Malam ini, aroma Oud wood yang dia belikan untukku menyeruak mendadak membawaku kembali ke satu sore di Mekkah. Ada satu kenangan yang tersimpan rapat, bukan tentang megahnya menara jam, tapi tentang debar jantung yang hampir lepas di antara lautan manusia.
Hilang di Balik Putih Ihram
Semuanya bermula tepat setelah kami menyelesaikan rangkaian umrah. Tubuh terasa lelah namun ringan, sampai akhirnya ia pamit sebentar menuju area kamar mandi di bawah tanah. Aku berdiri di sana, bersandar pada pilar marmer yang dingin, menatap ribuan orang berbalut kain putih yang berlalu-lalang layaknya ombak.
Satu jam berlalu. Kekhawatiran mulai merayap seperti hawa dingin di lantai masjid. Setiap kali ada sosok yang menyerupainya, jantungku berdegup kencang, lalu luruh kembali saat menyadari itu bukan dia.
Panggilan yang Menggetarkan
Ketika akhirnya sambungan telepon terhubung, suaranya terdengar kecil di antara riuh talbiyah dan doa.
"Aku tersesat... aku tidak tahu ada di pintu nomor berapa. Semuanya terlihat sama."
Hanya itu. Singkat, namun cukup untuk membuat duniaku terasa runtuh seketika. Masjidil Haram sore itu terasa ribuan kali lebih luas dari biasanya. Setiap sudut, setiap tangga, dan setiap pintu seolah menjadi labirin tanpa ujung yang menyembunyikannya dariku.
Temu di Lintasan Sa'i
Dua jam aku berkeliling, mengabaikan letih di kaki yang mulai memar. Aku mencarinya di antara kerumunan jalur Tawaf hingga ke perluasan masjid yang baru. Sampai akhirnya, di sebuah sudut di area Sa'i, dekat bukit Marwah, aku melihatnya.
Ia duduk sendirian, tampak begitu kecil di tengah kemegahan bangunan itu. Saat matanya bertemu denganku, ada kelegaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Pelukan di Tanah Suci
Aku menghampirinya, meraih jemarinya yang terasa dingin dan sedikit gemetar. Tidak ada amarah karena menunggu lama, yang ada hanya rasa syukur yang membuncah. Di sela riuh rendah langkah kaki jamaah lain, aku memeluk rasa takutnya erat-erat.
"Jangan jauh-jauh lagi," bisikku.
Di bawah naungan kubah Masjidil Haram, kami saling bertukar janji dalam diam. Bahwa di belahan bumi mana pun kami berada nanti, sejauh apa pun langkah kaki membawa pergi, kami tidak akan pernah membiarkan satu sama lain tersesat sendirian lagi.






