Istriku pernah bilang ketika lagi asyik ngobrol diantara makan malam pake lauk ikan asin, sambal sama pete.

“mas, korupsi itu sebenarnya 40% kesalahan terletak pada pelaku korupsi.”
“nah yang 60% ditanggung siapa kesalahannya?”
“yang 30% karena permintaan masyarakat, yang 20% karena desakan keluarga sedangkan sisanya karena system. System ini sama persis dengan kesempatan. System dibuat untuk menciptakan kesempatan agar korupsi jadi mulus.”


Saya hanya manggut-manggut demi mendengar omelan istri ini. Tak disangka sekarang istriku telah menjadi ahli survey yang handal. Memprediksi sebab musabab korupsi dengan tepat dan akurat.

“memangnya yang sudah kamu survey kalangan siapa saja yang?” imbuh ku.
“ini bukan masalah survey mensurvey, namun begitulah kenyataannya. Ada pepatah bilang dibalik laki-laki yang hebat pasti ada wanita luar biasa. Begitu pun sebaliknya, dibelakang laki-laki korupsi pasti ada wanita yang memberinya tekanan untuk korupsi.”

Saya tertawa lepas mendengar penuturan lugu istri saya ini, tanpa sadar ikan asin yang dimulut pingin lompat dan menolak untuk ditelan. Padahal perut sudah keroncongan dan berontak pingin segera diisi.

Masyarakat Indonesia khususnya sudah terbiasa dengan budaya kalau sulit kenapa dipermudah bagi pejabatnya dan budaya kalau ada dana kenapa cari yang sulit bagi masyarakatnya. Kedua budaya ini seperti botol ketemu tutup, ‘mathuk tur gathuk’. Kecocokan budaya inilah yang membuat praktek korupsi begitu suburnya. Membuat kisi-kisi kehidupan yang ‘mblaur’ apakah disebut korupsi ataukah hanya memudahkan urusan yang sulit dan menyulitkan urusan yang mudah.

Rakyat tak mengenal istilah birokrasi sehingga apapun yang dikatakan birokrat dianggap aturan baku yang wajib diikuti apapun resikonya, meneketehek masalah masalah korupsi. Jadi sadar ataupun tanpa sadar masyarakat sendirilah yang meminta praktek korupsi itu tetap eksis, mereka hanya tahu bahwa apabila berhubungan dengan pemerintah harus mudah urusannya. Biaya operasional korupsi pun dimasukkan dalam anggaran biaya usahanya.

Pejabat yang menjadi pelaksana system pun tak berusaha tahu dengan aturan system yang ada. Bisa jadi juklak aturan yang pegang hanya atasan sedangkan pelaksana lapangan hanyalah pelaku perintah yang tak tahu menahu tentang sebuah praktek korupsi sedang berlangsung atau tidak. Maka kenapa budaya dalam masyarakat ini sudah turun temurun dan harus dihentikan.

Apabila system bisa dirubah maka budaya sangat sulit dirubah, self minded tentang anti korupsi belum tertanam dalam budaya masyarakat. Merubah budaya tidaklah serta merta merubah sebuah tatanan berkehidupan, namun lebih kepada merubah pemahaman tiap individu akan dampak dan kerugian yang ditimbulkan dari praktek korupsi ini. Selain materi, dampak korupsi akan mempengaruhi tingkat disiplin, moralitas kejujuran, sopan santun dan tanggung jawab.

Kehidupan tidak akan sesuai dengan tatanan norma yang dikehendaki dalam bermasyarakat apabila nilai –nilai korupsi terlebih dahulu tertanam dalam akar sebuah budaya. Tidak pula kemudian kesalahan mutlak ditimpakan pada masyarakat, karena sebenarnya kebanyakan masyarakat pun belum faham betul apa itu korupsi, mereka hanya mengikuti system/aturan yang turun temurun telah dijalankan oleh orang-orang terdahulu mereka.

Upaya yang sangat signifikan ketika pemerintah membuat sebuah hari dalam setahun untuk dijadikan tonggak dalam mengingat, meresapi dan memperhatikan makna anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Satu hari yang akan membuat setiap orang malu akan apa yang dikerjakannya apabila menyerempet rambu-rambu korupsi.

Saya kebetulan memiliki profesi sebagai ‘abdi negara’ yang sangat rentan akan praktek korupsi ini, walau instansi yang saya tempati sudah memberlakukan program modernisasi namun praktek-praktek korupsi masih saja saya temui. Namun saya kagum akan perubahan secara fundamental yang tertanam dicara berpikir, sikap maupun mentalitas para abdi Negara yang sudah mengecap kode etik sebagi pelayan Negara ini.

Saya ingat sekali sebuah dialog rekan saya dengan putrinya ketika kami satu mobil,
“yah, sejak ayah cerita tentag ‘perubahan’ dikantor. Yakin ayah sudah berubah?” Tanya putrinya.
“sepanjang yang ayah bisa, ayah berusaha semaksimal mungkin tuk tetap pada jalur perubahan ini sayang.” Si ayah menimpali putrinya dengan nada lembut dan sambil mengajaknya berdiskusi.
“kalau gitu ayah dapet kecupan..” dan adegan berikutnya biarlah kedua generasi itu yang menikmati suasana keharmonisan keluarga tersebut.
Sampai dikantor si ayah, yang juga rekan satu ruangan menepuk pundak saya sambil menitipkan pesan.
“dek, tolong bila hari ini saya korupsi ingatkan saya!”
Saya mengernyitkan dahi demi mendengar isi pesan yang diucapkan langsung kepada saya tersebut.
“apalagi yang harus saya ingatkan bang? Bukankah abang malah yang menjadi pelopor perubahan di sini?” ucapku sambil melontarkan nada heran plus Tanya besar.
“ingatkan aku kalau aku masih korupsi waktu, ingatkan aku kalau aku masih korupsi kertas, ingatkan juga kalau aku lalai akan target pekerjaan yang kita canangkan berdua.”

Demi mendengar ucapan itu saya merasa beliau sedang menyindir saya, atau bahkan menyindir para abdi Negara di kantor ini, atau diinstansi ini. Atau bahkan seluruh abdi Negara yang ada di Negara ini.

Bila harus mendifinisikan korupsi sesuai dengan apa yang tertulis di laman om Wiki, maka hal remeh temeh diatas tidaklah masuk dalam definisi korupsi, karena om wiki mendefiniskan korupsi sebagai kejahatan birokrasi untuk kepentingan pribadi yang lebih menitik beratkan pada birokrasi politik. Namun dalam hal efektifitas dan produktifitas pembelajaran rekan saya diatas akan pembentukan mental antikorupsi sangatlah membuka pemahaman saya akan definisi korupsi secara luas.

Jadi kemana-mana ini mbahas korupsinya, kembali ke laptop! Maaf om tukul jargonnya tak pakai, nanti tidak ditarik royalty kan? Korupsi tetaplah korupsi apapun bentuk dan topengnya. Namun satu kecenderungan yang sering saya jumpai ketika para pelaku korupsi semakin meraja lela biasanya dimulai dari gaya hidup yang serba wah. Atau lebih tepatnya tuntutan hidup yang harus terlihat seperti kaum jetzet. Hal ini ditutupi dengan kalimat yang lebih lunak yaitu demi sebuah prestise.

Bagi sebagian orang prestise adalah harga mati dalam hal menampakkan sebuah image. Prestise lebih diidentikkan dengan penampilan yang terlihat elegan dan fashionable, saya definisikan sebagai lebih diidentikkan karena tidak semua orang itu elegan atau fashionable. Sebagian malah memaksakan untuk terlihat wah demi sebuah prestise. Membohongi publik dengan penampilan tetapi dalamnya hanyalah kosong. Namun yang saya dapat dari kebanyakan orang yang berplat “K” memang benar-benar kosong. Karena prestise dan kewibawaan tidak bsia dibuat-buat. Prestise atau kewibawaan akan terpancar dengan sendirinya dari hati yang bersih tidak dibuat-buat.

Tak jarang pula dijumpai bila seorang suami memiliki kecenderungan korupsi itu dimulai gaya belanja gila-gilaan yang dimiliki si istri yang kemudian menurun ke anak. Contoh saja Ratu Perancis Marie Antoinette dimasa pemerintahan Louis XVI yang terkenal dengan gaya glamornya menghabiskan uang rakyat dan mengakhiri gaya hidupnya diatas Guillotine.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa korupsi sekecil apapun bisa terbentuk dari jaringan komunitas terkecil yaitu sebuah keluarga. Keluarga yang dibentuk dengan mentalitas seorang pencuri dengan sendirinya akan melahirkan koruptor-koruptor baru dimasa yang akan datang. Sayangnya lagi pembentukan mentalitas-mentalitas seperti ini tak disadari oleh para pendidik dikalangan keluarga. Berkurangnya penanaman nilai kejujuran, merosotnya pembentukan jiwa tanggung jawab, melalaikan makna disiplin dalam keluarga ditambah berkurangnya porsi pembentukan jiwa spiritual menambah berat distorsi-distorsi dalam pembentukan mental anak-anak ini.

Keluarga merupakan ujung tombak berdirinya sebuah generasi pembaharu dimana didalam keluarga calon-calon pemimpin ditempa, dimana para pengasuh bangsa tidak lama lagi akan bermekaran. Keluarga adalah sumber lahirnya sebuah tradisi dan peradaban bagi berdirinya sebuah bangsa yang terbebas dari korupsi.

Dinegara ini kita semua disibukkan dengan pemberantasan korupsi, tapi Negara ini juga sedang lupa bahwa korupsi baru akan terus bermunculan dalam bentuk-bentuk yang tak bisa diprediksi apabila tidak segera membangun pondasi pencegahannya. Yang dimulai dari keluarga. Dari komunitas terkecil sebuah Negara, Keluarga.

NB : Artikel ini saya ikutkan dalam kompetisi ANTI KORUPSI BLOGPOST COMPETITION yang diadakan laman www.ceritainspirasi.net
pyaaaaarrrrrrrrrr……!!” sekali lagi aset ku pecah berhamburan dilantai, setelah berkali-kali suara itu terdengar barulah si tersangka muncul dengan gagahnya, sambil menyisakan serpihan-serpihan bekas kunyahan disepanjang lantai yang dilaluinya.

Tak hanya itu ulahnya kali ini, sepertinya si tersangka juga berhasil memutuskan kabel listrik penghubung antara colokan listrik dan mesin air dirumahku. Kelakuan ini sudah ku terima sejak aku menempati rumah ini. Dan hebatnya aku selalu menjadi si sapu jagat yang harus siap dengan sapu dan ‘cikrak’ untuk membersihkan setiap kekotoran yang ditimbulkannya. Pikirnya resiko bisa dilimpahkan kepada pemilik rumah mungkin.

Karena kelakuan si tersangka ini sudah tergolong akut maka aku dan penghuni rumah yang lain berusaha membuat strategi untuk melumpuhkannya, bahkan kalau bisa sekaligus mencari modus bagaimana si tersangka ini bisa leluasa mengobrak-abrik seisi rumah.

Di mulai dengan menaruh lem tikus di tiap sudut rumah, dengan cara ini kami berharap si tersangka menjadi faham bahwa tugas untuk melumpuhkannya mulai digalakkan. Walau ancaman ini hanya bersifat peringatan tapi kami berharap ada hasil yang bisa kami dapatkan dari tindakan pertama ini, hitung-hitung baca kekuatan lawan. Benar juga si tersangka tahu bahwa ini tindakan kami ini bukanlah melumpuhkannya hanya sekedar peringatan.

Sehingga si tersangka malah membuat posisinya sebagai ‘perusak rumah’ semakin menjadi dengan menyodorkan para lalat, para cicak, dan para kecoak kedalam perangkap lem tikus itu. Mereka mengorbankan koleganya didalam rumah itu untuk menutupi aksinya. Dan inilah yang kami dapat kumpulan lalat, cicak dan kecoa yang saling sikut berusaha keluar dari jebakan lem tikus tersebut. Padahal tikusnya saja masih leluasa keluyuran mencari sudut baru yang lebih aman.
Satu aksi gagal demi sebuah keadilan maka para lalat, cicak dan kecoa itu kami lepas setelah sebelumnya diberi shock terapi berupa tanda disekujur tubuhnya bahwa mereka pernah terlibat dan berjanji tidak akan memberikan akses leluasa bagi si tersangka asli tuk mengobrak-abrik lagi isi rumah.

Aksi berikutnya kami siapkan jebakan kurungan bagi si tersangka karena ulahnya yang semakin meresahkan. Setelah tindakan terakhirnya menggerogoti kaki meja tempat kami makan, sehingga hampir merubuhkan lapak tempat kami menaruh semua bahan makanan. Kali ini kami bukan sekedar mengancam tetapi harus memberika efek jera setidaknya membuat mereka insyaf akan perbuatannya. Kami siapkan kurungan kawat yang susah mereka tembus apabila terjerat didalamnya. Sebuah media berteralis yang sempit dan hanya memiliki satu pintu keluar dan masuk.

Dengan setiap aksi meletakkan umpan didalamnya, tentu saja umpan kesukaannya. Ikan asin busuk yang sudah berbulan-bulan menggeletak bahkan para kucing pun tidak doyan lagi tuk melahapnya. Dasar tikus perusak bahkan umpan itupun dilahapnya tanpa ragu sudah mental pengerat yang selalu menggerogoti tatanan rumah ini. Dimalam itu juga suara keratan si tikus terdengar demi masuk jebakan itu, berkoar riuh rendah seolah dia hanya korban dari ketidak manusiawian jebakan kurungan. Menyeringai kepada penghuni rumah ketika pagi dan kami berusaha mengecek keberadaan tikus itu.

Penghuni yang lain datang membawa sejirigen bensin dan sebuah korek, sudah barang tentu kami faham maksud tindakannya itu. Kami kini yang menyeringai kearah tikus itu membayangkan apa kemudian yang terjadi ketika kobaran api muncul dari kulitnya, bulu-bulunya mengeluarkan asap hitam mengepul dan aroma daging terbakar keluar dari tubuhnya.
Tak berapa lama kucing peliharaan kami muncul sambil menunjukkan muka bimbang, padahal sebenarnya dialah yang mencanangkan pengejaran kepada para tikus ini, entah apa kemudian yang terjadi ketika para tikus ini tertangkap dan hendak diadili namun si kucing yang oleh penghuni lain dikasih nama sibuya ini menjadi bimbang.

Tatapannya yang dulu garang kepada para tikus menjadi lembek malah seperti melindungi dan menghiba kepda para penghuni rumah agar si tikus dilepaskan karena apabila si tikus mati terus apa lagi tujuan yang akan sibuya kejar dalam profesinya didalam rumah itu. Bukankah akan lebih baik kalau sibuya mundur saja dan menjadi kucing jalanan yang hobi memelihara gurita dirumah.

Entah sihir darimana yang membuat para penghuni rumah luluh demi alasan kesejahteraan bersama, atau kerukunan antar penghuni rumah atau menghindari rumah dari kebobrokan yang lebih parah. Apa boleh buat sibuya memang punya daya sihir yang kuat melalui pembangunan image dirinya. Akhirnya si tikus kembali leluasa melenggang di dalam rumah tanpa takut lagi dengan ancaman bahkan jebakan-jebakan atas dirinya.

Namun sebelum dilepas si tikus mewanti wanti kepada seluruh penghuni rumah tentang ketakutannya pada jepakan jepret yang mengahruskan yang tertangkap mati ditempat. Sebelum itu terjadi si tikus menawarkan berbagai kesepakatan untuk kebaikan bersama, mulai dari upeti yg akan diserahkan setiap harinya hingga membatasi aksinya dan tidak merusak kabel-kabel listrik.

Ah tikus-tikus ini benar benar ketakutan akan jebakan jepret karena bila lengah sedikit maka nyawanya akan langsung melayang tanpa meninggalkan waris dan wasiat. Mendapat kabar dari tikus tetangga beberapa tahun yang lalu tentang kejamnya dan luar biasanya efek jera yang timbul dari jebakan jepret ini, tak terbayangkan apa jadinya bila jebakan jepret ini diterapkan di rumah ini.

Menurut kabar dari tikus tetangga, ketika para tikus disana meraja lela mengahabiskan hampir semua isi rumah si kucing berteriak lantang “Berikan kepada saya seratus peti mati,sembilan puluh Sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.'' Dan si kucing membuktikannya dengan menjepret mati para tikus yang coba membangkang dan tidak mengikuti ketetapan yang dibuat oleh si kucing.

Para tetangga rumah berang dan mengutuk aksi si kucing, mengembargo bahkan mencabut hak amnestinya diseluruh dunia. Namun si kucing berkata “ini demi kebaikan rumah ini.” Sekarang rumah tersebut telah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 9% per tahun, pendapatan domestic 1000 dollar AS dan cadangan devisa sebesar 300 milliar dollar AS. Sementara rumah ini baru berkutat pada ekspor bahan mentah dan impor barang olahan.

Rumah ini milik kita para penghuni rumah, namun isinya dihisap oleh para tikus, digerogoti hingga hanya meninggalkan ampas saja untuk bisa dimanfaatkan. Bila rumah ini ingin segera maju dan berkembang maka carilah jati dirinya. Berantas tikus-tikus didalam rumah ini, dengan jepretan mematikan bagi para perusak tatanan yang ada.

Bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan, kuncinya adalah mari menjadi diri sendiri, tidak usah terlalu menggantungkan semua pada aturan tetangga. Dirumah ini dibutuhkan si kucing yang berani berteriak lantang “demi kebaikan rumah ini, maka berikan kepada saya seratus peti mati,sembilan puluh Sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.” Maka akan berbahagailah penerus rumah kita ini kelak.

NB : Artikel ini saya ikut sertakan dalam kompetisi ANTI KORUPSI BLOGPOST COMPETITION yang diselenggarakan oleh laman www.ceritainspirasi.net
"Demi waktu" Allah menggunakan waktu sebagai dasar patokan sebuah kerugian bagi ummat manusia, maka waktulah yang akan menentukan kapasitas manusia sebagai makhluk dan hamba. Maka hisaplah sisa waktumu! Besok aku tidak akan bergembira dengan bertambahnya usiamu, tetapi aku bersedih atas berkurangnya waktu membersamaimu.

-for my lovely wife-

you are everything for me, and everything in me is yours
Pak F : mas udah berapa lama berhenti ngerokok?

Saya : kok tahu saya mantan perokok pak?

Pak F : tadi waktu istirahat semua pada merokok, anda ngopi doank. Terus warna bibir anda juga sudah mulai memerah padahal ada sedikit bekas rokok yg mulai menghilang. Terus dari tadi ngangkat tanah pake gerobag kok kuat amat kalau perokok kayak saya jelas udah panas kerongkongan.

Saya : haha…. Tahu aja bapak ini, sudah hampir 3 tahun saya tidak pernah menghisap asap rokok langsungd ari mulut saya pak. Namun ya itu saya tetep dipaksa menghirup dari semburan mulut yg lain.

Pak F : saya ngga termasuk kan?


Kami tertawa lepas bersama setelah percakapan itu. Minggu pagi corongan masjid sudah berbunyi lantang memanggil warga sekitar untuk kerja bakti gotong royong untuk menimbun talud yang sudah jadi. Musim penghujan kali ini benar-benar diluar prediksi, air sungai yang DASnya berbatasan langsung dengan pondasi Masjid membuat ketar-ketir, melihat pondasi Masjid yang bila tak segera ditangani bisa-bisa ambrug.

Warga satu komplek sepakat minggu pagi tuk gotong royong nimbun dari tanah yang juga sudah dipesan rame-rame. Melihat bapak-bapak bekerja dibawah terik matahari para ibu tak mau ketinggaland engan menyediakan makanan kecil, gorengan dan wedang kopi atau teh dalam porsi meluber. Sehingga membuat para bapak semakin semangat tuk bekerja agar cepat selesai dan segera menikmati suguhan nikmat ini.

Ditengah nikmatnya terik matahari dan aroma tanah yang masih bercampur air hujan itulah topic berhenti merokok dilontarkan Pak F kepada kerumunan dan saya yang menjadi objeknya, karena memangs aya satu-satunya yang mantan perokok. Yang lain ada yang masih perokok dan ada pula yang tidak pernah bersentuhan dengan rokok sedikit pun.

MUI jelas sudah mengharamkan merokok, namun tiada nash yang mengharamkan rokok itu sendiri. Jadi rokok bukanlah hal/barang haram. Namun efek negative dari rokoklah yang menjadi point bagi MUI tuk mengeluarkan fatwa keharamannya. Polemic? Silahkan bahasan ini sudah terlalu panjang tuk diurai lagi. Masing-masing pihak baik yang pro dan kontra telah memiliki keyakinan masing-masing tuk merasa paling benar. Lagi pula malas mau bahas polemic halal haramnya.

Yang ingin tak bagi adalah apa yang saya tangkap tadi dari perbincangan dari para bapak perokok yang kemudian membuat saya trenyuh, kasihan bahkan masih bangga. Saya trenyuh ketika beberapa bapak berujar,

“sebenarnya pingin sih berhenti merokok, tapi bagaimana caranya?”

“melihat bapak bisa, kenapa saya susah sekali ya?”

“oh pantesan saya lihat akhir-akhir ini bapak kelihatan lebih segar”

Dan banyak lagi komentar yang sebenarnya mereka sadar, kerugian merokok namun mereka tidak sanggup tuk menghentikan kebiasaan itu. Saya juga heran apa kelebihan saya dibanding bapak itu sehingga saya mampu dan mereka tidak.

Ketika saya ingat memory kebelakang, saya berhenti merokok dimulai dari ketika saya menderita batuk yang berkepanjangan, hamir 1 bulan penuh batuk saya tidak sembuh-sembuh dan mulai membuat saya jengkel. Akhirnya dengan terpaksa saya harus berhenti merokok mengikuti saran istri.

1 minggu, 2 minggu, 3 minggu tak terasa 1 bulan saya tidak menyentuh barang yang kata Chairil Anwar tuhan Sembilan centi itu, tuhan yang membunuh Chairil Anwar sendiri. Hingga sampai beberapa bulan saya sanggup menahan keingin tuk kembali merokok, dengan semangat dari istri dan sulung saya yang mulai bisa mengatakan, “Ayah main sama mbak ya? Okoknya dibuang aja.” Demi kalimat ini semangatku semakin besar tuk tidak menyentuh rokok lagi.

Namun semakin hari godaan itu semakin besar, 3 sampai 5 bulan pertama tidak bersentuhan dengan rokok sangatlah tersiksa, disamping keinginan yang mulai kambuh lingkungan juga mulai tidak bersedia merelakan saya meninggalkan kebiasaan merokok ini.

Rekan mulai mengadakan taruhan atas saya, bahwa saya pasti akan merokok kembali, warung rokok sebelah rumah mulai menanyakan apakah saya berubah selera rokoknya, hingga banyak teman yang mulai menawarkan rokok gratisnya kepada saya.
Yah inilah lingkungan, tergantung kita apakah diri kita hendak menjadi thermometer yang selalu terpengaruh oleh lingkungan, atau menjadikan diri kita seperti thermostat yang harus merubah dan mempengaruhi lingkungan apapun yang lingkungan itu tawarkan thermostat akan tetap berusaha merubahnya sesuai grand desainnya. Pilihan saya waktu itu, saya harus menjadi thermostat.

Setidaknya dimulai dari diri sendiri tuk berubah lingkungan akan merespon seperti apa biarlah nanti menghadapinya. Ternyata lingkungan merespon dengan baik, kawan yang biasa nongkrong bareng, rekan kerja, bahkan keluarga mulai kagum dengan tekad yang kutunjukkan. Mereka mulai enggan menawarkan sebatang rokok pun ke saya, bahkan mereka mulai malu dna segera menyembunyikan rokoknya ketika saya datang.

Hingga kini saya harus menjadi agen anti tembakau for your own health. Jangan dulu berpikir apakah asap rokok yang saya semburkan mengganggu sekitar saya, jangan dulu bersimpati dengan para pekerja pabrik rokok yang akan di PHK ketika pabrik rokok tutup, atau jangan dulu berargumen tentang Halal haramnya merokok yang dikeluarkan melalui fatwa oleh MUI. Pikirkan paru-paru anda sendiri.

Bagaimana ini bisa terlupa oleh para perokok? Mereka mempedulikan orang lain namun lupa dengan dirinya. Bagaimana bisa ia bersimpati dengan tulus bila tak bisa bersimpati kepada dirinya. Bagaimana mungkin mereka bisa berargumen dengan para penganut kontra rokok sedangkan mereka tak bisa berargumen dengan tubuhnya sendiri. Jangan dulu menghormati orang disekitar anda dengan memaksanya menghirup asap rokok yang keluar dari mulut anda,padahal anda tidak menghormati kesehatan anda sendiri.

Ah..kok jadi gini?
Kutanyakan pada burung apa itu cinta
dia bilang,"cinta itu saat kudapatkan cacing tuk kusuapkan keanakku".
belum puas hatiku mendengarnya

Kutanyakan pada bintang tentang makna cinta
dia menjawab,"ketika ku berjalan selalu pada orbitku itulah cinta".
semakin bingung aku dibuatnya

Kutanyakan pada rimba raya tentang cinta lagi
dia berkisah,"saat penghuniku memakan bagianku dan hidup atasnya aku tahu itu cinta".
aku semakin tak mengerti cinta

Kutanyakan pada pujangga tentang makna cinta
dia bertutur,"saat singa dan rusa minum dimata air yang sama itulah cinta".
kata-katanya semakin mengaburkanku akan cinta

Akhirnya kutanyakan cinta kepada bidadariku
dia membisikiku,"saat kubangun pondasi pernikahan atasmu, mulai saat itu kutahu apa itu cinta".
betapa puas hatiku dibuatnya.

Biarlah engkau yang tercantik dihatiku

Setelah menikah ternyata ilmu gadhul bashar masih sangat berlaku, ya mau gimana ternyata pernikahan yang dipagari oleh gerbang suci ikatan malah jauh lebih besar godaan yang muncul. Membatasi pandangan adalah metoda terbaik tuk menjaga hati ini. Memandang hanya kepada yang telah halal bagi kita, melihatnya bahwa dialah yang tercantik yang bersemayam di setiap mimpi malam.

Jika anda para istri hendaknyalah membuat pandangan suami anda hanya tertuju kepada anda seorang, tutuplah setiap kesempatan tuk memandang kepada yang lain. Apalagi sampai membayangkannya, apalagi sampai lebih dari membayangkan. Tergantung pada wajah andalah pandangan suami akan berpaling atau tidak, bila wajah anda selalu memancarkan cahaya kesejukan kemanakah lagi harus memalingkan pandangan ini. Andalah panorama terindah ketika cahaya itu memancar. Ok. Setuju?

Kesejukan wajah sungguhlah tiada hubungan dengan kecantikan. Bila bagi yang belum menikah kecantikan sangatlah penting, sehingga banyak sekali pernikahan terjalin berdasar kecantikan, namun tidak menutup ada alasan tambahan dibaliknya barulah kemudian imannya. Bagi sebuah pernikahan kecantikan alangkah tidaklah penting, terasa kecantikan berada diurutan nomor-sekian-sekian. Jauh diatas kecantikan adalah kesejukan wajah anda ketika suami memandang anda. Kecantikan didalam pernikahan bukanlah hal yang mutlak, justru keteduhan jiwa dan kelembutan hati adalah muara air yang tak akan pernah habis direguk oleh suami ataupun anggota keluarga yang lain, keteduhan jiwa ini begitu mutlaknya harus tersirat ketika suami memandang, akan menjadi jawaban bagi angka perceraian yang semakin tinggi, perhatikan hadits Rasulullah ini. Suami termulia diantara manusia.
“Tiga kunci kebahagiaan laki-laki adalah istri shalihah yang jika
dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu
merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan
yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai
yang penuh kasih-sayang.

Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak
membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga
tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga
kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya
membuatmu lelah dan jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi;
dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”

Ketika penat melanda, ketika jenuh datang tanpa henti silih berganti keteduhan itu sangatlah diperlukan. Istri yang memeiliki keteduhan adalah obat yang luar biasa mujarab bagi ketenangan batin suami dan keharmonisan hubungan keluarga.
Saya teringat perkataan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Dalam bukunya yang berjudul Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim berkata, “Allah menjadikan penyebab kesenangan adalah keberadaan istri. Andaikan penyebab tumbuhnya cinta adalah rupa yang elok, tentunya yang tidak memiliki keelokan tidak akan dianggap baik sama sekali.”

Kadangkala kita mendapatkan orang yang lebih memilih pasangan yang lebih buruk rupanya, padahal dia juga mengakui keelokan yang lain. Meski begitu tidak ada kendala apa-apa di dalam hatinya. Karena kecocokan akhlak merupakan sesuatu yang paling disukai manusia, dengan begitu kita tahu bahwa inilah yang paling penting dari segala-galanya. Memang bisa saja cinta tumbuh karena sebab-sebab tertentu. Tetapi cinta itu akan cepat lenyap dengan lenyapnya sebab.”

Subhanallah.