Menjadi orang tua di era modern itu berat. Tugas kita bukan lagi sekadar mengajarkan anak cara membaca atau naik sepeda, tapi juga siap mental menghadapi pertanyaan-pertanyaan ajaib yang muncul secara random di tempat umum.
Sore itu di dalam bus kota yang cukup padat, saya duduk bersama anak lelaki saya, Aldebaran (12 tahun). Semuanya tenang sampai mata usilnya tertuju pada sebuah stiker peringatan yang tertempel di kaca bus.
Sebuah lingkaran merah disilang, menggambarkan siluet pria dan wanita yang sedang berdiri berpegangan pada hand strap bus, namun... tangan si pria tampak "tersesat" secara ilegal ke area belakang rok si wanita.
"Yah," Aldebaran menyenggol lengan saya, telunjuknya menunjuk kaca. "Itu gambar larangan apa? Larangan ngambil dompet dari kantong belakang ya?"
Saya menelan ludah. Duh, andai saja itu cuma soal copet.
"Bukan, Aldebaran. Itu... itu stiker larangan melakukan pelecehan seksual atau tindakan tidak sopan di dalam transportasi umum," jawab saya seilmiah mungkin, berharap dia langsung bosan dan mengalihkan pembicaraan.
"Pelecehan? Berarti mas-mas di gambar itu lagi main petak umpet tapi curang?" tanya Aldebaran polos.
"Bukan main petak umpet, Nak. Coba kamu lihat baik-baik gambar itu. Makna yang ingin disampaikan dari tanda itu adalah 'dilarang keras menyentuh, meraba, atau memegang bagian tubuh orang lain—khususnya perempuan—secara sembarangan tanpa izin, alias dilarang melakukan tindakan asusila/pelecehan di dalam bus.' Itu tindakan kriminal dan sangat tidak sopan."
Aldebaran mengangguk-angguk, lalu menatap tangan saya yang sedang memegang botol minum. "Tapi Yah, kenapa mas-mas itu tangannya panjang banget kayak Luffy One Piece? Sampai meliuk begitu?"
"Ya... itu namanya ilustrasi, Aldebaran. Biar penumpangnya langsung paham kalau tangan usil dan 'pikiran ngeres' saat desak-desakan di bus itu dilarang total. Intinya, kalau di tempat umum, tangan kita harus dijaga. Fokus pegangan sama tiang bus, bukan pegangan sama yang lain."
"Oh... Berarti kalau mas itu mau pegangan, harusnya pegang tiang ya, bukan pegang... bemper?"
Saya langsung pura-pura batuk kering. "Uhuk! Iya, betul. Pegang tiang busnya!"
Sebagai seorang ayah, melihat stiker ini sebenarnya memicu opini mendalam di kepala saya. Miris rasanya melihat bahwa kita butuh stiker visual se-eksplisit ini hanya untuk mengingatkan manusia dewasa agar bisa menghormati privasi fisik orang lain.
Sambil merangkul pundak Aldebaran, saya memanfaatkan momen canggung ini untuk menyelipkan sebuah pelajaran hidup yang jauh lebih penting daripada sekadar aturan bus.
"Aldebaran, dengerin Ayah. Suatu hari nanti kamu akan tumbuh jadi laki-laki dewasa. Hubungan antara laki-laki dan perempuan yang baik itu harus didasari oleh rasa hormat yang tinggi.Perempuan itu bukan objek yang bisa disentuh seenaknya. Menghormati perempuan berarti kamu menghargai ruang pribadinya, menjaga pandanganmu, dan memastikan mereka merasa aman di dekatmu—baik itu ibu, kakakmu, teman sekolahmu, atau orang asing yang berpapasan di jalan."
Aldebaran menengadah melihat saya, lalu tersenyum kecil. "Jadi laki-laki keren itu gak boleh usil ya, Yah?"
"Betul. Laki-laki sejati itu melindungi, bukan malah bikin orang lain ketakutan atau merasa risih. Tangan kita ini dipakai untuk menolong orang, bukan untuk disalahgunakan seperti gambar dilarang itu."
"Siap, Komandan!" seru Aldebaran sambil memperagakan sikap hormat.
Suasana bus kembali mencair. Saya bernapas lega, merasa baru saja melewati ujian kelulusan sebagai orang tua hari ini. Setidaknya, anak lelaki saya pulang dengan pemahaman bahwa menghormati perempuan adalah tanda pria terhormat—dan bahwa tangan yang meliuk-liuk di tempat umum hanya keren kalau kamu adalah tokoh anime, bukan penumpang bus kota.
*dialog imajiner



0 komentar:
Posting Komentar
Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.