Lagi enak-enaknya menikmati mati lampu, hasil kerja kerasnya PLN kami berkumpul disekat meja rekan sekantor. Ngobrol ngalur ngidul ngga tentu jluntrungan hanya sekedar mengisi waktu dan mengorupsi sedikit menit sambil merasakan nikmatnya ruangan bebas AC hebatnya lagi juga bebas jendela. Walhasil kami beradu bau keringat.

Om cakil bercerita tentang hasil diklatnya 2 minggu yang diisi oleh orang-orang hebat tapi ngomongnya sepele, ternyata orang hebat pun omongannya cumin sepele. Hanya ada di Endonesia. Ketawanya lebar padahal lagi bener-bener bingung gimana caranya pulang nanti, lawong habis diklat tunjangannya disunat. Tepar to? Diklat demi negara tapi penghasilan dipotong.

Datang lagi paklek supri mamerin luka lamanya yang dia dapat waktu eker-ekeran idiologi dengan polisi, salahnya nyari tempatnya kok ya dijalanan. Kenapa ngga digedung gitu, kan lebih elegant dan yang pasti solutif. Toh pada akhirnya paklik supri ngaku sendiri bahwa bekas lukanya dia dapat waktu lari terbirit-birit karena pak pulisinya ngejer dia. Dan dia pun jatuh terjerembat ketiban pagar yang rubuh.

Sambil nunggu cerita dilanjutkan dengan berbagai bahasan yang kurang menarik namun disertai tawa lebar yang dibuat-buat tuk menyenangkan yang lagi ndalang. Kebanyakan kita begitu toh, membohongi diri sendiri namun dengan tujuan mulia yaitu untuk menyenangkan lawan bicara. Alasan klaisk para koruptor juga gitu, membohongi hati nurani demi tujuan mulia yaitu menyejahterakan rakyat.

Percaya ngga sameyan kalau korupsi itu menyejahterakan rakyat? Ketika seseorang yang memiliki kewenangan dan biasanya juga memiliki jabatan berhasil memindahkan dana ke kantongnya pribadi, tentu saja dengan tujuan untuk membelanjakannya. Iya to? Mana mungkin korupsi tuk investasi atau saving. Wah itu kejadian langka kalau ada, yang ada kalau udah dapat dana maka yang terpikir pertama adalah belanja, bahkan motivasi tuk korupsi juga belanja.

Ketika kata belanja itu sudah mulai terlaksana, otomatis akan langsung mencari pusat perbelanjaan. Saat itulah roda ekonomi setempat mulai tergerak, kalau keluar negeri belanjanya ya setidaknya roda ekonomi secara makro akan terpengaruh. Yang berarti meningkatnya pendapatan kotor secara berjamaah. Ketika tingkat pendapat meningkat, inflasi yang akan semakin menurun dibarengi semakin berkurangnya angka pengangguran. Dampak selanjutnya bisa macam macam mulai berkurangnya angka kejahatan hingga berkuarngnya angka kemiskinan dan naiknya kesejahteraan masyarakat.

Tuh dampak korupsi, semakin besar korupsi kalau dibelanjakan makan akans emakin besar pula dampak nya terhadap tingkat perekonomian.

Cak damhuri ketawa ngekek denger penjelasan dampak korupsi ini, karena otaknya ngga nerima penjelasan dampak korupsi ini dia hampir pingsan, nafasnya megap-megap, matanya merah, kepalanya serasa kena gempa (asli beberapa detik kemudian, benar benar gempa yang pusatnya di ujung kulon dengan 6.4 SR) kami yang dilantai satu benar benar khilaf menyangka getaran tadi imbas dari ketawa cak damhuri, padahal benar benar lindu.

Setelah cak damhuri sadar ternyata dia ngaku kalau pingsan tadi bukan karena penjelasan ku tentang korupsi namun karena panasnya ruangan ini ditambah kalahnya PERSIJA oleh AREMA yang tak ceritain sebelumnya, setelah sadar cak damhuri bangun dan ingin balas dendam kepadaku dengan ngasih pertanyaan.

Le, opo bahasa Endonesiane KUNDURAN TREK? Hahaha.. setelah saya telusuri dalam kitab primbon ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Frase Kunduran trek benar benar tidak memiliki makna yang baku dan valid…..

Jan wis.. PR ini membuatku ngga bisa tidur hanya karena nyari jawaban frase dalam bahasa jawa ini…

Ketika anda naik kereta senja dari Yogya ke Jakarta, anda pasti butuh kepercayaan bahwa kereta itu benar-benar akan berangkat ke Jakarta. Tidak ke Bandung atau Banyuwangi. Kereta itu harus menuju arah tertentu sehingga anda benar-benar percaya bahwa tujuannya adalah Jakarta. Anda juga harus benar-benar punya kepercayaan bahwa kereta itu punya lokomotif sehingga anda akan percaya bahwa anda akan dibawa pergi. Kalau tidak anda tak akan mempercayainya. Dan anda juga tidak akan dengan sukarela mengeluarkan uang untuk membeli tiket.

Tapi kepercayaan itu akan sirna ketika kaki anda menginjakkan stasiun Gambir di Jakarta. Anda tak lagi membutuhkan kepercayaan itu, karena anda sudah tiba pada di luar “kepercayaan”. Kira-kira faham ngga ya dengan penjelasannya? Ah saya tebak masih belum. Dijakarta anda tak memerlukan lagi kepercayaan anda harus tiba dijakarta karena Jakarta bagi anda sudah Haq. Sudah jelas , sudah ada kepastian bahwa anda sudah sampai tujuan. Kepercayaan itu hilang dengan tercapainya tujuan.

Sama halnya dengan anda naik pesawat. Sesungguhnya anda sedang menempuh perjalanan dari maqam diantara percaya dan tak percaya, menuju kondisi atau kedudukan ddiantara keduanya itu. Tetapi harga perolehan kepercayaan dalam kasus pesawat jatuh jauh lebih mahal dibanding kereta. Sebab tingkat resiko apabila kepercayaan itu tak terbukti (misal pesawat melorot ke lereng bukit) jauh lebih riskan dan bahaya. Namun dengan pesawat anda jauh lebih nyaman, tingkat ’kenikmatan’ dan ’gengsi’nya juga lebih tinggi.

Udah faham belum ya? Gini ajalah daripada panjang lebar malah ruwet, sebenarnya saya sedang membicarakan :
kepercayaan. Semakin mahal harga kepercayaan, makin nikmat tapi juga penuh resiko.

Makin mahal harga tiket kendaraan, makin spektakuler pencapaiannya sekaligus makin tinggi kemungkinan kecelakaannya.

Kok jadi sebuah rumus ya? Namun ya itulah ketentuannya. Setidaknya yang ada di sekitar saya.
Dan apabila rumus itu diteruskan akan menjadi sebuah kebiasaan. Ada yang bisa menebak?

Yup. Kebiasaan kita adalah membeli tiket kepercayaan yang semurah mungkin, karena kita ingin resiko yang kita hadapi kalau bisa sekecil mungkin. Dan kadang kita lupa bahwa hukum anomali hanya terjadi pada air. Itulah mengapa tradisi berpikir, tradisi mencari, tradisi ijtihad dan tradisi kreatif dalam beragama cenderung lemah, karena kita dididik untuk menghindari resiko.

Landasan kepercayaan adalah bahwa kita belum tahu tapi kita percaya. Kalau kita sudah tahu, kita tak butuh lagi percaya atau malah tak percaya. Kalau anda melepaskan suami untuk tugas keluar kota, karena anda tak tahu kemungkinana apa saja yang bisa dilakukan suami anda, maka satu-satunya yang harus anda ’beli’ adalah kepercayaan.

Begitupun iman dalam beragama. Iman adalah daya hidup selama anda menempuh perjalanan. Iman adalah sandaran anda ditengah ketidak tahuan atau kebelum tahuan atas sesuatu atas sesuatu yang kita tuju. Tapai kalau anda sudah sampai ’jakarta’ . kalau jakarta sudah menjadi ’Haq’ bagi anda. Yang anda perlukan bukan lagi iman..
Itu paralel dengan bahwa taqarrub alias pendekatan, itu dibutuhkan dan dikerjakan oleh oang yang masih jauh.......

Sudut kantor ini, dalam renungan.5 des 2007


1. Kecantikan seorang wanita ialah terletak sejauh mana ia dapat menahan (menjaga) malunya, sementara kegagahan seorang lelaki ialah terletak sejauh mana ia dapat menahan (menjaga) marahnya.

2. Orang yang membujang adalah orang yang belum menemukan penghibur duka dan dia baru memperolehinya dengan menikah.

3. Suami adalah orang yang mencari kebahagiaan hidup dengan menghilangkan sebagian kemerdekaannya.

4. Wanita menghadapi banyak permasalahan; sebagian diatasi dengan menikah dan sebagian yang lain diatasi setelah dia meninggal.

5. Mata yang paling indah tetapi juga harus diwaspadai adalah mata kaum wanita.

6. Jangan menyalahkan perasaan isteri anda karena perasaannya yang terbaik ialah ketika ia menerima anda sebagai suami.

7. Perawan tua ialah wanita yang kehilangan kesempatan menyusahkan seorang lelaki.

8. Yang diinginkan seorang gadis dari dunia ini hanyalah seorang suami, dan apabila ia sudah memperolehnya, ia menginginkan segala- galanya.

9. Wanita bisa memaafkan suatu pengkhianatan suaminya, tetapi dia tidak bisa melupakannya.

10. Kecantikan wanita tidak bererti apa-apa dibandingkan dengan kemuliaan akhlak dan perilakunya.

11. Sebelum menikah, wanita hafal seluruh jawaban dan sesudah menikah, ia hafal seluruh pertanyaan.

12. Barangsiapa menikahi wanita kerana hartanya, maka dia telah menjual kemerdekaannya.

13. Wanita adalah bintang dan pelita bagi lelaki. Tanpa pelita, lelaki bermalam dalam kegelapan.

14. Wanita lebih cepat daripada lelaki dalam menangis dan dalam mengingatkan peristiwa yang menyebabkan dia menangis.

15. Wanita tertawa bila ia mampu dan menangis apabila ia menginginkan sesuatu.

16. Pudarlah kebahagiaan seorang wanita jika ia tidak mampu menjadikan suaminya teman yang termulia.

17. Wanita sangat berlebihan dalam mencintai dan membenci, dan tidak mengenal pertengahannya.

18. Wanita selalu tergolong manusia halus dan lembut sampai saat dia menikah.

19. Tidak mungkin seorang lelaki hidup bahagia tanpa didampingi oleh isteri yang mulia.

20. Wanita hidup untuk berbahagia dengan cinta, sementara lelaki mencintai untuk hidup berbahagia.

21. Seorang wanita yang bijaksana menambahkan gula pada kalimatnya setiap kali berbicara dengan suaminya, dan mengurangi garam pada ucapan suaminya.

22. Cincin perkawinan adalah cincin termahal di dunia, sebab mengharuskan pemberinya mengingatkan
harganya setiap bulan tanpa henti.

23. Sesungguhnya tidak ada wanita yang sangat cantik,yang ada ialah kaum lelaki yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan.

24. Bagi lelaki, yang terakhir kali mati ialah jantungnya dan bagi wanita adalah lidahnya.

25. Wanita tidak diciptakan untuk dikagumi semua lelaki tetapi sebagai sumber kebahagiaan seorang suami.

26. Pada waktu bertunangan, lelaki banyak berbicara dan perempuan mendengarkan. Pada saat perkawinan, perempuan berbicara dan pengantin lelaki mendengarkan. Sesudah perkawinan, suami dan isteri banyak berbicara dan para jiran tetangga mendengarkan.

27. Setiap wanita mempunyai dua mata. Adapun wanita yang cemburu berlebihan mempunyai tiga mata. Satu di sebelah kanan, satu di sebelah kiri dan yang ketiga diarahkan kepada suami.

28. Wanita pada umumnya takut akan munculnya uban dan wanita-wanita cantik yang menjadi saingannya.

29. Isteri yang bersikap jujur dan setia kepada suami meringankan setengah beban kehidupan suaminya.

30. Seorang wanita menghadapi kesulitan apabila ia berada di antara lelaki yang dicintainya dan yang
mencintainya.
Mbak yang satu ini selain sangat aktif dalam update tulisan juga sangat antusias dalam award, efeknya? saya akan mendapat imbas award itu. yang membuat award ataupun yang mendapat award adalah sebuah komunitas. komunitas dalam kebersamaan dan saling menghargai.

indah sekali, award ini saya terima dengan sukacita mbak.... sebuah apresiasi yang sekiranya saya belum pantas mendapatkannya, namun setidaknya anda melihatnya berbeda.

terima kasih, semoga mbak semakin aktif menulis menghasilkan banyak karya, sanggup merubah sesuatu melalui kata dan kalimat. getarkanlah dunia maya mbak..!

NB : yang tak maksud mbak disini adalah Newsoul
Here's a little mathematical formula that might help
answer these questions:

If:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Is represented as:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

If:

H-A-R-D-W-O- R- K
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%

And:


K-N-O-W-L-E- D-G-E
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%

But:

A-T-T-I-T-U- D-E
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%

THEN, look how far the love of God will take you:

L-O-V-E-O-F- G-O-D
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%

Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:

While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will
get you there, It's the Love of God that will put you over the top!