Coffee map
Kopi, siapa yang tak mengenal kopi? Hampir setiap orang tahu minuman yang dulunya dikelompokkan dalam jenis minuman berkhasiat penambah kekuatan seperti asal mula nama kopi dalam bahasa Arab yaitu Qahwah. Kopi sebagai minuman berkhasiat ini pertama kali dicoba-coba diminum oleh bangsa Ethiopia menurut beberapa literatur sekitar 3.000 tahun yang lalu (kayaknya barengan ama setting waktu film 10.000 BC deh).

Di Indonesia sendiri Kopi sudah ada tapi sejak kedatangan Belanda Kopi mulai menjadi komoditi, tercatat pertama kali bangsa Belanda yang pertama kali memulai perkebunan kopi di Jawa Barat. Sejak saat itulah kopi mulai meracuni bangsa Indonesia sekitar tahun 1653 M, namu kala itu kopi hanya menjadi minuman para kompeni dan tuan-tuan tanah. Kopi masih menjadi barang yang tak tersentuh dikalangan masyarakat.
Sekarang? Jangan Tanya…. Di setiap sudut pasti menemukan kopi, di warung-warung kecil hingga di café-café borjuis kopi menjadi salah satu menu yang disuguhkan. Mulai dari kopi kasta terendah di warung-warung hingga kopi berpangkat panglima bisa didapatkan kini.

Bagi bangsa Arab setelah masuknya Islam kopi dianggap sebagai minuman pengganti arak kala itu. Dimana islam melarang umatnya mengkonsumsi minuman yang memabukkan, alih-alih meninggalkan minuman memabukkan pemeluk islam arab kala itu beralih ke kopi yang tidak memabukkan namun masih meninggalkan efek ketagihan. Efek samping yang berbeda dimana arak memabukkan dan kopi justru memberi kekuatan menjadikan semakin hari kopi semakin popular.

Bagi masyarakat Indonesia saat ini berkembang pemahaman bahwa kopi adalah minuman yang mampu membuat mata tetap terjaga. Tak bisa dipungkiri memang, bahwa kopi menagndung kafein yang mampu mempercepat degub jantung sehingga tubuh selalu terjaga. Setidaknya salah satu poin yang dijabarkan dalam penelitian yang dilakukan oleh ibnu sina terhadap kopi, dan penelitian beliau tercatat sebagai penelitian pertama terhadap seluk beluk kopi.

Namun sayang banyak juga salah kaprah yang terjadi di masyarakat terhadap cara pengolahan kopi, tentu saja masyarakat yangs aya maksud adalah masyarakat Indonesia yang kebanyakan pengolahan kopi adalah terjadi secara turun temurun. Karena hal itu pula lah dalam masyarakat tidak ada variasi dalam tata cara pengolahan kopi yang benar sehingga didapat aroma dan rasa kopi yang maksimal. Mereka mungkin belum mengetahui secara gamblang namun yang pasti dalam masyarakat pengolahan kopi konvensional dengan cara kopi yang dicampur gula dan kemudian diseduh dengan air panas adalah telah mendarah daging. Apabila diperkenalkan cara berbeda bagi mereka, mereka akan berdalih bahwa pengolahan dengan cara itu adalah yang paling mampu memuaskan hasrat mereka akan kopi. Sebenarnya masih banyak cara yang mampu menonjolkan rasa kopi.

Bukan Promosi loh ya, tapi di dalam buku ini saya belajar banyak tentang cara dan alat alat yang digunakan untuk mengolah kopi hingga sesuai dengan selara yang kita miliki.
cover book
Sebenarnya tak ada yang salah dalam penyeduhan kopi secara konvensional karena mungkin memangs elera masyarakat Indonesia secara turun temurun memang sudah mengakar kuat dengan cara penyeduhan langsung tersebut. Tak bsia disalahkan bila hal itu akan mempengaruhi bagaimana cara menikmati kopi, karena menikmati kopi itu adalah pemenuhan hasrat personal. Setiap penikmat kopi tak harus sama, hanya saja bukankah lebih baik mengenal lebih banyak cara menyeduh kopi.

Di dalam buku itu juga dijelaskan bagaimana mendapatkan kopi yang istimewa kondisinya yang juga menjadi kesalahan mendasar para penikmat kopi di Indonesia ini setidaknya di banyak tempat karena di beberapa kota besar para penikmat kopi telah mengetahui bagaimana tata cara penyimpanan kopi dan pengolahan kopi yang baik.

Di banyak tempat yang menyediakan atau menjual kopi mereka menjual kopi dalam bentuk bubuk, parahnya lagi mereka tidak mengemasnya dalam wadah kedap udara. Hal ini membuat aroma kopi hilang seketika, menjadikan kopi yang diseduh tidak lagi memberikan aroma pembangkit selera. Bahkan juga akan mempengaruhi rasa, apa pasal? Kopi yang sudah digiling dan telah menjadi bubuk sangat mudah menyerap bau disekelilingnya (bisa jadi ini sebab nenek saya selalu berpesan untuk menaburkan bubuk kopi di sudut rumah kali ya?) sehingga ketika bubuk kopi yang telah menyerap aroma disekelilingnya ini diseduh akan memberikan aroma dan rasa dari bau yang diserapnya, dan rasa kopi aslinya akan hilang tak berbekas.

Kalau yang kita miliki adalah kopi yang berharga murah ah biarkan saja, namun alangkah ruginya bila kita membeli kopi yang berharga tinggi namun aroma dan rasanya tak sebanding dengan harganya. Lebih mengenaskan lagi bila itu disebabkan karena ketidak tahuan kita akan tata cara penyimpanan kopi.

15 menit pertama adalah waktu yang dimiliki kopi bubuk untuk mempertahankan aroma aslinya, dalam kondisi kedap udara hanya 1 bulan waktu yang diperlukan kopi bubuk untuk mempertahankan kualitas terbaiknya. Maka cara terbaik menyimpan kopi adalah dengan mempertahankannya dalam kondisi biji, lebih mudah dalam hal penyajian bila biji tersebut sudah dalam keadaan matang (sangrai atau oven) dan menyimpannya dalam wadah kedap udara sehingga waktu yang dimiliki kopi dalam mempertahankan kualitasnya menjadi semakin panjang, setidaknya 6 bulan kedepan kopi masih dalam keadaan fresh. Siap digiling untuk langsung diseduh saat itu juga, kopi yang diseduh dalam keadaan fresh memiliki ciri akan mengeluarkan busa dengan sendirinya tanpa harus dishake atau di blender.
vietnamesse drip
Ada banyak cara menikmati kopi, yang paling popular adalah dengan di espresso, namun sayangnya espresso bagi sebagian orang adalah cara yang tak terjangkau karena mahalnya mesin espresso. Sehingga pilihan untuk menyeduhnya secara konvensional menjadi cara yang murah untuk dilakukan sambil dishake di dalam sebuah termos antipanas, jadilah espresso sederhana tanpa menggunakan mesin. Bila anda menyukai komposisi kopi yang ringan anda bisa mencoba cara dengan teknik Vietnam drip atau French press, tetap menggunakan alat namun masih sangat terjangkau bagi penikmat kopi kebanyakan. Hasil diberikan dengan cara ini adalah kopi dengan komposisi ringan tidak terlalu kental namun masih menyimpan rasa dan aroma kopi yang nikmat.
french press
Masih banyak cara mengolah kopi yang ada dibelahan dunia ini, 3 diantaranya diatas adalah yang pernah saya lakukan untuk mendapatkan cara pengolahan kopi yang nikmat. Neapolitan, cold water, vacuum, percolator, Turkish adalah beberapa cara dalam pengolahan kopi yang dilakukan namun saya belum pernah mencobanya. Yang tak kalah penting dari cara pengolahan juga komposisi yang dicampurkan di dalam penyeduhan kopi. Ini lebih personal lagi, karena lidah setiap orang berbeda, selera setiap orang sangat berbeda bahkan rasa dan aroma dari jenis kopi juga menjadi alasan pemilihan kopi.

Bagi saya kopi adalah cara menikmati rasa, sehingga merusaknya dengan menambahkan banyak gula adalah cara yang paling dibenci lidah saya. Saya sering menambahkan bubuk kayu manis atau jahe merah ke dalam seduhan kopi saya, dan sedikit garam untuk mengurangi kepahitan rasanya. Ini adalah cara saya tidak harus sama dengan penikmat kopi yang lain. Karena menikmati kopi adalah personal bagi masing masing pecintanya. Dan cara saya diatas sangat cocok dengan aroma dan rasa kopi Toraja Kalosi yang disangrai dengan kematangan medium (medium roast).

Mari kita nikmati pagi dengan secangkir kopi seduhan kita sendiri, mate!

Classic, vintage, retro, oldschool, kuno dan banyak lagi sebutan-sebutan yang disematkan untuk beberapa hal yang memang sudah tertinggal oleh zaman keemasannya. Bukan hanya dalam bentuk barang, bisa juga style, gaya hidup, cara berbicara, cara beradaptasi, dengan siapa bergaul adalah salah satu pilihan. Beberapa rekan menyebutkan diriku salah satunya yang snagat menggemari segala hal diera keemasannya yang pasti era keemasan yang sudah ada sejak sebelum diriku dilahirkan.

Entah memang ada yang mempengaruhi atau memang aku menyukainya namun menggunakan barang-barang yang sudah tertinggal zamannya itu memberikan sebuah kepercayaan diri tersendiri bagi beberapa orang termasuk diriku. Dimulai dari sejak ketika ku duduk di sekolah menengah pertama kala itu, ketika setiap anak berapakaian layaknya zaman itu, dengan celana jeans, t-shirt ketat membentuk lekuk tubuh, model rambut yang mulai memberikan jalur pemilahan tepat ditengah tengah kepala. Seidkit menutup mata khas gayanya Fariz RM. Aku tak bergeming dengan tatanan rambut klimis yang masih terbelah disamping kepala tersisir rapi kesamping satunya.

Ibuku adalah seorang guru namun diwaktu luangnya beliau adalah seorang designer pakaian yang mahir (suatu saat aku ingin bercerita tentang ibuku yang multitasking ini,semoga ingat…) sehingga sangat mudah bagiku untuk meminta baju yang sesuai dengan keinginanku baik model ataupun ukurannya. Tak urung aku minta dibuatkan celana kain dengan motif kotak dan model cutbray, kemeja dengan kantong menonhjol di dua sisi bagian dada, dan bagian kerah yang lebar dan besar (kalau anda biasa nonton video clipnya the cangcuters anda mesti faham). Tentu saja hall itu mengudbnang perhatian ketika setelan retro itu kupakai ketika ada kegiatan disekolah atau ketika ku mengikuti les privat kala itu. Model pakaian itu sudah tertinggal zamannya namun aku tak malu memakainya dan jadi bahan ejekan. Who cares! Pikirku….

Ketika aku masuk Sekolah Menengah Atas, kegilaanku akan hal-hal yang ditinggalkan zamannya mulai berkurang, hanya saja masih ada satu hal yang menempel yang mengindikasikan kecintaanku kepada vintage things masih ada. Ketika itu sepeda gunung yang pertama masuk dan dikenal dilingkunganku adalah sepeda gunung merk Federal, dan semua ingin menggunakannya. Tua, muda, laki-laki, perempuan berlomba memakainya. Bagi kalangan menengah bawah menggunakan sepeda federal adalah salah satu indicator kemapanan, karena harganya yang sedikit diatas rata-rata sepeda biasanya. Bagi orang tuaku yang hanya seorang guru, sepeda federal itu adalah barang tersier yang tak begitu mendesak untuk dimiliki. Di lain sisi jarak rumah dan sekolahku tergolong lumayan jauh, 8 Kilometer dan 16 Kilometer Pulang pergi. Belum kalau sorenya ada les private atau ekskul sepakbola dan bola basket yang kugandrungi.

Dengan sedikit berat kumintakan dana untuk memiliki sebuah sepeda, namun kusampaikan bahwa aku tak menginginkan sepeda federal. Selang beberapa hari kubawa pulang sebuah sepeda onthel merk phoenix yang masih menggunakan teknologi pengereman system torpedo, untuk mengikuti selera anak muda kuberi warna cat biru metalik sehingga meskipun tua terkesan retro, sekali lagi aku menjadi bahan tertawan dan pergunjingan. Namun siapa sangka kini sepeda mdoel ini malah menjadi tren di kalangan terbatas, sepeda yang dulu kutebus dengan harga Rp.58.000 itu sekarang harganya sudah jutaan.

Ternyata hingga kini kegemaranku akan barang-barang yang tertinggal oleh zamannya ini semakin menjadi, beberapa barang yang kumiliki hampir semua adalah barang barang yang telah melewati masa jayanya. Bahkan beberapa musik yang kudengar adalah musik dari penyanyi dan band yang tenar ketika bapakku masih muda dulu. Hingga semalam aku kembali terhenyak dan menikmati sebuah film yang bertemakan pertentangan antar Ras yang telah kutonton berulang ulang dan tak pernah membuatku bosan. Denzel Washington memerankan sebagai coach Herman Boone dalam ‘Remember The Titans’.

Ini hanya masalah minat, namun yakin bahwa oldiest never die..!

Pernah suatu kali ku tulis sebuah status di Social Media, yang ternyata mendapat respon yang lumayan banyak. Baik respon serius, atau hanya respon bercanda dan berhaha hihi ria. Namun yang pasti kalimat pendek itu memang bernada canda, sedikit nakal namun memiliki makna yang dalam.

‘Dengan senyum, yang berwajah tak rupawan pun terlihat mempesona.’

Tak urung yang member respon adalah barisan yang menggolongkan dirinya dalam kategori jelek. Namun dengan status itu senyum akan selalu mengembang dan yang pasti termasuk si penulis status terlihat lebih mempesona. Mempesona atau rupawan bukanlah tentang perkara membandingkan, namun lebih kepada kepercayaan diri. Kepercayaan diri tidak melulu masalah wajah, penampilan, pembawaan, kharisma adalah beberapa faktor yang bisa mempengaruhi agar seseorang terlihat mempesona atau rupawan.

Pepatah pernah berkata ‘don’t judge a book by it’s cover’ tepat sebenarnya untuk konteks penilaian pribadi. Dalam konteks first sight, ntuh pepatah ga berlaku, sebab ‘kesan pertama adalah segalanya, selanjutnya terserah anda….’ Disinilah momen dimana otak kanan berimajinasi tentang seseorang yang memberikan kesan pertama itu. Dan kepercayaan diri memegang peranan penting dalam menampilkan hal yang disebut kean pertama itu.

Bagaimana dengan faktor non teknis yang tak melekat di pribadi, contohnya pakaian?Pakaian memiliki peran yang tak terbantahkan dalam memberikan kesan, baik itu kesan yang sesungguhnya atau kesan yang menipu. Yang pasti pakaian adalah image pertama yang direkam oleh orang lain dalam menilai ‘daleman’ di empunya pakaian.

Pakaian tidak hanya sebagai sandang, tak hanya selembar kain untuk menutup tubuh. Pakaian sudah naik kasta menjadi penentu status, trend setter, bahkan pengecoh pandangan. Sejak jaman dulu terlihat bedanya siapa raja siapa hamba, siapa panglima dan siapa prajurit. Kasta di era jaman kerajaan salah satunya ditentukan dengan pakaian yang dikenakannya. Di jaman ini tak jauh beda, atribut kuasa itu juga ditentukan oleh pakaian. Ada beda antara penguasa dan rakyat jelata memberikan gambaran betapa timpangnya peradaban, namun hebatnya di jaman ini pakaian selain sebagai pembeda antara yang tinggi diawan dan melata dibumi juga memberikan perbedaan mencolok antara si kaya dan si miskin.

Terkadang juga heran dengan apa yang terjadi di kalangan para pesohor, fungsi pakaian sudah melampaui kegunaannya. Mereka menyebutnya fashion, alih alih untuk menutup anggota tubuh, fashion justru memberikan ruang kepada nafsu untuk mengeksplore kevulgarannya. Fashion justru membolak-balikkan fungsi, makna, dan nilai sebuah pakaian. Kepercayaan diri dinilai dari semakin luasnya permukaan tubuh yang ditampakkan. Lah kalau sudah begitu apalagi fungsi pakaian?

Loh, bukannya tadi kutulis, berlebihan ya? Kok malah semakin berkurang jumlah kain yang menutupi tubuhnya? Bingung dibuatnya. Namun setidaknya saya semakin tahu apabila kepercayaan diri itu tumbuh ketika semakin sedikitnya kain yang menutupi badan. Berlebihan itu adalah ketika permukaan kulit dari empunya pakaian semakin tak terlihat.

Belum lagi masalah pengecoh pandangan, pakaian yang transparan yang memperlihatkan seluruh tubuh empunya pakaian. Padahal dia masih berselimut pakaian. Ada juga yang kepercayaan dirinya tumbuh pesat dengan mdoel pakaian seperti itu. Namun yang lebih banyak adalah para empunya pakaian yang melilit tubuhnya dengan pakaian, mereka seperti tidak mengenakan pakaian. Namun hanya melilitnya disekujur tubuhnya, memperlihatkan lekukan disetiap sudutnya. Dengan begitu kepercayaan dirinya tumbuh.

Memang pakaian dan kepercayaan diri dipungkiri atau tidak adalah memeiliki hubungan yang erat yang tak terpisahkan bagi banyak orang. Dengan berpakain yang sesuai model terkini dia merasa bisa masuk ke kalangan manapun tanpa menerima banyak penolakan. Dengan berpakaian sesuai komunitas yang disukainya dia merasa mampu menonjolkan dirinya dan diterima di komunitasnya. Dengan berpakaian tak lazim dia akan terlihat berbeda dan menjadi trend setter bagi orang lain agar meniru apa yang dipakainya.

Namun saya selalu teringat seorang sosok bapak, seorang ustadz, seorang pengusaha, seorang ahli herba yang kemanapun beliau pergi baik keluar negeri atau hanya di dalam negeri beliau hanya membawa dua pasang pakaiannya yang selalu dipakainya dengan percaya diri. Tak peduli di acara apapun, tak peduli di keadaan apapun dua pakaiannya itulah yang selalu ada di dalam tas perjalanannya. Dan itulah kepercayaan diri baginya, tidak dengan beragnti-ganti pakaian apapun model dan kegunaannya.

Kalau saya berpakaian bagaimana?

Syaratnya ya nutup aurat, yah kalaupun terpaksa ya liat sikon. Kalau lagi main futsal yg notabenelaki-laki semua kadang masih curi curi pakai kolor yang ga sampe selutut. Kedua ya berpakaian sesuai kegunaannya, kalau lagi main futsal ya pake pakaian yang sesuai untuk olahraga, kalau lagi kondangan ya pakai pakaian yang rapid an formal, kalau mau ke kantor ya paki kemeja yang sesuai dengan kegunaannya sebagai pekerja. Seperti orang kebanyakan, hanya saja saya terkadang berpakaian juga yang tak biasa hanya untuk melihat apakah masih memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk berbeda. Ternyata memang kepercayaan diri untuk berbeda itu mulai luntur. Pakaianku seperti anda-anda mungkin sama, untuk kegitan casual hanya satu yang tak pernah lepas dan mungkin telah menjadi ciri khasku, my flat cap.

www.singleblackmale.org
Son : I want to be a superhero
Dad : go ahead, wearing your suit!

10 menit kemudian sang anak keluar dari kamarnya menggunakan jas lengkap dengan dasinya, membuat sang ayah heran.

Dad : that’s not a spiderman, your super hero!
Son : I am you daddy!

Adegan percakapan ini menjadi tagline dan screenshot dari serial CSI yang biasa kami tonton bersama di akhir pecan seperti sekarang. Meluangkan waktu bersama anak-anak malah serial detective yang kami sukai. Diantara banyak kegiatan lain, nonton TV di malam hari juga bsia menjadi embelajaran tentunya bila kita memilih tontonan yang bermutu.

Terus terngiang perkataan si anak ketika sang ayah menanyakan superhero apakah yang menjadi idolamu? Si anak menjawab tulus “I am you daddy.” Seseorang pernah berkata bahwa anak-anak adalah urni, mereka belum terkontaminasi oleh kepura-puraan. Ok, itu memang hanya sebuah perang, dan itu hanya sebuah script yang sudah dipersiapkan oleh sang penulis naskah. Tetapi adegan itu touching my heart, I am you daddy!

Ayah adalah sosok yang dibanggakan bagi anak laki-lakinya, dan ayah adalah sosok panutan bagi imajinasi putrinya. Perhatikan seorang anak lelaki ketika dengan tanpa sadar dia mengcopy apapun yang dikerjakan ayahnya, setidaknya aku mendapati pada anak lelakiku. Kemudian perhatikan apa yang diingat oleh anak perempuan akan sosok ayahnya. Ketika anak perempuanku kutanya tentang siapa teman lelakinya yang paling menyenangkan? Dia menjawab spontan, bahwa teman lelaki yang disukainya adalah yang selalu bersikap jujur dan gampang membuatnya tertawa, seperi ayah.

Di dalam 30 juz edisi Alquran, ada banyak sekali kisah hubungan manusia yang diceritakan agar member hikmah dan contoh bagi umat muslim untuk mengikutinya atau bahkan meninggalkannya. Namun perhatikan setiap kisah yang diceritakan Alquran hanya ada isah hubungan antara anak dan bapak. Tak ada satupun kisah yang menceritakan hubungan anak dan ibu meskipun Rasul kita menyebutkan kedudukan ibu 3 kali diatas kedudukan ayah dalam hal jasanya sebagai pembawa ruh bagi sang anak.

Kisah luqman dan anaknya, kisah Ibrahim dan bapaknya, dan kisah ismail dan Ibrahim. Kisah hebat bagaimana pentingnya sosok ayah bagi anak untuk pendidikan generasi kedepannya. Dalam bukunya yang berjudul “Cinta dirumah Hasan Al-Banna “ Hasan Albanna menceritakan bagaimana ayahnya mendidiknya, ayah bagi hasan al banna adalah seperti guru besarnya, mentor hidupnya dan yang lebih hebat ayah bagi Hassan al banna adalah perpustakaan berjalan dimana seharusnya ayah mengetahui segalanya untuk memberian jaminan bahwa setiap pertanyaan didunia ini akan terjawab tuntas. Ayah adalah tonggak ilmu dimana layar dikembangkan. Bagaimana ayah hidup begitulah ilmu diajarkan.

“My father didn't tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.” 
-Clarence Budington Kelland-

arya-devi.blogspot.com
Membaca beberapa blog sambil blogwalking, mengesankan beberapa blog mampu menuliskan tentang prinsip. Baik prinsip hidupnya ataupun prinsip moral yang ada dimasyarakat, prinsip yang seharusnya ada tetapi sudah mulai luntur tergerus zaman. Prinsip sebagai sosok panutan yang mulai hilang ditelan budaya, prinsip sebagai orang tua dalam mendidik generasi. Hingga prinsip-prinsip sepele yang kadang tak terpikirkan tetapi penting untuk diketahui dan menyenangkan untuk di baca. Seperti prinsip menjadi pecundang yang berwibawa, atau menjadi pemenang yang andhap ashor, seperti prinsip bagaimana menyikut rekan sejawat dengan sopan, atau prinsip bagaimana menjadi atasan diktator yang disegani bawahan.

Membicarakan sebuah prinsip sama halnya membicarakan rentang umur seseorang, atau berapa banyak literatur yang telah dibacanya, seberapa hebat tantangan dalam hidup yang telah dilaluinya. Prinsip juga tak pernah bisa ditebak asalnya, yang pasti bila seseorang mencoba berbuat berbeda dari kebanyakan orang maka bisa diindikasikan itu sebuah prinsip. Namun seseorang yang tak mau sarapan pagi bisa juga dia sedang mempertahankan prinsip, atau hanya sedang berusaha diet…hehehe

Saya seorang Buruh Negara berusaha berangkat ke kantor dengan mendahului batas waktu maksimum mesin absen elektronik yang terpampang di pintu masuk, katakan itu prinsip karena saya orang yang berusaha selalu konsisten dengan waktu. Bisa juga saya hanya tak mau kehilangan beberapa rupiah karena pemotongan penghasilan disebabkan terlambat absen.

Saya mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam, meskipun jalanan lengang jarang sekali saya memacu kendaraan hingga melebihi 60 km/jam itu prinsip. Tapi menjadi tidak relevan ketika yang saya kendarai adalah kendaraan roda dua. Ketika jalanan lengang prinsip saya amburadul, itu motor bisa sampe terangkat ban depannya dan entah sudah lewat 100 km/jam atau lebih yang pasti prinsip itu hilang tak berbekas.

Seseorang akan teguh memegang prinsip dalam hidupnya ketika semua faktor mendukung prinsip itu. Setidaknya kebanyakan orang memegang prinsipnya seperti itu. Namun sebagian banyak lagi akan membelot dari prinsipnya sendiri ketika faktor-faktor pendukung itu mulai meninggalkannya. Tak terkecuali orang-orang yang memegang tampuk kuasa atau bahkan makhluk-makhluk dari golongan selebritis sekalipun.

Entah karena publisitas yang mentereng atau memang yang bersangkutan tak sanggup memegang teguh prinsipnya, banyak sekali tokoh yang sebelumnya berbicara lantang tentang prinsip tapi kemudian melanggar sendiri prinsipnya itu. Beberapa artis yang berujar bahwa akting adalah seni peran tentang bagaimana menjadi sosok berbeda di depan kamera namun kembali menjadi diri sendiri di saat yang berbeda, ternyata juga tak sanggup memegang teguh prinsip itu dengan menjadi sosok yang lain lagi di jeruji besi karena berakting sebagai pecandu narkotika.

Atau lebih hebatnya para dalang politik di negeri ini yang berprinsip teguh untuk tidak menggunakan uang sebagai alat kampanye, namun manusia mana yang bisa hidup tanpa uang? Wong orang di pelosok hutan terdalam saja di jaman ini masih butuh uang. Lah ini dengan gagahnya memproklamirkan diri tak pakai uang untuk kampanye. Ya jelas salah memakai prinsip ini, kenyataan dilapangan toh semua hal yang berbau mencantumkan diri dalam segmen pemilih selalu pakai uang, malah tak bisa tak pakai uang. Jadi yang salah money politiknya atau mengambil prinsip tanpa uangnya? Yang pasti rakyat ini sudah bosan di bohongi, lelah digoblogi dan capai di kibuli.

Negeri ini adalah negeri yang berpinsip, mulai ketika para pemudanya mencanangkan prinsip merdeka atau mati dijaman bung tomo mengusir pasukan NICA, hingga prinsip tanahku tanah surga menanam batu pun tumbuh bunga. Tetapi semua prinsip itu hanya akan dipegang teguh ketika semua faktor pendukungnya ada, ketika salah satu atau sebagian besar faktor pendukung prinsip itu hilang maka lambat laun prinsip nya berubah menjadi “apalah untungnya memegang prinsip kalau aku tak dapat bagian”… oh negeriku, negeri elok rupawan subur makmur loh jinawi.