Kita akan berbicara tentang fenomena yang terkenal di seluruh dunia, yaitu konsumerisme. Apakah Anda juga salah satu penggemar belanja? Jika ya, maka Anda berada di tempat yang tepat! Dalam tulisan ini, saya akan membahas konsumerisme dengan sentuhan humor yang akan membuat Anda tertawa sambil merenungkan betapa gilanya dunia belanja modern. 

    Konsumerisme tidak hanya tentang membeli barang, tetapi juga tentang kekuatan kemasan. Apakah Anda pernah membeli sesuatu hanya karena terpikat oleh kemasannya yang menggemaskan? Misalnya, bayangkan jika ada biskuit berbentuk kucing dengan wajah yang menggoda Anda untuk memakannya. Dalam hal ini, kucing itu mungkin bisa memenangkan hati Anda, tetapi apakah rasanya juga memenangkan lidah Anda? Kemasan yang kreatif seringkali berhasil mencuri perhatian kita, tetapi setelah membuka paketnya, kita sering kali mendapati isi yang tidak sebanding dengan harapan. Itulah saat anda sedang diserang oleh perang kemasan industri modern.


    Apakah Anda pernah membeli barang baru yang begitu dinanti-nantikan, hanya untuk menemukan versi yang lebih baru muncul hanya beberapa minggu kemudian? Kita semua telah menjadi korban dari fenomena ini. Apakah itu ponsel cerdas terbaru, tablet, atau bahkan sepatu terkenal, konsumerisme seringkali membuat kita merasa terjebak dalam siklus tak berujung. Ironisnya, seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi, barang-barang baru kita sering kali lebih cepat ketinggalan zaman daripada kecepatan Internet di masa lalu! Jadi sekarang semakin sadar kalau baju yang di dalam lemari itu jauh lebih banyak yang ga digunakan daripada yang digunakan kan? bendalah yang ketinggalan jaman, bukan orangnya.


    Kita tidak bisa membahas konsumerisme tanpa menyentuh peran iklan dalam hidup kita sehari-hari. Setiap kali kita menghidupkan TV atau membuka browser, kita diserang oleh iklan yang berjanji untuk menjadikan hidup kita lebih baik, lebih indah, atau lebih menarik. Mereka menggunakan model-model cantik dan pria tampan untuk memperdaya kita, seolah-olah memiliki merek tertentu akan membuat kita menjadi versi yang lebih baik dari diri kita sendiri. Oh, tentu saja, ini semua bercanda! Siapa yang bisa melupakan saat di iklan pasta gigi, orang-orang yang tersenyum menggunakan baju tidur di pagi hari dan berpenampilan segar seolah-olah mereka baru saja keluar dari salon? Jadi, selalu ingat bahwa kehidupan nyata biasanya jauh dari yang ditampilkan di iklan.


    Konsumerisme adalah fenomena global yang tidak dapat dihindari. Namun, dengan sedikit humor, kita dapat melihat sisi lucu dari segala gila belanja yang terjadi di sekitar kita. Ingatlah untuk tidak terlalu tergoda oleh kemasan yang menggiurkan, jangan biarkan diri Anda tertinggal oleh produk yang selalu diperbarui, dan jangan percaya sepenuhnya pada iklan yang menjanjikan dunia yang sempurna. Mari kita belanja dengan bijak, menghargai apa yang kita miliki, dan tak lupa untuk selalu menambahkan sentuhan humor dalam perjalanan kita menjadi konsumen yang lebih cerdas!


 


......

Tak mudah untukku, Melupakan semua

Yang pernah terjadi, Kau begitu dalam

T'lah tertanam di hati, Dan hidupku

Kusesali semua, Kehilangan dirimu

Membuatku tersadar, Apa yang harus aku lakukan

Bila kau pergi tinggalkanku?, Sungguh ku tak bisa jauh, Dari dirimu

.....

(Patah – Iwan Fals)


                Lirih mengalun dendang dari pemusik legenda Indonesia di ruang kabin kendaraan, berasal dari pemutar musik di dashboard. Menurut para pengamat musik, fokus ke alunan musik dapat menaikkan mood sedangkan fokus ke lirik dapat menimbulkan rasa. Sejak mengenal karya-karya bang Iwan selalu fokusnya adalah lirik karena selalu ada pesan yang ingin disampaikan.


                Duduk sebagai co-pilot adalah istri sendiri, ya masak istri orang? Seperti yang lalu-lalu sambil menatap lekat lekat cermin yang tersemat di sunvisor. Wanita tak akan bisa lepas dari makeup gearnya, memoles yang seharusnya tak lagi perlu dipoles, memperindah yang dari sananya sudah indah.


                “menurutmu, kalau ada wanita yang cukup cantik ada di hadapanmu apa yang akan kamu lakukan?” tiba-tiba pertanyaan meluncur deras dari bibirnya, memberikan perkara yang cukup pelik untuk dibalas.


                “aku akan mengaguminya.” Kujawab dengan tanpa menoleh, karena memang pandangan harus tetap tertuju ke jalan lurus yang ada di depan kaca mobil ini.


                Tangannya berhenti mengusapkan kuas kecil dari pipinya, menoleh sebentar ke arah sopir sambil menahan sesuatu yang tak harus ditahan. “bukankah ajaran agama kita menganjurkan untuk menjaga pandangan?”


                “setelah kagum, baru aku akan menunduk” begitu selorohku, sontak membuatnya menutup semua makeup gearnya dan bertindak serius bak pengawas ujian skripsi.


                Segera kaca jendela kubuka sedikit, membiarkan udara segara pagi menelisik masuk perlahan ke dalam kabin kendaraan. Sepertinya radar kelaki-lakianku sudah memberikan sinyal bahwa perang dunia akan segera hadir.


                “jelaskan maksud kagum tadi?” pintanya dengan sedikit memberikan tatapan mengintimidasi, tatapan yang sama yang dia berikan di awal bulan saat gaji baru saja masuk rekening.

“Jika salah seorang dari kalian melihat wanita yang mengagumkannya, maka hendaklah ia mendatangi (menggauli) isterinya. Karena apa yang dimiliki wanita tersebut sama dengan yang dimiliki oleh isterinya.” (HR. Tirmidzi)” biarkan penjelasan perawi ini yang menjelaskan.

                Laki-laki dianugerahi dengan impuls nafsu yang paling besar adalah dari pandangan, berbeda dari wanita yang impuls terbesarnya adalah rasa. Dengan kepungan budaya, kemajuan teknologi dan bahkan premis-premis akan dunia kewanitaan laki-laki sungguh berada di dunia yang akan selalu merangsang matanya.


                Sekuat mata menahan dan menunduk, maka godaan itu walau hanya sekelebat akan mampir di mata lelaki. Menggelitik area yang tak gatal bahkan tak dapat digaruk. Melawannya justru semakin besar imagi yang tampil dan menggoda. Namun juga bukan alasan untuk membiarkan jelalatan dan terdedah.


                Pun, menurut Buya Hamka “Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya."


                Hati, memerankan fungsinya sebagai kunci untuk membuka pintu ma’siyat atau segera menutupnya. Banyak perselingkuhan dimulai hanya dari pertemuan, namun kemudian hati membiarkan pintunya terbuka. Laki-laki yang memiliki pengendalian penuh akan hatinya begitu kuat memegang kunci hatinya. Tak membiarkan rasa berlanjut dengan cara mengunci rapat pintunya, pertemuan itu hanya terhenti di sebatas kagum.


                Kemudian menutup setiap peluang untuk menjadi jalan masuknya rasa, walau hanya sebuah ‘say, hi’ dalam bentuk apapun. Karena laki-laki begitu lemah soal rasa, dia akan meluap atau justru akan tenggelam. Sebelum itu terjadi, hatilah penentunya.


                “Darimana aku tahu, kalau kamu memang telah menutup hatimu untuk wanita lain?” sergahnya kemudian. “aku boleh cemburu kan? Terus kenapa kamu seperti ga terima kalau aku cemburu?”


Syukurlah pagar kantor telah terlihat, dan tak perlu kujawab pertanyaan maha hebat itu.

 


Hingga artikel ini ditulis Pemerintah masih melakukan pembahasan rancangan peraturan pemerintah (RPP) turunan Undang-Undang (UU) No.7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Nantinya, dalam RPP tersebut akan ditegaskan terkait dikenakan atau tidaknya pajak pertambahan nilai (PPN) untuk jasa angkutan umum di moda darat dan air.


Tentu saja para pengusaha yang bergerak di bidang jasa angkutan umum sedang menunggu-nunggu pengaturan secara jelas mengenai teknis pemungutan PPN yang harus mereka lakukan. Dalam hal ini lebih kepada teknis penerbitan faktur yang menjadi kewajiban para Pengusaha Kena Pajak.


Seperti yang diketahui sebelumnya, dengan telah disahkannya Undang Undang No.7 tahun 2022 mengenai Harmonisasi Peraturan Perpajakan, yang salah satunya adalah mengatur perubahan Undang-Undang PPN No.8 tahun 1983 sdtd UU. No.42 tahun 2009. Salah satu poin yang diubah adalah Bab 4 mengenai Pajak Pertambahan Nilai pada pasal 4A ayat (3) yaitu pada poin j bahwa ‘jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri.’ Telah dikeluarkan dari jenis jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai.


Yang berarti bahwa jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri, yang sebelumnya adalah non JKP (Jasa Kena Pajak) menjadi JKP.


Sehingga jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri, setelah Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan disahkan menjadi dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.


Mengingat hal tersebut, maka bagi Wajib Pajak yang bergerak di bidang jasa angkutan umum yang sebelumnya tidak diwajibkan berstatus PKP (Pengusaha Kena Pajak), apabila telah mencukupi syarat secara subjektif dan objektif menjadi wajib untuk mendaftarkan diri sebagai PKP sesuai dengan Pasal 1 ayat (1) PMK-197/PMK.03/2013.


Meningkatnya status Wajib Pajak menjadi Pengusaha Kena Pajak ini menimbulkan konsekuensi kewajiban yaitu memungut  PPN yang terutang dan membuat Faktur Pajak sebagai bukti pungutan PPN (pasal 2 ayat (1) PMK-03/PJ/2022).


Sedangkan untuk spesifikasi mengenai jasa angkutan umum yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai merujuk kepada Peraturan Menteri Keuangan nomor PMK-80/PMK.03/2012 yang menjadi petunjuk teknis dari Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai nomor 42 tahun 2009. Yang menggarisbawahi bahwa kendaraan angkutan umum adalah kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan orang dan/atau barang yang disediakan untuk umum dengan dipungut bayaran baik dalam trayek atau tidak dalam trayek, dengan menggunakan tanda nomor kendaraan dengan dasar kuning dan tulisan hitam. Tertuang di pasal 1 ayat (1) peraturan tersebut.


Peraturan Menteri Keuangan tersbeut adalah petunjuk teknis mengenai spesifikasi kendaraan angkutan umum yang tidak dikenakan pajak, Sedangkan pada Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan tidaklah terdapat perubahan, maka dapat dikatakan bahwa antara kendaraan angkutan umum bernomor polisi kuning bertuliskan hitam dan kendaraan angkutan umum bernomor polisi hitam bertuliskan putih menjadi sama, yaitu dikenakan Pajak pertambahan Nilai.


Yang kemudian menjadi perdebatan di kalangan pengusaha jasa angkutan umum adalah, dalam prakteknya angkutan umum bernomor polisi kuning bertuliskan hitam harus menerbitkan faktur pajak dengan kode berapa? Karena apabila kembali merujuk ke Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan maka dapat disimpulkan berdasar Pasal 16B ayat (1) poin b pada Bab IV tentang Pajak Pertambahan Nilai menyebutkan. Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya atau dibebaskan dari pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk: penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;


pada ayat (1a) poin j angka 7, Jasa Kena Pajak tertentu disebutkan salah satunya adalah, jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari jasa angkutan luar negeri. Sehingga dalam hal penerbitan faktur pajak apakah akan menggunakan kode 070 yaitu tidak dipungut ataukah menggunakan kode 080 yaitu dibebaskan.

Secara jelas, perbedaan pandangan di kalangan pengusaha jasa angkutan umum ini terjawab pada Siaran Pers yang dipublikasikan oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan pada tanggal 31 Maret 2022 yang menegaskan di angka 3 yang berbunyi : Barang dan Jasa tertentu TETAP DIBERIKAN FASILITAS BEBAS PPN. Yang pada poin b menyebutkan yang termasuk di dalamnya adalah jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa sosial, jasa asuransi, jasa keuangan,jasa angkutan umum, dan jasa tenaga kerja 
Namun apakah Siaran Pers ini dapat dijadikan pegangan sebagai landasan hukum dalam menentukan penggunaan kode faktur? Belum menjawab kegundahan para pengusaha jasa angkutan umum tersebut, maka sangat diperlukan landasan hukum yang dapat dijadikan rujukan mengenai hal ini.


Indana, putri ketiga yang selalu paling dekat dengan ayahnya. Tak terasa, sudah menempati tingkat terakhir di sekolahnya. Sekolah yang setara dengan sekolah dasar ini memang sedikit berbeda, memiliki 7 tingkatan kelas dan Indana telah menempuhnya sekitar 6 setengah tahun.


Di penggal akhir pembentukan karakternya inilah dia wajib menempuh sebuah training yang disebut Dauroh Hamasiyah (DAHAM). Sebuah kegiatan yang mewajibkan santri dipisahkan selama 30 hari dari rumah tinggalnya dan dari keluarganya.


Daurah yang makna sebenarnya dalam bahasa Arab yaitu berkeliling atau berputar-putar, adalah sebuah proses yang terus menerus mengulang-ulang suatu kegiatan. Sehingga daurah adalah merupakan sebuah training atau pelatihan yang dilakukan secara berulang untuk menguatkan sesuatu hal kepada seseorang.


Hamasiyah bermakna menancapkan semangat atau menguatkan semangat agar santri memiliki bekal yang cukup untuk menjalani proses berikutnya dalam kehidupannya, hamasiyah juga bermakna memberikan motivasi yang tinggi kepada santri untuk lebih baik lagi dalam menghadapi rintangan yang akan datang di proses berikutnya dalam menuntut ilmu.


Dalam kegiatan DAHAM, santri diharapkan memiliki peningkatan dalam akhlak, ibadah dan keilmuwan. Sehingga memiliki standar yang tinggi untuk kualifikasi madrasah.


Ketika rumah telah menjadi lembah iman dan akhlak dalam peningkatannya, maka madrasah adalah lembah ilmu yang harus dijalaninya.Dan DAHAM memiliki tujuan untuk meningkatkan standar ilmu itu agar setara dengan standar madrasah.


Indana menatap kegiatan DAHAM yang mana harus berpisah dengan kami dengan wajah begitu ceria, yang menjadikan kami ikhlas melepasnya, semangatnya akan memberikan kesabaran kami untuk menunggunya 30 hari kemudian untuk kembali ke rumah. 


Teh hangat buatannya mungkin tak akan menghiasi meja kopi ayahnya sepanjang pagi dan sore sebulan ini. Tiada perempuan mungil yang akan membukakan pintu rumah saat ayahnya pulang dari kantor, setidaknya sebulan ini.


Mungkin setiap rindu kami, akan menjadi semangatnya merapal doa doa malam. Semoga...!

    


Tanpa Komitmen engkau tak akan pernah memulai, tanpa konsistensi engkau tak akan pernah menyentuh garis finish.

 

     Pandemi Covid-19 memberikan dampak tersendiri pada tubuh ini, setelah tiga kali terdiagnosis dengan virus ini. Namun semua tidak ada yang tersiakan, mengingat dampak itu maka recovery panjang harus dilakukan. 


    Terhitung sejak bulan Mei 2022 langkah pertama diniatkan. Setelah terlihat matahari sedikit menyingsing di peraduannya, bulat tekad untuk menembus kabut. Hawa dingin tak begitu terasa di antara nafas yang memburu. Yup, pada awalnya lari kuanggap hanya aktivitas biasa. Bagaimana tidak lari adalah kegiatan yang tak perlu diajarkan, setiap manusia yang diberi nikmat sehat tentunya sudah memiliki blueprint dalam kepalanya bagaimana harus berlari. 


    Namun, nyatanya tak setiap orang mampu mempertahankan durasi lari dengan baik. Sehingga akhirnya ku berfikir pasti ada teknik dan ilmu tersembunyi yang belum ku ketahui mengenai lari yang baik dan benar. Apa lacur, baru juga belum mencapai satu kilometer, rasanya dada panas, tenggorokan kering, dan nafas tersengal seperti dikejar aparat. Endurance kali ini adalah tembok yang harus kutaklukkan.


    Dulu, ketika masih berusia anak SD hampir setiap pekan pak guru olahraga pasti memaksa kami untuk berlari terlebih dahulu untuk menghabiskan waktu olahraga. Endurance masih bersahabat kala itu.


    Memang selama ini masih rutin kujalani latihan sepakbola, namun intensitas aktivitas berlari pada sepakbola dan aktivitas hanya berlari sungguh berbeda. Dalam sepakbola, apabila stamina tidak lagi mendukung masih dapat menyempatkan waktu untuk berjalan bahkan berhenti. Karena di dalam sepakbola bukan hanya berlari namun juga menggunakan otak dan insting terlebih dalam sepakbola adrenalinlah yang menjadi penguasa.


    Berbekal pengalaman pertama dari sekian puluh tahun tidak melakukan aktivitas lari yang membutuhkan endurance inilah kuputuskan untuk terlebih dahulu menggali tentang rahasia berlari. Dan jawaban paling berat yang kutemukan adalah berlari membutuhkan konsistensi, sedangkan konssitensi bukanlah teman terbaik yang pernah menyertaiku.


    Konsistensi adalah komitmen yang terus menerus dipegang, layaknya layang-layang konsistensi adalah benang yang mengikatnya dengan tangan kita. Tanpa konsistensi layang-layang pastinya akan terbang jauh terbawa angin. Kemudian hilang ditelan cakrawala. Berlari membutuhkan tali yang kuat untuk terus menahan godaan agar tetap terus berlari. Berhenti berarti sama seperti menurunkan layang-layang tersebut, dan saat memulainya kembali sama seperti awal menaikkan layang-layang, dimana hal tersebut adalah kegiatan paling sulit untuk bermain layang-layang, begitupun berlari.