Tampilkan postingan dengan label Perkopian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkopian. Tampilkan semua postingan



Dunia media sosial kita memang aneh sekaligus menakjubkan. Sebuah kejadian di gerbong kereta api, yang bermula dari kelalaian penumpang dan kesigapan petugas, tiba-tiba bermutasi menjadi studi kasus marketing yang menarik.


Kita semua sudah mendengar ceritanya: Seorang wanita kehilangan tas, sang suami memviralkan kejadian tersebut dengan narasi yang menyudutkan, dan seorang petugas security stasiun (yang sebenarnya mengamankan tas tersebut) malah menjadi tertuduh karena satu item yang diklaim hilang.


Namun, di tengah riuh rendah perdebatan siapa yang salah dan benar, ada satu pemenang tak terduga yang diam-diam tersenyum di pojok ruangan: Kopi Tuku.


Yang membuat kasus ini unik bukanlah tas branded atau dompet berisi jutaan rupiah yang menjadi sorotan utama, melainkan sebuah Tumbler Kopi Tuku.


Ketika netizen mulai membedah kronologi dan narasi sang suami yang mempermasalahkan hilangnya tumbler tersebut, fokus publik bergeser. Tiba-tiba, tumbler ini bukan lagi sekadar wadah air minum. Ia berubah menjadi "objek hasrat" yang begitu berharga sampai-sampai pemiliknya rela memviralkan kejadian ini demi mendapatkannya kembali.


Secara tidak sadar, drama ini mengirimkan sinyal psikologis yang kuat ke alam bawah sadar publik: "Sebagus apa sih tumbler Tuku itu sampai segitu pentingnya?"


Inilah yang disebut sebagai Accidental Marketing atau pemasaran yang tidak disengaja. Kopi Tuku mendapatkan eksposur media (earned media) yang nilainya mungkin setara dengan ratusan juta rupiah biaya iklan, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Mengapa momen viral ini menjadi kemenangan telak bagi salah satu brand kopi yang bisa disebut telah lama malang melintang di dunia perkopian tanah air?


Saat seseorang meributkan barang yang hilang, secara otomatis audiens menganggap barang tersebut bernilai tinggi. Drama ini secara tidak langsung menaikkan prestis dari merchandise Tuku. Tumbler itu bukan barang murahan; itu adalah barang yang "layak diperjuangkan".


Konsumen zaman sekarang skeptis terhadap iklan berbayar (Paid Ads). Namun, kasus ini adalah User Generated Content (UGC) yang paling murni. Tidak ada naskah, tidak ada brief dari agensi iklan. Emosi pemilik tas yang merasa kehilangan adalah testimoni paling jujur tentang keterikatan konsumen dengan brand tersebut.


Bagi mereka yang belum punya, rasa penasaran pun muncul. "Oh, ternyata tumbler Tuku itu iconik ya?" Viralitas ini menciptakan urgensi baru bagi pasar untuk melirik produk-produk merchandise kedai kopi tersebut.


Kasus "Tumbler yang Hilang" ini menggambarkan bahwa brand loyalty (kesetiaan merek) adalah aset yang tak ternilai. Kopi Tuku telah berhasil membangun cult following di mana produk mereka bukan sekadar kopi atau botol minum, melainkan bagian dari gaya hidup dan identitas personal pelanggannya.


Tentu, kita bersimpati pada petugas kereta yang sempat tersudut—dan syukurnya kini banyak dibela oleh netizen yang waras. Namun dari kacamata bisnis, fenomena ini adalah bukti bahwa marketing terbaik seringkali tidak lahir di ruang rapat yang dingin, melainkan dari drama kehidupan sehari-hari yang tak terduga.


Bagi Kopi Tuku, ini adalah jackpot. Mereka hanya perlu duduk manis, menyeduh kopi, dan melihat brand awareness mereka melesat naik, didorong oleh sebuah drama kereta api yang tak pernah mereka skenariokan.


“Kopi terbaik ini harus tetap berada di Indonesia”, ungkap Darma Santoso pemilik 27 restoran dan café di berbagai kota di Indonesia ini. Darma berhasil memenangkan lelang Kopi Sapan dari Toraja dengan harga tertinggi US$ 45/Kg pada acara Lelang Kopi Asosiasi Kopi Special yang bertempat di Sampoerna House, Surabaya pada Minggu 14 Oktober 2012.

Arabica Toraja Sapan berhasil menorehkan Sejarah sebagai pemegang harga tertinggi, setelah Seteven Kil dari korea selatan tak sanggup lagi mengangkat kertas biddingnya dan menyerah atas perlawanan Darma Santoso. Siapa yang tidak tergoda dengan nilai cupping sebesar 86,29 dan menduduki urutan tertinggi dalam penilaian SCAI

Kini Toraja Sapan menjadi pendamping Aceh Gayo yang terlebih dahulu sudah berhasil menempatkan namanya dijajaran kopi spealty terbaik yang berasal dari Tanah nan subur Indonesia ini. Banyak café-café di luar negeri yang mewajibkan Aceh Gayo menjadi salah satu komponen blending dalam penyajian kopinya, kemudian Toraja Sapan mengikuti jejak pendahulunya ini.

Tana Toraja lengkapnya dimana kopi jenis ini dikembangkan dengan baik diatas ketinggian 1.400 – 2.100 mdpl disebuah kabupaten di Sulawesi Selatan dengan ibukota Makale. Dikembangkan oleh sekitar 39 kelompok tani dibawah paying Asosiasi Petani Kopi Toraja.

Kondisi alam inilah yang kemudian menjadikan Kopi Toraja memiliki kekhasan aroma dan keunikan citarasa hingga membuat sebuah perusahaan penjual kopi online di New Orleans memasukkan single origin ini sebagai salah satu item utamanya.

Keeksotisan kopi Toraja Sapan setidaknya memiliki tasting notes yang mirip dengan tipikal kopi Afrika. Full body, bright acidity dengan notes herbal dan cinnamon plus meninggalkan after taste seperti dark chocolate.

bahkan menyeduhnya cukup dengan metode brewing tubruk pun anda akan menemukan keeksotisan yang melegenda itu.

Proses itu berjalan cukup panjang, sekitar 2 tahun yang lalu, namun sebelumnya kopi juga telah menjadi pelengkap keseharian. Begitulah bapakku memperlakukan kopi, sehari 3 gelas besar wajib ada di meja makan kami. Yang kemudian menyebabkan ‘eneg’ memimunnya adalah kopi bapakku itu sungguhlah terlalu manis, sedangkan lidahku begitu alergi terhadap rasa manis. Sebenarnya bukan terhadap rasa manisnya, namun aftertaste yang ditinggalkan gula di dalam mulut membuat seluruh rongga mulut selalu merasakan haus.

Bila harus mengingat lagi 2 tahun yang lalu saat pertama kali kopi yang benar-benar kopi menyentuh lidahku, tak lagi teringat memulainya dari mana. Hanya saja kala itu mataku begitu tergelitik oleh display kopi di salah satu supermarket. Tak biasa saja ketika melihat biji kopi yang sudah disangrai didisplay dan diberi tag asal muasalnya.

Maka kucobalah salah satunya yaitu kopi Toraja Kalosi, yang kemudian membuatku bingung adalah bagaimana kumenikmatinya sedangkan grinder belum kumiliki. Demi bisa menikmati salah satu jenis kopi tersebut, melalui took online kudapatkanlah grinder tangan manual yang harganya membuat istriku mengernyitkan dahi. Demi alat sekecil itu kukorbankan jatah bbm sebulan.

Toraja Kalosi biji masak yang langsung digrind dan diseduh memberikan sensasi berbeda bagi palet dan indera penciuman. Selama ini palet dan hidung yang hanya meniikmati kopi bubuk dan kopi sachet langsung shock. Beginikah rasa dan aroma kopi murni? Beginikah sensasi kopi fresh? Inderaku dibuat tercengang. Selama ini palet rasa dan aromaku belum pernah merasakan kopi seperti ini.

Sejak saat itu, cara-cara untuk mengumpulkan informasi kutempuh. Mulai dari searching di google, membeli buku-buku tentang kopi dan kebaristaan dan bertanya maupun berguru kepada ahlinya kujalani dari waktu ke waktu disamping rutinitas keseharian.

Sekarang, dengan informasi yang telah saya dapat setidaknya pengetahuan akan dunia perkopian sudah semakin terisi dari sebelumnya. Dan yang paling penting saya jadi faham apa saja kandungan kopi yangs aya minum sebelum saya mengenal dunia kopi ini, tak lain hanyalah artifisial produk kopi yang di sachetin.

Yang pasti proper kopi membuat saya memiliki pandangan berbeda akan kopi, bahwa kopi itu tidak menimbulkan dampak yang berbahaya,justru gula lah yang menyebabkan itu. Proper kopi tidak membutuhkan gula, Karena rasa asli dari kopi tidaklah sepahit yang dibayangkan selama ini. Kopi sering dijadikan kambing hitam untuk beberapa kasus tertentu, padahal bila takarannya tepat tidaklah membuat efek yg berbahaya.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu terhadap kopi tidak lah semuanya salah kaprah, gula lah yang patut disalahkan atas rusaknya nama baik kopi. Tapi juga bukan melulu gula, sebab terkadang beberapa salah dalam memeprlakukan kopi. Kopi yang baik adalah kopi yang langsung diseduh seketika saat selesai di grinding, aroma dan rasa asli kopi masih tertempel lekat di bubuknya. Sedangkan kopi bila telah berbentuk bubuk tak lebih dari 30 menit maka dia akan menyerap aroma dari sekitarnya. Wajar bila nenek moyang kita dulu sering menyarankan untuk menabur bubuk kopi disekitar area bau yang menyengat.

Sedangkan dalam hal roasting, nenek moyang kita dulu hanya mengenal proses sangrai kopi hingga sangat matang bahkan gosong. Atau sekarang lebih dikenal city roast, memang biji kopi yang disangrai menjadi sangat gelap akan meinimalisir kandungan acid didalamnya, namun kekurangannya adalah rasa dan aroma kopi sudah sangat berkurang. Padahal kopi yang ditanam di jenis tanah yang berbeda dan suhu berbeda memiliki rasa dan aroma yang juga sangat bias dibedakan.

Begitulah Karena kekurang tahuan memperlakukan kopi, kopi hanya memberikan single taste kepada penikmatnya. Padahal aroma dan rasa kopi sangatlah bervariasi bila kita memperlakukannya dengan benar.