rumah idamanku adalah..
dimana begitu banyak cahaya
walau itu dari sebatang lilin jingga
ataupun hanya pendar pelita

rumah idamanku adalah...
tempat dimana kurebahkan kepala
ketika masalah tak sanggup lagi mendera
walaupun dindingnya bukanlah tembikar bata

rumah idamanku adalah..
gelak tawa dan canda ria penghuninya
dimana aku dan istiku menumpahkan suka duka
tanpa terkena hujan dan terik sang surya

rumah idamanku adalah...
ketika terdengar lantunan ayat ayat suci menggema
serta bersarangnya ilmu dan guru mengajar bersama
baik siang ataupun malam tanpa jeda

rumah idamanku adalah..
bukanlah tinggi besar dan mewah
tak pula berperabot dengan harga luar biasa
hanya saja setiap ruangnya lega dari masalah

Ada hal menarik yang ku temui ketika 4 hariku bertugas dikota bunga terbesar didunia. Kota Bengkulu yang indah karena sunset di pantai Panjangnya, pantai indah yang seharusnya ditumbuhi pohon pohon tropis khas dataran rendah itu malah dikelilingi pohon pohon pinus. Pinus yang seharusnya tumbuh didataran tinggi ini mengelilingi pasir pasir pantai dengan rimbun dan indahnya.

Disela sela rerimbunan dedaunan pinus itulah remang remang sunset yang indah diatas cakrawala yang memisahkan antara lautan dan kaki langit terbentuk. Keindahan 2 dunia tergabung oleh cahaya keemasan mentari diujung mata memandang. Di setiap soreku pun menikmati sunset tanpa bosan hingga rasanya tak ingin kutinggalkan kota ini, namun dalam segala hal tetap kuingin kembali kepada keluargaku.

Diantara kebosananku itulah kutemukan kejanggalan ilmu konstruksi di beberapa rumah, toko, rumah makan dan penginapan yang pernah kudatangi. Yaitu hampir setiap pintu yang ada dikota ini memiliki engsel yang terletak diluar (outside). Dalam ilmu konstruksi selazimnyalah pemasangan engsel pintu adalah didalam (inside) bagian rumah. Hal ini berguna untuk menghindari dan meminimalisir keleluasaan maling atau orang yang berniatan jahat untuk memasuki bagian dalam ruangan. Karena apabila engsel pintu berada didalam rumah maka pintu hanya bisa dibuka dari 1 sisi saja, itupun harus menggunakan gagang pintu.

Apabila engsel berada diluar bagian ruangan maka akan dengan mudah pintu dapat dibuka dari luar ruangan hanya dengan mencongkel inti engsel tersebut. Apakah ini sebuah anomaly? Atau para pemikir dalam bidang konstruksi di kota ini menemukan hal hal yang luar biasa didalam pengerjaan area entrance ruangan ini hingga terciptalah aliran baru dalam bidang konstruksi seperti ini?

Atau hal ini bisa jadi berhubungan dengan budaya setempat yang bersifat tahayul atau ada kepercayaan tertentu yang membuat pintu pintu ini memiliki aliran yang menentang arus ilmu konstruksi? Bahkan ketika hal tersebut kutanyakan kepada beberapa penduduk asli setempat, tak satupun yang mampu memberikan jawaban memuaskan secara eksak dan akal sehat.ada yang bisa membantus aya menjawab hal ini?

Dalam sudut pandangku yang hanya pendatang yang baru berumur 4 hari dikota Bengkulu ini, semua terpikir secara pragmatis bahwa ini adalah sebuah logika berpikir yang terkonsep dari tata laku para penghuninya dimana penduduk kota ini adalah orang orang yang ramah dan welcome terhadap setiap pendatang.

Mereka menawarkan keramahan dengan memberikan 2 sisi pintu yang siap dibuka bila pun pintu itu tidak bisa dibuka di satu sisinya. Tindak kesopanan yang menghiasi kehidupan dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Mereka menawarkan kesederhanaan yang tak perlu ditutupi, karena mereka terbuka atas apapun yang mendatangi mereka. Namun kemudian hal yang menjadi riskan untuk menerima ‘tawaran’ tersebut adalah. “Bila anda sudah masuk didalamnya anda tidak akan dibiarkan keluar dengan mudah”

Itu hanya sekelumit opini yang terbentuk dikepalaku melihat keanehan konstruksi bangunan dibanyak rumah dan gedung dikota ini. Jadi maafkan apabila semua opini itu salah dan tak sesuai dengan yang terjadi.

Sudut kantuk diruang sempit
27 Juni 2011
Hal pertama yang ku asah untuk mendapatkan ide adalah berlagak seperti kamera, berdiri mematung menangkap obyek apapun yang singgah diretina. Dalam hal ini kamera dalam diri ku hanya membidik belum menekan tombol klik hingga blitznya tak pernah keluar. Hanya mencitra dan menghamparkan view seluas mungkin agar ide terkumpul melalui apapun yang terlihat, baik itu hal yang terselip, tersirat ataupun hanya bayang samar dalam kabut, yang pasti itulah cikal bakal idenya.

Kemudian hal berikutnya adalah menyiapkan printer yang akan mengimplementasikan ide itu di dalam sebuah bentuk nyata. Baik itu gambar, wacana, sastra, ataupun motion picture bila memungkinkan. Yang pasti ide awal dari kamera tadi sudah tertanam dikepala. Reportase reportase yang terekstrak tersimpan didalam otak dengan rapi mungkin juga akan kuberi extensi *.ide untuk memudahkan ketika proses searching nanti.

Printer ini pun harus memadai agar ide awal yang sudah tersimpan dapat terkalkulasi dengan baik sebisa mungkin mendekati sempurna. Tentu saja dalam printer ini yang kubutuhkan adalah ‘tinta’ dan ‘kertas’ nya agar hasil dari ide ide dikepala itu bisa terbaca dengan baik oleh penikmatnya, apalah guna kamera bagus, printer sempurna namun media dan sasarannya tak memahami isi karya tersebut?


Disinilah masalah kemudian timbul, yaitu proses pengekstraksian file file yanga da diotak agar mampu terbaca oleh printer. File-file yang sudah diekstrak dikepala dan diberi nama dengan ekstensi *.ide ini seperti gumpalan es beku atau besi tempa yang sangat padat dan keras. Hingga untuk melumerkannya dibutuhkan api dengan derajat kepanasan tinggi hingga mudahlan membentuknya sesuai keinginan.

Api-api inilah yang kemudian begitu susahnya didapat, ide yang beku tadi membutuhkan waktu yg cukup lama dan bertahap untuk menjadikannya lumer dan mampu ditangkap sebuah printer untuk di aplikasikan dalam karya. Inilah masalah logis yang mungkin hinggap diotakku. Atom-atom itu tak segera mau ‘konslet’ agar tiap ide itu bisa slaing terhubung dan menjadi manuskrip yang bisa dinikmati peminatnya.

Di tengah kesibukan yg menjadi biasa
24 Juni 2011


Seperti halnya sebuah perjalanan, anda akan mempercayai bahwa anda memulai sebuah perjalanan adalah ketika anda disodorkan pada tujuan pasti kemana akhir perjalanan itu. Setiap perjalanan pasti memiliki akhir namun tak setiap orang yakin dimana tujuan akhir itu. Setiap orang sudah memiliki sebuah tiket untuk melakukan perjalanan namun tak setiap orang berani mengambil resiko menjejakkan langkah pertamanya untuk memulai sebuah perjalanan.

Kali ini melalui dedaunan diranting cemara tiket saya dapatkan, mengumpulkan sebuah keberanian untuk memulai langkah pertama adalah sebuah usaha yang membutuhkan semangat dan pengorbanan luar biasa diantara berkalangnya debu kemalasan dan keengganan. Tiket itu sudah didepan mata membuka akses untuk setiap kesempatan. Maka dengan pasti akan kujejakkan langkah pertamaku.

Memang setiap perjalanan haruslah ada akhir yang menyertai namun tujuan pasti adalah hal yang lebih besar daripada hanya sebuah akhir. Namun tak salah pula apabila memiliki sebuah tujuan perjalanan adalah menikmati setiap tahapan, setiap koma, dan setiap mata air dalam perjalanan itu. Tujuan adalah cita-cita yang harus didapatkan dalam setiap perjalanan, namun bersama berproses untuk sebuah tujuan tak pelak membuatku semakin yakin bahwa tiket yang kudapatkan ini akan bermuara pada tujuannya apabila kunikmati proses menuju tujuan itu.

Sang budha sidharta memiliki sebuah kalimat “berisi adalah kosong, kosong adalah berisi” yang menggambarkan dalam analogi semesta bahwa setiap apapun yang terlihat dan tidak terlihat memiliki makna, tujuan dan fungsi masing masing. Begitu pun tujuan yang membawaku dalam perjalanan ini. Seperti sebuah mangkok yang memiliki bagian kosong untuk terus diisi.

Masichang
Dalam dekapan kabut, 18-06-2011

Matahari tak hanya bersinar terik
Namun juga bercahaya terang
Aku bisa merasakan panasnya
Namun juga temaram warnanya

Pelangi berpendar indah
Mewarnai tiap sudut retina
Aku hanya bisa membayangkan
Seluruh inderaku tak sanggup menjamah

Tuhan, jadikan aku seperti matahari
Dia nyata dalam teriknya
Dia selalu ada dalam berbagai warna
Matahari tak beringsut didalam gerhana
Tuhan kalaupun aku harus menjadi pelangi
Tolong biarkan warnaku tidak hanya tergantung di cakrawala
Biarkan setiap orang mampu menjamah warnaku dengan bahagia
Biarkan ku selalu ada walau hujan tak menyertai

Tuhan menjadi apapun diriku
Baik itu matahari ataupun pelangi
Pintaku hanya Satu
Tolong bersihkan hati yang memandangku