Saat pertama melihatnya, “bukan….. itu bukan melati yang kucari”, mungkin itu kalimat pertama yang terbayang dalam benakku. Maka lebih baik kubatalkan saja khitbah ini. Tapi keinginanku untuk menggenapkan setengah dien sudah bulat. Maka kuberanikan hati ini tuk mengucapkan kalimat itu, dan diamnya adalah persetujuannya.

Tiba-tiba malam itu bidadari ini mengucapkan, kalimat pertamanya , “Eh…..kita udah jadian lho….”kalimat itu teputus di tenggorokan, entah apa yang membuat kalimat itu serasa kurang lengkap dari seharusnya, kami saling terdiam, mungkin panggilan yang belum kami sepakati untuk malam itu.

Tak terlalu muluk cita kita ketika memulai pernikahan ini. Kita hanya ingin kesucian diri dan agama kita terjaga dengan sempurna. Itulahkesederhanaan niat yang kita ikrarkan karena yang sederhana memang lebih bertenaga. Tetapi kesederhanaan kita bukan kesederhanaan yang biasa-biasa saja, kita ingin kesederhanaan yang istimewa dan mempesona seperti syair yang dikutip Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam buku beliau, 40 nasehat Rumah tangga.

Sepotong roti yang engkau makan di suatu sudut
Segelas air putih dingin yang engkau minum dari mata air
Kamar bersih tempat engkau menenangkan dirimu
Istri patuh yang membuat engkau puas dengan melihatnya
Anak perempuan kecil yang dikaruniakan dengan kesehatan
Rezeki yang tidak engkau sangka-sangka sumbernya
Allah menetapkanmu menjadi seorang Da`I
Di suatu Masjid terpencil untuk menghilangkan kerusakan

Adalah lebih baik daripada waktu yang engkau habiskan di istana-istana megah
(Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)

Inilah kesederhanaan. Tetapi selalu harus ada nilai-nilai agung dalam kesederhanaan. Seperti halnya kalimat pertama yang terucap saat khitbah dulu,”bukan….itu bukan melati yang kucari.” Memang dia bukan melati yang memiliki putih yang mengkilap, dia bukan melati yang selalu menebarkan wangi disekelilingnya. Dia adalah pioni ungu yang tegar, saat melati terpatahkan oleh badai, tergugurkan oleh angin, pioni itu mampu meliuk sedatar tanah tuk menaklukkan angin dan badai. Seperti halnya hadits Ummu Salamah tentang kelebihan wanita dunia ketimbang bidadari surga, maka pasti akan memilih wanita dunia. Karena kelebihan wanita dunia dibanding bidadari sebagaimana kelebihan apa yang tampak dari apa yang tak terlihat.

…..Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”

Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, pehiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas.. Mereka berkata,”Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridho dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”… (HR. Ath Thabrani)

3 hari dari sekarang bidadari duniaku ini akan merayakan tahun ke 24 tangkai umurnya. Tangkai yang selalu berguguran seiring rotasi bumi, bersama gemintang selalu mengitari pusat aktivitasku. Bidadariku tanpa terasa sudah 5 tahun engkau membersamaiku, mengajarkan arti kesabaran, keindahan, kejujuran dan yang paling penting engkau mengajarkan kepadaku bagaimana menjadi seorang qawwam bagi keluarga ini.
Mungkin aku terlalu kaku tuk berucap didepanmu namuns etidaknya puisi ini akan mewakili rasa syukurku.

Wahai istriku…..
Kala itu kau berikrar tuk bersedia mendampingiku
Bukan hanya seumur hidupku
Tapi sepanjang hayatmu
Saat itu pula kututup pintu hatiku
Dan kuserahkan kuncinya kepadamu

Wahai istriku….
Lihatlah bentangan ombak yang siap menerjang !
Yakinkah kau sanggup menemaniku disaat ombak itu datang?
Siapkah kau ketika badai mengguncang kapal kita?
Hingga hanya meninggalkan puing-puing
Hingga hanya layar koyak yang kita punya
Hingga hanya balutan kain bekas luka yang akan kita kenakan?
Masihkah kau akan ada disisiku?
Ketika kakiku sudah lumpuh
Ketika tanganku tak sanggup lagi menggenggam
Ketika badanku hanya bagai seonggok kayu lapuk

Wahai istriku….
Di tahun keempat kau dampingi hidupku
Setiap hari kau ada saat ku butuh
Kau hadiahi aku dua orang generasi lucu
Kau bangunkan aku saat lalai dan lupa
Kau rias tubuhku dengan wewangian surga
Tapi tak sedikitpun kudengar keluhan dari mulut kecilmu

Wahai istriku…
Sudah penuh hatiku oleh pupuk cintamu
Sudah mekar bunga-bunga kasih sayang itu kini
Namun sedikit yang baru kukado untuk hati dan senyummu
Hanya seberkas tatapan mesra yang tersisa untukmu

Wahai istriku…
Kutahu semua yang kau berikan untukku ikhlas
Namun ikhlas pun ada harganya untuk sebuah pengabdian
Kuingat ucapanmu kala itu
“hati wanita itu bagai berlian, sekali berlian itu pecah
Tak akan bisa disambung kembali, maka jagalah keutuhan berlian ini”
Itukah harga pengabdianmu ?

Wahai istriku…
Ada pepatah bilang ‘surga ada dibawah telapak kaki ibu’
Kini yakinlah akan kuhadirkan surga bagi seluruh jiwa ragamu
Karena putri cantikku kuingin seindah dirimu
Kan kudidik putrimu dengan contoh darimu

Wahai istriku….
Sosokku belum sesempurna harapanmu
Namun kau berusaha menjadi sosok sesempurna mungkin dihadapanku
Akhlakku pun belum sesuai seperti yang kau minta
Tapi patuhmu tak pernah kuragukan terhadapku

Wahai istriku….
Syair ini kubuat hanya untukmu
Tersusun dari lemahnya hati ini didepanmu
Kusingkap tabir yang mengunci mulutku didepanmu
Sehingga hanya mampu kutuangkan dalam tulisan

Wahai istriku….
Betapa beruntungnya aku hidup didunia ini
Bila Allah tak memberiku harta, cukuplah kau sebagai perhiasan hidupku
Maka tak kan kusesali hidup yang diciptakan Allah hanya sekali untukku
Karena kau…karena kau keindahan mata dan hatiku….
Syukurku atasMU berlipat karena karunia ini Ya Allah
Maka dampingkanlah kami disurgaMU kelak…..amiin

Maka bidadari dunia, ijinkan aku mencintaimu dengan sederhana !



Merah bagi sebagian orang adalah melambangkan keberanian yang memuncak
Merah adalah lambang semangat yang berkobar darah yang bergolak dan puncak dari kemauan yang besar
Namun dinegeri ini merah adalah kemarahan
Merah adalah pemberontakan
Bagi rakyat dinegeri ini merah mungkin lebih tepat sebagai lambang anarchi
Kebencian tanpa dasar
Kemarahan tanpa tanggung jawab
Benarkah?
Bukankah sejarah selalu terukir diatas cerita?
Dan cerita yang tertulis adalah pertumpahan darah
Penggerogotan
Pengkhianatan dan
Mementingkan diri sendiri

Tiada yang tersisa dari peradaban ini selain ketamakan dan keserakahan
Pembantaian dan pembunuhan massal sepertinya menjadi pemandangan umum bagi mata hati
Bagaimana yang kuat memangsa yang lemah
Bagaimana yang kaya menginjak yang miskin
Penguasa memperbudak bawahan
Direktur memperkosa hak pekerja, dan
Para aparat menggali kubur bagi rakyat
Merah itu kepedihan kawan
Merah itu gambaran kekalutan negeri ini
Merah itu tak lebih baik dari hitamnya matamu,Kawan
Bangunlah ! mimpi itu sudah habis
Bahkan tidurmu tak akan pernah nyenyak lagi.

Putih bagiku adalah kesucian
Kesucian kehendak
Kesucian pikir dan
Kesucian tindakan
Itulah putih, layaknya melati yang selalu memikat dengan kesederhanaannya
Layaknya kain kafan yang selalu membawa tubuh keliang lahat dalam kepolosan

Putih negeriku adalah kepolosan rakyat dibayang bayang kebrutalan penguasa korup
Putih negeriku adalah kebodohan yang pekat dengan bening retina pribuminya
Putih bagi bangsaku adalah jemputan maut dari rasa lapar yang menyengat
Putih dalam dekapan haribaan lautan
Putih dalam selimut awan pegunungan adalah cita-cita yang tak akan pernah pupus
Putih zamrud yang terbias dalam haru birunya canda tawa rakyat
Pemerataan yang memberikan kesejahteraan hidup keadilan yang tak berpihak
Karena putihlah dasar membangun semangat kebangsaan
Karena putihlah negeri ini menjadi kebesaran kekuatan yang menyatu dalam kepakan sayap kebebasan

Negeriku bagimu merah darahku adalah semangat
Dan bagimu putih ragaku demimu bangsaku, untukmu baktiku.





Saya teringat ketika aktif di kegiatan Aktivis Rimba raya dulu, K9 sebuah komunitas anak-anak muda yang kebanyakan berasal dari masyarakat marjinal. Namun didalamnya saya digembleng tentang persaudaraan dan ikatan kekeluargaan yang erat.

Mereka mendaftarkan komunitas itu ke Depsos kala itu sehingga menjadi sebuah LSM yang berdiri sendiri. Komunitas 9 mereka menyebutnya dengan ciri khas hanya memiliki 9 anggota setiap tahunnya. Namun Sembilan orang ini masing-masing dibekali keahlian yang mumpuni dibidangnya masing-masing khususnya. Pengetahuan tentang hiking, climbing, surviving, direction focus dan rescuing other. Bila anda anggota komunitas yang serupa anda akan tahu dimana lokasi base campnya.

Cukup tentang komunitas ini, saya hanya ingat salah satu slogan mereka ketika mendaki gunung. Dan slogan ini diamini oleh setiap komunitas yang memiliki aktivitas yang sama.

Jangan mengambil sesuatu selain foto, jangan meninggalkan sesuatu selain tapak kaki.
Slogan yang menggambarkan betapa cintanya mereka akan lingkungan. Saling ketergantungan antara lingkungan dan manusia yang tergambar dalam slogan ini begitu jelas memberikan kesadaran kepada setiap yang mengucapkan bahwa merusak alam maka imbasnya akan kembali menimpa si perusak cepat ataupun lebih cepat lagi.

Setiap pendaki yang dengan iseng menuliskan namanya disebatang pohon akan segera kena denda. Apalagi meninggalkan spot berteduh dengan sampah berserakan akan segera mendapat sangsi. Aturan tak tertulis ini menjadi popular ketika semua yang menuju ke puncak memiliki visi yang sama yaitu menjadikan alam adalah sahabat terdekat manusia.

Namun hal ini sangat bertolak belakang dengan kota yang saya tempati sekarang. Apalagi menjelang pemilihan yang katanya akan memberikan keadilan ini. Pohon-pohon yang begitu kami lindungi dikota berwajah sangat rupawan dengan embel-embel title bahkan keangkuhan. Pohon-pohon merana dipinggir jalan itu menjadi landasan pacu bagi sarana pemiskinan massal.

Advertising berlebihan tuk mendapat dukungan semu. Senyum-senyum pongah menghiasi pohon kami. 3 trilyun rupiah ramalan yang diperkirakan tuk pembelanjaan advertising para peserta pemilu. Dan 3 trilyun pohon menjadi korbannya. Demi sebuah ketenaran keindahan memandang menjadi terbatasi. Spanduk-spanduk besar baliho-baliho salah kaprah menutup lampu lalu lintas, rambu peringatan. Lebih dari itu keselamatn ditutup oleh wajah-wajah penuh senyum itu.
Dikota slogan itu tak ada yang mengenal, mendekati pemilu ini slogan itu kalah dengan hiruk pikuk pemerasan suara.
Saya tidak menyalahkan demokrasi, pun tidak mengkambing hitamkan KPU. Atau malah menghina parpol-parpol yang ‘berpendidikan’ hanya saja keindahan alam bagi mereka mampu ditutupi dengan persentasi suara yang akan mendukung mereka tuk menjadi actor illegal loging berikutnya.

Saya pun bukan orang yang anti kemajuan sebuah peradaban kota, saya hanya prihatin menyaksikan anak rimba yang semakin menggandrungi televisi. Saya bukan aparat yang berhak memberikan eksekusi hukum hanya saja kebijakan yang saya terima tak pernah berpihak pada hukum alam.

Diseluruh jawa dan sumatera hampir tertutup air, yang kita cari hanyalah simpati dan empati tanpa menyadari betapa bersimpatinya alam terhadap kehidupan manusia. Di Australia api menggunung , yang mereka cari adalah ratapan dan penyesalan, padahal setiap saat alam menghiba dan meminta penyesalan manusia.

Ah, kalau saja manusia hanya mengambil foto
Ah, andai saja manusia hanya meninggalkan jejak kaki
Alam tak akan semurka ini.


Bagi penanggung jawab spanduk dan baliho di pinggiran jalan kotaku, saya tak tahu kapan alam akan marah padamu.




Kali ini saya diajak masuk ke daerah antah berantah yang jauh dari jalan beraspal. menyusuri berhektar-hektar kebun sawit dan beberapa petak sawah kering yang ditanami jagung. daerah ini seperti banyak daerah lainnya disumatera adalah daerah rumpun transmigran yang sejak sekitar tahun 60 an telah diberi tanah untuk digarap.

Bahasa jawa halus kental sekali terdengar ditelinga, karena memang penduduknya adalah transmigran yang berasal dari daerah jawa tengah dan beberapa daerah jawa timur bagian barat. bahkan rumah-rumah yang mereka bangun disana masih mencerminkan kehidupan jawa dan suasana jawa. rumah-rumah kecil dengan beranda dan halaman-halaman yang hanya ditumbuhi semacam rumput liar yang diatat rapi. tanpa pagar tanpa gerbang. menandakan keramahan penghuninya, namun begitulah kenyataannya ketika kaki capek melangkah saya coba masuk ke salah satu rumah dan meminta sedikit air putih. respon yang jelas tak didapatkan dikota, dengan tangan terbuka mereka malah mempersilahkan masuk dan menjamu dengan air teh dan menawarkan sebungkus rokok ‘klobot’. sayangnya saya sudah berhenti merokok.

Kehidupan dipedalaman tanah transmigran itu mengingatkan akan bersahaja kehidupan di lingkungan kakek saya dulu, sebuah desa kecil dibantaran sungai opak kretek, Ngayogyakarto Hadiningrat. kakek yang hanya seorang petani dnegan sawah petak kecil dibarengi 2 ekor sapinya yang tiap hari minta perhatian lebih besar dari nenek, membuat saya memahami kehidupan ini dari sudut kesederhanaan yang membahagaiakan, kekurangan yang selalu memuaskan dan kebersyukuran dalam kemiskinan.

Karena waktu tidaklah memburu saya ketika itu, ajakan penghuni rumah tuk memriksa kambingnya di kebun sawit saya iyakan saja. layaknya kegiatan “jejak si gundul” saya dengan senang hati membantu bapak tua yang selalu menyumpal bibirnya dengan rokok ‘klobot’ itu menggiring kambing-kambingnya ke kandang.

Yang kembali membuat saya kagum dan tak habis pikir, sepanjang perjalanan bapak tua ini hampir menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. padahal jarak rumah dan tempat kambingnya digembala tak kurang dari 500 m. dan bapak ini selalu menyapa orang-orang itu dengan namanya bahkan tak segan menanyakan keadaan keluarganya dan kegiataannya selama ini. Benar-benar suasana yang tak saya dapatkan dikomplek rumah. kekerabatan yang masih begitu lekat, kebersamaan yang mendarah daging.

Di ujung gang dekat rumah pak tua itu ada sebuah bangunan kecil, bila dikampung dulu namanya ‘pos siskamling’ tempat kami biasa mangkal malam tuk berjaga atau hanya sekedar kumpul bercanda dan ngobrol dengan tetangga. yang membuat saya kembali terkagum adalah di pos itu terdapat sebuah papan yang berisi jadwal piket seluruh warga disitu. piket malam ronda keamanan tersusun dengan rapi disamping sebuah tabel yang berisi semacam kode untuk memukul kentongan.

Sistem ini adalah sistem lama yang benar-benar saya ingat ketika di kampung kakek dulu. saya pikir sistem ini sudah dilupakan dan tak berbekas lagi. ternyata di daerah transmigran ini sistem itu masih lestari terjaga. Disamping banyak hal yang membuat saya bernostalgia dan kagum akan keramahan warga transmigran itu ekspedisi saya kali ini memberikan wawasan akan kultur kehidupan warga yang terisolasi ini. jauh dari kehidupan kota tidak mengenal mall, mini market telepon umum, komputer dan sebagainya. hanya saja kehidupan mereka memberikan gambaran kepada saya bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berbahagia. saya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saya telah mengenal mereka walau hanya sehari.

Walau hanya dengan secangkir teh dan sepiring singkong rebus. mereka hidup dalah kesahajaan. saya belajar dari mereka.




Bagaimana bisa hati nurani membenarkan ketika beberapa pemimpin liga arab dan penentu kebijakan tertinggi Israel duduk di satu meja dalam World Economic Forum? Ketika sebagian warga Palestina sedang berada dalam pembantaian massal? Sepertinya Erdogan telah memberi gambaran kasar bagaimana seharusnya bersikap.
Disatu sisi pengahapusan sebuah ras sedang dimulai disi lain para penentu kebijakan membicarakan bagaimana cara terbaik tuk mengisi perut.

Di Gaza para wanita dan anak kecil sedang berselimut bom fosfor yang membakar. Sedang pemegang sumbu pemicunya sedang berselimut diatas es Davos. Sepertinya Erdogan telah menampar mereka dengan sebuah kenyataan.

Bagaimana bisa seorang pemegang Nobel perdamaian (Shimon peres) adalah juga seorang pembantai?
Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang dibesarkan dalam kondisi genosida akan menyayangi sesama?

Yang pasti sebuah bangsa yang dibesarkan oleh kekejaman Rasialis hebat akan menjadi sebuah bangsa tukang jagal juga.

Selain memberikan pelajaran kepada pemimpin liga arab dan dunia pada umumnya Recep Tayyib Erdogan juga menampar muka ummat islam secara keselurahan. Beginilah cara bersikap kepada seorang munafik dan pembantai.
Saya pribadi salut kepada Erdogan, bila ada kata yang bisa diwakilkan tuk memuji Erdogan adalah . Luar Biasa. Ada tidak lebih dari 600 kamera dari stasiun TV dan kantor berita diseluruh dunia yang sedang meliput Debat terbuka itu.

Istri saya pernah bilang tuk mengetahui kejujuran yang tersimpan rapat dihati seseorang cukup buat dia marah. Dan Erdogan telah menunjukkan pernyataan sikapnya kepada pembantaian yang dibela oleh Shimon Peres. Apapun landasannya di artikel saya terdahulu (genosida adalah tujuan israel)telah saya kemukakan bahwa alasan pembelaan diri apapun tidak dibenarkan untuk membuat sebuah tindakan pembantaian. Dan Shimon Peres yang adalah juga seorang pemegang Nobel perdamaian malah menjadikan alasan genosidanya adalah sebuah pembelaan diri.

Debat itu memberikan gambaran secara pasti didepan muka Peres tentang pernyataan sikap seluruh Ummat muslim bahkan hampir seluruh ummat beragama mengutuknya. Saya jadi penasaran tentang sosok Erdogan ini. Apa sebenarnya latar belakangnya.

Siapa sih Erdogan?

Nama lengkapnya adalaha RECEP TAYYIB ERDUGAN juga biasa diucapkan dengan ERDOGAN

Lahir pada 26 February 1954

Erdugan adalah salah satu tokoh yang paling terkenal di Turki dan seorang pemimpin yang kharismatik dimata pendukungnya, dia memimpin pergerakan massa yang berlandaskan akan asas politik islam didunia yang memberikan pengaruh terbesar pada sekularisme.

Menjabat sebagai Perdana Menteri Turki sejak 14 Maret 2003.

Erdugan pernah menjadi Walikota Istanbul, pernah juga dipenjara selama 10 bulan tentang tuntutan serius yang berhubungan dengan pemikirannya yang pro-islam. Pernah di cekal dalam berpolitik namun kembali sebagai pemimpin sebuah partai terkemuka di Turki (Justice and Development party) pada tahun 2002.

Erdogan dilahirkan di Rize, sebuah kota kecil pesisir pantai kumuh di Turki dalam sebuah keluarga miskin. Dibesarkan dalam keluarga besar 5 bersaudara dari seorang ayah penjaga pesisir pantai. Ketika umur 13 tahun keluarga Erdogan pindah ke Istanbul tuk mencari keberuntungan. Erdogan masuk sekolah islam kemudian melanjutkan di Marmara University mengambil Jurusan Bisnis Manajemen. Ketika duduk dibangku kuliah itulah Erdogan terus mengikuti perkembangan berita tentang Politik Islam. Pernah menjadi pemain sepak bola professional sambil bekerja di sbeuah departemen transportasi hingga akhirnya dia dipecat karena menolak sebuah peraturan yang mengaitkannya dengan kepercayaannya, yaitu mencukur kumisnya.

Di tahun 1997, Erdogan berucap dalam pidatonya,” Masjid-masjid adalah basecamp kami, kubah-kubah adalah pelindung kami, menara-menara adalah pedang kami, dan keimanan adalah bala tentara kami.” Dia adalah pemimpin partai Islam yang berorientasi pada kesejahteraan pada waktu itu. Pada Januari 1998, pengadilan tinggi Turki membubarkan partai tersebut dan mencekal para anggotanya dari dunia politik, menyebutkan bahwa partai tersebut mencoba membentuk dasar Negara menjadi sekuler. Seminggu kemudian, Erdogan didakwa melakukan aksi-aksi pemberontakan, termasuk membentuk “ pasukan Jihad” dan “ menggunakan demokrasi untuk membuat peraturan yang jahat.” Pengadilan Militer memberikan hukuman penjara selama 10 bulan, yang dimulai pada maret 1999.

Setelah keluar dari penjara, dan menghadapi pencekalan dari pengadilan terhadap bnerbagai kegiatan Partai Kebajikan Islamiah dan Partai Kesejahteraan, Erdogan membantu mendirikan Partai pembangunan dan keadilan, dikenal di Turki dengan nama Adalet ve Kalkinma Partisi, atau AK, pada januari 2001. Adalah partai politik yang ke-281 yang didirikan di Turki sejak partai pertama dibangun pada tahun 1859. Erdogan terpilih sebagai pemimpinnya. Dua bulan kemudian, AK mengambil alih kekuasaan di parlemen dengan 34,2 persen suara, memenangi 363 dari 550 kursi.
Karena perbuatannya dimasa lampau, Erdogan dicekal sebagai Perdana Menteri atau menduduki kursi pemerintahan lainnya. Mayoritas anggotanya di parlemen cepat-cepat berganti melalui sebuah konstitusi amandemen yang dengan efektif menghapus kembali pencekalan tersebut. Erdogan mengikuti pemilihan dan terpilih menjadi Perdana Menteri pada tanggal 14 Maret 2003. Dia menggantikan Abdullah Gul, yang memutuskan berhenti untuk memberi kesempatan pada Erdogan, Gul ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri hingga 2007.

Pada Juli 2007, Partai Pembangunan dan Keadilan Islam memenangi 46,6 % dari semua suara dalam pemilihan parlemen di seluruh negeri, menguatkan posisi Erdogan. Erdogan mengajukan Abdullah Gul untuk menjadi presiden, Gul memenangi suara pada tanggal 28 agustus 2007 , menjadi presiden Turki yang ke-14.

Di awal tahun 2008, Erdogan memimpin parlemen untuk menghapuskan (undang-undang) larangan pemakaian syal kepala di kampus-kampus baik untuk universitas negeri maupun swasta, di gedung-gedung milik pemerintah atau di sekolah-sekolah. Atas usaha yang dilakukan Erdogan, Parlemen memutuskan untuk menghapus larangan tersebut pada bulan Februari 2008. Namun perubahan undang-undang tersebut harus disetujui oleh presiden terlebih dulu dan melalui izin dari konstitusional yang melalui pengadilan konstitusional Negara, sebuah institusi sekuler.

Inilah bentuk pembelaan saya terhadap argument Erdogan terhadap Shimon Peres. Juga sekaligus pernyataan sikap saya.

sumber : http://middleeast.about.com/