Oleh: Adian Husaini*

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dll. Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi” bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dll.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!” Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai. itu baik. tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. (adian husaini).
E-filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara on-line yang real time melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id ) atau Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider (ASP).
Saat ini aplikasi E-filing melalui situs Direktorat Jenderal Pajak baru dapat memfasilitasi pelaporan formulir 1770S dan 1770SS, sedangkan formulir lainnya dapat dilaporkan melalui Penyedia Jasa Aplikasi (Application Service Provider-ASP).

Untuk mencoba aplikasi E-filing melalui situs Direktorat Jenderal Pajak silahkan klik efiling.pajak.go.id.
Aplikasi E-filing yang disediakan melalui Penyedia Jasa Aplikasi (Application Service Provider-ASP) yang telah ditunjuk oleh Dirketorat Jenderal Pajak adalah sebagai berikut

1.  http://www.pajakku.com
2. http://www.laporpajak.com
3. http://www.layananpajak.com
4. http://www.spt.co.id

SPT yang bisa diinput melalui e-Filing adalah SPT Tahunan PPh OP dengan kode SPT 1770S dan 1770SS.  Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-34/PJ/2010 bahwa :
   a.       Formulir 1770S bagi Wajib Pajak yang memiliki penghasilan dari satu atau lebih pemberi kerja
  b.   Formulir 1770SS bagi Wajib Pajak yang memiliki penghasilan dari satu pemberi kerja dengan jumlah bruto penghasilan (setahun) tidak lebih dari Rp.60juta

Tahapan untuk pelaporan SPT dengan e-filing adalah sebagai berikut :
  a.       Minta e-fin
  b.      Mendaftarkan sebagai Wajib Pajak e-filing
  c.       Proses pelaporan melalui e-filling

Cara memiliki e-Fin dengan cara :
  a.       on-line melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id)
  b.      Langsung ke KPP terdekat

Ada tiga langkah mendapatkan efin secara online:
  a. Klik menu Registrasi eFin
  b. Input NPWP dan Tanggal Pendaftaran
  c. Klik Submit
  E-Fin ini  akan dikirim   ke alamat Wajib Pajak sesuai master file DJP.

Jika minta e-Fin ke KPP akan mendapat e-Fin secara langsung dengan mengisi  formulir dan harus diisi lengkap dengan membawa fotokopi identitas asli.

Cara  mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak efilling sebagai berikut :
   a. Buka menu e-Filing di website DJP (www.pajak.go.id)
   b. isi NPWP dan e-FIN
   c. Isi data email, nomor handphone dan password
   d. Submit data pendaftaran.

Selanjutnya SPT e-filing  diisi melalui  http:efiling.pajak.go.id, caranya :
  a. Login aplikasi e-Filing dengan email sebagai username dan password seperti yang diinput pada saat  registrasi
  b. Mengisi SPT dengan benar dan lengkap
  c. Meminta Kode Verifikasi untuk penyampaian SPT
  d. Menginput Kode Verifikasi
  e. Mengirim SPT secara e-Filing melalui website DJP (www.pajak.go.id)
  f. Menerima Notifikasi dan Bukti Penerimaan Elektronik melalui email.

Wajib Pajak wajib menyampaikan keterangan dan/atau dokumen lain terkait SPT Tahunan yang tidak dapat disampaikan secara e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar apabila diminta oleh Kantor Pelayanan Pajak dalam rangka memenuhi kewajiban perpajakan.

Dasar Hukum : Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER - 39/PJ/2011

Ket :
 a. notifikasi : adalah  pemberitahuan kepada Wajib Pajak mengenai status e-SPT yang  disampaikan melalui e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id).
b.Kode verifikasi : adalah sekumpulan angka atau huruf atau kombinasi angka dan huruf yang di-generate oleh Sistem Direktorat Jenderal Pajak yang digunakan untuk keamanan dalam proses e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id).

Karena disini sudah terdapat informasi yangs angat gamblang, maka semoga bagi yang membaca dapat memahami dan lebih mudah dalam pelaporan pajaknya.

artikel diambil dari : http://mudahbelajarpajak.blogspot.com/
blogsangpemenang.blogspot.com
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda: “ Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu: Pemimpin yang adil, remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah ta’alaa, seseorang yang senantiasa hatinya dipertautkan dengan masjid, dua orang yang saling cinta mencintai karena Allah dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh wanita bangsawan lagi rupawan, lalu menjawab: “sesungguhnya saya takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadakah kemudian ia merahasiakannya sampai-sampai tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian kedua matanya meneteskan air mata”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Pernahkah anda merasa iri kepada seseorang yang memiliki handicap (disabilitas) ketika menggunakan fasilitas umum? Dimana biasanya penyandang disabilitas ini mendapat prioritas bahkan disediakan fasilitas umum bagi mereka. Dikala yang normal menjalani antrian yang panjang, dengan segala kondisinya panas, sumpek, berjejal tetapi penyandang disabilitas justru didahulukan karena keadaannya. kadang terbersit rasa iri, padahal sebenarnya keadaan itu juga tak dikehendaki bagi si penyandang disabilitas. Namun nalar kemanusiaan kadang dapat dicurangi dengan mudah oleh sebersit hawa nafsu. Walau tak terucap kadang rasa itu menyelinap tanpa disadari.

Atau pernahkah anda memberi prioritas bagi ibu yang sedang hamil atau orang tua yang sudah terlihat renta ketika diatas kendaraan umum? Prioritas yang kadang membutuhkan pengorbanan besar, setidaknya pengorbanan tempat duduk. Kejadian itu bukanlah hal yang mudah untuk dijelaskan, tata norma hanya mengajarkan hormati yang tua dan sayangi yang lemah diantara kalian. Dan bagi yang meresapinya maka tata norma itu teraplikasi dalam tata laku. Namun sayangnya generasi sekarang lebih banyak yang mengambang diawang awang hanya dalam tataran tata norma tak terapliaksi di tata laku keseharian. Tak perlu dijabarkan alasan yang terjadi, karena beribu alasan akan muncul dan itu manusiawi.

Bila anda pernah mengalami salah satu atau banyak hal dari beberapa ilustrasi diatas maka anda akan mengetahui bahwa sebenarnya semua tentang prioritas. Dan prioritas biasanya berlaku pada hal-hal yang bersifat special, peristiwa yang membekas dan kejadian yang penting didalam hidup.

Prioritas selalu berhubungan dengan pilihan, dan pilihan selalu memberikan cabang untuk dipilih. Tak dipungkiri manusia lahir didunia bersama dengan pilihan, walau sejatinya pilihan itu tak ada bila mengkaitkannya dengan takdir. Tetapi pilihan pasti lebih dari satu bila membicarakan dalam tataran manusia sebagai makhluk.

Karena islam memberikan definisi manusia salah satunya adalah sebagai makhluk yang diberi pilihan (mukhayyar), maka memilih juga merupakan tugas manusia dari lahir hingga mati.  Dalam kegiatan memilih yang disodorkan aka nada banyak sekali pilihan sehingga dibutuhkan prioritas untuk menentukan mana yang terbaik bisa ditempuh.

Seorang ahli Ekonomi asal Italia bernama Vilvredo Pareto memberikan sebuah alat untuk menentukan prioritas, yang dikemudian hari dikenal dengan nama prinsip Pareto. Menyatakan bahwa 20 persen hal terpenting akan menyumbang 80 persen keberhasilan. Bila diterapkan dalam manajemen waktu berarti prinsip pareto akan menyatakan ‘20 waktu terbaik anda akan mempengaruhi kualitas penggunaan waktu 80 persen sisanya’. Begitupun bila diterapkan kepada hal yang lain.

Menggunakan prinsip pareto, maka akan didapati amalan prioritas dan amalan rutin. Shahadat,Shalat, puasa, zakat, adalah kategori amalan rutin karena kewajiban yang tak mungkin ditinggalkan, shadaqah, infaq adalah amalan harian yang tetap harus ada sebagai pemberat timbangan. Lalu kemudian apa amalan priroritas kita sebagai jalan pintas untuk menyempurnakan amalan rutin itu?

saya sedang membicarakan tentang Umar yang begitu merana mempelajari surah Al Baqarah selama 10 tahun ketika bertanya kepada Rasul “Wahai Rasulullah, apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Albaqarah? Jika belum aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya.” 

Saya sedang membicarakan Bilal bin rabah, yang tak pernah melewatkan semenit pun dalam hidupnya dalam keadaan tak berwudhu’,  saya sedang menceritakan hamba sahaya Zunairah yang menjadi buta matanya ditangan abu jahal dan golongannya karena kemantapan tauhidnya.

Kemudian saya sedang menggambar seorang sahabat nabi yang dikuntit Ali hingga kerumahnya hanya karena Rasul mengatakan “Yang akan lewat ini nanti adalah calon penghuni surga” tatkala rasul dan para sahabat bercenkerama di masjid.

Mungkin kita tidak terfikir untuk mampu menyaingi amalan para sahabat itu, mungkin pula level keimanan kita tak semenjulang para tabi’in. mungkin kita hanyalah manusia akhir jaman yang dikelilingi oleh dosa, mata kita ditaburi oleh kemaksiatan, perilaku kita dihiasi oleh kedzliman dan hati kita dibisiki oleh hasutan.

Namun setidaknya kita akan menyaingi amalan amalan prioritas mereka dengan amalan yang dijanjikan naungan ketika tak ada naungan ini, yaitu menjadi pemimpin yang adil, menjadi remaja yang senantiasa beribadah kepada Allah, menjadi orang orang yang hatinya ditautkan dengan masjid, menjadi orang orang yangs aling mencintai karena Allah dimana berkumpul dan berpisahnya hanya karena-Nya, menjadi seorang lelaki yang tahan terhadap rayuan zina wanita wanita pezina, menjadi muzakki yang menyembunyikan amalan pemberiannya dan atau menjadi seorang ahli dzikir ditempat tempat tersembunyi hingga air matanya menetes.

Akhirnya kawan, kita dapat menyaingi para kekasih Allah itu dengan amalan prioritas kita.
fatearth.blogspot.com

Dulu jaman saya SD membaca adalah list yang ga ada dalam kegiatan harian, apalagi menulis. Kerjanya tiap hari hanya bermain dan sesekali mengaji di madrasah deket rumah. Hingga suatu ketika ibu membawakan saya beberapa buku bacaan dari perpustakaan yang ada di tempatnya mengajar. Mungkin maksud ibu adalah menumbuhkan minatku terhadap buku, dan itu berhasil. Strategi ibu pada awalnya adalah membawakan buku-buku cerita yang menyenangkan yang banyak gambar didalamnya, semakin lama buku-buku yang dibawakan semakin berat dan tebal. Namun anehnya saya malah semakin teratrik dan tak pernah bosan.

Hingga perbendaharaan buku-buku di perpustakaan ibu habis saya lahap semuanya, saat itulah kehausan akan membaca semakin menjadi. Ketika tak ada lagi buku tersedia oleh ibu, membuat saya mencari cara untuk mendapatkan bacaan. Mulai dari pinjam teman, ke persewaan buku hingga menabung uang jajan untuk membeli buku sendiri. Hingga akhirnya semakin bertambah waktu buku-buku yang say abaca semakin beragam. Yang dulunya didominasi hanya cerita anak-anak dan dongeng, semakin hari komik, majalah, Koran, novel, biografi, kitab agama islam habis  saya lahap.

Namun setelah sekian banyak buku saya baca keinginan menulis itu belum ada, atau bahkan tak pernah terfikirkan bahwa membaca akan menggiringku untuk mulai menulis. Semua dimulai ketika kakak sepupu perempuan yang memang tinggal bersama di rumah nenek dengan saya hobi menulis segala sesuatunya di sebuah buku yang kemudian saya tahu namanya adalah diary. Saya pun mengikuti kebiasaannya itu, setiap malam menuliskan apa yang terjadi sepanjang hari dalam sebuah curhatan di dalam diary.

Waktu itu bahkan saya tak faham apa tujuannya dan kenapa harus menulis diary. Yang sayatahu adalah ketika menuliskan sesuatu di dalam diary ada perasaan gembira, ada beban yang terangkat ketika semua yang ada di pikiran dan hati keluar dalam bentuk tulisan. Seperti ketika saya berteriak lantang di pantai yang sepi setelah dimarahi oleh bapak. Tak urung dalam 3 tahun saya sudah memiliki 4 buku diary yang semuanya penuh oleh tumpahan perasaan itu. Kalau dipikir sekarang, ketika menulis diary dimalam hari sebelum tidur itu saya begitu feminim bagaimana tidak gurunya juga seorang wanita.

Kini ada banyak hal yang menjadi dasar kenapa saya harus menulis. Saya tidak lagi menggunakan kata ‘ingin’ untuk menulis, karena sekarang bagi saya menulis adalah sebuah keharusan. ‘Saya ingin minum karena saya haus’, ‘ saya harus minum supaya saya sehat’. Dua kalimat yang mengindikasikan perbedaan mendasar antara keinginan menulis dan keharusan menulis. Menulis yang dilandasi keinginan akan menghasilkan kekecewaan. Walau saya sendiri sebagai manusia biasa tak bisa memungkiri teori Abraham Maslow tentang Hierarchy Of Need yang salah satunya menyebutkan bahwa tingkatan tertinggi manusia tentang pemenuhan kebutuhannya adalah kebutuhan akan pengakuan.

Tak bisa dipungkiri memang hati kecil selalu menginginkan hal itu, apabila saya menulis saya ingin menulis yang baik sehingga tulisan saya diakui dan saya akan dianggap penulis yang bagus. Ada rasa bahagia tersendiri ketika pengakuan itu benar benar dilakukan. Baik dalam bentuk imbalan, penghargaan ataupun hanya sebatas pujian. Itulah yang kemudian menjadi jelmaan dari menulis dengan dilandasi oleh keinginan. Walau tak semua kita menyadarinya, bahkan bisa jadi banyak dari kita justru menampiknya.

Jadi kenapa saya harus menulis?

Beberapa hari yang lalu, saya dan istri berdua nonton film lama di theater rumah. Sebuah film produksi Canada yang mengambil latar Palestina namun menggunakan bahasa Perancis. Film ini mengisahkan seorang ibu yang memberikan warisan kepada 2 anak kembarnya berupa 2 buah amplop. Amplop satu diberikan kepada anak perempuannya dengan isi surat si anak harus menemukan ayah kandungnya, tentu saja si anak perempuan langsung kaget sebab sepanjang hidupnya yang dia ketahui adalah ayah kandungnya telah meninggal dunia.

Amplop yang satunya lagi diserahkan kepada anak lelakinya dengan wasiat, si anak harus menemukan saudara lelakinya, yang barang tentu membuat si anak kaget sebab sepanjang hidupnya dia tak pernah diberitahu bahwa dia memiliki saudara lelaki. Cerita menjadi menarik ketika film ini menceritakan perjalanan mencari masa lalu ibunya ini. Si kembar yang tak tahu menahu asal usul dirinya mempelajari masa lalu ibunya untuk mengetahui latar belakang kehidupannya.

Wasiat yang dituliskan terlambat, itulah salah satu inti yang bisa saya ambil dari film ini. Bagi saya jangan sampai itu terjadi, saya harus menulis wasiat wasiat saya sejak dini karena saya ga tahu kapan masa kontrak raga saya ini habis. Saya ingin meninggalkan cerita bagi anak cucu saya, saya ingin mereka tahu seperti apa bapak nya dahulu, melalui cerita, melalui tulisan, melalui gambar dan lain-lainnya. Maka keharusan bagi saya untuk menulis agar anak cucu saya dapat mengambil pelajaran dari kehidupan saya. Maka itulah sebabnya menulis untuk sebuah keharusan itu tak akan lekang waktu, tak butuh peng-akuan, tak butuh penghargaan. Menulis karena keharusan itu semangatnya adalah anak cucu saya, walau tanggung jawabnya juga besar, yaitu saya harus menjadikan anak cucu saya jadi kutu buku. Tak mengapa agar mereka faham bahwa menulis itu adalah mengguratkan namanya di jendela sejarah.


Dua kegemaranku dalam cabang olah raga terwakili dalam sepakbola/futsal dan badminton, tak dapat dielakkan ketika ada bola dan ada 2 tim yang sedang bertanding kaki rasanya gatal bila tak ikut berlari dan menendang. Sepertinya sudah terlahir dengan bakat olahraga ini, namun juga inilah warisan dari kakek yang dulunya memang pemain sepakbola walau tak sampai karirnya hingga professional. Namun setidaknya di kampung halamannya namanya masyhur karena kemampuan gocekan bolanya.

Berangsur dewasa bakat olahraga ini tak mendapat restu dari ibunda, ibu khawatir anak-anaknya akan mengikuti jejak sang kakek. Di masa itu pemain sepakbola bukanlah profesi  prestisius yang dapat menghasilkan pundi pundi uang. Di jaman itu speakbola hanyalah sebatas hobi, iseng bukanlah cita-cita anak-anak jaman sekarang. Dimana sepakbola telah menghasilkan figur figur hebat dengan pribadi yang bermacam macam jenisnya namun satu yang pasti sepakbola jaman ini telah mampu menghasilkan uang yang banyak, yang tak diprediksi oleh orang tuaku dulu.

Posisiku adalah striker, tapi tak seperti kebanyakan striker diriku tak memiliki kecepatan bahkan tendanganku tak tergolong keras. Namun entah mengapa ditiap tim yang pernah kuikuti pelatih selalu memainkanku dengan alasan jarang striker dengan typical tak egois. Jarang striker dengan intuisi mengumpan dan membagi bola, sejatinya diriku dulu adalah memang midfielder. Namun karena stamina yang tak mendukung pelatih pelatih terdahulu mendorongku sebagai second striker saja, dan berhasil aku menemukan kenyamanan di posisi itu.

Menjadi pembagi bola bagi rekan yang lain, menjadi tembok bagi kebuntuan serangan, walau tak jarang manfaat dari pembagi itu juga kembali pada diriku sering pula ku mencetak goal. Namun sangat lebih sering diriku menjadi pengassist bagi rekan rekan yang lain. Entah darimana perasaan itu hadir, ketika berhasil memberikan assist bagi rekan ada rasa bahagia. Walau bukan diriku yang mencetak goal setidaknya dari jerih payahku juga goal itu tercipta.

Dan begitulah waktu berlalu, sepakbola hanya sebagai hobi dan sarana menjaga tubuh agar tetap fit. Setidaknya apabila setiap minggu aku bertemu minimal dua puluh dua orang kiranya silaturahmi akan semakin terjaga dan bahkan semakin luas. Sisi positif dari sepakbola dimana olahraga ini membutuhkan banyak orang agar terlaksana.

Semenjak umur semakin bertambah, bertambah pula keluhan-keluhan yang kudapat selepas bermain salah satu olahraga berat ini. Sepakbola memang membutuhkan extra stamina, 90 menit berlari dan focus bukanlah hal yang gampang, membutuhkan endurance yang luar biasa juga dan diumurku yang sudah melewati 30 kemampuan itu semakin surut, walau sebenarnya semangat untuk berolahraga masih tinggi.

Badminton mungkin salah satu jawaban yang bisa kuambil, olahraga ini pernah hamper menjadi hobiku dulu kalau seandainya lapangan badminton disamping rumah tak dirubuhkan oleh tetangga untuk lahan parkirnya. Apa yang bsia kuperbuat lah lapangan itu juga ada karena kemurahan hati sang tetangga yang mengijinkan lahan kosongnya untuk kami bermain badminton. Saat lahan itu dibutuhkan kami pun harus dengan terpaksa mengikhlaskannya.

Diusia yang semakin bertambah ini bahkan untuk bermain badminton secara single sudah tak mampu lagi, jadi bermain double adalah cara terbaik untuk menguras keringat dan tetap menjaga nafas lancar keluar masuk ke paru-paru. Bermain double tentus aja berbeda dengan bermain single, jika dalam single smash tak perlu keras dan cukup terarah maka di double smash harus keras atau smash dijadikan senjata pamungkas setelah bermain taktik mengacaukan pergerakan lawan.

Dalam single kita bermain menggunakan lebar dan panjang lapangan, sedangkan dalam double kita bermain taktik untuk membuat tim lawan kacau baik dalam pergerakan ataupun dalam pengembalian bola. Sehingga dalam tim double kita harus pandai membaca situasi dan pandai membaca arah permainan yang diinginkan patner kita.

Tapi satu yang menjadi kelemahanku adalah smash yang tak terlalu keras, namun memiliki penempatan bola drop shot yang baik. Jadilah seperti di sepakbola bahkan dalam permainan badminton pun tetap menjadi pengumpan bagi patnerku. Dengan bola dropshot yang mematikan, meskipun shuttlecock dapat terjangkau setidaknya bola pengembalian akan memudahkan patner untuk mematikan bola pengembalian tersebut. Begitulah tugasku, tanpa smash yang keras sejatinya dengan bola bola dropshot yang mematikan menjadikan ku pengumpan sejati bagi patner.

Sepertinya menjadi pengumpan atau tembok bagi patner tim sudah menjadi bakat lahirku. Dalam posisi apapun dalam kegiatan apapun tak pernah diriku menjadi tokoh yang menonjol, menjadi protagonist atau menjadi pahlawannya. Karakter nyaman sebagai pendukung, back up atau seseorang yang bertepuk tangan bagi keberhasilan orang lain telah melekat dalam diriku. Ini bukanlah hal yang tak kusyukuri, kenyataan ini mengajarkan banyak hal. Menjadikanku pribadi yang dapat bekerjsa bersama tim, apabila kupaksakan diriku untuk keluar dari zona ini bisa jadi menjerumuskanku kepada hal-hal yang tak kuinginkan.

Menjadi pribadi yang berbeda bukanlah tujuanku sejak awal, meskipun kepopuleran tak akan mendekati orang orang dibalik layar namun rasa puas dan bahagia menjadi pendukung sebuah keberhasilan itu sangatlah nikmat. Toh bila dipikir tak akan ada pahlawan tanpa ada orang orang yang bertepuk tangan di pinggir jalan, tak aka nada striker haus goal tanpa ada pengumpan, tak akan ada tokoh protagonist tanpa tokoh figuran.