Tiga puluh menit menjelang mesin bermulut merah itu menelan bekas jariku. Menit-menit yang terasa begitu lama, menit-menit yang menurut Einstein adalah waktu yang sama dengan duduk disebelah tungku panas. Adalah sebuah keharusan bagi kebosanan untuk menutup kepingan hari. Rasanya di 30 menit terakhir itulah penentuan takaran kualitas karya di canangkan. Apalah daya bila hidup terbingkai kanun yang begitu memikat. Tak pelak mensyukuri dan menjalani adalah pelipur lara yang terperi.

Menjulang langit disebelah jendela kaca. Seluruh kota terkotak-kotak dalam garis garis kelabu. Untuk seorang pemetik gambar cakrawala adalah imaji yang tak pernah terlewatkan. Maka untukku kaki langit itu membungkuk menahan mendung yang semakin menggelayut. Air mulai menggenangi kelopak langit, menggesa para pengemudi untuk segera sampai tujuan. Marabahaya hanyalah angin lalu yang menggores pipi-pipi dingin mereka.

5 menit menjelang si lidah merah memangsa jemariku. Seonggok kotak makan kardus bermerk rumah makan gadang. Melongok wajahku dan memintanya untuk dipungut. Sayangnya kandung makanku terasa penuh diwaktu waktu yang seharusnya kosong. Entah darimana berasal, Barangkali Tuhan sedang membuktikan KalimatNYA bahwa rezeki bisa datang darimana saja tanpa disangka dan disadari.

Jiwa-jiwa yang dihantui wajah orang orang yang dicintai itu sudah lenyap dari pandanganku. Gegap gempita mesin mesin pemakan kertas juga telah senyap dari pendengaranku. sudut pertapaan ini telah sunyi dari kegiatannya, meninggalkan bisikan pendingin ruang yang mengusir para penunggu sebenarnya. Bukanlah tempat yang menyenangkan, setidaknya bagi para pelakunya.

Menggamit kotak makan kardus yang tergeletak di meja beserta isinya. Melangkah mendekati si lidah merah, memaksakan jemari untuk dijilatinya. Kemudian melangkah keluar dan menantang hujan. Sore yang sungguh nikmat, memandang langit tertutup gumpalan mendung. Menyangsikan mentari akan muncul dalam jangka waktu yang teramat dekat. Sudahlah, bukan saatnya berkeluh kesah. Bukankah hujan juga sebuah kenikmatan. Kata pujangga hujan adalah pertanda bahwa pelangi akan segera datang. Akankah pelangi hadir kala langit berjubah gelap? Itu adalah sebuah harapan.

Duduk jongkok di hadapannya, dibawah rintik air yang membasahi. Diantara deru lalu lalang para penabuh adrenalin dibalik kemudi. Di atas trotoar di seberang pengisian bahan bakar yang tak terlalu ramai. Memandang sebentar wajahnya yang sayu, mungkin kandung makannya lebih kosong dari milikku. Mungkin juga sedang menunggu kekasihnya yang berkeliling kota dan sibuk berhenti di setiap titik-titik sisa peradaban kota.

Setiap kulewati jalur itu, tentu wajahnya selalu terbersit di sudut mataku. Disamping gerobak kumuh tempat nafkahnya bergerak setiap saat. Kerudungnya yang tak pernah berganti, menceritakan kepada siapapun yang memandang bahwa masih tersisa keyakinan tentang Tuhan yang akan mengubah jalan hidupnya.

Kotak makan kardus bertuliskan rumah makan Gadang menjadi pembuka sapa. Bersama suka cita dan tatapan iba. Rekaman keabadian itu akan selalu mengingatkanku akan sapaan lirihnya diantara deras hujan. Kurasa sore itu adalah keindahan yang tiada tara.

“Tak setiap orang mampu memberi, karena memberi itu terangkan hati” –bundanya anak-anakku-
 "We buy things we don't need with money we don't have to impress people we don't like" - Fight Club-

Kebiasaan lama terusik akhir-akhir ini. Ba’da maghrib waktu yang biasanya digunakan untuk bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga. Mulai dari makan bersama, membersamai anak-anak mengerjakan PR nya, bahkan mendengarkan keluh kesah istri agak terganggu. Kusadari setelah kesekian malam baru tadi malam istri menegur, “yah, matikan dulu HPnya donk!” butuh sekian menit untuk ku sadari bahwa itu bukan hanya teguran. Namun juga bentuk kasih sayang dan perhatian yang begitu besar darinya.

Malam sebelumnya sebenarnya jejakaku yang dah kelas 1 SD telah menegur, namun dengan cara yg jauh lebih implisit. Dia menyodorkan buku iqro’nya dan meminta untuk mengulang dan mengoreksi bacaannya ketika HP masih ada digenggamanku. Aku hanya menoleh dan mengiyakan mengulang sesuai permintaannya. Meski mataku melihatnya namun pikiran dan kesadaranku masih di layar HP. Begitu juga gadisku yang masih berumur 5 tahun, mulutnya terus bercerita namun tak ku ingat apa yang diceritakannya. Justru layar HP ini yang selalu menetap di kepala.

Bukanlah hal besar yang ada di layar HP, bukan pula topik yang sedang mencuat yang sedang kuperhatikan. Hanyalah percakapan yang semakin intens dengan banyak orang yang ada di beberapa jejaring sosial dan grup-grup chating. Namun yang menguras begitu banyak perhatian adalah kegemaranku terdahulu menelusuri toko-toko online.

Kebiasaan lama ini kembali muncul saat begitu banyak kabar-kabar mengenai perbaikan penghasilan yang dihembuskan. Memang benar bila semakin besar penghasilan maka akan semakin besar pula agretifitas konsumerisme. Setidaknya begitulah yang kurasakan, baru hanya sebuah issu namun pengharapan akan konsumerisme sudah begitu tinggi, mengakibatkan kuota data di HPku berkurang drastis hanya untuk berselancar di toko-toko online.

Apakah itu menjadi masalahku? Sepertinya itu telah menjadi masalah sebagian besar orang. Masalahku sendiri adalah nafsu belanjaku yang sangat sensitif terhadap rangsangan sedikit saja. Baru juga isu namun keinginan untuk belanja itu sudah sangat menggebu. Padahal itu kan baru isu, kalaupun jadi kenyataan kan belum tentu sanggup untuk membelinya. Kalaupun sanggup untuk membelinya, bukankah ada kebutuhan lain yang jauh lebih primer untuk dipenuhi. Itu masalah ku, entah mungkin juga masalah banyak orang.

Kemajuan teknologi telah membuat konsumerisme semakin mudah untuk diaplikasikan. Cukup membuka gadget, siapkan alat bayar elektronik maka konsumerisme dapat diberi makan dengan lahapnya. Yang kemudian membuatku begitu menyesal adalah konsumerisme yang kurasakan justru merenggut kehadiranku sebagai bapak di tengah tengah keluargaku. Mungkin tak begitu masalah bila konsumerisme menghabiskan hartaku, namun ternyata tidak. Konsumerisme ini merenggut juga sosok bapak di dalam keluarga. Fisik memang ada diantara mereka, namun mereka mendapatkan selongsong fisik bapaknya.

Jadi teringat sebuah kisah yang diceritakan salah satu guruku. Beliau dulunya hanyalah seorang ustadz di sebuah mushalla kecil. Hingga kemudian beliau menjadi seorang pengusaha sukses, memiliki beribu karyawan, memiliki pabrik di beberapa tempat. Berhasil memasarkan produknya di beberapa Negara. Hartanya berlimpah, namun ada hal yang tak berubah darinya. Kesederhanaanya, beliau zuhud menjalani kehidupan dunia. Hingga rahasia kecil ini terkuak melalui mulut ke mulut diantara para pegawai dan santri-santrinya. Beliau hanya memiliki 10 pasang baju yang peruntukkanya beliau bagi untuk acara resmi, untuk bepergian, untuk tidur dan untuk shalat.

Betapa konsumerisme tidak mengikis hatinya, betapa ketenangan hatinya dapat saya bayangkan. Sehingga kezuhudannya dapat kujadikan bayangan bahwa waktu untuk keluarganya sungguh teramat banyaknya. Karena tidaklah beliau disibukkan dengan hal hal yang berbau konsumerisme. Beliau adalah Wan Haji ismail pendiri dan pemilik brand HPA (Herba Penawar Alwahida), semoga Allah selalu merahmati beliau. Aamiin.
Saya mengenal hampir semua tenaga keamanan dan tenaga kebersihan di kantor yang memiliki gedung berlantai 5 ini. Mulai dari boim yang pernah saya ceritakan dulu, dengan keluguannya yang kadang menjadi sumber kejenakaan bersama. Si sehu yang setiap kali bertemu di pagi hari selalu mencuri salam saya, mendahului dan memaksa saya untuk menjawabnya. Karena bila saya tak menjawab atau kurang terdengar dia akan protes dan mengucapkan salamnya berkali kali. Hingga seorang tenaga kebersihan tertua yang ada di gedung ini, yang biasa di panggil pak Gendul.

Mungkin para tenaga kebersihan dan keamanan ini bukanlah elemen paling penting untuk kelangsungan kantor ini. Namun tanpa mereka kantor ini sepertinya tak akan berjalan selancar ini. Setiap pagi meja kerjaku yang selalu tersusun rapi kembali setelah kemarinnya amburadul. Kopi dan air putih yangs elalu tersedia di meja bahkan sebelum saya datang. Lantai yang selalu mengkilap, ruangan yang sejuk dan wangi sepanjang hari. Mungkin merekalah tim supporting yang tak terlihat yang menjadikan setiap pekerjaan dapat terlaksana dengan baik.

Pak gendul berjalan di pinggir aspal, di suatu sore saat hujan rintik-rintik. Walau arah rumahnya sejalan dengan arah rumahku, beliau selalu menolak ketika kutawarkan kendaraanku ketika kubawa mobil. Dengan banyak alasan memang mobil bukan kendaraan sehari-hari yang kubawa untuk kekantor. Hari itu sengaja kubawa mobil melihat mendung yang bergelayut di ufuk barat kaki langit.

Pak gendul biasanya ikut rekan sesam tenaga kebersihannya menggunakan motor untuk moda transport nya menuju rumahnya. Terkadang juga menggunakan jasa transportasi umum yang apabila malam menjelang moda ini semakin jarang dan hamper tak ada yang beroperasi melewati arah rumahnya.

Ku pinggirkan kendaraanku, ku klakson dan kusapa hingga pada akhirnya kutawari untuk menumpang di mobilku menuju rumahnya yang tinggal beberapa kilometer lagi. Pak Gendul tersenyum, dan masuk dengan sumringah ke dalam mobil.

Jika ditanya apa arti kebahagiaan, diriku begitu sulit mendeskripsikan. Bukan karena tidak bisa namun karena sungguh banyak hal yang mencerminkan makna bahagia. Melihat senyum sumringah pak gendul sore itu juga sebuah kebahagiaan.

Mengenal orang-orang seperti pak gendul adalah pembelajaran mengenal simpati. Pelajaran melembutkan hati, dan latihan melihat hal-hal yang tak terlihat karena bertambahnya harta. Tak dipungkiri terkadang harta dapat menutup simpati, mengeraskan hati dan membutakan mata akan lingkungan.

Membersamai orang orang seperti pak gendul bahkan walau hanya memberinya tumpangan, terkadang dapat membangunkan kesadaran bahwa memberi itu adalah sebuah sumber kebahagiaan.

Rutinitas pagi yang biasanya kulakukan adalah mengantar istri ke tempat kerjanya. Meskipun dia bisa mengendarai motor sendiri namun membersamainya hingga tempat kerjanya yang lokasinya tak begitu jauh dari tujuan pagiku sudah cukup membuatku tenang. Hal yang kemudian membuatku selalu memperhatikan detail jalur yang kulalui. Diantara sekian banyak hal yang mengusik pemandanganku adalah ketika di sore hari selalu kutemui seorang bapak penjual keripik seadanya dengan dipanggul. Seadanya karena memang bisa dikatakan keripik yang dijual terkesan apa adanya, bercampur antara keripik singkong, keripik pisang, keripuk uli dan lain-lain. Keripik yang dibuat sendiri yang kelihatannya peruntukannya bukan untuk dijual hanya untuk dikonsumsi sendiri. Bila di bawa ke sentra penjualan keripik yang tersebar di kota ini pun mungkin keripik milik bapak itu akan tersortir dan tak laik jual.

Yang menjadikan bapak itu selalu berada disudut mataku saat melintas adalah, bapak ini menggunakan tongkat bantu untuk berjalan. Mengiasyaratkan kalau beliau adalah seorang tuna netra. Memang kondisi dimana seseorang memiliki discapabilitas daripada normal selalu menempati simpati yang berbeda. Mendeskripsikan kekurang beradaannya dalam bentuk iba, namun sejatinya bukan itu yang ingin ditunjukkan. Palah dikata hati kadang memiliki suasananya sendiri, sehingga discapabilitas itu menjadi sebab untuk sebuah rasa iba.

Bapak penjual keripik tunanetra itu setiap sore selalu ada di titik itu. Sering kubaca diberanda social media mengenai perlakuan discapabilitas ini,”belilah dari mereka, meskipun engkau tak membutuhkannya!” sebab usaha mereka memepertahankan harga diri jauh lebih berat daripada kebanyakan orang normal. Namun terkadang aku juga ingin merasakan berada di sisi mereka, tanpa merasakan discapabilitas itu tentunya (emang siapa yg ingin buta?) mungkinkah? Dan ingin membuktikan benarkan nasehat diatas? Apakah pernyataan diatas adalah bentuk belas kasihan?

Bila ditilik dari sisi si normal rasanya memang pernyataan diatas adalah pernyataan belas kasihan, dan berdasar apa yang disampaikan ibnu qayyim, hal itu dapat melembutkan hati, menurunkan ego dan mengikis habis rasa berbangga diri. Karena mata kita ditunjukkan sebuah perjuangan mengatasi kesulitan hidup dengan modal yang minim. Namun belum pernah kudengar apa yang dirasa si penyandang discapabilitas.

Bila ada yang pernah melihat viral video yang tersebar di youtube, perjuangan Dick dan Rick Hoyt yang ingin mengatakan kepada dunia bahwa penyandang discapabilitas tak perlu dikasihani. Mereka hanya butuh di beri ruang pemakluman lebih, lebih besar daripada seorang wanita dibelakang kemudi.

Akhir-akhir ini aku tak sempat turun dari kendaraan hanya untuk menyapa bapak penjual keripik tunanetra di pinggir jalan itu. Banyak sekali alasan yang kubuat di dalam hati untuk membenarkan ketidak pedulianku. Mungkin egoku semakin tinggi dan rasa banggaku telah menutupi, atau mungkin kini selalu kulihat si bapak yang ditemani seorang putri cantik yang terlihat soleha dengan kerudungnya. Entahlah, bapak itu mungkin akan selalu berdiri di pinggir jalan menjajakan keripik tak laik jualnya. Hanya untuk mengingatkanku akan ego dan harga diri…..

Skala brak (skala beghak) adalah kerajaan yg pernah berdiri di sekitar danau ranau dan gunung pesagih. Skala brak menurut bahasa yang dikenal pada suku tumi yang mendiami wilayah ini adalah berarti tetesan dari surga. Tepatnya setelak kepaksian pusat pemerintahan kerajaan skala brak adalah di tulang bawang. Sekarang situs itu masih terjaga dengan baik.

Bila anda melakukan perjalanan dari pintu gerbang sumatra -pelabuhan bakauheni- menuju kota liwa maka anda pasti akan melewati situs peninggalan skala brak. Tetesan dari surga begitulah leluhur memberi nama, tak dapat dipungkiri meski tepatnya skala brak terletak di dataran tinggi sekitar liwa, tulang bawang dan danau ranau. Namun keindahan alam yang ditawarkan adalah serpihan surga yang indah nan mempesona.
Bandar Lampung city taken from high ground; foto by:Arief Kuswanadji

Ini cerita kami melintasi aspal dalam perjalanan tugas negara ke KPP Pratama yang memiliki wilayah hampir 50% total luas propinsi lampung. Wilayah lampung yang aspalnya berkelok dan tak rata sekaligus keindahan anugerah alamnya. Wilayah lampung yang terdalam sekaligus asal muasal bermulanya peradaban lampung. Wilayah dimana hutan dan isinya masih rimbun, sungai dan penghuninya masih buas dan wilayah dimana masih menjumpai seruit ada di tengah tengah rumah papan kayu warganya.

Kembara dimulai dalam tugas yang menantang, dalam tiga hari tiga malam diwajibkan menempuh delapan kabupaten dan satu kota madya di wilayah lampung. Tugas ini sejatinya adalah monitoring dalam rangka pelayanan penyuluhan dan kehumasan, namun perjalanan melaluinya adalah itinerari yang menantang. Kesempatan yang tak akan kami sia siakan dalam menjajaki kemungkinan yang ada untuk lebih mengenal provinsi yang sungguh eksotik ini.

Bandar lampung adalah ibukota propinsi lampung, di kota ini juga start perjalanan dimulai. Menuju kearah barat, bergerak menjauhi teluk. Menuju ke daerah terdalam dari lampung. Dimana sungai sungai semakin meluas, dimana hutan hutan semakin merimba. Hewan hewan semakin membesar ukurannya dan seperti berkata bahwa manusia hanyalah bagian yang semakin menghilang dari alam.

Menggala adalah kota tujuan, perjalanan sepanjang 140 km yang seharusnya dapat ditempuh kurang dari 2 jam. Dalam kesempatan itu suguhan terbaik adalah ambruknya salah satu jembatan yang menjadi urat nadi lalu lintas di arus lintas utama sumatera itu. Jalur Bandar Lampung – Menggala merupakan jalur utama lalu lintas darat yang disebut Lintas Timur Sumatera.

Hari kesatu : Ironi Kota Bertetangga

Untuk mencapai kota Menggala yang merupakan ibukota kabupaten Tulang bawang dari Bandar Lampung, setidaknya lima kabupaten harus diseberangi. Lampung Selatan, Pesawaran, Tulang Bawang Barat, Lampung tengah dan Lampung Utara.

Cukup mudah mencapai kota Menggala karena berada di jalur lintas timur sumatera yang menghubungkan Propinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Sehingga akan didapati banyak moda transportasi umum yang melewatinya.

Yang menjadikan Menggala menarik adalah peninggalan sejarah yang banyak tersebar di kota ini. Situs situs yang berumur ratusan tahun masih berdiri dengan lestari. Menggala disebut juga sebagai kota tua, karena banyaknya peninggalan gedung gedung dan bangunan bangunan tua yang masih dipertahankan dengan baik.
Masjid Agung Kibang; taken from:  www.indonesiawonder.com-.jpg

Arsitektur yang unik dari rumah rumah penduduk dan masjid masjid tua yang menawarkan keelokan sejarah. Seperti contoh Masjid Agung Kibang yang dibangun pada tahun 1830 Masehi. Masjid yang terletak di kampung kibang ini berbentuk panggung dan seluruhnya terbuat dari papan dan kayu. Dan ada banyak gedung gedung vintage yang akan membasahi kehausan anda yang tertarik dengan peninggalan budaya.

Monitoring telah dilaksanakan dengan seksama, wajah KP2KP Menggala yang telah tertata rapi. Menandakan bahwa perjalanan harus dilanjutkan menuju KPP Pratama Kotabumi. Sebuah Kantor Pelayanan Pajak yang memiliki cakupan wilayah terluas se-Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung. KPP Pratama Kotabumi mencakup wilayah kerja seluas 21.712 km2 dari tujuh kabupaten.

Kotabumi adalah ibukota kabupaten Lampung utara, berjarak sekitar 140 km dari ibu kota propinsi Bandar Lampung. Letak kotabumi berada di jalur lintas tengah arus utama jalur lintas sumatera, sehingga kotabumi sangat mudah dijangkau oleh moda transportasi darat. Bahkan hanya kotabumi yang dilalui oleh jalur perlintasan kereta api. Bila anda hendak menjejakkan kaki di kotabumi selain bus atau jasa travel sebagai transportasi anda. Tak ada salahnya mencoba transportasi kereta dimana PT.KAI telah menyediakan gerbong khusus wisata dari Bandar lampung menuju kotabumi.
KA. Wisata Seminung; taken from: www.httpbiro-le-lambar-pesibar.blogspot.com-.jpg

Berbeda dengan Menggala yang khas dengan peninggalan sejarah, kotabumi adalah kota transit yang cukup berkembang. Ditandai dengan semakin marak berdirinya ruko-ruko di sepanjang jalan utama. Menyandang sebagai kota transit membuat kotabumi selalu berbenah, namun sejatinya kotabumi adalah wilayah yang dianugerahi Tuhan dengan keanggunan alamnya. Sungai sungai yang membelah wilayah ini beberapa spot telah disulap menjadi wisata yang tak boleh dilewatkan. Wisata air/sungai menjadi andalan lampung utara.

Banyaknya air terjun menjadikan sungai sungai terlihat mempesona. Seperti contoh spot air terjun curup indah yang terletak di desa pekurun kecamatan Abung Barat.sekitar 30 km dari pusat kota kotabumi, menempuh waktu perjalanan sekitar 3 jam. Suasana alam yang masih asri menjadikan air terjun ini sebagai pemberhentian yang pas untuk mengusir kepenatan perjalanan.

Bekerjasama dengan pihak ketiga pemerintah daerah juga membangun beberapa bendungan sebagai sarana irigasi. Spot spot irigasi ini juga layak dijadikan pemberhentian selanjutnya. Spot irigasi ini selain berfungsi sebagai sarana pengairan sawah-sawah warga, juga digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Menawarkan kegiatan alam yang dapat menarik wisatawan, seperti memancing. Alam yang masih alami, suasana sungai dan gemericik air akan menghilangkan kepenatan bekerja bagi wisatawan yang memang mencari suasana tenang. Ketika malam menjelang kami pun bercengkerama dengan suasana kotabumi untuk melepas penat, dan mempersiapkan perjalanan esok hari. Baradatu…

Hari Kedua : Little Niagara

Perjalanan ini mengantarkan kami mendekati perbatasan antara Propinsi Lampung dan Propinsi Sumatera Selatan. Baradatu adalah kota kecil di wilayah kabupaten Way Kanan, namun Baradatu merupakan kecamatan teramai bila menilik sisi perdagangan dan ekonominya. Itulah salah satu pertimbangan kenapa harus ada KP2KP di Baradatu.

Inilah wilayah yang sejatinya paling tepat disebut sebagai Skala Beghak atau tetesan dari surga. Way Kanan di karunia tanah yang subur diantara bentang alam perbukitan dan daerah river basin. Hampir dua pertiga masyarakatnya berprofesi sebagai petani atau beraktifitas di perkebunan.

Padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar tumbuh subur diatas tanah yang memiliki efektifitas kesuburan sedalam 90 centimeter ini. Beberapa komoditi diatas telah menjadi ikon bagi kabupaten way kanan, menjadikan Way Kanan sebagai Lumbung sumber makanan bagi Propinsi Lampung secara keseluruhan.

Komoditi perkebunan di way kanan adalah primadona, terbilang dari karet, kopi, kelapa sawit dan lada. Hingga way kanan menjadi maghnet bagi perusahaan perusahaan besar untuk berinvestasi. Mulai dari perusahaan perusahaan rumahan hingga perusahaan besar selevel PT. Perkebunan Nusantara pun kepincut dengan potensi perkebunan di way kanan. Hingga perkebunan di way kanan menjadi sebuah spot wisata yang dibentuk menjadi tujuan wisata agro wisata perkebunan.
Air terjun gangsa / little niagara

Air terjun Gangsa adalah salah satu spot wisata alam yang memiliki pesona alam yang indah yang sayang untuk dilewatkan. Beberapa wisatawan menyebutnya a little Niagara in Indonesia, bukan tanpa sebab. Kontur bebatuan yang membelah aliran sungai dan menciptakan riak air yang jatuh mengingatkan kami akan indahnya Niagara. Ketinggian yang cukup membuat air bertransformasi menjadi awan awan air dan membiaskan sinar matahari yang sampai di mata kami. Dengan lebar 20 m sungai gangsa menjadikan beberapa titik juga menjadi spot memancing alami yang menyejukkan.

Air terjun Gangsa terletak di 40 km menjauhi ibukota kabupaten way kanan, Blambangan Umpu. Di dusun tanjung jaya, kampung kota way, kecamatan kasui. Menggunakan kendaraan roda dua akan menciptakan sensasi berkendara yang tak akan terlupa. Membiarkan angin dingin bersuhu 18-20 derajat Celsius menerpa wajah untuk mencapai air terjun gangsa.

Hari Ketiga : Kotoran Hewan Terlezat Hingga Serpihan Surga Yang Terlupakan

Bercengkeramanya hawa dingin dan kabut membuat setiap indera seperti di negeri kahyangan. Punggung perbukitan di sebelah kiri jendela kendaraan dan lembah nan aduhai di sebelah kanan adalah panorama kami menuju Liwa. Sepanjang mata memandang adalah perbukitan yang diselimuti oleh pohon pohon beraneka bentuk dan warna. Perjalanan menuju Liwa adalah perjalanan liar menuju sebuah kota yang terisolasi oleh alam. Diapit oleh perbukitan dan dipisahkan oleh hutan rimba yang masih menyimpan kebuasan binatang-binatangnya.

Setalah menghabiskan malam di sebuah penginapan sederhana yang tak menyediakan AC, seluruh permukaan kulit terasa dilemparkan ke dalam freezer. Tak butuh AC memang dengan gadget yang menunjuk angka 18 derajat celcius pada pagi hari. Pandangan yang masih dibebat oleh tebalnya kabut, dan setiap hembusan nafas yang memuntahkan uap uap hangat. Di cuaca seperti inilah alam menyediakan hasil bumi yang kualitasnya bahkan mengalahkan produk manapun di dunia.

Kopi dari jenis Arabica tumbuh dengan subur dan memberikan hasil terbaik di dataran tinggi Liwa. Namun tidak hanya itu para penduduk menemukan cara mengolah kopi Arabica itu menjadi produk termahal di dunia saat ini. Dengan bantuan pencernaan luwak, yaitu hewan sebangsa musang yang memang makanan kesukaannya adalah bijih kopi yang sudah ranum.

Tentu anda penasaran akan hasil olahan kopi yang sejatinya adalah kotoran hewan luwak. Namun di tangan para penduduk liwa bijih kopi yang sudah mengalami fermentasi di dalam perut luwak ini dapat diubah menjadi minuman yang lezat. Dunia mengakuinya sebagai kopi luwak atau civet coffee, produk olahan kopi yang menjadi produk unggulan masyarakat liwa.

Produk kopi inilah yang mengantarkan Liwa menjadi sebuah kota di Lampung Barat menjadi terkenal seantero negeri bahkan dunia. Padahal Liwa juga dikenal sebagai daerah cikal bakal seluruh kebudayaan yanga da di wilayah Lampung. Kota ini biasa disebut sebagai the origin of Lampung karena memang disinilah asal muasal suku Tumi dan juga berdirinya kerajaan cikal bakal lampung kerajaan Skala Brak. Sehingga masih didapati situs situs bersejarah yang akan menceritakan nenek moyang suku yang mendiami tanah tinggi ini.

Disamping itu budaya budaya lokal yang masih menjunjung keaslian Lampung sangat banyak ditemui di Liwa. Seperti Pesta Adat Sekura yang melalui Kemenparekraf mulai dibuka untuk wisatawan lokal maupun internasional.Pesta adat Sekura merupakan pentas teater luar ruangan dengan masyarakat kampung sebagai pemeran lakon-lakon sekura.
Kemeriahan pesta adat sekura; foto by: Agato D. Gandiadi

Sekura merupakan jenis topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta sekura. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Sekura dilakukan oleh seluruh penduduk pekon (desa) hanya pada satu hari di akhir Ramadhan, dengan menutup seluruh tubuh termasuk muka dengan topeng atau kain termasuk mata dengan kaca mata. Sekura dihelat dengan tujuan mengusir roh roh jahat yang digambarkan dengan lakon-lakon yang diperankan oleh makhluk yang ditutup seluruh tubuhnya. Selain penduduk kampung siapapun boleh berpartisipasi dalam pesta adat ini.

Mentari meninggi, tanda bahwa perjalanan tinggal selangkah lagi. Perjalanan pulang ini akan sangat menantang, karena aspal akan membawa kendaraan kami membelah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan hingga menyusuri garis pantai Krui yang terkenal hingga mancanegara tentang keindahan pasir dan tarian ombaknya.

KP2KP Liwa begitu sayang untuk ditinggalkan, mengingat suasananya yang dingin dan nyaman. Namun diujung perjalanan ini tak ada yang lebih membuat penasaran daripada apa yang akan kami dapati. Karena ketika pintu gerbang meninggalkan Liwa telah terlewati tak berapa lama penanda besar menghampar dengan tulisan yang membuat siapapun akan membacanya. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan telah menyambut dengan pekikan kumbang kumbang pohon yang memekakkan telinga. Inilah sambutan selamat datang kepada siapapun yang melintasinya, penanda bahwa di depan adalah kawasan hutan lindung.
pintu gerbang TNBBS; taken from: arthaliwa.wordpress.com-.jpg

Teriakan kukang semakin terdengar ketika kendaraan kami semakin dalam menuju jantung rimba. Burung burung dan sesekali dapat kami dengar lolongan anjing hutan. Bersyukur kami menyusun rencana perjalanan dengan cermat sehingga memasuki rimba ini tepat saat matahari sedang tinggi-tingginya. Entah apa yang akan kami dapati bila melintasi hutan ini di malam hari.

Sebenarnya apabila kami masih memiliki waktu, kendaraan akan kami arahkan ke kanan. Menuju ke spot wisata danau ranau yang berjarak sekitar 32 Km dari kota Liwa. Namun hal itu kami batalkan untuk menghindari kami bermalam di tengah rimba Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sebagai gantinya perjalanan akan mencapai pesisir pantai krui sebelum mentari turun. Sehingga dapat menikmati sunset di pantai Krui yang kabarnya keindahannya membuat para turis mancanegara berbondong untuk mendatanginya.
Pantai karang nyimbor, krui; taken from: novenreque.blogspot.com-.JPG

Berita itu sepenuhnya benar ketika mata kami tertumbuk di pantai karang nyimbor di pekon tanjung setia. Pantai ini terletak tepat dipinggir jalan Lintas Barat, sekitar 20 Km dari kota krui. Pantai ini sangat banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, dengan ombak yang sangat tinggi, pantai ini sangat disukai dan sangat cocok untuk melakukan surfing. Selain itu, di Karang Nyimbor ini terdapat beberapa penginapan tepi pantai (cottege) yang didalamnya terdapat cafe dan restoran.

Setelah menyeberangi Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pringsewu yang disepanjang pagar aspalnya dibentangkan sawah sawah yang menghijau. Kami sampai di gerbang Kota Bandar Lampung, dengan perasaan yang tak terutarakan. Pengalaman perjalanan yang kami lalui sungguh tiada akan tergantingan dengan perjalanan dinas manapun sebelumnya.

Bila anda mengenal Lampung hanya dari kabar penangkaran Gajah di Way Kambas atau Keindahan Teluk Kiluan, maka Lampung harus menjadi destinasi perjalanan wisata anda selanjutnya. Karena Lampung masih sangat terbentang luas dengan keindahan alam dan keanekaragaman budaya yang masih belum terungkap, menunggu anda untuk menceritakannya kepada dunia. Selamat berpetualang!


/Artikel ini tayang di rubrik Halo Nusantara, e-magazine DJP edisi bulan November 2014.