
Entah lupa tahun berapa ya waktu era kejayaan Mike Tyson mulai berakhir. Ditangan Evander Holyfield sileher beton menyerah dengan brutal. Kekalahan telak plus tutup cerita yang memalukan bagi Tyson. Selama kejayaannya si leher beton sangat diatkuti lawan-lawannya. Menghantam mereka bak pukulan jangkar namun yang paling menyakitkan bagi musuh-musuh Tyson adalah hantaman psikologi yang ditanamkan Tyson pada karakternya yang ‘buas’ , sehingga lawan-lawannya akan langsung berasumsi bahwa Tyson Undefeated. Anggapan yang telah mengalahkan musuh Tyson duluan.
Namun Holyfield menantang anggapan umum Tyson ini. Dia mengalahkan dulu Tyson dengan anggapan bahwa Tyson hanyalah makhluk kerdil yang tak memiliki otak waras. Tyson malah menganggap Holyfield hanyalah anak kecil yang akan menangis kalau permennya diambil, sebelum keduanya bertarung. Pertarungan pemikiran ini berlangsung duluan. Dan Tyson kalah, hingga diatas ring pun Tyson sudah keburu terbawa anggapan kalah ini. Sehingga Holyfield bisa dengan mudah menundukkannya.
Rejoice sebuah merk shampoo terkenal yang menjadi trademark sampo pada waktu itu rugi besar ketika melaunching produk barunya yang bertajuk 2 in 1. Kala itu belum ada shampoo pluss conditioner. Shampoo ya shampoo hanya sabun tuk cuci rambut. Rejoice menemukan kombinasi ini pada malam harinya, namun direktur pemasarannya memutuskan tuk mengumumkan hasil temuannya ini pada esok harinya.
Namun dimalam itu juga pesaing mendahuluinya melaunching produk 2 in 1 yang sama. Head n sholder mendapat keuntungan berlipat-lipat hanya karena waktu launchingnya hanya berjarak semalam. Anggapan sang direktur bahwa hanya produknyalah yang memiliki inovasi baru ternyata membuatnya menelan kerugian yang cukup besar.
Anggapan atau asumsi adalah awal dimulainya peperangans esungguhnya. Kemenangan Spartan atas Troy juga karena anggapan. Kemenangan Pasukan Rasulullah diperang badar salah satunya juga karena anggapan atau asumsi.
Bagi pribadi anggapan adalah pola pikir bagaimana kita melihat sesuatu yang belum tampak. Seorang siswa akan benar-benar gagal ketika dia sudah beranggapan bahwa soal-soal ujian jauh lebih njlimet dari otaknya. Padahal otak manusia adalah chip yang paling njlimet.
Saya ingat ketika harus datang ke sebuah ruangan yang didalamnya sudah duduk 3 dosen penguji kompetensi yang siap memberikan pertanyaan atas bahan yang saya uji kompetensikan. Anggapan yang ada didalam otak saya adalah bahwa mereka seperti harimau yang hendak menerkam saya, dan bahan uji kompetensi yang tadinya sudah saya kuasai tiba-tiba byar pet ….byar pet.
Apalagi sebelumnya ruangan itu dikenal seperti camp penyiksaan Guantanamo, mirip hanya saja yang disiksa bukan fisik namun anggapan setiap siswa yang masuk ke ruangan itu. Namun ketika itu saya sedikit demi sedikit bisa menguasai keadaan apalagi pas saya lihat salah satu pengujinya saya kenal akrab, anggapan kengerian itu hilang sudah. Dan tiba-tiba otak saya seperti kran air yang baru dibuka tutupnya.
Didalam otak kita anggapan itu seperti balon yang memisahkan antara kenyataan dan ilusi yang sesungguhnya kita buat sendiri.Bahkan kadang kita tidak tahu sedang berada didalam balon anggapan itu atau sedang benar-benar menjalani semuanya sesuai kenyataan.
Yang perlu kita lakukan adalah membuang balon pembatas itu, setiap apapun yang kita laksanakan janganlah selalu dimulai dengan anggapan. Karena anggapan ini akan merusak apapun yang kemudian akan kita lakukan setidaknya tidak akan memunculkan kemampuan maksimal kita.
Yah beda kita dengan Einstein mungkin hanya pada anggapan ini. Beda kita dengan mahatma ghandi bisa jadi karena anggapan ini…
Jangan-jangan..jangan-jangan…….




