Pak F : mas udah berapa lama berhenti ngerokok?

Saya : kok tahu saya mantan perokok pak?

Pak F : tadi waktu istirahat semua pada merokok, anda ngopi doank. Terus warna bibir anda juga sudah mulai memerah padahal ada sedikit bekas rokok yg mulai menghilang. Terus dari tadi ngangkat tanah pake gerobag kok kuat amat kalau perokok kayak saya jelas udah panas kerongkongan.

Saya : haha…. Tahu aja bapak ini, sudah hampir 3 tahun saya tidak pernah menghisap asap rokok langsungd ari mulut saya pak. Namun ya itu saya tetep dipaksa menghirup dari semburan mulut yg lain.

Pak F : saya ngga termasuk kan?


Kami tertawa lepas bersama setelah percakapan itu. Minggu pagi corongan masjid sudah berbunyi lantang memanggil warga sekitar untuk kerja bakti gotong royong untuk menimbun talud yang sudah jadi. Musim penghujan kali ini benar-benar diluar prediksi, air sungai yang DASnya berbatasan langsung dengan pondasi Masjid membuat ketar-ketir, melihat pondasi Masjid yang bila tak segera ditangani bisa-bisa ambrug.

Warga satu komplek sepakat minggu pagi tuk gotong royong nimbun dari tanah yang juga sudah dipesan rame-rame. Melihat bapak-bapak bekerja dibawah terik matahari para ibu tak mau ketinggaland engan menyediakan makanan kecil, gorengan dan wedang kopi atau teh dalam porsi meluber. Sehingga membuat para bapak semakin semangat tuk bekerja agar cepat selesai dan segera menikmati suguhan nikmat ini.

Ditengah nikmatnya terik matahari dan aroma tanah yang masih bercampur air hujan itulah topic berhenti merokok dilontarkan Pak F kepada kerumunan dan saya yang menjadi objeknya, karena memangs aya satu-satunya yang mantan perokok. Yang lain ada yang masih perokok dan ada pula yang tidak pernah bersentuhan dengan rokok sedikit pun.

MUI jelas sudah mengharamkan merokok, namun tiada nash yang mengharamkan rokok itu sendiri. Jadi rokok bukanlah hal/barang haram. Namun efek negative dari rokoklah yang menjadi point bagi MUI tuk mengeluarkan fatwa keharamannya. Polemic? Silahkan bahasan ini sudah terlalu panjang tuk diurai lagi. Masing-masing pihak baik yang pro dan kontra telah memiliki keyakinan masing-masing tuk merasa paling benar. Lagi pula malas mau bahas polemic halal haramnya.

Yang ingin tak bagi adalah apa yang saya tangkap tadi dari perbincangan dari para bapak perokok yang kemudian membuat saya trenyuh, kasihan bahkan masih bangga. Saya trenyuh ketika beberapa bapak berujar,

“sebenarnya pingin sih berhenti merokok, tapi bagaimana caranya?”

“melihat bapak bisa, kenapa saya susah sekali ya?”

“oh pantesan saya lihat akhir-akhir ini bapak kelihatan lebih segar”

Dan banyak lagi komentar yang sebenarnya mereka sadar, kerugian merokok namun mereka tidak sanggup tuk menghentikan kebiasaan itu. Saya juga heran apa kelebihan saya dibanding bapak itu sehingga saya mampu dan mereka tidak.

Ketika saya ingat memory kebelakang, saya berhenti merokok dimulai dari ketika saya menderita batuk yang berkepanjangan, hamir 1 bulan penuh batuk saya tidak sembuh-sembuh dan mulai membuat saya jengkel. Akhirnya dengan terpaksa saya harus berhenti merokok mengikuti saran istri.

1 minggu, 2 minggu, 3 minggu tak terasa 1 bulan saya tidak menyentuh barang yang kata Chairil Anwar tuhan Sembilan centi itu, tuhan yang membunuh Chairil Anwar sendiri. Hingga sampai beberapa bulan saya sanggup menahan keingin tuk kembali merokok, dengan semangat dari istri dan sulung saya yang mulai bisa mengatakan, “Ayah main sama mbak ya? Okoknya dibuang aja.” Demi kalimat ini semangatku semakin besar tuk tidak menyentuh rokok lagi.

Namun semakin hari godaan itu semakin besar, 3 sampai 5 bulan pertama tidak bersentuhan dengan rokok sangatlah tersiksa, disamping keinginan yang mulai kambuh lingkungan juga mulai tidak bersedia merelakan saya meninggalkan kebiasaan merokok ini.

Rekan mulai mengadakan taruhan atas saya, bahwa saya pasti akan merokok kembali, warung rokok sebelah rumah mulai menanyakan apakah saya berubah selera rokoknya, hingga banyak teman yang mulai menawarkan rokok gratisnya kepada saya.
Yah inilah lingkungan, tergantung kita apakah diri kita hendak menjadi thermometer yang selalu terpengaruh oleh lingkungan, atau menjadikan diri kita seperti thermostat yang harus merubah dan mempengaruhi lingkungan apapun yang lingkungan itu tawarkan thermostat akan tetap berusaha merubahnya sesuai grand desainnya. Pilihan saya waktu itu, saya harus menjadi thermostat.

Setidaknya dimulai dari diri sendiri tuk berubah lingkungan akan merespon seperti apa biarlah nanti menghadapinya. Ternyata lingkungan merespon dengan baik, kawan yang biasa nongkrong bareng, rekan kerja, bahkan keluarga mulai kagum dengan tekad yang kutunjukkan. Mereka mulai enggan menawarkan sebatang rokok pun ke saya, bahkan mereka mulai malu dna segera menyembunyikan rokoknya ketika saya datang.

Hingga kini saya harus menjadi agen anti tembakau for your own health. Jangan dulu berpikir apakah asap rokok yang saya semburkan mengganggu sekitar saya, jangan dulu bersimpati dengan para pekerja pabrik rokok yang akan di PHK ketika pabrik rokok tutup, atau jangan dulu berargumen tentang Halal haramnya merokok yang dikeluarkan melalui fatwa oleh MUI. Pikirkan paru-paru anda sendiri.

Bagaimana ini bisa terlupa oleh para perokok? Mereka mempedulikan orang lain namun lupa dengan dirinya. Bagaimana bisa ia bersimpati dengan tulus bila tak bisa bersimpati kepada dirinya. Bagaimana mungkin mereka bisa berargumen dengan para penganut kontra rokok sedangkan mereka tak bisa berargumen dengan tubuhnya sendiri. Jangan dulu menghormati orang disekitar anda dengan memaksanya menghirup asap rokok yang keluar dari mulut anda,padahal anda tidak menghormati kesehatan anda sendiri.

Ah..kok jadi gini?
Kutanyakan pada burung apa itu cinta
dia bilang,"cinta itu saat kudapatkan cacing tuk kusuapkan keanakku".
belum puas hatiku mendengarnya

Kutanyakan pada bintang tentang makna cinta
dia menjawab,"ketika ku berjalan selalu pada orbitku itulah cinta".
semakin bingung aku dibuatnya

Kutanyakan pada rimba raya tentang cinta lagi
dia berkisah,"saat penghuniku memakan bagianku dan hidup atasnya aku tahu itu cinta".
aku semakin tak mengerti cinta

Kutanyakan pada pujangga tentang makna cinta
dia bertutur,"saat singa dan rusa minum dimata air yang sama itulah cinta".
kata-katanya semakin mengaburkanku akan cinta

Akhirnya kutanyakan cinta kepada bidadariku
dia membisikiku,"saat kubangun pondasi pernikahan atasmu, mulai saat itu kutahu apa itu cinta".
betapa puas hatiku dibuatnya.

Biarlah engkau yang tercantik dihatiku

Setelah menikah ternyata ilmu gadhul bashar masih sangat berlaku, ya mau gimana ternyata pernikahan yang dipagari oleh gerbang suci ikatan malah jauh lebih besar godaan yang muncul. Membatasi pandangan adalah metoda terbaik tuk menjaga hati ini. Memandang hanya kepada yang telah halal bagi kita, melihatnya bahwa dialah yang tercantik yang bersemayam di setiap mimpi malam.

Jika anda para istri hendaknyalah membuat pandangan suami anda hanya tertuju kepada anda seorang, tutuplah setiap kesempatan tuk memandang kepada yang lain. Apalagi sampai membayangkannya, apalagi sampai lebih dari membayangkan. Tergantung pada wajah andalah pandangan suami akan berpaling atau tidak, bila wajah anda selalu memancarkan cahaya kesejukan kemanakah lagi harus memalingkan pandangan ini. Andalah panorama terindah ketika cahaya itu memancar. Ok. Setuju?

Kesejukan wajah sungguhlah tiada hubungan dengan kecantikan. Bila bagi yang belum menikah kecantikan sangatlah penting, sehingga banyak sekali pernikahan terjalin berdasar kecantikan, namun tidak menutup ada alasan tambahan dibaliknya barulah kemudian imannya. Bagi sebuah pernikahan kecantikan alangkah tidaklah penting, terasa kecantikan berada diurutan nomor-sekian-sekian. Jauh diatas kecantikan adalah kesejukan wajah anda ketika suami memandang anda. Kecantikan didalam pernikahan bukanlah hal yang mutlak, justru keteduhan jiwa dan kelembutan hati adalah muara air yang tak akan pernah habis direguk oleh suami ataupun anggota keluarga yang lain, keteduhan jiwa ini begitu mutlaknya harus tersirat ketika suami memandang, akan menjadi jawaban bagi angka perceraian yang semakin tinggi, perhatikan hadits Rasulullah ini. Suami termulia diantara manusia.
“Tiga kunci kebahagiaan laki-laki adalah istri shalihah yang jika
dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu
merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan
yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai
yang penuh kasih-sayang.

Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak
membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga
tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga
kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya
membuatmu lelah dan jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi;
dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Ketika penat melanda, ketika jenuh datang tanpa henti silih berganti keteduhan itu sangatlah diperlukan. Istri yang memeiliki keteduhan adalah obat yang luar biasa mujarab bagi ketenangan batin suami dan keharmonisan hubungan keluarga.
Saya teringat perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim berkata, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikan penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali.”

Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.”

Subhanallah.
“Lihat bunda! Orang-orang itu menertawakan kita”, ucapku lirih mendekat ke wajah istriku sambil tak sekedip pun melepaskan pandangan ke arah motor melaju. Dijalanan yang basah dan hujan lebat mendera, menusuk-nusuk muka laksana sembilu.

“ah tidah, mereka hanya kagum kepada kita mas”, balas istri sambil tersenyum dan semakin mengencangkan dekapannya ke dadaku yang mulai menggigil karena dingin yang menelisik kedalam jaket hitamku. Semakin merekah senyumnya karena sensasi ini ketika speedometer semakin kencang menyalak. Dan jalanan menjadi semakin sepi karena air hujan menghentikan mereka tuk melaju.

Sore itu belahan lain kotaku menunjukkan kemilau keindahannya karena matahari
menghangatkan sorenya. Menimbulkan kehangatan yang kias dalam titik-titik kemelaratan. Belahan kotaku ini bagai emperan surga yang hilang ditepi lautan bergemuruh bersama deburan ombak sore. Tak terlihat mendung tak terendus getah langit, maka kupilih motor tuk membawaku menyibak angin melibas aspal.

Di belahan lain kotaku mendung menggelayut, matahari enggan menampakkan diri, langit hitam, burung-burung tercerai berai dari formasinya, jalanan semrawut, dan camar mulai memekikkan peringatan. Yah Allah Maha Segalanya alam adalah perantaranya, dan waktu adalah medianya. Lihat badai segera datang dan angin tak akan mau lagi memberikan jalannya.

“apakah kita harus berhenti nda?” pintaku kepadanya yang setia melindungi punggungku dari ketidak berdayaan, apakah air hujan bercampur debu ini bisa menghentikan langkah kita? Apakah angin badai mampu menjungkir balikkan kita? Apakah kesemrawutan jalanan ini sanggup membutakan kita?

“jangan coba berhenti, tatap masa depan, lanjutkan perjalanan aku akan setia mendekapmu”, ucapnya lirih diantara desingan tajamnya air hujan dan riuh rendahnya kepakan angin. Diantara pelindung kepalaku dan bekapan erat syal nadiku, bisikan istriku seperti percikan bahan bakar bagi kesadaranku. Bahwa pemberhentian terakhir bagi kami adalah rumah. Tiada bus stop, tiada emperan toko atau teduhnya pohon jalanan. Rumah adalah tujuan pasti diantara banyaknya rintangan.

Tiada lagi keraguan bagiku tuk menambah kecepatan, tiada lagi keinginan tuk istirahat walau hanya sesaat. Lihat..! jemariku sudah membeku, mataku nanar, kakiku kelu namun hatiku masih tetap hangat dan lembut.

“lihatlah sekali lagi nda! Mereka yang dipinggir jalan masih melihat kita dengan mata picing dan mencoba menertawakan”.

“bukankah jalanan ini milik kita sekarang, sayang?” jawabnya membara…… yah jalanan ini milik kita. Kitalah raja dan ratunya.


Acara resepsi nikahan yang berkosep unik tapi gagal terlaksana, ini mungkin tag line tuk pengalaman yang saya dapat kemarin. Jum’at sore saya dihubungi bahwa salah seorang sepupu suami yang kebetulan berdomisili dikota yang sama dengan kami akan mengadakan pernikahan tanpa memberitahukan kami.

Kami pura-pura berang karena tidak dilibatkan dalam kepanitiaan, bukankah kewajaran budaya ini lumrah dilingkungan kami bahwa apabila ada hajatan maka keluarga adalah komponen tak terpisahkan atau omongan ngga enak akan merebak. Ini bukan ancaman lho hanya sebuah pelibatan diri pada kesusahan yg ingin kami bagi bersama.

Tanpa berpikir lama si sepupu akhirnya melibatkan juga kami dan saya dilibatkan dalam mendekor gedung yang akan digunakan sebagi tempat resepsi nikah. Pengalaman ini yg membuat saya terperangah sepupu saya yang menjadi actor utama acara ini juga merangkap sebagai EO dari acaranya sendiri. Hebat hingga waktu malam sebelum hari-H dia masih ada didalam gedung untuk mengatur acaranya tersebut. Padahal kami sudah menasehatinya tuk istirahat karena besok adalah hari besar baginya.

Hebat karena resepsi itu mengusung pola yang sangat berbeda dengan acara-acara resepsi seperti bisanya, hebat karena mempelainya sendiri yg langsung menjadi EO nya, hebat karena semua dilakukan berdua. Acara dan ruangan berkonsep seperti bioskop diawal tahun 1980 an. Lengkap dengan poster-poster film yang semua aktornya adalah kedua mempelai. Dengan gerbang rotan bamboo yang diwanai lampu lampu hias yg dibentuk seperti layar tancap, dan music pengiring yang sepertinya mengadopsi MGM film atau twentieth century fox atau PH-PH besr Hollywood lainnya. Dan dipadu padankan dengan adat sunda yang unik dan vintage.

Undangan yang berbentuk seperti sampul film ketika kita membeli video bajakan….lengkap dengan cd yang berisi lagu-lagu favorite kedua mempelai yang juga berfungsi sebagai souvenir para undangan. Kreatif dan sangat unik. Berbeda …? Jelas inilah acara resepsi paling berbeda yang pernah saya datangi dan bahkan saya menjadi panitia didalamnya.

Namun apa yang terjadi? Hal-hal baru yang unik ini tidak bisa diterima oleh hamper kebanyakan undangan bahkan dari pihak keluarga sendiri, kesan berbeda ini mengganggu kenyamanan berpikir dan kenyamanan melihat para tamu dan keluarga. Namun sang mempelai cuek bebek melihat penentangan ini, ini acaraku dan what the hell with everybody toh aku masih mengikuti anjuran mereka tuk akadnya, ujarnya. Who’s false who’s right? Ah saya hanya panitia komponen pelengkap dari acara ini tiada kemampuan tuk merubah sebuah acara atau membuat dukungan pada si mempelai.

Pengalaman unik itu sangat relevan ketika saya membaca sebuah artukel yg masuk ke inbox pesan saya. Menjadi berbeda dalam bertindak kadang mendatangkan keberhasilan. Apakah perbedaan ini bisa mendatangkan keberhasilan seperti yang digambarkan kedua mempelai diatas? Arus yang kuat tidak membuat mereka nyaman hingga harus menunjukkan perbedaannya dan menentang arus yang ada.

Pengalaman yang luar biasa, sebuah prinsip yang dipegang teguh dan berusaha direalisasikan memang akan mendapat banyak cobaan, melawan arus bukanlah hal yang mudah. Tapi memiliki kebanggaan dan kepuasan bathin tersendiri ketika prinsip itu bisa kita pertahankan.

Menjadi berbeda pun sebenarnya bukan hal yg mudah hanya saja perlu sebuah bukti nyata tuk membuat perbedaan itu adalah sebuah keberhasilan. Saya ingin menjadi berbeda dalam artian positif dan membuktikan bahwa perbedaan saya adalah solusi untuk menjadi lebih baik.

Terima kasih tuk membuka pikiranku akan perbedaan yang engkau buat…… be different, dunia mengakses perbedaan dengan cepat karena menjadi berbeda adalah tidak menjadi nyaman didalamnya.

Menikmati hidup bukan hanya ketika dihadapkan pada tragedi atau bencana, tapi pada gelak tawa juga dilemma atas persimpangan pilihan. Setidaknya menjadi hidup itu tidak melulu ketika hal buruk menimpa namun ketika hal tersulit dalam hidup mempertemukan kita pada kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dipilih diantara 2 pilihan.

Kala mitsaaqon gholidzoh menggelayut erat untuk segera disambut persimpangan itu begitu jelas terlihat. Pensiun dini sebagai bujang ataukah melanjutkan euphoria kesendirian yang tak bisa dibagi dengan cinta dan sayang? Yah keluarga menurut saya adalah media tempat berkumpulnya euphoria masalah dan perih getirnya kebahagiaan.

Dimana pundak bukan lagi tempat menggantungnya baju dan tas, tetapi juga tempat bermainnya beban dan tanggung jawab. Hati tidak lagi tempat lalu lalangnya darah namun juga tempat parkirnya cemburu, teriakan anak-anak, rayuan capai tetangga dan cemoohan tuntutan hidup.

Sebelum semua itu terjadi alangkah beratnya berdiri di sebuah persimpangan timbangan pemberatnya seperti terkadar oleh beratnya shalat istikhoroh diujung-ujung malam. Kala pilihan didepan mata namun tak hanya 1 yang bisa dipilih. Eiittss….walau sering ditolak pada akhirnya saya pun harus memilih 2 akhwat yang harus saya jadikan ustadzah rumah saya..asyik to..hhehehe

menikah itu mudah………….

Begitu menurut seorang rekan, ketika saya harus memulainya dengan sebuah syarat yang diajukannya “kalau serius temui orang tua saya!” dalam status perantau saya harus mendatangi beberapa kota yang asing bagi saya. Berdiri di bordes kereta api untuk segera sampai ditempat tujuan yang tak pernah kutuju sebelumnya. Mencoba menyelami setiap kata dan berkhayal tentang masa depan. Mereka-reka wajah dan tabiat si calon tujuan. Menyiapkan mental dan keberanian tuk dapat duduk sopan didepan keluarga besarnya. Yang menjadikan perjalanan ini hebat saya melakukannya seorang diri karena saya perantau.

Menikah itu mudah…..

Menurut yang sudah mengalaminya, bagi seorang bujang sulit adalah hanya dalam bayangan. Bagaimana tidak semua bayangan dan khayalan yang saya rangkai ketika didalam gerbong kereta terbukti salah total. Tak ada satupun kenyataan yang saya alami yangs eusai dengan khayalan itu. Dengan wajah sumringah camer mempersilahkan saya masuk walau baju saya ala kadarnya dan berbau besi lantai bordes gerbong. Mempersilahkans aya mandi dan makan, kemudian menyodorkan setangkup harapan tuk meminang putri tercantiknya.

Hanya saja diakhir kisah itu sang camer juga menyodorkan sekaleng cat tembok dan kuas agar membantunya mengecat rumah, entah ini sebuah barokah atau kesialan. Karena kebetulan tidak ada lelaki lain dirumah itu selain bapaknya si ‘tersangka’.

Menikah itu mudah…….

Bukan jagoan namanya kalau datang kerumah camer tanpa membawa oleh-oleh, dan nyatanya saya memang bukan jagoan. Karena saya hanya membawa badan dan mental yang koyak dikanan kirinya… toh bukan pula halangan tuk ‘memaksa’ camer menerima semua permintaan saya. Walau permintaan saya agak ‘kurang ajar’ dengan mencoba mengambil hak asuh anak pertamanya. Namun disinilah hebatnya seorang wali ketika jawaban yang diberikannya adalah “saya tidak sedang berdagang dengan kamu tentang anak saya, namun apa jaminan saya bahwa anak saya akan bahagia melayani kamu?”

Itu bukan perkara mudah untuk dijawab ternyata….

Menikah itu mudah………..

Menurut sebagian besar orang perlambang sebuah pernikahan itu adalah sepasang cincin yang tersemat dijari manis pasangan pengantin. Dan pada awalnya bagi saya itu adalah sebuah keharusan hingga tak saya dapati beberapa nash yang mendalilkannya hingga pada ujungnya tak saya dapati selembar uang didompet tuk menebus beberapa suku (disumatera takaran emas menggunakan istilah suku) tuk kujadikan mahar. Apalah dikata symbol adalah polemic bagi setiap perantaraan, tiada yang pasti sebenarnya apa yang dimaksud symbol selain hanya menjadi perlambang identitas.
Ternyata harga ‘mas’ jawa jauh lebih mahal, kata camer kala itu………

Menikah itu mudah……………

Mengingat adat sumatera yang sering digembar-gemborkan membuat dompet saya kembang kempis. Pesta besar, 3 hari 3 malam, ‘nyangoni’ sanak keluarga, adat meminta, dan lains ebagainya hamper meruntuhkan tekad bulad saya tuk mengakhiri masa lajang. Apa boleh buat jaln terbaiks aat ini adalah menurunkan ego, menyerah pada kejujuran dan terbuka atas segala kondisi.

Anak seorang guru SD diaerah terpencil menyatakan niat meminang puteri seorang raja, dimanakah logika saya ? dimanakah letak kewarasan saya ketika menjalani ini? Saya tidak sedang menanyakan kondisi keimanan kala itu yang begitu menggebu akan pernikahan dengan niat mengurangi keinginan berzina. Namun dimanakah logika saya dengan kondisi materi yang begitu timpang?

Ah saya lupa kala itu akan syarat memilih seorang wanita harus dari agamanya, terlebih dahulu. Yang saya tahu saya bukanlah tandingan keluarga besar itu…

Ternyata perbedaan saya dan keluarga itu adalah pada penafsiran makna “kaya”…………..

Menikah itu mudah…….

Setelah semua persiapan dilakukan, dan semua permintaan dicukupi, hal yang paling penting malah kulupakan. Saya lupa menyisakan uang untuk mendatangkan orang tua saya dari jawa timur ke sumatera selatan. Ditengah segala kekalutan dan kecemasan Allah mendatangkan prajurit terbaiknya tuk membantu saya, teman-teman yang awalnya menganggap semua beres terlihat kaget ketika mendapati calon pengantin tak sesumringah seharusnya.

Masalah pasti sedang menggelayut, yang akhirnya tak kuasa kutahan sendiri beban tersebut. Prajurit-prajurit itulah yang mendatangkan orang tua saya ke sumatera selatan dengan cepatnya…prajurit itulah teman-teman terbaik saya……………….
Menikah itu mudah karena akan banyak prajurit-parjurit yang akan membantu anda melewatinya…percayalah pada kehebatan persaudaraan/ukhuwah..!

Menikah itu mudah…

Tapi tak semudah seperti yang anda bayangkan, karena saya yakin anda membayangkan yang sulit dan sukar bahkan sesuatu yang belum anda alami kesukarannya. Saya tak mengatakan semudah seperti kenyataannya namun juga tak sesulit yang ada dalam bayangan anda.