Dikutip dari Rakyat Merdeka Online Jum'at, 17 September 2010 , 15:25:00 WIB

Peristiwa penusukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat dan pendeta Huria Kristen Batas Protestan (HKBP) pada Minggu lalu (12/9) telah menyita perhatian publik. Masyarakat terbelah menyikapi insiden tersebut. Ada yang langsung mengecam, ada yang bersikap berhati-hati sebelum mengeluarkan sikap, dan tentu ada pula yang tidak mau tahu atas persoalan tersebut.



Redaksi Rakyat Merdeka Online, menerima e-mail bersifat surat terbuka dari salah seorang warga Mustika Jaya, Bekasi tempat keberadaan gereja HKBP itu, Rahmat Siliwangi. Surat ini sengaja kami publikasi agar menambah data pembanding bagi para pembaca. Tentu sebagai media independen dan terbuka, Redaksi Rakyat Merdeka Online, juga akan memuat bila ada dari pihak HKBP yang membantah isi surat di bawah ini.



Berikut kutipan lengkap dari surat terbuka Rahmat.



SAYA warga mustika jaya, Bekasi hanya ingin sharing kenapa sebenarnya kami sulit untuk menerima kehadiran warga HKBP di daerah kami. Dua puluh tahun lalu seorang warga Batak mulai menjadikan rumah tinggalnya sebagai tempat kebaktian. Kami warga perumahan Mustika Jjaya dapat menerima karena kami sangat menghargai toleransi dan kebebasan dalam memilih keyakinan.


Namun makin lama kami biarkan semakin banyak warga Batak yang sering mondar mandir di perumahan kami. Bahkan perilaku mereka yang tadinya hormat kepada warga sekitar menjadi arogan dan mau menang sendiri. Selain itu dalam aktifitas sehari hari mereka mulai tidak menghormati tetua warga dan warga asli Mustika Jaya, Bekasi. Seakan–akan tanah dan daerah ini milik mereka. Bahkan dalam acara–acara keluarga, mereka sangat mengganggu ketentraman kami sebagai warga asli.


Ini bukan masalah agama. Karena di tempat kami ada juga warga yang non muslim selain Kristen HKBP.


Warga selain muslim pun mulai keberatan dengan perilaku dan cara–cara warga HKBP dalam sosial kemasyarakatan. Kesimpulan kami bersama warga–warga non muslim selain jemaat HKPB, jemaat HKBP cenderung kasar, sembrono, tidak tahu diri, tidak tahu malu, menyebalkan, cara bicaranya keras dan sangat arogan.


Setalah sepuluh tahun kami biarkan, jika ada acara, mereka mulai mendominasi akses jalan kampung dan mereka mulai berani terang–terangan melakukan indimidasi terhadap warga sekitar yang keberatan dengan pola tingkah dan perilaku hidup mereka seperti mabuk, menggoda wanita–wanita dan putri–putri kami, mulai mengganggu tatanan adat masyarakat asli dan hukum yang berlaku.


Selain itu jika ada acara makan–makan, mereka mulai berani memotong babi dan anjing di sekitar kampung Mustika. Bahkan bau daging–daging itu sampai tercium kemana–mana. Mereka mulai berani keliling kampung dengan bernyanyi–nyani dengan suara dan logat khas batak.


Pemaksaan cara mereka inilah yang membuat kami sangat kesal dengan tingkah pola mereka. Bahkan mereka mulai berani mendirikan lapo–lapo tuak yang selalu memicu keributan disekitar daerah Mustika Jaya.


Kemudian, kami warga sekitar, baik itu muslim dan non muslim non HKBP sering mengadakan pertemuan untuk membahas keberadaan warga HKBP (meskipun sebagian besar hanya datang setiap hari Minggu). Kesimpulan dan kesepakatan warga, kami takut jika ini dibiarkan akan merubah tatanan masyarakat kami dari berbagai lintas agama dan suku lain selain Batak.


Perilaku mereka akan mengubah tatanan kemasyarakatan yang tadinya saling menghormati, toleran, sopan santun, menjadi arogan, mau menang sendiri, mabuk–mabukan dimana saja. Dan makan dengan makanan yang bagi kami sangat menjijikan. Seperti bakar babi dan anjing.


Dan kami pun mulai melaporkan ke Pemerintah Kota Bekasi mengenai keberadaan mereka sesuai apa adanya. Kami juga meminta Pemkot Bekasi bahkan Kepolisian dan Babinsa di daerah kami untuk berkata apa adanya dan menyelidiki secara langsung perilaku warga HKBP.


Karena yang kami sampaikan bukanlah omong kosong maka setelah hampir dua puluh tahun kami menderita dengan perilaku HKBP, oleh Pemkot Bekasi kegiatan jemaat mereka dianggap liar. Dan gereja di rumah seorang warga pun disegel oleh Pemkot Bekasi. (Tentunya dengan hasil penyelidikan selama waktu yang cukup dengan melibatkan Kepolisian dan Koramil setempat).


Jadi maksud saya membuat surat ini pada dasarnya bukan masalah didirikan gereja atau tidak dirikan gereja yang menjadi pokok permasalahan. Tapi yang akan mendirikan gereja di tempat kami adalah jemaat Huria Kristen Batak Protestan, yang menurut teman saya juga beragama Kristen tapi dari suku lain (Jawa, Maluku, Irian, NTT) mereka juga kurang suka dengan kelompok ini (HKBP). Karena di dalam persatuan gereja–gereja Kristen pun, selalu membuat masalah–malsalah tatanan sesuai pola arogansi kesukuan Batak mereka.


Saya hanya bisa berharap, surat saya ini bisa menjadi informasi pembanding dan pertimbangan yang objektif apakah apa yang saya sebutkan dengan perilaku mereka diatas itu salah atau mengada–ada. Khusus untuk teman–teman wartawan jika Anda ingin objektif silahkan survey warga Mustika Jaya Bekasi apakah yang saya sampaikan di atas benar atau tidak.


Dan saya surat saya ini juga ditujukan Warga HKBP untuk bercermin terhadap perilaku mereka, berperilakulah seperti manusia, kalau ingin dihormati dengan sebenarnya hormatilah tatanan masyarakat sekitar. Kita ini orang timur, "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Kalau tidakdimanapun anda berada kalian tidak akan pernah diterima oleh suku manapun!


Kami takut jika mereka jadi bermukim di Mustika Jaya, tatanan kehidupan sosial kami berubah, kami takut anak–anak kami menjadi para pemabuk, keras kepala, kekerasan meningkat, kejahatan meningkat, sekali lagi kami bukan tidak mau menerima umat kristiani. Yang tidak kami terima mereka ini HKBP.


Salam,


Agustus 2010,Mustika Jaya Bbekasi


Rahmat Siliwangi

Istriku, rasanya sudah lama tidak kutulis seberkas cinta dalam uraian untukmu. Rasanya sudah lama juga tak ku lap cintamu dengan gombal. Namun apa salah nya bila kali ini kutuliskan hari-hari dalam indahnya kertas ini.
Istriku, ketika kutuliskan surat ini, diluar sana sedang hujan deras, petir menyambar, gesekan daun bamboo menjadikannya semakin merana. Kaca jendela sedang berembun merasakan hawa  yang semakin dingin dan kabut yang semakin menyesakkan pandangan.
Istriku, tahukah kamu bahwa surat ini kubuat tidak untuk ku kirimkan melalui pos ataupun tidak pula berusaha kucarikan perangko, karena kau sedang tertidur pulas disebelahku memeluk anak-anak kita dan membelakangiku, kau simpan perasaan yang aku pun tak begitu faham adanya.
Istriku bersama surat ini kutuliskan kesedihan ketika kita bersama, kugambarkan kegembiraan ketika kita lalui waktu berdua, setiap coretan tinta didalamnya adalah misteri dan kenangan yang sudah,sedang dan hendak kita jalani. Semoga selama diri ini membersamai adalah sebuah lentera bagi gelapnya ruang hatimu.
Istriku, luka, perih dan getir setiap kali kuterjaga ditengah tengah dingin malam membayangkan ketika waktu berakhir. Entah itu waktumu, waktuku ataukah waktu dunia yang akan mendahului kita. Sering terucap lebih baik aku menutup wktuku dulu agar aku tak pernah merasakan sakitnya kehilanganmu. Namun itupun jarang membuatku terjaga kalau kau membaluri ku dengan doa dikala pagi menyingsing.
Istriku, matahari mulai meninggi ketika kertas ini tak lagi muat membendung bahagia ini. Disampingmu membesarkan anak-anak kita. Udara tak lagi sedingin ketika kumulai kata demi kata. Sudah saatnya kau buka mata melihat kedepan, dunia tak seindah dimimpi malam kita. Bukan uang yang kutakutkan, bukan pula soal hidangan pagi ini yg kukhawatirkan. Namun sampai kapan aku bisa menjaga agar air matamu tak tumpah lagi, demiku, demi anak-anakmu, atau demi rentannya hatimu sendiri.
Istriku, ingin rasanya kupanjangkan lagi surat ini, hanya agar kau tahu bahwa aku rindu denganmu. Walau kau pun hanya berbaring lelah disebelahku. Namun apalah dikata si sulung sudah terjaga, biarkan hari-hari kedepan kita isi dengan kalimat cinta dan kasih sayang hingga tak tersisa lagi waktu tuk menangisi apa yg telah hilang dari hidup kita.

Andaikan wanita tahu
Ketika malam menjelang setelah akad diucapkan
Ketika bimbang menggelayut
Senyum bahagia karena lengkap sudah kesempurnaan
dan air mata gundah karena beban yang berat
karena bagi mereka pantang untuk menyia-nyiakanmu

andaikan wanita tahu
ketika dirimu tertidur pulas bersama mimpi
hembusan doa-doa menyelimuti sekujur tubuhmu
kala itulah waktu terbaik untuk menangis
karena mereka jantan, pantang meneteskan air mata.

Andaikan wanita tahu
Ketika diluar rumah tanpa memandangmu
Dunia ini terasa layar hitam putih
Walau begitu banyak wanita cantik mengelilingi
Tetaplah warna itu tertinggal diwajahmu
Karena dirimulah penentramnya

Andaikan wanita tahu
Ketika sedikit uang tersisa
Mereka rela berlaukkan kerupuk dan garam
Demi makanan enak yang tersaji bagimu dan anak-anakmu
Karena bahagia bagimu sudah lebih dari cukup

Andaikan wanita tahu
Ketika debu dan terik menghampiri demi sesuap nasi
Walau apapun profesi laki-lakimu
ketika uang itu diberikan pada mu
mereka ikhlas memberikannya padamu
dan rela menanggung dosa untukmu

andaikan wanita tahu
di setiap sendiri memikirkan kerasnya hidup
dalam duka yang membuat terpuruk
dalam luka yang menjadikannya perih
mereka diam karna mereka lelaki
mereka selalu menyimpan perasaannya seorang diri.
Suatu hari saya bertandang ke rumah salah satu rekan saya, menikmati hawa sejuk perbukitan yang menjadi pilihan tempatnya mendirikan rumah mungilnya. Sangathijau dan suara gemericik air sungai yang tak henti 24 jam. Luar biasa suasana ini membuat setiap sensor motorik saya menjadi relax dan tenang.

Kami bercerita bercengkerama layaknya 2 orang teman yang lama tak bersua. Menceritakan keadaan dan menanyakan kabar keluarga. Memperbincangkan keadaan dan melumerkan kekeluan karena lamanya tak bercakap.

Tak berapa lama sorot mata saya tertumpuk pada sebuah hiasan yang ada di meja kecil disudut ruang tamu. Menatap sebuah gelok (-red, toples sedang yang biasanya untuk akuarium) yang berisi seekor laba-laba besar hitam. Memang sebenarnya teman ini memeliharanya dengan kasih sayang dan hati-hati namun siapayang tahu apa yang dirasakan laba-laba itu.

Sebenarnya laba-laba itu bisa keluar dengan mudahnya karena memang tidak ada tutup diatas gelok itu, namun entah kenapa laba-laba itu sepertinya terlhat ragu tuk melompat dan keluar bebas. Saya hanya bisa menebak dan mengira apa yang sedang dirasakan si laba-laba. Bahkan saya tidak tahu sebenarnya kemampuan si laba-laba, apakah dia bisa melompat ataukah tidak. Apakah dia bisa melemparkan jarring halusnya tuk kabur atau tidak.

Apa yang membatasi antara persepsi saya akan laba-laba dan laba-laba itu sendiri adalah sebuah gelas cembung yang transparan yang mengurungnya didalam. Dan setidaknya kendala bahasa dan isyarat karena saya tidak mengerti bahasa laba-laba dan laba-laba pun tidak mengerti bahasa saya.

Sekat ini transaparan namun tak bsia menembusnya dengan mudah, mungkin akan lebih sederhana bila harus dipecahkan saja geloknya. Namun tidak akan ada lagi attraction didalamnya. Keharmonisan si tuan dan laba-labanya. Padahal itulah yg ingin didapat sebuah keharmonisan sederhana dalam suasana ruang tamu yg sudah didukung oleh suasana perbukitan yg sejuk dan tenang.

===============

Tidak, ini sebenarnya bukan tentang laba-laba dan teman saya. Ini tentang kenaifan orang atau golongan yang begitu hebatnya berargumen dengan sedikit ilmu. Padahal ada sekat yg membatasi antara keduanya.

Kalau anda memahami bahwa manusia diberi kelebihan dan 1 juga point kekurangan maka anda akan memaksimalkan kelebihan itu dan berusaha menutupi kelemahan itu. Namun bagia sebagian orang mereka merasa memiliki kelebihan dan tidak merasa memiliki kekurangan sehingga menganggap apabila memiliki sebuah kelebihan. Apapun yg ada di dirinya adalah lebih disbanding orang lain.

Saya tidak berani menggambarkan orang seperti ini sebagai sosok yang takabbur ataupun sombong. Namun tak lebih dari kenaifan, kegagalan dalam menginstropeksi dirinya sendiri.

Adakah orang seperti ini disekitar anda? Semoga juga bukan anda sendiri atau saya yg terlalu naïf merasa paling tahu tentang anda-anda.semoga…
“Cobalah baca novel sayang, pasti nanti kamu akan menikmatinya…”

Dengan wajah memelas istriku memintaku membaca salah satu tumpukan novelnya, padahal enggan sekali mata ini meliriknya, tak goyah jemari ini tuk menggapainya. Kesadaranku sejelas-jelasnya sedang meresapi setiap kalimat pada buku lama berjudul Sophie’s Verden karya Jostein Gaarder dan disebelahku seonggok buku tebal putih berjudul Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb. Memang dengan front cover tak semenarik salah satu novel yg disodorkan padaku oleh istriku yang berjudul The Winst karangan Afifah Afra Amatullah, namun entah mengapa kecenderunganku baca belum membuat bergidik pada genre novel.

Hanya 1 novel yang pernah kutammatkan dengan serius yaitu The Kite Runner karya Khaled Khoseini, Itupun ku embat hanya dalam 3 hari. Walaupun ada beberapa novel karya anak negeri yang ku baca walau tak sampai tuntas beberapa karya Habiburrahman El Zirazi contohnya. Namun tak juga membangkitkan kecenderunganku tuk baca genre novel

Saya heran dengan beberapa orang, dalam hal ini 1 kasus contoh istriku sendiri ketika membaca novel sampai tak inget waktu, menangis Bombay bahkan sampai sesenggukan. Ah hal yang diluar nalar saya, dalam hati bergumam kalau untuk mendramatisir sebuah kisah alangkah lebih nyata bila nonton film romantic saja, atau drama keluarga. Sepertinya tak perlu membayangkan pun bisa membuat penonton menitikkan air mata.

Atau ini memang kekurangans aya dalam menghayati sebuah kisah, Bisa jadi. Karena selama ini yang kubaca buku-buku berat yang penuh dengan logika dan jauh dari fiksi apalagi drama kehidupan. Terlalu kaku mungkin bagi sensitifitas ku tuk memahami sebenarnya perasaan apa yang bisa didapat dari sebuah novel.

Sore itu istri menawariku salah satu novel Afifah Afra tadi untuk kulahap. Belum juga kubuka halaman 1 rasa bsoan udah hinggap. Tolong bantu aku memahami buku bergenre NOVEL ini….!!!