Dilema Manja


Kalau ada yang bilang jadi ayah itu tugasnya cuma cari nafkah dan pasang muka tegas di rumah, sini ketemu saya dulu. Biar saya ceritakan betapa dinamisnya isi kepala seorang laki-laki begitu punya anak.


Dari dulu prinsip saya cuma satu: "Saya tidak bisa membesarkan anak dengan manja, dan saya jauh lebih tidak bisa lagi kalau harus membesarkan anak yang telanjur manja."


Membatasi diri supaya tidak memanjakan anak itu memang butuh "rem" yang pakem banget. Jujur, menolak permintaan anak itu ada rasa bersalahnya. Tapi saya tahu, memanjakan anak memang kurang pas buat masa depan mereka. Namun, kalau boleh jujur, bagian paling horor itu sebenarnya bukan pas kita menahan diri, tapi ketika kita sadar anak kita mulai menunjukkan bibit-bibit manja yang akut. Menghadapi anak yang telanjur manja itu perkara yang jauh lebih sulit. Mengubah polanya lagi butuh stok kesabaran yang luar biasa luas.


Tapi... malam ini pertahanan saya runtuh (lagi).


Semua teori parenting, ketegasan, dan prinsip besi yang saya bangun di kepala seketika menguap tidak berbekas. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan anak perempuan saya. Di rumah ini, dia itu pemegang remote kontrol hati ayahnya. Dia benar-benar mahir memanjakan ayahnya, sampai saya sering bingung, sebenarnya siapa yang sedang mendidik siapa?


Tadi pas saya baru pulang kerja, masih capek dan berniat mau langsung mandi, dia tiba-tiba datang membawa segelas air putih. Tidak biasanya. Dia duduk di sebelah saya, memijat lengan saya dengan tangan kecilnya yang sama sekali tidak terasa itu, lalu mulai mengeluarkan jurus mautnya.


"Ayah pasti capek banget ya hari ini? Ayah hebat deh. Oh ya Yah, tadi aku lihat ada buku cerita seru banget di toko depan..."


Sambil bicara begitu, matanya berkedip-kedip polos, suaranya dibuat seimut mungkin, dan tangannya menggelayut di pundak saya.


Skakmat. Detik itu juga, ego saya sebagai laki-laki langsung meleleh. Rasa capek hilang, dan prinsip "jangan manjakan anak" langsung bergeser ke sudut paling belakang otak saya. Saya cuma bisa tersenyum pasrah sambil mengacak rambutnya dan bilang, "Iya, besok Sabtu kita beli ya."


Menulis ini sambil melihat dia yang sudah tertidur pulas, saya jadi mikir sendiri. Saya selalu takut dia jadi anak yang manja. Tapi di sisi lain, saya juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya sangat menikmati momen-momen saat dia bermanja-manja dan berusaha "merayu" ayahnya seperti tadi. Ada rasa bangga sekaligus bahagia yang aneh di dalam dada.


Besok-besok, saya harus lebih pintar pasang benteng pertahanan. Tegas untuk urusan mandiri dan tanggung jawab itu wajib, tidak boleh ditawar. Tapi kalau sesekali kalah sama rayuan anak perempuan sendiri? Ya sudahlah... toh, itu cara dia menunjukkan rasa sayang ke ayahnya.


Catatan untuk diri sendiri: Besok tetap belikan bukunya, tapi setelah itu, dia harus beresin mainannya sendiri. Harus adil!



0 komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.