Bukan karena memperingati apa ku terinspirasi membuat slideshow flash kecil ini. hanya saja hati in begitu menggebu akan sayang kepadanya.

istriku yang kucinta, engkaulah penentram hatiku.
kupersembahkan ini untukmu



Bagilah pedihmu
by : Baim

apa pun yang akan kau lakukan
ingatlah diriku selalu tetap bersamamu
setiap kau merasakan sedih
sebutlah namaku sayang
ku kan disisimu

* jalanilah semua keinginanmu
ku kan selalu menunggu kehadiranmu
kapan saja tuk dirimu dan hatimu

reff: bila kau merasa
sepi menyiksamu bertahanlah sayang
walau kita jauh
bagilah pedihmu biar kau tetap tersenyum

hanyalah kekuatan dirimu dan juga diriku
kita kan terus berjalan

repeat *

ingatlah selalu ku menunggu

"nda, sini biar mbak yg nggosok (menyeterika) baju mbak sendiri. “
“mbak besok sudah masuk SD."

Sulungku bergerak cepat segera memegangi gagang setrika yang sedang dipegang bundanya untuk menghaluskan kain-kain pakaian itu. Bukan hanya bundanya aku pun dibuatnya terperangah, pola berpikir sulungku yang baru menginjak 6 tahun juni tahun ini sudah terbentuk. Harapan yang kami sandangkan dari pola didik kami yg keras dan disiplin mulai terlihat. Dia merasa bertanggung jawab terhadap dirinya dan barang-barang pribadinya. Setidaknya dia merasa bertanggung jawab terhadap pakaian lusuhnya.

Entah harus bangga atau terharu, ketika anak-anak sudah memahami konsep yang kuterapkan didalam rumahku. Bahkan tanpa kusadari mereka memahami konsep itu diusia yg mengejutkanku, padahal kala itu bundanya baru saja bilang, “saat ini saat terbaik untuk menanamkan konsep, kelak kita dan anak-anak kita akan menuai hasilnya.” Namun sedikit demi sedikit hasil itu mulai terlihat.

Setuju sekali ketika beberapa teman dan rekan sesama orang tua menasehati, mendidik anak itu jauhkan dari kekerasan. mendidiklah dengan cinta dan lemah lembut! But how? Mereka akan berkata “setiap rumah tangga memiliki caranya sendiri dalam menerapkannya.” Benar sekali tetapi pertanyaanku but how?

Sedikit banyak type dan karaktaer sepasang orang tua mendidik anaknya tidaklah terlepas dari cara bagaimana dia dibesarkan oleh orang tuanya terdahulu. Jadi apakah itu yang terbaik atau belum yang bisa dilakukan oleh sepasang orang tua, mereka meyakini “beginilah caraku dibesarkan, dan akau akan membesarkan anak-anakku sebagaimana aku dibesarkan.”

Aku sulung dari 3 bersaudara, dibesarkan dalam lingkungan orang tua yg berprofesi sebagai guru. Hal pertama yang kudapat dari pola pikir yang terbentuk melalui cara tumbuh kembangku adalah, orang tuaku harus membuatku dan kedua saudaraku ‘baik’ terlebih dahulu baru mereka akan dianggap seorang guru. Profesi yang mengharuskan mereka menjadi seorang yang patut dicontoh dan ditiru, tidak hanya didalam ruangan kelas namun dalam keseharian mereka.

Konsep tersebut membias dalam sikap pendidikan kepada putra-putranya disiplin, keras dan mengajarkan kemandirian. “anda bertanggung jawab terhadap diri anda sendiri.” Motto yang selalu ditanamkan untuk diingat, dibaca dan diimplementasikan dalam keseharian.

Jadi ketika aku menanamkan disiplin dengan caraku dibesarkan, modal berharga yang harus kuingat adalah mempelajari method-methode terbaik untuk membuat kerasnya disiplin menjadi kelembutan dan kasih sayang. Namun kadang ku merasa gagal ketika penerapan disiplin itu menjadi seperti ku mendidik sebongkah batu gunung. Caraku tidaklah seperti tetesan air yang terus menerus hingga membentuk lubang di batuan tersebut, namun tak lebih seperti gletser yang menggelegar meretakkan batu-batu itu.

Terlalu berlebihan sepertinya tidak, bagi disiplin benturan benturan itu perlu untuk membentuk watak dan karakternya, namun bagi psikologi pertumbuhan kedewasaannya tetesan tetesan air yang terus menerus adalah hal yang paling tepat untuk membuat batuan gunung itu berlubang dengan halus dan sempurna.

***

Sulungku kini telah memasuki jenjang masa sekolah, dia sudah meninggalkan masa pra sekolah yang berarti waktu bermainnya benar benar telah tersunat. Dia harus memahami arti tanggung jawab dan disiplin. Mungkin saat-saat inilah yang kutunggu sekaligus kutakutkan. Karena aku harus mulai jongkok dan berlutut sejajar matanya, mengajaknya berbicara dan menganggapnya teman seperjuanganku tuk merengkuh surga.

Sulungku telah mengajarkan kepadaku bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan disiplin karena tanpa ku mulai itu dalam diriku tak pula dia akan menuruti setiap perkataanku.

Besok kuharap kau mulai bisa mencuci pakaianmu sendiri dan membersihkan tempat tidurmu nak! U’ll get reward for what you done last night, I’m proud of you.

sudut cubicle, 11 Juli 2011

Kubuka materi berikutnya saat matahari masih malu-malu muncul dibalik rimbun bamboo, saat embun mulai bernajak dan bermetamorfose menjadi air air bening dipucuk daun, diujung genteng rumahku. Saat burung-burung berisik bersiul, saat hawa nafasku bergumul disekitar mukaku dan menghangatkan sekitarku.

Kugendong sikecil yang telah terbangun bersama dengan terlelapnya rembulan diperaduan. Ubawa berkeliling disekitar rumah, meyusuri sungai mengenalkannya kepada gemericik air. Memperhatikan hilir mudik orang-orang kampong dengan kesibukannya masing-masing. Mengais hidup, merepih pagi dan menghirup awal hari dengan kekhasan masyarakat desa yang sederhana dan rukun.

Tak peduli apakah hari ini adalah hari kerja atau off day, yang pasti ritual pagi seperti ini sudah kujalania sejak putrid pertamaku dilahirkan didunia ini. Profesi bapak yang kujalani menghauskanku melakukannya agar harmonis pagiku, dan positif hariku. Bukan hal yang istimewa, bukan pula ritual yang muluk, namun kondisi sepanjang hari dapat diterka dari suasana hati ketika pagi menjelang.

Kata pak BJ. Habibie “the devil is in the detail”, sebenarnya pak habibie mengungkapkan kalimat itu adalah pada kebiasaannya dalam bekerja. Yaitu beliau sangat konsen kepada hal hal kecil dalam pekerjaannya, bahkan beliau tidak segan menegur bawahannya ketika sebutir baut lepas dari tempatnya. Beliau tipikal seorang yang perfectionis namun juga pribadi yangs ederhana dan santai. Tak salah bila kupakai istilah beliau “the devil is in the detail”.

The whole concept is in your mind, but the detail is in your eyes. Setidaknya walau aktivitas seari penuh sudah terrencana dengan rapi, memulai pagi dengan suka cita akan menentukan setiap detail yang akan dijalani hari itu. maka dalam hal ini ku anggap penting pagi yang indah untuk menentukan kondisi hati seharian nanti. Satu lagi konsep yang kutanamkan dalam hariku setelah “membuka mata dengan positif thingking” kedua yang tak kalah penting adalah “the devil is in the detail”.

-the falling of Bamboo leaves-
2 July 2011

rumah idamanku adalah..
dimana begitu banyak cahaya
walau itu dari sebatang lilin jingga
ataupun hanya pendar pelita

rumah idamanku adalah...
tempat dimana kurebahkan kepala
ketika masalah tak sanggup lagi mendera
walaupun dindingnya bukanlah tembikar bata

rumah idamanku adalah..
gelak tawa dan canda ria penghuninya
dimana aku dan istiku menumpahkan suka duka
tanpa terkena hujan dan terik sang surya

rumah idamanku adalah...
ketika terdengar lantunan ayat ayat suci menggema
serta bersarangnya ilmu dan guru mengajar bersama
baik siang ataupun malam tanpa jeda

rumah idamanku adalah..
bukanlah tinggi besar dan mewah
tak pula berperabot dengan harga luar biasa
hanya saja setiap ruangnya lega dari masalah

Ada hal menarik yang ku temui ketika 4 hariku bertugas dikota bunga terbesar didunia. Kota Bengkulu yang indah karena sunset di pantai Panjangnya, pantai indah yang seharusnya ditumbuhi pohon pohon tropis khas dataran rendah itu malah dikelilingi pohon pohon pinus. Pinus yang seharusnya tumbuh didataran tinggi ini mengelilingi pasir pasir pantai dengan rimbun dan indahnya.

Disela sela rerimbunan dedaunan pinus itulah remang remang sunset yang indah diatas cakrawala yang memisahkan antara lautan dan kaki langit terbentuk. Keindahan 2 dunia tergabung oleh cahaya keemasan mentari diujung mata memandang. Di setiap soreku pun menikmati sunset tanpa bosan hingga rasanya tak ingin kutinggalkan kota ini, namun dalam segala hal tetap kuingin kembali kepada keluargaku.

Diantara kebosananku itulah kutemukan kejanggalan ilmu konstruksi di beberapa rumah, toko, rumah makan dan penginapan yang pernah kudatangi. Yaitu hampir setiap pintu yang ada dikota ini memiliki engsel yang terletak diluar (outside). Dalam ilmu konstruksi selazimnyalah pemasangan engsel pintu adalah didalam (inside) bagian rumah. Hal ini berguna untuk menghindari dan meminimalisir keleluasaan maling atau orang yang berniatan jahat untuk memasuki bagian dalam ruangan. Karena apabila engsel pintu berada didalam rumah maka pintu hanya bisa dibuka dari 1 sisi saja, itupun harus menggunakan gagang pintu.

Apabila engsel berada diluar bagian ruangan maka akan dengan mudah pintu dapat dibuka dari luar ruangan hanya dengan mencongkel inti engsel tersebut. Apakah ini sebuah anomaly? Atau para pemikir dalam bidang konstruksi di kota ini menemukan hal hal yang luar biasa didalam pengerjaan area entrance ruangan ini hingga terciptalah aliran baru dalam bidang konstruksi seperti ini?

Atau hal ini bisa jadi berhubungan dengan budaya setempat yang bersifat tahayul atau ada kepercayaan tertentu yang membuat pintu pintu ini memiliki aliran yang menentang arus ilmu konstruksi? Bahkan ketika hal tersebut kutanyakan kepada beberapa penduduk asli setempat, tak satupun yang mampu memberikan jawaban memuaskan secara eksak dan akal sehat.ada yang bisa membantus aya menjawab hal ini?

Dalam sudut pandangku yang hanya pendatang yang baru berumur 4 hari dikota Bengkulu ini, semua terpikir secara pragmatis bahwa ini adalah sebuah logika berpikir yang terkonsep dari tata laku para penghuninya dimana penduduk kota ini adalah orang orang yang ramah dan welcome terhadap setiap pendatang.

Mereka menawarkan keramahan dengan memberikan 2 sisi pintu yang siap dibuka bila pun pintu itu tidak bisa dibuka di satu sisinya. Tindak kesopanan yang menghiasi kehidupan dalam berinteraksi dengan sesamanya.

Mereka menawarkan kesederhanaan yang tak perlu ditutupi, karena mereka terbuka atas apapun yang mendatangi mereka. Namun kemudian hal yang menjadi riskan untuk menerima ‘tawaran’ tersebut adalah. “Bila anda sudah masuk didalamnya anda tidak akan dibiarkan keluar dengan mudah”

Itu hanya sekelumit opini yang terbentuk dikepalaku melihat keanehan konstruksi bangunan dibanyak rumah dan gedung dikota ini. Jadi maafkan apabila semua opini itu salah dan tak sesuai dengan yang terjadi.

Sudut kantuk diruang sempit
27 Juni 2011