Menyapih itu bukanlah tindakan memisahkan ikatan antara ibu dan anak, menyapih itu tak lebih adalah turut melibatkan sang bapak dalam sebuah ikatan yang lebih besar.Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(Luqman : 14)
Setidaknya ada 3 ayat yang menyebutkan tentang menyapih yang Allah jelaskan dalam rangkuman dunia dan akhirat dalam 30 Juz nya. Di dalam Surat Al- luqman Allah menceritakan nasehat mulia Luqman kepada anaknya, salah satunya adalah berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu. Ibumu telah menganudngmu dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah dan menyapihmu dalam usia dua tahun.Januari ini bungsuku sudah sampai diusia penyapihan, boleh sih diteruskan namun dalam usia dua tahun rasanya kebutuhannya sudha tercukupi dan bisa dialihkan kepada sumber makanan yang lain.ikatan yang terbentuk antaranya dan ibunya sudah begitu besarnya.Kami mulai proses penyapihan ini dengan teknik hypnotherapy, jangan tanya saya definisinya ya. Yakin deh saya susah jawabnya, pokokmen itu tehnik yang apliaksinya kami modifikasi dengan cara setiap matanya kriyep-kriyep mau tidur kami bisikkan sesuatu di telinganya dengan suara lembut ‘nak, ga minum susu ibu lagi ya!’ begitu seterusnya. Kami lakukan secara rutin, berhari hari setiap hendak tidur. Tak lupa bisiskan itu kami dengungkan.Kepercayaan pada teknik hypnotherapy adalah menanamkan ide baru di alam bawah sadarnya, baik dimengerti atau tidak oleh alam sadarnya ide baru di alam bawah sadar itu akan memicu alam sadar untuk berfikir dan bertindak sesuai perintah yang ditanamkan itu. Berhasil ganya ya yang dibisikin yang tahu.Setidaknya bisikan bisikan itu membuahkan hasil dengan berkurangnya efek tantrum pada proses penyapihan si bungsu ini di kemudian hari. Berikutnya adalah proses mengganti empeng alami dengan empeng sintetik, terdengar kejam yang biasanya mengganti yang sintetis dengan alami ini malah sebaliknya. Tapi ya memang itulah essensi menyapih, dan kami memilih menyapih dengan cinta kata emaknya.Kaleng yang dimiliki emaknya berisi nutrisi lengkap dengan rasa manis yang tak dijual di supermarket manapun, sedangkan yang kugantikan sebagai isi botol empengnya adalah cairan madu dan air hangat terkadang sari kedelai terkadang air tajin. Tentu itu tak sepadan dengan minuman nikmat sebelumnya yang disarikan dari tubuh emaknya tapi itulah usaha terbaik yang kami lakukan untuk menggantinya ditambah asupan makanan padat yang lebih lengkap nutrisinya.Tantangan terbesar dalam hal penyapihan ini adalah membuatnya tertidur tanpa mengingat gentong emaknya. Berat memang melaluinya sembari menekan emosi yang terkadang meletup letup demi mendengar tangisnya yang tak kunjung henti. Hampir juga meluruhkan niatan kami tuk menyapihnya. Jangankan dengan cinta bahkan dengan tanpa emosi saja sulit luar biasa, jangankan anak pertama bahkan ini yang kali ketiga saja masih membutuhkan banyak sekali kesabaran.Tiga hari terkahir, si bungsu sepertinya merajuk dengan emaknya. Tiga hari terakhir ini dia tak mau tidur dengan emaknya. Tiga hari terakhir ini dia terlelap di gendongan bapaknya, tiga hari terakhir ini untuk kesekian kalinya merasakan bangganya sebagai seorang bapak bagi anakku.Salah satu kesuksesan besar di dalam karir sebagai bapak ya berhasil meninabobokan si bungsu ini di gendongan. Walau ketika dia mulai terlelap kala itu juga pundak hingga jemari seperi mati rasa. Rasa leganya mengalahkan perasaan ketika melenggang keluar dari ruang ujian. Bahan seekora nyamuk yang melintas pun akan menjadi korban amukan bila itu mengganggu tidurnya.Tidakkah ini nikmat! Disaat pagi menyingsing mata masih sembab, kantuk masih merajai dan kepala sedikit berputar karena tiga hari tak tidur dengan wajar. Tidakkah ini nikmat! Melihat matanya terbuka dan yang didengungkan pertama kali dari lidahnya adalah ‘ayah’! tidakkah ini nikmat! Ketika sepanjang hari bermain di bawah ketika ayah! Menyapih itu adalah kesempatan emas bagi ayah untuk melibatkan diri membuat ikatan yang kuat. Jika kita menyadarinya..
Mencoba merekatkan kembali kepingan kepingan puzzle ingatan.
Sebuah gambaran kurangkai satu demi satu, banyak yang terserak namun tetap
kucoba. Masa lalu sebenarnya hanyalah serpihan kertas buram yang berusaha kita
kubur tak pelak membuat indahnya kenangan sedikit sirna.
Pendaftaran Sekolah Dasar telah di tutup ketika aku
memutuskan mengikuti orang tuaku dinas di kota yang bukan menjadi tanah
lahirku. Sehingga membuat kelabakan kedua orang tuaku, tak ada lagi sekolah
dasar yang menerima murid baru. Namun bukanlah orang tua namanyabila tak
mendapatkan solusi untuk buah hatinya. Entah bagaimana ceritanya mendapati
diriku duduk di sebuah bangku panjang ruangan kelas sekolah dasar.
Satu tahun kulewati, kelas satu usai sudah. Namun kenangan
di Sekolah Dasar itu sama sekali tak meninggalkan bekas, aku melupakan seluruh
teman kelasku bahkan aku lupa nama dan wajah guru-guruku. Kelas dua orang tua
memindahkanku ke sekolah Dasar yang lebih dekat dari rumah dan yang paling
penting lokasi sekolah itu tidak membuatku menyeberangi jalan raya lintas utara
pantai jawa itu. Yang pasti selalu membuat orang tuaku khawatir walau diriku
sendiri tak terpengaruh apa-apa.
Di sekolah yang baru inilah rajutan memory mulai tersulam
indah. Sebagian besar teman sekolahku adalah para tetanggaku sendiri, anak-anak
kampung yangmasih berpikiran sederhana. Sekolahku pun hanyalahsekolah dasar
desa yang lebih dikenal dengan julukan “Sekolah pagar kayu jaran”. Sekolahku
memang memiliki bangunan tua yang rendah beratap asbes berjendela teralis kawat
laksana kandang burung merpati. Di sepanjang pembatas arealnya ditumbuhi
sejenis tanaman pelindung yang masyarakat sekitar menyebutnya kayu jaran.Kalau
anda sedaerah dengan letak sekolah saya anda pasti tahu nama pohon itu. Itulah nama
yang tersemat bagi sekolah kampungku.
Ketika hujan mendera kami diperbolehkan memakai sendal
karena seluruh jalanan dan halaman kelas kami adalah tanah, hingga apabila kami
memakai sepatu maka kelas akan menjadi sangat kotor dan becek. Ditambah dengan
beberapa lubang di atap kelas kami menjadikannya semakin becek. Tak pelak bila
hujan tiba terkadang pelajaran akan diberhentikan sementara dan kami pun
bergotong royong untuk membersihkan kelas.
Guru yang paling saya ingat sejak kelas satu hingga kelas lima
adalah seorang ibu yang cantik namun galaknya melebihi ibuku sendiri. Namun
kuketahui bahwa ternyata ibu guru itu ternyata adalah rekan pengajian ibuku,
aku pun jadi semakin ngeri dibuatnya. Entah kenapa ibu guru ini selalu
mendudukkanku di bangku paling depan tepat didepan mejanya. Setiap ada
persoalan yang sulit beliau langsung menunjukku untuk menyelesaikannya, katanya
untuk mengajari yang lain.
Ibu guru ini mengambil mata pelajaran yang benar benar tepat
dengan keahliannya, matematika dna keahliannya adalah ngomel. Klop perpaduan
yang sempurna untuk sebuah kengerian kala itu. Tak jarang apabila diriku tak
sanggup lagi mengerjakan soalnya cubitan sayang mendarang di pipiku sambil
meringis gemas, entah gemas atau jengkel susah membedakannya. Yang selalu
membuatku heran adalah aku yang selalu menjadi korbannya. Namun yang ku syukuri
nilaiku tak pernah di bawah delapan untuk mata pelajaran beliau. Sayangnya walau
aku begitu ingat gambaran wajah dan perawakannya aku lupa nama beliau.
Di kelas lima seorang bapak menjadi wali kelas kami orang
yang sangat sabar dan tak pernah marah. Sepanjang aku mengenalnya tak sekalipun
kulihat kemarahannya, bahkan walau kami pernah protes terhadapnya hanya karena
satu kelas mata pelajarannya tak ada satupun yang mendapat nilai di atas lima.
Tak
banyak kenangan yang tertinggal tentangnya karena memang guru ini guru yang
penyabar dan tak pernah menghukum muridnya. Wajahnya begitu melekat di ingatan
karena beliau selalu memelihara jambang yang menutupi separuh wajahnya. Suatu saat
aku pernah menanyakan tetang jambangnya yang membuatku bercita cita kalau
dewasa kelak aku ingin memelihara jambang hingga lebat seperti beliau. Kutanyakanlah
rahasianya, jawaban itu masih kuingat hingga sekarang “suatu saat kelak saat
kamu punya istri, bantulah istrimu mencuci piring selalu. Setelah itu jangan
basuh tanganmu dan usapkan disekitar
dagu dan pipimu, insyaAllah akan membuat jambangmu subur!”
Entah itu jawaban bercanda atau memang benar adanya aku tak
tahu, yang pasti kalimat itu memicuku untuk melakukan tipsnya, walau kadang
sedikit mendapat protes dari istri karena wajahku jadi sedikit bau amis
makanan. Berkat ansehat inilah beliau menjadi satu-satunya guru yang masih
berhasil ku ingat namanya, Bapak Slamet.
“Sungguh
salah seorang diantara kamu mencari kayu bakar diikat alalu diangkat diatas
punggungnya lalu dijual, itu lebih baik dari pada orang yang meminta-minta
kepada orang lain , diberi atau ditolak.”(HR Bukhori)
Sore itu tak seperti biasanya,
rute pulang kantor kami memutar. Sepertinya pengerjaan jalandi ruas jalan
propinsi yang biasa kami lewati belum juga terlihat hasil akhirnya. Alat berat
masih berserakan di pinggir jalan, entah sebagai bentuk protes atau memang
seperti itulah cara kerjanya. Proyek yang berjalan di negara republik ini
begitu lambatnya, ditambah lagi spek yang selalu dibawah nilai kontrak. Ah itu
sudah menjadi rahasia umum tak perlu ada yang merasa tertampol.
Lambatnya jalan kendaraanku
seirama dengan lalu lalang pejalan kaki yang juga nampak semakin menghilang
bersamaan dengan mulai jatuhnya air dari langit. Sedikit demi sedikit semakin
berat dan basah.
Masyarakat kota kami menyebutnya ‘Bunderan
Gajah’, sebuah taman kecil di tengah kota tempat pejabat terdahulu meletakkan
sebuah piagam adipura yang pernah disandang kota ini. Dulu, dulu sekali hingga
piagam itu kini tampak lusuh selusuh sudut-sudut kota ini yang mulai melupakan
makna piagam itu.
Kini kendaraanku membawa kami melewati salah satu spot yang menjadi ikon kota ini, menunggu detik berkedip dari guliran lampu marka jalan.beringsut di setap sela sela kendaraan itu para pedagang asongan, penjaja koran, anak jalanan hingga sebuah pemandangan menghampiriku. Pemandangan yang biasanya menghampiriku di pagi hari, menghampiriku di lampu pemberhentian jalan di sisi yang berbeda tapi tdiak di pagi hari. Dengan penampakan yang jauh berbeda dari yang biasa kulihat.
Kini kendaraanku membawa kami melewati salah satu spot yang menjadi ikon kota ini, menunggu detik berkedip dari guliran lampu marka jalan.beringsut di setap sela sela kendaraan itu para pedagang asongan, penjaja koran, anak jalanan hingga sebuah pemandangan menghampiriku. Pemandangan yang biasanya menghampiriku di pagi hari, menghampiriku di lampu pemberhentian jalan di sisi yang berbeda tapi tdiak di pagi hari. Dengan penampakan yang jauh berbeda dari yang biasa kulihat.
Aku tak mengenal namanya, pemuda
bertubuh tegap dengan wajah terlihat termakan debu jalanan, rambut kusut namun
masih berbentuk mirip Keanu Reeves. Dia memiliki rahang yang membuat wajahnya
terlihat kekar, suaranya ramah namun sangat maskulin, berumur sekitar dua
puluhan.
Berulang kali aku menyapanya di
pagi hari saat membeli koran di di lampu merah sisi satunya. Berpakaian lusuh
bahkan hanya bercelana pendek, tampang lebih lusuh dari saat dia menghampiriku
di sore ini. Lebih hebatnya di sore ini dia berpakaian rapi, layaknya seorang bujang
hendak datang apel ke rumah pacar ayu nya.
Sore itu dia yang menghampiriku
menyapa dengan wajah sumringah rapi bersih dan membawa sebuah ukulele. Kali ini
dia menyanyikan lagu baru dari band yangs ednag digandrungi anak muda
kebanyakan. Menawarkan suara sumbangnya yang lugu demi receh entah untuk apa. Aku
pun tak memperdulikannya, sebab tak ada alasan kuat bagiku untuk menanyakannya.
Tampak di mataku dia pekerja keras, demi sesuap nasi. Tak kutahu juga latar belakangnya, apakah dia memiliki riwayat bersekolah ataukah dia anak jalanan yang tak memiliki rumah. Apakah anak akibat broken home yang meninggalkan rumah, ataukah bagian dari sindikat anak jalanan dan gepeng. Aku tak tahu pun aku tak ingin tahu, yang aku tahu dia mencari nafkah demia dirinya setidaknya atau mungkin dia menanggung orang lain yang juga tak ingin ku ketahui.
Tampak di mataku dia pekerja keras, demi sesuap nasi. Tak kutahu juga latar belakangnya, apakah dia memiliki riwayat bersekolah ataukah dia anak jalanan yang tak memiliki rumah. Apakah anak akibat broken home yang meninggalkan rumah, ataukah bagian dari sindikat anak jalanan dan gepeng. Aku tak tahu pun aku tak ingin tahu, yang aku tahu dia mencari nafkah demia dirinya setidaknya atau mungkin dia menanggung orang lain yang juga tak ingin ku ketahui.
Yang aku tahu dia tak memiliki kaki dan berjalan dengan dua buah tongkat kayu. Dan pemandangan itu cukup membuatku malu betapa kasihannya orang-orang yang dikaruniai raga yang sempurna namun menengadahkan tangannya tuk meminta kepada selainNYA.
menjalarkan kabar yang mungkin tak terbayangkan
seketika suasana lengang mencari arah suara
di seberang hendak berkata sayup sayup terbawa angin
aku tak pandai berucap
mungkin hanya menambah beban
namun tak sanggup rintihan itu ku bekap
dadaku sesak namun engkau sedang butuh sandaran
wanita yang kita puja bersama telah lama berlalu
aku tahu itu masih meninggalkan pilu
walau selalu kau coba untuk menutup haru
hari harimu masih tetap seperti malam malam kelabu
di kala senja sering kau duduk disampingku
mungkin sudah lama aku melupakan rasanya menjadi anak kecil
ketika kau sering menina bobokkan lelahku
menyelimuti malam-malamku ketika tubuhku menggigil
entah berapa puluh kali aku menantang egomu
namun kau selalu memiliki halus budi
mempersilahkan marahku
dan meredamnya dengan hangat pelukmu
engkau kupanggil ayah, karena memang engkaulah panutanku
kini suaramu tak semenggelegar dahulu
rintihmu rapuh, tatapanmu layu, dan senyummu mulai kaku
engkau kupanggil ayah, sebab tanpamu dunia tak akan pernah menyapaku
lihatlah kini, anakmu tertatih membawa beban
berjibaku dengan peluh dan keringat dengan dada lebam
engkau kupanggil ayah, hingga akhir hayatku pun nasabmu melekat erat
kini hadirmu kutunggu, akan kubuktikan baktiku kuat
jangan tunggu harapku nyata di saat segalanya telah telambat
Ayah...
“Cepatlah besar,
matahariku!
Menangis yang keras
janganlah ragu!
Tinjulah congkaknya
dunia buah hatiku!
Do’a kami di
nadimu.~Galang rambu anarki-iwan Fals~
Sepenggal bait penggugah pagi saat meninggalkan wajah buah
hati di teras rumah, memotong tiap bagian wajahnya di antara kaca spion dan
sudut tembok rumah. Pagi ini matahari tak lagi malu mengangkasa setelah sepekan
penuh enggan menyapa dibalik peraduan.
Tanpa terasa jagoan nomor dua sudah beranjak besar, tepatnya
lima tahun enam bulan sudah di laluinya sejak kepala mungilnya tertangkap di
dekapanku. Berdebar rasanya karena si sulung adalah perempuan maka yang kedua
sangat ku berharap adalah jagoan. Kemudian lahirlah Muhammad romiz Syahzada
manusia terpuji yang memiliki tanda seorang pemimpin.
Melihat perawakannya yang tinggi walau tak terlalu besar,
dengan wajah kuning langsang hidung mancung dan sebuah tahi lalat mungil di
pipi kirinya. Bisa jadi dia adalah laki-laki dambaan para wanita kelak dari
sisi lahiriyah, setidaknya PR-ku menjadikannya dambaan para bidadari secara batiniyah.
Harapan yang tak terlalu muluk ku kira.
Hari Jum’at pagi itu diharapkan seluruh orang tua dapat
hadir di acara pengambilan hasil studi siswa yang bersekolah di sebuah TK yang
jagoanku juga menimba pemahaman karakter disana. Namun kali ini hanya diriku
yang memiliki keluangan waktu untuk mendatanginya, bundanya sedang super.
Tebakanku tepat, pagi itu sepertinya hanya jagoanku yang
didatangi hanya oleh separuh orang tua. Hampir seluruh siswa di dampingi genap
oleh orang tuanya yaitu ayah dan ibu. Bagi jagoanku tak ada masalah, tapi
bagiku itu masalah. Walau kali ini mendapat pemakluman dari si jagoan semoga
kedepannya kami genap mendampinginya.
“Romiz, dia bak artis disini pak. Semua guru terkesan dengan
keramahannya, kesopanan tutur katanya.” Papar sang wali kelas.
Aku pun yakin semua wali kelas pasti akan memberikan berita
terbaik bagi orang tuanya, karena semua yang kurang baik ada di dalam sebuah
buku yang kemudian hari disebut ‘raport’. Aku pun hanya tersenyum. Namun benarkah
itu yang terjadi? Bahwa jagoanku adalah pribadi yang ramah dan cenderung lemah
lembut?
Selidik punya selidik tak hanya satu dua temannya yang
menyukainya dan lebih memilih bermain dengan jagoanku, karena dia ramah
bertutur sopan dan berperawakan lembut. Tak pernah membentak tak pernah memaki.
Aku tidak khawatir tentang hal itu, namun ekspektasiku
tentang lelaki bukanlah seperti apa yang diberitakan sang wali kelas pun bukan
yang digambarkan teman temannya. Laki-laki di dalam awan pikiranku adalah sosok
yang tangguh, berperawakan kasar, tahan banting. Bayangan laki-laki di benakku
adalah layaknya maskot Marlboro di plang plang iklan, coboy berwajah sangar dan
penuh baret luka kehidupan.
Namun tingkah polah dan sifat jagoanku menjungkir balikkan
semua gambaraku akan lelaki. Dia mengajari bagaimana seorang lelaki yang
lembut, seorang lelaki yang sopan dan dengannya menarik simpati dan hormat.
Dia bukan lelaki yang digambarkan Iwan fals, dia mungkin tak
akan mengepalkan tinjunya tuk menghancurkan kesombongan. Dia mungkin tak akan
menangis dengan keras untuk mewujudkan sesuatu, namun do’a kami tetap di
nadimu, nak!






