Semilir angin masuk melaui celah celah rambut yang kini sudah berukuran sekitar setengah centimeter, rasanya kayak habis keramas pakai shampoo mentol. Pertama kali dalam seumur hidupku memotong rambut sependek ini. Aku pun masih shock tiap kali melewati cermin di kamar tidur, seperti melihat orang lain.Istri jadi hoby ngelus rambut pendek ini.

Yang menjadi lebih lucunya jagoanku yang baru berumur 4 tahun minta digundul juga, jadilah kami tim gundul. Tiap berjalan di gang para tetangga jadi tersenyum dan tak lupa menyapa kami,”gundul 1, gundul 2 mau kemana?” hal ini membuat kami tersenyum dan kadang tergelak tawa, susasan semakin meriah melihat tingkah kami. Aku pun tak habis piker kenapa siang tadi tiba-tiba terpikir ingin menggunduli rambut kami. Dan tanpa pikir panjang kudatangi tukang cukur rambut terdekat dan langsung minta dicukur gundul. Bahkan istri yang kuantar ke pasar tak tahu rencana ini.
Satu hal yang ingin kutuliskan dari pengalamanku ini bukanlah masalah menggunduli kepalaku, namun ada hal yang lebih menarik ketika ku memasuki barber shop tadi. Tukang cukurnya membuatku bergidik, gimana enggak ketika pertama kali masuk ke barber shop tersebut aku disambut kasir yang ramah, berjilbab rapi, dan cantik dibalut kosmetik yang sedikit ketebalan. Namun setelah ku dipersilahkan duduk dikursi yang biasa buat nyukur, seorang berpawakan tinggi besar keluar dengan rambut model Mohawk, jambang dan kumis yang rapi namun terkesan sangar, warna kulit terang dan tattoo yang membalut seluruh lengannya. Yup tattoo permanen dengan warna menarik dan gambar yang juga terkesan seperti macho.

Mengerikan, itu hal pertama yang masuk kedalam kepalaku. Kali ini aku tak akan lolos yang nyukur seorang yakuza. Hal luar biasa yang kemudian terjadi adalah si’yakuza’ mempersilahkanku relax, berbicara dengan sopan bahkan mendekati lembut. Menanyakan model apa yang kuinginkan dan menanyakan mau di cream bath sekalian atau tidak? Aku terperangah dan ingat pepatah ini “Don’t judge a book by it’s cover” dan memang itu yang terjadi dengan perawakan ‘yakuza’ namun berattitude seorang diplomat atau salles advance.

Pengalaman yang mengerikan sekaligus mengasyikkan atdi ditutup dengan ucapan terimakasih yang terlihat tulus dan senyum mengembang dari bibir si ‘yakuza’ bahkan sempat hendak kuselipkan ‘extra fee’ khusus untuk si ‘yakuza’ seandianya si teller cantik tadi tidak melarangku melakukannya,  Karena keramah tamahannya melayani pelanggan.

Namuan karena perawakan itulah jagoanku tidak mau dicukur oleh si ‘yakuza’ itu hingga aku harus beralih ke barber shop yang lain agar jagoanku mau dipotong juga rambutnya… heheheh nice weekend with my boy….

Catatan : tak berani aku ambil fotonya…hehehhe
Oleh : Ahmad Tohari
Suatu kali, ketika menghadiri suatu pertemuan, saya diinapkan selama beberapa malam berdua dengan Pak Fulan, seorang tokoh masyarakat. Orangnya tenang, usianya lima puluhan. Selama sekian hari bersama dia, saya mendapat pengalaman yang menarik. Bukan dalam kaitan dengan pertemuan itu, melainkan dalam hal penggunaan kamar mandi. Saya perhatikan, Pak Fulan selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan amat rapi, seperti belum dipakai. Lantai kering seperti habis dipel dan peralatan mandi tertata rapi.

Bahkan, kaca sudah bersih dari uap air panas yang mengembun. Jelas, Pak Fulan telah mengelap kaca cermin itu. Karena beberapa kali menemukan hal seperti ini, saya bertanya kepada Pak Fulan. ''Bapak selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Bukankah itu urusan room boy? Lalu, kenapa Bapak mau repot?'' Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyum dan baru dijawab setelah saya mengulangnya dua kali.

''Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menghormati pemakai di belakang saya.'' ''Tapi, tidak selayaknya Bapak menghormati saya, kan?'' ''Ah, siapa bilang? Kita hidup bersama, jadi harus saling hormat. Lagi pula, kita hidup dalam tatanan yang berkelanjutan. Maka, hak-hak mereka yang berada di belakang kita harus kita hargai pula.'' Saya mengangguk-angguk. Dan, pembicaraan putus sampai di situ. Namun, kata-kata Pak Fulan terus terngiang dalam telinga saya, bahkan sampai jauh hari setelah pertemuan itu usai.

''Kita hidup bersama dan berkelanjutan. Maka, hargai hak-hak mereka yang datang sesudah kita.'' Ucapan Pak Fulan ini amat mengesankan. Ini ucapan seorang yang selalu meninggalkan kamar mandi dalam keadaan prima karena dia mau memberi kemudahan dan mengenakkan mereka yang datang sesudahnya. Menurut kata-katanya sendiri, Pak Fulan bermaksud menghormati hak-hak mereka. Saya membayangkan, jika menggunakan fasilitas umum, Pak Fulan akan bersikap sama; penuh tanggung jawab dan bila sudah selesai akan meninggalkannya dalam keadaan seperti semula atau malah lebih baik lagi.

Bila dia seorang pegawai negeri, bila pensiun akan meninggalkan kantor dalam keadaan dan suasana yang kondusif sehingga penggantinya akan bekerja dengan enak. Dan, bila Pak Fulan seorang kepala desa, ketika masa tugasnya habis, dia akan lengser dengan anggun. Ditinggalkan jabatan dan desanya aman-tertib, siap jadi lahan berkembangnya geneasi berikut. Bila Pak Fulan kelak meninggal? Saya percaya Pak Fulan akan meninggalkan kehidupan yang nyaman bagi perkembangan anak-cucunya. Juga, nilai-nilai dan tatanan yang mendukung kesadaran bahwa hidup adalah hadir bersama-sama dan berkelanjutan.

Dan, dengan kesadaran seperti itu, Pak Fulan akan meninggalkan rumah-pekarangan yang terjaga, lingkungan yang diperhatikan kelestariannya. Sayangnya, dalam kehidupan nyata, amat sedikit orang yang punya falsafah seperti Pak Fulan, yang amat sadar bahwa hidup adalah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Kesadaran ini menuntut setiap orang tidak boleh terlalu egoistis. Juga tidak boleh serakah dengan ruang dan waktu serta sumber daya alam yang menjadi jatah generasi mendatang.

Kehadiran bersama dan berkelanjutan juga membutuhkan tatanan hidup dan nilai-nilai yang terus-menerus dibangun dan ditaati. Tapi, dalam hal ini pun kita masih amat kedodoran. Alangkah sering kita mendengar oknum pemimpin, baik sipil, polisi, maupun militer, yang menjual hutan, laut, atau gunung emas secara ilegal sehingga amat merugikan masyarakat dan generasi mendatang. Dalam skala pribadi, alangkah banyak orang yang begitu kemaruk menikmati kehidupan dengan mengabaikan etika dan moral. Bahkan, melupakan kepentingan anak-cucu mereka sendiri.

Maka, jadilah kita masyarakat yang mungkin akan gagal membangun hidup sebagai sebuah kehadiran bersama dan berkelanjutan. Menyedihkan, memang. Ah, ini sudah waktunya mandi pagi. Saya akan meniru Pak Fulan. Bila selesai, saya akan tinggalkan kamar mandi dalam keadaan prima. Dengan demikian, istri atau anak saya yang akan masuk kemudian bisa menikmati kemudahan dan hak-haknya sebagai orang yang datang kemudian terjamin sepenuhnya.

Tak terasa disela pekerjaan yang menumpuk dikubikel kantorku, suara adzan menggema. Menurut kebiasaanku jam tangan menunjuk 12.00 baru suara panggilan shalat itu akan terdengar namun kali ini sepertinya sang muadzin mengumandangkan adzan sedikit lebih awal. Mungkin agar setiap yang mendengarkan akans egera mengakhiri aktifitasnya dan menyegerakan beranjak ke masjid terdekat. Memang hari ini adalah jumat, hari yang paling barokah dari 7 hari yang disediakan Allah untuk beribadah, dimana didalamnya ada 1 ibadah wajib bagi laki-laki yang pahalanya bisa dibilang lumayan untuk menimbun bekal diakhirat kelak.

Jumat kali ini tempat duduk langganan saya, yaitu dipojok kanan shaf ketiga dari depan telah ditempati orang lain. Mungkin karena saya kurang cepat mendatangi masjid ini, namun memang posisi itu adalah posisi favorit saya yang dekat dengan jendela dan suasana jauh lebih terang, hingga tak memberi kesempatan kepada setan tuk membuat saya ngantuk dan tertidur pulas kala khotib berceramah. Tak jadi masalah saya pun menempati posisi tepat didepan khatib, namun berada sekitar 10 an shaf dibelakang barisan terdepan. Setidaknya suara khatib masih terdengar jelas.

Kira-kira 15 menit berlalu, kajian khatib begitu mengena. Seorang kakek tua yang sudah ompong semua giginya, dengan kulita keriput. Peci putih kecil tersemat anggun diatas kepalanya, baju semi jas warna abu-abu dengan dalaman putih membuatnya terlihat berwibawa dan berkharisma, tubuhnya mungil matanya masih menunjukkan semangat anak muda. Mungkin hal inilah yg membuat khotbah jumat kali ini berapi-api seperti ketika bung tomo membakar semangat arek-arek suroboyo ketika merah putih biru hendak mereka sobek menjadi merah putih saja. Itulah sosok khatib yg sedang berceramah diatas mimbar jumat kali ini, tua kecil namun lantang mengatakan kebenaran.

Luar biasa, khotbah jumat yang sangat menohok. Bisa dibilang kali ini akan ada banyak sekali jamaah yang merasa tertampar dengan ucapan kakek tua ini setelah meninggalkan shalat jumat. Hebatnya diantara sekian banyak jamaah yang mendatangi shalat jumat dimasjid ini, disela khotbah yang berapi-api dan bersemangat itu banyak oula yang tertunduk bukan menangis, bukan meratapi dan bukan merasa tertampar, namun tidur dengan pulasnya. Entah setan mana yang merasuki jamaah-jamaah tidur ini, hingga khotbah semenarik ini mereka kalah oleh godaannya.

Khotbah sudah berjalan 30 menit dan semakin banyak jamaah yang mulai bergelimpangan, menunduk dengan pasrah dalam jeratan ngantuk yang amat sangat. Namun kali ini ceramah sudah memasuki babak kedua setelah khatib duduk diantara khotbah. Hingga akhirnya ceramah pun hampir selesai ditandai dengan pembacaan doa bersama, gema sahutan dari para jamaah terngiang di seluruh ruang masjid, kompak mengabarkan kebersamaan dan ukhuwah. Hebatnya hal ini pun tak membuat para jamaah tidur terbangun, mereka semakin dalam tertidur sampai tibalah saatnya tugas muadzin untuk iqomah menandakan setengah ibadah jumat telah tertunaikan yaitu mendengarkan khatib berceramah, dan menandakan bahwa shalat jumat akan segera ditegakkan.

Tanda iqomah menggunakan pengeras suara menggema kali ini tidak saja didalam ruangan masjid namun sampai bermetermeter diluar lingkungan masjid, memanggil orang orang yang terburu-buru berlari menuju masjid demi setengah manfaat jumat bagi dirinya masing-masing. Hanya setengah karena mereka hanya mendapatkan pahala shalat jumat dan tidak mendapat barakah dari mendengar khotbah.

Para jamaah tidur masih terlelap kala ‘gong’ shalat jumat dibunyikan, batas antara mendengar dan bertindak sudah mulai disuarakan mereka masih terlelap, beberapa jamaah yg sudah siap berinisiatif mencolek, membisiskki, ada juga yang mencubit agar mereka bangun dan segera menunaikan shalat jumat. Tak jarang pula ada yg masih bingung, mengumpulkan segenap kesadaran untuk menguasai dirinya dan menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya. Ketika imam sudah memerintahkan untuk segera mengucapkan takbiratul ihram.

Walau masih dihinggapi rasa kantuk dan kebingungan, akhirnya jamaah tidur ini pun mau ngga mau harus mengikuti apa kata imam, mengikuti segenap instruksi imam jumat. Mau tidak mau suka tidak suka mereka harus patuh atau silahkan tinggalkan masjid dan jangan ikuti jamaah yang lurus dan rapat ini dalam barisan!

***
Saya menempatkan diri saya disebuah bangunan besar yang bernama Direktorat Jendral Pajak, dimana lantainya didasari oleh pribadi-pribadi pilihan yang penyaringannya begitu ketat, Sumber daya yang kredibel, dan ‘dikontrak darah’ dengan kesanggupan dan kemauan yang tinggi untuk selalu maju dan berkembang dalam kapasitas sebagai pribadi yang teruji.
Kemudian landasan ini dibingkai dengan tiang-tiang yang stabil sebagai penyangga berdirinya bangunan besar ini yaitu : Integritas,Profesionalisme, Sinergi,Pelayanan dan Kesempurnaan. Dimana tiang Integritas adalah perkataan, perbuatan yang sesuai dengan komitmen awal sebagai pelayan yang baik bagi masyarakat, informer yang akurat bagi Wajib Pajak, dan agen perbaikan perpajakan bagi setiap elemen bangsa dan Negara. Tiang integritas adalah awal tindakan dan poros kiranya integritas ditegakkan dengan benar dan kokoh maka tak akan ada lagi kehawatiran.

Tiang Profesionalisme dibangun demi mencapai tujuan bersama, bekerja berdasar rel-rel yang ditentukan, bersinergi untuk selalu digaris yang tepat dan mencapai goal bersama sebagai sebuah team besar untuk kemajuan. Tiang Sinergi dikokohkan demi kebersamaan, demi kekeluargaan, demi rasa saling memiliki dan support bahwa goal tak akan tercapai tanpa adanya krjasama yang baik antar lini, antar kepentingan antar pribadi yang ada didalam bangunan ini. Sinergi yang bagus akan menjadikan beban lebih ringan, hambatan lebih mudah dilalui dan setiap pekerjaan akan lebih mudah diselesaikan.

Tak pelak sebagai institusi pelayanan public, maka tiang Service harus dimaksimalkan agar berdiri semakin tinggi apa yang ada diatasnya, akan semakin terlihat dan jelas hal-hal yang membanggakan didalamnya, pelayanan yang prima memberikan kepuasan tidak hanya kepada yang dilayani namun juga kepada pelayan itu sendiri. Timbal balik yang diharapkan adalah saling percaya dan saling berpartisipasi.

Pada akhirnya, dari banyak tiang yang hendak didirkan, tentulah tiang menuju sempurna yang diharapkan ada untuk menyokong seluruh tiang yang ada. Tak ada gading yang tak retak, tak ada apapun yang sempurna didunia ini, maka alangkah lebih baiknya bila kesempurnaan itu kita definisikan sebagai proses menuju sempurna. Begitupun bangunan besar yang sedang berbenah ini, adalahs ebuah proses menuju kesempurnaan walau tak ada satupun yang dapat menjamin kapan bangunan ini menjadi sempurna? Ataukah akan hancur pada akhirnya, at least we die trying, kata sebuah ungkapan.

Masa-masa itu telah lewat, sebuah era dimana ‘kejahiliyahan’ meraja lela, yang salah sangat mencolok terlihat namun menjadi kelumrahan, dan yang benar begitu kabur dan terpinggirkan. Paradigma dimana yang berkuasa adalah koneksi dan money game. Bersaman dengan gong modernitas yang ditabuh bertalu-talu bagaikan kumandang panggilan adzan dari muadzin disebuah masjid.

Bangunan dengan tiang yang kokoh telah didirikan, kumandang adzan telah diperdengarkan. Maka diharuskan bagi segenap yang mendengar untuk berbondong-bondong menuju bangunan tersebut dan melaksanakan kewajibannya bagi pemilik bangunan tersebut.

Menempati bagian masing-masing, melaksanakan setiap perintah dari khatib dan menjalankannya dengan penuh keikhlasan dan ketaatan hingga mencapai tujuan bersama. Apabila anda menemukan jamaah-jamaah yang tertidur ketika iqomah diperdengarkan segeralah colek mereka, hingga mereka terkesiap bahkan hingga tersadar dan segera bangun dari tidur pulasnya.

Teriakkan disetiap telinga mereka bahwa “perintah telah ditegakkan, segeralah bangun dan jangan tertinggal jamaah!” Mau tidak mau suka tidak suka mereka harus patuh atau silahkan tinggalkan bangunan ini dan jangan ikuti jamaah yang lurus dan rapat ini dalam barisan!

Penulis :
Fahrizal Ardhi Nugroho
19830104 200312 1004
Jurusita Pajak di KPP Pratama Teluk Betung

diikut sertakan dalam LOMBA MENULIS ARTIKEL PERPAJAKAN TAHUN 2011 UNTUK PEGAWAI DJP

Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.
Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”


Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.
Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

"Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.
Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:
“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember
that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.
She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered
well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.
Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama dalam hal teknis.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :
- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari lanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.
Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.
*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”


Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah iinformasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”


Buat saya, seorang dokter atau bukan - ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”


Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?
Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wlayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:
“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”


Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah YAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kaji dan telaah.

Saya dan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio - beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada akhir kisah dalam blog tersebut, penulis menuliskan “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab "Betul, mari silakan menilai dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut."

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun BAHAN KIMIA didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.
Suatu petang ketika orang-orang sedang sibuk berebut waktu untuk segera pulang kerumah masing-masing setelah melakukan rutinitas pekerjaannya. Di sebuah halte busway terlihat seorang bapak dengan 3 anaknya yang masih kecil-kecil.Mereka sedang menunggu datangnya busway yang sebentar lagi akan membawa mereka pulang.

Ketiga anak itu berusia sekitar 8,5 dan 3 tahun.Anak terkecil bagaikan seorang putri,ia begitu cantik dalam dekapan sang bapak.sedangkan kedua anak lainnya yang putra sedang asyik bermain-main kesana kemari,itu lah ciri anak seantero dunia.

Tibalah saatnya busway yang ditunggu datang.Para penumpang pun seperti robot yang mendapat perintah yang sama, bergegas menuju pintu masuk busway,termasuk sang bapak dan ketiga anaknya.

Kemudian keluarga itu dapat duduk di kursi busway yang disusun seperti kereta api listril(KRL).lalu kedua anak laki-lakinya beranjak dari kursinya dan bermain petak umpet di sela-sela tubuh orang dewasa yang sebagian besar mengisi ruang busway itu,sambil berteriak girang.

Terlihat beberapa penumpang yang wajahnya menjadi begitu muram.Mereka merasa tidak nyaman dengan kegaduhan itu.hingga akhirnya ada seorang penumpang pria yang ketus menyatakan protesnya ke sang bapak,

"Pak,tolong anaknya di atur ya,disi kan penumpang juga ingin tenang,sudah capek kerja,eh pulang kok masih aja ada yang ganggu!!"

Kemudian sang bapak sambil menggendong putrinya pun menjawabnya dengan senyum,

"Maaf ya mas,ibu mereka baru saja meninggal sore ini di rumah sakit,dan saya belum mengatakan hal ini ke mereka,nanti begitu sampai rumah saya akan mengatakannya. Biarlah mereka merasakan kegembiraan yang menjadi hak mereka,karna saya merasa mereka akan banyak kehilangan kegembiraan setelah tahu bahwa ibu yang biasa mengasuh mereka dan menyayangi mereka setiap saat sudah tidak bersama mereka lagi selamanya.Mas tidak keberatan kah,kalau mereka bermain sebentar saja di bus ini?"


Mendengar apa yg dibicarakan sang bapak,sebagian penumpang yang mendengarnya lalu terdiam dan merenung,termasuk sang pria yang baru saja memperotes sang bapak dengan ketus.Tiba-tiba mereka teringat akan kasih sayang dan kesalahan-kesalaahn yang pernah mereka perbuat kepada ibunya.

Diam-diam diantara mereka ada yang mengambil handphone di saku celananya,lalu jari jempolnya membuat barisan kalimat "ibu apa kabar?besok pagi saya mau pulang menjenguk ibu.maafkan segala salah saya,ibu"

kemudian dia mengirimkan sms itu ke nomor ibunya,dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya besok..

Bersyukurlah bila anda masih memiliki ibu! karena saya tahu hampanya kehilangan seorang ibu.