Cinta Di Atas Cinta

 


Pernahkah merasa mencintai lawan jenismu padahal dia masih belum menjadi muhrimmu? 

Bagi kalangan ikhwah dan atau yang telah tertarbiyah ini merupakan hal yang amat sangat dihindari, karena satu pintu zina bila telah terbuka maka pintu zina yang lain akan terbuka. Karena zina sesungguhnya adalah dimulai dari hati.

Mendapat suri tauladan indah dari seorang laki-laki mulia Bani Umayyah, Umar ibn Abdul Aziz r.a. Sebuah penggal dari kehidupannya yang menceritakan betapa cintanya tak pernah kandas pada seorang wanita yang bukan menjadi istrinya. 

Pernah juga kisah ini diceritakan oleh ust. Anis Matta dalam serial kepahlawanannya. Namun tak salah bila kuulangi kisah ini menggambarkan betapa cinta itu karuniaNYA dan tak akan pernah kandas.

Bermula dari seorang laki-laki ‘borju’ tetapi alim yang harus menunda shalat berjamaahnya hanya karena masih menyisir rambut. Kisah perbaikan diri seorang manusia yang hanya berlangsung dua tahun lima bulan saja. Dan ia berhasil menggelar kemakmuran, kejayaan dan nuansa kehidupan ala Khulafaur Rasyidin.


Ada pernah suatu ketika Umar ibn Abdul aziz jatuh hati pada seorang gadis. Hanya, Fathimah binti Abdul Malik, putri sang paman yang saat itu mendampingi hari-harinya sebagai isteri belum mengijinkan Umar menikahi gadis itu. 

Cinta itu tetap ada, dan menyala, meski api belum betemu sumbunya. Sepeninggal keinginannya itu puncak pengorbanan pada diri Umar menghampiri. Dimulai dari fisik yang anjlok, tanpa istirahat, tanpa gizi memadai, tanpa jeda tuk sekedar tertawa. Dihabiskannya hari-harinya untuk kejayaan umat, rakyat yang dipimpinnya dan negerinya yang elok rupawan.


Seperti jawaban Muzahim, budak sekaligus perdana menterinya saat umar bertanya,  

“bagaimana kondisi kaum muslimin pagi ini?”

Muzahim tersenyum .”Semua kaum muslimin dalam kondisi sangat baik wahai amirul mu`minin..., kecuali saya, anda, dan baghal tunggangan anda ini!”, begitu katanya.


Kemudian di tumpukan laktat perjuangannya Fathimah yang merindukan senyum di wajah umar datang membawa gadis itu untuk dinikahi umar. Ya, gadis itu, gadis yang sangat dicintainya dulu, begitupun sebaliknya. 

Nyala cinta itu berbinar, merajut kembali sumbu harapan, membirukan warna romantika dikelelahan warna hatinya. Tetapi cinta semasa dan cinta besar perubahan bertemu atau bertarung. 

Dan di sini di pelataran hati sang khalifah. Ajaib, Umar justru menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.


Tak ada cinta yang mati disini, karena sebelum meninggalkan kediaman Umar, gadis itu bertanya sendu,

"Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?”

 
Umar bergetar haru, ada sesak didadanya,  

“ Cinta itu masih ada....” ia menjawab. “ bahkan kini rasanya jauh lebih dalam...”

 
Cinta Umar adalah cinta di atas cinta, bukan cinta yang kandas oleh kehinaan seorang hamba.Cinta itu lebih besar namun bersarang di dada yang lebih lapang pula. 


-ref : ABCP by salim a. fillah- 

1 komentar:

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.