Nut....Nut.... Nut. Tengah malam, berkali-kali notifikasi gadget berbunyi. Paling juga warga grup yang lagi pada ga bisa tidur, pikirku. Walau sudah tersadar tidur namun rasa malas benar-benar tak mampu membuka kelopak mata. Apalagi sampe meraih gadget dan membuak layarnya, apalagi sampe ambil air wudhu’ dan shalat tahajud, apalagi sampe membuka mushaf dan baca beberapa ayat suci. Pokoknya malam itu bener-bener pingin tidur pulas ampe subuh.

Kubuka layar gadget ketika pagi menjelang, dan sudah ada lebih dari 200 notifikasi. Kegiatan yang begitu aktif dimalam hari dari para warga grup. Ada apakah gerangan? Oh.. MUTASI, pemindahan para pegawai baik itu untuk tujuan promosi atau penyegaran suasana. Hal yang sudah begitu lama tak kualami, hampir 7 tahun menduduki jabatan ini. Entah karena dedikasi atau memang tak ada pengganti yang bersedia takpernah kutinggalkan jabatan ini pun belum begitu besar hasrat untuk meninggalkannya.

Jabatan yang tak semua orang menginginkannya karena resiko keselamatan yang begitu besar, trouble solver yang sering berhubungan dengan kaum marginal di tengah hiruk pikuknya kota besar. Jabatan yang mewajibkan untuk berinteraksi dengan orang banyak dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Mungkin tak semua orang menginginkannya, karena juga berada di tataran jabatan yang berpenghasilan rendah. Tapi itulah harga sebuah dedikasi, i do it, and i love it.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, tak pelak berganti atasan beberapa kali pun jabatan itu masih menempel erat di pundakku. Tak peduli berapa kali pun meminta untuk resign dari jabatan dan mencari pengganti tetap tiada berujung sukses. Ada kalanya jenuh melanda, ada kalanya semangat meluap-luap. 

Ketika jenuh melanda tiada aku ingin ditemukan, kutinggalkan semua rutinitas membawa motor tuaku ke tempat rekan berkumpul. Biasanya yang kutuju adalah bengkel, entah itu bengkel mobil atau bengkel motor. Para sahabatku mahfum bila di waktu dhuha diriku datang biasanya hanya minta kopi, duduk-duduk ngobrol dan berbicara ngalor ngidul sampe waktu absen pulang tiba. Mereka sudah hafal, bahwa saya sedang suntuk dengan pekerjaan dan jabatan itu.

Ketika semangat berapi-api, topeng bengis seperti nempel di wajah. Saya tak memiliki cadangan kompromi bila semangat sedang membara, siapa saja saya sikat. Tak peduli dia bawa backing tentara atau pejabat. Bahkan duit segepok pun tak kuindahkan, namun hal yang paling membuat topeng bengisku kutanggalkan adalah apbila ada seorang tua renta yang harus kudatangi dan ku’gorok’ penghasilan yang menghidupinya. Semangat itu seperti lilin dihadapan matahari, meleleh tak bersisa. Bapak atasan, setiap peraturan yang bapak tetapkan memang mendidik kami yang duduk dijabatan ini untuk bengis namun kami pun masih manusia yang memiliki hati nurani. Terkadang di hadapan peradilan dagelanmu hal itu tidak menjadi pertimbangan bukan?

Di pagi itu setelah layar gadget hidup dan seluruh file terbuka semua, ada nama saya disitu. Mentereng diantara yang lebih mentereng. Bukan perpindahan jabatan yang diinginkan banyak pegawai, bukan pula mutasi yang memisahkan keluarga. Namun hanya pergeseran tempat dari lantai dua ke lantai empat, hanya pengistirahatan jiwa dari pemegang kuasa ke jongos biasa yang melayani atasan. Luar biasanya justru itu yang menjadi dambaan beberapa orang disana. Sehingga tak sedikit yang serta merta mengucapkanku selamat, padahal saya sedang dicopot dari jabatan saya. Ketika itu baru saya sadari, jabatan itu ternyata seperti spion pada mobil. Part atau bagian mobil yang tak begitu mempengaruhi jalannya sebuah mobil, hanya saja ketika ada mobil itu akan bisa berjalan lebih baik.

Saya kembali mengucapkan selamat kepada jiwa saya, bersyukurlah jiwa, kamu kembali tenang. Tak ada lagi godaan untukmu, waktu ini adalah waktu terbaik bagimu untuk membersihkan karat-karat yangs elama ini hinggap dan melapisi sendi-sendi mu. Suatu saat ketika dirimu sudah bersih kembali, siapkanlah pelumas yang lebih kuat agar karat-karat itu tak kembali mengotorimu.

Hanya untuk mengingatkan, suatu saat entah akan kemana dibawa jiwa ini? -kubikle 7 tahunku, Rabu 8 Mei 2013-

Cerita berlanjut menuju sodoran sodoran kebaikan hati WP/PP kepada Jurusita :

1. Menjadi seorang jurusita itu menyenangkan, banyaks ekali pengalamn-pengalaman hidup yang mewarnai. dan juga sebuah tempat untuk menggembleng mental dan pengembangan diri. bagaimana tidak saya yang dulunya adalah seorang yang tak memiliki kepercayaan diri yang besar kini memiliki kemampuan untuk 'sok pintar' dan 'sok ahli'. hingga suatu saat seekor anjing besar mirip acara film yg ditonton anakku scooby doo menghentikan langkahku dan menciutkan mentalku.

Kesalahan terbesar saya adalah memparkir mobil dinas plat merah saya di halaman dalam rumah tersebut, sehingga jurusita yang gagah perkasa ini hanya bisa duduk diatas kap mobil dan berdoa semoga hujan taks egera datang, karena si scoby doo ini masih diam tak bergerak disamping mobil.

-***-

2. Dia pengusaha besar dikota ini, suplier ban mobil terbesar dan memiliki 2 toko besar, chineseman di umur tanggung, dengan wajah gagahnya dan perawakan tinggi besar. cara bicaranya lantang, untuk memastikan bahwa lawan bicaranya terintimidasi.

Tersiar kabar dulu dia juga supplier para oknum pajak, tentunya supplier royalty. namun jaman sudah berubah, pajak telah berbenah kini bahkan oknum pajaknya yang menolak pemberian. sehebat apapun dia dulunya, dihadapan petugas pajak taklebihs eperti kucing yang mengeong demi mencium ikan asin diatas meja.

Hari itu saya datang membawa surat sakti yang mengindikasikan beberapa asetnya akan saya ambil paksa. anehnya seluruh pegawainya mempersilahkan saya untuk leluasa memasuki area usaha dan gudang nya. untuk menyampaikan pesan bahwa saya sedangs erius dan tidka main-main, saya bawa salah satu mobil usahanya.

Sore hari si chinese man garang menelpon, membentak, memaki bahkan mengintimidasi dengan menanyakan alamat rumah. saya tak bergeming hanya memintanya tuk datang ke kantor.
Esok harinya si chineseman garang datang, 15 menit berselang.. kegarangannya hilang, menghiba sambil meneteskan airmata.

Luar biasa, dia bisa menangis.

-***-

3. Tumpukan Surat tuk memaksaku sudah sama tingginya dengan novelnya Tasaro GK, harus segera dijalankan. kalau tidak pun tak masalah, peraturan berkata "disampaikan atau tidak surat itu tetap sah berkekuatan hukum tetap (inkrach)". bahkan kubuang disungai pun tak ada yang tahu, bahkan ku tanda tangani sendiri pun tak ada yang curiga. kali ini kejujuranku diuji, demi 50 ribu rupiah. ah kejujuran jabatanku hanya dihargai 50 ribu rupiah. wajar bila ada yang tak komit dengan jujurnya hati nurani yang dana bail out bertrilyun trilyun aja masih tidak bisa mengindikasikan sebuah kejujuran.

Ditumpukan terbawah surat surat itu ada beberapa daerah yang hampir tak pernah kudatangi. daerah pesisir yang kumuh namun katanya juga menyediakan 'kenikmatan'. karena penasaran, kujalankan saja beberapa surat itu menuju daerah yang katanya menjajakan dahaga dunia itu.

Ya salam, di pintu gerbangnya saya sudah disambut beberapa wanita bertanktop dan ber celana sependek .. ah tak tega saya menyebutnya. ingin rasanya pergi dari situ, namun karena dedikasi, iyah.. dedikasi.. sekali lagi dedikasi. saya kuatkan kaki tuk melangkah masuk. karena memang alamatnya ada di dalam area itu. ... sek.. sekali lagi dedikasi.

Saya memasuki sebuah rumah, pendek, tidak terlalu besar terkesan bangunan tua. duduk di ruang tamunya seorang renta yang baru kusadari setelah kuucapkan salam ternyata setengah buta. dan semakin kusadaris etelah sedikit berbincang bahwa kakinya juga hampir diamputasi atau bahkan sedang diusahakan agar tak diamputasi. diabetes peyebabnya ujarnya ramah sambil tersenyum lebar. mengambil penglihatannya dan hampir beberapa bagian tubuhnya.

Namun tak mengambil kejantanannya, buktinya seorang gadis elok tanggung menyuguhkan teh manis, mengaku putrinya.

Terbelalak dia ketika tahu maksud tujuan saya bersusah payah mendatanginya, berbagai upaya dilontarkan, berbagai muslihat coba diucapkan. namun saya bergeming, hingga dia menawarkan kesepakatan, yang sungguh membuat saya terpana dan hampir tak percaya.

"Kalau adik masih bujang, anak saya siap mengganti hutangnya. bagaimana? asalkan semua beres."

Saya buru buru pamit, bukan karena geram, namun tak lebih takut hati saya tak mampu menolaknya....


Minggu pagi, pasar tradisional, pedagang asongan dan lumpur beraroma menyengat. Inilah suasana kampungku, wajah masyarakat madani yang mendiami rumah-rumah pedesaan. Bila wajah tata moral bisa dilihat dari keanggunan masjidnya, wajah sosial peradaban bisa dipandang dari ngumpulnya para tetua di pos kamling desa, maka wajah budaya bisa diperhatikan dari interaksi nya di pasar tradisional.Teriakan penawaran harga, lemparan barang komoditi, dan suara recehan bergemericik menimbulkan persepsi kemajemukan yang menggambarkan ke loh jinawian susunan budaya.

Duduk di ujung los-los pasar yang terbengkalai, keramik putih namun tak berpenghuni, sedikit berdebu menjadi tempat istirahat para tengkulak yang akan memunguti ‘pajak’ dari para pedagang di sepanjang pasar. Bersama beberapa anak-anak kecil yang membawa kantong plastik merah yang mereka jajakan dengan harga yang lumayan. Bercanda diantara mereka yang telah menyusuri pasar dengan telanjang kaki berlumpur ria sejak subuh menjelang.

Tak berapa lama seorang ibu membawa putra kecilnya ke ujung pasar itu tepat didepanku berdiri sepetak bangunan yang digungsikan sebagai WC Umum. Putra ibu itu menggambarkan mimik sedikit tertekan entah karena panggilan alam diujung kesabarannya, ataukah menahan dongkol akan sentakan gemas ibunya yang tak ingin terganggu oleh rengekan putranya ketika menawar barang.

Pintu WC umum tinggal beberapa langkah lagi, namun si ibu memilih menurunkan sikecil di luar WC umum itu dan mendudukkannya seakan memberi komando untuk melucuti celananya dan ... cuuurrr! Lega, si anak berubah rona wajahnya. Si ibu hilang tekanan kerut wajahnya, selesai sudah gangguan kecil itu pikirnya.

Tak ada yang memperhatikan, bahkan bapak tua penjaga wc umum itu juga tak peduli. Si anak kembali ceria dan mengikuti kemana saja ibu memaksanya ikut. Biasa saja, tak ada yang aneh. Itu hanya kejadian biasa yang ada disekitar kita. Pembiasaan itu membuat norma-norma baik dimasyarakat dan budaya sopan santun kewajaran hilang seperti tak berbekas.

Hati kecil tak lagi peka dengan ketidak sesuaian norma, akal pikiran tak lagi bekerja sewajarnya ketika desakan akan kebutuhan menjadi penguasanya. Orang-orang telah berhasil pergi ke bulan namun kadang gagal untuk mengunjungi tetangganya. Banyak dari orang itu berhasil menemukan dimana tempat terbaik menyimpan harta bendanya, namun tak pernah berhasil dimana membuang sampah hidupnya.

Berfikiran luas, namun berperilaku sempit, pandai mendapatkan kekuasaan namun lupa meletakkan norma pada tempatnya. Selalu bergerak maju namun tak bisa menoleh ke kanan dan kiri.

             
               Di Kenya seorang pemuda tanggung berjalan riang di sepanjang jalan berdebu di kotanya, sebelah tangannya buntung. Di sampingnya juga seorang gadis kecil memegang ujung baju pemuda itu dengan satu tangannya, sebab sebelahnya lagi telah hilang tepat ditengah tulang keringnya. Begitulah kebanyakan orang di kenya telah kehilangan sebelah tangannya, oleh perbuatan biadab gerombolan pemberontak yang menangkapi siapa saja yang tak sepekat dengan perjuangannya dan menandai mereka dengan memotong sebelah tangannya.

               Namun pemuda itu adalah berbeda, dia menggalang anak-anak yang telah buntung tangannya untuk tetap sekolah. Dulu dia ditangkap dan di buntungi tangannya karena ketika ditanya bercita-cita ingin sekolah dan kuliah. Sementara gerombolan pemberontak itu tak ingin setiap warga kenya mendapat pendidikan. Pemuda itu menggalang semangat agars etiap anak yang telah buntung tangannya tetap menyimpan mimpinya untuk sekolah dan kini setiap anak yang buntung telah duduk dibangku sekolah karena usaha luar biasanya menggalang bantuan dan perlindungan. Namun tetaplah pemuda itu adalah pemuda buntung yang tak lagi melanjutkan kuliahnya, mimpinya telah pupus.

               Bunda Theresa, seorang biarawati yang terpisah jauh dari tanah kelahirannya. Menemukan keinginan sejatinya di negeri berbeda, menjadi abdi Tuhan di tempat berbeda, India. Mungkin tak ada yang tak pernah mendengar namanya walau tak sangat mengenalnya. Tokoh kemanusiaan yang mendapat piagam nobel atas tindakan kemanusiaanya pada tahun 2003 silam. Dia menyeru kepada setiap manusia tanpa membawa dan memaksakan apa yang diyakininya, yang hindu berbuat baiklah dan tetaplah pada keyakinan hindu, yang budha berperikamnusiaanlah kepada setiap manusia dan ikutilah ajaran budha, yang protestan, yang islam berbuatbaiklah dan yakinilah apa yang engkau yakini.

              Penganut sekuler menghormatinya, pelaku atheis mendewakannya hingga dunia menganggapnya manusia diantara para manusia, namun bacalah di surat-surat menjelang ajalnya yang dibukukan dalam sebuah tajuk Come Be My Light (Datanglah menjadi cahayaku) dia berujar “Banyak kebaikan yang mungkin telah ku lakukan, namun sepertinya Tuhan meninggalkanku.” Seorang hamba Tuhan, pelaku kemanusiaan yang nyata, kehilangan arah dan petunjuk Tuhannya? Bahkan dia merasa kosong dalam pengabdiannya kepada Tuhan.

              Di kolong langit ini Nama Muhammad begitu dikenal, bahkan oleh orang yang tak memahaminya sekalipun. Arab adalah padang tandus yang tak dilirik sekalipun oleh bangsa penjajah Belanda, Inggris, Portugis atau imperium kekaisaran katolik sekalipun. Karena mereka berpikir tanah tandus itu tak menghasilkan apa-apa.

              Namun Muhammad utusan Tuhan mengubah segalanya,dibawah kepemimpinannya Arab menjadi sebuah kekuatan yang menguasai sekitarnya. Bahkan hingga kini ajarannya menguasai hampir seluruh dunia, dan dijamin Tuhan tak akan runtuh hingga kiamat datang. Muhammadlah peletak prasasti peradaban itu. Dan Arab menjadi tanah yang diberkahi, tanah para pejuang kemanusiaan yang paling agung.

              Namun lihatlah perjuangan menegakkan sendi-sendi kejayaan itu, Muhammad dihardik oleh kaumnya sendiri, Muhammad diusir dari kabilahnya bahkan sanak saudara dan sahabatnya dibantai dan disiksa. Tubuh Muhammad koyak, giginya tanggal dan tangisnya pecah hampir setiap malam. Diujung hayatnya Muhammad teringat umat yang menyakitinya dan diujung nafasnya Muhammad mendoakan keselamatan ummatnya.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

             Begitulah bila jalan cahaya yang kita pilih, jangan kira semua akan berjalan sesuai keinginan. Karena sejatinya keinginan manusia itu yg mudah-mudah. Jalan cahaya itu penuh onak dan duri, bersiap-siaplah rintangan akan memagari. Terkadang seperti tiada pertolongan sedikitpun, padahal Tuhan tak pernah lupa akan setiap jerih payah kita.



Alhamdulillah, ternyata Sidharta Buddha Gautama adalah seorang muslim, mari kita telaah bukti-buktinya:

1. Menurut Abu’l Kalam Azad (seorang Urdu scholar), Sang Buddha (Buddha Shakyamuni) yang dikenal sebagai guru suci bagi umat Buddha tidak lain adalah Nabi Zulkifli as, yg dalam Al-Quran disebut sebagai Nabi yg mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, dan sangat baik. Dalam bahasa Arab Zulkifli sendiri berarti “orang yg berasal dari Kifl”. Sedangkan Kifl itu sendiri, masih menurut Kalam Azad, merupakan nama Arab untuk Kapila (singkatan dari Kapilavastu).

2. Buddha Maitreya yang dikenal dalam agama Buddha sebagai “Buddha yang akan datang” menurut beberapa analisa tidak lain adalah Nabi Muhammad saw. Dalam kitab Chakkavatti Sinhnad Suttanta D. III, 76 bisa ditemui: “There will arise in the world a Buddha named Maitreya (the benevolent one) a holy one, a supreme one, an enlightened one, endowed with wisdom in conduct, auspicious, knowing the universe“.

SIAPAKAH NABI ZULKIFLI?

Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak.

Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai:”Wahai rakyatku! Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.”

Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata:”Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada malamnya serta sanggup bersabar?”

Sejurus itu, Basyar dengan suara yang lantang menyatakan kesanggupannya. Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli.

Baginda juga adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud:
“Ismail, Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua karena mereka orang yang suka bersabar.”

SIAPAKAH SIDDHARTHA GAUTAMA?

Pada akhir abad ketujuh S.M. (tahun 623 S.M.), lahirlah seorang yang bernama Siddhartha Gautama di bandar Kapilavastu/Kapilavathu (Kapil, lidah Arab menyebut Kafil @ Kafli). Siddhartha Gautama merupakan putera kepada Raja Suddhodana dan Permaisuri Maha Maya. Raja Suddhodana dari keturunan suku kaum Sakyas, dari keluarga kesastrian dan memerintah Sakyas berdekatan negeri Nepal. Manakala Permaisuri Maha Maya pula adalah puteri kepada Raja Anjana yang memerintah kaum Koliya di bandar Devadaha.

Sebelum kelahiran Buddha: Permaisuri bermimpi dibawa oleh 4 orang dewa ke sebuah gunung yang tinggi. Kemudian, permaisuri melihat seekor gajah putih yang cantik. Pada belalai gajah itu terdapat sekuntum bunga teratai. Gajah mengelilinginya 3 kali sebelum masuk ke dalam perut permaisuri.

MAKSUD ISTILAH BUDDHA

Dalam agama Buddha, perkataan Buddha bermaksud ‘seorang yang bijaksana’ atau ‘dia yang mendapat petunjuk’. Kadang kala istilah ini digunakan dengan maksud ‘nabi’. Gautama Buddha pernah menceritakan kedatangan seorang Antim Buddha. Perkataan Antim bermaksud ‘yang terakhir’ dan Antim Buddha bermaksud ‘nabi yang terakhir’ (Antim terakhir yang dimaksudkan ialah Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir). Pada saat kematian Gautama Buddha, beliau memberitahu perkara ini kepada pengikut setianya bernama Ananda.

Makna “Nabi” dalam bahasa Arab (berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ dapat melihat tempat yang jauh). Nabi dalam bahasa Arab sinonim dengan kata Buddha sebagaimana yang difahami oleh para penganut Buddha. Sinonimnya pengertian ini dapat diringkaskan sebagai “Seorang yang diberi petunjuk oleh Tuhan sehingga mendapat kebijaksanaan yang tinggi menggunung”.

RINGKASAN KISAH SIDDARTHA GAUTAMA

Kelahiran Bodhisatta (Bodhisattva, bakal Buddha atau bakal mencapai Pencerahan) pada tanggal 623 S.M. pada bulan purnama Vesak. Selepas sahaja Bodhisatta dilahirkan, Permaisuri Maha Maya mangkat selepas tujuh hari melahirkan anak.

Pada hari kelahiran Bodhisatta telah disadari secara ghaib oleh seorang tua yang sedang bertapa di kaki gunung Himalaya yang digelar Asita Bijaksana (nama asalnya Kala Devala). Asita bergegas ke istana pada keesokannya untuk melihat dan menilik putera Raja Suddhodana.

Asita mendapati terdapat 32 tanda utama dan 80 tanda kecil menunjukkan Bodhisatta bakal menjadi Manusia Agung dan Guru Agung kepada manusia dan dewa-dewa (i.e. Jin dan Malaikat, kelemahan umat Hindu dan Buddha ialah tidak dapat bedakan antara Jin dan Malaikat yang keduanya dipanggil DEWA-DEWA).

Asita
menangis karena sedih tidak sempat mendengar ucapan dan pengajaran Buddha di masa akan datang, beliau kemudian berlutut tunduk hormat kepada bayi Bodhisatta.

Kenyataan terakhir Asita ialah Bodhisatta hanya akan menjadi salah satu dari dua yaitu sekiranya ia kekal membesar dalam istana dia akan menjadi Maharaja Agung manakala kalau dia berjaya lari dari istana maka dia akan menjadi Mahaguru Agung.

Upacara menamakan putera raja diadakan pada hari kelima selepas Boddhisatta dilahirkan. Pada akhir majlis itu, 108 orang bijaksana memutuskan nama yang sesuai untuk putera raja iaitu SIDDHARTHA GAUTAMA yang membawa maksud ‘Cita-Cita Terkabul’.

Siddhartha kemudian membesar di istana dan belajar kepada seorang guru istana bernama Sirva Mitra. Beliau menjadi pelajar yang luar biasa pintar dan mahir dengan ilmu ketenteraan. Yang menjadi keheranan kepada orang disekeliling dan gurunya ialah sifat Siddharta yang sensitif terhadap penganiayaan hingga tidak ada seorang pun yang beliau lihat menganiaya binatang kecuali mencegahnya serta merta.

Malah beliau sangat bersedih melihat para petani berkerja keras membajak tanah dibawah terik matahari menyebabkannya lari ketempat lain ke sebuah pohon (Tiin-Bodhi) dan duduk di sana secara bertafakur (samadhi) untuk membuang stress.

PERSAMAAN NABI ZULKIFLI DENGAN SIDDARTHA GAUTAMA

Maka berbalik kepada maudhu’ perbahasan, benarkah Buddha itu disebut dalam Al-Qur’an? Sebenarnya tidak ada kata-kata “Buddha” dalam Al-Qur’an, namun menurut Dr. Alexander Berzin bahawa terdapat catatan para sejarawan dan peneliti yang mengaitkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan Sang Buddha, yaitu pada maksud ayat;

“Demi (buah) Tin (fig) dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”(At-Tin 95 : 1)

Beliau menjelaskan bahwa buah Zaitun melambangkan Jerusalem, Isa a.s. (Jesus, Kristian). Bukit Sinai melambangkan Musa a.s. dan Yahudi. Kota Mekah pula menunjukkan Islam dan Muhammad SAW. Manakala pohon Tin (fig) pula melambangkan apa?

Tin (fig) = Pohon Bodhi

Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Al-Qasimi di dalam tafsirnya berpendapat bahawa sumpah Allah SWT dengan buah tin yang dimaksud ialah pohon Bodhi. Prof. Hamidullah juga berpendapat sama dengan al-Qasimi bahawa perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah mengapa sebahagian ilmuan Islam meyakini bahawa Buddha telah diakui sebagai nabi di dalam agama Islam.

Manakala Hamid Abdul Qadir, seorang sejarawan abad ke-20 mengatakan dalam bukunya Buddha Yang Agung: Riwayat dan Ajarannya (Arab: Budha al-Akbar Hayatuh wa Falsaftuh), menjelaskan bahawa Buddha adalah nabi Dhul-Kifl, yang bererti “ia yang berasal dari Kifl”. Nabi Dhul-Kifl @ Zulkifli disebutkan 2 kali dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya’ 21: 85).

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa, dan Dzulkifli (Dhul Kifl). Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (Shad 38 : 48).

KESIMPULAN

“Kifl” adalah terjemahan Arab dari Kapilavastu (Kapil), tempat kelahiran Bodhisattva (Buddha). Hal ini juga yang mungkin menyebabkan Mawlana Abul Azad seorang ahli teologi Muslim abad ke-20 turut menekankan bahawa Dhul-Kifl dalam Al-Qur’an boleh jadi adalah Buddha.

Dalam sejarah Islam, Nabi Zulkifli a.s. adalah antara nabi yang mempunyai cerita yang paling sedikit dibicarakan. Hal ini mungkin menjadi faktor kepada sebahagian ulama’ menyamakan watak Dzul-Kifli dalam Al-Qur’an dengan Buddha yang secara kebetulan banyak persamaan sekiranya disuaikan.

Yang menarik perhatian saya ialah mengenai surah at-tin (the fig). Allah berfirman mengenai pokok/buah tin, pokok/buah zaitun, bukit sinai dan kota mekah. Mekah dikaitkan dgn Nabi Muhammad s.a.w., Bukit Sinai dengan Nabi Musa, zaitun dengan Nabi Isa a.s., dan siapa pula dikaitkan dengan buah atau pokok tin?

Dikatakan dalam sejarah bahawa Gautama Buddha duduk bawah pokok tin. Kalau ikut istilah islam, dia dapat wahyu masa duduk bawah pokok tersebut. Ikut tulisan orang Buddhist, dia dapat ilham masa duduk bawah pokok tersebut.

Bila Allah berfirman :“Wattiini wazaitun. watuurisinina wahazal baladil amin.”
Allah menyebut perihal Nabi-Nabi-Nya. Tiin (Nabi Zulkifli-Buddha), Zaitun (Nabi Isa a.s), Siniina- bukit Sinai (Nabi Musa) dan Baladil amin -Tanah yang aman dan selamat (Mekah)- Nabi Muhammad saw. ia ikut urutan, hebatnya Qur’an sebagai kalimat Tuhan susunan sejarah riwayat Nabi-Nya. Mari kita sama-sama fikirkan. HANYA ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI.(abyavicenna)

Sumber : Muslimina


[Kids] don't remember what you try to teach them. They remember what you are.”  - Jim Henson -

“Sering kujawab ‘karena cetakannya sudah begitu’, ketika beberapa orang bertanya ‘anakmu mirip emaknya ya?’”

Sekonyong-konyong jawaban itu adalah patokan dasar bagaimana setiap orang tua mendidik generasi penerusnya, ‘cetakan’ yang memang sudah disertakan dalam kehidupan orang tuanya menjadi bingkai dalam mendidik dan membesarkan generasi penerus. Dalam hal ini mari membatasinya hanya dalam hal education.

Maka hikayat berpetuah bahwa ‘Buah Jatuh tak jauh dari pohonnya’, tidak mutlak demikian namun cenderung akan mengulang hal yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Bila ‘distorsi’ diabaikan buah akan cenderung hidup dibawah bayang bayang pohon induknya, bila ada yang memungkiri maka anggaplah itu sebuah ‘distorsi’.


“Hayo nak, berdiri didepan! Ambil salah satu kursi itu dan diangkat!” kalimat khas dari guru ngaji ku waktu kecil dulu, dan kalimat lumrah yang paling sering ku dengar saat jam-jam ngaji antara maghrib dan isya’.
Kami memanggil beliau dengan sebutan Abah Nasir, seluruh rambutnya memutih keperakan bukan karena disemir namun memang usianya yang semakin sepuh. Kacamata tebal dan lebarnya selalu menghias diantara kedua bola matanya, senyumnya sangat berwibawa walau gigi-gigi beliau tak lagi terlihat di rongga mulut.

Ilmunya sudah tak diragukan, di lingkungan para pengkaji beliau dikenal sebagai ahli tafsir tempat rujukan para pencari ilmu, bahasa Arabnya jangan ditanya ilmu nahwu sharafnya ngelotok. Namun beliau tetap setia sebagai guru ngaji anak anak dikampungku, beliau tak pernah beranjak setiap kali ditawari berbagai jabatan penting.

Seperti malam-malam sebelumnya, ketika tulisan arabku kembali salah Abah Nasir memeirntahkanku maju ke depan mengangkat sebuah kursi ngaji kecil dan siap diolok oleh teman yang lain. Malam berikutnya hal sama berulang ketika abah nasir memberi pelajaran tentang tafsir tak mampu aku menjabarkan dan sebuah kapur tulis kecil melayang mengenai dahi.

Rasanya tak pernah aku terlewat mendapat hukuman karena kebebalanku, selalu ku merasa ingin berhenti saja mengaji karena selalu dihukum. Namun setiap kali kealpaanku tidak menghadiri kajian setiap kali itu pula abah nasir mencariku hingga kerumah.

Setiap kali ku merasa jengah dengan hukuman sepanjang itu pula ku diundang kerumahnya untuk membersamainya membersihkan tumpukan kitab didalam rumahnya. Sejak itu aku merasa menjadi santri kesayangannya, bukan karena banyaknya hukuman yang kuterima namun karena ku menyadari cara mendidiknya membuatku selalu berpikir ‘hukuman itu ternyata  adalah bentuk kasih sayang dan pengharapannya yang besar terhadapku’.


Dalam alur sebuah pendidikan, pengajar berperan sebagai fasilitator dan santri atau murid adalah sebagai subjek didikan bukan objek pendidikan. Ketika alur ini sudah berjalan pada relnya tak akan ada lagi istilah murid bodoh atau santri ndableg yang ada adalah pengajar yang tak bisa mentransfer ilmunya.

Hukuman adalah alat bagi pendidikan untuk mentransfer pemahaman dalam hal ini adalah sebagai kendaraan yang ditumpangi ‘ilmu’ agar berjalan mulus kedalam kisi-kisi pemikiran sang santri atau murid.

Hakekat Abah Nasir menghukumku adalah untuk ‘melecut’ pikiranku agar terbuka dan bisa menerima ilmu, dan ketika pikiranku terbuka beliau ‘memaksaku’ tuk membersihkan debu diantara kitab kitabnya didalam rumahnya khusus untukku.

Ini barangkali ‘cetakan’ yang dibuat oleh Abah Nasir, agar aku memiliki program baku dalam mendidik, terutama mendidik anak-anakku.