Acara resepsi nikahan yang berkosep unik tapi gagal terlaksana, ini mungkin tag line tuk pengalaman yang saya dapat kemarin. Jum’at sore saya dihubungi bahwa salah seorang sepupu suami yang kebetulan berdomisili dikota yang sama dengan kami akan mengadakan pernikahan tanpa memberitahukan kami.

Kami pura-pura berang karena tidak dilibatkan dalam kepanitiaan, bukankah kewajaran budaya ini lumrah dilingkungan kami bahwa apabila ada hajatan maka keluarga adalah komponen tak terpisahkan atau omongan ngga enak akan merebak. Ini bukan ancaman lho hanya sebuah pelibatan diri pada kesusahan yg ingin kami bagi bersama.

Tanpa berpikir lama si sepupu akhirnya melibatkan juga kami dan saya dilibatkan dalam mendekor gedung yang akan digunakan sebagi tempat resepsi nikah. Pengalaman ini yg membuat saya terperangah sepupu saya yang menjadi actor utama acara ini juga merangkap sebagai EO dari acaranya sendiri. Hebat hingga waktu malam sebelum hari-H dia masih ada didalam gedung untuk mengatur acaranya tersebut. Padahal kami sudah menasehatinya tuk istirahat karena besok adalah hari besar baginya.

Hebat karena resepsi itu mengusung pola yang sangat berbeda dengan acara-acara resepsi seperti bisanya, hebat karena mempelainya sendiri yg langsung menjadi EO nya, hebat karena semua dilakukan berdua. Acara dan ruangan berkonsep seperti bioskop diawal tahun 1980 an. Lengkap dengan poster-poster film yang semua aktornya adalah kedua mempelai. Dengan gerbang rotan bamboo yang diwanai lampu lampu hias yg dibentuk seperti layar tancap, dan music pengiring yang sepertinya mengadopsi MGM film atau twentieth century fox atau PH-PH besr Hollywood lainnya. Dan dipadu padankan dengan adat sunda yang unik dan vintage.

Undangan yang berbentuk seperti sampul film ketika kita membeli video bajakan….lengkap dengan cd yang berisi lagu-lagu favorite kedua mempelai yang juga berfungsi sebagai souvenir para undangan. Kreatif dan sangat unik. Berbeda …? Jelas inilah acara resepsi paling berbeda yang pernah saya datangi dan bahkan saya menjadi panitia didalamnya.

Namun apa yang terjadi? Hal-hal baru yang unik ini tidak bisa diterima oleh hamper kebanyakan undangan bahkan dari pihak keluarga sendiri, kesan berbeda ini mengganggu kenyamanan berpikir dan kenyamanan melihat para tamu dan keluarga. Namun sang mempelai cuek bebek melihat penentangan ini, ini acaraku dan what the hell with everybody toh aku masih mengikuti anjuran mereka tuk akadnya, ujarnya. Who’s false who’s right? Ah saya hanya panitia komponen pelengkap dari acara ini tiada kemampuan tuk merubah sebuah acara atau membuat dukungan pada si mempelai.

Pengalaman unik itu sangat relevan ketika saya membaca sebuah artukel yg masuk ke inbox pesan saya. Menjadi berbeda dalam bertindak kadang mendatangkan keberhasilan. Apakah perbedaan ini bisa mendatangkan keberhasilan seperti yang digambarkan kedua mempelai diatas? Arus yang kuat tidak membuat mereka nyaman hingga harus menunjukkan perbedaannya dan menentang arus yang ada.

Pengalaman yang luar biasa, sebuah prinsip yang dipegang teguh dan berusaha direalisasikan memang akan mendapat banyak cobaan, melawan arus bukanlah hal yang mudah. Tapi memiliki kebanggaan dan kepuasan bathin tersendiri ketika prinsip itu bisa kita pertahankan.

Menjadi berbeda pun sebenarnya bukan hal yg mudah hanya saja perlu sebuah bukti nyata tuk membuat perbedaan itu adalah sebuah keberhasilan. Saya ingin menjadi berbeda dalam artian positif dan membuktikan bahwa perbedaan saya adalah solusi untuk menjadi lebih baik.

Terima kasih tuk membuka pikiranku akan perbedaan yang engkau buat…… be different, dunia mengakses perbedaan dengan cepat karena menjadi berbeda adalah tidak menjadi nyaman didalamnya.

Menikmati hidup bukan hanya ketika dihadapkan pada tragedi atau bencana, tapi pada gelak tawa juga dilemma atas persimpangan pilihan. Setidaknya menjadi hidup itu tidak melulu ketika hal buruk menimpa namun ketika hal tersulit dalam hidup mempertemukan kita pada kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dipilih diantara 2 pilihan.

Kala mitsaaqon gholidzoh menggelayut erat untuk segera disambut persimpangan itu begitu jelas terlihat. Pensiun dini sebagai bujang ataukah melanjutkan euphoria kesendirian yang tak bisa dibagi dengan cinta dan sayang? Yah keluarga menurut saya adalah media tempat berkumpulnya euphoria masalah dan perih getirnya kebahagiaan.

Dimana pundak bukan lagi tempat menggantungnya baju dan tas, tetapi juga tempat bermainnya beban dan tanggung jawab. Hati tidak lagi tempat lalu lalangnya darah namun juga tempat parkirnya cemburu, teriakan anak-anak, rayuan capai tetangga dan cemoohan tuntutan hidup.

Sebelum semua itu terjadi alangkah beratnya berdiri di sebuah persimpangan timbangan pemberatnya seperti terkadar oleh beratnya shalat istikhoroh diujung-ujung malam. Kala pilihan didepan mata namun tak hanya 1 yang bisa dipilih. Eiittss….walau sering ditolak pada akhirnya saya pun harus memilih 2 akhwat yang harus saya jadikan ustadzah rumah saya..asyik to..hhehehe

menikah itu mudah………….

Begitu menurut seorang rekan, ketika saya harus memulainya dengan sebuah syarat yang diajukannya “kalau serius temui orang tua saya!” dalam status perantau saya harus mendatangi beberapa kota yang asing bagi saya. Berdiri di bordes kereta api untuk segera sampai ditempat tujuan yang tak pernah kutuju sebelumnya. Mencoba menyelami setiap kata dan berkhayal tentang masa depan. Mereka-reka wajah dan tabiat si calon tujuan. Menyiapkan mental dan keberanian tuk dapat duduk sopan didepan keluarga besarnya. Yang menjadikan perjalanan ini hebat saya melakukannya seorang diri karena saya perantau.

Menikah itu mudah…..

Menurut yang sudah mengalaminya, bagi seorang bujang sulit adalah hanya dalam bayangan. Bagaimana tidak semua bayangan dan khayalan yang saya rangkai ketika didalam gerbong kereta terbukti salah total. Tak ada satupun kenyataan yang saya alami yangs eusai dengan khayalan itu. Dengan wajah sumringah camer mempersilahkan saya masuk walau baju saya ala kadarnya dan berbau besi lantai bordes gerbong. Mempersilahkans aya mandi dan makan, kemudian menyodorkan setangkup harapan tuk meminang putri tercantiknya.

Hanya saja diakhir kisah itu sang camer juga menyodorkan sekaleng cat tembok dan kuas agar membantunya mengecat rumah, entah ini sebuah barokah atau kesialan. Karena kebetulan tidak ada lelaki lain dirumah itu selain bapaknya si ‘tersangka’.

Menikah itu mudah…….

Bukan jagoan namanya kalau datang kerumah camer tanpa membawa oleh-oleh, dan nyatanya saya memang bukan jagoan. Karena saya hanya membawa badan dan mental yang koyak dikanan kirinya… toh bukan pula halangan tuk ‘memaksa’ camer menerima semua permintaan saya. Walau permintaan saya agak ‘kurang ajar’ dengan mencoba mengambil hak asuh anak pertamanya. Namun disinilah hebatnya seorang wali ketika jawaban yang diberikannya adalah “saya tidak sedang berdagang dengan kamu tentang anak saya, namun apa jaminan saya bahwa anak saya akan bahagia melayani kamu?”

Itu bukan perkara mudah untuk dijawab ternyata….

Menikah itu mudah………..

Menurut sebagian besar orang perlambang sebuah pernikahan itu adalah sepasang cincin yang tersemat dijari manis pasangan pengantin. Dan pada awalnya bagi saya itu adalah sebuah keharusan hingga tak saya dapati beberapa nash yang mendalilkannya hingga pada ujungnya tak saya dapati selembar uang didompet tuk menebus beberapa suku (disumatera takaran emas menggunakan istilah suku) tuk kujadikan mahar. Apalah dikata symbol adalah polemic bagi setiap perantaraan, tiada yang pasti sebenarnya apa yang dimaksud symbol selain hanya menjadi perlambang identitas.
Ternyata harga ‘mas’ jawa jauh lebih mahal, kata camer kala itu………

Menikah itu mudah……………

Mengingat adat sumatera yang sering digembar-gemborkan membuat dompet saya kembang kempis. Pesta besar, 3 hari 3 malam, ‘nyangoni’ sanak keluarga, adat meminta, dan lains ebagainya hamper meruntuhkan tekad bulad saya tuk mengakhiri masa lajang. Apa boleh buat jaln terbaiks aat ini adalah menurunkan ego, menyerah pada kejujuran dan terbuka atas segala kondisi.

Anak seorang guru SD diaerah terpencil menyatakan niat meminang puteri seorang raja, dimanakah logika saya ? dimanakah letak kewarasan saya ketika menjalani ini? Saya tidak sedang menanyakan kondisi keimanan kala itu yang begitu menggebu akan pernikahan dengan niat mengurangi keinginan berzina. Namun dimanakah logika saya dengan kondisi materi yang begitu timpang?

Ah saya lupa kala itu akan syarat memilih seorang wanita harus dari agamanya, terlebih dahulu. Yang saya tahu saya bukanlah tandingan keluarga besar itu…

Ternyata perbedaan saya dan keluarga itu adalah pada penafsiran makna “kaya”…………..

Menikah itu mudah…….

Setelah semua persiapan dilakukan, dan semua permintaan dicukupi, hal yang paling penting malah kulupakan. Saya lupa menyisakan uang untuk mendatangkan orang tua saya dari jawa timur ke sumatera selatan. Ditengah segala kekalutan dan kecemasan Allah mendatangkan prajurit terbaiknya tuk membantu saya, teman-teman yang awalnya menganggap semua beres terlihat kaget ketika mendapati calon pengantin tak sesumringah seharusnya.

Masalah pasti sedang menggelayut, yang akhirnya tak kuasa kutahan sendiri beban tersebut. Prajurit-prajurit itulah yang mendatangkan orang tua saya ke sumatera selatan dengan cepatnya…prajurit itulah teman-teman terbaik saya……………….
Menikah itu mudah karena akan banyak prajurit-parjurit yang akan membantu anda melewatinya…percayalah pada kehebatan persaudaraan/ukhuwah..!

Menikah itu mudah…

Tapi tak semudah seperti yang anda bayangkan, karena saya yakin anda membayangkan yang sulit dan sukar bahkan sesuatu yang belum anda alami kesukarannya. Saya tak mengatakan semudah seperti kenyataannya namun juga tak sesulit yang ada dalam bayangan anda.

Hari special seperti ini tak akan kulewatkan tuk membuat sebuah tulisan tuk orang terkasih yang tak bisa lagi kudekap keberadaannya. Walaupun ingin itu begitu menggebu, walaupun asa itu begitu tingginya.

Alangkah sempit waktu yang disiapkan Tuhan untukku tuk sekedar mengusap air matanya, tuk menyandingkan cucu disebalahnya, tuk memeluk setiap jerih payahnya membesarkanku.

Ibu, kata terindah yang pernah diucapkan lidah manusia. Apa lagi kini yang harus kupersembahkan padamu selain do’a. Karena hanya itu yang sanggup dan bisa membuatmu bahagia.

Beberapa tulisan ini ku kumpulkan kala ibu meregang dalam sakit, mengerang ketika senyum masih mengembang demi bahagianya anak-anakmu.

Bagian I................ Sebuah kesenduan datang dibalik rindu.

WANITA PERKASAKU


Ibu……
Anakmu kini akan menemuimu
Memenuhi panggilanmu
Saat rindu sudah begitu besar
Rasanya tak sanggup lagi tuk bersabar

Ibu……..
Darah yang mengalir ditubuh ini bergolak
Ketika tahu engkau sedang meradang menahan sesak
Darahmu ini merasakan deritamu
Sudah seharusnya kutatap wajahmu
Dan kudekap semua sakitmu
Sehingga tak akan ada lagi rintihan

Ibu……
Kau besarkan aku dengan airmata dan darah
Kini kan kuhapus airmata itu dengan baktiku
Dan kan kutebus darah itu dengan pengorbananku diatas semua manusia dibumi ini
Walau pun itu tidaklah ada secuil
Untuk airmata dan darahmu
Tapi itulah kesanggupan buah hatimu ini…

Ibu……….
Anandamu kini sudah kau jadikan manusia pilihan
Saat tiada lagi pilihan didunia ini
Karena jalan yang kau berikan adalah ketetapan
Sepasti jalanku keluar dari rahimmu dulu.

Ibu……..
Orang bilang kasihmu sepanjang jalan
Dan sayangku hanya sepanjang penggalah
Memang seperti itulah ada nya
Namun percayalah bundaku sayang
Panjang penggalah ini adalah sepanjang umurku.

Ibuku sayang
Sebentar lagi anandamu pulang
Kan kubiarkan hatimu menatap putramu ini
Ibuku sayang
Saat kembaliku nanti
Pastikan anandamu ini masih bisa menatap senyummu
Ibuku sayang…..

Bagian II……..Harapan itu begitu besarnya, Hingga mengalahkan keinginan tuk hidupku sendiri.

SEKEPING HATI TUK IBU


Tak sengaja menangkap judul sebuah artikel dari blog opick ‘Sekeping hati untuk Bunda’. Sebuah kalimat pendek yang akhir-akhir ini sering membuat perhatianku tak urung langsung teralihkan. Yah…kata atau kalimat yang didalamnya ada penggalan bunda, ibunda, ibu,emak, mamak atau yang berartian sama. Kata yang akan langsung mengantarkan memory ingatanku ke sosok lemah yang kini terbaring tak berdaya diatas pembaringan didalam kamar dibagian rumah kebanggan kami.

Ibu yang kukenal dulu adalah seorang sosok yang tegar, tahan banting bahkan aku dulu menjulukinya ‘wanita perkasaku’ kini sedang bergumul dengan sakitnya. Sakit yang tak kami duga kedatangannya, sakit yang telah ditetapkan Allah atasnya. Wanita perkasaku kini berada dalam pembaringan, mencoba melawan sakitnya dengan desahan nafas penuh kesabaran, walau kadang kulihat sedikit air mata mengalir dari pipi keriputnya. Jemarinya yang pecah-pecah mencerminkan tanggung jawabnya akan kami namun begitu lembut ketika menyentuh kulit kami, kini terasa keriput dan kekuningan menandakan sudah tinggal sedikit kekuatannya tuk bertahan.

Ketika tangisku pecah memandang penderitaannya, hanya sedikit yang mampu diucapkannya, ‘Tolong jangan menangis’ ucapnya lirih. Semakin menjadi tangisku saat ucapan itu keluar dari sisa tenaganya. Diletakkannya tangannya diatas kepalaku, namun tak sanggup lagi kiranya kalimat berikutnya tuk dikeluarkannya. Senyumnya menyungging ketika ditatapnya cucunya, cucu pertamanya yang baru sempat disentuhnya, belum sempat digendong dan dicumbunya. Diciuminya cucu yang juga putri pertamaku dan dibisikinya yang lirih terdengar,’jadilah wanita kuat untuk keluargamu’ pesannya.

Baru setengah Tahun yang lalu tumor itu diketahui, setelah menggerogoti tubuh ibuku tanpa diketahui. Karena memang letaknya didalam ususnya. Sehingga saat gumpalan sel yang tak stabil itu mulai menutupi jalannya makanan dan mengganggu sitem percernaan tubuh ibu baru gejala mulai nampak. Dan kemudian dokter memvonis harus operasi untuk mengangkat tumor itu.

Apakah masalah selesai setelah tumor itu diangkat? Ternyata tidak. Masalah yang lebih pelik mulai muncul, ternyata operasi itu membuka pintu baru untuk beberapa masalah yang muncul, mulai dari penolakan tubuh atas terapi kemo, hingga gangguan lambung dan kerja usus yang tak optimal lagi. Sehingga membuat penderitaan ibu semakin hebat. Namun kami hanya bisa pasrah dan tawakkal. Dokter sudah bekerja semaksimal mungkin. Manusia boleh berusaha namun Allahlah penentunya. Wanita perkasaku kini terbaring lemah diranjang, tanpa tenaga tanpa keriangan yang dulu selalu menghiasai hari-hari kami. Ada yang hilang dalam hidup keluarga kami. Tempat kami menumpahkan keluh kesah kami, Tempat kami memuji kelezatan masakan yg kami makan, tempat kami mencari cermin ketika jiwa kami mulai lelah. Ibu…..

Kini anakmu yang dulu selalu kau andalkan telah jauh dari sisimu, 2 minggu yang kulewatkan bersamamu dalam sakitmu adalah waktu paling berharga dalam hidupku karena diwaktu itulah kutahu aku bisa membalas sedikit penat dan lelahmu membesarkan putramu, walau penat dan lelah yang kurasakan tidak sebanding dengan pengorbananmu selama 19 tahun yang kau curahkan tuk menjadikanku seperti sekarang ini.Ibu titikan airmata penderitaanmu kini akan menjadi sebentuk kristal pengabdianku untukmu.

Ibu…..tidakkah engkau ingin melihat lucunya cucumu?
Ibu…..telah kubangunkan istana untukmu disisiku..tidakkah engkau ingin melihatnya?
Ibu……bahkan adik terkecilku pun belum penuh mendapatkan kasih sayangmu
Ibu …..aku minta berjuanglah untuk kami

Dari sekian banyak permintaan kami, ibu…..tolong kabulkan lah yang ini…bersediakah ibu berjuang demi kami? Sehingga dapat kulihat lagi senyuman dibibirmu..karena tak kan indah mentari pagi kami tanpa senyummu.

Ya Allah….kalaulah ini ujian berilah kesabaran dan ketabahan kepada ibuku untuk melawan sakitnya
Ya Allah….Kalaulah ini peringatan ampunilah kami ya Allah

Ya Allah….tiada daya, tiada kekuatan melainkan dariMU.

BAGIAN III…Ketika menyerah menjadi akhir segalanya.

RATAPAN ITU BUKAN UNTUK IBU


Senin pagi itu kumulai hari dengan begitu cerah secerah terpaan mentari hangat di balik semu awan putih, Namun dibalik cerahnya pagi itu tersembunyi rapat dalam relung hati kepedihan ketika melihat penderitaan orang yang paling kusayangi diatas ranjang sakitnya. Subhanallah….1 bulan yg lalu ketika kukunjungi ibu, masih dalam keadaan segar walau ada bekas operasi pengangkatan tumor di bagian tubuhnya. Namun ketika melihat ku dan cucunya rasanya tiada terpancar penampakan orang sakit diwajahnya. Yang ada adalah senyum ceria, gelak tawa dan ucapannya yang lembut namun begitu membekas dalam hati.

Dan sekarang ibu tak ada lagi disisiku, Tiada lagi sosok wanita perkasa dalam hidupku. Tokoh panutanku dalam hidupku, mentor setiaku dalam membesarkan anakku. Murobbi terhebatku dalam mengarungi lika-liku iman dalam hati.Dan guru paling faham akan keinginan-keinginkaku. Tiada lagi sosok itu yang akan kutelpon dimalam hari tuk kumintai sekedar pendapatnya, atau untuk meminta nasehat bagaimana meluluhkan sifat manja istriku.

Disenin pagi itu ketika kuterduduk dengan teh hangat di kantin belakang kantorku, dikejutkan oleh deringan Hand Phone yang tak biasanya sepagi ini ada telpon dari keluarga di malang.Sehingga dengan sedikit perasaan khawatir kuangkat dan suara pertama yang kudengar adalah tangisan. Semakin gundah hatiku dibuatnya, dan ketika kabar itu sampai di gendang telinga barulah hati ini merasa berdegup semakin kencang dan darah terasa begitu cepat terkesiap kekepala.

Ibu akan dikuburkan jam 3 sore, kala itu jam 9 pagi kugesah seluruh tenaga dan kemampuan tuk bisa hadir sebelum jam 3, namun apa bisa dikata, menyemayamkan jenazah lebih cepat lebih baik, dan prinsip itu bertentangan dengan kondisi lalu lintas, baik udara maupun darat. Sehingga jam 5 baru kusampai ditempat tujuan. Tak sempat lagi kumasuk kedalam rumah langsung kususul ibu ke makamnya, kuterduduk disebelah nisannya dan diatas gundukan yang masih basah dan wangi oleh bunga. Tak ada kata yang keluar dari dalam mulut karena memang tiada kalimat yang harus kuucapkan selain do`a. Tak ada air mata yang mengalir deras karena memang pesan terakhir yang ditinggalkannya untukku adalah “ojo nangis le”. Disebelahku adikku laki-laki menungguiku, kemudian kuberdiri dan kushalatkan ibuku dengan shalat ghaib karena tidak memungkinkan lagi tuk shalat jenazah di pemakamannya. Kemudian adik bungsuku menyusulku dan menumpahkan seluruh kepedihannya ditangkupan dadaku, tidak seperti adik tertua yang bungsu ini memang masih kecil satu-satunya adik perempuan yang kumiliki wajar bila pedihnya amat sangat ditinggalkan sosok ibu dalam usia yang masih belum dewasa untuk mengerti apa yang terjadi.yang dia tahu hanya dia tak akan pernah melihat ibunya lagi.Apalagi belaian mesra, ajaran lembutnya, atau pujian sayangnya.

Sekembaliku dari makam ayah sudah menunggu disertai sanak saudara dan tetangga yang turut berduka cita. Kulihat ketegaran diwajah ayah, walau sesekali ada titikan airmata disela-sela kelopak matanya yang mulai keriput dan menghitam.Kupandangi sosok yang mulai melemah kondisinya didepanku itu, kucium tangannya dan akupun dirangkulnya seakan tak akan dilepaskannya lagi.Begitu lama sehingga airmatanya tak lagi terbendung.

Malam ketiga dirumah tempat kudibesarkan kulewati dengan menghibur diri dan adik-adikku, kuturuti semua keinginannya, kubelikan semua yang dimintanya. Agar supaya kenangan akan ibu akan sedikit terlupakan.Sehingga ketika ku akan kembali ke rumahku dilampung masih berat rasanya mereka melepasku, karena kini akulah pengganti sosok ibu bagi adik-adikku. Karena akulah yang menghabiskan masa terlama bersama ibu. Sehingga ilmu dari beliau akulah yang paling banyak menyerapnya.

Dengan menyisakan perasaan sedih kutinggalkan keluargaku yang sebenarnya masih membutuhkanku, karena didalam keluarga akulah yang paling tegas, mewarisi ketegasan ibu dalam mengambil setiap keputusan, karena ragu-ragu akan celaka pada akhirnya.Dibalik senyumanku ada terbersit pedih ketika ku bertemu sesama sanak saudara maupun kerabat dan handai tolan.Sosok ibu yang kini meninggalkan warisan 3 putranya dengan kesabaran dan kelembutannya tak akan pernah hilang karena bagiku tidak akan pernah ada sosok ibu pengganti atau mantan ibu, selamanya ibu adalah sosok terindah dalam kehidupan manusia.

Allahummaghfirlaha warhamha wa aafiha wa`fuanha…..Ya Allah Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah segala dosa dan kesalahan ibuku, Ya Allah Engkau Maha Pemaaf maka maafkanlah kekhilafan dan ketidak tahuan ibuku. Ya Allah Jadikanlah tempat beristirahatnya sekarang menjadi taman surga baginya. Ya Allah, jadikan kami putra-putrinya menjadi shaleh dan shaleha sehingga sanggup menjadi penyambung amalnya. Ya Allah matikanlah ibuku bersama para syuhada dan orang baik-baik. Sehingga mendapatkan tempat terindah disisiMU disurgaMU. Allahummagh firli waali waalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiiroh.Amiin

-rintik hujan itu datang-
-18 September 2006-

Mungkin ini postingan terpanjang yang pernah kumuat, bersama dengan kutulis dank u kumpulkan serakan kenangan ini diluar sedang hujan deras. Sama derasnya dengan lelehan hati ini. Untukmu Ibu dan untuk semua IBU yang membaca tulisan ini..anda adalah pemilik profesi paling mulia.


Siapa yang paling berbahagia saat pesta pernikahan berlangsung?
Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah
menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhirpun. Berbulan
bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini.

Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan
mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk
langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria
yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang
cucu dari putranya. "Aih, pasti segagah kakeknya," impinya.

Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura
kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya
sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua
kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau
perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta.

Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu
menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk
acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung.
Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi
plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop
yang tertutup rapat.

Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu
kecuali air mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati
pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati
lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun
tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik
dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu.

Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya
dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang
harus mereka relakan menjadi milik pria lain.

Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira
yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya
ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis
untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima
setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya.
Sedih, pasti.

Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di
pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan
pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari
istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta
berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi
aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring
bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.

Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda
dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus
belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal
mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat
memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang
berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari
doa-doa para tamu yang hadir.

Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang
teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis
disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan
makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di
tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan
lapar hingga terlelap.

Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya
menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati
nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk
dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti
anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti
buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa
terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.

Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup
kalimat "Mohon Doa Restu" dan "Selamat Menikmati" yang tertera di dinding
pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar "Terima Kasih untuk Tidak
Mubazir".
Mungkinkah?

--------------------------------------------------------

Dalam kesempatan ini saya juga sangat ingin memajang award dari sahabat saya
aephobia, terima kasih atas award yang anda berikan teman.

Bagi seorang muslim shalat adalah sebuah identitas. Hingga symbol ada tidaknya iman didalam dirinya, pemisah yang kuat antara muslim dan kafir yaitu shalat. Shalat adalah cahaya setiap muslim dipadang mahsyar kelak. Sudikah kiranya anda dikumpulkan bersama Qorun, Fir`aun, Haman dan Ubai bin Khalf? Naudzubillah. Maka tegakkan lah shalat dan thuma`ninalah ketika sujud!

Sujud adalah salah satu gerakan shalat yang begitu indahnya. Hingga sujud Rasul adalah sama lamanya ketika berdiri beliau. Sujud yang benar seperti yang disunnahkan Rasul

“Bila seorang hamba itu sujud, sujudlah pula bersamanya tujuh macam anggota, yakni: wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lutut serta kedua telapak kakinya” (HR. Jama`ah kecuali Bukhari)

Sujud adalah betuk dari pemaknaan kalimah yang kita ucapkan sebagai ikrar kita, Laa ila haillallah. Bentuk tunduk dan kepasrahan sedalam-dalamnya kepada Yang Maha menciptakan, implementasi rasa takjub dan syukur akan kedahsyatan Kuasa dan KehendakNYA. Tak shalah bila thuma`ninah dalam shalat adalah syarat yang begitu erat yang harus ditunaikan dengan benar dan khusyu`.

Dalam kaitannya dengan Allah sujud adalah hanya kepadaNYA, hingga tiada satupun makhluk yang berhak mendapatkannya kecuali hanya Allah Ta`ala. Dalam kaitannya dengan sesama manusia sujud adalah symbol kesetaraan, bila semua manusia menyamaratakan keningnya telapak tangannya, lutut dan kakinya pada satu garis lurus kezuhudan dan kemanusiaan, tidak akan ada perang dimuka bumi ini, tidak akan ada dengki yang melandasi perpecahan.
Kata seorang ustadz menunduk sama rendah dan menungging sama tinggi. Bukankah akan lebih indah, lihatlah ketika shalat jum`at disetiap masjid, sujudnya orang yang berbadan tinggi besar dan pendek kekar sama saja tingginya. Kesetaraan ini akan menimbulkan kemanusiaan yang lebih hidup.

Dalam bersujud tidak dipandang siapa atasan siapa bawahan, siapa komandan siapa prajurit , siapa miskin siapa berduit. Yang ada adalah batasan antara seorang imam dan banyak ma`mumnya, yang ada adalah seorang pemimpin shalat dan yang dipimpinnya. Maka itulah seharusnya yang terjadi dimasyarakat betapa elemen pemimpin adalah elemen pokok yang juga harus ditaati dan dihormati.

Dalam kaitannya dengan kesehatan sujud adalah gerakan luar biasa yang memberikan dampak sangat postif bagi tubuh manusia, gerakan sujud yang menyejajarkan tujuh titik pada tubuh manusia selayaknya sebuah gerakan senam pada yoga yang berfungsi untuk melancarkan peradaran darah. Memompa lebih banyak darah ke otak menjadikan otak lebih terjaga, maka kenapa orang yang telah selesai shalat selalu merasa segar tubuhnya dan jernih pandangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak sekali peralatan elektronik yang memancarkan radiasi dan gelombang elektromaghnet yang mempengaruhi kerja otak, mulai dari televisi,layar monitor computer, Hand phone, radio atau layar-layar display yang lain. Tak ayal otak kita bagai sarang laba-laba yang menyaring tiap serangga, otak kita menyaring gelombang dan radiasi itu dan kemudian menyimpannya sebagai sampah didalam otak, yang menyebabkan peredaran darah tidak lancar. Namun lihatlah apa yang terjadi dengan semua gelombang dan radiasi yang masuk ke otak tadi ketika kita sujud?

Seperti halnya sebuah penangkal petir yang dipasang digedung pencakar langit dan kemudian disambungkan ke bumi untuk menetralkan alirannya, ketika sujud kening kita yang menempel ke bumi adalah media sempurna yang oleh radiasi dan gelombang electromagnet digunakan untuk menyalurkan ke bumi. Maka dengan sujud ini gangguan-gangguan itu akan hilang dan tersalurkan ke bumi.

Subhanallah, Maha suci Allah atas kekurangan, dan Maha sempurna Allah atas setiap Penciptaan. Bahkan apa-apa yang manusia belum mengetahui manfaat dan hikmah dibaliknya akan Allah tampakkan dihadapan manusia dengan sejelas-jelasnya. Betapa islam adalah rahmatan lil alamin. Allahua`lam bishawab.