Entah perayaan hari apa kini, yang pasti hari ulang tahunnya pun sudah terlewatkan. Sepertinya juga tak ada hari khusus yang ditetapkan akan berat dan hebat tanggung jawabnya. Setidaknya ada 75 negara yang menjadikan pekan ke-3 dibulan Juni setiap tahunnya untuk memberikan off day kepada sosok ini untuk dapat merenungi tugas hebatnya mengiringi keluarga. keberadaannya dalam tugas dan tanggung jawabnya, namun tidak di negeri ini. Sosok ini hampir terlewatkan untuk dikenang bahkan di bicarakan, namun kesannya tak akan pernah luntur dalam sebuah kehidupan. Ayah, dalam sekian malam kadang terselip rasa rindu.

Teringat banyak hal yang membuat ikatan dirimu dan egoku begitu menggumpal, berseberangan bagaikan timur dan barat. Namun kau tak pernah putus asa menyapaku di pagi hari, hanya untuk mengusap dahiku dengan air wudhu. Tak jarang pula kita berbeda pendapat, hingga hampir tangan kita beradu kepalan. semua itu tak lain karena miripnya kekeras kepalaan yang kau turunkan kepadaku.

Di sela-sela kutulis ini kita tak lagi berdekatan, sayup-sayup lantunan syair dan lagu yang mengambang di udara yang memasuki telaingaku, merambat pelan hingga sampai di lyric-lyrik ini;

….Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan……..

Ayah, lambat laun ku mulai sadar bahwa usia tak akan pernah berbohong betapa hikmah sebuah perjalanan sangatlah hebatnya tergambar di dalam setiap petuahmu. ketika kutub-kutub tubuh kita terpisahkan jarak dan waktu kau selalu berpesan;

“sebuah tiang besar telah ku tegakkan diatas kapalmu, singkaplah layar itu agar terkembang, agar setiap angin meniupnya dengan kencang. agar kau tahu bahwa dunia ini begitu luasnya. Namun ingat di perjalanan kelak aka nada banyak tiang-tiang lain yang akan tegak disamping tiangku itu, ingat ucapanku nak, jangan pernah kau robohkan tiangku itu!”

Bertahun-tahun kuanggap itu hanyalah pesan biasa seorang ayah yang hendak ditinggal pergi anaknya, bertahun-tahun pula ku tak memahami makna kalimat itu. hingga suatu saat ku menyadari kebodohanku, ku menyadari kenaifanku. dunia ini begitu luasnya, perjalanan seorang laki-laki akan menancapkan tiang baru di setiap masa, memberinya arti sosok laki-laki. memberinya warna indah untuk ditularkan kepada anak-anak cucunya.

Yah, aku baru menyadarinya bahwa perjalanan lelaki itu bagaikan air yang selalu mengalir dari hulu ke hilir, di setiap kelokan, di setiap kubangan, di setiap das, di setiap bendungan, air terjun dan diantara bebatuan perjalanan air akan menjernihkannya hingga ketika tiba dimuara air ini akan siap menyatu dengan luasnya samudera.

……Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia……

Satir dan Elegi terngiang dalam setiap baris kemeranggasan kayu tua yang mulai lapuk termakan usia, bulir-bulir sendu kepayahan yang amat sangat menahan hempasan ketika aku pun mulai sanggup berkata ‘tidak’ .

Lekuk-lekuk pipimu membuatku yakin bahwa ketidak hadiranmu ketika ku lahir didunia ini bukanlah kesengajaan, ku tahu kau sangat menginginkan menimangku sesaat ketika ku lahir. tapi lihatlah puteramu ini, hanya bisa menangis dan berteriak ketika sedikit saja beban hinggap.

Ayah dalam sisa-sisa pengabdianmu pada tugas kebapakanmu, ku tersandar dalam kenyataan bahwa kau tak lagi sekekar dulu tuk mengangkatku ketika ku jatuh, tuk menarikku ketika ku terjerembab, tuk menggapaiku ketika ku tersandung dan ayah, sisa-sisa duka ku pun masih tertinggal di bingkai jendelamu.

……Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban………..

Ayah, kita pernah duduk berdua diatas batu dipinggir telaga. melihat tenangnya bayangan rembulan diatas permukaan air, hingga tiba-tiba butiran-butiran air membuyarkan lamunan dan mulai mengaburkan ketenangan air telaga. tiap tetes, tiap percikan air hujan itu siapakah yang akan menghitungnya? siapakah yang peduli terhadapnya? Seperti itulah dirimu mendekap rasa takutku, mengajarkan bagaimana menghadapi dunia ini. tiap tetesnya tiap percikannya tak terhitungkan karena memang ku tak pernah memperhatikan. namun kau tetap memercikkannya, kau tetap meneteskannya tanpa lelah.

Hingga bayangan rembulan itu kembali tercipta diatas tenangnya air telaga, kau tak pernah lelah. kini aku rindu untuk duduk berdua denganmu di pinggir telaga.

Apalah makna hari untuk sebuah pemberian, kukirimkan rindu bersama tiupan angin malam, lirih hampir tak terdengar. bersama itu pula ku kirimkan kado terindah untukmu agar akupun bisa merasakan berat bebanmu, Ayah……

-Lyric : Titip rindu buat ayah~Ebiet G. Ade~-
Waktu ayah tulis surat ini sungai kecil didepan rumah kita dulu mulai mengering nak
Pohon-pohon bamboo di pinggirnya pun menyisakan akar yang mencadas.

Nak…
Diujung kamar ini kutuliskan segenggam rindu
Dibalik jendela kamarmu dulu
Tempat kau biasa duduk termangu
Hingga kadang kau lupa waktu

Nak…
Saat engkau lahir, kucium, ku peluk dan kegendong engkau seakan tak kan terpisahkan,
Saat ibumu tidur, kucium lagi, ku peluk lagi dan kugendong engkau semalaman.
Engkau bukti tak terpisahkannya cintaku dan ibumu
Engkau ikatan erat yang takkan terputuskan oleh apapun jua

Nak…
Kusandangkan nama untukmu dalam untaian do’a
Agar aku selalu ingat untuk apa engkau lahir didunia ini
Agar aku selalu ingat bagaimana seharusnya engkau dibesarkan
Cita-cita mulia aku dan ibumu yang akan selalu kau pegang teguh
Wanita yang terpelihara dengan kelembutan dan kedamaian

Nak…
Ingatkah kau waktu kecil?
Rambutmu selalu tergerai, dan hanya mau duduk dipangkuan ku saat menggelungnya
Kurasakan nikmat tiada tara kala membelai rambut panjangmu yang memerah diujungnya
Kini masih kusimpan bekas-bekas rambut itu
Kan ku keluarkan kala ku ingat dirimu

Nak…
Membesarkanmu adalah sebuah anugerah
Saat semua makanan terhidang dimeja, namun kau tak menyentuh sedikit pun masakan ibumu
Kau cari aku dan kau tarik tanganku hanya tuk sekedar mengecap kue jalanan
Saat itu kau mengendap berlindung dibalik punggungku agar ibumu tak memarahimu
Betapa bangganya menjadi tameng pelindungmu dari amarah ibumu

Nak..
Mungkin ayahmu dulu terlalu keras mengajarkanmu berhitung ataupun mengeja
Hingga tiap malam tak pernah kering matamu karena tangis
Ayahmu tak tahu lagi bagaimana harus mengajar karena ayahmu tak pernah belajar
Namun tahukah kau nak…
Ayahmu akan selalu menangis bahagia bermalam-malam ketika mendapati dirimu telah menjadi orang berada.

Nak…
aku dan ibumu masih menyimpan sepatu merah berhak tinggi itu
sepatu yang dulu kau idam-idamkan, walau aku dan ibumu tak setuju kau memakainya kala kau minta ijin ke sebuah pesta.
Hingga suatu malam kau merusaknya, karena haknya patah menjadi dua
Maafkan aku dan ibumu nak, penghasilan kami hanya cukup membelikan sepatu murah untukmu…

Nak…
Maafkan ayahmu ini yang sering memarahimu
Maafkan ayahmu ini yang sering melarangmu
Maafkan ayahmu ini yang membatasi siapa temanmu
Maafkan ayahmu ini yang selalu menyuruhmu pulang sebelum matahari pulang ke peraduan
Maafkan ayahmu ini yang selalu mengajarimu
Maafkan ayahmu ini yang sering menanyakan keberadaanmu
Maafkan ayahmu ini yang selalu cerewet
Semua karena ayahmu ini terlalu khawatir akan masa depanmu.

Nak…
Sedih, pedih dan sakit rasanya ketika menyadari bahwa ternyata kau bukan milikku
Kau adalah roh titipan Yang Maha Memberi, kau adalah tiupan Yang Maha Mencipta
Kusadari kesalahanku itu dimalam-malam panjang dihadapanNYA

Nak..
Sejak saat itu kutahu makna keberadaanmu, makna keberadaanku dan makna tugas kebapakanku kepadamu.
Tugasku bukanlah membuat agar engkau dikagumi orang
Namun agar engkau dikagumi dan dicintai oleh-NYA

Nak…
Tugas terberatku selama keberadaanmu adalah aku harus terlebih dahulu dekat dengan-NYA
Agar menjadi contoh bagimu sesuai keinginanYA, bukan seperti keinginanku.

Nak…
Tak pernah kusisihkan kerikil dari jalanmu, karena itu hanya akan membuatmu kerdil
Tak pernah kularang kala kau dekat dengan api, karena itu hanya akan membuat mu beku
Cukup genggamlah tanganku yang mulai rapuh ini, mari mendekatkan jiwa kita dan bersama kita merasakan perjalanan yang sebenarnya.

Nak..
Ketika itu sudah terjadi
Takkan pernah kulepaskan genggaman tangmu kala kau mengeluh payah
Takkan pernah kubiarkan engkau terjatuh saat kakimu mulai lunglai
Akan selalu ku kuatkan engkau saat engkau mulai menyerah
Karena mengenalNYA kita memang tak boleh berhenti.

Nak..
Hapuslah air matamu, tataplah cakarawala
Ketika engkau hampir putus asa, niscaya ayahmu akan selalu dibelakangmu

Akhirnya nak..
Kelak apabila semua manusia telah dikumpulkan dihadapan peradilan Yang Maha Adil, dan kudapati jarakku teramat jauh dariNYA, memang begitulah adanya
Namun bila boleh meminta asa, kuingin melihatmu dekat denganNYA
Aku akan bangga karena itulah bukti bahwa tanggung jawabku telah tertunaikan.


~Dari ayah yang sedang rindu~

NB : diikutsertakan dalam "lomba menulis surat inspiratif"
Wanita perkasaku kini terbaring lemah (15 September 2006)

Tak sengaja menangkap judul sebuah artikel dari blog opick ‘Sekeping hati untuk Bunda’. Sebuah kalimat pendek yang akhir-akhir ini sering membuat perhatianku tak urung langsung teralihkan. Yah…kata atau kalimat yang didalamnya ada penggalan bunda, ibunda, ibu,emak, mamak atau yang berartian sama. Kata yang akan langsung mengantarkan memory ingatanku ke sosok lemah yang kini terbaring tak berdaya diatas pembaringan didalam kamar dibagian rumah kebanggan kami.

Ibu yang kukenal dulu adalah seorang sosok yang tegar, tahan banting bahkan aku dulu menjulukinya ‘wanita perkasaku’ kini sedang bergumul dengan sakitnya. Sakit yang tak kami duga kedatangannya, sakit yang telah ditetapkan Allah atasnya. Wanita perkasaku kini berada dalam pembaringan, mencoba melawan sakitnya dengan desahan nafas penuh kesabaran, walau kadang kulihat sedikit air mata mengalir dari pipi keriputnya. Jemarinya yang pecah-pecah mencerminkan tanggung jawabnya akan kami namun begitu lembut ketika menyentuh kulit kami, kini terasa keriput dan kekuningan menandakan sudah tinggal sedikit kekuatannya tuk bertahan.

Ketika tangisku pecah memandang penderitaannya, hanya sedikit yang mampu diucapkannya, ‘Tolong jangan menangis’ ucapnya lirih. Semakin menjadi tangisku saat ucapan itu keluar dari sisa tenaganya. Diletakkannya tangannya diatas kepalaku, namun tak sanggup lagi kiranya kalimat berikutnya tuk dikeluarkannya. Senyumnya menyungging ketika ditatapnya cucunya, cucu pertamanya yang baru sempat disentuhnya, belum sempat digendong dan dicumbunya. Diciuminya cucu yang juga putrid pertamaku dan dibisikinya yang lirih terdengar,’jadilah wanita kuat untuk keluargamu’ pesannya.

Baru setengah Tahun yang lalu tumor itu diketahui, setelah menggerogoti tubuh ibuku tanpa diketahui. Karena memang letaknya didalam ususnya. Sehingga saat gumpalan sel yang tak stabil itu mulai menutupi jalannya makanan dan mengganggu sitem percernaan tubuh ibu baru gejala mulai nampak. Dan kemudian dokter memvonis harus operasi untuk mengangkat tumor itu.

Apakah masalah selesai setelah tumor itu diangkat? Ternyata tidak. Masalah yang lebih pelik mulai muncul, ternyata operasi itu membuka pintu baru untuk beberapa masalah yang muncul, mulai dari penolakan tubuh atas terapi kemo, hingga gangguan lambung dan kerja usus yang tak optimal lagi. Sehingga membuat penderitaan ibu semakin hebat. Namun kami hanya bisa pasrah dan tawakkal. Dokter sudah bekerja semaksimal mungkin. Manusia boleh berusaha namun Allahlah penentunya. Wanita perkasaku kini terbaring lemah diranjang, tanpa tenaga tanpa keriangan yang dulu selalu menghiasai hari-hari kami. Ada yang hilang dalam hidup keluarga kami. Tempat kami menumpahkan keluh kesah kami, Tempat kami memuji kelezatan masakan yg kami makan, tempat kami mencari cermin ketika jiwa kami mulai lelah. Ibu…..

Kini anakmu yang dulu selalu kau andalkan telah jauh dari sisimu, 2 minggu yang kulewatkan bersamamu dalam sakitmu adalah waktu paling berharga dalam hidupku karena diwaktu itulah kutahu aku bisa membalas sedikit penat dan lelahmu membesarkan putramu, walau penat dan lelah yang kurasakan tidak sebanding dengan pengorbananmu selama 19 tahun yang kau curahkan tuk menjadikanku seperti sekarang ini.Ibu titikan airmata penderitaanmu kini akan menjadi sebentuk kristal pengabdianku untukmu.

Ibu…..tidakkah engkau ingin melihat lucunya cucumu?
Ibu…..telah kubangunkan istana untukmu disisiku..tidakkah engkau ingin melihatnya?
Ibu……bahkan adik terkecilku pun belum penuh mendapatkan kasih sayangmu
Ibu …..aku minta berjuanglah untuk kami.

Dari sekian banyak permintaan kami, ibu…..tolong kabulkan lah yang ini…bersediakah ibu berjuang demi kami? Sehingga dapat kulihat lagi senyuman dibibirmu..karena tak kan indah mentari pagi kami tanpa senyummu.

Ya Allah….kalaulah ini ujian berilah kesabaran dan ketabahan kepada ibuku untuk melawan sakitnya.
Ya Allah….Kalaulah ini peringatan ampunilah kami ya Allah
Ya Allah….tiada daya, tiada kekuatan melainkan dariMU.


~~
Wanita yang perkasa (17 September 2006)

Ibu……
Anakmu kini akan menemuimu
Memenuhi panggilanmu
Saat rindu sudah begitu besar
Rasanya tak sanggup lagi tuk bersabar

Ibu……..
Darah yang mengalir ditubuh ini bergolak
Ketika tahu engkau sedang meradang menahan sesak
Darahmu ini merasakan deritamu
Sudah seharusnya kutatap wajahmu
Dan kudekap semua sakitmu
Sehingga tak akan ada lagi rintihan

Ibu……
Kau besarkan aku dengan airmata dan darah
Kini kan kuhapus airmata itu dengan baktiku
Dan kan kutebus darah itu dengan pengorbananku diatas semua manusia dibumi ini
Walau pun itu tidaklah ada secuil
Untuk airmata dan darahmu
Tapi itulah kesanggupan buah hatimu ini…
Ibu……….
Anandamu kini sudah kau jadikan manusia pilihan
Saat tiada lagi pilihan didunia ini
Karena jalan yang kau berikan adalah ketetapan
Sepasti jalanku keluar dari rahimmu dulu.

Ibu……..
Orang bilang kasihmu sepanjang jalan
Dan sayangku hanya sepanjang penggalah
Memang seperti itulah ada nya
Namun percayalah bundaku sayang
Panjang penggalah ini adalah sepanjang umurku.

Ibuku saying….
Sebentar lagi anandamu pulang
Kan kubiarkan hatimu menatap putramu ini
Ibuku sayang.....
Saat kembaliku nanti
Pastikan anandamu ini masih bisa menatap senyummu
Ibuku sayang…..


~~
Rintik hujan itu datang tiba-tiba (18 September 2006)

Senin pagi itu kumulai hari dengan begitu cerah secerah terpaan mentari hangat di balik semu awan putih, Namun dibalik cerahnya pagi itu tersembunyi rapat dalam relung hati kepedihan ketika melihat penderitaan orang yang paling kusayangi diatas ranjang sakitnya. Subhanallah….1 bulan yg lalu ketika kukunjungi ibu, masih dalam keadaan segar walau ada bekas operasi pengangkatan tumor di bagian tubuhnya. Namun ketika melihat ku dan cucunya rasanya tiada terpancar penampakan orang sakit diwajahnya. Yang ada adalah senyum ceria, gelak tawa dan ucapannya yang lembut namun begitu membekas dalam hati.

Dan sekarang ibu tak ada lagi disisiku, Tiada lagi sosok wanita perkasa dalam hidupku. Tokoh panutanku dalam hidupku, mentor setiaku dalam membesarkan anakku. Murobbi terhebatku dalam mengarungi lika-liku iman dalam hati.Dan guru paling faham akan keinginan-keinginkaku. Tiada lagi sosok itu yang akan kutelpon dimalam hari tuk kumintai sekedar pendapatnya, atau untuk meminta nasehat bagaimana meluluhkan sifat manja istriku.

Disenin pagi itu ketika kuterduduk dengan teh hangat di kantin belakang kantorku, dikejutkan oleh deringan Hand Phone yang tak biasanya sepagi ini ada telpon dari keluarga di malang.Sehingga dengan sedikit perasaan khawatir kuangkat dan suara pertama yang kudengar adalah tangisan. Semakin gundah hatiku dibuatnya, dan ketika kabar itu sampai di gendang telinga barulah hati ini merasa berdegup semakin kencang dan darah terasa begitu cepat terkesiap kekepala.

Ibu akan dikuburkan jam 3 sore, kala itu jam 9 pagi kugesah seluruh tenaga dan kemampuan tuk bisa hadir sebelum jam 3, namun apa bisa dikata, menyemayamkan jenazah lebih cepat lebih baik, dan prinsip itu bertentangan dengan kondisi lalu lintas, baik udara maupun darat. Sehingga jam 5 baru kusampai ditempat tujuan. Tak sempat lagi kumasuk kedalam rumah langsung kususul ibu ke makamnya, kuterduduk disebelah nisannya dan diatas gundukan yang masih basah dan wangi oleh bunga. Tak ada kata yang keluar dari dalam mulut karena memang tiada kalimat yang harus kuucapkan selain do`a. Tak ada air mata yang mengalir deras karena memang pesan terakhir yang ditinggalkannya untukku adalah “ojo nangis le”. Disebelahku adikku laki-laki menungguiku, kemudian kuberdiri dan kushalatkan ibuku dengan shalat ghaib karena tidak memungkinkan lagi tuk shalat jenazah di pemakamannya. Kemudian adik bungsuku menyusulku dan menumpahkan seluruh kepedihannya ditangkupan dadaku, tidak seperti adik tertua yang bungsu ini memang masih kecil satu-satunya adik perempuan yang kumiliki wajar bila pedihnya amat sangat ditinggalkan sosok ibu dalam usia yang masih belum dewasa untuk mengerti apa yang terjadi.yang dia tahu hanya dia tak akan pernah melihat ibunya lagi.Apalagi belaian mesra, ajaran lembutnya, atau pujian sayangnya.

Sekembaliku dari makam ayah sudah menunggu disertai sanak saudara dan tetangga yang turut berduka cita. Kulihat ketegaran diwajah ayah, walau sesekali ada titikan airmata disela-sela kelopak matanya yang mulai keriput dan menghitam.Kupandangi sosok yang mulai melemah kondisinya didepanku itu, kucium tangannya dan akupun dirangkulnya seakan tak akan dilepaskannya lagi.Begitu lama sehingga airmatanya tak lagi terbendung.

Malam ketiga dirumah tempat kudibesarkan kulewati dengan menghibur diri dan adik-adikku, kuturuti semua keinginannya, kubelikan semua yang dimintanya. Agar supaya kenangan akan ibu akan sedikit terlupakan.Sehingga ketika ku akan kembali ke rumahku dilampung masih berat rasanya mereka melepasku, karena kini akulah pengganti sosok ibu bagi adik-adikku. Karena akulah yang menghabiskan masa terlama bersama ibu. Sehingga ilmu dari beliau akulah yang paling banyak menyerapnya.

Dengan menyisakan perasaan sedih kutinggalkan keluargaku yang sebenarnya masih membutuhkanku, karena didalam keluarga akulah yang paling tegas, mewarisi ketegasan ibu dalam mengambil setiap keputusan, karena ragu-ragu akan celaka pada akhirnya.Dibalik senyumanku ada terbersit pedih ketika ku bertemu sesama sanak saudara maupun kerabat dan handai tolan.Sosok ibu yang kini meninggalkan warisan 3 putranya dengan kesabaran dan kelembutannya tak akan pernah hilang karena bagiku tidak akan pernah ada sosok ibu pengganti atau mantan ibu, selamanya ibu adalah sosok terindah dalam kehidupan manusia.

Allahummaghfirlaha warhamha wa aafiha wa`fuanha…..Ya Allah Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah segala dosa dan kesalahan ibuku, Ya Allah Engkau Maha Pemaaf maka maafkanlah kekhilafan dan ketidak tahuan ibuku. Ya Allah Jadikanlah tempat beristirahatnya sekarang menjadi taman surga baginya. Ya Allah, jadikan kami putra-putrinya menjadi shaleh dan shaleha sehingga sanggup menjadi penyambung amalnya. Ya Allah matikanlah ibuku bersama para syuhada dan orang baik-baik. Sehingga mendapatkan tempat terindah disisiMU disurgaMU. Allahummagh firli waali waalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiiroh.Amiin.

~~
Hari ini Ulang Tahun Ibu (07 Desember 2009)

Puji Syukur pada-Mu Ya Allah, hari ini ibundaku telah genap berusia 51 tahun, seandainya beliau masih ada disisiku. Suatu masa yang panjang dan berarti bukan hanya baginya dalam menjalani hidup, tapi merupakan tetes-tetes perjuangan yang terajut menjadi kesuksesan empat putra-putrinya.

Ibuku bukan seorang sarjana, bukan pula seorang cendekia. Ibuku lahir dari sebuah keluarga biasa, tapi ibuku terlahir dengan semangat yang luar biasa.

Tiga tahun berlalu, sudah dua kali ulang tahun ibuku, aku tak bisa mencium pipinya. Di sela-sela waktuku bekerja, kutemukan bait-bait puisi dari relung hati yang mewakili perasaanku untuk ibu. Pagi ini, didalam sebuah kartu ucapan merah jambu, kuselipkan puisi itu dan kukirimkan dengan harapan akan di saat ulang tahun ibuku. Hanya dengan do’a kupanjatkan kepada Allah, agar dengan ridho-Nya ibu mau menyentuh dan membacanya, sayang ini hanya sebatas tulisan pun belum pernah ada perangko yang bisa mengantarkannya menembus surga.


Ibunda...
Di tirai pagi kubersandar pada dinding kesedihan
Di senandung alam kuberbaring pada rajutan kerinduan

Ibunda...
Telah jauh jarak antara kutub-kutub tubuh kita
Membentang kerinduan didalam anak-anak sungai diujung mata kita

Ibunda...
Coba kukumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Coba kupilah yang terbaik untuk isi kerinduanku

Tapi bunda...
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku

Dunia... ah apalah arti dunia ketika surgapun ditelapak kakimu
Menopang segala yang ada ditubuh, hati dan luangan kasih sayangmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu... kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda

Tidak bunda...
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang ada di dalam dada hamba, betapa hamba mencintai dan menyayangi ibu hamba.
Amien.

Mother You are the one and only.

Euforia kemenangan Indonesia atas Malaysia masih terasa membuncah di dada, kemenangan berarti setelah selama ini kepercayaan diri yang merosot dari rentetan pertandingan yang hampir tidak pernah memuaskan penggila bola.

Bola itu bundar kawan, Indonesia itu kampung sepakbola. Tidaklah bisa ditemui sebuah tanah lapang tanpa pernah disinggahi bola diatasnya. Menderumkan rem disebelah tanah berdebu dimana anak-anak kecil ceria memelintir mengkip dan menjugling bola, bukanlah hal baru bagiku.

Membuka alas kaki dan ikut menghirup debu yang berterbangan, mencucurkan keringat dan bertelanjang kaki menendang bola-bola lusuh ke gawang bamboo yang diikat tali raffia, seakan aroma persaingan di stadion-stadion besar tercipta disini.

Lincah anak-anak ini mendribling bola, memainkan diantara kaki, menyundul mendelaynya dengan dada dan paha. Ku berdecak kagum, bakat-bakat ini sangat jarang sekali ditemukan di belahan bumi manapun. Kelincahan dan keluwesan menyatu dengan gerakan dan arah plintiran bola.

Tak heran bila Penarol menciduk bakat-bakat ini dan memendam ingin yang luar biasa tuk segera menggunakan jasanya. The Sociedad Anonima Deportiva of Indonesia yang memang menjadi kebanggan masyarakat Indonesia bisa jadi adalah penentu dan penerus euphoria ini.

Kaki-kaki kecil tak bersepatu menggocek dan mendribling bola dengan luwes tinggal menunggu polesan seniman-seniman lapangan hijau hingga kelak akan mampu mengenakan seragam kebesaran garuda tuk membela hegemoni Indonesia di pentas yang lebih tinggi.
Ini bukan isapan jempol atau mimpi yang maya, ini cita-cita dan luapan emosi sebuah semangat yang tak harus padam walau apapun rintngan yang mendera.

Tanyakan rasa memiliki kepada pencetak gol ke-2 di gawang Malaysia di pertandingan AFF 2010, tanyakan arti bangga kepada pencetak gol ke-5 di gawang Malaysia di pertandingan AFF 2010. Mereka tak perlu mendekripsikannya karena wajah mereka terpancar dalam yell-yell dan sorakan beribu pasang mata yang memberikan semangat sepanjang menit dalam pertandingan tersebut.

Tanyakan jalan terjal menuju ke sebuah perhelatan akbar itu kepada anak-anak kecil tak beralas kaki yang menendang bola dengan hirupan debu tadi, tanyakan arti semangat kepada anak-anak itu. Karena ku yakin kekalahan sudah diderita oleh para pesimis yang menatap hari esok sambil memejamkan mata.

Tepat pukul 19.40 WIBB salah satu stasiun TV swasta menayangkan secara live pertandingan yang akan mengawali tertulisnya sejarah Negara ini apakah akan menjadi awal perubahan atau tetap menjadi unggulan diantara yang buruk.

Saya yakin kaki-kaki tak bersepatu tadi menyaksikan dengan penuh harap sebuah kemenangan akan tercipta. Mendadak tergetar ketika merah putih berkibar dibarengi bahana national anthem yang serentak dikumandangkan, komat-kamit warga keturunan pun menunjukkan betapa Negara Ini patut jaya. Dan mereka bangga dengan tulisan bhinneka tunggal ika didada.

Dalam bait terakhir anthem itu, tak ada lagi warga keturunan. Status mereka adalah Garuda kebanggaan seluruh warga Negara, tak peduli seperti apa cashing yang mereka tampilkan. Tak diragukan lagi apa yang ada di dalam hati mereka.

Bahana national anthem itu pun sudah cukup untuk menggetarkan 22 pemain dan kaki-kaki tak bersepatu untuk mencitra luapan emosi yang ada dilapangan.

Hal yang sama kulakukan kembali, ku senderkan motorku kuhampiri lapangan berdebu itu dan kukucurkan kerinta bersama kaki-kaki tak bersepatu dan mulai menendang bola sambil menghirup debu yang sama dengan kaki-kaki tak bersepatu itu.

“tim kita hebat ya om, aku pingin kayak krisgo, aku pingin nggantiin irfan…”

Semoga tak ada satupun dari kaki-kaki tak bersepatu ini yang akan mengklaim own goal defender lawan….
Proses penawaran perdana saham (initial public offering/IPO) Krakatau Steel (KS) belakangan ini memang menarik perhatian. Celakanya, banyak isu dilempar yang justru membuat masyarakat awam menjadi makin bingung. Lebih parah lagi, sejumlah politisi ikut-ikutan turun ke lapangan memberikan komentar yang sebenarnya justru cenderung misleading.

Krakatau Steel (KS), dilihat dari sejarahnya, memang sudah kelabu. Ia didirikan dengan teknologi kuno namun investasi yang dikeluarkan sangat tinggi. Seharusnya KS tidak bisa survive sampai sejauh ini, namun karena diberi hak monopoli, ia bisa menjadi gemuk seperti sekarang. Kini, KS butuh dana untuk ekspansi usaha. Seperti apa sih situasi IPO KS sesungguhnya?
Pricing & Valuation

Krakatau Steel (KS) sebenarnya hidup di lingkungan bisnis yang sulit karena selain harga iron ore dipatok pasar internasional, KS juga dihantam banyak pesaing. Membuat valuasi KS tidak bisa dilakukan dengan menggunakan metode discounted cash flow (DCF), karena sangat sulit memprediksi cashflow 5 tahun ke depan. Produk KS adalah produk yang sangat rentan dengan perubahan harga di pasar internasional. Jadi, valuasi yang lebih reasonable adalah dengan pendekatan asset-based dan market value.

Kalau ditarik 5 tahun ke belakang, return on equity (ROE) Krakatau Steel (KS) tak lebih dari 5%. Jauh di bawah return deposito atau obligasi pemerintah yang risk free. Saat ini, book value KS sebelum IPO sekitar Rp 6,63 triliun atau sekitar Rp 416/saham. Setelah IPO penambahannya sekitar Rp 200/saham. Jadi harga Rp 850/saham itu sekitar 1,37 dari book value. Dengan penambahan kapital sebanyak itu, ROE forward KS cuma kisaran 12%.

Setelah IPO nanti, enterprise value KS menjadi Rp 19-20 triliun. Itu dengan catatan bahwa seluruh rencana corporate action (ekspansi usaha, restrukturisasi utang, capital expenditure, dll) benar-benar dilaksanakan sesuai rencana. Dengan jumlah outstanding shares 16 juta lembar, maka jatuh harga wajar Rp 1250. Harga tersebut baru akan terealisasi setelah corporate action dijalankan tahun depan. Dus, saat ini seharusnya kita minta diskon sekitar 30% karena ada risiko eksekusi tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Atas dasar itu, maka harga wajar KS jatuh di kisaran Rp 700/lembar.

Dari segi harga, KS di Rp 850/saham, tentu saja bisa dibilang agak mahal. Dari hitungan di atas, Rp 850/saham sudah 1,2 kali dari book value-nya. Posco cuma 1,2 kali book value. Arcelor Mittal cuma 0,9x book value. Masa iya KS minta di atas itu? Kalaupun benar akan dilepas di harga Rp 850, barangkali harganya hanya akan bertahan sekitar 1-2 bulan saja, lalu turun ke angka Rp 600. Kalau tembus di level itu, barulah KS bisa dilirik untuk disimpan sampai 2-3 tahun ke depan.

KS memang butuh berekspansi dan memerlukan dana setidaknya US$ 250 juta. Lucunya, tidak banyak bank di negeri ini yang sepertinya mau memberi pinjaman pada KS, padahal aset (collateral) KS sangat besar. Bahkan PLN yang terus merugi saja masih bisa mencari pendanaan lewat obligasi. Sejauh yang saya tahu, Schroders dan Fortis (keduanya big fund) tidak berminat dengan KS.
Penjatahan

Bangsa ini memang bangsa yang kerdil. Apa-apa diributkan. Kita gampang sekali curiga terhadap sesuatu hal. Tapi begitu ketahuan terjadi fraud, malah diselesaikan secara “adat” di luar peradilan. Mustinya mindset kita dibalik. Keep positive thinking supaya energi kita tidak habis. Tapi ketika kita menemukan kesalahan, maka selesaikan menurut aturan hukum yang tegas, jelas, dan tidak pilih kasih.

Terkait dengan IPO Krakatau Steel, sejumlah politisi berkoar di media mengatakan bahwa Rp 850 terlalu murah. Mereka asal “njeplak” ngomong dengan membawa isu nasionalisme dan jargon “kerugian negara” tanpa tahu substansi yang sesungguhnya. Pasar modal adalah bertemunya supply dan demand hingga terjadi harga yang setimbang.

Asumsi setelah IPO saham KS ada di atas Rp 850, maka pemerintah jelas untung karena sisa saham sebesar 80% masih digenggam. Kalau nanti ingin melepas lagi sahamnya, pemerintah juga masih bisa mendapatkan dana yang lebih besar dengan mematok harga yang lebih tinggi dari harga IPO.

Asumsi setelah IPO saham KS jatuh di bawah Rp 850, maka pemerintah juga sebenarnya untung karena sudah mendapatkan dana segar di muka. Masalahnya tinggal bagaimana manajemen KS memanfaatkan dana tersebut untuk ekspansi usahanya.

Kalau memang mau mengutak-atik masalah penjatahan yang mungkin terkesan kurang adil, mengapa tidak meminta Bapepam untuk memeriksa penjamin emisi (underwriter) untuk membuka secara transparan bagaimana proses penjatahan dilakukan. Andaikata prosedur yang dilakukan underwriter ternyata memang sudah sejalan dengan undang-undang, maka tak ada yang perlu dipermasalahkan bukan?

Sudah banyak IPO terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan hampir selalu oversubscribed. Dari segi penjatahannya sendiri, underwriter pasti akan cenderung memprioritaskan nasabahnya sendiri ketimbang nasabah sekuritas lain. Dalam hal ini Jamsostek cuma dapat penjatahan Rp 100 milyar dari total nilai IPO sebesar Rp 13 triliun. Walaupun terkesan lebay, sesungguhnya masalah allotment ini tidaklah terlalu penting. Penjatahan hanya akan berpengaruh paling lama 1-2 minggu pertama perdagangan saja.

Sebaliknya, bagi investor ritel, memesan jatah saham (bookbuilding) itu berisiko tinggi, terlebih bila di harga tinggi. Asumsi Anda memesan 100 lot saham KS di harga atas (Rp 1200) dan Anda mendapatkan semuanya. Ternyata setelah diperdagangkan, saham KS turun drastis. Kalau tak punya backup modal yang kuat dan hanya berniat untuk trading (making money fast), Anda akan dipaksa untuk menjual (force sell) demi menutup pembelian saham KS. Kalau para trader dipaksa menjual portofolionya di saham-saham lain secara serentak, dijamin akan terjadi crash besar-besaran. Ingat kasus IPO INCO tahun 1990 lalu. Tidak semua saham IPO akan naik di hari pertama.
Penutup

Saya sendiri cenderung tidak ingin membesarkan isu IPO Krakatau Steel ini. Lebih baik mari sama-sama kita dukung IPO KS. Jangan bikin rakyat tambah bingung dengan jargon dan opini yang tendensius. Toh kalau hajatan IPO ini sukses, kita semua diuntungkan. Makin banyak emiten yang melantai di bursa, maka pilihan investor juga makin banyak dan mendorong lebih banyak investor lagi untuk ikut nimbrung. Go public sendiri mendorong keterbukaan dan good corporate governance dari perusahaan tersebut. Mau tidak mau, KS harus bisa memperbaiki corporate culture yang selama ini terkenal jelek.

Bagi Anda para investor yang tak dapat jatah, santai saja. Masih ada saham-saham lain yang lebih menggiurkan. Kalaupun Anda masih ngebet dengan KS, bisa jadi ia nanti ditawarkan di pasar sekunder dengan harga yang lebih murah. Toh, kalau sudah rejeki juga tak akan lari kemana. Mari kita tunggu sama-sama apa yang akan terjadi 10 November 2010 nanti.

source : nofieiman.com