Siang itu, suasana di ruang helpdesk penyuluh pajak terasa cukup padat. Di salah satu sudut, seorang Wajib Pajak duduk dengan raut wajah yang sedikit lelah. Beliau adalah seorang dokter sukses, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan sesama.
Namun, hari ini, bukan stetoskop yang ia pegang, melainkan tumpukan kertas dan data digital di layar Coretax.
"Mas, kenapa banyak sekali ya bukti potongnya?" keluhnya sambil menunjukkan daftar panjang transaksi. "Saya harus meneliti ini satu-satu? Dari RS A, RS B, klinik C, sampai honor narasumber. Rumit sekali kalau harus dicocokkan semua."
Penyuluh tersenyum tenang, membantu menarik data otomatis yang tersedia di sistem.
Namun, di balik percakapan teknis tentang tarif dan kredit pajak, ada sebuah kebenaran yang lebih besar yang sedang bermanifestasi.
Hikayat Tentang "Kepemilikan".
Kesulitan sang dokter dalam memverifikasi setiap rupiah yang ia terima adalah pengingat nyata akan sebuah janji spiritual
Bahwa setiap kenikmatan akan ditanya dari mana asalnya dan untuk apa digunakannya.
Dunia mengenal beliau sebagai orang hebat dengan penghasilan melimpah.
Namun, di meja itu, kelimpahan tersebut berubah menjadi "beban" administratif. Semakin banyak sumber penghasilannya, semakin tebal daftar bukti potongnya, dan semakin lama waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikannya.
Ini adalah prototipe dari apa yang digambarkan dalam literatur hikayat tentang hari akhir:
Si Miskin yang tak punya apa-apa akan melenggang masuk dengan cepat karena tak ada yang perlu diperiksa.
Si Kaya, meski hartanya halal dan bermanfaat, harus berhenti lama di "gerbang pemeriksaan" untuk mempertanggungjawabkan setiap detailnya.
Tumpukan bukti potong itu bukan sekadar angka. Ia adalah simbol amanah. Sang dokter sedang diajarkan—dan kita yang melihatnya pun ikut tersadar—bahwa setiap tambahan aset di dunia ini membawa konsekuensi "pemeriksaan" yang lebih panjang.
Jika di dunia saja, dengan sistem Coretax yang sudah membantu mengotomasi data, kita masih merasa lelah dan rumit untuk menelitinya, lantas bagaimana dengan hisab di hari ketika tidak ada satu pun yang terlewatkan?
"Dunia ini halalnya adalah hisab, dan haramnya adalah azab."
Maka, setiap kali kita merasa lelah mengurus administrasi duniawi atas harta kita, biarlah itu menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati dalam mencarinya.
Agar kelak, meski antrean hisab kita panjang karena banyaknya titipan-Nya, kita punya jawaban yang menyelamatkan atas setiap baris "bukti potong" kehidupan kita.



0 komentar:
Posting Komentar
Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.