Saya mungkin termasuk salah satu bapak yang terang-terangan mengaku tidak setuju jika bapak-bapak diminta mengambil raport anak sendirian. Bukannya malas atau tidak peduli, tapi mari kita bicara jujur tentang pembagian peran dalam keluarga.


Rata-rata bapak, termasuk saya, seringkali merasa "asing" di hadapan deretan nilai akademis. Bagi kami, angka 80, 90, atau fluktuasi nilai matematika adalah domain ibunya. 


Mengapa? Karena ibulah yang biasanya mendampingi proses belajar harian, yang tahu perjuangan anak menghafal rumus, dan yang paling fasih memberikan apresiasi emosional atas pencapaian akademis tersebut.


Jika bapak dipaksa maju sendirian, percakapan dengan guru seringkali menjadi kaku karena fokus kami memang tidak di sana.


Bapak-bapak punya "radar" yang berbeda. Saat membuka buku raport, mata kami tidak mencari nilai Matematika atau Bahasa Inggris terlebih dahulu. Kami lebih tertarik pada catatan wali kelas mengenai:


Apakah anak saya menghargai waktu?

Apakah dia menyelesaikan apa yang dia mulai?

Sejauh mana dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus dituntun?

Apakah dia memiliki integritas dalam bertindak?


Bagi seorang ayah, prestasi karakter jauh lebih krusial daripada sekadar prestasi nilai. Karakter adalah fondasi yang akan membuat seorang anak mampu bertahan hidup dan meneruskan jejak ayahnya di masa depan.


Membentuk mentalitas anak agar tangguh, jujur, dan mandiri adalah "urusan" bapak yang utama. Bapak mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang keras, bukan sekadar menghadapi ujian di kelas. 


Itulah sebabnya, mengambil raport idealnya dilakukan bersama-sama. Ibu memantau progres kognitifnya, sementara bapak memastikan "pilar-pilar" manusianya tetap tegak.


Jangan biarkan bapak sendirian di sekolah, karena saat ditanya guru tentang nilai, kami mungkin bingung. Tapi jika ditanya soal mentalitas anak, kami punya jawaban sepanjang hari.


 



Pemandangan sehari-hari di sudut-sudut kota kita sering menyuguhkan sebuah dikotomi visual yang menarik mengenai pola konsumsi.


​Di satu sisi, kita melihat Warteg (Warung Tegal) atau rumah makan sederhana pinggir jalan yang selalu ramai, didominasi oleh para laki-laki. Mereka mungkin mengenakan kemeja lusuh, seragam kerja, atau pakaian kasual yang terlihat sudah lama, menyantap makan siang dengan cepat dan tanpa banyak bicara. Di sisi lain, kita menyaksikan deretan kafe kopi estetik atau gerai jajanan viral yang dipenuhi antrian panjang, dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan.


​Jika dilihat sekilas, mungkin muncul anggapan bahwa perempuan-perempuan ini memiliki daya beli yang lebih tinggi. Namun, realitasnya seringkali jauh lebih kompleks, dan seperti yang Anda catat, bukan berarti perempuan lebih kaya. Perbedaan ini tampaknya berakar pada peran sosial, prioritas keuangan, dan beban psikologis yang tak terucapkan.


​Pengamatan mengenai laki-laki, terutama di usia 30 hingga 40-an, sangatlah tajam. Pada usia ini, laki-laki seringkali berada di puncak tanggung jawab—sebagai anak, suami, dan ayah.


​Penampilan Sederhana dan Hidup Hemat yang mereka tunjukkan bukanlah cerminan dari kemiskinan, melainkan sebuah keputusan finansial yang disadari. Mereka adalah garda terdepan stabilitas ekonomi keluarga.


Sederhananya baju dan iritnya pengeluaran pribadi adalah hasil dari matematika pengorbanan, setiap rupiah yang dihemat dari kafein mahal atau pakaian branded dialokasikan untuk pilar-pilar penting kehidupan.


​Bangun tidur, pikiran mereka dipenuhi dengan daftar tugas tak kasat mata, memastikan orang tua yang menua memiliki perawatan dan kehidupan yang layak, merencanakan biaya sekolah, kursus, hingga dana pendidikan tinggi, menjaga agar dapur tetap berasap, cicilan terbayar, dan rumah tangga berjalan harmonis.


​Seringkali juga, mereka merasa harus menjadi jangkar emosional, menjaga perasaan dan memastikan kebahagiaan pasangan.


​Warteg dan warung pinggir jalan bagi laki-laki ini bukan sekadar tempat makan; ia adalah simbol efisiensi maksimum. Makanan cepat, mengenyangkan, dengan harga yang paling ekonomis. Sementara kafe mungkin menawarkan experience dan social currency yang penting (dan memang layak) bagi perempuan dan generasi muda, Warteg menawarkan subsistence yang memungkinkan dana sisa dialirkan ke kebutuhan primer keluarga. Laki-laki di Warteg adalah potret kesetiaan diam pada tanggung jawab.


Laki-laki hampir tak pernah mengucapkannya, Inilah inti dari beban tersebut. Budaya seringkali menuntut laki-laki untuk menjadi pilar yang kokoh, tidak mengeluh, dan memikul beban dengan diam. Mereka menyembunyikan kecemasan tentang masa depan, kelelahan mental, dan kerinduan akan kemewahan kecil di balik raut wajah yang terlihat cuek atau sibuk. Kepuasan mereka ditarik dari kebahagiaan kolektif orang-orang yang mereka tanggung, bukan dari pemenuhan hasrat pribadi.


​Perbedaan cara melihat isi yang datang antara Warteg dan kafe adalah sebuah cerminan sosial yang menyentuh. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap pilihan konsumsi yang berbeda, terdapat perhitungan, pengorbanan, dan beban tanggung jawab yang dipikul secara tidak setara dan seringkali dalam kesunyian.


 


Minggu pagi di Sudirman bukan sekadar ajang olahraga, ini adalah runway. Dan pagi ini, saya adalah model utamanya.


Bayangkan visualnya, Kacamata sport minus (biar tatapan tajam tak terlihat saat ngos-ngosan).


Sepatu merk ala ala  harga UMR last call pula (padahal lari cuma napak, nggak mental).Outfit: Full anak lari atas bawah, lengkap dengan hydration vest padahal cuma lari dari Patung Kuda ke Bundaran HI.


Secara tampilan? Atlet Pelatnas.

Secara realita? Pace 10 (zona nyaman alias jalan cepat berkedok lari).


Saya berlari dengan teknik "shuffle" halus. Kaki diseret dikit biar kelihatan low impact, padahal aslinya sudah low energy. Di kiri kanan, pelari pace 5 melesat wus-wus. Saya tetap tenang. Trust the process, kata motivator lari.


Masuk kilometer ke-8, napas sudah senin-kamis. Keringat bukan lagi menetes, tapi mengalir deras membasahi jersey ini. Mata mulai berkunang-kunang, sampai akhirnya saya melihat cahaya ilahi di pinggir jalan dekat halte busway Karet Sudirman.


Bukan, bukan tukang bubur.

Itu adalah booth jenama minuman isotonik dengan spanduk besar yang melambai-lambai indah:

"GRATIS T-SHIRT EKSKLUSIF BAGI YANG MENUNJUKKAN STRAVA LARI 10K HARI INI!"

Darah saya mendidih. Adrenalin yang tadinya tidur, mendadak bangun dan menampar wajah saya.

"Tinggal 2 kilo lagi, Boy! Sikat!" batin saya berteriak.


Seketika pace saya naik... jadi pace 9:50. Speeding dikit. Saya terjang kerumunan orang yang lagi foto-foto, saya salip mas-mas yang lagi dorong sepeda. Di otak saya cuma ada satu visual: Saya, berdiri gagah di booth, pamer data Strava, dan pulang bawa kaos gratis.


Kilometer 9... napas ngik-ngik.

Kilometer 9.5... betis menjerit.

Kilometer 10! FINISH!


Saya berhenti tepat 100 meter dari booth tersebut. Tangan di pinggang, dada dibusungkan (biar kelihatan pro yang baru cooling down). Dengan penuh percaya diri, saya berjalan ke arah mbak-mbak SPG yang tersenyum ramah.


"Halo Mas, mau klaim kaos? Boleh lihat Stravanya, minimal 10K ya," sapa si Mbak.

"Aman, Mbak. Ini easy run doang kok," jawab saya dengan nada sedikit pongah sambil mengangkat pergelangan tangan kiri.


Saya tekan tombol stop di smartwatch saya.

Saya tekan save.

Layar loading sebentar... dan muncullah ringkasan lari saya hari ini.


Hening.

Dunia berhenti berputar.

Suara bising CFD mendadak senyap.


Di layar jam itu, tidak ada peta rute cacing hijau khas Sudirman. Tidak ada garis oranye rute lari.

Yang ada hanya angka "10.02 km" dengan ikon kecil bergambar orang lari... di atas mesin.

Di pojok atas layar tertulis dengan jelas, polos, dan menyakitkan:


"TREADMILL MODE"


Muka saya pucat. Lebih pucat dari saat lari tadi. Rupanya, saat start tadi pagi, jari jempol saya yang chubby ini salah pencet profil olahraga.


"Mas? Mana petanya? Kalau mode treadmill atau indoor nggak bisa kami validasi soalnya nggak ada GPS-nya," tanya si Mbak, masih tersenyum, tapi senyumnya kini terasa seperti pisau yang menyayat hati.


Saya menatap jam. Menatap mbaknya. Menatap spanduk kaos gratis itu.

Lalu pelan-pelan menurunkan tangan.

"Eh... anu Mbak. Baterainya habis. Hehe. Makasih ya."

Saya mundur teratur, menyatu dengan kerumunan, pulang dengan outfit basah kuyub dan hati yang hancur lebur seharga gorengan dingin.




Dunia media sosial kita memang aneh sekaligus menakjubkan. Sebuah kejadian di gerbong kereta api, yang bermula dari kelalaian penumpang dan kesigapan petugas, tiba-tiba bermutasi menjadi studi kasus marketing yang menarik.


Kita semua sudah mendengar ceritanya: Seorang wanita kehilangan tas, sang suami memviralkan kejadian tersebut dengan narasi yang menyudutkan, dan seorang petugas security stasiun (yang sebenarnya mengamankan tas tersebut) malah menjadi tertuduh karena satu item yang diklaim hilang.


Namun, di tengah riuh rendah perdebatan siapa yang salah dan benar, ada satu pemenang tak terduga yang diam-diam tersenyum di pojok ruangan: Kopi Tuku.


Yang membuat kasus ini unik bukanlah tas branded atau dompet berisi jutaan rupiah yang menjadi sorotan utama, melainkan sebuah Tumbler Kopi Tuku.


Ketika netizen mulai membedah kronologi dan narasi sang suami yang mempermasalahkan hilangnya tumbler tersebut, fokus publik bergeser. Tiba-tiba, tumbler ini bukan lagi sekadar wadah air minum. Ia berubah menjadi "objek hasrat" yang begitu berharga sampai-sampai pemiliknya rela memviralkan kejadian ini demi mendapatkannya kembali.


Secara tidak sadar, drama ini mengirimkan sinyal psikologis yang kuat ke alam bawah sadar publik: "Sebagus apa sih tumbler Tuku itu sampai segitu pentingnya?"


Inilah yang disebut sebagai Accidental Marketing atau pemasaran yang tidak disengaja. Kopi Tuku mendapatkan eksposur media (earned media) yang nilainya mungkin setara dengan ratusan juta rupiah biaya iklan, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Mengapa momen viral ini menjadi kemenangan telak bagi salah satu brand kopi yang bisa disebut telah lama malang melintang di dunia perkopian tanah air?


Saat seseorang meributkan barang yang hilang, secara otomatis audiens menganggap barang tersebut bernilai tinggi. Drama ini secara tidak langsung menaikkan prestis dari merchandise Tuku. Tumbler itu bukan barang murahan; itu adalah barang yang "layak diperjuangkan".


Konsumen zaman sekarang skeptis terhadap iklan berbayar (Paid Ads). Namun, kasus ini adalah User Generated Content (UGC) yang paling murni. Tidak ada naskah, tidak ada brief dari agensi iklan. Emosi pemilik tas yang merasa kehilangan adalah testimoni paling jujur tentang keterikatan konsumen dengan brand tersebut.


Bagi mereka yang belum punya, rasa penasaran pun muncul. "Oh, ternyata tumbler Tuku itu iconik ya?" Viralitas ini menciptakan urgensi baru bagi pasar untuk melirik produk-produk merchandise kedai kopi tersebut.


Kasus "Tumbler yang Hilang" ini menggambarkan bahwa brand loyalty (kesetiaan merek) adalah aset yang tak ternilai. Kopi Tuku telah berhasil membangun cult following di mana produk mereka bukan sekadar kopi atau botol minum, melainkan bagian dari gaya hidup dan identitas personal pelanggannya.


Tentu, kita bersimpati pada petugas kereta yang sempat tersudut—dan syukurnya kini banyak dibela oleh netizen yang waras. Namun dari kacamata bisnis, fenomena ini adalah bukti bahwa marketing terbaik seringkali tidak lahir di ruang rapat yang dingin, melainkan dari drama kehidupan sehari-hari yang tak terduga.


Bagi Kopi Tuku, ini adalah jackpot. Mereka hanya perlu duduk manis, menyeduh kopi, dan melihat brand awareness mereka melesat naik, didorong oleh sebuah drama kereta api yang tak pernah mereka skenariokan.






Dulu, meja kopi di sudut kantor itu adalah saksi bisu. Di sana, kita bukan sekadar rekan kerja yang berbagi kubikel; kita adalah sekutu. Tempat kita bertukar isi kepala, menertawakan absurditas birokrasi, hingga merancang mimpi-mimpi kecil untuk masa depan. Kamu adalah pendengar yang baik, dan aku (semoga) adalah penyeimbang yang cukup layak bagimu.


​Lalu tibalah hari itu. Kamu memutuskan untuk berkemas. Sebuah langkah wajar untuk mencari tantangan baru atau sekadar udara yang lebih segar. Kita berpelukan, berjanji bahwa frekuensi pertemuan mungkin berkurang, tapi kualitasnya tak akan hilang.


​Namun, aku salah.

​Bukan jarak fisik yang kini membentang di antara kita, melainkan sebuah jurang persepsi yang kau gali perlahan-lahan.


​Masalahnya bukan karena kamu kini berada di "kolam" yang berbeda. Sah-sah saja orang berpindah tempat. Masalahnya ada pada bagaimana kamu kini memandang kolam lama yang pernah membesarkanmu—kolam tempatku masih bertahan.​Setiap kali kita bertemu atau bertukar pesan, ada nada bicara yang berubah. 


Sensitivitasmu menumpul. Kamu tidak lagi bertanya "Apa kabar?" untuk mendengar ceritaku, melainkan sebagai pintu masuk untuk membandingkan nasib.

​Perhatian itu telah bergeser. Dulu kita berdiskusi untuk mencari solusi bersama, kini narasi yang kau bawa terasa seperti kuliah satu arah.


​Secara implisit, tanpa kata-kata kasar atau vulgar, kamu membangun tembok. Lewat senyum simpulmu saat aku menceritakan kendala di kantor lama, lewat saran-saranmu yang terdengar "menggurui" alih-alih "memahami", kamu mengirimkan pesan yang jelas:

​"Lihatlah aku. Aku sudah selamat. Sementara kamu? Kamu masih berkubang di sana."


​Kamu seolah melukiskan tempatku berdiri sekarang sebagai kolam yang airnya tak lagi mengalir. Berlumut. Penuh bakteri. Tempat yang tidak sehat bagi jiwa-jiwa yang ingin maju—sepertimu.


​Ada kepongahan halus di sana. Sebuah keyakinan buta bahwa keputusanmu untuk pergi adalah satu-satunya kebenaran mutlak, dan keputusanku untuk bertahan adalah sebuah kebodohan yang menyedihkan. Kamu seakan lupa, bahwa di kolam yang kau sebut "berlumut" ini, kita pernah tumbuh bersama. Bahwa bakteri yang kau jijikan itu, dulunya adalah ekosistem yang menempa mentalmu hingga kau berani melangkah keluar.


​Sikapmu bukan lagi seperti teman, melainkan seperti seorang nabi yang baru turun dari gunung membawa wahyu, memandang iba pada umatnya yang masih tersesat di lembah.

​Itu menyakitkan, Kawan. 


Bukan karena aku iri dengan kolam barumu yang mungkin lebih jernih atau luas. Tapi karena kau kehilangan kemampuan untuk menghargai pilihan orang lain. Kau lupa bahwa setiap orang punya zona waktu dan medannya sendiri.


​Mengajak orang lain untuk maju itu mulia. Namun, merasa bahwa jalanmu adalah satu-satunya jalan terbaik, sambil merendahkan tempat pijakan orang lain secara halus, adalah bentuk narsisme terselubung.


​Pada akhirnya, aku turut bahagia kau menemukan air yang lebih jernih. Namun, tolong simpan rasa kasihan itu. Karena di sini, di kolam yang kau anggap keruh ini, aku masih bernapas, masih berjuang, dan yang terpenting—aku masih menghargai teman tanpa merasa lebih tinggi darinya.