Paradoks sejarah waktu kita yaitu dimana kita punya gedung-gedung yang lebih tinggi tapi punya watak yang pendek; punya lebih lebar jalan-jalan tapi berpandangan sempit.

Kita menghabiskan banyak waktu, tapi hanya mendapatkan sedikit; kita membeli lebih banyak tapi menikmati lebih sedikit. Kita memiliki rumah yang lebih besar tapi dengan keluarga yang "kecil"; lebih banyak kesempatan tapi lebih sedikit waktu; kita punya lebih banyak parameter tapi sedikit perasaan; lebih banyak ilmu tapi sedikit pertimbangan; lebih banyak ahli tapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat tapi sedikit kesehatan.

Kita minum berlebihan, merokok berlebihan, menghabiskan banyak kesembronoan, terlalu sedikit tertawa, mengemudi terlalu cepat, lebih cepat marah, bangun lebih telat, sangat sedikit membaca,Terlalu terlalu banyak nonton TV, dan berdoa terlalu sedikit. Kita punya banyak barang milik pribadi tapi kita kehilangan nilai-nilai.

Kita berbicara terlalu banyak, sedikit cinta, dan terlalu sering membenci.

Kita telah belajar bagaimana caranya hidup, tapi tidak hidup. Kita telah melewati umur untuk hidup, bukannya hidup melewati umur. Kita semua telah berada pada jalan ke bulan dan kembali, tapi punya masalah untuk menyebrang jalan menemui tetangga baru.

Kita terus mencoba mengekpslorasi ruang angkasa, tapi melupakan bumi, merusak bumi. Kita telah melakukan sesuatu yang besar, tapi tidak yang lebih baik.

Kita telah membersihkan udara tapi tetap membuat polusi pada jiwa. Kita telah memisahkan atom tapi tidak memisahkan prasangka. Kita menulis lebih banyak, tapi belajar lebih sedikit.

Kita banyak merencanakan, tapi sedikit menyelesaikan. Kita telah belajar dari kesibukan, tapi tidak belajar untuk menunggu. Kita membuat banyak komputer untuk menghimpun dan memperbanyak informasi tapi kita kehilangan komunikasi.

Terlalu banyak makanan 'fast food' tapi pencernaan tetap saja lambat; lebih banyak orang besar tapi berkarakter kecil; banyak keuntungan tapi dangkal hubungan.

Lebih sering terdengar perdamaian dunia tapi juga semakin banyak perang domestik, banyak waktu terluang tapi sedikit kebahagian; lebih banyak macam makanan tapi lebih sedikit nutrisi.

Lebih banyak keluarga dengan dua pendapatan tapi lebih banyak perceraian; lebih banyak rumah keren tapi banyak yang 'broken home'; lebih banyak cara cepat tapi banyak juga popok dibuang, dibuangnya moralitas, kelebihan berat bandan, dan pil- pil yang menenangkan tapi juga membunuh.

Inilah waktu dimana begitu banyak barang terlihat di jendela tapi tak ada dalam stok,
ini membuktikan kita terlalu sulit untuk bersikap adil. berfikir keras untuk memecahkan satu hal tapi melupakan hal yang lain





3 hari libur membuat setiap sendi ini malas sekali digerakkan, udara yang sejuk angin yang sepoi-sepoi sempurna rasanya tuk terus ‘mbangkong’. Sabtu telah kulewati dengan membongkar mesin motor kesayangan Kawasaki Binter Merzy KZ200 th ’85 walau sebenarnya mesinnya baik-baik saja, namun karena sifat iseng saya kambuh gatel rasanya membiarkan mesin itu gitu-gitu aja. Pinginnya mbongkar kasih booster tambahin NOS abis itu ngebut di arena Drag kayak jaman masih STM dulu.

Hari minggu pagi diawali dengan menjadi tukang ojek pribadi bagi istri tuk belanja ke pasar tradisional terdekat hingga diakhiri sore hari mbonceng anak-anak keliling komplek pake motor butut tua yang sudah dioprek kemarin. Diawal hari inilah inspirasi nulis itu dating. Saat duduk jongkok bersama bapak-bapak tukang antar jemput yang lain. Disamping ngobrol yang entah kemana juntrungannya kami kadang juga saling bertukar informasi tentang apa saja. Jual beli mobil rumah motor bahkan sapi. Atau hanya sekedar bercas-cis cus ria sambil nunggu para komandan dapur memanggil tuk pulang.

Inspirasi itu datang saat ada 2 orang buta yang sepertinya suami istri saling berpegangan. Iya dua-dua nya seorang tunanetra karena cirikhas yang melekat dan cara mereka berjalan. Berkacamata hitam memakai tongkat dan saling meraba jalan. Cara berpegangan mereka membuat yang melek pun pasti iri, paling ngga saya sendiri iri melihat mereka berpegangan dengan mesra tak peduli orang bilang apa. Wong mereka juga ngga akan bisa melihat siapa yang iri atau malah ngiler.

Sang istri berada agak dibelakang sisuami memegang pundak suami dengan mesra sambil senyum-senyum manja. Sisuami berada didepan memakai tongkat sambil membawa barang dagangan. Apakah ini sebuah kontemplasi? Sangat mungkin ini adalah sebuah kontemplasi hidup. Istri itu adalah yang ada selalu dibelakang suami ikut kemanapun suami melangkah. Pundak suami adalah pegangan bagi arah rumah tangga yang dijalani. Apapun yang terjadi didalam rumah tangga istri akan selalu memegang pundak suami sambil terus memberikan dukungan dan support semangat. Begitulah seharusnya seorang istri.

Suami adalah pemegang tongkat visi rumah tangga, kemanapun tongkat itu dibenturkan misisnya adalah agar tidak tersandung atau menubruk sesuatu yang keras dan segera berbelok ketika bertemu tembok. Ditangan suamilah tongkat itu bekerja semestinya. Suami akans angat tenang ketika jemari istri selalu tertumpu dipundaknya memapah setiap asa dan menjadi pelipur ketika kecewa.

Saya banyak sekali belajar dari pemandangan ini, ingin sekali saya pegang tongkatnya dan saya bawa kerumahnya agar selamat sampai tujuan, namun saya yakin sisuami tak akan mau karena dengan membenturkan tongkatnya dia akan semakin hafal jalanan yang dia lewati dan entah suatu saat tongkat itu mungkin tidak lagi ada gunanya karena rute perjalanan sudah tergambar di otaknya.

Hal lain yang saya pelajari dari pemandangan indah ini adalah. Coba kita perhatikan setiap tunanetra kebanyakan menggunakan kacamata. Sebenarnya saya tidak sekali ini saja melihat suami istri buta itu dipasar. Sejak pecan-pekan sebelumnya saya sudah melihatnya namun saya tidak begitu memperhatikannya. Hanya ada beberapa detil yang saya perhatikan salah satunya adalah kacamatanya. Bila melihat 3 pekan kebelakang kacamata sang istri selalu berubah. Pecan pertama seingat saya dia memakai kacamata hitam sporty mirip yang biasa dipakai sprinter ketika kejuaraan lari berlangsung. Pekan kedua si istri berganti memakai kacamata hitam bergaya retro seperti yang dipakai Arnold swartzeneger (ribet amat nulisnya) dalam film Terminator II. Dan kemarin saya perhatikan dia memakai kacamata jadul mirip rayban cobra hitam, jangan-jangan emang rayban cobra asli nih.. hehe

Apa yang kemudian saya dapat dari hasil memperhatikan ini? Sebagus dan semahal ataupun setrendy apa merk dan jenis kacamata yang dipakai sang istri apakah si istri bisa melihatnya? Saya yakin sipemakainya pun tidka bisa melihat arti bagusnya kacamata itu. Dia memakainya hanya tuk menyelamatkan siapapun yang melihatnya agar tdiak merasa jijik melihat cacat pada matanya.

Seharusnya pelajaran inilah yang bisa kita tiru didalam kehidupan kita. Sering kali kita membeli sesuatu yang bisa dibilang sangat mahal bahkan demi sebuah merk berapapun mau kita keluarkan. Namun kita tidak bisa melihat dengan jelas maksud kita membelinya kecuali hanya tuk memamerkannya.

Bila mau berkaca apa yang membuat Jakarta macet? Karena sifat pamer yang begitu tinggi diantara penghuninyalah yang membuatnya semakin macet. Bandingkan dengan perancis saya yakin lebih banyak orang kaya disana. Namun trem mereka fungsikan dengan baik. Di salah satu acara TV daerah Filipina disebuah spot memiliki sebuah area luas yang didalamnya tidka boleh ada kendaraan bermotor. Hasilnya spot itu begitu indahnya. Taman plus orang jualan dibiarkan bebas asal menjaga kerapian dan keindahan.

Dijepang ada sebuah mall yang menyediakan pelataran seluas 1,5 luas lapangan bola yang dibuat pedestrian, area jualan, area pacaran, stan-stan buku dan makanan kecil. Si direkturnya ngga pelit menyediakan area gratis tuk umum. Dan hasilnya mall itu selalu ramai penjualan terus meningkat.

Mereka tahu manfaat membeli kacamata, bahkan mereka tahu bagaimana memanfaatkan kacamata hitam itu. Saya kembali belajar dari si buta. Mereka tidak pernah bisa melihat kacamata hitam yang ada didepan mata buta mereka namun mereka tahu benar manfaat kacamata itu mereka sematkan.

“pulang yok!” yah panggilan dari si boncenger membuat lamunan saya hilang. Apa boleh buat blog ini saja yang saya jadikan tautan inspoirasi ini. Semoga bisa memberikan pelajaran juga bagi yang lain. Semoga….



Ada yang pernah dengar tentang mahalabiu? kata bersayap ala banjarmasin yang sangat kental. Menarik memang mahalabiu ini. Jika saja tak dimaksudkan untuk bercanda tentu saja sangat berbahaya. Tidak berbohong memang, tetapi mirip overtuned assumption. Yaitu, apa yang dimaksudkan komunikator disengaja untuk berbeda dengan maksud yang ditangkap komunikan. Orang yang memukul rata pasti menuduhnya sebagai metodologi kemunafikan, tetapi Rasul juga pernah menggunakan kalimat mahalibiu ini, namun dengan maksud bercanda, Nabi Shallallaahu `Alaihi wa Sallam beberapa kali melakukannya.

Misalnya, ketika seorang nenek bertanya,”Ya Rasulullah, doakan agar aku kelak memasuki surga bersamamu..” Beliau menjawab, “Di surga tidak ada nenek-nenek..”. Maksudnya baru beliau jelaskan setelah si nenek menangis bahwa, ketika masuk surga, semua insan beriman menjadi muda kembali.nah mengerti kan sekarang mahalabiu?

Sebenarnya mahalabiu ini tak ada hubungan dengan yang ingin saya maksudkan dibawah nanti, yaitu tentang kemunafikan, oleh karena itu sekiranya mahalabiu ini hanyalah lain di mulut lain dihati yang sering kita mudahkan sebagai definisi, hanyalah efek dari sebuah i`tikad dihati. Bukanlah inti.

Kemunafikan, tak ada musuh yang lebih licik dari kemunafikan, yang bersarang di keimanan kita, kadang ia menjadi alat untuk dimanfaatkan kadang malah mengambil keuntungan dari lengahnya barisan kebenaran

Seperti halnya kemunafikan yang didengung-dengungkan dengan gencar akhir-akhir ini, yah saya kira anda sudah mengerti maksudnya, tak lain adalah pluralisme. Yang dengan hebatnya berusaha ditanamkan untuk memudarkan aqidah keimanan kita khususnya ummat islam. Bagi yang masih sadar akan bahayanya pluralisme ini, saya sangat bersyukur. Namun bagi yang terlena akan kemunafikan dari pluraslisme ini, semoga segera terbuka mata hatinya.

Pluralisme yang didengungkan oleh tokoh-tokoh yang sangat kondang ini begitu mengena kepada ummat islam yang notabene sudah berintelektual tinggi. Bukti mengatakan bahwa kebanyakan pengikut aliran pluralisme ini adalah tokoh-tokoh akademisi dan para mahasiswa yang sebenarnya pengetahuan agama mereka sudah lebih memadai untuk menangkal kemunafikan pluralisme ini. Namun mengapa?

Sebenarnya pluralisme yang begitu menggema di sekitar lingkungan akademisi ini bibitnya sudah tertanam sejak dulu, disemai pertama kali oleh Ibnu Ubay bin Salul, sebuah pemikiran yang dikembangkan dengan spirit yang sama, menohok kebenaran dari dalam. Penampilannya begitu mempesona. Ia adalah cendikiawan yang selalu didengar kata-katanya. Pembicaraannya begitu meyakinkan. Ia berargumen, membangun kerangka-kerangka kosong yang didengarkan dengan kagum. Tetapi ia sendiri ragu dengan yang ia katakan,khawatir ia selalu diteriaki dengan keras. Ia bicara tentang pluralisme, tapi ia setia dengan topeng keberagamaannya sendiri. Ia bicara tentang islam yang membebaskan, tetapi menjajah dirinya untuk kepentingan entah siapa.
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[1477]. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (Al-Munaafiqun :4)
Generasi awal kemunafikan menganggap imannya para sahabat adalah iman orang-orang bodoh. Dan kita saksikan generasi masa kininya menganggap orang-orang yang ingin menegakkan keimanan utuh sebagaimana para sahabat, iman yang kaffah sesuai Al-Quran dan Sunnah, sebagai orang-orang kolot dan primitif yang bodoh terhadap perkembangan jaman. Nah sekarang udah mulai ada kan kemiripannya antara jaman ibnu ubay dan jaman pluralisme sekarang?

Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.(Al-Baqarah :13)

Betapa mereka yakin bahwa demokrasi, liberalisme, dan kesetaraan gender adalah nilai final universal dari semua agama. Mereka berdalih ingin melakukan perbaikan dengan semangat pluralisme, menggabungkan energi keshalihan dan kemaksiatan dalam negara sekuler, kesamaan hakekat agama dan anti-kaffah. Tapi mereka merusak pemahaman umat tentang aqidah dan ibadah, bahkan menakut-nakuti orang dengan kata ‘syari`at Islam’ yang sebenarnya indah dan mulia.


Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]." Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." (Al-Baqarah :11)

Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Al-Baqarah :12)

Sungguh berani mereka mengkritisi Al-Quran tanpa pemahaman yang mendalam, padahal sudah pasti ditanamkan dalam Alquran bahwa apa-apa yang ada didalam manual book alam semesta itu tidak ada cacat dan pertentangan didalamnya.

Dan bahkan sunnah dan hadits yang begitu jelas diperintahkan dan dicontohkan Rasul mereka ubah dan mereka tentang seenak hatinya, dan sudah jelas bahwa Rasul adalah terlindungi dari sifat salah dan dosa.

Mereka itu bersandar dalam kepura-puraan, seperti halnya Abdulllah ibnu ubay ibn salul yang tak berubah menipu kanan dan kiri. Bersama musuh-musuh nyata memberikan dukungan melalui The Asia Foundation misalnya. Dan munafik akan siap bekerja menjadi stuntman setan-setan dan bala tentara kejahiliyahan.

Semoga kita terlindungi dan terbuka matahati kita akan bahaya kemunafikan ini. Sehingga iman kita tidak akan menjadi cacat tanpa kita sadari. Amin





Tiada gurat capai disetiap jengkal kulit ketika pagi menjelang tuk melakukan upacara wajib bagi setiap pegawai Negara ini (bagiku upacara adalah perkara wajib). Melihat petugas yang sudah gagah dengan sangsaka merah putih, pembaca Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Para elemen penting upacara, Pembina,pemimpin, komandan dan peserta upacara.

Diantara rentetan ceremonial ada 1 bagian yang selalu membuat kelopak mataku panas karena menahan airmata, entah apa yang membuat setiap bulu kudukku berdiri. Padahal sedikit pun tak kucicipi suasana kemerdekaan 63 tahun yang lalu, ataupun tiada seorang pun anggota keluargaku dalam kalangan pejuang yang dikenal atau bahkan diabadikan dalam catatan Negara. Hanya saja setiap kali kepala ini menunduk dan Pembina upacara mengintruksikan tuk mengheningkan cipta setiap kali itulah rasa panas menggerayangi kelopak mata dan pangkal hidungku.
Pikiranku terus menerawang, kuteringat setiap film perjuangan yang pernah kutonton. Apakah itu ketika Bandung lautan api yang pertama kali kutonton ketika ku dibangku SD atau kisah perjuangan janur kuning, atau ketika pidato bung tomo memekakkan telinga dan memerahkan semangat.atau ketika peristiwa janur kuning yang terkenal mengobarkan semangat nasionalisme.
Kuteringat bahwa ku punya 3 bendera yang selalu kusimpan di 11 bulan dan hanya kukeluarkan di 3 hari di bulan agustus, atau bahkan 2 dari 3 bendera itu ternyata sudah koyak dimakan kutu atau mulai pudar warnanya, bendera itu sobek di tiap ujungnya karena terlalu lama disimpan, bukan karena terlalu lama kuterbangkan diangkasa.

Pikiranku melayang pada garuda lusuh yang pernah kutemukan di tong sampah sebuah kantor pemerintahan dikota ini. Garuda itu sudah hancur sebagian kepalanya remuk tertimpa benda yang lebih besar dan berat. Atau ketika pikiranku tak beraturan kembali mengingat seorang tua yang pernah duduk di sebelahku ketika kereta malam membawaku dari kota kelahiranku tuk mulai merantau, yah pak tua berpeci kuning keemasan dan ada pin bendera merah putih diujung kanannya itu ternyata tunawisma. Dia mengembara dengan gagahnya disudut Indonesia tercintanya dengan atribut lengkap seorang pahlawan, dan ternyata dimata anak cucunya dia hanya seorang gelandangan.

Didepan pintu gerbang pintu itu jelas tertulis “Anjing dan Inlander dilarang ,masuk!” jelas tergurat makna dan tujuan marka itu dipasang. Jelas tertulis penghinaan dan penindasan tiada henti bahwa penjajahan sangat dalam melekat dalam benak setiap penguasa. Betapa rendah kedudukan seekor anjing namun betapa rendah pula makna inlander yang tertulis didalamnya.

Bangsa ini adalah bangsa terdidik terlepas dari belenggu perbudakan, kenapa tulisan itu harus ada. Bangsa ini bukan lagi bangsa anjing, bukan lagi inlander busuk yang selalu siap ditindas. Hariku menjerit, ketika kutahu dilain sisi ternyata memang bangsa ini masih diintai oleh banyak anjing berjas dan berdasi. Masih banyak inlander bermuka dua, membawa-bawa kuasa atas nama keadilan, demi sebuah keadilan untuk keadilan.

Iya saya sakit hati kepada Amerika
Namun saya tidak iri ketika mereka memiliki obama
Iya saya miris melihat rakyat Indonesia
Namun saya tidak begitu simpati kepada kemiskinan yang diumbar
Jangan Tanya keibaan saya akan pembangunan
Namun saya juga tidak memiliki daya dihadapan kekuasaan
Saya begitu bangga dengan swasembada
Namun ekspor asap juga tidak pernah berhenti
Negara ini terbang landas dengan sukses
Namun landasannya hanya batu kerikil dan lumpur
Semoga pak presiden ngga baca blog saya
Karena saya mungkin hanya anjing dan inlander itu






Judul ini mungkin sebagian kita ada yang pernah menemuinya atau mendapatinya, entah disuatu majalah atau suatu artikel. ‘Kita diuji dititik terendah’ memang pernah ada artikel dulu yang memuat tentang ini, namun ini hanya editan saya pribadi saya ketika ingat akhir-akhir ini sepertinya Allah sedang memberikan ujiannya kepada saya. Atau Allah malah memberikan peringatan ke saya untuk kembali ke jalurNYA.

Ketika mental kita sedang ambruk, merambat dalam pintu keputus asaan, kebanyakan manusia mengeluarkan keluhan dan umpatan, namun disitulah keindahan ujian itu akan Allah berikan, dan Allah akan memilih dari sekian banyak hambaNYA untuk diberikan sertifikat kelulusan di keningnya sebagai calon penghuni surga kelak. Amin.dengan bekal sabar dan tawakkal.Dititik terendah biasanya ujian menerpa dengan hebatnya, ketika iman ini begitu drop, ketika jiwa ini begitu sesak oleh himpitan, ketika raga ini terkoyak oleh cercaan, ujian itu datang.Yup…..Allah tahu setiap kondisi hambaNYA. Sehingga letak kekuatan itulah yang seharusnya dapat kita gali untuk menumbuhkan kesabaran dan ketawakkalan dalam menerima segala ujianNYA.

Jangan pernah berpikir Allah hanya akan menguji hambaNYA ketika kondisi keimanannya dalam kondisi toppeak saja. Dan jangan dikira Setan hanya akan menggelincirkan manusia ketika manusia itu dalam keadaan iman yang lemah saja.Pernah ada suatu riwayat yang menceritakan tentang seorang sahabat yang buta. Sahabat buta ini begitu inginnya shalat dimasjid namun dia buta, untuk menggaji seorang pembantu yang akan menuntunnya ke masjid dia tidak mampu. Untuk memelihara binatang peliharaan sebagai pengganti matanyapun dia tak kuat. Maka karena keingin yang besar itu dia nekat ke masjid yang jaraknya sekitar 3 gang dari rumahnya.

Setelah wudhu sahabat ini keluar rumah dan hendak ke masjid tapi alangkah sial hanya beberapa langkah kakinya terperosok ke lubang. Ujian pertama datang dan si sahabat bergegas kembali pulang untuk berganti pakaian setelah pakaiannya kotor karena terperosok kelubang tadi. Kemudian berjalan lagi dia kemasjid, ujian pertama dilaluinya, dan Allah menggaransinya dengan harum surga bagi sahabat buta ini beserta keluarganya.

Tidak berapa lama sisahabat buta ini berjalan hendak ke masjid, terperosok lagi dia di lubang yg lain, sehingga dia kembali kerumahnya untuk berganti pakaian lagi. Kemudian berwudhu kembali dan bergegas kembali ke masjid. Ujian kedua dilaluinya dengan mulus dan Allah mengganti pengorbanannya dengan surga bagi kerabat dan tetangganya.

Ketika hampir sampai di halaman masjid sisahabat buta ini terperosok dilubang kembali, namun tak disangka ada seorang pemuda bertubuh tegap langsung menggapai lengannya dan menariknya dari lubang itu sehingga selamatlah sisahabat buta itu dari terjerembab. Ketika akan melangkah tak lupa sisahabat mengucapkan terima kasih, kemudian ditanyanya si pemuda tadi.

“Siapakah engkau wahai pemuda ?” ucapnya sambil mengucapkan terima kasih

“Aku adalah setan.” Ucap pemuda tadi

Betapa terkejutnya sisahabat buta tadi ketika mengetahui bahwa yang menolongnya adalah setan, musuh abadi yang terkutuk.Namun dengan nada penasaran sisahabat buta bertanya kembali,

“apakah gerangan maksud anda menolong saya?”

Kemudian setan menjawab,“kalau anda terjerembab kelubang pertama saja Allah menghapuskan dosa anda dan keluarga anda, dan terperosok ke lubang kedua Allah menghapuskan dosa kerabat dan tetangga anda. Bisa-bisa bila anda terperosok ke lubang ketiga Allah akan menghapuskan seluruh dosa orang sekampung.Makanya saya menolong anda dan menarik anda dari lubang.” Pikir setan.

Itulah sekelumit ilustrasi bagaimana seorang sahabat pun masih mendapatkan ujian juga. Siapapun orangnya pasti mendapatkan ujian dalam hidupnya, dan biasanya ujian itu datang namun kita kadang tidak menyadarinya, apalagi bila ujian itu datang disaat kondisi kita sedang dalam keadaan down.

Ujian itu ada yang mengatakan identik dengan tingkat kesholehan yang sedang tinggi-tingginya, namun ketika kondisi iman kita sedang dibawah jangan sampai lengah akan ujian ini.karena kebanyakan yang tidak lulus adalah ketika diuji dititik terlemah ini.

Ketika kita sangat membutuhkan pertolongan Allah akan menguji dengan pertolongan itu, ini yang jarang kita menyadarinya.

Ketika kita siap menghadapi ujian dan Allah memberikan ujian itu, mungkin kita sudah siap, namun ketika kita sedang marah kemudian kita diuji dengan kesabaran banyak yang gagal dalam ujian itu.

Jadi bersiap-siaplah ujian itu bukan hanya bagi yang sudah siap, namun bagi yang sedang mengumpulkan kekuatan untuk tegak berdiri pun berlaku juga ujian Allah itu. Dan insyaAllah harum surga akan tercicipi bila kita lulus dalam ujian itu. amiin