Setiap ramadhan, selalu diramaikan dengan keikut sertaan anak anak di dalamnya. tentu ini membahagiakan, melihat mereka ikut terbangun dan membersamai sahur kita, membuat hidangan sahur yang baisanya menjemukan menjadi berwarna.

Atau ketika berbuka, bahkan si kecil yang tak berpuasa pun ikut-ikutan menyibukkan diri memulai ifthar dengan riangnya.

Sulung ku sudah menginjak 9 tahun, namun ini ramadhan ke-3 nya memulai menuntaskan 30 hari ramadhan dengan berpuasa penuh selama 1 bulan. semoga diberi kekuatan dan sehat selalu. Aaaamiin. si sulung tak perlu diajari lagi tentang ibadah yang satu ini, yang membuat sibuk kami orang tuanya adalah pertanyaan-pertanyaan rumit yang kadang muncul dari imajinasinya. seperti kenapa shalat tarawih sebelas rokaat hanya di bulan ramdhan saja? apa sih shalat witir itu? kenapa sih bunda ga puasa, padahal aku disuruh puasa 30 hari?

Pertanyaan-pertanyaan yang kadang begitu susah untuk dijawab ditanyakan bertubi-tubi, tak memberikan kesempatan diriku untuk menghela nafas. memikirkan jawaban paling tepat untuk anak seusianya. ini adalah tantangan bagi kami untuki terus belajar demi memberi ruang baginya berfikir.

Anak kedua ku seorang anak lelaki berumur 6 tahun, dengan tubuh yang agak kurang gemuk namun dengan semangat berpuasa yang hebat dibarengi dengan pengaturan waktu makan yang amburadul. denagn jam tidur yang semrawut dan diselingi jam bermain yang tanpa batas. bisa dikatakan si jagoan nomor 2 ini adalah cerminan bapaknya waktu kecil, jika istriku sewot tentang bagaiman aku sedikit memberi keleluasaan bagi lelakiku dia selalu berujar 'like father like son!'.

Puasa bukan hal baru baginya, namun bangun di pagi buta adalah asing bagi matanya. lupa makan udah biasa baginya, namun menahan lapar hingga adzan dhuhur berkumandang seperti pantangan baginya. itulah si anak lelaki dengan jiwa pemberontaknya, sangat sulit diberi aturan, begitu susah diberi kedispilinan. namun itulah tantangannya bagi kami untuk bisa menjinakkan jiwa pemberontaknya, karena itu juga tugas kami di ramadhan kali ini.

Anak ketiga adalah seorang anak perempuan yang manis dan lembut, saking lembutnya bapaknya bernada tinggi sedikit saja, dia akan langsung meneteskan air mata. namun begitu kelembutan itu bercampur baur dengan kemanjaan yang super sehingga apapun permintaannya selalu meluluh lantakkan bapaknya. hingga seluruh kakaknya menyebutnya sebagai 'princess' dalam keluarga. jangan berani berani menyakitinya atau resikonya dapet pelototan sang bapak. entah kenapa susah sekali diriku mencoba mendisiplinkannya, keibaanku akan kemanjaannya membuatku tak bsia berbuat banyak, jadilah si manja ini semakin manja.

Di ramadhan ini akupun begitu tertantang untuk memulai pembelajaran puasanya, mengajaknya bangun di pagi buta, memintanya meminum susu atau teh hangat, sedikit memaksanya untuk makan beberapa suap nasi, dan membiarkannya tanpa minum dan makan sampai batas kekuatannya. namun itu pun butuh tantangan sebab kemanjaannya.

Begitulah kami bercengkrama dengan anak anak di dalam ramadhan, mengajarinya, mencontohinya dan mendisplinkannya. karena kurasa bulan ini adalah bulan yang tepat untuk berinteraksi dengan anak anak mengenai ibadah...

'Sakit itu letaknya hanya dipikiran, jadi konsentrasilah hingga sakit itu benar benar hilang!' seorang rekan pernah mengatakan kepadaku. nonsense, mungkin dia belum pernah merasakan sengsaranya sakit gigi. ketika sakit gigi, sehebat apapun aku berkonsentrasi dan menahan sakitnya tetap sakitnya ada di gigi ga pernah berpindah ke otak. apalagi hilang, kalau udah begini satu satunya solusi hanya paint killer. namanya sakit ya sakit, mau ada di kaki, di tangan, di perut di kepala kalau udah sakit ya sumber sakitnya yang akan memerintahkan otak tuk mengatakan dimana sumber rasa sakitnya. karena gigi dan geraham letaknya begitu dekat dengan otak maka informasi tak membutuhkan delay untuk disampaikan ke otak, hebatnya lagi karena begitu intensnya sakitnya bisa terasa berkali kali lipat dari sebenarnya.

Ada gunanya juga membaca beberapa literatur mengenai medis baik itu dari buku, ataupun dari mbah google. setidaknya menambah wawasan mengenai sakit dan penyebabnya. jadi, selama ini aku telah salah mengintepretasikan rasa sakit. Tepatnya telah salah mendeteksi sumber sakit gigi. gigi mungkin menjadi sumber sakitnya tapi produksi sakitnya justru tidak pada gigi. karena si gigi tertanam di gusi dan di gusi inilah ujung ujung syaraf yang jumlahnya ribuan berada. yang mengantarkan rasa sakit ke otak begitu cepat dan berlipat lipat intensinya.

Jadi, selama ini pun aku salah kaprah bila sakit gigi yang ku obati adalah giginya. Mungkin juga penamaan sakit gigi sejatinya juga salah besar, seharusnya menjadi sakit gusi. padahal seharusnya yang ku obati adalah gusinya. letak yang begitu dekat dengan otak tidak menjamin dapat mendeteksi dengan benar kesalah pahaman antara gigi dan gusi ini. efeknya semakin besar dalam hal penanganannya, buat apa juga aku ngurusin gigi bila sakit sudah melanda. ngurusin gigi seharusnya sebelum sakit melanda dan bila telah datang sakit gusi lah yang seharusnya mendapat pertolongan pertama.

Solusi, kadang begitu mudah mengucapkannya ketika masalah melanda, namun terkadang si problem solver lupa bagaimana memisahkan antara masalah dan distorsi. ketika distorsi yang diselesaikan maka masalah tak akan pernah menemukan solusi. ketika hanya masalah yang diselesaikan kadang justru distorsi mengaburkan solusi.

Teringat 'curhatan' adik lelakiku semalam ketika dengan begitu terbuka dia meminta waktuku untuk memberinya nasehat. diujung masa membujangnya dia telah menemukan tambatan hatinya, masalah muncul tentu saja distorsi juga muncul. masalah datang dalam bentuk bpak mertua dan distorsi muncul dalam bentuk kepastian status pekerjaannya. dia memintaku menuliskan resep obat yang paling pas untuk mengatasi sakitnya dan juga menyelesaikan distorsinya.

Obat telah diberikan beserta dosis dan racikan, tinggal dia sendiri yang sanggup memilah antara mana sumber sakit yang dipenuhi syaraf kesabaran dan mana distorsi yang juga harus diselesaikan ketika sakit sudah menghilang. solusi akan datang bila dia mampu menyelesaikan keduanya, meminum obatnya dan membersihkan distorsinya.

Rabu ini seperti rabu yang lain, bedanya mungkin bagiku adalah rabu ini juga tiga atau empat hari menjelang bulan ramadhan. Oh iya, Ramadahan segera tiba dan tak seperti biasanya kehebohan ramadhan kalah oleh kampanye calon Presiden. Lah yah gimana emang lagi masanya hajatan bangsa ini lima tahun sekali. Tapi ya kok yo pas berbarengan juga dengan gelaran 4 tahunan sekali dari gelaran olahraga paling popular sejagat sepakbola. Klop kalau kemudian keramaian itu mengalahkan gegap gempitanya Ramdhan.

Teringat pada ramadhan terakhir dua atau bahkan 3 minggu sebelum ramadhan menjelang, timeline facebook udah gencar dengan sambutan ramadhan. Ada yang bersedih, ada yang pura pura sedih, ada yang gembira ada juga yang pura pura gembira menyambut ramadhan tapi semua itu justru baik. Justru dengan begitu terlihat antusiasme dan geliat muslim menyambut ramadhan.

Tak kalah serunya bila perbincangan sudah masuk bahasan metode hilal dan tukyat, dua kubu besar biasanya akan terbentuk dengan sendirinya. Biasanya antara NU dan Muhammadiyah yang merupakan 2 ormas besar yang sudah memiliki pasukan dan panggung dakwah yang mengakar urat di masyarakat. Empat hari sebelum ramadhan tiba dan polemik yang justru ku tunggu itu belum juga nampak tanda-tandanya.

Dulu ketika polemik ini ada biasanya aka nada beberapa orang atau pihak yang menjadi penengah menjadi yang terbijak dengan memberi pemahaman dan tanggapan yang adil dan tak berat sebelah tentu saja dengan dalil dalil yang memang benar dikedua sisinya. Justru sekarang profesi itu sedang mencari 2 belah pihak yang dulu senang berpolemik itu. Tak ada yang harus ditengahi masalah penentuan awal ramadhan ini. Hal ini justru membuatku sedih, karena dari polemik itulah keluar dalil dalil atau ayat ayat atau tafsir atau kajian fiqh yangs elama ini tak kuketahui menjadi terang benderang.

Hamper seluruh timelimeku dipenuhi dengan debat capres tandingan, atau kilasan pertandingan sepakbola. Belum kutemui berita atau status status yang membahas nuansa ramadhan. Sejatinya ramadhan yang kurindukan tak lagi semenarik dulu lagi. Karena bertepatan dengan hajatan bangsa ini.

Mungkin ini hanya rasaku saja…
bulan ini sesungguhnya penghulunya
ketika setiap dosa diampuni
ketika setiap doa diijabahi

Mungkin aku terlalu khawatir..
tak ada kah yang merasa hidupnya akan berakhir
ketika ramadhan sampai diakhir
janganlah kita kemudian menjadi yang justru khawatir

Mungkin juga aku hanya tak menyadari
bahwa setiap orang justru lebih awas
aku lupa bahwa diriku tertimbun banyak dosa
hingga menganggap diriku seorang saja yang terjaga

Karena program pembantu saya lagi ada masalah, dan master softwarenya belum ditemukan, maka menulis mungkin bisa menjadi kegiatan untuk mengisi waktu sambil menunggu jam kantor usai. Kemarin adalah Mayday bertepatan dengan hari kamis, sudah 2 tahun ini Mayday ditetapkan menjadi hari libur nasional yang untuk tahun ini mengakibatkan terjadi juga libur bayangan yang lebih ngetrend di sebut harpitnas atau hari kecepit Nasional.

Sepertinya bukan hanya di kantor ini yang memperingati harpitnas mungkin di beberapa atau bahkan banyak kantor di instansi pemerintah atau non pemerintah juga memperingatinya. Dengan tanpa alasan atau dengan ijin yang dibuat mendekati kebenaran. Libur bayangan ini sudah mendarah daging hingga pada kesempatan yang lalu 3 menteri membuat keputusan bersama untuk menetapkan libur bayngan di hari kesepit nasional menjadi legal dan sah yang tentu saja membuat gembira para pegawai. Bulan ini akan terjadi 3 kali harpitnas dan sepertinya SKB 3 menteri tak lagi keluar.

Cukup ‘ngerasani’ pemerintahannya, capek ujung-ujungnya ‘rasanannya’ malah jadi kenyataan nanti. Selanjutnya bercerita tentang pengalaman menuju daerah terpencil yang ada di seberang lautan, di pulau sebesi yang kabarnya disana masih terdapat banyak hewan hutan yang masih luar. Bersama para rekan kantor bulog (bujangan lokal) yang terpisah jauh dari keluarganya namun di harpitnas ini mereka tak kuasa untuk mengahamburkan uang untuk membeli tiket kebahagiaan ke haribaan keluarga.

Sejatinya kami diundang oleh seorang mantan coast guard yang bertahun tahun pernah tinggal disana menjaga perbatasan laut di pulau yang berhadapan langsung dengan samudera Hindia itu. Bapak patut namanya, perawakannya tinggi besar hitam mengkilat, tawanya membahana namun bicaranya sopan dan halus, penuh senyum dan suka bercanda ria. Begitulah penampilan dan pembawaannya yang kemudian sangatlah klop dengan apa yang diceritakan penduduk setempat akan dirinya.

Bersama sebuah perahu tradisional pengangkut bertenaga diesel, kami dibawa menuju satu-satunya kampung penduduk yang ada di pulau sebesi tersebut, yang hanya berjarak 1 jam perjalanan laut dari gunung anak Krakatau yang menjulang gagah laksana mercusuar raksasa bagi para pelaut samudera. Kami disambut bak orang penting, telah disiapkan jamuan sebuah meja panjang lengkap dengan sekitar dua puluhan kursi tepat dibawah pohon rindang dan sebuah gubug mungil.

Pisang rebus, kopi panas, the panas, air kelapa muda, kacang rebus rasanya nikmat sekali melewati tenggorokan diantara terik matahari yang mulai meninggi. Dibawah rindangnya pepohonan sebagian dari kami tak membutuhkan waktu lama untuk segera tertidur, tak perlu ruang mewah karena disekitar pantai itu berserakan kapal kapal penduduk yang tertambat rapi yang bisa untuk tempat tidur yang nyaman. Tak perlu AC karena sepoi angin laut ini benar benar melenakan, tak perlu bantal guling karena balai balai di sepanjang pantai ini sangatlah nikmat untuk memejamkan mata.

Aku, obrolan sudah mengelilingi pulau kecil ini walau kaki belum menjejakkan bahkan seper seratus dari luas pulau ini. Namun cerita yang keluar dari obrolan dengan coast guard yang bertugas, pak lurah, anak-anak kecil, para pemuda tanggung ini sudah menceritakan segalanya akan pulau indah ini. Bertemu dengan seorang guru yang telah bertugas di pulau ini selama kurang lebih 5 tahun sedangkan keluarganya ada di pulau jawa tepatnya di propinsi jawa tengah mengingatkanku akan perjuangan orang tuaku dulu yang juga memiliki profesi yang sama, guru. Bercerita tentang keluarga, bercerita tentang kerinduannya akan kampung halamannya, membuatku  terbawa pilu. Mungkin dia hanya sedang ingin di dengar, mungkin juga dia merasa diriku adalah makhluk birokrat yang mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Setidaknya dapat bekumpul lagi dengan keluarganya. Birokrat?? Itu hanya semacam gumpalan laos yang dikira daging dalam masakan.

Senja datang bersama sekumpulan uca, kepiting yang mulai keluar dari lubang lubang persembunyiannya kala laut semakin surut. Kapal kapal tradisional yang tadinya terlihat begitu jauh di tengah laut menjadi sangat mudah dijangkau dan menjadi tempat anak-anak berlompatan, ceria dengan dunia mereka.

Waktu telah tiba bagi kami untuk meninggalkan pulau ini, kesan mendalam terbawa sepanjang perjalanan. Dimana sambutan ramah penduduknya, dari warga biasa hingga lurah, dari anak-anak hingga para tetua yang menemani kami bersantai. Kerongkongan kami begitu segar oleh air kelapanya, perut telah penuh oleh ikan bakar dan olesan sambal khas pulaunya, hari kami telah tergurat oleh senyum ketulusan dan sambutan hangatnya.


mungkin aku akan kembali suatu saat, untuk berkunjung kembali karena cinta pertama ini…

Oleh: Adian Husaini*

Sebenarnya, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dsb, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing2. ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dll. Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi” bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dll.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!” Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai. itu baik. tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INsists, dll. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. (adian husaini).