Tak bisa dipungkiri jaman ini adalah jaman anak anak kita. Bukan lagi jaman para orang tua. Setiap jaman berganti penerusnyalah yang akan mengisi dan menikmatinya. Dan perkembangan daya pikir, daya tangkap, reaksi dan penalaran setiap generasi akan terus semakin sempurna.

Lihat anak-anak kita, Romiz bungsu saya diumurnya yang belum genap 2 tahun sudah mampu memencet HP menemukan kontak dan kemudian memencet tombol dial. Perhatikan anak-anak tetangga kita, suatu hari si ghifar anak tetangga main dirumah, umurnya pun belum genap 5 tahun, dengan gaya belajar anak jaman ini dia tidak asing lagi dengan namanya komputer, dipencetnya tombol start, tekan enter ketika masuk window dan mencari game kesukaannya. Memasang joystick dan selang beberapa menit sudah asyik dengan komputernya.

Anak jaman sekarang jangan samakan dengan kita dulu yang puas dengan hanya dibekali gundu dan ketapel. HP, komputer, Playstation, X-Box, Nintendo, Televisi, Video player hingga Internet bukanlah hal asing bagi mereka. Bahkan operasional pemakaiannya pun sudah tak canggung bagi mereka.

Era layar dan komunikasi yang berkembang sangat pesatnya seperti sekarang ini bukan tidak mungkin dibarengi dengan berkembangnya hal negatif yang menyertainya. Bagi anak-anak jaman sekarang yang sudah terlanjur dekat dengan teknologi tersebut, hal negatif itu jarang mereka sadari. Bahaya negatif yang kemudian akan berubah menjadi laten dan tertanam permanen dalam memory dan ingatan mereka adalah faktor paling dominan dalam kehancuran mental dan psikis generasi berikutnya.

Kalau generasi kita tanpa pendamping dan arahan menghadapi era layar dan komunikasi ini dengan acuhnya apa yang terjadi? Lihat DVD/VCD porno yang telah beredar luas, bahkan dengan 3.000 perak seorang anak sd kelas 1 sudah bisa mendapatkannya? Ternyata dibeberapa game Playstation yang ada dipasaran ada adegan mesum yang sebenarnya bukan konsumsi anak-anak. Lihat dikomik yang banyak beredar dipasaran, hentai jepang yang menipu padahal muatan didalamnya penuh dengan kekerasan dan seksualitas. Bahkan akses tuk mendapatkannya sangatlah mudah, bahkan harga pun bukan kendala tuk mengkonsumsinya. Apalah jadi generasi yang hidup pada jaman yang vulgar dan gagap iman dan takwa? Ditambah media yang menjadi fasilitas mereka adalah jembatan tanpa timbangan yang melancarkan segala cara tuk mengaksesnya.

Orang tua? Lingkungan? Media? Persentase mereka menjadi melambung sangat pesat dalam hal pendidikan anak ini. Namun apa yang terjadi?

Para orang tua sibuk menumpuk harta sebagai dalih menyejahterakan keluarga, padahal tanpa mereka sadari orang tahu stereotype seperti itu malah menjadi batu loncatan bagi hancurnya akhlak generasi selanjutnya. Mereka lupa perhatian dan bimbingan adalah faktor utama dalam mendidik moral dan iman generasinya.

Lingkungan sangatlah menunjang dalam pendidikan spiritual maupun sosial dalam memahat pribadi generasi pilihan, lingkungan bersih akan menciptakan generasi unggul dengan intelektual tinggi dan spiritual kejiwaan yang tahan banting. Lingkungan yang kotor jangan harap akan menghadirkan sosok pemikir jitu dan seorang pengkhotbah Masjid. Ada yang pernah berkata
” lingkungan akan menciptakan habitatnya sendiri, dan interaksi antar individu dalam lingkungan itulah pembentuknya.”
jadi pribadi yang bersih walau dengan segala dalih bahwa dia bersih namun bila hidup dan berbaur dalam lingkungan yang kotor lambat laun akan ikut kotor.

Terakhir media, sejak reformasi dihembuskan media menjadi seperti hutan rimba tanpa raja, yang ada adalah hukum rimba. Siapa berkuasa dialah pemenang, siapa paling kuat dialah pemangsa, siapa paling dominan dialah mata rantai tertinggi, siapa bisa memonopoli dialah penentu kebijakan. Dan tak bisa dipungkiri kitalah korbannya. Konsumen lah alatnya, bagaimana didikan kita menjadi mlempem ketika anak-anak menghadapi media. Kekerasan. Seksualitas, pergaulan bebas, trend hidup barat. Semua malah menjauhkan anak-anak kita dari jati diri mereka. Krisis percaya diri bermula dari brainwash media. Kekerasan berawal dari hipnotis media. Bagaimana banyak terjadi pembangkangan budaya berawal dari tontonan yang menjebak fikiran generasi kita.

Orang tua seperti apa kita?
Lingkungan seperti apa yang kita suguhkan kepada anak-anak kita?
Media seperti apa yang menjadi bacaan dan tontonan anak-anak kita?

Hanya anda yang bisa menjawabnya.



Segalanya bermula dari kata, tulis seorang penyair. ”kita percaya pada Tuhan pun karena kata-kata.” begitu selanjutnya. Memang, barangkali ada benarnya, jika dikatakan bahwa “kata” merupakan awal dari setiap gerak manusia. Orang sering menyebut ”kata” sebagai abstraksi dari kenyataan gerak yang diragakan oleh makhluk manusia. Dengan ”kata”, bisa dilakukan komunikasi, diketahui pikiran orang perorang, disingkap makna-makna yang implisit dan eksplisit, serta simbol komunikasi lainnya.

Kata adalah bunga atau hasil yang dimampatkan oleh lidah dalam makna dan arti. Wujud konkrit dari gugusan ide yang ada dikepala. Kalau ada seoarang anak yang belum genap 5 tahun ketika mengutarakan keinginannya, akan berusaha sebisa mungkin memakai kata-kata, meski dengan terbata-bata. Dipasar orang tawar-menawar harga, dimasjid khotib sedang menyampaikan khotbah. Disekolah guru mengajar, semua menjadi mungkin dengan ”kata”

Lemparkan sebuah kerikil diluasnya danau, niscaya gelombang akan terjadi. Mempengaruhi tenangnya danau dengan riak yang melingkar semakin lama semakin menjauh dan kemudian menghilang. Namun yang perlu diingat danau yang memiliki kehidupan didalamnya adalah danau yang selalu dihiasi dengan riak. Begitupun kata, sampaikan kata yang keluar dari dalam hati dengan simpati, maka keberadaan pemilik akan dinanti.

Himpunan waktu dan hidup ini selaras dengan jumlah kata yang pernah dikeluarkan, peradaban dan sejarah terukir melalui kata yang diimplementasikan dalam tulisan. Kata bagaikan anak sungai yang sedang menuju hilir, mengalir bersama dengan muatan-muatan yang ada didalamnya.

Maka camkanlah peradaban manusia terukir diatas setiap kata yang keluar dari lidah, berhati-hatilah dengan kata!



Hari Rabu siang adindaku yang kata ibu dulu kayak arimbi baru mentas dari kali, ngirimin sebuag sms singkat, lah piye tho sms ya mesti singkat kok ya ada sms singkat? Maksudnya itu kalau biasanya sms dari istri puanjang-puanjang, sejak tak godaian dia ngga pernah romantis. Malah balesannya ngirim sms yang intinya cuman secuil bisa sepanjang sungai. Nah kali ini ngga biasanya sms nya suingkat padat jelas dan bikin berbunga-bunga. Gimana ngga isinya ”mas, tak beliin Ketika Cinta Bertasbih 2 dibaca ya?”. wah girangnya ngga ketulungan sampai-sampai pingin cepet pulang padahal jam dinding baru saja berdetak 2 kali.

4 hari lagi libur, membuat setiap sendi ini menjadi malas tuk bergerak, namun tak kubiarkan itu terjadi dalam 4 hari harus kususun agenda tuk mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat paling ngga untuk lebih menyenangkan keluargaku. Kumulai dengan hari pertama, dapur tempat cucian dan atap belakang harus butuh diperhatikan. Jadilah 1 hari penuh di hari kamis mbenerin atap belakang yang hanya terbuat dari asbes dan diselingi terpal panjang karena memang masih belum sanggup menjadikannya plafon dan genteng. Lah mau gimana lagi namun masih syukur tembok yang mengelilinginya tinggi jadi si arimbi mau nekat buka jilbab dibelakang juga ndak akan kelihatan dari luar.

Hari pertama libur atap beres, sama dapur yang kelihatan berantakan tak rapikan, membuat longgar ruangan yang kelihatan sempit, selonggar senyum indah di bibir istriku. Ashar sudah terdengar sempatin dulu ngadep yang punya waktu dan yang ngasih kesempatan hidup. Jam 4 kopi anget udah tersedia, fidza udah minta diajakin jalan-jalan sore, ya sekalian bundanya to buat pemberat boncengan belakang agar bila kena lubang ndak mendal-mendal. Ya kalau gitu sekalian romiznya, biar jangkep depan 2 belakang 2. jalan-jalan sore udah jadi kebiasaan fidza. Makanya tiap sore menjelang dia akan minta diajak keliling komplek dan belakang bukit. Memang komplek rumah ada disekitar perbukitan. Dulu katanya disini masih hutan dan bukitnya masih banyak pohon besar, namun kini sudah banyak perumahan namun tanpa merubah kontur tanah yang masih berbukit dan banyak pohon pelindungnya. Jadi kelihatan masih asri dan hijau. Hari pertama libur ini kudapat makna cinta dalam 2 versi,

pertama cinta akan berbunga ketika kukorbankan segenap tenaga dan pikiran tuk membuatnya tetap harum dalam setiap sruputan kopiku.


Dan kedua cinta itu seperti angin yang menerpa wajahku ketika putri kecilku duduk dipangkuanku dan istriku menggelayut mesra dibelakangku diatas motor bututku sambil bercanda ria.


Karena keringat terforsir seharian, yang biasanya hanya duduk tenang dikantor yang kerja cuman otak sama jari. Hari ini sekalian olah raga yang kerja seluruh badan otak dan okol dipakai, dan hasilnya dapur belakang jadi lebih teduh dan lebih longgar.

Hari Jumat menjelang matahari agak mendung, dan tak disangka memang hujan akan turun, namun hanya gerimis. Hujan tapi masih ada panas. Jadinya suasana gerah karena hawa lembab. Dan agenda hari Jum`at seperti telah disepakati adalah gardening, weh ini salah satu kegiatan favorut keluarga dalam mengisi liburan.

Hampir seluruhnya kotor dengan tanah dan lumpur kalau hari berkebun telah dicanangkan. Mungkin hanya romiz yang masih 3 bulan yang ngga ikutan. Alangkah senangnya fidza bermain dengan lumpur dan air, malah ikutan hujan-hujanan. Dimulai dengan membersihkan jalur air didepan pagar disamping kiri kanan jalan didepan rumah kami. Rumput dan bebatuan kami singkirkan. Kami ganti dengan tanaman pot yang selama ini kurang terawat yang ada didalam pagar. Halaman paling depan luar pagar depan rumah kami tak urung berubah menjadi sejuk dan rindang. Ketika kami ganti dengan pohon sawo kecik, jambu klutuk dan matoa. Nah ini buah matoa ini yang jarang orang tahu makanya tak tanem didepan biar nanti kalau berbuah semua orang bisa merasakan legitnya. Dan taman utama kami yang tepat didepan kamar utama yang menjadi sudut favorit saya dalam membaca.

Duduk didalam jendela, menghadap taman yang hijau. Wah bisa lupa makan lupa tidur. Taman itu saya sulap menjadi seperti taman gantung babilonia. Lah emang saya pernah liat apa ya? Dibagian tanahnya tak bersihin hingga ke akar-akar tanaman kemudian telpon teman yang punya usaha nursery, dan minta kirimin rumput manila. Dan tak berapa lama dengan transaksi pertemanan rumput manila telah terpasang rapi di setiap penjuru taman yang masih terlihat tanahnya. Kini telah tertutup rumput kerdil itu. Di 3 sudutnya saya bangun semacam 3 pasak sebesar pohon kelapa dewasa. Untuk naruh 3 buah bonsai adenium yang telah matang dan siap dipajang didalam pot keramik berukir bunga. Berwarna tembaga pesanan istri.

Ketika melihat ada bambu teronggok dipojokan rumah otak berpikir bagusnya buat apa ya? Tak menunggu lama istri terinspirasi dengan pohon anggur yang mulai besar di pojokan rumah. Jadilah kubuat bambu itu sebagai rumah-rumahan kecil tempat anggur-anggur itu merambat disamping juga untuk pegangan tanaman serai merah untuk merambat juga. Akhirnya hari jum`at selesai sudah menjelang akan dimulainya shalat jum`at di masjid terdekat. Bergegas untuk segera menunaikan amalan wajib itu.

Hari ini Jum`at diawal tahun yang baru cinta kudefinisikan seperti lumpur coklat,kotor, lekat, susah lunturn
ya.

Hari ke-3 dalam libur ini kuterbangun ketika fajar masih menyingsing setelah shalat subuh dan beberapa lembar mushaf kubaca, aku bingung akan kuisi apa hari ini. Setelah sekian lama berpikir dan mencari kesibukan tetap tak kutemukan jawaban, hingga jam 10 ketika matahari sudah berada beberapa tonggak diatas kepala tetap saja otak ini masih kosong dan yang bisa kulakukan adalah bermalas ria bersama istri yang telah selesai tugas dapurnya, dan juga bersama fidza dan romiz hingga adzan dhuhur yang kami lakukan hanya bercanda sambil sesekali menghidupkan TV dan mendengarkan musik menghilangkan kejenuhan. Tiada yang menarik tuk dilakukan. Dalam hal ini kami sepakat belanja dan menghabiskan waktu di mall bukanlah jalan terbaik, maka kami habiskan hari itu dalam kemanjaan canda tawa dan cumbuan bersama.
Di hari ke-3 itu kudapat makna cinta dari ucapan istri.

Hari ini membosankan, itu-itu saja. Namun walau semua terasa hambar tetap rasa itu masih menyelingi di setiap senyum dan tawa kita. Makna cinta hari ini adalah cinta itu membosankan malah terkadang menjemukan dan seperti kita terjebak didalam sebuah ruangan tanpa pintu dan tanpa jendela.


Dimalam hari ke-3 baru teringat buku yang dibelikan arimbiku ini. Ketika Cinta Bertasbih 2 karangan kang Abik yang terkenal itu. Jadi untuk hari ini saya ijin ke istri untuk minta waktu menghabiskan 1 buku itu. Syukur Alhamdulillah istri mengijinkan dan memberikan saya waktu sampai selesai buku itu. Mungkin ini yang disebut ummi di DSH forum dulu dengan ME TIME ya? Jadi ya selama saya baca novel pembangun jiwa itu memang benar-benar pembangun jiwa, selain jalan ceritanya yang menarik dan mempermainkan emosi si pembaca juga ada banyak nasehat dan petuah yang tertuang didalamnya.

Seperti petuah terakhir yang disampaikan khairul azzam di pengajian mengupas kitab jalalainnya. Yang memberikan definisi malas akibat dan dampak yang ditimbulkan dari malas. Yang membuat diri ini terlecut tuk segera berubah. Namun ada yang membuat saya agak kurang sreg dengan karya kang abik bagian buku ini. Yaitu Ketika Cinta Bertasbih 2 sepertinya kesannya Kang Abik hanya ingin menyelesaikan novel sambungan yang pertama, Emosi yang terlibat dalam membacanya hanya terasa di separuh bagian pertama, di separuh bagian kedua saya seperti membaca artikel koran, seperti tidak pakai emosi lagi. Padahal dibagian itu ada kejadian ketika ibu azzam meninggal dunia karena kecelakaan.

Peristiwa meninggalnya seorang ibu bagi pembaca yang pernah kehilangan seorang ibu adalah bagian yang akan mencampur adukkan emosi pembaca dengan pengalaman pribadi pembaca ketika emosi itu dibangkitkan kembali melalui tulisan. Namun di bagian itu saya hanya seperti membaca koran harian. Tidak ada emosi didalamnya, padahal juga saya pernah kehilangan seorang ibu.

Saya jadi kurang memahami permainan emosi yang biasanya ada dalam setiap karya Kang Abik. Sepertinya Kang Abik hanya berusaha menunaikan janjinya pada pembaca tuk menyelesaikan novelnya atau Kang Abik sudah kehilangan sumber inspirasi dibagian terakhir novelnya. Sehingga tak bisa lagi membuat si pembaca terhanyut dalam suasana jalan ceritanya.

Namun sekurang apa karya manusia tetaplah tidak akan pernah menjadi sempurna, karena kesempurnaan adalah selendang Allah, bukanlah hamba yang hina dina. Tetap ucapan terima kasih terucap untuk Kang Abik yang telah memberikan embun dalan gersangnya sastra di indonesia. Memberikan penyejuk didalam hati yang meranggas ini. Tepat jam 4 sore 1 buku telah terselesaikan.tepatnya jam 4 sore hari ke -4. jadi ya novel itu kuselesaikan dalam 2 hari. Disamping ditunda tuk acara shalat dan meladeni sikecil bermain dan bobo. Dan me time ku telah kuminta pada istriku yang menjadikan diri ini sedikit bersalah karena meminta waktu yang mendeskripsikan diri ini begitu egois. Walaupun saya seorang kepala rumah tangga namun sisi egois itu kadang muncul begitu hebatnya. Meminta bagian lebih untuk dipenuhi.

Dari di hari terakhir itu kudapati makna cinta adalah sisi egois manusia dalam menenuhi waktu pribadinya tuk bercengkerama dengan rasa yang timbul didalam hatinya.


Apakah makna cinta itu sudah sempurna kutemukan dalam 4 hari liburanku bersama keluargaku? Tidak cinta masih banyak bentuk dan rupanya, sehingga bila didefinisikan akan memenuhi telaga dengan cinta. Sangat banyak hingga bila seluruh hidup ini dibuat liburan tak akan cukup tuk mendefiniskan makna cinta. Dan hanya cinta Hakiki yang akan membawa kebahagiaan tiada tara tanpa luka dan duka. Hanya cinta dengan sebab yang sejati yang akan membawa cinta sejati.

-liburan menyenangkan itu lewat sudah-
-memory awal tahun-
-kusadari betapa banyak makna cinta bila harus kuterjemahkan dalam sebuah kalimat-




Seorang juragan angkot barusaja menambah 2 armada angkotnya, sepertinya bisnis transportasi akhir-akhir ini semakin menjanjikan. Dipililah 2 orang sopir yang telah diseleksinya sebelumnya tentang kejujurannya, kesabarannya, kehati-hatiannya dan kesembronoannya. Setidaknya juragan angkot itu berniat memberikan service yang memuaskan bagi calon penumpangnya.

Karena usaha angkotnya hanya memiliki satu buah ijin trayek maka seluruh armadanya berjalan di jalur trayek yang sama begitupun 2 armada terbarunya. Sejurus kemudian mulailah 2 armada beserta 2 sopir pilihannya itu berjalan dimulai pada jam yang sama persis dan jalur trayek yang sama persis juga, tentu dengan fasilitas yang sama persis yang dimiliki 2 unit mobil angkot itu.

Dari jam ke jam 2 angkot itu sudah bolak-balok jalur trayek itu dengan jumlah yang sama. Sang juragan menetapkan jam berakhirnya mencari penumpang di pukul 5. Sang juragan ingin memeriksa dan mengecek kemampuan angkota barunya dan penghasilan yang bisa didapat dengan penambahan 2 armada baru itu. Tentu dengan 2 sopir pilihan yang memiliki karakter hampir sama.

Setelah 2 armada itu menyelesaikan satu hari dan si juragan menghitung penghasilan yang didapat ternyata si juragan menemukan hal yang berbeda. Armada satu memiliki penghasilan yang lebih besar dari armada satunya. Dengan sopir yang berbeda namun dengan jalur yang sama panjangnya dan fasilitas yang sama besarnya memberikan hasil yang berbeda. Si juragan berpikir keras apakah ada yang salah dengan salah satu armadanya? Atau ada yang salah dengan salah satu sopir pilihannya?

Tidak kawan tiada yang salah dengan kedua armada itu pun tiada yang salah dengan kedua sopir itu. Si juragan melewatkan pemikiran tentang rezeki yang Allah berikan. Tentang pembagian jatah rezeki itu tentang pendistribusian yang serba sempurna dan Maha adilnya dari Yang Maha member rezeki.

Setiap pagi Allah memerintahkan seorang malaikat yang menurut hikayat beliau bernama Mikail, menyambangi bumi sambil membawa jatah rezeki bagi seluruh ummat dan penghuni dunia, setiap pagi karena jatah hari ini harus habis hari ini besok adalah jatah rezeki baru, tiada istilah over kredit atau kredit macet di catatan Mikail. Semua serba terukur dan pas. Porsi bagi setiap individu atau bahkan bagi satu ekor kutu sudah ditakar dengan ketepatan yang pas. Tiada yang terlewat satupun.

Begitupun dengan sopir angkot tadi, walau memiliki jalur trayek yang sama panjang dengan waktu yang sama panjang dan dengan fasilitas yang sama bagus namun kedua individu sopir tadi memiliki takaran rezeki yang berbeda.
Inilah yang sering dilewatkan oleh kebanyakan manusia saat ini, takaran rezeki yang sempurna telah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Tiada yang luput dari perhitungan itu selamanya. Kenapa praktek korupsi yang ujung-ujungnya adalah menumpuk rezeki masih terjadi? Kenapa pembunuhan dan sikat kanan sikat kiri masih juga sering kita dengar beritanya diacara TV?

Keserakahan manusia tidaklah melebihi dari diameter ataupun panjang usus dalam perutnya. Namun kesadaran manusia akan keterbatasannyalah yang membuat manusia bisa disejajarkan dengan iblis. Bahkan seekor binatang pun menyadari pembagian takaran rezeki kenapa manusia yang di beri akal pikiran malah melupakannya?
Manusia yang diciptakan dengan akal pikiran tidak pernah bisa berbagi, sedangkan hewan yang diciptakan dengan akal pikiran selalu memiliki empati.



Ada sebuah kejadian, ya bisa dibilang lucu dan agak nyeleneh beberapa hari yang lalu, saya yang memang berusaha tuk terus mengejar ilmu apa naik pangkat ya? Moga-moga niatku masih lurus tuk terus mengejar ilmu. Beberapa hari yang lalu mendapati hari itu adalah hari ujian UAS. Wah betapa terkejutnya kami sekelas, padahal diawal kuliah pernah diberitakan bahwa UAS ada dipertemuan yang kedelapan. Sedang beberapa hari yang lalu itu baru pertemuan ketujuh. Ditambah malam itu langit tidak begitu bersahabat dengan menitikkan gerimis kecil ke permukaan helmku.

Dengan terpaksa dan mengingat beberapa bagian pelajaran yang mulai kabur beberapa penggalnya, kucoba memahami tiap soal yang dilontarkan oleh pengajar. Sampai diangka 8 soal itu, semakin membuatku merinding yang sejak awal selalu dimulai dengan kata ‘sebutkan’ dan ‘jelaskan’. Tapi apa boleh dikata pengajar adalah hukum yang berlaku dikelas itu, aturan demokrasi yang tak bisa di mufakatkan lagi. Dan kami para penerima ilmu seperti budak penguasa ruangan itu yang akan selalu berkata ia bila ‘tirani’ sudah di pancangkan.

Waktu 90 menit yang diberikan kepada kami pun terasa sangatlah singkat bila mengingat 8 delapan soal itu. Tanpa disadari otakku berputar lebih cepat dari biasanya. Memory ini seperti mendapat suntikan sesuatu sehingga terasa seperti booster roket yang sekonyong-konyong ingin segera meluncur. Sehingga tidak sampai menit ke 60 seluruh soal sudah terselesaikan. Namun entah ada angin dari mana tiba-tiba seorang wanita yang selama ini kukenal paling teledor dan paling susah mencerna setiap pelajaran hingga terus bertanya kepadaku. Menyusul ‘roketku’ dan mendahuluiku mengumpulkan hasil ujiannya.

Apa boleh dikata mungkin dia tiba-tiba juga mendapat ’angin surga’ yang menjadikan otaknya juga seperti roket. Setelah giliran dia baru aku beranikan diri tuk menyerahkan hasil ujianku. Namun ketika hendak meninggalkan ruangan si pengajar memberikanku sebuah kertas yang sekilas kubaca berisi tulisan ringkasan seluruh materi di mata kuliah pengajar ini.

“ pak rizal, tolong kembalikan ini ke teman bapak yang barusa keluar duluan ya?” ,pintanya sambil tersenyum simpul.

“ baik” sambil tersenyum juga.

Penasaran oleh isi kertas itu kubaca sambil berjalan kearah teman yang otaknya mengalahkanku tadi. Ya, Allah teranyata memang benar pandangan sekilasku tadi, itu adalah catatan materi yang diujikan. Tanpa mengisi sepatah kalimat pun dia mengumpulkan hasil ujiannya bersama dengan catatan materi itu.

Ada mata rantai yang terlepas dipengalamanku bersama teman kuliahku itu. Maaf saya tidak bermaksud membicaraka kekurangan seorang lain, dan membanggakan diri ini. Namun dari pengalaman itu diri ini semoga mampu memetik hikmah dibaliknya. Mata rantai itu adalah kesabaran dalam menerima ujian. Setiap kali Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNYA. Selalu terlebih dahulu memulainya dengan latihan-latihan. Setiap kali Allah hendak menguji hamba-hambaNYA selalu terlebih dahulu diberikanNYA materi yang di jadikan bekal. Sehingga tidak akan ada jalan pintas bagi ujian itu. Yang ada adalah bila ujian itu akan menguatkan dan akan melemahkan.

Ketika ujian itu datang mungkin diri ini akan terkejut sama terkejutnya ketika UAS diumumkan mendadak. Namun ketika ujian itu datang akan ada ’roket-roket’ yang entah darimana asalnya yang akan membawa segenap kekuatan kita tuk melalui ujian itu.

Kita tidak bisa menyerahkan robekan kertas materi ketika ujian dariNYA menghampiri kita. Kita diharuskan menjalani ujian itu agar bisa naik ke tingkatan selanjutnya dan menjadi lebih baik. Entah bagaimana harus membedakan mana ujian mid dan mana ujian akhirnya. Atau hanya quiz-quiz semata yang akan menaikkan iman kita ke tingkatan yg lebih tinggi. Namun semua itu adalah pelajaran meniti ilmu yang akan kita jalani hingga akhir hidup ini. Allahu a`lam bishawab.