Mbah maridjan yang setia,
Suatu kali Sri Sultan Hamengkubuwono X mendatangi biliknya sambil minta disuguhi kopi pahit, ini bukan kunjungan kenegaraan lho apalagi pembicaraan bilateral. Ini tak lebih adalah bentuk perhatian raja kepada abdi dalemnya, tak pula kanjeng sultan ini di kawal oleh Wirobrojonya.
Sri Sultan meminta Raden Ngabehi Surakso Hargo lengser dari jabatannya sekarang, biarlah ada regenerasi toh Merapi sudah semakin hebat, dibutuhkan tenaga muda untuk mengayominya. Namun apa timpal guru ngaji di mushalla kecil dusun kinahrejo ini.
“Yang ngasih amanah saya untuk menjaga Merapi ini G.R.M. Dorojatun, ya apa mungkin saya akan menerima Surat Pemberhentian dari bukan selain beliau. Tidak to? Ya makanya saya akan meminta SK Pemberhentian ke beliau pas saya diketemukan dengan beliau.”
Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito hanya bisa menghela nafas, kemudian berjalan gontai meninggalkan rumah kecil yang dikelilingi oleh pagar hijau nan asri itu. Pergi layaknya tamu yang dilanda kekalutan karena gagal meminta bantuan, padahal dia adalah tuannya. Tak ada paksaan disana apalagi saling sikut, saling usir demi kepentingan politik.
Kesetiaan yang akan dibawanya sampai mati, dan mempertanggung jawabkannya langsung kepada pemberi amanah.
Mbah maridjan yang berdedikasi
Tak berapa lama dari kunjungan terakhir Sri sultan HB X yang nyamar jadi orang biasa yang meminta kopi, datanglah utusan dari Keraton untuk memberikan haknya yang diberikan tiap bulan oleh keraton kepada setiap abdi dalemnya, termasuk juru kunci yang ditugaskan sejak 1970 yang awalnya diberikan kepada ayahnya. Hingga 1982 mbah maridjanlah yang memegang jabatan itu.
Dengan sumringah mbah yang sudah memasuki umur 83 tahun itu menerimanya, sebagai jerih payahnya menunaikan tugas. Dengan tanggung jawab dan dedikasi tinggi, walau sebenarnya dia bisa mendapatkan lebih dari pendapatan keratin itu melalui ketenarannya sejak 2006 menjadi bintang iklan.
Namun mbah maridjan selalu mewanti wanti “yen ra ndue jeneng, ojo kesusu nggolek jenang.” Maka dedikasinya tak lagi terbantahkan walau dari utusan terakhir itu mbah maridjan hanya mendapatkan Rp. 5,800 tiap kalinya.
Kalau mau membicarakan dedikasi harusnya mbah maridjan duduk di singgasana anggota dewan yang terhormat dan mengajari mereka untuk mengabdi biar tidak hanya mencari jenang tanpa punya jeneng dimata pemilihnya.
Mbah maridjan yang sederhana
Siapa yang sangka ternyata mbah maridjan adalah person of the year tahun 2006 yang disematkan oleh harian sore Wawasan, tak dinyana pula mbah mardijan semakin beken hingga sering menjadi bintang acara pada acara-acara tertentu. Namun mbah maridjan juga tak pernah meninggalkan kepolosannya.
Seorang darmawan yang hanya mau hidup dari jerih payahnya, sebab setiap penghasilannya dari iklan karena ketenarannya disumbangkan bagi kesejahteraan warga kinahrejo. Cukuplah apa yang dia dapat dari kraton dan upahnya sebagai guru ngaji yang menghidupinya dan keluarganya.
Dengan kondisi bangsa yang dilanda bencana seperti ini? Adakah pemimpin yang sedermawan dan sebersahaja ini? Semoga masih ada, mari kita doakan bersama.
Mbah maridjan yang taat
Mbah maridjan memiliki kebiasaan memanjatkan doa kepada Tuhan YME bersama warga sekitar dengan menggunakan sesaji, mbah maridjan menganggap hal itu sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur yang tak terkira atas segala kenikmatan hidup yang didapatnya.
Tradisi yang juga dianut oleh kebanyakan warga nahdiyyin, yang juga menggambarkan keramahtamahan budaya ketimuran dengan kemudian memakan bersama sesajen yang disembahkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Kesampingkan hal itu, kesampingkan apa yang anda pahami tentang bid’ah karena Allah memanggil mbah maridjan dalam keadaan tersungkur, tersungkur karena permohonan ampun, tersungkur karena sujud syukur dan tersungkur karena memang kekurang tahuannya.
Kondisi meninggal yang banyak diidamkan oleh kebanyakan muslim, akhir yang baik untuk seorang yang polos dan bersahaja. Meninggal dalam keadaan sujud bersimpuh dalam permohonan ampun sedalam-dalamnya kepada Yang Maha Kuasa. Akhir indah bagi seorang guru ngaji.
Suatu kali Sri Sultan Hamengkubuwono X mendatangi biliknya sambil minta disuguhi kopi pahit, ini bukan kunjungan kenegaraan lho apalagi pembicaraan bilateral. Ini tak lebih adalah bentuk perhatian raja kepada abdi dalemnya, tak pula kanjeng sultan ini di kawal oleh Wirobrojonya.
Sri Sultan meminta Raden Ngabehi Surakso Hargo lengser dari jabatannya sekarang, biarlah ada regenerasi toh Merapi sudah semakin hebat, dibutuhkan tenaga muda untuk mengayominya. Namun apa timpal guru ngaji di mushalla kecil dusun kinahrejo ini.
“Yang ngasih amanah saya untuk menjaga Merapi ini G.R.M. Dorojatun, ya apa mungkin saya akan menerima Surat Pemberhentian dari bukan selain beliau. Tidak to? Ya makanya saya akan meminta SK Pemberhentian ke beliau pas saya diketemukan dengan beliau.”
Bandoro Raden Mas (BRM) Herdjuno Darpito hanya bisa menghela nafas, kemudian berjalan gontai meninggalkan rumah kecil yang dikelilingi oleh pagar hijau nan asri itu. Pergi layaknya tamu yang dilanda kekalutan karena gagal meminta bantuan, padahal dia adalah tuannya. Tak ada paksaan disana apalagi saling sikut, saling usir demi kepentingan politik.
Kesetiaan yang akan dibawanya sampai mati, dan mempertanggung jawabkannya langsung kepada pemberi amanah.
Mbah maridjan yang berdedikasi
Tak berapa lama dari kunjungan terakhir Sri sultan HB X yang nyamar jadi orang biasa yang meminta kopi, datanglah utusan dari Keraton untuk memberikan haknya yang diberikan tiap bulan oleh keraton kepada setiap abdi dalemnya, termasuk juru kunci yang ditugaskan sejak 1970 yang awalnya diberikan kepada ayahnya. Hingga 1982 mbah maridjanlah yang memegang jabatan itu.
Dengan sumringah mbah yang sudah memasuki umur 83 tahun itu menerimanya, sebagai jerih payahnya menunaikan tugas. Dengan tanggung jawab dan dedikasi tinggi, walau sebenarnya dia bisa mendapatkan lebih dari pendapatan keratin itu melalui ketenarannya sejak 2006 menjadi bintang iklan.
Namun mbah maridjan selalu mewanti wanti “yen ra ndue jeneng, ojo kesusu nggolek jenang.” Maka dedikasinya tak lagi terbantahkan walau dari utusan terakhir itu mbah maridjan hanya mendapatkan Rp. 5,800 tiap kalinya.
Kalau mau membicarakan dedikasi harusnya mbah maridjan duduk di singgasana anggota dewan yang terhormat dan mengajari mereka untuk mengabdi biar tidak hanya mencari jenang tanpa punya jeneng dimata pemilihnya.
Mbah maridjan yang sederhana
Siapa yang sangka ternyata mbah maridjan adalah person of the year tahun 2006 yang disematkan oleh harian sore Wawasan, tak dinyana pula mbah mardijan semakin beken hingga sering menjadi bintang acara pada acara-acara tertentu. Namun mbah maridjan juga tak pernah meninggalkan kepolosannya.
Seorang darmawan yang hanya mau hidup dari jerih payahnya, sebab setiap penghasilannya dari iklan karena ketenarannya disumbangkan bagi kesejahteraan warga kinahrejo. Cukuplah apa yang dia dapat dari kraton dan upahnya sebagai guru ngaji yang menghidupinya dan keluarganya.
Dengan kondisi bangsa yang dilanda bencana seperti ini? Adakah pemimpin yang sedermawan dan sebersahaja ini? Semoga masih ada, mari kita doakan bersama.
Mbah maridjan yang taat
Mbah maridjan memiliki kebiasaan memanjatkan doa kepada Tuhan YME bersama warga sekitar dengan menggunakan sesaji, mbah maridjan menganggap hal itu sebagai bentuk terima kasih dan rasa syukur yang tak terkira atas segala kenikmatan hidup yang didapatnya.
Tradisi yang juga dianut oleh kebanyakan warga nahdiyyin, yang juga menggambarkan keramahtamahan budaya ketimuran dengan kemudian memakan bersama sesajen yang disembahkan untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Kesampingkan hal itu, kesampingkan apa yang anda pahami tentang bid’ah karena Allah memanggil mbah maridjan dalam keadaan tersungkur, tersungkur karena permohonan ampun, tersungkur karena sujud syukur dan tersungkur karena memang kekurang tahuannya.
Kondisi meninggal yang banyak diidamkan oleh kebanyakan muslim, akhir yang baik untuk seorang yang polos dan bersahaja. Meninggal dalam keadaan sujud bersimpuh dalam permohonan ampun sedalam-dalamnya kepada Yang Maha Kuasa. Akhir indah bagi seorang guru ngaji.





