Ada pepatah mengatakan hidup manusia itu seperti aliran air, selalu mengalir bedanya aliran air selalu kebawah namun aliran hidup manusia bisa naik, bisa turun bahkan bisa menyamping. Namun yang pasti air yang selalu mengalir jauh lebih jernih daripada air yang menggenang.

Perjalanan apapun itu tujuannya mampu memberikan tambahan keluasan berpikir pada pelakunya, memberikan banyak sudut tuk mencari bahan pertimbangan, menambah cakrawala dalam memandang langit maupun seluk beluk bumi. Meninggalkan kebijakan dan kearifan dalam bertindak maupun berfikir.

Perjalanan bukanlah hal yang sia-sia, banyak para musisi mencurhakna hasil perjalanannya melalui lirik music franky.S menuangkan music berjudul perjalanan, abah iwan Abdurrahman, bahkan lebih banyak lagi musisi luar negeri. Cat steven, curt cobain, berhasil menjadikan lantunan indah bagi perjalanan.

Jason Newstead menarik tajuk “..and the road becomes my bride..” menggambarkan perjalanannya dalam mencari inspirasi bermusik. Banyak lagi pemusik yang terinspirasi oleh perjalanan dalam menghadirkan karyanya amsing masing.

Dari segala efek yg didapat dari perjalanan itu, Muhammad Asad menghimpunnya menjadi kalimat indah “penakulah kompas perjalanan ini” dalam bukunya Road to Mecca, menceritakan perjalanan ketika dia menutup profesinya sebagai seorang journalis lepas didaerah timur tengah.

Sampai disini bahasan perjalanan mendapatkan banyak sisi positif yang bisa diambil hikmahnya, tentunya banyak juga sisi negative yang didapat namun tidaklah tulisan ini membahas sisi negative sebuah perjalanan, karena kesan yang bisa diambil dan dirasakan dari sebuah perjalanan adalah keindahan

Tanggal 24 Oktober 2009 jam 7 sebuah perjalanan yang kami sebut touring kami adakan dalam komunitas FAST. Sebuah komunitas anak muda dalam adventure dan solidaritas tinggi, kekompakan yang dianut dan mencintai lingkungan.

Yah terkesan sederhana namun dalam kesederhanaan biasanya muncul kekuatan yang tak terduga Pulau kiluan tujuan utama kami, namun perjalanan itulah sebenarnya kenikmatan yang kami dapat.
Dimulai dengan cek kendaraan dan logistic


Trek yang kami dapati



Kendaraan yang menjadi tunggangan, sahabat serta kuda besi tempat saya percayakan naluri saya.
Penjinak aspal dan lumpur, bukit sungai dan bebatuan.


Terbayar lunas oleh view yang memukau.


Yah itulah sekelumit akhir pecan yang saya habiskan dengan berkendara lebih dari 5 jam (plus mogok, pecah ban, oli shock bocor, kampas rem rompal, dan hampir masuk jurang).


Semua ada dalam satu paket THE ADVENTURE to CONCUER THE KILUAN ISLAND….

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.

Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka <span class="fullpost">Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.

’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, saudaraku! Semoga Allah menolongmu!”

Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Ali pun memantapkan hatinya, dan melangkahkan kakinya menuju Rasulullah saw....
dan, belum juga sampe dan mengutarakan maksudnya, ada untaian 'kalimat sambutan' yg membuatnya bingung.

Lamarannya berjawab...
”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi saudaraku ? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”mmmhhhh...2 sekaligus...”, kata mereka,
”Eh, maaf saudaraku.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan..! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Jalan Cinta Para Pejuang by Salim A. Fillah</span>

Saya sering tersenyum sendiri mendengar celotehan para tetangga yang kadang mengkritik tak jarang pula memuji dan kagum. Di lingkungan komplek kami yang rata-rata pegawai dan karyawan kami adalah pasangan termuda dan sudah menyaingi para pasangan tua dengan 2 anak. Mereka mengkritik apakah ngga terlalu cepat memulai biduk rumah tangga dalam usia muda? Mereka memuji ‘wah mantab ya baru seumur jagung dah punya 2 anak’.

Semua dimulai ketika jiwa ini telah merasa kosong karena tiadanya pendamping, semua dimulai ketika hal-hal maksyiat semakin meraja lela disekitar kehidupan dan diri ini sudah tak sanggup lagi tuk membendungnya. Bukankah Allah memberikan jalan terbaik bagi hambaNya dengan menikah. Dan jalan itulah yangs egera kuputuskan tuk kutempuh.

Diusia 21 Tahun kututup masa lajangku dan kupertaruhkan semua kesenangan didalamnya demi sebuah keluarga yang ku yakin lebih menyenangkan dan menenteramkan. Memilih itu berat apalagi menjalani konsekuensi dari pilihan, awalnya ku tak yakin mampu melewatinya namun berdua ku yakin semua bisa diatasi. Mulai dari jarak yang memisahkan diawal pernikahan hingga dari percikan-percikan kecil dalam riak pernikahan. Semua tidak ada apa-apanya disbanding nikmat dan damainya hidup dalam pernikahan.

Menikah diusia muda memang bukan pilihan popular bagi banyak kalangan, menikah diusia muda diidentikkan dengan kejadian dibaliknya yang dikhawatirkan mencoreng nama baik, menikah muda dianggap sebagai keputusan anak muda yang kadang dianggap terburu buru dan tanpa perhitungan matang. Membeli kesenangan dan tangguang jawab besar, perjudian yang mempertaruhkan kehidupan selanjutnya.

Namun ini pilihan, ini sebuah kebanggaan diusia yang belum seperempat abad pundak ini sudah sanggup dibebani gunung tursina dan setia memegang perjanjian hudaibiyah. Sediman sediman cinta menghiasi tiap sudut jiwa, lentera lentera kasih sayang menerangi tawa dan canda berdua. Indah rasa dunia.

Seandainya mereka tahu nikmatnya pernikahan dijalan Allah ini akau yakin mereka tak kan lagi mengatakan ini sebuah kenekatan. Ini kenikmatan tiada tara yang Allah berikan.

Kini aku sudah menjadi seorang bapak dari dua putra dan putriku, menjalani hidup sebagai pengayom, qawwam dan pelindung bagi keutuhan keluarga yang ku bina, menjadi nahkoda bagi kapal syarat muatan, menjadi pembantu bagi tegaknya tiang syariat, menjadi coretan sejarah bagi memory anak-anakku kelak.

Hidup ini indah bila kita mampu mengambil setiap kesempatan yang Allah berikan.


Lagi enak-enaknya menikmati mati lampu, hasil kerja kerasnya PLN kami berkumpul disekat meja rekan sekantor. Ngobrol ngalur ngidul ngga tentu jluntrungan hanya sekedar mengisi waktu dan mengorupsi sedikit menit sambil merasakan nikmatnya ruangan bebas AC hebatnya lagi juga bebas jendela. Walhasil kami beradu bau keringat.

Om cakil bercerita tentang hasil diklatnya 2 minggu yang diisi oleh orang-orang hebat tapi ngomongnya sepele, ternyata orang hebat pun omongannya cumin sepele. Hanya ada di Endonesia. Ketawanya lebar padahal lagi bener-bener bingung gimana caranya pulang nanti, lawong habis diklat tunjangannya disunat. Tepar to? Diklat demi negara tapi penghasilan dipotong.

Datang lagi paklek supri mamerin luka lamanya yang dia dapat waktu eker-ekeran idiologi dengan polisi, salahnya nyari tempatnya kok ya dijalanan. Kenapa ngga digedung gitu, kan lebih elegant dan yang pasti solutif. Toh pada akhirnya paklik supri ngaku sendiri bahwa bekas lukanya dia dapat waktu lari terbirit-birit karena pak pulisinya ngejer dia. Dan dia pun jatuh terjerembat ketiban pagar yang rubuh.

Sambil nunggu cerita dilanjutkan dengan berbagai bahasan yang kurang menarik namun disertai tawa lebar yang dibuat-buat tuk menyenangkan yang lagi ndalang. Kebanyakan kita begitu toh, membohongi diri sendiri namun dengan tujuan mulia yaitu untuk menyenangkan lawan bicara. Alasan klaisk para koruptor juga gitu, membohongi hati nurani demi tujuan mulia yaitu menyejahterakan rakyat.

Percaya ngga sameyan kalau korupsi itu menyejahterakan rakyat? Ketika seseorang yang memiliki kewenangan dan biasanya juga memiliki jabatan berhasil memindahkan dana ke kantongnya pribadi, tentu saja dengan tujuan untuk membelanjakannya. Iya to? Mana mungkin korupsi tuk investasi atau saving. Wah itu kejadian langka kalau ada, yang ada kalau udah dapat dana maka yang terpikir pertama adalah belanja, bahkan motivasi tuk korupsi juga belanja.

Ketika kata belanja itu sudah mulai terlaksana, otomatis akan langsung mencari pusat perbelanjaan. Saat itulah roda ekonomi setempat mulai tergerak, kalau keluar negeri belanjanya ya setidaknya roda ekonomi secara makro akan terpengaruh. Yang berarti meningkatnya pendapatan kotor secara berjamaah. Ketika tingkat pendapat meningkat, inflasi yang akan semakin menurun dibarengi semakin berkurangnya angka pengangguran. Dampak selanjutnya bisa macam macam mulai berkurangnya angka kejahatan hingga berkuarngnya angka kemiskinan dan naiknya kesejahteraan masyarakat.

Tuh dampak korupsi, semakin besar korupsi kalau dibelanjakan makan akans emakin besar pula dampak nya terhadap tingkat perekonomian.

Cak damhuri ketawa ngekek denger penjelasan dampak korupsi ini, karena otaknya ngga nerima penjelasan dampak korupsi ini dia hampir pingsan, nafasnya megap-megap, matanya merah, kepalanya serasa kena gempa (asli beberapa detik kemudian, benar benar gempa yang pusatnya di ujung kulon dengan 6.4 SR) kami yang dilantai satu benar benar khilaf menyangka getaran tadi imbas dari ketawa cak damhuri, padahal benar benar lindu.

Setelah cak damhuri sadar ternyata dia ngaku kalau pingsan tadi bukan karena penjelasan ku tentang korupsi namun karena panasnya ruangan ini ditambah kalahnya PERSIJA oleh AREMA yang tak ceritain sebelumnya, setelah sadar cak damhuri bangun dan ingin balas dendam kepadaku dengan ngasih pertanyaan.

Le, opo bahasa Endonesiane KUNDURAN TREK? Hahaha.. setelah saya telusuri dalam kitab primbon ataupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Frase Kunduran trek benar benar tidak memiliki makna yang baku dan valid…..

Jan wis.. PR ini membuatku ngga bisa tidur hanya karena nyari jawaban frase dalam bahasa jawa ini…

Ketika anda naik kereta senja dari Yogya ke Jakarta, anda pasti butuh kepercayaan bahwa kereta itu benar-benar akan berangkat ke Jakarta. Tidak ke Bandung atau Banyuwangi. Kereta itu harus menuju arah tertentu sehingga anda benar-benar percaya bahwa tujuannya adalah Jakarta. Anda juga harus benar-benar punya kepercayaan bahwa kereta itu punya lokomotif sehingga anda akan percaya bahwa anda akan dibawa pergi. Kalau tidak anda tak akan mempercayainya. Dan anda juga tidak akan dengan sukarela mengeluarkan uang untuk membeli tiket.

Tapi kepercayaan itu akan sirna ketika kaki anda menginjakkan stasiun Gambir di Jakarta. Anda tak lagi membutuhkan kepercayaan itu, karena anda sudah tiba pada di luar “kepercayaan”. Kira-kira faham ngga ya dengan penjelasannya? Ah saya tebak masih belum. Dijakarta anda tak memerlukan lagi kepercayaan anda harus tiba dijakarta karena Jakarta bagi anda sudah Haq. Sudah jelas , sudah ada kepastian bahwa anda sudah sampai tujuan. Kepercayaan itu hilang dengan tercapainya tujuan.

Sama halnya dengan anda naik pesawat. Sesungguhnya anda sedang menempuh perjalanan dari maqam diantara percaya dan tak percaya, menuju kondisi atau kedudukan ddiantara keduanya itu. Tetapi harga perolehan kepercayaan dalam kasus pesawat jatuh jauh lebih mahal dibanding kereta. Sebab tingkat resiko apabila kepercayaan itu tak terbukti (misal pesawat melorot ke lereng bukit) jauh lebih riskan dan bahaya. Namun dengan pesawat anda jauh lebih nyaman, tingkat ’kenikmatan’ dan ’gengsi’nya juga lebih tinggi.

Udah faham belum ya? Gini ajalah daripada panjang lebar malah ruwet, sebenarnya saya sedang membicarakan :
kepercayaan. Semakin mahal harga kepercayaan, makin nikmat tapi juga penuh resiko.

Makin mahal harga tiket kendaraan, makin spektakuler pencapaiannya sekaligus makin tinggi kemungkinan kecelakaannya.

Kok jadi sebuah rumus ya? Namun ya itulah ketentuannya. Setidaknya yang ada di sekitar saya.
Dan apabila rumus itu diteruskan akan menjadi sebuah kebiasaan. Ada yang bisa menebak?

Yup. Kebiasaan kita adalah membeli tiket kepercayaan yang semurah mungkin, karena kita ingin resiko yang kita hadapi kalau bisa sekecil mungkin. Dan kadang kita lupa bahwa hukum anomali hanya terjadi pada air. Itulah mengapa tradisi berpikir, tradisi mencari, tradisi ijtihad dan tradisi kreatif dalam beragama cenderung lemah, karena kita dididik untuk menghindari resiko.

Landasan kepercayaan adalah bahwa kita belum tahu tapi kita percaya. Kalau kita sudah tahu, kita tak butuh lagi percaya atau malah tak percaya. Kalau anda melepaskan suami untuk tugas keluar kota, karena anda tak tahu kemungkinana apa saja yang bisa dilakukan suami anda, maka satu-satunya yang harus anda ’beli’ adalah kepercayaan.

Begitupun iman dalam beragama. Iman adalah daya hidup selama anda menempuh perjalanan. Iman adalah sandaran anda ditengah ketidak tahuan atau kebelum tahuan atas sesuatu atas sesuatu yang kita tuju. Tapai kalau anda sudah sampai ’jakarta’ . kalau jakarta sudah menjadi ’Haq’ bagi anda. Yang anda perlukan bukan lagi iman..
Itu paralel dengan bahwa taqarrub alias pendekatan, itu dibutuhkan dan dikerjakan oleh oang yang masih jauh.......

Sudut kantor ini, dalam renungan.5 des 2007