Bismillah. Assalamu’alaykum wa rahmatullah.

Perdebatan pro – kontra vaksin sepertinya kian memanas, mengingat dalam 1 minggu ke depan adalah Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana semakin banyak orangtua cerdas memilih uuntuk menghindari vaksin. Berbagai macam alasan para orangtua untuk memilih mengatakan TIDAK UNTUK VAKSINASI, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok kontra vaksinasi sebagai kelompok minoritas. Diantara alas an mereka adalah kekhawatiran akan bahaya vaksin dan dari segi halal/haramnya produk yang digunakan. Sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tentunya wajar sekali jika isu halal/tidaknya menjadi perhatian khusus para orangtua.

Dan hal tersebut pula yang saya kritisi kepada pihak Biofarma, sebagai produsen vaksin lokal. Dimana sepengetahuan saya bahwa dalam menentukan halal/tidaknya sebuah produk, diwajibkan proses audit dari LPPOM MUI. Namun ternyata, lembaga tersebut tidak pernah mengaudit dan pihak Biofarma mengakui bahwa mereka tidak pernah meminta untuk diaudit. Aneh bukan? Pengakuan ini saya peroleh ketika menghadiri debat pro-kontra imunisasi yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda di Jakarta.

Dalam 1 minggu menjelang dilaksanakannya PIN, situasi perdebatan semakin memanas. Kemudian muncul sebuah argumentasi yang memojokkan pihak kontra vaksinasi melalui sebuah blog.
Uraian ini bukan untuk menyudutkan siapapun, lebih memberikan ketegasan sikap atas PRINSIP DASAR ALASAN bagi pihak kontra dalam menolak vaksinasi. Saya akan mencoba menjabarkan secara bertahap analisa dan jawaban atas argumentasi di bawah ini.

Dari sebuah blog yang saya baca, menuliskan bahwa “sistem imunisasi/vaksinasi berasal dari dokter-dokter muslim zaman khalifah Turki Utsmani, dan cikal bakalnya sudah ada dari zaman khilafah abbasiyah. Referensi informasi tersebut menurut penuturan si pengirim sumber email ada pada buku “1001 Inventations Muslim Heritage in Our World” page 178. Tertera: “The Anatolian Ottoman Turks knew about methods of vaccination, they called vaccination Ashi. or engrafting, and they had inherited it form older turkic tribes”


Dalam hati, sejujurnya saya terkagum-kagum bahwa begitu hebatnya ilmuwan Islam namun hingga saat ini dunia barat pun masih belum memberikan pengakuan kepada para ilmuwan Islam. Satu kata yang menarik perhatian saya adalah “ENGRAFTING”. Saya memiliki latar belakang pendidikan dokter umum dan kebetulan ayah adalah seorang dokter spesialis bedah, sehingga kata “ENGRAFTING” sudah sering saya dengar sejak beranjak remaja.
Jika merujuk pada kamus kedokteran maka kata tersebut memiliki arti melakukan penanaman pada bagian tubuh, bisa kulit dan sebagainya.

Lalu karena semakin penasaran akan istilah ASHI / ENGRAFTING di jaman tersebut, maka saya telusuri mbah google demi memuaskan keingintahuan. Prinsip dasar saya bahwa ilmu yang diterima haruslah seimbang, dalam arti cek dan ricek adalah penting.

Sebagai kelanjutan kisah terhadap blog tersebut, maka mari kita lanjutkan hingga selesai uraian tersebut yah.

"Informasi berikutnya adalah Lady Mary Wortley Montagu (1689- 1762), istri dari duta besar Inggris untuk Turki saat itu, membawa system vaksinasi ke Inggris untuk memerangi smallpox, tapi ditolak oleh pemerintahan Inggris saat itu.
Untuk informasi mengenai Lady Mary ini, bisa juga dibaca di: www/.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagucontributor-public-health

Berikut kutipan tulisan pada URL tersebut:
“Lady Mary Wortley Montagu was a pretty girl until she had smallpox at age 26 and was left with many pitted scars on her face and no eyelashes. Her only brother died of the disease. Despite her disfigurement, Lady Wortley Montagu recovered her health and energy. (And we should remember
that plenty of other people had smallpox scars on their faces at that time, so the impact was not exactly what it would be if someone today had the same appearance.) With her husband, who was the British Ambassador to Turkey, and their little son and daughter, she traveled to what was then part of the Ottoman Empire.
She watched with interest as Turkish women carried out a method of inoculation for smallpox. This she described in letters to her family back in England. The Turks waited until cool fall weather came after the heat of the summer was over. They inoculated children by using the purulent matter from the sores of a person who had become infected with smallpox. Cutting into 5 or 6 veins (on the legs or upper parts of the arms), they poked the smallpox matter into the incision and then bandaged the site. The children seemed fine for some days, developed a fever for a few more days, and then generally recovered — immune to smallpox. Lady Wortley Montagu decided to have her own young son inoculated, accepting the fact that a small number of children were harmed by the inoculation, and he recovered
well— immune to smallpox. Returning to England, Lady Wortley Montagu began efforts at public education about inoculation. Her friendship with the then Princess of Wales, later Queen Caroline, was a great support to her work (although it’ s probably the case that Lady Mary could have accomplished more if she’d had fewer boyfriends, who didn’t seem to mind the lack of eyelashes). Because of these efforts, the British public was prepared to pay attention 30 years later when Edward Jenner published his evidence about smallpox vaccination.”

Semakin penasaran dengan kisah diatas, maka saya telusuri lebih jauh tentang smallpox, Edward jenner dan ashi Turkic tribes. Pencarian akhirnya membuat saya menemukan link ini www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1200696/ dimana dalam link ini merupakan jurnal ilmiah akan sejarah Edward Jenner sebagai penemu vaksin cacar air/smallpox.

Dalam pengkajian lebih lanjut, semakin memperkuat keyakinan saya bahwa vaksin saat ini dengan teknologi modern memang berbahaya tidak hanya bagi orangtua namun juga bagi bayi dan anak-anak.

Prinsip dasar ASHI atau Inokulasi pada jaman itu hampir sama dengan prinsip vaksinasi alamiah yang masyarakat lakukan terhadap campak. Tentunya ayah bunda pernah mendengar anjuran banyak pihak bahwa jika ada yang sakit campak, maka biarkanlah anak kita tertular dengan demikian anak akan memiliki antibody terhadap penyakit tersebut dengan sendirinya.
Nah ASHI, memang memaparkan penyakit terhadap orang sehat dengan cara melakukan sayatan pada kulit daerah subkutan dan memberikan bagian dari cacar air kedalamnya. Mirip namun tak sama dalam hal teknis.

Kemudian bisa dibaca pula uraian mengenai peran wanita tersebut diatas dalam dunia kesehatan masyarakat pada link ini eurpub.oxfordjournals.org/content/18/4/353.full

Setelah tuntas membaca dan mengkaji, Alhamdulillah keyakinan saya tidak berubah bahkan semakin menguatkan bahwa vaksin kimia saat ini yang dipergunakan memang berbahaya.

Mereka telah salah memahami bahwa penolakan kami adalah pada prinsip vaksinasinya. Padahal, penolakan kami adalah penggunaan bahan kimia yang berbahaya didalam vaksin modern tersebut. Jika dianalisa dari tindakan vaksinasi “kuno”, bisa kita pahami bahwa jaman itu mereka TIDAK menggunakan bahan-bahan kimia seperti merkuri, garam alumunim, atau bahkan menggunakan media hewan haram dalam proses pengembangbiakkan kuman/virus.

Bagaimanapun dalam hati kecil saya saat membaca dan mencari tahu lebih jauh, berpegangan pada prinsip bahwa seorang MUSLIM akan menghindari penggunaan bahan haram dan berbahaya. Dan itu TERBUKTI.

Untuk mengetahui bagaimana peran garam alumunium dalam tubuh, silakan dibaca penelitian ini dimana garam alumunium yang disuntikkan kedalam tubuh seekor tikus memberikan kerusakan bahkan kehancuran dari sel setiap organ tikus tersebut. Dosis yang digunakan tentunya disesuaikan dengan tubuh tikus tersebut. Lalu bagaimana dengan tubuh seorang bayi yang dilakukan berulang kali?

Link terhadap penelitian alum atau garam alumunium bisa dibaca disini :
- http://therefusers.com/refusers-newsroom/aluminum-based-adjuvants-cause-cell-death-and-release-of-host-cell-dna/
- http://www.sciencedaily.com/releases/2011/07/110717204910.htm
- http://www.nature.com/nm/journal/v17/n8/full/nm.2403.html
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/21568886/

Link diatas hanyalah mengenai fakta akan bahaya garam alumunium yang digunakan sebagai bahan adjuvant di SEMUA vaksin. Untuk bahan vaksin lainnya, silakan ayah bunda telusuri mbah google dan belajar menganalisa sendiri yaahh..

Mari lanjutkan uraian dari blog diatas : “Adalagi informasi lainnya. Untuk vaksinasi dasar, Indonesia telah berhasil membuat vaksin sendiri, sudah terbukti uji klinis dan epidemiloginya, bahkan dieskpor untuk kepentingan regional Asia Tenggara, di Biofarma, Bandung.
Masalah yang berkembang dan mencuat belakangan adalah vaksinasi tambahan, termasuk meningitis untuk calon jamaah haji atau vaksin HPV, yang masih diproduksi oleh produsen luar negeri semisal GSK.
*menurut penuturan seorang guru ngaji bahwa kebetulan beliau bekerja di balai POM, sudah ada vaksin meningitis yang halal untuk calon jemaah haji*”


Mengenai vaksin meningitis, ayah bunda bisa baca sendiri di harian Republika edisi Jumat tanggal 14 Oktober 2011. Vaksin tersebut bahkan baru-baru ini kembali dikritisi oleh Mantan Menkes Siti Fadhillah Sapari bahwa semua vaksin tersebut tetap mengandung bahan haram alias babi. So, menurut saya dalam mencari sebuah iinformasi bukan sekedar berbicara dengan seseorang yang ilmunya terbatas.

Alhamdulillah informasi ini saya dapatkan LANGSUNG dari bu DR. dr Siti Fadhillah Sapari, SpJK (K) sebagai mantan menkes lohh.. Ditambah dengan pengakuan dari Biofarma bahwa mereka TIDAK PERNAH diaudit oleh pihak yang berwenang dan dalam hal ini adalah LP POM MUI.

Kalimat terakhir yang mendorong saya untuk meluruskan informasi dari blog tersebut adalah pernyataan bahwa seseorang yang bukan berasal dari kedokteran sebagaimana tertulis demikian “apalagi kalau munculnya dari orang-orang yang bukan ahlinya, atau bahkan ga punya background pendidikan kedokteran sama sekali.”


Buat saya, seorang dokter atau bukan - ia punya kemampuan untuk BELAJAR dari siapapun. Gelar dan sebagainya bukan jaminan bahwa individu tersebut akan berkata benar. Belajar adalah kata kunci yang luar biasa. Bahkan Rasulullah shalallahu alayhi wa salam menyuruh kita untuk tidak taqlid atau belajar seperti kerbau dicucuk hidungnya, dimana apapun perkataan seseorang yang dianggap pintar dijadikan hukum tanpa mempelajari lebih jauh. Dan Alhamdulillah informasi yang saya terima justru berasal dari sosok-sosok yang memiliki kompetensi tinggi, seperti DR. dr. Siti Fadhillah Sapari, SpJK(K) dan Prof. DR. Hasyim dari LP POM MUI.

Kritikan tajam saya tujukan pada kalimat ini “sorry to say, maap- maap yeee kalo agak kasar, menurut saya, orang tua yang menganggap tidak mengimunisasi anaknya adalah pilihan terbaik dan adalah hak dia untuk memilih untuk tidak mengimunisasi adalah orang tua yang LUPA, lupa bahwasanya ada HAK ORANG LAIN untuk merasa aman dari ancaman penyakit yang mematikan.”


Sebagai seorang dokter, saya memahami dengan baik bahwa jika kuman yang disuntikkan dalam tubuh seseorang dengan daya tahan tubuh yang menurun maka kuman/virus tersebut menjadi aktif bahkan menginfeksi tubuh yang menerima vaksin tersebut. Dalam hal ini, siapakah yang berjalan-jalan membawa bahan penyakit dan memiliki resiko memberikan penularan kepada anak lainnya yang sehat? Sehat tanpa bahan kimia, sehat karena ibunya memberikan pengobatan ala Rasulullah shalallahu alayhi wasalam?
Ditambah lagi pengakuan dari salah seorang karyawan Biofarma bahwa penyimpanan vaksin tersebut di beberapa wlayah pelosok Indonesia TIDAK MEMENUHI STANDAR, sehingga kemungkinan vaksin rusak atau terkontaminasi sangat besar.

Kembali pada kisah di blog tersebut “mau ngutip kalimat temennya ayah, beliau punya background pendidikan kedokteran dan sedang mengambil jenjang spesialis, aaahh:
“ﻪّﻠﻟَﺍ sdh Mengaruniakan akal buat kita, ilmu pengetahuan manusia sudah tahu tentang vaksinasi, kampanye sudah dijalankan, digratiskan lagi oleh pemerintah. Secara rasional, ga ada alasan lagi untuk ga vaksinasi jadi, anggapan bahwa imunisasi / vaksinasi berasal dari kedokteran barat yang penuh konspirasi untuk melemahkan umat muslim, gimana?”


Sebagai seorang dokter, walaupun dokter umum, satu hal yang saya ketahui bahwa pribadi muslim diberikan akal dan pikiran pertama kali yang dilakukannya adalah YAKINI AYAT-AYAT ALLAH dan RASULNYA. Selanjutnya baru kaji dan telaah.

Saya dan orangtua kontra vaksin kimia telah memilih ASI sebagai vaksin alami, karena kami meyakini QS. AL BAqarah : 233 dan dari ayat tersebut kami kaji lebih jauh. Saya pribadi membutuhkan waktu 7 tahun untuk meyakini bahwa inilah maksud dari ayat Allah subhanahu wa ta’ala itu, bahwa ASI adalah VAKSIN ALAMI bagi setiap anak manusia yang lahir di muka bumi.

Bukti ilmiahnya apa? Silakan membaca pada link dibawah ini, bahwa dr Albert Sabin pada awal merintis percobaan vaksin polio - beliau menggunakan kolostrum manusia dan sapi sebagai obat. Jurnal ini menunjukkan bahwa hewan yang terinfeksi oleh polio, 84% sembuh dengan pemberian kolostrum.

http://pediatrics.aappublications.org/content/29/1/105.full.pdf+html

Pada akhir kisah dalam blog tersebut, penulis menuliskan “Silahkan menilai dan menjawab sendiri yaaaa”

Maka saya menjawab "Betul, mari silakan menilai dan menjawab sendiri. Kebenaran hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kelemahan adalah dalam diri saya sebagai penulis. BELAJAR dan DO’A untuk mendapatkan cahaya kebenaran. Semoga ayah bunda tidak membutuhkan waktu selama 7 tahun seperti saya dalam meyakini kebenaran tersebut."

Sekali lagi bukanlah sekedar halal/haram semata namun BAHAN KIMIA didalam vaksin tersebutlah yang mendorong kami untuk mengatakan dengan lantang “NO TO VACCINE”.
Suatu petang ketika orang-orang sedang sibuk berebut waktu untuk segera pulang kerumah masing-masing setelah melakukan rutinitas pekerjaannya. Di sebuah halte busway terlihat seorang bapak dengan 3 anaknya yang masih kecil-kecil.Mereka sedang menunggu datangnya busway yang sebentar lagi akan membawa mereka pulang.

Ketiga anak itu berusia sekitar 8,5 dan 3 tahun.Anak terkecil bagaikan seorang putri,ia begitu cantik dalam dekapan sang bapak.sedangkan kedua anak lainnya yang putra sedang asyik bermain-main kesana kemari,itu lah ciri anak seantero dunia.

Tibalah saatnya busway yang ditunggu datang.Para penumpang pun seperti robot yang mendapat perintah yang sama, bergegas menuju pintu masuk busway,termasuk sang bapak dan ketiga anaknya.

Kemudian keluarga itu dapat duduk di kursi busway yang disusun seperti kereta api listril(KRL).lalu kedua anak laki-lakinya beranjak dari kursinya dan bermain petak umpet di sela-sela tubuh orang dewasa yang sebagian besar mengisi ruang busway itu,sambil berteriak girang.

Terlihat beberapa penumpang yang wajahnya menjadi begitu muram.Mereka merasa tidak nyaman dengan kegaduhan itu.hingga akhirnya ada seorang penumpang pria yang ketus menyatakan protesnya ke sang bapak,

"Pak,tolong anaknya di atur ya,disi kan penumpang juga ingin tenang,sudah capek kerja,eh pulang kok masih aja ada yang ganggu!!"

Kemudian sang bapak sambil menggendong putrinya pun menjawabnya dengan senyum,

"Maaf ya mas,ibu mereka baru saja meninggal sore ini di rumah sakit,dan saya belum mengatakan hal ini ke mereka,nanti begitu sampai rumah saya akan mengatakannya. Biarlah mereka merasakan kegembiraan yang menjadi hak mereka,karna saya merasa mereka akan banyak kehilangan kegembiraan setelah tahu bahwa ibu yang biasa mengasuh mereka dan menyayangi mereka setiap saat sudah tidak bersama mereka lagi selamanya.Mas tidak keberatan kah,kalau mereka bermain sebentar saja di bus ini?"


Mendengar apa yg dibicarakan sang bapak,sebagian penumpang yang mendengarnya lalu terdiam dan merenung,termasuk sang pria yang baru saja memperotes sang bapak dengan ketus.Tiba-tiba mereka teringat akan kasih sayang dan kesalahan-kesalaahn yang pernah mereka perbuat kepada ibunya.

Diam-diam diantara mereka ada yang mengambil handphone di saku celananya,lalu jari jempolnya membuat barisan kalimat "ibu apa kabar?besok pagi saya mau pulang menjenguk ibu.maafkan segala salah saya,ibu"

kemudian dia mengirimkan sms itu ke nomor ibunya,dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya besok..

Bersyukurlah bila anda masih memiliki ibu! karena saya tahu hampanya kehilangan seorang ibu.

Walau sudah meminta izin sebelum liburan lebaran dimulai sekarang efeknya tetap saja terasa. 2 orang khadimat yang selama ini bekerja dan membantu urusan Rumah Tangga tidak memperpanjang kontraknya. Yang satu memang sudah dilamar pemuda kampungnya, sedangkan yang satu lebih tertarik menerima kontrak kerja dari sebuah pabrik pengalengan di Jakarta.

Saat ini criteria pemilihan khadimat sangatlah ketat, apalagi bila criteria itu diserahkan kepada istri akan menjadi lebih rumit dan kompleks. Selain itu pergantian khadimat akan menimbulkan kembali masa-masa transisi bagi seluruh keluarga. Pembelajaran kembali yang membutuhkan waktu tak pendek. Hal yang paling penting adalah orang-orang yang beredar disekitar anak-anak yg notabene masih balita akan kembali berubah dan dibutuhkan penyesuaian kembali.

Kini setelah hari hari bekerja kembali datang, kesibukan pekerjaan sementara harus tertunda. Walaupun harus datang kekantor dan absen, namun integritas sebagai pejabat Negara membuatku harus membawa anak-anak ini kekantor, walaus edikit terganggu namun pekerjaan harus tetap diselesaikan. Dan jangan lagi menambah stigma buruk di masyarakat tentang pejabat Negara. Walaupun dengan alasan yang sebenarnya masyarakat tetap saja tak akan mau menerima alasan apapun.

Saat ini peran khadimat bagi kedua orang tua bekerja sangatlah fital, bukan sebagai pengganti orang tua namun sebagai assistan penyelesai pekerjaan rumah tangga yang tak berhubungan langsung dengan tumbuh kembang anak-anak. Walaupun tak bisa dipungkiri andil khadimat dalam pertumbuhan anak-anak sangatlah terlihat.

Bagi orang tua bekerja seperti kami, waktu yang ada untuk bergumul dan berinteraksi dengan anak-anak sangatlah minim. Niscaya hanya tinggal dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB (bukan Jakarta). Hal ini menjadikan waktu bagi kami adalah perkara kualitas karena mengusahakan kuantitas sepertinya kami tidak akan pernah mencapainya.

Hingga ketika kami sudah dirumah istilah yg kami berikan kepada khadimat adalah “lepaskan tangan kalian dari anak anak kami, bersantailah!” hehe… terdengar satir, namun begitulah seharusnya memperlakukan kualitas waktu bagi anak-anak. Biar bagaimanapun, interaksi antara orang tua dan anak-anak sangatlah penting walaupun hanya sepenggal waktu.

Dalam kapabilitas criteria yang kami berikan terhadap seleksi khadimat, selalu berdampak pada semakin sedikitnya pilihan yanga da di ‘pasar PRT’ yang ada. Namun konsekuensi itu kami tanggung demi pertumbuhan anak-anak yang terbebas dari distorsi-distorsi yang seharusnya tak ada dalam tumbuh kembang anak-anak.
Istri selalu member criteria yang sangat ketat ketika mengharuskan menyeleksi khadimat, antara lain :

1. Islam
Ini patokan wajib dan tak bisa ditawar dalam hal penetapan criteria, karena dari dasar keyakinan ini akan terjadi kecocokan dalam pola hidup. Khadimat ketika ada didalam rumah kita sudha menjadi bagian ekosistem sebuah rumah tangga maka pola hidupnya pun ahrus selaras dengan rumah yg ditinggalinnya.

2. Sebisa mungkin berjilbab, atau setidaknya berpakaian rapi
Sebenarnya ini bukan criteria pokok namun diutamakan, karena walaupun mendapatkan yang tidka berjilbab dalam perjalanan hidup bersama dalam interaksi kami bisa mempengaruhinya untuk berpakaian lebih sopan.

3. Jujur
Dalam pola interaksi apoapun kejujuran adalah nilai moral mutlak yang harus dimiliki untuk memberikan kesan positif kepada siapapun. Bukankah begitu?

4. Sabar
Istri sering beralasan, biarkan dia tak bisa memasak, sedikit malas asalkan dia sabar. Karena hal utama kami mencari khadimat adalah untuk ‘ngemong’ anak-anak. Masalah makanan, atau pekerjaan RT lain msh bisa dikesampingkan dan ditangani sendiri bila mendesak.

5. Bukan seorang pengumpat
Tak perlu dijelaskan alasan pemilihan criteria ini, karena dampaknya akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak.

Namun itu semua adalah criteria Rumah Tangga kami, tidaklah sama Undang-undang yang ada di setiap rumah. Pun tak akan sama setiap konsekuensi yang dinginkan walaupun resiko itu tetaplah ada. Namun satu yang pasti bila seseorang masuk kedalam wilayah rumah tangga kita pastikan dia mengetahui dengan jelas aturan yang ada dan konsekuensi yang akan diterima.

Let’s hunting!!!

Masih pagi dan rasa malas itu sedikit masih menggelayuti, setelah menghabiskan waktu dalam suasana hari raya. Masih di rumah mertua yang membuat kerasan menghabiskan pagi diatas kasur, sambil sesekali melirik jam dinding. Lambat dan rasanya semakin lambat saja jarum jam untuk bergerak. Kalau saja tak diganggu oleh tangis si bungsu rasanya pingin melanjutkan acara ‘bangkong’ ini.

Selain lupa kalau hari aktif bekerja sudah tiba, juga pura-pura lupa kalau ternyata kutambahkan acara libur dengan tajuk cuti setelah lebaran. Bila mengikuti pemerintah berdasar kesaksian penglihatan ru’yat yg menyebabkan hari raya mundur 1 hari, maka berdasarkan ru’yat pula aku cuti 1 minggu.

Setelah mertua pergi kekantornya, adik ipar tertua pergi juga kekantornnya dan adik ipar termuda menggeber motornya ke kampusnya. Barulah terasa ternyata cuti ini membuatku kesepian walau masih ada istri yang juga cuti dan anak-anak yg juga kubiarkan ‘bangkong’.

Belum mandi, bangun tidur udah disuguhi nasi samin, sarapan yg lama tak kujumpai. Nikmat sekali kulahap bersama pagi yg mulai memudar. Hari semakin siang dan bahkan untuk menyentuh air pun seperti seekor kucing yang tak berdaya.

Ku cek laman sosial networkku, dan penuh dengan status yg mengabarkan kondisi kantor dari yg paling lebay hingga yg paling tidak bergairah menyambut hari pertama workday. Dari yang mengeluhkan kemacetan kala mudik hingga mensyukuri telah sampai tujuan walau tak tepat waktu.

Dari yg mengeluhkan habisnya makanan di meja hingga mengeluhkan bos yang tak kunjung tiba. Ah pokoknya social network ini telah menjadi pengganti mata-mataku ditempat kerja kala kucuti. Memprediksi dan menerka nerka apa yg terjadi di tempat lain saat ku bermalas-malasan di rumah mertua ini.

Setelah sekian lama kurasakan saat-saat yg didambakan banyak pekerja seperti ini, malah kurasakan hal sebaliknya. Aku rindu tempat kerjaku, aku rindu suasana kerjaku. Eh tak bohong kuungkapkan bila ku juga ingin segera melihat wajah bosku....

Kadang rutinitas yg monoton membuat pekerja khususnya karyawan mendambakan saat-saat off day, baik itu liburan atau cuti. Dengan alasan berbagai macam dari urusan keluarga sampai livuran keluarga. Hal sebenarnya adalah rutinitas yg monoton itu seperti menumpulkan otak, otak tidak pernah terasah secara sempurna karena rutinitas telah memberikan gambaran jelas apa yg akan dilakukan esok hari, dan begitu seterusnya tanpa ada tantangan lebih. Faktanya tantangan akan menstimulasi otak, dan situasi kritis dapat memicunya menuju jenjang yg lebih tinggi.

Disaat offday bagi karyawan yg mengalami rutinitas yg monoton tidak serta merta membuat otak beristirahat, karena sejatinya offday bagi karyawan yg memiliki rutinitas monotan hanyalah membuat fisik beristirahat namun semakin melenakan otak akan tumpulnya kreatifitas.

Kreatifitas menjadi kata kunci bagi otak untuk tetap tajam sekaligus menjadi pertanda bahwa otak masih bekerja dan mau diajak bekerja. Rutinitas yang monoton tidak menghasilkan kreatifitas, offday semakin menumpulkan kreatifitas.

Saat ini harus kutemukan kreatifitas dalam rutinitas yang monoton, apalagi cutiku amsih seminggu lagi. Hmm.. apa ya ?

Percakapan dengan seorang dokter muda (my old friend)

Teman : Jadi kepikiran... Front Anti Vaksin ini menolak vaksin HPV juga ndak yah? :'(

Saya : ada tho front anti vaksin?

Teman : front anti vaksin ada, intinya menolak vaksin, terutama vaksin wajib untuk bayi&anak. Maksudnya 'prianya suami besar' iki piye?

Saya : ? tujuannya atau sebabnya apa ya menolak vaksin?

Teman : Sebab sebagian beranggapan vaksin masih haram. Tujuan: sebagian beranggapan bahwa penyakit bisa dicegah tanpa vaksin.

Saya : sebenarnya sebabnya bukan hanya keharamannya, tapi bahan kimia pembawa vaksin juga termasuk logam berat..menurutku sih..

Teman : logam berat ya? Logam berat apa nih? ;)

Saya : bu dokter lebih tahu lah....hehe

Teman : bahkan dalam tubuh kita pun ada virus, bakteri dan jamur. Mengharap hidup yg steril tanpa penyakit itu ya... non sense :|

Saya : yup, lingkungan bahkan tubuh penuh dengan kuman dan virus namun msh mungkin bukan kita hidup tanpa saling menyakiti dgn mereka?

Teman : mwahahaha I prefer to fight them first before they attack me =))

Saya : they can attack, but they can't made us down if we have untouchable defence.. isn't it?

Teman : the risks are always haunted. Mwahahaha.

Saya : my risk management are always hang on my God's will...sami'na wa ata'na.

=======================================

Teman : Risiko infeksi HPV pada perempuan dgn pasangan pria yg tidak menggunakan kondom sebesar... Jeng jeng jeng... 89,3%, cuy!

Saya : oh... maksudnya,apakah persentase itu membedakan pasutri dan non pasutri

Teman : itu presentase untuk pasangan, entah pasutri atau bukan. Multipartner lebih tinggi risikonya, Odds Ratio 0,42. dua2nya.

Saya : berarti ada distorsi dlm penelitian tersebut, ya ngga? mungkin ngga pasutri lebih terhindar HPV dari non pasutri, bu dokter?

Teman : distorsi dimananya? Pasutri MUNGKIN terhindar infeksi pasutri karena tidak multipartner. Tapi infeksi kan tidak hanya dari situ.jika pertanyaannya 'mungkin', ya jawabannya 'mungkin' :)) Hidup sehat dan menghindari radikal bebas, risiko MUNGKIN masih ada.

Saya : berarti tanpa vaksin masih mungkin untuk sehat? begitu ya bu dokter?

Teman : mungkin. Dan mencegah lebih baik daripada mengobati :)

Saya : setahu saya ada 2 cara tuk mencegah ya bu, dan pilihan itu tidak mutlak hanya pada vaksinasi? bukankah begitu bu, atau sy yg salah

Teman : inti pencegahan primer adalah mencegah terjadinya penyakit. Vaksinasi salah satunya.

Saya : vaksinasi salah satunya..saya setuju ini.. tidak menutup kemungkinan ada cara yg lain bukan?

Teman : selama cara itu sudah jelas angka penelitiannya, bisa. I am live in scientifical world, Bro. Masalah takdir beda lagi =))

Saya : bagaimana penelitian menjelaskan tentang hadits Rasul masalah sayap lalat? masalah air zam-zam? Tahnik ,bekam dan hal lain yg penelitian belum sanggup menjawab?