Di ruang tamu masih ada sebuah aquarium yang terawat rapi, aquarium itu ada karena sulungku dulu begitu memaksa tuk memiliki seekor ikan hias kecil. Melihat pintanya yang begitu memelas luruh juga hati seorang ayah akhirnya diboyonglah sekalian aquarium sedang plus aksesoris dan beberapa ikan pilihan yang siap menghuni aquarium itu.
ikan yang dipilih sisulung tergolong ikan berharga lumayan juga. Seekor ikan mas koki kepala singa, black ghost atau apapun namanya iakn berwarna hitam dengan sirip sepanjang perutnya ini menarik perhatian suslung. Dan beberapa ikan kecil sebagai penghias dan penambah teman main sikoki dan black ghost. Tak lupa saya tambahkan ikan wajib bagi aquarium yaitu ikan sapu-sapu atau ikan pembersih kaca.

Betapa bahagianya sisulung melihat aquarium sudah terhias rapi didekat meja belajarnya. Dengan lampu neon kecil dan mesin pembuat gelembung di air kini aquarium itu terlihat sempurna membuat penghuninya pun terlihat semakin cantik. Tidak pagi tidak malam sisulung selalu menceritakan aquariumnya itu kepada siapapun yang dikenalnya. Perhatiannya tuntas teralih ke mainan barunya itu. Setiap pagi tak lupa sisulung meminta ijin tuk memberinya makan. Memangyang namanya anak kecil bila mendapat mainan baru maka dunia disekitarnya hanyalah akan menjadi selingan bahkan makan pun kini tidak mau lagi dimeja makan maunya dekat ikan-ikan barunya.
Beberapa hari kemudian rasa bosan mulai merasuk, aquarium sudah mulai ditinggalkan, sisulungku mulai kembali keaktivitas semula bermain menggambar dan hilang dari rumah entah bermain dengan temannya yang mana lagi. Aquarium kesayangannya sudah mulai terbengkalai dalam hal ini bapaknyalah yang akan menjadi petugas service after boring.

Operasi sapu jagat akan seger dimulai bila kondisi ini sudah sampai pada titik equilibrium. Kulihat lagi aquarium mungil dengan penghuni lucu dan cantik itu. Lama-lama akupun tertarik akan keindahan viewnya. Benar juga bila kemudian ada yang bilang ‘bila anda memiliki indikasi tekanan darah tinggi, sering-seringlah melihat aquarium niscaya tekanan darah anda akan stabil.’ Ternyata memandang aquarium ini memang benar menyejukkan.

Tak jadilah operasi sapu jagat dilaksanakan, malah kemudian aquarium itu ku pertahankan karena kutemukan fungsinya. Hampir tiap pulang kantor aquarium itu kulihat kuberi makan. Mas koki menjadi ikan favoritku kemudian karena lenggak lenggok gemulainya dan sisiknya yang mengkilap ketika terkena cahaya neon. Black ghost pun kadang membuatku tersenyumd engan lenggak-lenggok siripnya dan jalannya yang tak pernah teratur cenderung sengaja menubruk-nubrukkan badannya ke tumbuhan sekitarnya. Ekosistem itu benar-benar menyihirku. Setiap kali kumelihatnya kubetah-betahkan tuk tak beranjak lebih cepat, seperti obat bagi penatku.

Namun diantara banyak makhluk yang ada didalam aquarium itu ada 1 ikan yang benar-benar merusak pemandangan, seekor ikan dengan sosok hitam legam, bersisik kasar, jarang bergerak sekali bergerak hanya menempelkan diri kekaca sehingga menutupi ikan favoritku. Itulah sosok ikan sapu-sapu atau ikan pembersih kaca. Jelek, tak menarik hamper tak memiliki daya tarik sama sekali dimataku.

Karena sering menjengkelkan tiap kali kumemberi makan kuusir dulu ikan sapu-sapu itu dari dekat ikan mas koki, khawatir kalau ikan yang indah malah kehabisan makanan melihat mulutnya yang besar itu. Akhirnya kuputuskan tuk memisahkan si ikan jelek itu dibak kamar mandi saja. Karena mungkin memang tempatnya disitu. Tak terlihat dan yang pasti tak mengganggu saat aku memandang ikan ams koki yang indah atau black ghost yang lucu.

Tak berapa lama ikan buruk rupa itu hilang dari aquarium dan tinggallah ikan-ikan cantik dan lucu diaquarium itu. Semakin sumringah hati ini melihat keindahan itu tanpa gangguan.

Suatu hari ketika hendak berangkat kantor kulirik lagi ikan-ikan indah itu, namun hari ini sepertinya keindahannya ada yang mengganggu. Ikan mas koki yang biasanya tampak mengkilap dan menawan juga terlihat kusam dan tak semenarik hari-hari sebelumnya. Tanaman-tanaman yang biasanya terlihat hijau segar kini terlihat kusam dan tak segar lagi.ya.. intinya ada yang tak beres dengan ekosistem ini.

Hari berikutnya semakin jelas bahwa lumut mulai menutupi kaca kaca aquarium ini. Dan menjadi kan keindahannya semakin hilang dan tak terlihat lagi. Ternyata kesalahan besar memindahkan ikan sapu-sapu yang jelek tadi dari aquarium. Ikan sapu-sapu tadi memberikan keindahan tak terlihat bagi aquariumku. Ikan sapu-sapu yang tadinya kuanggap penggangu dan perusak keindahan justru memiliki fungsi penting dalam memperindah aquariumku.
Ternyata dibalik tubuh jelek dan tak sedap dipandagnya ada fungsi khusus yang diembannya tuk menjadikan ekosistem diaquariumku menjadi indah. Tak heran kenapa disetiap aquarium pasti ada ikan ini. Malah justri kans apu-sapu inilah primadona sesungguhnya.

Saya belajar dari ikan sapu-sapu ini. Disetiap kehidupan kita lalu lalang orang-orang yang kita anggap kurang, kita anggap memiliki cacat atau malah dengan sombongnya kita bandingkan dengan diri kita dan berpendapat kita sebenatnya lebih unggul darinya. Kita sering melihat tanpa kacamata dan kemudian menyimpulkan bahwa mereka adalah produk gagal. Kitalah bibit unggul itu. Kita sering merasa lebih dari yang lain. Padahal sebenarnya dalam kehidupan ini merekalah penyeimbangnya. Merekalah primadona sesungguhnya.

Kita selalu meremehkan mereka padahal kita sendirilah orang yang remeh temeh itu. Saya belajar dari ikan sapu-sapu itu bahwa yang terlemah pun pasti memiliki kekuatan yang bisa mengalahkan yang terkuat pun. Saya bekajar dari ikan sapu-sapu bahwa kelemahan itu bukanlah hal yang harus disesali karena setiap makhluk pasti memiliki fungsi yang diembankan kepadanya. Tak ada satupun penciptaan Tuhan didunia ini yang sia-sia. Apapun kelemahan anda belajarlah dari ikan sapu-sapu tadi yang menjadikan indah sekitarnya!

Terinspirasi dari blog mbak ajeng posting kita terlahir dengan tidak mempunyai pilihan.




Anda akan kagum bila Donald Trump mampu menjadi CEO tersukses di Amerika diusia 42 tahun, atau orang ketiga terkaya didunia William Buffet yang sampai pada puncak keemasannya diusia 60 an tahun. Atau Thomas Alfa Edison yang menjadi penemu tersubur yg mencatatkan ribuan hasil temuannya pada usia sekitar 50 an tahun. Atau Einstein dengan hukum relativitasnya yang membuatnya terkenal di usia 70 an tahun. Anda akan dibuat kagum oleh kecemerlangan orang-orang ini. Dengan latar belakang berbeda, dan kondisi berbeda mereka mampu menciptakan hasil karya yang diakui oleh masyarakat dan digunakan dunia. Sebagai pemikir jempolan dibidangnya masing masing. Apakah mampu menyamainya?

Tentu semua orang sangat ingin menjadi seperti mereka, namun lihatlah kerja keras mereka. Perjuangan dan percobaan yang sudah tak terhitung jumlahnya diulang-ulang tanpa kenal menyerah. Usia emas mereka berada diusia senja, diujung umur mereka baru menemukan hasil maksimal, usia keemasan itu begitu terlambat sampai walau sebenarnya hasilnya luar biasa.

Tapi apakah anda mengenal Larry Page dan Sergei Brinn ? atau Chairil Anwar? Atau Imam Syafi`I? Atau Rasulullah kita? Mereka menemui masa keemasannya diusia belia. Anda pernah mendengar (afwan kalau salah dibenarkan) nama Larry Page atau Sergei Brinn? Orang inilah pencetus dan pembuat sebuah search engine yang bernama Google. Saya yakin bila anda hobi surfing berselancar didunia maya. Maka anda tak asing lagi dengan istilah Google. Page dan Brinn menemukan sebuah program cerdas ini di usia 25 tahun. Dan menjadikannya orang terkaya didunia diurutan ke 26 menurut majalah FORBES per Juni 2008. ketika diusia itulah keemasan itu muncul, puncak kejayaan berpikir yang sangat luar biasa pesat. Mengeksplore diri pribadi hingga dipuncak kemampuan. Level tertinggi dalam pencapaian cita-cita. Yaitu diusia belia.

Atau anda telah mengenal Chairil Anwar, saya yakin anda banyak tahu mengenainya. “Aku”nya telah menghentak dunia sastra Indonesia kala itu. Dengan sebuah kata”Aku” kebebasan berkarya membuat banyak sastrawan lain menyembul ke permukaan layaknya jamur dimusim hujan. Semua berlomba mengekspresikan diri karena gerbang telah dibuka oleh orang yang bernama Chairil Anwar, Chairil Anwar meninggal di usia ke 27 bukankah “Aku” tercipta dibawah usia itu? Umur keemasan yang luar biasa. Disuia muda telah mampu memberikan karya yang monumental dan membekas bahkan memberikan jalan bagi orang lain.

Anda yang beragama islam tentu sudah sering mendengar kehebatan imam syafi`i. otaknya adalah sebuah memory RAM berjalan, diusia 10 tahun beliau sudah menghafal 30 Juz Alquran, dan diusia 15 tahun telah menghafal sekitar 10.000 hadits.
Apakah mungkin prestasi luar biasa ini dilampau orang lain? Jawabannya adalah mungkin. Rasulullah Muhammad SAW adalah orang dengan prestasi tertinggi diusia belia.

Diusia 9 tahun belaiu sudah menjadi seorang entrepreneur, yaitu menggembalakan kambing milik pamannya, dengan kejujuran dan tanggung ajwab tinggi. Dijaman ini adakah seorang entrepreneur yg memiliki sifat seperti Nabi? Jarang saya pikir. Di usia 13 tahun beliau sudah menjadi seorang bisnisman dengan membantu berdagang seorang pedagang wanita bernama Khadijah yang dikemudian hari menjadi istri beliau. Hingga akhirnya beliau menjadi seorang pedagang sukses di usia belum sampai 30 tahun.

Ketika saya tanyakan kepada anda, apakah ada bedanya ketika anda memasuki suatu tahap belajar antara sesudah dan sebelum menjalani pendidikan itu? Maksud saya apakah ada beda yang anda rasakan dan yang orange sekitar anda dapat dari anda ketika sebelum anda masuk TK dan sesudahnya? Atau sebelum masuk SD dan sesudahnya? Atau SMP atau SMA atau Perguruan tinggi? Atau adakah beda yg anda rasakan ketika sebelum dan sesudah anda menjalani magister anda?

Bila anda tidak merasakan perubahan apapun dan orang sekitar anda tidak mendapatkan hasil apapun dari anda, yakinlah bawa selama ini anda bersekolah adalah sia-sia. Anda hanya buang waktu, buang tenaga, buang biaya dan buang potensi terbesar anda yaitu otak anda.




Lama tidak menulis ternyata membuat ‘gumpalan’ yang ada dikepala ini seperti mau meledak. Input yang setiap saat dengan sadar atau tanpa sadar saya masukkan ke otak tidak diimbangi dengan output yang sepadan. Membuat guratan-guratan yang ada dilangit-langit ide semakin menumpuk dan bahkan sebagian ada yang tak tertampung lagi didalam memory.

Departemen Keuangan yang menampung kreatifitas saya pun memiliki andil besar untuk mulai ‘menumpulkan’ keinginan menulis ini. Bagaimana tidak, dengan system yang digadang adalah system unggulan yang diterapkan pertama kali didepartemen diIndonesia. Atau kami sering menyebutnya system modern, yang memberikan punishment and reward telah menguras sebagian besar waktu dan potensi otak saya. Sehingga menulis sebuah ide menjadi prioritas nomor sekian. Apa mungkin saya membutuhkan gadget yang lebih canggih ya?

Hal terakhir yang saya ingat saya telah menjadi satgas penjaga dropbox (pojok khusus pajak yang melayani pelaporan SPT Tahunan) yang berada beberapa pusat keramaian sebuah kota. Selain tugas pokok saya adalah sebagai debt collector pajak, ternyata menjadi satgas drop box ini benar-benar menguras tenaga dan keahlian berbicara. Karena tanpa bantuan dari rekan lain setidaknya saya harus menguasai beberapa detail tentang perpajakan Indonesia.

Namun disela-sela itu menjadi satgas dropbox juga bisa menjadi warna dalam melakukan rutinitas sehari-hari didalam kantor. Saya bisa mengamati orang yang lalu lalang didalam mall tempat saya jaga dropbox. Bercanda dengan beberapa security, menikmati jajanan mall yang jarang saya tahu rasanya. Atau bahkan saya kadang begitu asyik menonton acara TV siang hari yang ada di dalam mall tersebut.

Dalam keasyikan observing itulah saya tertarik pada beberapa kejadian yang sepertinya berulang, dan berulang sejak pagi saya dating hingga sore ketika pojok drop box saya hendak gulung dagangan. Kebetulan pojok yang ditentukan oleh tim sebelumnya menempatkan saya di lantai satu beberapa meter dari pintu keluar supermarket pusat perbelanjaan itu. Mungkin dengan maksud supermarketlah tujuan awal atau akhir hampir sebagian besar pengunjung mall itu. Sehingga target penempatan dropbox bisa tercapai.

Ada sebuah kotak besar diujung luar pintu keluar supermarket itu. Saya perhatikan sejak pagi banyak sekali orang yang menyematkan diri datang kekotak itu. Dalam hati ‘dropbox saya kalah saingan’ bahkan yang tidak berbelanja pun dengan antusias segera mengerumuni kotak itu. Memasukkan satu atau beberaa carik kertas kecil berwarna hijau muda. Semakin siang pengunjung kotak itu semakin banyak, hal ini membuat saya penasaran dan dengan segera ikut mendatangi kotak itu hanya tuk menjawab rasa penasaran.

Setelah saya bisa membacanya dengan jelas maka saya pun tersenyum sumringah ‘ah bukan saingan dagang kok’ kotak itu adalah kotak memasukkan kupon undian. Ternyata supermarket itu mengadakan sebuah undian untuk memenangkan banyak barang yang bernilai harganya. Dengan kelipatan belanja 50.000 sebuah kupon undian yang saya lihat berwarna hijau muda itu mereka dapatkan. Sangat mudah, hanya menyertakan nama nomor KTP dan alamat plus nomor telepon kupon undian sudah sah untuk mengikuti kegiatan mengundi nasib tersebut.

Saya begitu tertarik memperhatikan kegiatan para pengunjung memasukkan kupon undian tersebut karena begitu banyaknya konsumen yang antusias. Hingga terlintas dalam pikiran apa yang terjadi didalam kejiwaan beberapa manusia ini? Mereka mengharapkan sesuatu yang tidak ada kepastian didalamnya bahkan saya yakin bahwa mereka juga tidak tahu apa yang akan dilakukan bila mereka benar-benar mendapat hadiah undian tersebut. Ah itu urusan nanti yang penting saya belanja, dapat kupon isi identitas masukkan dan kemudian berdoa siang malam agar dapat undian barang yang paling bernilai harganya.

Apa yang ada dalam pikiran konsumen ini ya? Bukankah praktek ini sistemnya hampir mirip dengan berjudi/gambling. Mengharap hal yang belum dan sangat tidak pasti adanya. Di pihak supermarket sebagai pelaksana. Hal ini adalah strategi dagang yang diterapkan untuk menjaring konsumen lebih banyak dan menguras duitnya, Ujung-ujungnya ya profit. Dari pihak konsumen apa keuntungan yang bisa diambil? Ya dapet hadiah. Yakin hadiahnya sudah worthed, pemerintah memberikan regulasi yang ketat akan system dagang undi mengundi ini. Salah satu contoh regulasi yang bertujuan untuk meminimalisir kegiatan ini adalah adanya pajak undian yang dikenakan atas barang yang diundi sebesar 25% itupun harga beli dari pihak penyedia juga sudah dikenakan PPN sebesar 10%. Ini salah satu contoh. Jadi intinya ketika konsumen mendapat barang undian yang mereka sebut hadiah itu adalah harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang berupa akumulasi selisih harga yang selama ini mereka belanjakan di supermarket itu plus 25% dari harga jual barang yang diundikan.

Ya kalau mau berpikir sebenarnya barang undian itu jatuhnya kita beli, bukan hadiah seperti nama nya. Hanya saja kita mencicilnya sejak lama dan kemudian ditutup dengan pajak undian itu. Kalau sudah begini jatuhnya juga bukan gambling lagi. Menguntungkan ? bagi konsumen bila ditakar dalam prosentase keuntungan jauh lebih kecil dibanding keuntungan yang didapat oleh pihak penyedia undian. Baik keuntungan material ataupun keuntungan dalam hal manakemen pemsaran dan advertisingnya. Secara tidak langsung keuntungan itu akan semakin menguras duit konsumen.

Saya kira tingkat pemuas kebutuhan yang kurang memadai atau bahkan tingkat kepuasan yang terlalu tinggi sedangkankan alat pemuasnya tidak sanggup terpenuhi adalah factor yang paling dominan dalam menentukan perilaku konsumtif ini. Atau sifat ketergantungan yang berada dalam taraf mengkhawatirkan yang dimiliki banyak masyarakat di negeri ini bisa menjadi jawabannya. Ketergantungan kepada orang lain, ketergantungan kepada institusi bahkan ketergantungan kepada pemerintah.

Saya jadi seperti pengamat ekonomi ini. Mengamati perlaku konsumen melalui kotak undian itu saja malah membuat saya tertarik. Gambaran nyata yang ada disendi kehidupan masyarakat kota khususnya. Sifat konsumtif itu ternyata semu, ketika dipancing dengan beberapa lembar kupon undian ‘kecacatan’ mereka tampak. Ternyata manusia kota itu bukan manusia yang serba cukup. Mereka malah mengalahkan penduduk desa. Dengan keterbatasan penduduk desa selalu merasa cukup dan bersyukur. Tiada mall saya yakin bila penduduk desa yang belum tercemari imbas negative kota kupon ini mungkin akan mereka jadikan ‘vapir’ tuk kemudian mereka isi tembakau dan dihisap..hehehe.

Kota memang tidak selamanya negative, peradaban kota mengenalkan kita akan informasi, bidang ilmu lain yang tidak diketahui oleh peradaban desa. Namun sendi desa juga merupakan ilmu sosiolog terapan paling bagus dan tepat yang tidak ditemui dikota.

Udah cukup, bahasan ini akan melebar kalau tidak segera disudahi. Tulisan pertama dari ruetnya aktifitas saya akhir-akhir ini….





Paradoks sejarah waktu kita yaitu dimana kita punya gedung-gedung yang lebih tinggi tapi punya watak yang pendek; punya lebih lebar jalan-jalan tapi berpandangan sempit.

Kita menghabiskan banyak waktu, tapi hanya mendapatkan sedikit; kita membeli lebih banyak tapi menikmati lebih sedikit. Kita memiliki rumah yang lebih besar tapi dengan keluarga yang "kecil"; lebih banyak kesempatan tapi lebih sedikit waktu; kita punya lebih banyak parameter tapi sedikit perasaan; lebih banyak ilmu tapi sedikit pertimbangan; lebih banyak ahli tapi lebih banyak masalah; lebih banyak obat tapi sedikit kesehatan.

Kita minum berlebihan, merokok berlebihan, menghabiskan banyak kesembronoan, terlalu sedikit tertawa, mengemudi terlalu cepat, lebih cepat marah, bangun lebih telat, sangat sedikit membaca,Terlalu terlalu banyak nonton TV, dan berdoa terlalu sedikit. Kita punya banyak barang milik pribadi tapi kita kehilangan nilai-nilai.

Kita berbicara terlalu banyak, sedikit cinta, dan terlalu sering membenci.

Kita telah belajar bagaimana caranya hidup, tapi tidak hidup. Kita telah melewati umur untuk hidup, bukannya hidup melewati umur. Kita semua telah berada pada jalan ke bulan dan kembali, tapi punya masalah untuk menyebrang jalan menemui tetangga baru.

Kita terus mencoba mengekpslorasi ruang angkasa, tapi melupakan bumi, merusak bumi. Kita telah melakukan sesuatu yang besar, tapi tidak yang lebih baik.

Kita telah membersihkan udara tapi tetap membuat polusi pada jiwa. Kita telah memisahkan atom tapi tidak memisahkan prasangka. Kita menulis lebih banyak, tapi belajar lebih sedikit.

Kita banyak merencanakan, tapi sedikit menyelesaikan. Kita telah belajar dari kesibukan, tapi tidak belajar untuk menunggu. Kita membuat banyak komputer untuk menghimpun dan memperbanyak informasi tapi kita kehilangan komunikasi.

Terlalu banyak makanan 'fast food' tapi pencernaan tetap saja lambat; lebih banyak orang besar tapi berkarakter kecil; banyak keuntungan tapi dangkal hubungan.

Lebih sering terdengar perdamaian dunia tapi juga semakin banyak perang domestik, banyak waktu terluang tapi sedikit kebahagian; lebih banyak macam makanan tapi lebih sedikit nutrisi.

Lebih banyak keluarga dengan dua pendapatan tapi lebih banyak perceraian; lebih banyak rumah keren tapi banyak yang 'broken home'; lebih banyak cara cepat tapi banyak juga popok dibuang, dibuangnya moralitas, kelebihan berat bandan, dan pil- pil yang menenangkan tapi juga membunuh.

Inilah waktu dimana begitu banyak barang terlihat di jendela tapi tak ada dalam stok,
ini membuktikan kita terlalu sulit untuk bersikap adil. berfikir keras untuk memecahkan satu hal tapi melupakan hal yang lain





3 hari libur membuat setiap sendi ini malas sekali digerakkan, udara yang sejuk angin yang sepoi-sepoi sempurna rasanya tuk terus ‘mbangkong’. Sabtu telah kulewati dengan membongkar mesin motor kesayangan Kawasaki Binter Merzy KZ200 th ’85 walau sebenarnya mesinnya baik-baik saja, namun karena sifat iseng saya kambuh gatel rasanya membiarkan mesin itu gitu-gitu aja. Pinginnya mbongkar kasih booster tambahin NOS abis itu ngebut di arena Drag kayak jaman masih STM dulu.

Hari minggu pagi diawali dengan menjadi tukang ojek pribadi bagi istri tuk belanja ke pasar tradisional terdekat hingga diakhiri sore hari mbonceng anak-anak keliling komplek pake motor butut tua yang sudah dioprek kemarin. Diawal hari inilah inspirasi nulis itu dating. Saat duduk jongkok bersama bapak-bapak tukang antar jemput yang lain. Disamping ngobrol yang entah kemana juntrungannya kami kadang juga saling bertukar informasi tentang apa saja. Jual beli mobil rumah motor bahkan sapi. Atau hanya sekedar bercas-cis cus ria sambil nunggu para komandan dapur memanggil tuk pulang.

Inspirasi itu datang saat ada 2 orang buta yang sepertinya suami istri saling berpegangan. Iya dua-dua nya seorang tunanetra karena cirikhas yang melekat dan cara mereka berjalan. Berkacamata hitam memakai tongkat dan saling meraba jalan. Cara berpegangan mereka membuat yang melek pun pasti iri, paling ngga saya sendiri iri melihat mereka berpegangan dengan mesra tak peduli orang bilang apa. Wong mereka juga ngga akan bisa melihat siapa yang iri atau malah ngiler.

Sang istri berada agak dibelakang sisuami memegang pundak suami dengan mesra sambil senyum-senyum manja. Sisuami berada didepan memakai tongkat sambil membawa barang dagangan. Apakah ini sebuah kontemplasi? Sangat mungkin ini adalah sebuah kontemplasi hidup. Istri itu adalah yang ada selalu dibelakang suami ikut kemanapun suami melangkah. Pundak suami adalah pegangan bagi arah rumah tangga yang dijalani. Apapun yang terjadi didalam rumah tangga istri akan selalu memegang pundak suami sambil terus memberikan dukungan dan support semangat. Begitulah seharusnya seorang istri.

Suami adalah pemegang tongkat visi rumah tangga, kemanapun tongkat itu dibenturkan misisnya adalah agar tidak tersandung atau menubruk sesuatu yang keras dan segera berbelok ketika bertemu tembok. Ditangan suamilah tongkat itu bekerja semestinya. Suami akans angat tenang ketika jemari istri selalu tertumpu dipundaknya memapah setiap asa dan menjadi pelipur ketika kecewa.

Saya banyak sekali belajar dari pemandangan ini, ingin sekali saya pegang tongkatnya dan saya bawa kerumahnya agar selamat sampai tujuan, namun saya yakin sisuami tak akan mau karena dengan membenturkan tongkatnya dia akan semakin hafal jalanan yang dia lewati dan entah suatu saat tongkat itu mungkin tidak lagi ada gunanya karena rute perjalanan sudah tergambar di otaknya.

Hal lain yang saya pelajari dari pemandangan indah ini adalah. Coba kita perhatikan setiap tunanetra kebanyakan menggunakan kacamata. Sebenarnya saya tidak sekali ini saja melihat suami istri buta itu dipasar. Sejak pecan-pekan sebelumnya saya sudah melihatnya namun saya tidak begitu memperhatikannya. Hanya ada beberapa detil yang saya perhatikan salah satunya adalah kacamatanya. Bila melihat 3 pekan kebelakang kacamata sang istri selalu berubah. Pecan pertama seingat saya dia memakai kacamata hitam sporty mirip yang biasa dipakai sprinter ketika kejuaraan lari berlangsung. Pekan kedua si istri berganti memakai kacamata hitam bergaya retro seperti yang dipakai Arnold swartzeneger (ribet amat nulisnya) dalam film Terminator II. Dan kemarin saya perhatikan dia memakai kacamata jadul mirip rayban cobra hitam, jangan-jangan emang rayban cobra asli nih.. hehe

Apa yang kemudian saya dapat dari hasil memperhatikan ini? Sebagus dan semahal ataupun setrendy apa merk dan jenis kacamata yang dipakai sang istri apakah si istri bisa melihatnya? Saya yakin sipemakainya pun tidka bisa melihat arti bagusnya kacamata itu. Dia memakainya hanya tuk menyelamatkan siapapun yang melihatnya agar tdiak merasa jijik melihat cacat pada matanya.

Seharusnya pelajaran inilah yang bisa kita tiru didalam kehidupan kita. Sering kali kita membeli sesuatu yang bisa dibilang sangat mahal bahkan demi sebuah merk berapapun mau kita keluarkan. Namun kita tidak bisa melihat dengan jelas maksud kita membelinya kecuali hanya tuk memamerkannya.

Bila mau berkaca apa yang membuat Jakarta macet? Karena sifat pamer yang begitu tinggi diantara penghuninyalah yang membuatnya semakin macet. Bandingkan dengan perancis saya yakin lebih banyak orang kaya disana. Namun trem mereka fungsikan dengan baik. Di salah satu acara TV daerah Filipina disebuah spot memiliki sebuah area luas yang didalamnya tidka boleh ada kendaraan bermotor. Hasilnya spot itu begitu indahnya. Taman plus orang jualan dibiarkan bebas asal menjaga kerapian dan keindahan.

Dijepang ada sebuah mall yang menyediakan pelataran seluas 1,5 luas lapangan bola yang dibuat pedestrian, area jualan, area pacaran, stan-stan buku dan makanan kecil. Si direkturnya ngga pelit menyediakan area gratis tuk umum. Dan hasilnya mall itu selalu ramai penjualan terus meningkat.

Mereka tahu manfaat membeli kacamata, bahkan mereka tahu bagaimana memanfaatkan kacamata hitam itu. Saya kembali belajar dari si buta. Mereka tidak pernah bisa melihat kacamata hitam yang ada didepan mata buta mereka namun mereka tahu benar manfaat kacamata itu mereka sematkan.

“pulang yok!” yah panggilan dari si boncenger membuat lamunan saya hilang. Apa boleh buat blog ini saja yang saya jadikan tautan inspoirasi ini. Semoga bisa memberikan pelajaran juga bagi yang lain. Semoga….