Suatu hari saya bertandang ke rumah salah satu rekan saya, menikmati hawa sejuk perbukitan yang menjadi pilihan tempatnya mendirikan rumah mungilnya. Sangathijau dan suara gemericik air sungai yang tak henti 24 jam. Luar biasa suasana ini membuat setiap sensor motorik saya menjadi relax dan tenang.

Kami bercerita bercengkerama layaknya 2 orang teman yang lama tak bersua. Menceritakan keadaan dan menanyakan kabar keluarga. Memperbincangkan keadaan dan melumerkan kekeluan karena lamanya tak bercakap.

Tak berapa lama sorot mata saya tertumpuk pada sebuah hiasan yang ada di meja kecil disudut ruang tamu. Menatap sebuah gelok (-red, toples sedang yang biasanya untuk akuarium) yang berisi seekor laba-laba besar hitam. Memang sebenarnya teman ini memeliharanya dengan kasih sayang dan hati-hati namun siapayang tahu apa yang dirasakan laba-laba itu.

Sebenarnya laba-laba itu bisa keluar dengan mudahnya karena memang tidak ada tutup diatas gelok itu, namun entah kenapa laba-laba itu sepertinya terlhat ragu tuk melompat dan keluar bebas. Saya hanya bisa menebak dan mengira apa yang sedang dirasakan si laba-laba. Bahkan saya tidak tahu sebenarnya kemampuan si laba-laba, apakah dia bisa melompat ataukah tidak. Apakah dia bisa melemparkan jarring halusnya tuk kabur atau tidak.

Apa yang membatasi antara persepsi saya akan laba-laba dan laba-laba itu sendiri adalah sebuah gelas cembung yang transparan yang mengurungnya didalam. Dan setidaknya kendala bahasa dan isyarat karena saya tidak mengerti bahasa laba-laba dan laba-laba pun tidak mengerti bahasa saya.

Sekat ini transaparan namun tak bsia menembusnya dengan mudah, mungkin akan lebih sederhana bila harus dipecahkan saja geloknya. Namun tidak akan ada lagi attraction didalamnya. Keharmonisan si tuan dan laba-labanya. Padahal itulah yg ingin didapat sebuah keharmonisan sederhana dalam suasana ruang tamu yg sudah didukung oleh suasana perbukitan yg sejuk dan tenang.

===============

Tidak, ini sebenarnya bukan tentang laba-laba dan teman saya. Ini tentang kenaifan orang atau golongan yang begitu hebatnya berargumen dengan sedikit ilmu. Padahal ada sekat yg membatasi antara keduanya.

Kalau anda memahami bahwa manusia diberi kelebihan dan 1 juga point kekurangan maka anda akan memaksimalkan kelebihan itu dan berusaha menutupi kelemahan itu. Namun bagia sebagian orang mereka merasa memiliki kelebihan dan tidak merasa memiliki kekurangan sehingga menganggap apabila memiliki sebuah kelebihan. Apapun yg ada di dirinya adalah lebih disbanding orang lain.

Saya tidak berani menggambarkan orang seperti ini sebagai sosok yang takabbur ataupun sombong. Namun tak lebih dari kenaifan, kegagalan dalam menginstropeksi dirinya sendiri.

Adakah orang seperti ini disekitar anda? Semoga juga bukan anda sendiri atau saya yg terlalu naïf merasa paling tahu tentang anda-anda.semoga…
“Cobalah baca novel sayang, pasti nanti kamu akan menikmatinya…”

Dengan wajah memelas istriku memintaku membaca salah satu tumpukan novelnya, padahal enggan sekali mata ini meliriknya, tak goyah jemari ini tuk menggapainya. Kesadaranku sejelas-jelasnya sedang meresapi setiap kalimat pada buku lama berjudul Sophie’s Verden karya Jostein Gaarder dan disebelahku seonggok buku tebal putih berjudul Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb. Memang dengan front cover tak semenarik salah satu novel yg disodorkan padaku oleh istriku yang berjudul The Winst karangan Afifah Afra Amatullah, namun entah mengapa kecenderunganku baca belum membuat bergidik pada genre novel.

Hanya 1 novel yang pernah kutammatkan dengan serius yaitu The Kite Runner karya Khaled Khoseini, Itupun ku embat hanya dalam 3 hari. Walaupun ada beberapa novel karya anak negeri yang ku baca walau tak sampai tuntas beberapa karya Habiburrahman El Zirazi contohnya. Namun tak juga membangkitkan kecenderunganku tuk baca genre novel

Saya heran dengan beberapa orang, dalam hal ini 1 kasus contoh istriku sendiri ketika membaca novel sampai tak inget waktu, menangis Bombay bahkan sampai sesenggukan. Ah hal yang diluar nalar saya, dalam hati bergumam kalau untuk mendramatisir sebuah kisah alangkah lebih nyata bila nonton film romantic saja, atau drama keluarga. Sepertinya tak perlu membayangkan pun bisa membuat penonton menitikkan air mata.

Atau ini memang kekurangans aya dalam menghayati sebuah kisah, Bisa jadi. Karena selama ini yang kubaca buku-buku berat yang penuh dengan logika dan jauh dari fiksi apalagi drama kehidupan. Terlalu kaku mungkin bagi sensitifitas ku tuk memahami sebenarnya perasaan apa yang bisa didapat dari sebuah novel.

Sore itu istri menawariku salah satu novel Afifah Afra tadi untuk kulahap. Belum juga kubuka halaman 1 rasa bsoan udah hinggap. Tolong bantu aku memahami buku bergenre NOVEL ini….!!!
“Loyalitas tanpa batas, AREMANIA bukan dimana tapi ada dimana-mana, salam satu jiwa.”

Beberapa slogan, sapaan, kalimat ataupun jargon yang mencirikan keberadaan supporter terbaik asia tenggara ini. Kalimat-kalimat itu seperti sudah mendarah daging bagi AREMA atau AREMANITA, dimana pun berada apabila kalimat itu diucapkan atau dituliskan maka tak lagi diragukan AREMANIA atau AREMANITA ada disana.

Suatu pengalaman mengesankan yang saya dapat dikota yang jauh sekali dari MALANG, kota yang dipisahkan pulau namun AREMANIA menunjukkan kekompakan yang luar biasa. Saya asli kelahiran Malang, besar dimalang hingga orang tua ditugaskan dikota yang tak jauh dari Malang, namun tak bisa dipungkiri bahwa Malang adalah kota kelahiran dan tempat dimana sanak saudara masih berkumpul dan bersilaturahim.

Di kota yang sekarang saya tempati sekarang terbentuklah sebuah perkumpulan yang baru saya ketahui keberadaannya setelah saya 5 tahun dikota ini. AREMANIA LAMPUNG yang mengibarkan kebesaran AREMANIA dikota ini, yang berisi bermacam jenis manusia baik AREMANIA ataupun AREMANITA. Namun tetap yang saya rasa ‘bukan dimana tapi ada dimana-mana’ AREK MALANG selalu seperti keluarga, dari awalnya yang tidak kenal dalam 1 kali bertemu rasanya saya berkumpul dengan sanak family yang telah lama berpisah.

Hebatnya AREMANIA LAMPUNG diisi oleh anak-anak muda yang notabene tidak semuanya asli kelahiran Malang, ada yang hanya menghabiskan masakuliah di Malang namun langsung jatuh cinta dengan kota Malang dan tentu saja dengan AREMANIAnya. Ada juga yang belum sekalipun menginjakkan kaki di MALANG namun AREMA INDONESIA F.C memberikan kesan yang tak bisa mereka lupakan akan permainannya, akan keramahan AREMANIAnya dan lain sebagainya.

AREMA INDONESIA F.C sebuah badan hukum yang didirikan untuk menampung legalitas kepengurusan akan gairah sepakbola dikota Malang, yang ingin mandiri berdiri sendiri berdikari dantidak ‘ngempeng’ kepada pemerintah. Memberikan wadah yang sempurna dalam menampung aspirasi kekeompakan masyarakat yang ada hubungannya dengan kota Malang. Karena AREMA INDONESIA F.C bukan hanya milik masyarakat Malang, namun milik siapa saja yang hendak berkompetisi dengan Fair play, berkumpul dalam kekeluargaan, beraktivitas dalam kedewasaan.

Maka inilah sebuah budaya yang pernah dikatakan Sepp Blatter “bahwa sepakbola adalah bahasa universal” dalam sepakbola bisa ditemui pelajaran, kekompakan bahkan kekeluargaan. Saya pengagum club Bola asal Italy yang berjuluk ‘il diavolo roso’ A.C Milan lebih dikenalnya. Sebuah klub sepakbola yang dibangun atas azas kekeluargaan.

Walau bukan seorang pengamat, saya mengamati hampir setiap pemain yang pernah merumput di klub A.C Milan hampir bisa dipastikan akan betah dan bertahan sangat lama bermain untuk klub tersebut, Sylvio Berlusconi mengikat pemain, manajemen dan jajaran pelatih dengan ikatan kekeluargaan. Inilah cermin yang menjadi kiblat manajemen AREMA INDONESIA F.C ikatan kekeluargaan yang tidak bisa ditemui di klub lain di ISL.

Hingga musim kompetisi belum berakhir dimulai dari Perre ‘papa’ Njanka dan Esteban Guillen Tejera langsung mengajukan perpanjangan kontrak dengans erta merta diikuti oleh seluruh pemain lainnya. Inilah modal dasar para pemain, jajaran pelatih dan manajemen memompa semangat bertanding bahwa setiap bagian adalah keluarga bagi lainnya. Refleksi yang ditularkan dari AREMANIA dan AREMANITA yang telah membudaya sejak dahulu kala. Ciri khas kedaerahan yang indah dimana tribun penonton selalu diselingi oleh para wanita dan anak-anak yang tak canggung bersama para laki-laki mendukung dengan menggelora tanpa takut akan kebrutalan, rasisme ataupun anarchi.

Kini AREMA INDONESIA F.C ada dipuncak kejayaan dalam berkompetisi maupun berkecimpung dalam manajemen sebuah badan hukum. Prestasi besar tentu saja dibarengi tanggung jawab besar, didalam kejayaan kisi-kisi tent saja akan mudah tergesek hingga menimbulkan percikan-percikan. Namun sebuah klub yang besar tidaklah diakui besar bila belum mendapat rintangan tantangan ataupun halangan dalam menempuh kebesarannya.

Maka besok adalah puncak kejayaan itu bila Allah berkehendak, pembuktian bahwa ikatan kekeluargaan didalam manajemen, jajaran kepelatihan dan pemain akan teruji. Lihat dan dengarlah nyanyian, yel-yel dan seruan penabur semangat dari AREMANIA dan AREMANITA diseluruh pelosok negeri akan dikumandangkan dengan gegap gempita. Luar biasa ….! Tiada kata lain untuk sebuah kejayaan Klub ……

I've paid my dues -
Time after time -
I've done my sentence
But committed no crime -
And bad mistakes
I've made a few
I've had my share of sand kicked in my face -
But I've come through

We are the champions - my friends
And we'll keep on fighting - till the end -
We are the champions -
We are the champions
No time for losers
'Cause we are the champions
By : Queen –We are the champion
Ketika kutanya padamu kisah kita dulu
Tentang sebongkah awan yang kutunjukkan padamu
Ketika itu kita diatas sebuah kapal
Yang membawa kita ke tempat kita bertemu
Kutunjukkan padamu sebongkah awan yang sedang bergumul
Diangkasa dan membentuk jatidirinya sendiri
Diatas sana kuingin kamu membayangkan sesuatu
Sesuatu yang sedang kau simpan dihatimu
Dan tunjuklah satu bentuk awan tuk kau imajinasikan
Dan kau bilang kamu tak menemukannya disana
Lalu kutunjuk satu bentuk awan
Dan kukatakan apa yang ada dihatiku saat itu
Bahwa aku menemukan wajahmu diatas sana
Kubentuk awan itu sehingga menyamai wajahmu yang anggun
Lalu kau katakan bahwa itu tak mungkin
Tapi kuyakinkan padamu bahwa itu memang terjadi
Dan kutunjukkan awan itu padamu
Dan kau hanya diam, dingin merasakan lembut angin
Kini ketika rindu menepis tiap ingatan akan dirimu
Kukatakan itu padamu
Kungatkan padamu tentang rekaman itu
Kuingin kamu tunjuk satu awan dan katakan padaku
Apa yang sedang kau simpan dihatimu
Apa yang kau lihat disana
Dan kaupun menjawab dengan birunya harumu
"aku ada disampingmu,berdiri memandangmu"
dan kau tunjuk satu awan
lalu kau diam tak bergeming dari tempatmu menatapku
hingga kini pun aku tak tahu apa yang kau bayangkan
apa yang ada dihatimu,apa yang sedang kau rasa
Setelah SMI dipinang oleh World Bank, dan setelah setelah yang lain yang membuat putra-putra terbaik bangsa ini ‘dikeluarkan’ secara paksa oleh bangsa sendiri. Bisa disiratkan bahwa semakins edikit orang pintar putra asli bangsa Indonesia yang akan setia mencurahkan kemampuan terbaiknya bagi bangsa sendiri.

Jangankan jadi Menkeu, jadi Lurah saja orang sudah gemetaran karena mtekanan yang luar biasa baik tekanan dari lawan politik juga tekanan dari duit. Maka kenapa semakin sedikitlah orang pintar yang akan membesarkan bangsa ini.

Nah sisanya ya jadinya seperti ini.

Bukanlah barang baru bila batu meteor juga menjadi salah satu ‘buruan’ para pembuat keris. Pantas saja di lokasi kejadian jatuhnya meteor Duren Sawit berdatangan warga-warga dari luar kota yang ‘memburu’ batu yang dipercaya memiliki jimat itu.
Tapi bagi Thomas Djamaluddin, Profesor Astronomi dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan), mereka yang tetap percaya dengan hal magis itu tidak menjadi masalah.
“Bagi ilmuwan, batu meteor itu sangat berguna untuk ilmu pengetahuan,” kata peneliti yang akrab disapa Djamaluddin ini, Senin 3 Mei 2010.

Meski demikian, Djamaluddin rela ‘berbagi’ dan menghormati mereka yang mempercayai ‘kemampuan lain’ batu meteor itu.
Tetapi bagi Lapan, bongkahan batu meteor itu, bila ditemukan sangat berguna untuk penelitian astronomi di Indonesia. Lapan masih membutuhkan batu itu untuk memperkuat bukti indikasi meteor jatuh di Duren Sawit.

“Yah kita bagi-bagi dengan mereka yang punya kepercayaan masing-masing,” ujarnya. Tapi yang dimaksud Djamaluddin tentunya bukan berbagi barang bukti itu dengan mereka.

Sejak kemarin, sejumlah warga luar Duren Sawit, bahkan dari Jawa Tengah sengaja datang ke lokasi jatuhnya meteor. Mereka ‘mengadu nasib’ dengan mencari sisa-sisa batu meteor itu untuk dijadikan jimat atau keberuntungan.

H Budi Hartoyo, warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian mengaku melihat warga luar Duren Sawit yang memburu batu itu.

“Tadi sempat ada yang nanya saya, pecahan batu melejitnya ke mana ya? Ada yang lihat pak?,” tanya seorang ibu dari Wates, Jawa Tengah, kepada Budi, kemarin.

Ibu-ibu itu, kata Budi, tidak sendiri ia pergi dengan dua temannya. “Saya pikir, aneh-aneh saja ya orang mencari batu, meteor kok dijadikan jimat,” tuturnya.

Sumber : http://joglopos.com/berburu-batu-meteor-untuk-dijadikan-jimat.htm

Sambil nyanyi lagu ciptaan SONNY JOZS yang judulnya MINGGAT

Sri, kapan kowe bali
Kowe lungo ora pamit aku
Jarene neng pasar, pamit tuku trasi
Nganti saiki kowe durung bali

[Reff:]
Sri, opo kowe lali
Janjine sehidup semati
Aku ora nyono kowe arep lungo
Loro atiku, atiku loro

Ndang balio.. Sri
Ndang balio…o

Aku loro mikir kowe
ono ning endi

Ndang balio.. Sri
Ndang balio.. o

Tego temen kowe minggat
ninggal aku
Yen pancene Sri
kowe eling aku

Ndang balio
Aku kangen setengah mati
(Sri kowe nong endi to Sri?
ndang balio to Sri
aku kangenn…. banget)