Pagi ini Hujan tidak lah terlalu deras mendera bumi, dan awan tidak lah terlalu hitam memayungi langit. Namun hawa dingin sangatlah dalam menusuk-nusuk tulang. Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya adalah awal dari segala aktivitas yang ku kerjakan, bersama geliat kota ini memulai aktivitas rutinnya. Anak saya yang hendak berangkat sekolah bersamaan dengan anak-anak lain yang juga menembus rintik hujan, ibu-ibu bersorban ‘jarik’ dan memanggul sayuran bergerak serentak ke pasar tradisional di dekat rumah. Bapak-bapak pekerja bersama memanggul beban meninggalkan keluarganya demi sebuah harapan, sore nanti semoga sekantung berkah dan rezeki dapat dibawa pulang untuk keluarga-keluarga kecil mereka.

Ritme indah dipagi ini berlaku juga bagi diriku, memanggul asa demi seberkah barokah dalam memberikan penghasilan kepada keluarga kecilku. Di sela-sela terpaan gelombang badai yang terus menerus menggerus tak enggan berhenti barang sedetik. Namun apa dikata sebuah pilihan hidup yang kujalani adalah konsekuensi seumur hidup yang harus kulalui. Mengingatkan pengabdian terbaik kepada sebuah institusi adalah dengan membeli waktu yang tersisa untuk bisa mengganti recehan-recehan perak dan remahan-remahan nasi.

Di sela-sela lamunan dalam perjalanan hujan rintik-rintik itu, mataku selalu terkesiap setiap melewati pertigaan atau perempatan yang ramai di jalanan kotaku. Tak ayal hati ini berbunga-bunga melihat kenyataan itu. Sebuah pengabdian tulus tak terkira, dalam-dalam lubuk hati menaruh rasa hormat kepada sosok yang tetap tegak berdiri di tengah jalan, bermantel putih, dengan bendera kecil birunya mengatur setiap laju kendaraan di persimpangan itu.

Gerimis bukanlah sebuah halangan dalam pengabdian. Saya berhenti sejenak membunyikan klakson kecil 2 kali, tersenyum lebar. Entah bangga, haru atau hormat semua berkumpul menjadi satu. Benar-benar ingin ku sampaikan maksud hati kepadanya dalam bentuk isyarat yang mudah terlihat. Kami bangga kepadamu…!!!

Biarlah para Jenderalmu perang bintang, biarlah para kumendanmu saling sikut dan bernyanyi. Namun anda lah yang memberikan wajah kepada masyarakat bahwa setiap tindakan adalah gambaran sikap tugas. Anda lah point-point kode etik itu, membawakan atribut kehormatan bagi rakyat, Bahwa pengabdian adalah sebuah tanggung jawab.

Walau saya adalah seorang pegawai di instansi pemerintah, dalam hal ini saya adalah rakyat awam yang menikmati hasil pengabdian seorang aparat pemerintah.
Di ruangan yang tak lebih besar dari setengahnya lapangan futsal itu biasanya dikumpulkan para Wajib Pajak untuk diberi petunjuk pengisian SPT Tahunan dalam Rangka lebih memperjelas cara pengisian SPT Tahunan. Mengingat metode Self Assessment yang digalakkan pemerintah dalam pengurusan pajak. Metode yang melibatkan langsung para Wajib Pajak dalam perhitungan, pengisian dan pelaporan urusan Perpajakannya kepada Negara. Sehingga diharapkan masyarakat akan sadar pajak dengan sendirinya. Mampu dan bisa menghitung kewajiban perpajakannya secara mandiri. Sehingga praktek-praktek yang biasanya melibatkan ketidak tahuan Wajib Pajak akan kewajiban perpajakannya dapat segera diminimalisir.

Kegiatan mengumpulkan para Wajib Pajak di satu ruangan yang dilengkapi projector dan slide- slide materi tata cara dn tips pengisian SPT Tahunan ini sudah berjalan kira-kira 2 minggu lamanya. Mengingat batas akhir penyampaian pelaporan yang semakin dekat dan semakin melubernya para Pelapor di akhir waktu pelaporan maka kegiatan ini dianggap akan membeirkan manfaat yang besar dalam hal pemberian wawasan dan pengetahuan perpjakan kepada khalayak khususnya Wajib Pajak yang berkepentingan.

Dalam hal ini ada beberapa Wajib Pajak yang sudah malas untuk menerima kuliah singkat ini, entah karena sempitnya waktu yang dimiliki atau, memang sudah taks anggup lagi memikirkan hal-hal yng menurutnya tak menghasilkan profit. Dalam hal ini banyak sekali yang digagas oleh tiap Kantor Pajak dalam penanaman lebih lanjut tentang Self Assessment ini. Bisa melalui Help Desk yang disediakan di tiap kantor sampai pada pojok pajak-pojok pajak yang tersebar di pusat-pusat keramaian. Yang menyediakan informasi- informasi yang dibutuhkan Oleh Wajib Pajak. Bahkan Tahun ini Kantor Pajak juga menyediakan mobil Pajak keliling yang mobile disetiap sudut kota. Beruntung bila mobil-mobil pajak keliling itu mendekati lokasi anda beraktifitas sehingga bisa meluangkan waktu tuk sekedar mencari informasi atau meminta petunjuk pengisian SPT Tahunan.

Dalam kesempatan ini saya juga berusaha memberikan apa yang saya pahami dalam pengisian SPT Tahunan ini. Sehingga silahkan mempraktekkan bagi siapa saja yang membutuhkan.saya memberikan tutorial ini dengan cara saya yang mungkin agak berbeda seperti yang diajarkan oleh para pegawai pajak lain. Namun dengan hasil yang sama dan cara yang lebih bsia dimengerti. Ok..!! let’s try..!!!

SPT Tahunan Orang Pribadi dibagi dalam 3 formulir yang bisa dipilih oleh anda tergantung jenis kegiatan anda dalam memperoleh penghasilan.Untuk kali ini saya hanya akan memberikan penjelasan SPT OP yang khusus untuk Karyawan atau pegawai.

1. SPT Tahunan Orang Pribadi SS (Sangat Sederhana) dengan kode 1770 SS

Adalah formulir SPT Tahunan Orang Pribadi yang diperuntukkan bagi karyawan, pegawai, dan orang pribadi yang digaji atau diupah atau mendapat penghasilan dari pemberi kerja. Dimana pengasilan kotor (bruto) yang diterima dalam kurun waktu 1 tahun kurang dari Rp.60.000.000, maka formulir 1770 SS yang anda isi beserta lampiran formulir 1721-A1 yang dapat diperoleh dari pemberi kerja anda.

Dibawah adalah contoh bentuk SPT OP SS (1770-SS)

*)Kolom yang berwarna biru muda harus anda isi wajib mencantumkan tanda tangan atas nama yang memiliki NPWP.
Dibawah adalah petunjuk pengisian SPT OP SS (1770-SS)

Untuk pengisian SPT OP SS sepertinya saya tidak perlu lagi memberikan penjelasan karena bentuknya yang sangat sederhana dan tidak membutuhkan perhitungan apapun kecuali hanya mencantumkan total aset/harta yang dimiliki dan kewajiban/hutang yang harus dilunasi. Sekaligus di dalam formulir itu juga sudah ada petunjuk pengisian.

2. SPT Tahunan Orang Pribadi S (Sederhana) dengan kode 1770-S

Adalah formulir SPT Tahunan Orang Pribadi yang diperuntukkan bagi karyawan, pegawai, dan orang pribadi yang digaji atau diupah atau mendapat penghasilan dari pemberi kerja. Dimana pengasilan kotor (bruto) yang diterima dalam kurun waktu 1 tahun lebih dari sama dengan Rp.60.000.000 dan tidak mempunyai penghasilan lain selain bunga bank dan/atau bunga koperasi, maka formulir 1770 S yang anda isi beserta beberapa lampiran yang harus dilampirkan :

Lampiran yang melengkapi formulir 1770 S antara lain :
a. formulir 1721-A1 yang dapat diperoleh dari pemberi kerja anda.
b. Daftar keluarga/ fotocopy Kartu Keluarga (dilembar terakhir sudah ada kolom jadi boleh dilampirkan boleh tidak)

Untuk cara pengisian SPT dengan kode 1770-S saya kasih tips agar enak ngisinya. Yaitu mengisi lembarnya dari halaman paling belakang. Jadi seluruh formulir SPT 1770-S ini ada 3 halaman. Nah mari kita mulai isi dari halaman paling belakang yaitu halaman dibawah ini.
Halaman 3

Halaman 2

Untuk mengisi lembar Halaman utama atau Halaman 1 terlebih dahulu anda harus menerima lembar 1721-A1 dari Bendahara pemberi kerja anda. Karena lembar 1 ini sama persis isinya dengan yang ada di lembar 17721-A1, anda hanya menyalinnya dan menuliskannya ulang di halaman 1 ini.

Seperti inilah bentuk lembar 1721-A1

Halaman pertama formulir 1770 S


Keterangan :
*) kolom 7 : PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) untuk Tahun 2009 ditetapkan sebesar
TK/0 ,Tidak Kawin tidak memiliki tanggungan :…………………………………………………………..Rp.15.840.000,-
TK1/K0 ,Tidak Kawin 1 tanggungan/Kawin tidak memiliki Tanggungan :…………………….Rp.17.160.000,-
TK2/K1 ,Tidak Kawin 2 Tanggungan/Kawin 1 Tanggungan :………………………………………..Rp.18.480.000,-
TK3/K2 , Tidak Kawin 3 Tanggungan/Kawin 2 Tanggungan :……………………………………….Rp.19.800.000,-
K3 ,Kawin 3 Tanggungan :…………………………………………………………………………………………..Rp.21.120.000,-
K/I/3 ,Kawin istri berpenghasilan 3 Tanggungan :……………………………………………………….Rp.36.960.000,-

*) kolom 9: Lapisan Penghasilan kena pajak (PKP)

Sampai dengan Rp.50.000.000,- Tarif : 5%
Diatas Rp.50.000.000,- s.d Rp.250.000.000,- Tarif : 15%
Diatas Rp.250.000.000,- s.d Rp.500.000.000,- Tarif : 25%
Diatas Rp.500.000.000,- Tarif : 30%

Jangan lupa untuk selalu mengisi Data yang diminta di kolom-kolom keterangan identitas dihalaman paling awal.
Nama, NPWP, Alamat, Nomor yang bisa dihubungi. Dan tahun SPT.

Begitulah cara singkat mengisi SPT Tahunan karyawan dengan cara saya yang ringkas dan ngga ribet. Semoga bermanfaat. bila ada pertanyaan silahkan bertanya.

Untuk SPT Tahunan Orang Pribadi (pengusaha atau Wirausaha) akan segera menyusul.

oh ya ini link anda untuk mendownload formulir SPT Tahunan Orang Pribadi dan tinggal isi , tinggal print... lebih tokcer to..!

Download SPT Tahunan Orang Pribadi 1770-SS (excel)
Download SPT Tahunan Orang Pribadi 1770-S (excel)


Download SPT Tahunan Orang Pribadi 1770-SS (Pdf dengan rumus)
Download SPT Tahunan Orang Pribadi 1770-S (Pdf dengan rumus)


semoga bermanfaat.
Seseorang pernah menanyakan apa sih sebenarnya diri mansia itu? Apa kah sebenarnya hakekat penciptaan manusia itu? Kadang pertanyaan sepertiitu pun lazim terucap atau bahkan terbersit di rentang pemikiran yang memang Allah karuniakan kepada makhluk manusia. Toh setiap ujung drai pikiran itu adalah bersumber dan akhirnya akan bermuara kembali kepada Allah SWT.

Namun tak jarang pikiran itu mengembara melewati batas yang telahditentukan oleh Allah SWT. Batas yang sebenarnya sangatlahjelas menjadi kabur Karena kebebasan yang tak bertanggung jawab. Lebih tragis bila harus mengungkapkan pemikiran dan mengumbarnya tanpa sadar bahwa wilayah wihdatul wujud terlampaui.

Teringat sebuah kisah penyesalan Imam Alghazali diujung umurnya. Fiqh adalah salah satu ilmu yang begitu dikuasi oleh Alghazali sejak muda, namun itu bukanlah benteng kuat untuk menangkis masuknya pemikiran dalam jebakan penyatuan Tuhan akan diri ini. Terjebak dalam tassawuf berlebihan Imam Alghazali akhirnya menyadari ke’melencengannya’ dengan sungguh-sungguh bertaubat siang dan malam, namun segala kehendak dan akibat Allahlah segala penentuNYA.
Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah,

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum :30)

Yang dimaksud fitrah Allah di sini adalah ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. Satu-satunya agama Tauhid dan agama terakhir yang diturunkan Allah kebumi ini adalah agama yang dianut oleh Muhammad dan ummatnya. Islam adalah rahmatan lil alamin yang terakhir dan yang telah disempurnakan.

Hakekat manusia itu adalah tercipta sebagai Makhluk, produk dari Allah. Setiap apa yang diciptakan oleh penciptanya haruslah tunduk dan taat kepada aturan yang ditetapkan oleh pembuatnya. Karena manusia adalah produk Allah maka fitrah yang harus ditaati adalah tunduk patuh dan taat terhadap setiap apa-apa yang diperintahkan dan menghindari setiap apa yang dilarang.

Bila kaitannya manusia sebagai makhluk maka apa yang harusnya dimiliki oleh seorang makhluk? kelemahan yang mutlak. Manusia itu cenderung lemah,

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.(An-Nisaa :28)

Bila kita mau mengakui betapa banyak sifat lemah yang disertakan Allah kepada penciptaan makhluk yang bernama manusia ini.

Manusia Telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera. (Al-Anbiyaa :37)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (Al-Ma`aarij :19)

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, (Al-Ma`aarij :20)

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, Karena takut membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al-Israa` :100)

Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.(Al-Kahfi :54)

Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(Al-Ahzab :72)


Bila harus melihat kenyataan ini, betapa lemah manusia itu, apa lagi yang menjadikan alasan bagi manusia untuk menentang Penciptanya diantara begitu banyak kelemahan ini. Bahkan asal mula penciptaan manusia jugalah hanya dari segumpal barang hina, tanah tembikar hitam legam.
Namun bukanlah kesombongan ketika Allah memulyakan manusia dari sekian banyak makhluk yang pernah diciptakan Allah

"Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan Aku termasuk orang-orang yang dimuliakan". (Yassin : 27)

Yaitu buah-buahan. dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, (As-shaffat :42)


Bukanlah alasan pula untuk menjadi sombong takabbur karena hakekat mulya disini bukanlah dengan sendirinya, namun berdasra pengangkatan oleh Allah sebagai makhluk paling mulia. Tiada daya dan upaya melainkan karena pertolongan Allah, pun bila Allah menghendaki kemuliaan itu akan sirna dengan seketika, maka kenapa dalam setiap literature dalam Alquran kata mulia bagi manusia adalah selalu menggunakan kata dimuliakan dan tidak pernah berdiri sendiri, lantas dengan alasan apalagi manusia harus sombong dan takbbur? Astaghfirullah.

Bila manusia sudah menyadari akan kemakhlukannya dan Allah menempatkan manusia dalam sisi sebagai makhluk yang lemah dan di lain sisi sebagai makhluk yang dimulyakan kemudian Allah memberikan beban kepadanya(Mukallaf). Manusia diberikan beban yang salah satunya mendapat keringan oleh Allah dalam peristiwa isro` mi`raj melalui nabiNYA. Mencerminkan bahwa ibadah adalah beban yang harus ditanggungkan kepada manusia.

Bermula dari beban maka tolok ukur ibadah akan berkembang tergantung manusia menyikapinya sebagai kewajiban ataukah sebagai kebutuhan. Manusia yang terpatok menganggap ibadah sebagai beban kewajiban maka akan terlihat betapa kering setiap pemaknaan akan tindakannya. Namun lihatlah cahaya yang memancar dari manusia yang menganggap beban ini sebagai kebutuhan? Kebutuhan yang begitu besarnya akan kemakhlukan dan kelemahannya. Karena apa yang kita kerjakan sekarang adalah pilihan kita kelak. Pilihan yang seadil-adilnya dari yang Maha Adil.

Dan yang terakhir dalam kaitan hakekat manusia adalah 2 atsar yang menerangkan kesanggupan, kedemokratisan, dan keluasan Allah sebagai penguasa sekalian alam termasuk manusia didalamnya. Bahwa manusia diberi kebebasan (Mukhoyyar), kebebsan memilih, kedemokratisan berpikir dan bertindak. Allah tidak akan melarang manusia untuk keluar dari agama NabiNYA, Allah juga menyediakan tempat seluas-luasnya bagi para pembangkang, tak dikurangi rezekinya didunia bagi para pengkhianat. Dan Allah juga tidak memaksakan manusia untuk mempercayaiNYA. Kebebasan itu namun terikat erat dengan Al-Mujazzi, yaitu konsekuensi atau balasan.

Almujazzi atau konsekuensi dari tindakan dan balasan ini sangatlah adil bahkan Allah berfirman,
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Luqman :16)

yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya. Dalam persidangan Allah tiada sedikit pun yang terlewat keadilan yang merata dan tak berpihak. Bila kebaikan maka kenikmatan yang didapat bila kedzoliman maka keburukan yang akan diderita.

Hakekat manusia yang begitu lengkap semua tertuang dalam Alquranul karim, tergantung bagaimana manusia menghayati dan mengambil tindakan berikutnya, kebebasan yang diberikan Allah tentunya kebebsan yang bertanggung jawab, baik itu berpikir ataupun bertindak. Kebebasan yang sebebas bebasnya adalah sebuah pelanggaran serius bagi hakekat manusia. Bila hakekat manusia ini diidentikkan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) inilah HAM dari yang Maha Adil. Tiada celah dan cacat didalamnya.

Produk pendamping dan manual terpercaya dari Allah azza wa jalla. Hak asasi yang ditetapkan mencakup segala sesuatu kebutuhan dan pertanyaan manusia.
Istriku pernah bilang ketika lagi asyik ngobrol diantara makan malam pake lauk ikan asin, sambal sama pete.

“mas, korupsi itu sebenarnya 40% kesalahan terletak pada pelaku korupsi.”
“nah yang 60% ditanggung siapa kesalahannya?”
“yang 30% karena permintaan masyarakat, yang 20% karena desakan keluarga sedangkan sisanya karena system. System ini sama persis dengan kesempatan. System dibuat untuk menciptakan kesempatan agar korupsi jadi mulus.”


Saya hanya manggut-manggut demi mendengar omelan istri ini. Tak disangka sekarang istriku telah menjadi ahli survey yang handal. Memprediksi sebab musabab korupsi dengan tepat dan akurat.

“memangnya yang sudah kamu survey kalangan siapa saja yang?” imbuh ku.
“ini bukan masalah survey mensurvey, namun begitulah kenyataannya. Ada pepatah bilang dibalik laki-laki yang hebat pasti ada wanita luar biasa. Begitu pun sebaliknya, dibelakang laki-laki korupsi pasti ada wanita yang memberinya tekanan untuk korupsi.”

Saya tertawa lepas mendengar penuturan lugu istri saya ini, tanpa sadar ikan asin yang dimulut pingin lompat dan menolak untuk ditelan. Padahal perut sudah keroncongan dan berontak pingin segera diisi.

Masyarakat Indonesia khususnya sudah terbiasa dengan budaya kalau sulit kenapa dipermudah bagi pejabatnya dan budaya kalau ada dana kenapa cari yang sulit bagi masyarakatnya. Kedua budaya ini seperti botol ketemu tutup, ‘mathuk tur gathuk’. Kecocokan budaya inilah yang membuat praktek korupsi begitu suburnya. Membuat kisi-kisi kehidupan yang ‘mblaur’ apakah disebut korupsi ataukah hanya memudahkan urusan yang sulit dan menyulitkan urusan yang mudah.

Rakyat tak mengenal istilah birokrasi sehingga apapun yang dikatakan birokrat dianggap aturan baku yang wajib diikuti apapun resikonya, meneketehek masalah masalah korupsi. Jadi sadar ataupun tanpa sadar masyarakat sendirilah yang meminta praktek korupsi itu tetap eksis, mereka hanya tahu bahwa apabila berhubungan dengan pemerintah harus mudah urusannya. Biaya operasional korupsi pun dimasukkan dalam anggaran biaya usahanya.

Pejabat yang menjadi pelaksana system pun tak berusaha tahu dengan aturan system yang ada. Bisa jadi juklak aturan yang pegang hanya atasan sedangkan pelaksana lapangan hanyalah pelaku perintah yang tak tahu menahu tentang sebuah praktek korupsi sedang berlangsung atau tidak. Maka kenapa budaya dalam masyarakat ini sudah turun temurun dan harus dihentikan.

Apabila system bisa dirubah maka budaya sangat sulit dirubah, self minded tentang anti korupsi belum tertanam dalam budaya masyarakat. Merubah budaya tidaklah serta merta merubah sebuah tatanan berkehidupan, namun lebih kepada merubah pemahaman tiap individu akan dampak dan kerugian yang ditimbulkan dari praktek korupsi ini. Selain materi, dampak korupsi akan mempengaruhi tingkat disiplin, moralitas kejujuran, sopan santun dan tanggung jawab.

Kehidupan tidak akan sesuai dengan tatanan norma yang dikehendaki dalam bermasyarakat apabila nilai –nilai korupsi terlebih dahulu tertanam dalam akar sebuah budaya. Tidak pula kemudian kesalahan mutlak ditimpakan pada masyarakat, karena sebenarnya kebanyakan masyarakat pun belum faham betul apa itu korupsi, mereka hanya mengikuti system/aturan yang turun temurun telah dijalankan oleh orang-orang terdahulu mereka.

Upaya yang sangat signifikan ketika pemerintah membuat sebuah hari dalam setahun untuk dijadikan tonggak dalam mengingat, meresapi dan memperhatikan makna anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Satu hari yang akan membuat setiap orang malu akan apa yang dikerjakannya apabila menyerempet rambu-rambu korupsi.

Saya kebetulan memiliki profesi sebagai ‘abdi negara’ yang sangat rentan akan praktek korupsi ini, walau instansi yang saya tempati sudah memberlakukan program modernisasi namun praktek-praktek korupsi masih saja saya temui. Namun saya kagum akan perubahan secara fundamental yang tertanam dicara berpikir, sikap maupun mentalitas para abdi Negara yang sudah mengecap kode etik sebagi pelayan Negara ini.

Saya ingat sekali sebuah dialog rekan saya dengan putrinya ketika kami satu mobil,
“yah, sejak ayah cerita tentag ‘perubahan’ dikantor. Yakin ayah sudah berubah?” Tanya putrinya.
“sepanjang yang ayah bisa, ayah berusaha semaksimal mungkin tuk tetap pada jalur perubahan ini sayang.” Si ayah menimpali putrinya dengan nada lembut dan sambil mengajaknya berdiskusi.
“kalau gitu ayah dapet kecupan..” dan adegan berikutnya biarlah kedua generasi itu yang menikmati suasana keharmonisan keluarga tersebut.
Sampai dikantor si ayah, yang juga rekan satu ruangan menepuk pundak saya sambil menitipkan pesan.
“dek, tolong bila hari ini saya korupsi ingatkan saya!”
Saya mengernyitkan dahi demi mendengar isi pesan yang diucapkan langsung kepada saya tersebut.
“apalagi yang harus saya ingatkan bang? Bukankah abang malah yang menjadi pelopor perubahan di sini?” ucapku sambil melontarkan nada heran plus Tanya besar.
“ingatkan aku kalau aku masih korupsi waktu, ingatkan aku kalau aku masih korupsi kertas, ingatkan juga kalau aku lalai akan target pekerjaan yang kita canangkan berdua.”

Demi mendengar ucapan itu saya merasa beliau sedang menyindir saya, atau bahkan menyindir para abdi Negara di kantor ini, atau diinstansi ini. Atau bahkan seluruh abdi Negara yang ada di Negara ini.

Bila harus mendifinisikan korupsi sesuai dengan apa yang tertulis di laman om Wiki, maka hal remeh temeh diatas tidaklah masuk dalam definisi korupsi, karena om wiki mendefiniskan korupsi sebagai kejahatan birokrasi untuk kepentingan pribadi yang lebih menitik beratkan pada birokrasi politik. Namun dalam hal efektifitas dan produktifitas pembelajaran rekan saya diatas akan pembentukan mental antikorupsi sangatlah membuka pemahaman saya akan definisi korupsi secara luas.

Jadi kemana-mana ini mbahas korupsinya, kembali ke laptop! Maaf om tukul jargonnya tak pakai, nanti tidak ditarik royalty kan? Korupsi tetaplah korupsi apapun bentuk dan topengnya. Namun satu kecenderungan yang sering saya jumpai ketika para pelaku korupsi semakin meraja lela biasanya dimulai dari gaya hidup yang serba wah. Atau lebih tepatnya tuntutan hidup yang harus terlihat seperti kaum jetzet. Hal ini ditutupi dengan kalimat yang lebih lunak yaitu demi sebuah prestise.

Bagi sebagian orang prestise adalah harga mati dalam hal menampakkan sebuah image. Prestise lebih diidentikkan dengan penampilan yang terlihat elegan dan fashionable, saya definisikan sebagai lebih diidentikkan karena tidak semua orang itu elegan atau fashionable. Sebagian malah memaksakan untuk terlihat wah demi sebuah prestise. Membohongi publik dengan penampilan tetapi dalamnya hanyalah kosong. Namun yang saya dapat dari kebanyakan orang yang berplat “K” memang benar-benar kosong. Karena prestise dan kewibawaan tidak bsia dibuat-buat. Prestise atau kewibawaan akan terpancar dengan sendirinya dari hati yang bersih tidak dibuat-buat.

Tak jarang pula dijumpai bila seorang suami memiliki kecenderungan korupsi itu dimulai gaya belanja gila-gilaan yang dimiliki si istri yang kemudian menurun ke anak. Contoh saja Ratu Perancis Marie Antoinette dimasa pemerintahan Louis XVI yang terkenal dengan gaya glamornya menghabiskan uang rakyat dan mengakhiri gaya hidupnya diatas Guillotine.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa korupsi sekecil apapun bisa terbentuk dari jaringan komunitas terkecil yaitu sebuah keluarga. Keluarga yang dibentuk dengan mentalitas seorang pencuri dengan sendirinya akan melahirkan koruptor-koruptor baru dimasa yang akan datang. Sayangnya lagi pembentukan mentalitas-mentalitas seperti ini tak disadari oleh para pendidik dikalangan keluarga. Berkurangnya penanaman nilai kejujuran, merosotnya pembentukan jiwa tanggung jawab, melalaikan makna disiplin dalam keluarga ditambah berkurangnya porsi pembentukan jiwa spiritual menambah berat distorsi-distorsi dalam pembentukan mental anak-anak ini.

Keluarga merupakan ujung tombak berdirinya sebuah generasi pembaharu dimana didalam keluarga calon-calon pemimpin ditempa, dimana para pengasuh bangsa tidak lama lagi akan bermekaran. Keluarga adalah sumber lahirnya sebuah tradisi dan peradaban bagi berdirinya sebuah bangsa yang terbebas dari korupsi.

Dinegara ini kita semua disibukkan dengan pemberantasan korupsi, tapi Negara ini juga sedang lupa bahwa korupsi baru akan terus bermunculan dalam bentuk-bentuk yang tak bisa diprediksi apabila tidak segera membangun pondasi pencegahannya. Yang dimulai dari keluarga. Dari komunitas terkecil sebuah Negara, Keluarga.

NB : Artikel ini saya ikutkan dalam kompetisi ANTI KORUPSI BLOGPOST COMPETITION yang diadakan laman www.ceritainspirasi.net
pyaaaaarrrrrrrrrr……!!” sekali lagi aset ku pecah berhamburan dilantai, setelah berkali-kali suara itu terdengar barulah si tersangka muncul dengan gagahnya, sambil menyisakan serpihan-serpihan bekas kunyahan disepanjang lantai yang dilaluinya.

Tak hanya itu ulahnya kali ini, sepertinya si tersangka juga berhasil memutuskan kabel listrik penghubung antara colokan listrik dan mesin air dirumahku. Kelakuan ini sudah ku terima sejak aku menempati rumah ini. Dan hebatnya aku selalu menjadi si sapu jagat yang harus siap dengan sapu dan ‘cikrak’ untuk membersihkan setiap kekotoran yang ditimbulkannya. Pikirnya resiko bisa dilimpahkan kepada pemilik rumah mungkin.

Karena kelakuan si tersangka ini sudah tergolong akut maka aku dan penghuni rumah yang lain berusaha membuat strategi untuk melumpuhkannya, bahkan kalau bisa sekaligus mencari modus bagaimana si tersangka ini bisa leluasa mengobrak-abrik seisi rumah.

Di mulai dengan menaruh lem tikus di tiap sudut rumah, dengan cara ini kami berharap si tersangka menjadi faham bahwa tugas untuk melumpuhkannya mulai digalakkan. Walau ancaman ini hanya bersifat peringatan tapi kami berharap ada hasil yang bisa kami dapatkan dari tindakan pertama ini, hitung-hitung baca kekuatan lawan. Benar juga si tersangka tahu bahwa ini tindakan kami ini bukanlah melumpuhkannya hanya sekedar peringatan.

Sehingga si tersangka malah membuat posisinya sebagai ‘perusak rumah’ semakin menjadi dengan menyodorkan para lalat, para cicak, dan para kecoak kedalam perangkap lem tikus itu. Mereka mengorbankan koleganya didalam rumah itu untuk menutupi aksinya. Dan inilah yang kami dapat kumpulan lalat, cicak dan kecoa yang saling sikut berusaha keluar dari jebakan lem tikus tersebut. Padahal tikusnya saja masih leluasa keluyuran mencari sudut baru yang lebih aman.
Satu aksi gagal demi sebuah keadilan maka para lalat, cicak dan kecoa itu kami lepas setelah sebelumnya diberi shock terapi berupa tanda disekujur tubuhnya bahwa mereka pernah terlibat dan berjanji tidak akan memberikan akses leluasa bagi si tersangka asli tuk mengobrak-abrik lagi isi rumah.

Aksi berikutnya kami siapkan jebakan kurungan bagi si tersangka karena ulahnya yang semakin meresahkan. Setelah tindakan terakhirnya menggerogoti kaki meja tempat kami makan, sehingga hampir merubuhkan lapak tempat kami menaruh semua bahan makanan. Kali ini kami bukan sekedar mengancam tetapi harus memberika efek jera setidaknya membuat mereka insyaf akan perbuatannya. Kami siapkan kurungan kawat yang susah mereka tembus apabila terjerat didalamnya. Sebuah media berteralis yang sempit dan hanya memiliki satu pintu keluar dan masuk.

Dengan setiap aksi meletakkan umpan didalamnya, tentu saja umpan kesukaannya. Ikan asin busuk yang sudah berbulan-bulan menggeletak bahkan para kucing pun tidak doyan lagi tuk melahapnya. Dasar tikus perusak bahkan umpan itupun dilahapnya tanpa ragu sudah mental pengerat yang selalu menggerogoti tatanan rumah ini. Dimalam itu juga suara keratan si tikus terdengar demi masuk jebakan itu, berkoar riuh rendah seolah dia hanya korban dari ketidak manusiawian jebakan kurungan. Menyeringai kepada penghuni rumah ketika pagi dan kami berusaha mengecek keberadaan tikus itu.

Penghuni yang lain datang membawa sejirigen bensin dan sebuah korek, sudah barang tentu kami faham maksud tindakannya itu. Kami kini yang menyeringai kearah tikus itu membayangkan apa kemudian yang terjadi ketika kobaran api muncul dari kulitnya, bulu-bulunya mengeluarkan asap hitam mengepul dan aroma daging terbakar keluar dari tubuhnya.
Tak berapa lama kucing peliharaan kami muncul sambil menunjukkan muka bimbang, padahal sebenarnya dialah yang mencanangkan pengejaran kepada para tikus ini, entah apa kemudian yang terjadi ketika para tikus ini tertangkap dan hendak diadili namun si kucing yang oleh penghuni lain dikasih nama sibuya ini menjadi bimbang.

Tatapannya yang dulu garang kepada para tikus menjadi lembek malah seperti melindungi dan menghiba kepda para penghuni rumah agar si tikus dilepaskan karena apabila si tikus mati terus apa lagi tujuan yang akan sibuya kejar dalam profesinya didalam rumah itu. Bukankah akan lebih baik kalau sibuya mundur saja dan menjadi kucing jalanan yang hobi memelihara gurita dirumah.

Entah sihir darimana yang membuat para penghuni rumah luluh demi alasan kesejahteraan bersama, atau kerukunan antar penghuni rumah atau menghindari rumah dari kebobrokan yang lebih parah. Apa boleh buat sibuya memang punya daya sihir yang kuat melalui pembangunan image dirinya. Akhirnya si tikus kembali leluasa melenggang di dalam rumah tanpa takut lagi dengan ancaman bahkan jebakan-jebakan atas dirinya.

Namun sebelum dilepas si tikus mewanti wanti kepada seluruh penghuni rumah tentang ketakutannya pada jepakan jepret yang mengahruskan yang tertangkap mati ditempat. Sebelum itu terjadi si tikus menawarkan berbagai kesepakatan untuk kebaikan bersama, mulai dari upeti yg akan diserahkan setiap harinya hingga membatasi aksinya dan tidak merusak kabel-kabel listrik.

Ah tikus-tikus ini benar benar ketakutan akan jebakan jepret karena bila lengah sedikit maka nyawanya akan langsung melayang tanpa meninggalkan waris dan wasiat. Mendapat kabar dari tikus tetangga beberapa tahun yang lalu tentang kejamnya dan luar biasanya efek jera yang timbul dari jebakan jepret ini, tak terbayangkan apa jadinya bila jebakan jepret ini diterapkan di rumah ini.

Menurut kabar dari tikus tetangga, ketika para tikus disana meraja lela mengahabiskan hampir semua isi rumah si kucing berteriak lantang “Berikan kepada saya seratus peti mati,sembilan puluh Sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.'' Dan si kucing membuktikannya dengan menjepret mati para tikus yang coba membangkang dan tidak mengikuti ketetapan yang dibuat oleh si kucing.

Para tetangga rumah berang dan mengutuk aksi si kucing, mengembargo bahkan mencabut hak amnestinya diseluruh dunia. Namun si kucing berkata “ini demi kebaikan rumah ini.” Sekarang rumah tersebut telah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 9% per tahun, pendapatan domestic 1000 dollar AS dan cadangan devisa sebesar 300 milliar dollar AS. Sementara rumah ini baru berkutat pada ekspor bahan mentah dan impor barang olahan.

Rumah ini milik kita para penghuni rumah, namun isinya dihisap oleh para tikus, digerogoti hingga hanya meninggalkan ampas saja untuk bisa dimanfaatkan. Bila rumah ini ingin segera maju dan berkembang maka carilah jati dirinya. Berantas tikus-tikus didalam rumah ini, dengan jepretan mematikan bagi para perusak tatanan yang ada.

Bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan, kuncinya adalah mari menjadi diri sendiri, tidak usah terlalu menggantungkan semua pada aturan tetangga. Dirumah ini dibutuhkan si kucing yang berani berteriak lantang “demi kebaikan rumah ini, maka berikan kepada saya seratus peti mati,sembilan puluh Sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.” Maka akan berbahagailah penerus rumah kita ini kelak.

NB : Artikel ini saya ikut sertakan dalam kompetisi ANTI KORUPSI BLOGPOST COMPETITION yang diselenggarakan oleh laman www.ceritainspirasi.net