Belum juga reda guyuran air hujan ketika kendaraanku sampai di gerbang depan rumahku, sore hari ketika matahari tak mau menampakkan diri sepanjang hari. Di akhiri dengan hujan teramat deras membasahi setiap ujung mata memandang. Basah seluruh badan, kuyub sepanjang kain yang melekat tanpa jas hujan istri yang kubonceng tak hendak menepikan kendaraan dan member perintah jelas untuk menantang air hujan yang berasa tombak menusuk kulit.

Berhamburan tiga makhluk kecil dari dalam bilik menyambut pelukan, walaupun sekujur tubuh membeku dan basah. Hangat laksana batu es yang terkena sinar mentari pagi, sumringah memandang wajah rindu. Kompak untuk meneriakkan pekikan bahagia demi mengisi baterai kangen setelah sepanjang hari tak bersua dalam canda bahkan tatap muka. Momen seperti itu adalah nutrisi bagi hubungan mutualisme diantara keluarga kecil, keluarga kecil yang tergilas waktunya oleh rutinitas. Dengan dalih mencukupi kebutuhan hidup, memenuhi kebutuhan perut dan kesenangan di akhir minggu.

Hujan semakin beringas menghantam tanah, binatang-binatang semakin semangat berorkestra mengiringinya. Lelah engsel-engsel pintu pagar ini merenggangkan diri untuk mau sedikit terbuka, disudut mata terlihat seorang bapak dan putri kecilnya menari riang dibawah hujan. Dia adalah tetanggaku, yang juga memiliki porsi waktu meninggalkan keluarganya yang sama denganku untuk mencari nafkah. Namun entah di sore ini dia sudah berjingkrak ria bersama putri bungsunya yang belum genap 2 tahun bergembira dibawah hujan. Aku iri melihatnya, aku lupa bahwa putriku juga mengagumi hujan.

Ketika dunia semakin menua, terkadang orang-orang di dalamnya juga semakin lupa dengan ucapannya. Mereka berkata menyukai hujan, namun mereka berteduh ketika hujan menyapa. Mereka berucap bahwa mereka mencintai hujan, namun mereka mengeluh ketika hujan mendatanginya. Tidak bagi 2 generasi di sudut pandangku ini, tawa lebar mereka menandakan betapa mereka bahagia bersama hujan.

Semoga keluarga mereka selalu dilingkupi oleh rahmat yang dibawa sang hujan, semoga kebahagiaan mereka menjamah keluarku, semoga hujan membawa bahagia bagi seluruh alam yang disinggahinya. Semoga seluruh saudaraku menikmati setiap rintik hujan ini.

Saya bersumpah bahwa : Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan | Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya | Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran…….. -Hipocrates-

Hari itu Tercatat sebagai hari dimana semua orang harus sehat, karena pada hari itu sebagian besar dokter sedang mengikuti aksi solidaritas untuk rekan sejawat mereka yang sedang di kriminalisasi oleh pasiennya. Tiga orang dokter ahli melakukan tindakan menyelematkan nyawa seorang pasien yang dalam keadaan kritis yang berujung meninggalnya si pasien. Inilah resiko profesi seorang dokter, tak tanggung-tanggung nyawa taruhannya. Dedikasi mereka terhadap kemanusiaan tak perlu diragukan lagi, namun apa yang terjadi apabila kerabat pasien yang kehilangan nyawanya ini memprotes tindakan para dokter ini, apakah para kerabat ini merasa lebih tahu kemungkinan hidup dari si dokter? Ataukah si dokter merasa lebih berhak menentukan nyawa seseorang daripada malaikat maut? Entah apa juga yang terjadi pada kisaran waktu kejadian yang terjadi pada 2010 hingga vonis datang pada akhir 2013. Interaksi antara kerabat pasien dan si dokter tentu belum terkspose oleh emdia sehingga yang diluar lingkaran kejadian tak begitu faham apa yang menyebabkan pihak kerabat menuntut atas tindakan tiga dokter menghilangkan nyawa pasien kala itu.

Dokter adalah profesi yang mirip guru menurut saya dalam hal tanggung jawab, lebih hebatnya lagi apabila guru hanta bertanggung jawab terhadap moral didikannya. Seorang dokter bertanggung jawab lebih dari itu, bahkan nyawa pasiennya tergantung tindakan yang dilakukannya. Berat? Tentus aja itu adalah resiko profesi yang dijalani bila pun kompnesai dari resiko itu begitu besarnya dalam bentuk materi yang bukan dokter ya jangan iri, tanggung jawabnya besar.

Dalam pandangan saya sebagai pasien beberapa dokter, bagi saya dokter adalah konsultan kesehatan saya. Bila saya diharuskan ke dokter maka niat awal saya bukan untuk sembuh, bukan untuk meminta secarik resep obat. Lebih kepada konsultasi tentang kondisi tubuh, konsultasi mengenai penyakit, konsultasi mengenai solusi menuju sembuh. Karena memang itu yang menjadi tugas pokok seorang dokter disamping harus menyelamatkan nyawa ketika kondisi kritis dan mendesak.

Dokter bagi saya adalah konsultan kesehatan yang saya bayar untuk memberikan masukan dalam penanganan kesehatan saya dan keluarga tentunya. Untuk masalah menjaga sehatnya agar tak sakit lagi ya itu tanggung jawab saya pribadi bukan dokter, maka kenapa apabila ada saran dari dokter yang memberikan resiko sakit lebih besar daripada sehatnya maka itu akan tetap menjadi pertimbangan, bukan berarti harus terdoktrin bahwa setiap saran dokter itu benar. Kita sebagai pasien juga harus tahu tentang kesehatan karena sepertiga ilmu di dalam ilmu dunia ini adalah tentang ilmu kesehatan, setidaknya begitu yang pernah diucapkan ibnu qayyim al jauzi.

Pasien dalam hal ini pasien dan kerabat yang ditangani oleh dokter yang sedang dikriminalisasi ini bisa jadi adalah sebagian kecil pasien yang benar benar belum mengetahui haknya sebagai pasien, sehingga apapun tindakan dokter dia akan pasrah. Apapun…!

Ketika hal buruk terjadi kerabat pasien ini dengan serta merta akan menimpakan seluruh tanggung jawab kepada dokter, padahal tak dipungkiri si pasien ataupun kerabat pasien juga tak mengindahkan tanggung jawabnya sendiri untuk tahu tentang kesehatan atau setidaknya tahu tentang prosedur kesehatan sehingga bila hal buruk terjadi dia tahu harus bagaimana dan tidak hanya menyalahkan dokter sebagai biang kejadian atau menjadikan sebuah kejadian sebagai mal praktek.

Namun sebagai kerabat pasien, saya juga menjadi kelompok pasien yang pernah dikecewakan oleh dokter dalam hal diagnosa sakit, pada tahun 2008 ibu menjalani anastesi pengangkatan tumor ganas yang pada awalnya diperkirakan tak akan menyebar dengan cepat. Sehingga dokter memutuskan untuk mengangkatnya dan 26 hari dari itu karena ibu pun meninggal. Dokter telah melakukan tindakan terbaiknya, kemoterapilah yang telah membunuhnya. Seandianya saat itu aku lebih faham tentang kesehatan tentu aku akan menghindari kemoterapi, namun setiap kejadian tentu saja akan meninggalkan hikmah dibaliknya. Dan tentu saja setiap kematian akan kukembalikan kepada sang pemberi kehidupan.

Sepertiga ilmu yang ditinggalkan kaum muslim itupun kudalami dari dua sisi yang memang bertentangan sejak dulu hingga kini. Medis modern dan medis ketimuran setidaknya walau mempelajari sebagian kecil dari keduanya telah memberikan gambaran jernih tentang kebaikan dan kelemahan dari keduanya. Sehingga apapun keputusanku tentang kesehatan di kemudian hari adalah keputusan yang seadil-adilnya karena telah sedikit kuketahui tentang keduanya. Percayalah bagiku dokter bukanlah kambing hitam karena seorang konsultan bukanlah yang bertanggung jawab terhadap apapun keputusanku.

Di setiap berita kriminalisasi itu hanya ada satu pihak yang terlupakan dan luput dari pemberitaan, yaitu pihak farmasi yang dalam hal ini direpresentasikan oleh administrasi rumah sakit. Tak dipungkiri bahwa rumah sakit itu sendiri adalah lahan bisnis bagi pemiliknya. Rumah sakit adalah representasi dari kartel farmasi dimana asumsi saya mengatakan bahwa logika bisnis mereka sama dengan senjata perang, yaitu “harus ada perang untuk dapat memasarkan senjata mereka”, itu sejalan dengan prinsip dagang para produsen antivirus computer dimana “harus menciptakan ribuan virus agar antivirusnya diterima pasar”.

Harus ada yang sakit agar profuk farmasi mereka dapat dipasarkan dengan lancer, berbagai propaganda diluncurkan namun bagi yang awas dan faham propaganda itu jelas-jelas adalah sebuah strategi perang terhadap kemanusiaan. Bagi yang awas dan faham…..

Masih banyak sekali dokter dokter awas dan faham dengan hal ini dan kemudian menanggalkan dedikasinya terhadap materi dan menggenggam erat dengan gerahamnya ideology tentang kemuliaan seorang dokter. Masih banyak kutemui dokter dokter yang rela materi bukan sebagai titik ketotolan yang harus dikejar namun lebih memilih hidup mulia dengan cita-citanya. Dokter-dokter inilah yang ingin kurangkul, kudekati dan kuhargai keilmuannya, kebijaksanaannya. Dokter-dokter seperti inilah yang menjadi tempat yang tepat tuk mempercayakan tanggung jawab sebagai pemegang sepertiga ilmu dunia……

taekwondo-center.blogspot.com
Di pintu gerbang komplek kami sekarang beralih fungsi, tidak lagi hanya sebatas gerbang masuk komplek. Namun sekarang telah menjadi tempat latihan tae kwon do, beladiri yang berasal dari Korea ini diajarkan oleh salah satu tetangga kami yang memang bergelar sabuk hitam di cabang beladiri Tae kwon do ini. Mungkin selain menularkan olah raga si bapak senseii ini juga berusaha menambah penghasilan dengan membuka kelas untuk anak-anak. Tak ada salahnya kalau anak-anak mendapatkan kegiatan yang bermanfaat dan juga keringat untuk menyalurkan energy berlebihnya. Tae Kwon do menjadi salah satu solusi, namun karena ini baru dirintis dan hanya menerima pendaftaran anak-anak para penghuni komplek jadilah dojo latihannya adalah halaman pintu gerbang komplek kami yang memang dasarnya yang berpafing blok rata dan halus, namun tetap saja itu bukan matras. Toh tae kwon do bukan aliran semacam jiu jit su yang lebih banyak groundingnya.

Tak pelak anak lelaki pun tertarik, setiap lewat pintu gerbang dia duduk sambil menonton teman-teman sebayanya yang berlatih hingga berkeringat-keringat dan berkotor-kotor ria. Namun ketika kutanyakan kepadanya tentang ketertarikannya dia selalu menggeleng. Sepertinya dia tak tertarik dengan bela diri satu ini, atau dia tak suka dengan tempat latihannya, atau dia tak suka dengan sensei nya, atau ada salah satu teman yang tak disukainya sedang berlatih juga, entah…. Dia hanya menggeleng tanpa kutahu sebabnya.

Tanpa mengindahkan ketidak tertarikan anakku melihat latihan itu, setiap minggu pagi dojo dadakan itu selalu buka dan tak pernah berhenti latihan. Hanya saja ada yang membuatku berfikir keras dengan pola latihan yang diterapkan oleh si senseinya. Latihan Tae Kwon do itu berjalan belumlah genap tiga bulan, namun beberapa anak-anak disitu kuperhatikan sudah memiliki sabuk warna-warni. Ada yang hijau ada yang kuning yang apsti putih adalah sabuk kebanggan bagi para pemula. Tiga bulan dan anak-anak ini sudah memiliki tingkatan sabuk yang lebih tinggi dari pemula.

Entah ada perbedaan metodologi di dalam Tae Kwon Do atau tidak bila dibandingkan dengan Karate, yang selalu menjadi buah pikiranku adalah. Dalam tiga bulan apakah tubuh mereka sudah mampu menerima pukulan? Karate adalah satu-satunya beladiri yang dulu kugeluti, walau awalnya hanya mengikuti ajakan seorang teman namun pada prosesnya aku menemukan nilai yang berbeda dalam beladiri. Nilai yang sangat mungkin untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tentang kehidupan, tentang kasih sayang, tentang pengendalian diri dan yang terakhir tentang kerendahan diri. Hanya saja aku tak mempelajarinya hingga tammat, karena orang tuaku menginginkan diriku lebih mendalami akademis sehingga demi sekolah latihan beladiri kutinggalkan pada tahap Aiobi pada tingkatan Kyu 4. Kini hanya tinggal sisa-sisa otot yang kumiliki bahkan push up 10 kali saja sudah membuat ototku seperti terbakar.

Tujuan latihan awal yang lama pada beladiri adalah untuk membentuk otot, sehingga akan lebih tahan pukul, tahan banting dan lebih mampu menerima setiap pukulan tanpa kerusakan pada bagian dalam. Butuh sekurangnya 6 bulan untuk membentuk tubuh yang atletis, fisik yang prima dan otot yang tahan pukul, sehingga ketika suatu ketika tubuh ini menerima pukulan otot-otot yang terlatih akan melindungi bagian dalam tubuh. Namun dengan tiga bulan apakah mungkin tubuh mungil itu sanggup menerima pukulan? Rasanya kok ya saya sendiri ragu. Dan ini sepertinya tidak hanya terjadi pada Dojo dadakan di depan pintu gerbang komplek kami, dibanyak dojo yang kutemui hampir sama kejadiannya. Anak-anak yang baru bergabung hanya dalam beberapa bulan sudah berganti sabuk/obi. Entah memang ini metode yang lebih modern atau memang para sensei modern ini sudah tak lagi memperhatikan kekuatan tubuh. Bisa jadi dojo-dojo yang berdiri di kalangan masyarakat akhir-akhir ini adalah Dojo yang membentuk atlit beladiri, bukan personal yang mendalami beladiri.

Berlawanan dengan itu perhatikan para siswa IPDN yang digembleng dengan pendidikan semi militer plus tendangan dan pukulan yang tak manusiawi yang akhirnya menimbulkan korban baik yang diekspose atau tidak. Bandingkang dengan pendidikan militer penuh yang lebih sadis dan memang difungsikan untuk membentuk tubuh yang memiliki endurance luar biasa. Hebatnya dengan tingkat penderitaan yang lebih berat pada para tentara dibandingkan dengan siswa IPDN justru hampir tak pernah kita temui pemberitaan yang menyebutkan seorang tentara tewas dalam latihan.

Pembentukan otot di awal proses latihan adalah kunci dalam ketahanan tubuh menerima kondisi yang super berat, bila proses ini tak dijalani siap-siap tubuh akan colaps. Atau menjalaninya dalam waktu singkat, karena proses pembentukan otot ini  bersinergi lurus dengan waktu, semakin lama pembentukan otot dijalankan maka semakin tangguh otot-otot ini akan melindungi organ bagian dalam.

Pembentukan tubuh atau otot-otot dalam proses awal beladiri adalah langkah yang sangat penting untuk menambah kekuatan tubuh, menambah power, menambah kecepatan dan kegesitan. Pembentukan otot tubuh ini laksana iman dalam diri manusia, adalah proses membentuk pondasi dalam mengarungi hidup. Bila pondasi iman ini lemah maka alangkah lemahnya tubuh itu, alangkah lambatnya kehidupan yang akan dilaluinya. Maka kenapa diriku begitu ketat dalam membentuk karakter anak-anakku, semakin lama pembentukan karakter itu maka akan semakin melekat bekas yang ditinggalkannya, semakin berkarat dan akan semakin teringat hingga akhir hidupnya. Karena apabila proses ini terlewati entah akan meniru karakter siapa kelak dia!

http://jemepga.blogspot.com
Gunung Dempo adalah satu-satunya gunung yang pernah kutaklukkan, dibilang Pecinta Alam sepertinya bukan. Hanya waktu itu statusku masih bujangan sehingga masih tersisa banyak waktu luang dan masa menemukan jati diri, syukurnya aku dapat bertemu teman-teman yang bisa mengarahkan ke kegiatan yang positif. Pendakian gunung salah satu contohnya, tidak muluk keinginan waktu itu hanya ingin merasakan bagaimana pencapaian sebuah goal dengan effort yang luar biasa.

Boleh di bilang Gunung Dempo yang terletak di perbatasan Sumatera Selatan dan Bengkulu adalah salah satu pegunungan yang masih jarang didaki sehingga masih bisa ditemui pohon-pohon yang teramat besar, spesies yang ukurannya lebih besar dari hutan lain yang ada di pulau jawa. Bahkan apabila beruntung bisa bertemu dengan babi hutan dan harimau liar. Alhamdulillah waktu itu yang kutemui hanyalah babi liar tak sampai bertemu si raja rimba.

Pegunungan yang salah satu puncaknya memiliki ketinggian 3.159 mdpl sedikit lebih rendah dari semeru. Dikelilingi oleh pegunungan yang menjadi sambungan dari pegunungan Bukit Barisan, Gunung Dempo terlihat menjulang di tengah-tengah perbukitan. Ditambah puncaknya yang memiliki kaldera tandanya gunung ini pernah meletus menambah keindahan yang ada dipuncaknya dengan kawah yang tertutup air belerang memungkinkan warna air yang berubah ubah.

Salah satu keindahan yang pernah disajikan Tuhan kepada mataku dalam hidupku. Bersama dengan 9 orang trainee untuk melakukan kegiatan diklatsar dan 5 orang pembimbing dan trainer kami digiring dibeberapa titik untuk melakukan test terakhir dalam rangkaian kegiatan untuk mendapatkan sertifikat trainer. Survival test yang harus kami jalani dimana kami di bagi menjadi 3 kelompok yang masing masing berisi 3 orang dan disebar diseluruh hutan selama 3 hari dengan peralatan seadanya dan hanya dibekali garam, sebuah golok dan sebuah kuali.

Kenangan yang selalu kuingat hingga kini dari kegiatan itu adalah ketika seorang teman dengan PDnya mencoba memberikan ide untuk membuat semacam kolak yang bahannya dari sebuah pohon sagu yang kala itu terlihat sudah hendak tumbang. Sehari tadi kegiatan berburu kita gagal, disebabkan bukan tidak adanya hewan buruan namun lebih karena ketidak lihaian kita dalam menuntaskan setiap perburuan. Walhasil hingga sore menjelang tak ada protein yuang kami dapatkan. Sehingga ide untuk mengolah pohon sagu itu pun datang, kami tumbuk kayunya, kami sadap air tandannya yang berasa agak manis. Kami olah hingga jadilah sebuah masakan ala kadarnya berasa manis dengan gumpalan sagu dan air dari tandannya yang terasa manis. Mungkin lebih mirip kolak sagu, namun lumayan mampu membuat perut kami tidak konser hingga pagi menjelang.

Masakan buatan teman yang hanya berbahan seadanya dan cara memasak yang ala kadarnya tanpa diduga meninggalkan rasa nikmat dilidah. Dengan hawa yang dingin menusuk tulang diawal malam itu kami bertiga menikmati kolak sagu. Entah apa yang membuatnya nikmat, apakah memang karena lidahku tak pernah merasakan sagu sehingga sagu ini terasa nikmat? entah karena hawa dingin pegunungan yang menyebabkan masakan apa saja asalkan masih hangat jadi lebih nikmat? Atau karena kami memakannya bersamaan di dalam satu wadah kuali yang memang diperbolehkan kami bawa? Yang pasti kesan nikmat itu begitu membekas.

hingga suatu ketika, aku teringat kenangan itu dan meminta istriku untuk mencarikan tepung sagu dan gula aren. Aku ingin mengolah kembali masakan temanku itu, aku ingin mengingat kembali kenangan diatas gunung itu melalui masakan yang begitu membekas kenikmatannya di lidah. Setelah semua tersedia, mulailah kuracik bahan-bahan itu sama persis dengan apa yang dibuat temanku diatas gunung itu, istri dan anak-anakku dengan sabar menunggu bapaknya selesai masak. Sambil penasaran apa yang dimasak bapaknya, mereka membantu sesekali.

Setelah kurasa aromanya sesuai dengan apa yang terbayangkan dikepalaku, kuangkat hasil masakan itu, si kecil sudah tak sabar melihat penampilan kolak sagu ala pegunungan itu. Istriku pun mencoba mencicipi, namun melihat raut mukanya sepertinya ada yang salah dengan masakan itu. Benar saja, ketika sesendok kuahnya ku perkenalkan kepada lidahku, masakan itu sama sekali tak senikmat apa yang kubayangkan, resep yang ada dikepalaku sama sekali tak ada yang kuubah bahkan tata cara dan urutan memasukkan bahan-bahannya pun sama persis. Apa yang salah dengan masakanku ini?

Dengan entengnya istri nyeletuk, “yang salah adalah kita tak memakannya dipuncak gunung, mas”. Aku pun tertawa lepas, bisa jadi pikirku. Akhirnya kolak sagu dengan resep kenangan itu tak kami habiskan, karena rasanya yang benar benar gagal disebut masakan. Kami pun mengeluarkan motor butut dan segera mencari pengganti yang sepadan di warung-warung kaki lima.

+++++++++++

Tak ada yang salah dengan resep hidup yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, hanya saja kondisi dan situasi yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia semuanya berbeda. Sehingga mengapa menyamakan antara satu individu dengan individu yang lain itu adalah tindakan yang kurang fair bagi perspektif manusia. Seperti kolak sagu itu, dengan bahan yang sama, resep yang sama, tata cara mengolah yang sama akan memberikan rasa berbeda karena kondisi di pegunungan membuat kolak sagu itu terasa lebih nikmat dibanding ketika berada dirumah dimana apabila kondisi tidak memungkinkan masih banyak pilihan untuk memperbaikinya.

Modal kita sama hanya saja kondisi kita yang membuat kita memiliki rentang perbedaan dalam menuai hasil, Kawan!

Ketika saya masih punya motor bebek prima tahun 91 yg cc nya hanya 80 ituh. tarikan gas udah sekenceng kencengnya, eh becak aja masih bisa nyalip. ego pingin ngejer Honda Tiger apa daya, motor saya kelasnya jangkrik. jadi yang ngalah egonya, tanpa disertai rem mungkin motor ini akan berhenti sendiri.

suatu saat penghasilan saya naik, Alhamdulillah bisa beli motor baru Yamaha Vega, lumayan cc lebih gede 110 cc mesin lebih mau diajak kebut dikit. namun sekebut kebutnya nih motor juga tetep saja tak bisa nyalip GL pro... kecepatan 70 km/jam saja getaran sudah sangat hebat, dengkul sampe linu bukan karena cepatnya motor melaju tetapi karena getarannya yg aduhai. jadi sering sering menggunakan karena kecepatan segitu dah lumayan bikin mata merah. ego terlampiaskan walau sedikit, mau gaya-gayaan juga sudah mirip anak muda.

Kemudian motor berubah menjadi sedikit macho, motor impian yang dulu dimiliki bapak kini saya mampu membelinya, sebuah motor second Honda GL Pro. Kapasitas mesin lumayan agak tinggi 160 cc tentu saja kecepatannya semakin aduhai. mengingat kemampuannya sering saya geber nih motor, memperturutkan ego yang kadang lupa bahwa cc semakin tinggi kecepetan semakin tinggi, maka keinginan untuk menambah kecepatan juga akan semakin tinggi.

Hingga kegemaranku dibuyarkan oleh dikenalkannya diriku dengan sebuah motor tua dgn cc yg lebih tinggi lagi 250 cc pada KBM, kali ini untuk celaka aku hanya membutuhkan untuk menginjak rem disebelah kananku. pada motor dengan cc yg sebesar ini REM bukan lagi alat keselamatan, lebih kepada pembawa celaka bila tak memiliki rem di ego dan nafsu untuk menggebernya.

Kemudian beberapa kali saya dikenalkan ke beberapa teman yang memiliki motor motor dengan kapasitas mesin lebih besar lagi. 350 cc, 500 cc, 600 cc hingga pada puncaknya saya diijinkan untuk mencoba sebuah kuda besi keluaran amrik dengan kapasitas mesin sebesar 1.200 cc. Harley Davidson Heritage Softail the legendary motorcycle of Amerika.

Sensasi menunggganginya begitu membekas, lain perkara ketika saya sudah berusaha menggebernya di jalanan lurus yang sepi semacam Route 66 di Amrik sono, hanya saja aspalnya tak semulus di sana. Namun tetap saja untuk motor dengan kapasitas mesin sebesar itu memang membutuhkan jalan lurus yang lengang untuk dapat merasakan sensasi kecepatan yang menjadi ciri khasnya. Mungkin bukan lagi rem yang saya butuhkan untuk menghentika kendaraan ini, namun sebuah penghalang beton yang tentus aja semakin tinggi velocity yang disematkan maka semakin rentan juga akan musibah yang sanggup merenggut nyawa.

Apapun kisah cerita diatas saya hanya ingin bilang, bahwa semakin tinggi limit tools yg kita miliki, semakin tak berguna alat keselamatan yang disematkan pada tools itu. karena satu-satunya rem yang kita punya adalah pada ego kita. Itulah kenapa bila dijalanan sering kita temui para pengguna jalan yang menunggangi roda dua memiliki kecenderungan untuk menggeber kendaraannya. Sebab roda dua yang beredar kebanyakan di jalanan negeri ini adalah roda dua dengan Kapasitas mesin kecil namun dengan kapasitas ego yang luar baisa besar tanpa rem yang menyertainya.

Sehingga banyak terjadi musibah yang merenggut nyawa sia-sia dimulai dari ego yang terlalu besar bagi cc motor yang kecil. Dan lebih luar baisanya lagi kampas rem ego yang lebih tipis dari kampas rem kendaraannya. Maka kloplah yang terjadi dijalanan dimana kesadaran berlalu lintas itu begitu rendah. Seperti apa yang pernah diucapkan seorang teman. “seseorang yang tak pernah merasakan kecepatan diatas kendaraan dengan kapasitas mesin besar, sering dilupakan oleh egonya sendiri, bahwa keselamatan bukan tergantung pada rem di roda kendaraannya, namun ada di dalam hatinya.”