Bapak filsuf dunia aristoteles pernah mengatakan”tanpa ide dunia ini akan sunyi” atau yang kata bapak sejarah dunia Herodotus pernah mengemukakan statement, dunia ide hanyalah bayangan dari dunia sesungguhnya yang tidak pernah kita temui sebelumnya.
Namun ada satu pernyataan yang menarik yang bisa ditemui diotak orang gila. Ada sesuatu didunia ini yang mampu dilihat orang lain yang tidak berusaha melihatnya. Dan yang lebih fantastisnya. Disitulah kebenaran itu terletak.
Apa yang tidak ingin dilihat orang justru itulah objek sesungguhnya, dan hanya orang-orang tertentu yang berusaha ingin melihatnya yang dapat melihatnya dengan jelas tanpa tirai.tak banyak orang yang mau berusaha melihat apa yang tak terlihat kebanyakan orang ini. Kejujuran yang tampak samar namun jelas.
Malah lebih banyak yang berusaha acuh dan menganggap dirinya gila padahal itulah kebenaran yang tampak. Acuh terhadap kejujuran acuh terhadap sesuatu yang menurutnya keburukan. Sayang sekali, orang-orang ini telah bermimpi ketika terjaga. Hanya bisa melihat samar padahal semua tersingkap dengan jelas. Bagai melihat objek didalam kabut. Padahal ada angin deras yang menghapus kabut dari matanya.
Ketika berjalan di trotoar tak jarang ada tangan menengadah mengetuk keikhlasan berbagi, seuatu yang akan membuka mata kita betapa dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang lebaih berhak atas harta kita. Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kesempatan apalagi keberuntungan. Ini tentang empati dan simpati, ini tentang keikhlasan dan pengharapan. Ini tentang melihat apa yang tidak ingin dilihat oleh orang lain.
Bukan mata yang bekerja namun hati!

Add to Technorati Favorites

Pernah mendengar sebuah sekolah khusus Maria Montessouri atau lebih dikenal dengan SD,SMP dan SMU Galuh Handayani? kalau anda pernah mendengarnya saya yakin anda akan terkesima bahkan ingins ekali sekolah di sebuah yayasan itu. bukan, bukan karena sepertinya nama itu adalah lebih condong seperti yayasan Kristiani. namun tak lebih karena metode belajar yang diterapkan didalamnya.

Nama Maria Montessouri adalah memang bukan seperti nama kebanyakan warga pribumi dan memang Montessouri ini adalah warga keturunan yang mendirikan sebuah yayasan pendidikan di Indonesia yang diperuntukkan bagi anak-anak yang mememiliki kekurangan daya ingat atau sangat lambat dalam menerima impuls ke otaknya.

Apakah anda tertarik kemudian untuk memasukkan anak anda ke sekolah itu? Ingat sekolah ini berbeda dengan SLB jenis apa saja lho? Sekolah ini bukan mendidik anak dengan cacat yang dideritanya, bukan juga mendidik seorang autis, namun sekolah ini mendidik anak-anak yang kesulitan dalam belajar, kesulitan menerima setiap rangsangan dari pengajar mendidik anak yang lambat dalam berpikir. Maka kenapa disekolah ini diajarkan dengan system SLOW LEARNING.

Metode yang mengedepankan ransgangan-rangsangan positif terhadap otak anak. Tanpa Homework tanpa beban tugas atau dengan model ujian khusus yang tetap mendapat pengakuan negara.

Namun satu yang menjadi syarat agar anda diterima disekolah ini, yaitu anda harus mengakui bahwa anda bodoh baru anda bisa diterima disekolah ini. Aneh kan? Tidak itu bukan aneh. Sebenarnya kebanyakan dari kita adalah orang bodoh sayangnya banyak sekali dari kita yang mengaku ngaku pintar bahkan lebih banyak lagi yang sok pinta tetapi sebenarnya adalah bodoh.

Yah syarat yang sangat mudah namun begitu jelas menentang nafsu dan ego kita. Cukup bahwa kita mengaku bodoh maka kita akan diajari dengan metode slow learning. Disana kita tidak akan dianggap bodoh kita hanya dianggap manusia yang sedang menjalani proses menuju pintar.

Rasulullah pernah bersabda” Mencari ilmu itu adalah kewajiban setiap manusia dimulai dari buaian hingga liang lahat”. Tiada batasan bagi manusia untuk belajar karena patokannya adalah kematian. Kelulusan kita terukur ketika kita sudah meninggal. Kita menjadi pintar ketika setiap pertanyaan malaikat di alam barzah mampu kita jawab semua tanpa gagap atau patah-patah.

Setiap anda adalah bodoh, bila anda protes? Perbaikai lagi niat anda ketika masuk SD, ketika masuk SMP ketika masuk SMU atau bahkan ketika sedang kuliah. Anda melanjutkan sekolah karena anda yakin bahwa anda bodoh oleh karena itu anda butuh sekolah.

Cukup akui saja bahwa anda bodoh maka dengan sukarela sekolah akan menerima anda dan menjadikan anda sedikit lebih pintar.


Add to Technorati Favorites
Merah bagi sebagian orang adalah melambangkan keberanian yang memuncak, merah adalah lambang semangat yang berkobar darah yang bergolak dan puncak dari kemauan yang besar, namun dinegeri in merah adalah kemarahan, merah adalah pemberontakan. Bagi rakyat dinegeri ini merah mungkin lebih tepat sebagai lambang anarchi, kebencian tanpa dasar kemarahan tanpa tanggung jawab. Benarkah? Bukankah sejarah selalu terukir diatas cerita? Dan cerita yang tertulis adalah pertumpahan darah, penggerogotan pengkhianatan dan mementingkan diri sendiri.

Tiada yang tersisa dari peradaban ini selain ketamakan dan keserakahan.pembantaian dan pembunuhan massal sepertinya menjadi pemandangan umum bagi mata hati, bagaimana yang kuat memangsa yang lemah, bagaimana yang kaya menginjak yang miskin, penguasa memperbudak bawahan. Direktur memperkosa hak pekerja, dan para aparat menggali kubur bagi rakyat. Merah itu kepedihan kawan, merah itu gambaran kekalutan negeri ini,merah itu tak lebih baik dari hitamnya matamu. Kawan bangunlah mimpi itu sudah habis! Bahkan tidurmu tak akan pernah nyenyak lagi.


Putih bagiku adalah kesucian, kesucian kehendak, kesucian pikir dan kesucian tindakan. Melambangkan kesadaran dalam menangkap input dan memberikan feedback yang takkalah bersihnya. Itulah putih, layaknya melati yang selalu memikat dengan kesederhanaannya,layaknya kain kafan yang selalu membawa tubuh keliang lahat dalam kepolosan. Putih negeriku adalah kepolosan rakyat dibayang bayang kebrutalan penguasa korup, putih negeriku adalah kebodohan yang pekat dengan bening retina pribuminya. Putih bagi bangsaku adalah jemputan maut dari rasa lapar yang menyengat.


Putih dalam dekapan haribaan lautan, putih dalam selimut awan pegunungan adalah cita-cita yang tak akan pernah pupus,putih zamrud yang terbias dalam haru birunya canda tawa rakyat. Pemerataan yang memberikan kesejahteraan hidup keadilan yang tak berpihak.
Karena putihlah dasar membangun semangat kebangsaan, karena putihlah negeri ini menjadi kebesaran kekuatan yang menyatu dalam kepakan sayap kebebasan.


Negeriku bagimu merah darahku adalah semangat


Dan bagimu putih ragaku demimu bangsaku, untukmu baktiku.

Add to Technorati Favorites
Suatu ketika ada seorang duda yang selalu sakit-sakitan, sang duda memiliki harta kekayaaan yang banyak tanah, sawah, kebun dan 19 ekor sapi. Sang duda memiliki 3 orang anak laki-laki yang akan menjadi pewaris semua harta kekayaannya. Menyadari sakitnya semakin menjadi dan umurnya sudah tidak panjang lagi, sang duda membuat surat warisan dan membagikan seluruh harta kekayaannya kepada 3 orang anaknya.

Sepeninggal sang duda 3 orang anak ini mendapatkan jatah yang adil atas semua harta kekayaannya berupa tanah sawah dan kebun, kecuali perkara terakhir yang membuat pusing ketiga anaknya. 19 ekor sapi. Didalam surat wasiat itu tertulis setengah bagian untuk anak pertama, seperempat bagian untuk anak kedua dan seperlima unuk anak ketiga.
Jadi anak pertama mendapat bagian 19/2 bagian, yaitu 9 setengah bagian.
anak kedua mendapat bagian 19/4 bagian, yaitu 4 tiga perempat bagian
anak ketiga mendapat bagian 19/5 bagian, yaitu 3 seperdelapan bagian.
Tentu hal ini membingungkan ketiganya, karena tidak mungkin memotong-motong sapinya.

Disaat seperti itu ketamakan tiap orang muncul sisulung merasa yang paling berhak sehingga meminta bagiannya digenapkan begitupun anak kedua dan ketiga. Setiap orang tiada yang mau mengalah.

Dilain pihak sang duda memiliki seorang adik yang tak diperhatikannya, begitupun oleh ketiga keponakannya, sang paman sebelum itu hanya diberi seekor sapi yang kurus. Demi mendengar sengketa yang terjadi diantara keponakannya sang paman menjadi iba dan mendatangi ketiga keponakannya. Dan menawarkan bantuan untuk menyelesaikan sengketa itu.

Dengan senang hati ketiga keponakannya menyetujuinya. Dan kemudian menanyakan apa solusi sang paman.
”ambilah sapi kurus punyaku untuk menggenapkan sapi yang akan kalian bagi!” ucap sang paman.
”baiklah paman” ucapa sisulung sebagai juru bicara.
”sekalian paman tolong bagikan bagian kami agar adil”

Kemudian sang paman menambahkan seekor sapinya kepada warisan yang akan dibagi sehingga jumlah sapi menjaid genap 20. kemudian membaginya sesuai warisan dari sang duda.

Akhirnya sisulung mendapat, 20/2 bagian, sisulung mendapat 10 ekor sapi
Anak kedua mendapat, 20/4 bagian, anak kedua mendapat 5 ekor sapi
Anak ketiga mendapat 20/5 bagian, anak ketiga mendapat 4 ekor sapi.

”Sudah adilkan pembagiannya?”ucap sang paman.
”sudah paman, terus satu sapi lagi milik siapa?” tanya sisulung mengingat setelah dibagi ternyata hanya ada 19 ekor sapi.

”1 ekor sapi lagi akan tetap menjadi milikku” ucap sang paman sambil tersenyum.

******
Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Sekali lagi memberi tidak akan membuat si pemberi akan bangkrut. Kebahagiaan memberi adalah lebih besar ketika kita merasa kurang akan sesuatu karena memberi.

Berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita adalah biasa dan normatif, namun berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita itu luar biasa.

Hati yang tergerak untuk berempati kepada sesama adalah wujud hati yang selalu syukur terhadap segala pemberian yang didapat.

-Inspired by : half full half empty-



Add to Technorati Favorites

Seorang guru menanyakan kepada para muridnya “Siapa yang mau masuk surga?” serentak semua muridnya mengacungkan tangannya dengan mantab, kecuali satu muridnya yang duduk di pojok belakang kelas itu. Tak urung hal itu membuat guru tadi heran sekaligus penasaran.

“Apakah gerangan yang terjadi padamu, nak?”

”Tidakkah kau ingin masuk surga?”

”Orang tuaku menyuruhku masuk PNS saja, pak.kata bapak jadi PNS hidupnya bisa enak, terjamin kalau pensiun bisa kaya raya.” ujar si murid dengan polos.

”Nak, masuk surga itu bisa lebih kaya daripada masuk PNS.”

Pola pikir yang terlanjur terbentuk dikalangan masyarakat awam begitu tergambar jelas dalam kelas diatas. Para orang tua jaman sekarang begitu bangga ketika salah satu atau beberapa anaknya bisa menyandang status PNS di pundaknya. Sehingga pola pikir ini terpatri erat di kepala seorang murid yang masih belia. Pola pikir yang terkerucut menyempit dalam tatanan kehidupan yang luas sekali. Sangatlah luas hingga otak ini tak mampu tuk meraupnya satu demi satu.

Nabi terbesar sepanjang jaman pernah memberikan gambaran, Allah itu membagikan rezekinya 90% nya adalah dalam perdagangan atau niaga, sedang yang 10% nya disebarkan di berbagai profesi pekerjaan. Nah bisa dibayangkan kan? Kalau hanya 10% untuk semua profesi la PNS cuman dapat berapa persen. Paling cuman 1%. Masih mau masuk PNS? Ya kalau begitu masuk PNS kemudian masuk surga aja. Maksa kang!

Pemikiran inilah yang diturunkan oleh para orang tua ke generasi penerusnya, bahwa bila sudah berstatus PNS, tinggal ongkang-ongkang kaki aja sudah mendapatkan hidup yang layak, pensiun enak dan mati harta ngga cekak. Kalau pemikiran para generasi muda dulu ketika jaman pak karno seperti ini mungkin sudah amburadul Indonesia. Mungkin tanggal 28 Oktober tidak akan pernah menjadi hari sumpah pemuda. Mungkin proklamasi yang didengungkan pak karno hanya angan belaka. Mungkin apa yang pernah dibilang pak karno adalah hanya bualan. Tahu apa yang pernah dibilang pak karno? “ bahwa hanya dengan 100 pemuda, mereka bisa memindahkan gunung”. Kekuatan pemuda itu luar biasa. Generasi muda itu adalah akar perjuangan. Bahan bakar semangat, buih-buih yang menghiasi ombak sejarah.

Namun sayang generasi muda masa kini begitu mudahnya dicekoki dengan racun narkotik, sehingga otak-otaknya tumpul tak lebih seperti zombie yang berjalan tanpa otak tanpa perasaan.Pemuda generasi sekarang begitu puasnya dengan atribut yang bukan jati diri mereka.

Pemuda dipundakmu digantungkan cita-cita, pemuda kemana arah negara ini berjalan di tangamulah kendali diserahkan. Pemuda jangan hanya lantang ketika kau ada dibawah namun berazzamlah dengan semangat ketika amanah telah kau pegang.



Add to Technorati Favorites