa ditemui sebuah tanah lapang tanpa pernah disinggahi bola diatasnya. Menderumkan rem disebelah tanah berdebu dimana anak-anak kecil ceria memelintir mengkip dan menjugling bola, bukanlah hal baru bagiku.

Membuka alas kaki dan ikut menghirup debu yang berterbangan, mencucurkan keringat dan bertelanjang kaki menendang bola-bola lusuh ke gawang bamboo yang diikat tali raffia, seakan aroma persaingan di stadion-stadion besar tercipta disini.

Lincah anak-anak ini mendribling bola, memainkan diantara kaki, menyundul mendelaynya dengan dada dan paha. Ku berdecak kagum, bakat-bakat ini sangat jarang sekali ditemukan di belahan bumi manapun. Kelincahan dan keluwesan menyatu dengan gerakan dan arah plintiran bola.

Tak heran bila Penarol menciduk bakat-bakat ini dan memendam ingin yang luar biasa tuk segera menggunakan jasanya. The Sociedad Anonima Deportiva of Indonesia yang memang menjadi kebanggan masyarakat Indonesia bisa jadi adalah penentu dan penerus euphoria ini.

Kaki-kaki kecil tak bersepatu menggocek dan mendribling bola dengan luwes tinggal menunggu polesan seniman-seniman lapangan hijau hingga kelak akan mampu mengenakan seragam kebesaran garuda tuk membela hegemoni Indonesia di pentas yang lebih tinggi.
Ini bukan isapan jempol atau mimpi yang maya, ini cita-cita dan luapan emosi sebuah semangat yang tak harus padam walau apapun rintngan yang mendera.

Tanyakan rasa memiliki kepada pencetak gol ke-2 di gawang Malaysia di pertandingan AFF 2010, tanyakan arti bangga kepada pencetak gol ke-5 di gawang Malaysia di pertandingan AFF 2010. Mereka tak perlu mendekripsikannya karena wajah mereka terpancar dalam yell-yell dan sorakan beribu pasang mata yang memberikan semangat sepanjang menit dalam pertandingan tersebut.

Tanyakan jalan terjal menuju ke sebuah perhelatan akbar itu kepada anak-anak kecil tak beralas kaki yang menendang bola dengan hirupan debu tadi, tanyakan arti semangat kepada anak-anak itu. Karena ku yakin kekalahan sudah diderita oleh para pesimis yang menatap hari esok sambil memejamkan mata.

Tepat pukul 19.40 WIBB salah satu stasiun TV swasta menayangkan secara live pertandingan yang akan mengawali tertulisnya sejarah Negara ini apakah akan menjadi awal perubahan atau tetap menjadi unggulan diantara yang buruk.

Saya yakin kaki-kaki tak bersepatu tadi menyaksikan dengan penuh harap sebuah kemenangan akan tercipta. Mendadak tergetar ketika merah putih berkibar dibarengi bahana national anthem yang serentak dikumandangkan, komat-kamit warga keturunan pun menunjukkan betapa Negara Ini patut jaya. Dan mereka bangga dengan tulisan bhinneka tunggal ika didada.

Dalam bait terakhir anthem itu, tak ada lagi warga keturunan. Status mereka adalah Garuda kebanggaan seluruh warga Negara, tak peduli seperti apa cashing yang mereka tampilkan. Tak diragukan lagi apa yang ada di dalam hati mereka.

Bahana national anthem itu pun sudah cukup untuk menggetarkan 22 pemain dan kaki-kaki tak bersepatu untuk mencitra luapan emosi yang ada dilapangan.

Hal yang sama kulakukan kembali, ku senderkan motorku kuhampiri lapangan berdebu itu dan kukucurkan kerinta bersama kaki-kaki tak bersepatu dan mulai menendang bola sambil menghirup debu yang sama dengan kaki-kaki tak bersepatu itu.

“tim kita hebat ya om, aku pingin kayak krisgo, aku pingin nggantiin irfan…”

Semoga tak ada satupun dari kaki-kaki tak bersepatu ini yang akan mengklaim own goal defender lawan….
SELENGKAPNYA - Kaki-kaki tak bersepatu

LinkWithin

Ichanx's read book

The Kite Runner
Sophie's World
Rich Dad, Poor Dad
Agar Bidadari Cemburu Padamu
Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan
Jalan Cinta Para Pejuang
Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim
Einstein's Dreams
Merenung Sampai Mati
Setengah Isi Setengah Kosong "Half Full Half Empty"
Ayat-ayat Cinta
Ketika Cinta Bertasbih
Ketika Cinta Bertasbih 2
Pudarnya Pesona Cleopatra
Dalam Mihrab Cinta
Ar-Rasul SAW
Keajaiban Thibbun Nabawi
La Tahzan: Jangan Bersedih
Fiqih Prioritas
Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki


Ichanx nugrov's favorite books »
}
 
© 2011 - Masichang
Minimalis is proudly powered by Blogger