Minggu, 02 Juni 2013.

Jam 5.30 WIB pagi hari notifikasi Whatsapp sudah nyaring terdengar. Subuh sudah berlalu, beberapa peliharaan sudah selesai diperhatikan. Isi rumah sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Saya mempersiapkan sepeda MTB sedikit mengelapnya agar terlihat ga malu-maluin walau nanti pada akhirnya akan kotor kembali. Sebotol cairan elektrolit, tapi cairan itu sudah dikemas oleh istri dalam bentuk madu dan campuran air hangat. Cairan elektrolit super karena resmi dibuat oleh istri tercinta.

Yang ngajak gowes pagi ini adalah para srikandi yang telah menaklukkan jalan aspal antara Aceh danpadang di awal bulan kemarin. Jelas donk stamina ga bisa dibandingin, mereka ratu uphill. Ada yang bisa cerita kayak mana medan aspal antara aceh-padang? Noh… saya aja belum pernah kesana. Dan medan yang akan mereka tawarkan adalah medan yang juga buta bagi saya, walau saya sudah dikota ini selama kurang lebih 10 tahun. Namun jalanan arah ke bukit itu hampir tak pernah kulewati.

Benar saja, sekitar 15 menit menempuh perjalanan keringat sudah bercucuran, nafas udah memburu. Eh.. nih para srikandi ninggalin para cowok dibelakang. Alih-alih pasang alibi kalau lagi nugguin yang paling belakang, ga taunya srikandi-srikandi ini malah berhenti nungguin kita. Malu…!!

Ternyata gowes itu bukan masalah siapa yang terkuat, namun siapa yang bisa mengatur nafasnya dan menempatkan staminanya di medan yang tepat. Menjaga ritme ayuhan sesuai dengan kemampuan dan medan yang ditempuh. Ini bukan olahraga siapa yang paling cepat (kalau professional iya kali ya?) tapi siapa yang nafasnya ga putus hingga di garis finish.

Badan saya sih ga ideal amat, tinggi 173 centimeter dan berat 60 kilogram, masih sangat jauh dari ideal. Namun banyak orang yang nyeletuk “badan udah kurus, gowes pisan. Tambah ga gemuk-gemuk nanti!.” Malah orang gemuk yang kesusahan kalau gowes ya? Kalau badannya singset dan atletis gini malah nyaman gowes uphill. Ada yang bilang, gowes uphill itu 30 menit pertama membakar kalori, dan sisanya baru membakar lemak (yang bilang pastinya bukan dukun loh ya!) lah kalau kayak saya, lemak manalagi yang mau dibakar? Hehe….

Istirahat sepanjang perjalanan kira-kira terhitung hanya 4 kali selama rute ditempuh, tapi yang tanjakan ga keitung lagi berapa kalinya. Wajar bukan pro, bukan juga lawannya srikandi-srikandi itu.

Pemberhentian pertama setelah melewati 3 tanjakan


Tanjakannya maut-maut, karena perbedaan yang begitu terlihat antara stamina yang biasa tidur bangkong dan yang biasa setiap pagi gowes, jadinya di tanjakan jaraknya bisa terpaut jauh.



Kalau udah benar-benar pasrah pada kenyataan bahwa stamina tak bisa melawan, lebih baik berhenti dan menghabiskan sisa cadangan minuman yang ada. ini nasehat terbaik yang bisa diberikan kepada pemula.... 


ditanjakan ini akhirnya bisa sedikit menyamai stamina para srikandi gowes ini..


Ini bukan titipan dinas pariwisata loh ya, ini memang sengaja difoto te[at di salah satu tempat rekreasi yang ada di kota ini.


Rute yang telah ditempuh, RUTE 1 :


Rute selanjutnya, RUTE 2 :


Memulai perjalanan dari pukul 6.20 WIB dan sampai kembali dirumah pada pukul 9.10 WIB dengan jarak tempuh perjalanan 25 kilometer (UPHILL)... catet uphill, turunannya cuman seuprit, nanjaknya tak habis-habis. ampe rumah ditanya ma istri, itu betis udah kayak ubi mukibat.. hehehe.

Namun pengalaman ini malah membuat saya tak kapok tuk mengulangi nya atau bahkan dengan rute yang lebih panjang dengan trek yang lebih menantang. sepertinya uphill lebih menarik daripada downhill (aslinya ga punya nyali buat downhill..heehehe).

Sekian laporan perjalanan kali ini, Gowes to the hill!!!

Mereka bilang jadilah seperi matahari yang selalu memberi tanpa pernah minta kembali, sayangnya matahari tetap tak bergeming ketika bumi memunggunginya. Dan setianya beralih kepada rembulan agar mengabarkan kepada dunia bahwa dia masih tetap memberi dan masih tetap tak meminta ‘kembalian’.

Kuceritakan padamu tentang kawanku, seorang yang tak begitu papa namun juga tak begitu kaya. Hanya saja setiapkali dia berkunjung pengeluarannya selalu melebihi apa yang mampu didapatnya. Bukan karena Tuhan terlalu pelit kepadanya,tak lebih karena inginnya melebihi apa yang ada dikepalanya. Namun bukan posisiku utuk menilainya, namun permintaannya selalu tak bisa kuacuhkan. Sekali ini dia datang dengan senyum mengembang namun tetap saja peranku adalah sebagai matahari yang tak harap kembali.

Mereka berkata jadilah gemintang diangkasa, yang memiliki rasa malu yang besar kepada matahari. Dia tak pernah mau mendahului pagi ketika matahari hendak menampakkan diri. Dia menunjukkan arah kepada yang tersesat, dia pun tak pernah mau menyesatkan apabila rembulan tertutup awan. Bintang setia menemani malam, dari awal hingga akhir dari kaki langit sebelah barat menuju kaki langit sebelah timur.

Aku memiliki seorang teman yang berbeda, berarapun yang dia minta atas produk yang ditawarkannya selalu kubeli tanpa menawarnya. Harapanku satu, suatu saat bila dia telah pikun dia masih mampu mengingatku. Seorang teman yang bagai gemintang setia menemaninya walau yang lain melupakannya. Namun harap bintang itu selalu sirna ketika matahari terbit. Bahkan panggian nomorku pun direhectnya padahal belum juga dia pikun. Aku akan tetap bagai bintang, setia menemaninya walau matahari telah terbit, ku harap matahari segera ke peraduan dan dia kembali hadir bersama malam.

Si penyair menggubah sajak, lihatlah pioni! Dia tumbuh di pinggir jalan, tak ada yang mengenalinya. Dia menggerakkan tangkainya, bukan untuk menarik perhatian. Namun karena badai hendak datang, dan dia memiliki kemampuan hebat yaitu meliuk sedater tanah tanpa mematahkan sehelai pun mahkota dan daunnya. Dia berdebu sehingga acuh lalu lalang tak memperhatikan. Dia tak berduri karena mahkotanya tak begitu berharga sehingga tak ada tangan jahil yang mau menyentuhnya. Dia pun tak memberikan wangi laksana melati sehingga setiaporang hendak memetiknya dan menjadikannya pajangan.

Temanku yang lain adalah sesosok mawar, mahkotanya anggun, hingga setiap mata memandangnya takjub, namun dibalik keindahannya beratus ratus duri siap melukai padahal duri itupun tak menambah keanggunannya. Setiap yang lewat meliriknya bukan untuk mengagumi keindahannya namun lebih ingin memetiknya dan memilikinya, sayangnya bila mawar tersebut terpisahkan dari durinya, maka dia akan layu dan tak menarik lagi. Ketika badai datang pioni selalu menasehatinya agar mampu meliuk sedater tanah hingga dia bisa tegak berdiri lagi, namun mawar lebih memilih mematahkan tangkainya dan tak tumbuh lagi demi debu yang menutupi.

+++

Berbahagialah disana kawanku, aku akan tetap menjadi matahari walau engkau selalu memunggungi. Aku akan tetap setia bak gemintang walau awan gelap semakin menutupi. Kemudian aku akan tetap menasehati tuk meliuk sedatar tanah walau badai semakin deras menerjang.

Kawan, matahari itu tak mengharap kembali, gemintang itu selalu akan menunggumu dikaki langit untuk membersamaimu melewati malam, dan pioni hanya ingin melihatmu bisa menirunya menerjang badai tanpa mematahkan tangkaimu.

Aku tak akan membakarmu, aku takan akan meninggalkanmu tercecer diujung malam, dan aku tak akan rela melihat tangkaimu patah!

Kawan aku ada ketika kau lupa….




Nut....Nut.... Nut. Tengah malam, berkali-kali notifikasi gadget berbunyi. Paling juga warga grup yang lagi pada ga bisa tidur, pikirku. Walau sudah tersadar tidur namun rasa malas benar-benar tak mampu membuka kelopak mata. Apalagi sampe meraih gadget dan membuak layarnya, apalagi sampe ambil air wudhu’ dan shalat tahajud, apalagi sampe membuka mushaf dan baca beberapa ayat suci. Pokoknya malam itu bener-bener pingin tidur pulas ampe subuh.

Kubuka layar gadget ketika pagi menjelang, dan sudah ada lebih dari 200 notifikasi. Kegiatan yang begitu aktif dimalam hari dari para warga grup. Ada apakah gerangan? Oh.. MUTASI, pemindahan para pegawai baik itu untuk tujuan promosi atau penyegaran suasana. Hal yang sudah begitu lama tak kualami, hampir 7 tahun menduduki jabatan ini. Entah karena dedikasi atau memang tak ada pengganti yang bersedia takpernah kutinggalkan jabatan ini pun belum begitu besar hasrat untuk meninggalkannya.

Jabatan yang tak semua orang menginginkannya karena resiko keselamatan yang begitu besar, trouble solver yang sering berhubungan dengan kaum marginal di tengah hiruk pikuknya kota besar. Jabatan yang mewajibkan untuk berinteraksi dengan orang banyak dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mungkin tak semua orang menginginkannya, karena juga berada di tataran jabatan yang berpenghasilan rendah. Tapi itulah harga sebuah dedikasi, i do it, and i love it.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, tak pelak berganti atasan beberapa kali pun jabatan itu masih menempel erat di pundakku. Tak peduli berapa kali pun meminta untuk resign dari jabatan dan mencari pengganti tetap tiada berujung sukses. Ada kalanya jenuh melanda, ada kalanya semangat meluap-luap. 

Ketika jenuh melanda tiada aku ingin ditemukan, kutinggalkan semua rutinitas membawa motor tuaku ke tempat rekan berkumpul. Biasanya yang kutuju adalah bengkel, entah itu bengkel mobil atau bengkel motor. Para sahabatku mahfum bila di waktu dhuha diriku datang biasanya hanya minta kopi, duduk-duduk ngobrol dan berbicara ngalor ngidul sampe waktu absen pulang tiba. Mereka sudah hafal, bahwa saya sedang suntuk dengan pekerjaan dan jabatan itu.

Ketika semangat berapi-api, topeng bengis seperti nempel di wajah. Saya tak memiliki cadangan kompromi bila semangat sedang membara, siapa saja saya sikat. Tak peduli dia bawa backing tentara atau pejabat. Bahkan duit segepok pun tak kuindahkan, namun hal yang paling membuat topeng bengisku kutanggalkan adalah apbila ada seorang tua renta yang harus kudatangi dan ku’gorok’ penghasilan yang menghidupinya. Semangat itu seperti lilin dihadapan matahari, meleleh tak bersisa. Bapak atasan, setiap peraturan yang bapak tetapkan memang mendidik kami yang duduk dijabatan ini untuk bengis namun kami pun masih manusia yang memiliki hati nurani. Terkadang di hadapan peradilan dagelanmu hal itu tidak menjadi pertimbangan bukan?

Di pagi itu setelah layar gadget hidup dan seluruh file terbuka semua, ada nama saya disitu. Mentereng diantara yang lebih mentereng. Bukan perpindahan jabatan yang diinginkan banyak pegawai, bukan pula mutasi yang memisahkan keluarga. Namun hanya pergeseran tempat dari lantai dua ke lantai empat, hanya pengistirahatan jiwa dari pemegang kuasa ke jongos biasa yang melayani atasan. Luar biasanya justru itu yang menjadi dambaan beberapa orang disana. Sehingga tak sedikit yang serta merta mengucapkanku selamat, padahal saya sedang dicopot dari jabatan saya. Ketika itu baru saya sadari, jabatan itu ternyata seperti spion pada mobil. Part atau bagian mobil yang tak begitu mempengaruhi jalannya sebuah mobil, hanya saja ketika ada mobil itu akan bisa berjalan lebih baik.

Saya kembali mengucapkan selamat kepada jiwa saya, bersyukurlah jiwa, kamu kembali tenang. Tak ada lagi godaan untukmu, waktu ini adalah waktu terbaik bagimu untuk membersihkan karat-karat yangs elama ini hinggap dan melapisi sendi-sendi mu. Suatu saat ketika dirimu sudah bersih kembali, siapkanlah pelumas yang lebih kuat agar karat-karat itu tak kembali mengotorimu.

Hanya untuk mengingatkan, suatu saat entah akan kemana dibawa jiwa ini? -kubikle 7 tahunku, Rabu 8 Mei 2013-

Cerita berlanjut menuju sodoran sodoran kebaikan hati WP/PP kepada Jurusita :

1. Menjadi seorang jurusita itu menyenangkan, banyaks ekali pengalamn-pengalaman hidup yang mewarnai. dan juga sebuah tempat untuk menggembleng mental dan pengembangan diri. bagaimana tidak saya yang dulunya adalah seorang yang tak memiliki kepercayaan diri yang besar kini memiliki kemampuan untuk 'sok pintar' dan 'sok ahli'. hingga suatu saat seekor anjing besar mirip acara film yg ditonton anakku scooby doo menghentikan langkahku dan menciutkan mentalku.

Kesalahan terbesar saya adalah memparkir mobil dinas plat merah saya di halaman dalam rumah tersebut, sehingga jurusita yang gagah perkasa ini hanya bisa duduk diatas kap mobil dan berdoa semoga hujan taks egera datang, karena si scoby doo ini masih diam tak bergerak disamping mobil.

-***-

2. Dia pengusaha besar dikota ini, suplier ban mobil terbesar dan memiliki 2 toko besar, chineseman di umur tanggung, dengan wajah gagahnya dan perawakan tinggi besar. cara bicaranya lantang, untuk memastikan bahwa lawan bicaranya terintimidasi.

Tersiar kabar dulu dia juga supplier para oknum pajak, tentunya supplier royalty. namun jaman sudah berubah, pajak telah berbenah kini bahkan oknum pajaknya yang menolak pemberian. sehebat apapun dia dulunya, dihadapan petugas pajak taklebihs eperti kucing yang mengeong demi mencium ikan asin diatas meja.

Hari itu saya datang membawa surat sakti yang mengindikasikan beberapa asetnya akan saya ambil paksa. anehnya seluruh pegawainya mempersilahkan saya untuk leluasa memasuki area usaha dan gudang nya. untuk menyampaikan pesan bahwa saya sedangs erius dan tidka main-main, saya bawa salah satu mobil usahanya.

Sore hari si chinese man garang menelpon, membentak, memaki bahkan mengintimidasi dengan menanyakan alamat rumah. saya tak bergeming hanya memintanya tuk datang ke kantor.
Esok harinya si chineseman garang datang, 15 menit berselang.. kegarangannya hilang, menghiba sambil meneteskan airmata.

Luar biasa, dia bisa menangis.

-***-

3. Tumpukan Surat tuk memaksaku sudah sama tingginya dengan novelnya Tasaro GK, harus segera dijalankan. kalau tidak pun tak masalah, peraturan berkata "disampaikan atau tidak surat itu tetap sah berkekuatan hukum tetap (inkrach)". bahkan kubuang disungai pun tak ada yang tahu, bahkan ku tanda tangani sendiri pun tak ada yang curiga. kali ini kejujuranku diuji, demi 50 ribu rupiah. ah kejujuran jabatanku hanya dihargai 50 ribu rupiah. wajar bila ada yang tak komit dengan jujurnya hati nurani yang dana bail out bertrilyun trilyun aja masih tidak bisa mengindikasikan sebuah kejujuran.

Ditumpukan terbawah surat surat itu ada beberapa daerah yang hampir tak pernah kudatangi. daerah pesisir yang kumuh namun katanya juga menyediakan 'kenikmatan'. karena penasaran, kujalankan saja beberapa surat itu menuju daerah yang katanya menjajakan dahaga dunia itu.

Ya salam, di pintu gerbangnya saya sudah disambut beberapa wanita bertanktop dan ber celana sependek .. ah tak tega saya menyebutnya. ingin rasanya pergi dari situ, namun karena dedikasi, iyah.. dedikasi.. sekali lagi dedikasi. saya kuatkan kaki tuk melangkah masuk. karena memang alamatnya ada di dalam area itu. ... sek.. sekali lagi dedikasi.

Saya memasuki sebuah rumah, pendek, tidak terlalu besar terkesan bangunan tua. duduk di ruang tamunya seorang renta yang baru kusadari setelah kuucapkan salam ternyata setengah buta. dan semakin kusadaris etelah sedikit berbincang bahwa kakinya juga hampir diamputasi atau bahkan sedang diusahakan agar tak diamputasi. diabetes peyebabnya ujarnya ramah sambil tersenyum lebar. mengambil penglihatannya dan hampir beberapa bagian tubuhnya.

Namun tak mengambil kejantanannya, buktinya seorang gadis elok tanggung menyuguhkan teh manis, mengaku putrinya.

Terbelalak dia ketika tahu maksud tujuan saya bersusah payah mendatanginya, berbagai upaya dilontarkan, berbagai muslihat coba diucapkan. namun saya bergeming, hingga dia menawarkan kesepakatan, yang sungguh membuat saya terpana dan hampir tak percaya.

"Kalau adik masih bujang, anak saya siap mengganti hutangnya. bagaimana? asalkan semua beres."

Saya buru buru pamit, bukan karena geram, namun tak lebih takut hati saya tak mampu menolaknya....


Minggu pagi, pasar tradisional, pedagang asongan dan lumpur beraroma menyengat. Inilah suasana kampungku, wajah masyarakat madani yang mendiami rumah-rumah pedesaan. Bila wajah tata moral bisa dilihat dari keanggunan masjidnya, wajah sosial peradaban bisa dipandang dari ngumpulnya para tetua di pos kamling desa, maka wajah budaya bisa diperhatikan dari interaksi nya di pasar tradisional.Teriakan penawaran harga, lemparan barang komoditi, dan suara recehan bergemericik menimbulkan persepsi kemajemukan yang menggambarkan ke loh jinawian susunan budaya.

Duduk di ujung los-los pasar yang terbengkalai, keramik putih namun tak berpenghuni, sedikit berdebu menjadi tempat istirahat para tengkulak yang akan memunguti ‘pajak’ dari para pedagang di sepanjang pasar. Bersama beberapa anak-anak kecil yang membawa kantong plastik merah yang mereka jajakan dengan harga yang lumayan. Bercanda diantara mereka yang telah menyusuri pasar dengan telanjang kaki berlumpur ria sejak subuh menjelang.

Tak berapa lama seorang ibu membawa putra kecilnya ke ujung pasar itu tepat didepanku berdiri sepetak bangunan yang digungsikan sebagai WC Umum. Putra ibu itu menggambarkan mimik sedikit tertekan entah karena panggilan alam diujung kesabarannya, ataukah menahan dongkol akan sentakan gemas ibunya yang tak ingin terganggu oleh rengekan putranya ketika menawar barang.

Pintu WC umum tinggal beberapa langkah lagi, namun si ibu memilih menurunkan sikecil di luar WC umum itu dan mendudukkannya seakan memberi komando untuk melucuti celananya dan ... cuuurrr! Lega, si anak berubah rona wajahnya. Si ibu hilang tekanan kerut wajahnya, selesai sudah gangguan kecil itu pikirnya.

Tak ada yang memperhatikan, bahkan bapak tua penjaga wc umum itu juga tak peduli. Si anak kembali ceria dan mengikuti kemana saja ibu memaksanya ikut. Biasa saja, tak ada yang aneh. Itu hanya kejadian biasa yang ada disekitar kita. Pembiasaan itu membuat norma-norma baik dimasyarakat dan budaya sopan santun kewajaran hilang seperti tak berbekas.

Hati kecil tak lagi peka dengan ketidak sesuaian norma, akal pikiran tak lagi bekerja sewajarnya ketika desakan akan kebutuhan menjadi penguasanya. Orang-orang telah berhasil pergi ke bulan namun kadang gagal untuk mengunjungi tetangganya. Banyak dari orang itu berhasil menemukan dimana tempat terbaik menyimpan harta bendanya, namun tak pernah berhasil dimana membuang sampah hidupnya.

Berfikiran luas, namun berperilaku sempit, pandai mendapatkan kekuasaan namun lupa meletakkan norma pada tempatnya. Selalu bergerak maju namun tak bisa menoleh ke kanan dan kiri.

             
               Di Kenya seorang pemuda tanggung berjalan riang di sepanjang jalan berdebu di kotanya, sebelah tangannya buntung. Di sampingnya juga seorang gadis kecil memegang ujung baju pemuda itu dengan satu tangannya, sebab sebelahnya lagi telah hilang tepat ditengah tulang keringnya. Begitulah kebanyakan orang di kenya telah kehilangan sebelah tangannya, oleh perbuatan biadab gerombolan pemberontak yang menangkapi siapa saja yang tak sepekat dengan perjuangannya dan menandai mereka dengan memotong sebelah tangannya.

               Namun pemuda itu adalah berbeda, dia menggalang anak-anak yang telah buntung tangannya untuk tetap sekolah. Dulu dia ditangkap dan di buntungi tangannya karena ketika ditanya bercita-cita ingin sekolah dan kuliah. Sementara gerombolan pemberontak itu tak ingin setiap warga kenya mendapat pendidikan. Pemuda itu menggalang semangat agars etiap anak yang telah buntung tangannya tetap menyimpan mimpinya untuk sekolah dan kini setiap anak yang buntung telah duduk dibangku sekolah karena usaha luar biasanya menggalang bantuan dan perlindungan. Namun tetaplah pemuda itu adalah pemuda buntung yang tak lagi melanjutkan kuliahnya, mimpinya telah pupus.

               Bunda Theresa, seorang biarawati yang terpisah jauh dari tanah kelahirannya. Menemukan keinginan sejatinya di negeri berbeda, menjadi abdi Tuhan di tempat berbeda, India. Mungkin tak ada yang tak pernah mendengar namanya walau tak sangat mengenalnya. Tokoh kemanusiaan yang mendapat piagam nobel atas tindakan kemanusiaanya pada tahun 2003 silam. Dia menyeru kepada setiap manusia tanpa membawa dan memaksakan apa yang diyakininya, yang hindu berbuat baiklah dan tetaplah pada keyakinan hindu, yang budha berperikamnusiaanlah kepada setiap manusia dan ikutilah ajaran budha, yang protestan, yang islam berbuatbaiklah dan yakinilah apa yang engkau yakini.

              Penganut sekuler menghormatinya, pelaku atheis mendewakannya hingga dunia menganggapnya manusia diantara para manusia, namun bacalah di surat-surat menjelang ajalnya yang dibukukan dalam sebuah tajuk Come Be My Light (Datanglah menjadi cahayaku) dia berujar “Banyak kebaikan yang mungkin telah ku lakukan, namun sepertinya Tuhan meninggalkanku.” Seorang hamba Tuhan, pelaku kemanusiaan yang nyata, kehilangan arah dan petunjuk Tuhannya? Bahkan dia merasa kosong dalam pengabdiannya kepada Tuhan.

              Di kolong langit ini Nama Muhammad begitu dikenal, bahkan oleh orang yang tak memahaminya sekalipun. Arab adalah padang tandus yang tak dilirik sekalipun oleh bangsa penjajah Belanda, Inggris, Portugis atau imperium kekaisaran katolik sekalipun. Karena mereka berpikir tanah tandus itu tak menghasilkan apa-apa.

              Namun Muhammad utusan Tuhan mengubah segalanya,dibawah kepemimpinannya Arab menjadi sebuah kekuatan yang menguasai sekitarnya. Bahkan hingga kini ajarannya menguasai hampir seluruh dunia, dan dijamin Tuhan tak akan runtuh hingga kiamat datang. Muhammadlah peletak prasasti peradaban itu. Dan Arab menjadi tanah yang diberkahi, tanah para pejuang kemanusiaan yang paling agung.

              Namun lihatlah perjuangan menegakkan sendi-sendi kejayaan itu, Muhammad dihardik oleh kaumnya sendiri, Muhammad diusir dari kabilahnya bahkan sanak saudara dan sahabatnya dibantai dan disiksa. Tubuh Muhammad koyak, giginya tanggal dan tangisnya pecah hampir setiap malam. Diujung hayatnya Muhammad teringat umat yang menyakitinya dan diujung nafasnya Muhammad mendoakan keselamatan ummatnya.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

             Begitulah bila jalan cahaya yang kita pilih, jangan kira semua akan berjalan sesuai keinginan. Karena sejatinya keinginan manusia itu yg mudah-mudah. Jalan cahaya itu penuh onak dan duri, bersiap-siaplah rintangan akan memagari. Terkadang seperti tiada pertolongan sedikitpun, padahal Tuhan tak pernah lupa akan setiap jerih payah kita.