http://www.hadila.com
Saya : adakah manusia yg tubuhnya sesehat nabi jaman sekarang?
hehe, kl menurut saya sih, tubuh kita ini sakit. hanya berapa persen sakitnya yg beda. kalau udah sampai diatas 50% barulah ambruk...

disebabkan dari pola makan, gaya hidup, lingkungan.

Seseorang : Insya Allah ada mas, Bahkan Nabi itu Klo sakit, dengan sakit yang sama jenisnya, namun 2 kali lebih parah dari orang biasa.

lagipula riwayat tentang bekam itu menunjukkan bahwa itu bukan sesuatu yang rutin dilakukan oleh Nabi. tapi bekam itu adalah kebiasaan orang arab ketika itu yang diperbolehkan oleh Nabi. itu saja.

entah salah atau benar, sudah mulai ada gerakan "terselubung" yang mulai meremehkan ilmu kedokteran yang dipelajari dikampus-kampus dengan beralasan adanya pengobatan cara nabi, bahkan sampe di embel-embeli kata syar'i segala, seolah berobat kedokter gak syar'i.

Saya : di kitab thin nabawy dibedakan antara perobatan penyakit, dan penjagaan kesehatan.

dan bekam dilakukan untuk keduanya.baik itu perobatan penyakit dan juga penjagaan kesehatan.

mungkin yg dibahas diatas tetang bekam sebagai perobatan penyakit.
tidak dibahas tentang bekam sebagai penjagaan kesehatan.

asal kata thib itu sebenarnya adalah perawatan/penjagaan bukan perobatan.
bekam itu lebih dititik beratkan pada penjagaan penyakit, karena pelaksanaan bekam dibutuhkan setidaknya lebih dari 1 kali untuk mendapatkan hasil.

mungkin kalau masalah hukumnya, apakah termasuk ibadah atau bukan di kitab thib nabawy tidak diterangkan secara jelas oleh ibnu qayyim. hanya memang ibnu qayyim mencantumkan hadits hadits penduung seperti yg telah disebutkan diatas.
kalimat yg tepat adalah, mengikuti thib nabawy/ pengobatan dan penjagaan kesehatan yg dicontohkan rasul adalah pokok atau yg utama, dan medis modern adalah sebagai alternatifnya atau second opinion.

karena tindakan yg dilakukan dlm medis modern adalah tindakan perobatan skait, dimana tindakan dilakukan bila sakit telah muncul. sednagkan thib nabawy adalah menitik beratkan pada penjagaan kesehatan.

jadi mengatakan gerakan "terselubung" meremehkan medis modern itu adalah bentuk prasangka menurut saya om. itu hanya opini atau persepsi beberapa orang yg ga mau rugi dagangannya disaingi.

Seseorang : sebagai consumer setia madu dan habbatussauda, saya bener-bener setuju bahwa thibbunnabawi harus ditempatkan diposisi utama sebagai upaya pencegahan. sekalipun tak bisa dipungkiri ada juga yang bisa digunakan sebagai pengobatan. namun kok saya jadi rada ragu yah klo bapak bilang tindakan medis modern sebagai secon opinion. harusnya sama-sama ditempatkan pada level yang utama diposisinya masing-masing. yang satu dipencegahan dan yang satunya lagi dipengobatan.

masalah persaingan dagang, saya belum menemukan kampanye kedokteran modern untuk meninggalkan herbal. saya memandang hanya ada perbedaan persepsi saja atau khilaf

Saya : hak setiap orang pak untuk tidak setuju, pemahaman saya ya speerti itu tentang kesehatan.

sy tidak menampik atau mengesampingkan medis modern, pada kondisi tertentu penanganan medis modern itu memang dibutuhkan. tetapi tidak untuk yg utama dalam hal penjagaankesehatan

tapi sebagai last option, dan juga sebagai second opinion.

seperti yg diungkapkan ibnu qayyim "sepertiga ilmu yg diturunkan ALlah di dalam islam itu adalah tentang kesehatan"

kita hanya perlu belajar, dan berusaha mempelajarinya.
Seseorang : iya klo saiya biasanya untuk mengetahui sakit lewat cara pengobatan modern (tes darah,urin dsb) setelah dokter mengatakan diagnosanya.. baru menggunakan pengobatan herbal..
saya sepakat bahwa pengobatan modern hendaknya tidak ditempatkan sebagai second opinion secara mutlak.. klo saya lebih prefer ke herbal karena di pengobatan modern sebagian praktisinya(dokter) berlaku terlalu komersil(dengan royal memberi obat harganya mahal pulla juga pemberian merk obat yg "menguntungkan" ybs bukan melihat kebaikan untuk si pasien.. juga industri obatnya yang sebagian besar masih belum diketahui kehalalanya (apalagi klo impor)...
sedang klo di pengobatan herba/thibun nabawil praktisi dan industri obatnya relatif lebih baik dari sisi ini (menurut saya) karena sebagian besar mereka adalah orang yang semangat menjalankan agama

Saya : ilmu tentang pembedahan anestesi, yg ada di medis modern tidak diajarkan di thib nabawy, namun ibnu sina memulainya terlebih dahulu.

dan banyak contoh tindakan medis modern yg tak ada di thib nabawy sebagai bentuk penanganan darurat kesehatan yg ternyata banyak dimulai oleh para dokter islam jaman dahulu.
nah .... fikiran sy juga gini naun sy ga mau memukul rata, ada juga kok dokter yg baik ga terkait kartel farmasi.

eh ada banyak ilmu diagnosis yg berkembang loh ga hanya melulu lab.

dalam ilmu diagnosis juga bisa memilih, yg diajarkan di banyak fakultas kedokteran dan yg paling umum adalah mendiagnosis melalui symptom

ada juga yg ga diajarkan di fakultas kedokteran namun tetap sebagai penemuan ilmu diagnosis oleh seorang dokter jerman namany iridologi.

ada juga ilmu diagnosis pembacaan darah, telinga, telapak tangan, akupunktur. banyak om... hehehe
yg nomor 1 sih kita hanya perlu percaya.

kalau mindset bahwa kalau saya sakit kan ada dokter.... ya emang susah segalanya snagat bergantung pada dokter. menurut saya sih, sebagaimuslim warisan ilmu kesehatan ini setidaknya kita kuasai walau sedikit, sehingga dokter benar bear melakukan fungsinya sebagai dokter, bukan sebagai penjual obat atas desakan pasien.

Seseorang : ane mulai praktekkin ini....sebisa mungkin kedokter tuh alternatif terakhir... pernah coba dan akhirnya radang tenggorokan sembuh dengan resep herbal dari Prof hembing. cuman kadang2 harus hati-hati banget soalnya ada penyakit yang tingkat bahayanya beda banget cuma cirinya mirip. saya melihat banyaknya tingkat kematian demam berdarah karena orang tua terlambat membawa kerumah sakit karena menyangka cuma sakit panas biasa.

kalaupun harus melakukan tindakan medis, saya sms temen yang apoteker buat minta obat yang bebas alkohol atau telepon temen yang dokter buat bikinin resep.

gak tau deh ini mo "menjauhi" dokter atau mo hemat...heheehehe

++++++

Dialog diatas benar benar terjadi antara saya dan rekan, menggambarkan 2 pemahaman tentang kesehatan yang saling menghargai meskipun ada perbedaan mendasar dalam pola pikir.

hal-hal seperti inilah yang mampu menciptakan ukhuwah yang hebat antara ummat islam. salaing menghargai perbedaan selama tidak menyangkut hal yg paling pokok yaitu aqidah.

ada banyak sekali hikmah yang bisa saya petik dari diskusi ini... semoga juga yang membacanya.
nimbooda.deviantart.com
“Anak pertama itu efek samping, anak kedua perencanaan, anak ketiga itu tak sengaja, dan anak keempat itu bonus.”

Begitulah sepenggal kalimat yang pernah mampir di telinga, ketika awal menikah. Beberapa tetua kampong bersama sanak family berkumpul di halaman yang memang disediakan untuk acara ngumpul malam hari, ketika sepanjang pagi dan siang disibukkan dengan acara resepsi pernikahan. Tak pelak malam itu diisi dengan menghabiskan hidangan yang tersisa disertai hingar bingar permainan kartu. Demi rasa sosialisasi kusempatkan waktu membersamai para tenaga honorer yang dengan sukarela ikut mensukseskan acara besarku.

Malam itu banyak sekali wejangan yang kuterima dari yang paling serius hingga tips bagaimana cara paling cepat menjebol pertahanan musuh. Dari candaan menyudutkan hingga ejekan yang membuat kami semua tertawa bahagia. Semua lebur menjadi satu bersama asap rokok, aroma kopi dan makanan kecil yang mulai dingin diserang hawa malam. Malam itu kulupakan dulu istriku yang juga terlelap kecapaian demi mengikuti ceremonial acara pernikahan sepanjang hari tadi. Tenag yang tersisa ini kumanfaatkan tuk mengenal para tetangga yang ada disekitar rumah mertuaku, sekaligus memperkenalkan diri bahwa akulah laki-laki beruntung yang berhasil mempersunting anak sulung salah satu keluarga yang terpandang di daerah ini. Bangga…..

Sembilan tahun jenjang pernikahan sudah kulalui, momen hari pernikahan itu semakin lama semakin pudar. Bersama dengan telah semakin dewasanya si efek samping, semakin bertingkahnya anak yang direncanakan dan semakin banyaknya gigi yang tumbuh pada si ‘tak sengaja’. Tiga makhluk kecil yang keluar dari rahim kasih sayang dan telah kubesarkan dengan cinta kasih. Mereka mengisi hari hari dengan segala macam bentuk ekspresi kehidupan. Hingga pada suatu titik kurasakan bahwa kehidupan berkeluarga itu adalah sebuah penderitaan bila mereka tak ada. Entah bagaimana menderitanya lagi kehidupan sebelum berkeluarga, dan itu sudah kulalui bahkan kulupakan.

Di sore itu kuajak mereka menjelajah hujan diantara aspal-aspal basah. Telah sempurna berdiri sebuah gedung yang kemudian diberi nama pusat kesehatan Ibu dan anak. Istriku bertanya “adakah SPoG perempuan yang berpraktek disitu?” tentu di papan nama sudah jelas tertera nama seorang dokter yang mengindikasikan bahwa dia memiliki gender wanita yang memangku gelar SPoG dibelakang namanya memberitahukan bahwa pertanyaan istri harus kujawab iya.

Sedikit pun tak kutaruh curiga di dalam pertanyaan itu, karena pertanyaan wajar bagi seorang wanita untuk mengetahui tempat dokter terdekat yang bisa dituju. Khususnya istriku yang memiliki syarat lumayan ketat dalam mendatangi profesi ahli ini. Yaitu dokternya harus sejenis dengannya, tak mau dia bila mendatangi dokter yang berjenis sama denganku. Untungnya kemudian di bangunan baru itu ada dokter kandungan perempuan, syukurlah semakin dekat jarak tujuan untuk penanganan bila kondisi mendesak.

Kecurigaan baru muncul beberapa jam kemudian, hingga dia kemudian dia berseloroh. “siap-siap dapat bonus yak sayang!”
Belum juga reda guyuran air hujan ketika kendaraanku sampai di gerbang depan rumahku, sore hari ketika matahari tak mau menampakkan diri sepanjang hari. Di akhiri dengan hujan teramat deras membasahi setiap ujung mata memandang. Basah seluruh badan, kuyub sepanjang kain yang melekat tanpa jas hujan istri yang kubonceng tak hendak menepikan kendaraan dan member perintah jelas untuk menantang air hujan yang berasa tombak menusuk kulit.

Berhamburan tiga makhluk kecil dari dalam bilik menyambut pelukan, walaupun sekujur tubuh membeku dan basah. Hangat laksana batu es yang terkena sinar mentari pagi, sumringah memandang wajah rindu. Kompak untuk meneriakkan pekikan bahagia demi mengisi baterai kangen setelah sepanjang hari tak bersua dalam canda bahkan tatap muka. Momen seperti itu adalah nutrisi bagi hubungan mutualisme diantara keluarga kecil, keluarga kecil yang tergilas waktunya oleh rutinitas. Dengan dalih mencukupi kebutuhan hidup, memenuhi kebutuhan perut dan kesenangan di akhir minggu.

Hujan semakin beringas menghantam tanah, binatang-binatang semakin semangat berorkestra mengiringinya. Lelah engsel-engsel pintu pagar ini merenggangkan diri untuk mau sedikit terbuka, disudut mata terlihat seorang bapak dan putri kecilnya menari riang dibawah hujan. Dia adalah tetanggaku, yang juga memiliki porsi waktu meninggalkan keluarganya yang sama denganku untuk mencari nafkah. Namun entah di sore ini dia sudah berjingkrak ria bersama putri bungsunya yang belum genap 2 tahun bergembira dibawah hujan. Aku iri melihatnya, aku lupa bahwa putriku juga mengagumi hujan.

Ketika dunia semakin menua, terkadang orang-orang di dalamnya juga semakin lupa dengan ucapannya. Mereka berkata menyukai hujan, namun mereka berteduh ketika hujan menyapa. Mereka berucap bahwa mereka mencintai hujan, namun mereka mengeluh ketika hujan mendatanginya. Tidak bagi 2 generasi di sudut pandangku ini, tawa lebar mereka menandakan betapa mereka bahagia bersama hujan.

Semoga keluarga mereka selalu dilingkupi oleh rahmat yang dibawa sang hujan, semoga kebahagiaan mereka menjamah keluarku, semoga hujan membawa bahagia bagi seluruh alam yang disinggahinya. Semoga seluruh saudaraku menikmati setiap rintik hujan ini.

Saya bersumpah bahwa : Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan | Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya | Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran…….. -Hipocrates-

Hari itu Tercatat sebagai hari dimana semua orang harus sehat, karena pada hari itu sebagian besar dokter sedang mengikuti aksi solidaritas untuk rekan sejawat mereka yang sedang di kriminalisasi oleh pasiennya. Tiga orang dokter ahli melakukan tindakan menyelematkan nyawa seorang pasien yang dalam keadaan kritis yang berujung meninggalnya si pasien. Inilah resiko profesi seorang dokter, tak tanggung-tanggung nyawa taruhannya. Dedikasi mereka terhadap kemanusiaan tak perlu diragukan lagi, namun apa yang terjadi apabila kerabat pasien yang kehilangan nyawanya ini memprotes tindakan para dokter ini, apakah para kerabat ini merasa lebih tahu kemungkinan hidup dari si dokter? Ataukah si dokter merasa lebih berhak menentukan nyawa seseorang daripada malaikat maut? Entah apa juga yang terjadi pada kisaran waktu kejadian yang terjadi pada 2010 hingga vonis datang pada akhir 2013. Interaksi antara kerabat pasien dan si dokter tentu belum terkspose oleh emdia sehingga yang diluar lingkaran kejadian tak begitu faham apa yang menyebabkan pihak kerabat menuntut atas tindakan tiga dokter menghilangkan nyawa pasien kala itu.

Dokter adalah profesi yang mirip guru menurut saya dalam hal tanggung jawab, lebih hebatnya lagi apabila guru hanta bertanggung jawab terhadap moral didikannya. Seorang dokter bertanggung jawab lebih dari itu, bahkan nyawa pasiennya tergantung tindakan yang dilakukannya. Berat? Tentus aja itu adalah resiko profesi yang dijalani bila pun kompnesai dari resiko itu begitu besarnya dalam bentuk materi yang bukan dokter ya jangan iri, tanggung jawabnya besar.

Dalam pandangan saya sebagai pasien beberapa dokter, bagi saya dokter adalah konsultan kesehatan saya. Bila saya diharuskan ke dokter maka niat awal saya bukan untuk sembuh, bukan untuk meminta secarik resep obat. Lebih kepada konsultasi tentang kondisi tubuh, konsultasi mengenai penyakit, konsultasi mengenai solusi menuju sembuh. Karena memang itu yang menjadi tugas pokok seorang dokter disamping harus menyelamatkan nyawa ketika kondisi kritis dan mendesak.

Dokter bagi saya adalah konsultan kesehatan yang saya bayar untuk memberikan masukan dalam penanganan kesehatan saya dan keluarga tentunya. Untuk masalah menjaga sehatnya agar tak sakit lagi ya itu tanggung jawab saya pribadi bukan dokter, maka kenapa apabila ada saran dari dokter yang memberikan resiko sakit lebih besar daripada sehatnya maka itu akan tetap menjadi pertimbangan, bukan berarti harus terdoktrin bahwa setiap saran dokter itu benar. Kita sebagai pasien juga harus tahu tentang kesehatan karena sepertiga ilmu di dalam ilmu dunia ini adalah tentang ilmu kesehatan, setidaknya begitu yang pernah diucapkan ibnu qayyim al jauzi.

Pasien dalam hal ini pasien dan kerabat yang ditangani oleh dokter yang sedang dikriminalisasi ini bisa jadi adalah sebagian kecil pasien yang benar benar belum mengetahui haknya sebagai pasien, sehingga apapun tindakan dokter dia akan pasrah. Apapun…!

Ketika hal buruk terjadi kerabat pasien ini dengan serta merta akan menimpakan seluruh tanggung jawab kepada dokter, padahal tak dipungkiri si pasien ataupun kerabat pasien juga tak mengindahkan tanggung jawabnya sendiri untuk tahu tentang kesehatan atau setidaknya tahu tentang prosedur kesehatan sehingga bila hal buruk terjadi dia tahu harus bagaimana dan tidak hanya menyalahkan dokter sebagai biang kejadian atau menjadikan sebuah kejadian sebagai mal praktek.

Namun sebagai kerabat pasien, saya juga menjadi kelompok pasien yang pernah dikecewakan oleh dokter dalam hal diagnosa sakit, pada tahun 2008 ibu menjalani anastesi pengangkatan tumor ganas yang pada awalnya diperkirakan tak akan menyebar dengan cepat. Sehingga dokter memutuskan untuk mengangkatnya dan 26 hari dari itu karena ibu pun meninggal. Dokter telah melakukan tindakan terbaiknya, kemoterapilah yang telah membunuhnya. Seandianya saat itu aku lebih faham tentang kesehatan tentu aku akan menghindari kemoterapi, namun setiap kejadian tentu saja akan meninggalkan hikmah dibaliknya. Dan tentu saja setiap kematian akan kukembalikan kepada sang pemberi kehidupan.

Sepertiga ilmu yang ditinggalkan kaum muslim itupun kudalami dari dua sisi yang memang bertentangan sejak dulu hingga kini. Medis modern dan medis ketimuran setidaknya walau mempelajari sebagian kecil dari keduanya telah memberikan gambaran jernih tentang kebaikan dan kelemahan dari keduanya. Sehingga apapun keputusanku tentang kesehatan di kemudian hari adalah keputusan yang seadil-adilnya karena telah sedikit kuketahui tentang keduanya. Percayalah bagiku dokter bukanlah kambing hitam karena seorang konsultan bukanlah yang bertanggung jawab terhadap apapun keputusanku.

Di setiap berita kriminalisasi itu hanya ada satu pihak yang terlupakan dan luput dari pemberitaan, yaitu pihak farmasi yang dalam hal ini direpresentasikan oleh administrasi rumah sakit. Tak dipungkiri bahwa rumah sakit itu sendiri adalah lahan bisnis bagi pemiliknya. Rumah sakit adalah representasi dari kartel farmasi dimana asumsi saya mengatakan bahwa logika bisnis mereka sama dengan senjata perang, yaitu “harus ada perang untuk dapat memasarkan senjata mereka”, itu sejalan dengan prinsip dagang para produsen antivirus computer dimana “harus menciptakan ribuan virus agar antivirusnya diterima pasar”.

Harus ada yang sakit agar profuk farmasi mereka dapat dipasarkan dengan lancer, berbagai propaganda diluncurkan namun bagi yang awas dan faham propaganda itu jelas-jelas adalah sebuah strategi perang terhadap kemanusiaan. Bagi yang awas dan faham…..

Masih banyak sekali dokter dokter awas dan faham dengan hal ini dan kemudian menanggalkan dedikasinya terhadap materi dan menggenggam erat dengan gerahamnya ideology tentang kemuliaan seorang dokter. Masih banyak kutemui dokter dokter yang rela materi bukan sebagai titik ketotolan yang harus dikejar namun lebih memilih hidup mulia dengan cita-citanya. Dokter-dokter inilah yang ingin kurangkul, kudekati dan kuhargai keilmuannya, kebijaksanaannya. Dokter-dokter seperti inilah yang menjadi tempat yang tepat tuk mempercayakan tanggung jawab sebagai pemegang sepertiga ilmu dunia……

taekwondo-center.blogspot.com
Di pintu gerbang komplek kami sekarang beralih fungsi, tidak lagi hanya sebatas gerbang masuk komplek. Namun sekarang telah menjadi tempat latihan tae kwon do, beladiri yang berasal dari Korea ini diajarkan oleh salah satu tetangga kami yang memang bergelar sabuk hitam di cabang beladiri Tae kwon do ini. Mungkin selain menularkan olah raga si bapak senseii ini juga berusaha menambah penghasilan dengan membuka kelas untuk anak-anak. Tak ada salahnya kalau anak-anak mendapatkan kegiatan yang bermanfaat dan juga keringat untuk menyalurkan energy berlebihnya. Tae Kwon do menjadi salah satu solusi, namun karena ini baru dirintis dan hanya menerima pendaftaran anak-anak para penghuni komplek jadilah dojo latihannya adalah halaman pintu gerbang komplek kami yang memang dasarnya yang berpafing blok rata dan halus, namun tetap saja itu bukan matras. Toh tae kwon do bukan aliran semacam jiu jit su yang lebih banyak groundingnya.

Tak pelak anak lelaki pun tertarik, setiap lewat pintu gerbang dia duduk sambil menonton teman-teman sebayanya yang berlatih hingga berkeringat-keringat dan berkotor-kotor ria. Namun ketika kutanyakan kepadanya tentang ketertarikannya dia selalu menggeleng. Sepertinya dia tak tertarik dengan bela diri satu ini, atau dia tak suka dengan tempat latihannya, atau dia tak suka dengan sensei nya, atau ada salah satu teman yang tak disukainya sedang berlatih juga, entah…. Dia hanya menggeleng tanpa kutahu sebabnya.

Tanpa mengindahkan ketidak tertarikan anakku melihat latihan itu, setiap minggu pagi dojo dadakan itu selalu buka dan tak pernah berhenti latihan. Hanya saja ada yang membuatku berfikir keras dengan pola latihan yang diterapkan oleh si senseinya. Latihan Tae Kwon do itu berjalan belumlah genap tiga bulan, namun beberapa anak-anak disitu kuperhatikan sudah memiliki sabuk warna-warni. Ada yang hijau ada yang kuning yang apsti putih adalah sabuk kebanggan bagi para pemula. Tiga bulan dan anak-anak ini sudah memiliki tingkatan sabuk yang lebih tinggi dari pemula.

Entah ada perbedaan metodologi di dalam Tae Kwon Do atau tidak bila dibandingkan dengan Karate, yang selalu menjadi buah pikiranku adalah. Dalam tiga bulan apakah tubuh mereka sudah mampu menerima pukulan? Karate adalah satu-satunya beladiri yang dulu kugeluti, walau awalnya hanya mengikuti ajakan seorang teman namun pada prosesnya aku menemukan nilai yang berbeda dalam beladiri. Nilai yang sangat mungkin untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tentang kehidupan, tentang kasih sayang, tentang pengendalian diri dan yang terakhir tentang kerendahan diri. Hanya saja aku tak mempelajarinya hingga tammat, karena orang tuaku menginginkan diriku lebih mendalami akademis sehingga demi sekolah latihan beladiri kutinggalkan pada tahap Aiobi pada tingkatan Kyu 4. Kini hanya tinggal sisa-sisa otot yang kumiliki bahkan push up 10 kali saja sudah membuat ototku seperti terbakar.

Tujuan latihan awal yang lama pada beladiri adalah untuk membentuk otot, sehingga akan lebih tahan pukul, tahan banting dan lebih mampu menerima setiap pukulan tanpa kerusakan pada bagian dalam. Butuh sekurangnya 6 bulan untuk membentuk tubuh yang atletis, fisik yang prima dan otot yang tahan pukul, sehingga ketika suatu ketika tubuh ini menerima pukulan otot-otot yang terlatih akan melindungi bagian dalam tubuh. Namun dengan tiga bulan apakah mungkin tubuh mungil itu sanggup menerima pukulan? Rasanya kok ya saya sendiri ragu. Dan ini sepertinya tidak hanya terjadi pada Dojo dadakan di depan pintu gerbang komplek kami, dibanyak dojo yang kutemui hampir sama kejadiannya. Anak-anak yang baru bergabung hanya dalam beberapa bulan sudah berganti sabuk/obi. Entah memang ini metode yang lebih modern atau memang para sensei modern ini sudah tak lagi memperhatikan kekuatan tubuh. Bisa jadi dojo-dojo yang berdiri di kalangan masyarakat akhir-akhir ini adalah Dojo yang membentuk atlit beladiri, bukan personal yang mendalami beladiri.

Berlawanan dengan itu perhatikan para siswa IPDN yang digembleng dengan pendidikan semi militer plus tendangan dan pukulan yang tak manusiawi yang akhirnya menimbulkan korban baik yang diekspose atau tidak. Bandingkang dengan pendidikan militer penuh yang lebih sadis dan memang difungsikan untuk membentuk tubuh yang memiliki endurance luar biasa. Hebatnya dengan tingkat penderitaan yang lebih berat pada para tentara dibandingkan dengan siswa IPDN justru hampir tak pernah kita temui pemberitaan yang menyebutkan seorang tentara tewas dalam latihan.

Pembentukan otot di awal proses latihan adalah kunci dalam ketahanan tubuh menerima kondisi yang super berat, bila proses ini tak dijalani siap-siap tubuh akan colaps. Atau menjalaninya dalam waktu singkat, karena proses pembentukan otot ini  bersinergi lurus dengan waktu, semakin lama pembentukan otot dijalankan maka semakin tangguh otot-otot ini akan melindungi organ bagian dalam.

Pembentukan tubuh atau otot-otot dalam proses awal beladiri adalah langkah yang sangat penting untuk menambah kekuatan tubuh, menambah power, menambah kecepatan dan kegesitan. Pembentukan otot tubuh ini laksana iman dalam diri manusia, adalah proses membentuk pondasi dalam mengarungi hidup. Bila pondasi iman ini lemah maka alangkah lemahnya tubuh itu, alangkah lambatnya kehidupan yang akan dilaluinya. Maka kenapa diriku begitu ketat dalam membentuk karakter anak-anakku, semakin lama pembentukan karakter itu maka akan semakin melekat bekas yang ditinggalkannya, semakin berkarat dan akan semakin teringat hingga akhir hidupnya. Karena apabila proses ini terlewati entah akan meniru karakter siapa kelak dia!