Tampilkan postingan dengan label rangkaian kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rangkaian kata. Tampilkan semua postingan


17 April 2026


Ada satu kebiasaan yang sepertinya sudah menjadi "kulit kedua" bagiku sejak menginjakkan kaki di kota ini: memakai earphone. Ke mana pun kaki melangkah, bahkan hanya untuk perjalanan rutin ke kantor, benda kecil itu selalu menyumbat telinga. Awalnya, ia adalah benteng. Musik menjadi dinding yang melindungiku dari rasa asing di tempat yang belum kukenal.


Namun, akhir-akhir ini aku mulai merasa ada yang keliru. Ada sesuatu yang hilang saat dentum musik memenuhi kepala.


Aku menyadari bahwa ketika earphone terpasang, salah satu inderaku seolah terpasung. Memang benar, aku bisa mendengar melodi favorit, tapi di saat yang sama, input dunia di sekitarku terhenti. Aku menjadi sosok yang kaku dan tidak responsif. Aku melihat bibir orang bergerak tapi tak mendengar suaranya, aku melihat kendaraan melintas tanpa derunya. Lama-kelamaan, rasanya seperti membeku di tengah keramaian. Aku ada di sana, tapi jiwaku terisolasi dalam frekuensi yang kupilih sendiri.


Pagi ini, aku memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda. Kubuka earphone itu, kubiarkan ia tergantung mati di leher.


Seketika, dunia seperti meledak terbuka.


Tiba-tiba saja, aku mendengar semuanya. Suara langkah kaki yang bersahutan di trotoar, gemericik air dari pancuran di taman kota, hingga teriakan khas penjaja asongan yang menawarkan dagangannya. Semua suara itu menyerbu masuk tanpa filter. Ya, memang bising. Sangat bising jika dibandingkan dengan playlist akustik yang biasa kudengar.


Namun, ada harmoni yang aneh di sana. Kebisingan itu adalah tanda kehidupan; sebuah simfoni alam perkotaan yang selama ini sengaja kubisukan. Ternyata, menjadi responsif terhadap sekitar—termasuk pada suara-suara yang tak terduga—membuatku merasa lebih "hidup" dan hadir sepenuhnya. Kota ini tidak lagi terasa seperti latar film bisu, melainkan sebuah ruang yang bernapas, dan aku akhirnya menjadi bagian di dalamnya.


Keputusan kemarin ternyata membawa sisa-sisa pemikiran yang cukup dalam pagi ini. Aku duduk di bangku taman sebentar sebelum masuk ke lobi kantor, mencoba mencerna transisi ini.


Selama ini aku mengira bahwa dengan menutup telinga, aku sedang melakukan self-care—menjaga kewarasan dari polusi suara kota yang brutal. Tapi aku keliru menafsirkan ketenangan. Tenang bukan berarti kedap suara; tenang adalah ketika kita mampu berada di tengah hiruk-pikuk tanpa merasa terancam olehnya.

 

Ada semacam kepekaan yang mulai tumpul saat aku terlalu lama "bersembunyi" di balik teknologi. Tanpa suara latar dari musik, aku dipaksa untuk kembali belajar membaca situasi. Aku mendengar nada bicara orang yang sedang terburu-buru, aku menangkap decit rem yang memperingatkanku untuk waspada, bahkan aku mendengar sapaan kecil dari petugas keamanan yang selama ini hanya kubalas dengan anggukan kaku karena telingaku tertutup.


Ternyata, saat indera pendengaran terbebas, indera yang lain ikut terbangun. Mataku jadi lebih awas melihat detail arsitektur bangunan, penciumanku lebih peka pada aroma kopi dari kedai di pojokan, dan langkah kakiku terasa lebih ringan, lebih sinkron dengan irama trotoar.


Aku tidak lagi merasa seperti robot yang bergerak di atas rel menuju kantor. Aku merasa seperti manusia yang sedang berinteraksi dengan ruang. Ada keberanian baru yang tumbuh dari hal sederhana ini: keberanian untuk tidak merasa perlu selalu terhibur atau teralihkan.


Mungkin, gaya hidup yang selama ini kuanggap modern dan efisien sebenarnya hanyalah cara untuk lari dari kenyataan yang ada tepat di depan mata. Hari ini, aku memilih untuk tetap "terbuka". Membiarkan kebisingan kota menjadi musik latarku, dan membiarkan diriku sendiri menjadi konduktor bagi pengalaman-pengalaman kecil yang selama ini terlewatkan.


Dunia ini terlalu luas untuk dinikmati hanya lewat satu frekuensi kabel saja.





 11 April 2026


Hari ini ditutup dengan perasaan yang sedikit... mengganjal. Seperti ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari tenggorokan, tapi tertahan oleh gengsi atau mungkin rasa takut yang aku ciptakan sendiri.


Aku sadar, aku punya kebiasaan aneh. Aku suka sekali mengirim pesan tentang hal-hal sepele. sendalnya bagus, enak buat jalan-jalan, atau Kopi hari ini rasanya lebih pahit dari biasanya. Aku melakukannya bukan karena dia perlu tahu, tapi lebih karena aku ingin merasa diriku masih "ada" di sela-sela harinya. Aku ingin memastikan namaku masih muncul di notifikasi ponselnya, meski hanya sebagai distraksi kecil.


Tapi lucunya, di balik rentetan cerita receh itu, aku justru menutup rapat pintu untuk hal-hal yang benar-benar penting.


Gundah, gelisah, atau tekanan pekerjaan yang rasanya mau meledakkan kepala? Aku simpan sendiri. Rasa sakit yang terkadang bikin sesak? Aku telan bulat-bulat. Bodoh memang. Aku punya alasan yang terdengar mulia di kepalaku: "Aku nggak mau bikin dia cemas." Tapi jujur saja, itu cuma kedok. Sebenarnya aku cuma nggak siap kalau harus terlihat lemah di depannya.


Terkadang berat sekali menjalani semuanya sendirian. Ada saatnya aku menatap layar ponsel, ingin mengetik, "Aku nggak oke hari ini," tapi jariku berhenti. Aku malah mengetik, "Tadi makan siang enak banget, lho!"


Siapa, sih, yang nggak mau dimanja? Siapa yang nggak ingin sesekali jadi pihak yang ditenangkan tanpa harus diminta? Tapi setelah kupikir-pikir lagi, berharap dia akan peka dan memberiku "ruang manja" itu rasanya seperti mengejar mimpi di siang bolong.


Dia memang bukan tipe orang yang punya kapasitas untuk itu. Atau mungkin, akulah yang tidak pernah memberinya kunci untuk masuk ke ruang gelapku.


Penyesalan itu datang sekarang. Aku lelah berpura-pura kuat, tapi aku juga terlalu takut untuk memulai kejujuran. Akhirnya, aku terjebak dalam siklus menceritakan hal-hal kecil, sambil memikul beban besar yang pelan-pelan mulai membuat pundakku pegal.


Mungkin besok aku akan mencoba jujur. Atau mungkin tidak. Entahlah.


***


Aku baru sadar, masalahnya bukan cuma pada ketidakterbukaanku. Masalah utamanya jauh lebih dalam: aku mencintainya dengan cara yang hampir menghancurkan.


Rasanya konyol kalau dipikir-pikir. Aku sudah tahu betapa beratnya memikul segalanya sendirian, tapi melepaskannya pun rasanya jauh lebih tidak mungkin. Aku sudah terlanjur jatuh terlalu dalam, sampai batas antara "mencintai" dan "menyakiti diri sendiri" itu jadi kabur.


Aku jadi teringat filosofi lilin. Mungkin itu analogi yang paling tepat untuk posisiku sekarang. Aku rela membakar diriku sendiri, membiarkan sumbuku habis dan tubuhku luluh lantak perlahan-lahan, asalkan seluruh ruangannya tetap terang. Asalkan dia tetap merasa hangat dan nyaman, meski untuk itu aku harus perlahan menghilang ditelan lelehan perasaanku sendiri.


Ada rasa sakit yang aneh di sana—semacam kepuasan yang menyedihkan karena bisa menjadi orang yang selalu ada, meskipun aku sendiri sedang hancur.


Aku tahu, lilin yang terus terbakar pada akhirnya akan padam dan hanya menyisakan bekas kerak yang dingin. Tapi untuk saat ini, melihat dia tidak perlu merasakan kegelapan yang aku rasakan sudah cukup bagiku. Biarlah aku yang habis, asalkan dia tetap bisa melihat jalannya dengan jelas.


Benar-benar definisi mencintai yang melelahkan. Tapi ya, inilah aku. Masih di sini, masih menyala, meski sudah hampir rata dengan alas.


***


Di sela-sela pengorbanan yang kuanggap mulia ini, ada sisi hitam yang seringkali enggan kuakui. Aku sangat berharap dia bisa mengikuti semua kemauanku. Aku ingin dia ada di sini, sesuai caraku, sesuai standarku. Tapi kemudian aku tersadar bahwa harapanku itu seringkali terlalu mengada-ada.


Kemauanku itu seperti matahari. Aku ingin menyinarinya, melindunginya dari gelap, tapi aku lupa bahwa sinarku terkadang terlalu terik hingga justru membakar apa pun yang kusentuh. Aku ingin memiliki, tapi caranya menghanguskan. Aku ingin dia bahagia, tapi harus dengan cara yang aku tentukan.


Sulit sekali rasanya berdiri di tengah-tengah. Egoku ternyata setinggi itu, cukup tinggi untuk membuatku buta dan abai bahwa dia juga punya ruang sendiri. Aku terlalu fokus pada bagaimana cara mencintainya, sampai aku lupa bertanya apakah cara mencintaiku ini justru membuatnya sesak.


Logika dan ego terus berperang, tapi pada akhirnya, hatiku yang keras kepala ini tetap berujung pada satu pinta yang sama.


Tuhan, aku tidak minta banyak lagi. Jika memang aku egois, biarlah ini jadi permintaan egois terakhirku: cukup tetapkan saja umurku agar sampai pada titik di mana aku bisa merengkuhnya kembali. Aku ingin waktu yang cukup untuk memperbaikinya, untuk memeluknya sepanjang hari, sepanjang masa, dan selamanya.


Aku hanya ingin kesempatan untuk sekali lagi berada di dekatnya, tanpa harus membakar, tanpa harus menjadi lilin yang habis. Hanya aku, dia, dan keabadian yang tidak lagi menyakitkan.


-Titik-





Malam ini, aroma Oud wood yang dia belikan untukku menyeruak mendadak membawaku kembali ke satu sore di Mekkah. Ada satu kenangan yang tersimpan rapat, bukan tentang megahnya menara jam, tapi tentang debar jantung yang hampir lepas di antara lautan manusia.


Hilang di Balik Putih Ihram


Semuanya bermula tepat setelah kami menyelesaikan rangkaian umrah. Tubuh terasa lelah namun ringan, sampai akhirnya ia pamit sebentar menuju area kamar mandi di bawah tanah. Aku berdiri di sana, bersandar pada pilar marmer yang dingin, menatap ribuan orang berbalut kain putih yang berlalu-lalang layaknya ombak.


Satu jam berlalu. Kekhawatiran mulai merayap seperti hawa dingin di lantai masjid. Setiap kali ada sosok yang menyerupainya, jantungku berdegup kencang, lalu luruh kembali saat menyadari itu bukan dia.


Panggilan yang Menggetarkan


Ketika akhirnya sambungan telepon terhubung, suaranya terdengar kecil di antara riuh talbiyah dan doa.

 

"Aku tersesat... aku tidak tahu ada di pintu nomor berapa. Semuanya terlihat sama."


Hanya itu. Singkat, namun cukup untuk membuat duniaku terasa runtuh seketika. Masjidil Haram sore itu terasa ribuan kali lebih luas dari biasanya. Setiap sudut, setiap tangga, dan setiap pintu seolah menjadi labirin tanpa ujung yang menyembunyikannya dariku.


Temu di Lintasan Sa'i


Dua jam aku berkeliling, mengabaikan letih di kaki yang mulai memar. Aku mencarinya di antara kerumunan jalur Tawaf hingga ke perluasan masjid yang baru. Sampai akhirnya, di sebuah sudut di area Sa'i, dekat bukit Marwah, aku melihatnya.


Ia duduk sendirian, tampak begitu kecil di tengah kemegahan bangunan itu. Saat matanya bertemu denganku, ada kelegaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


Pelukan di Tanah Suci


Aku menghampirinya, meraih jemarinya yang terasa dingin dan sedikit gemetar. Tidak ada amarah karena menunggu lama, yang ada hanya rasa syukur yang membuncah. Di sela riuh rendah langkah kaki jamaah lain, aku memeluk rasa takutnya erat-erat.


"Jangan jauh-jauh lagi," bisikku.


Di bawah naungan kubah Masjidil Haram, kami saling bertukar janji dalam diam. Bahwa di belahan bumi mana pun kami berada nanti, sejauh apa pun langkah kaki membawa pergi, kami tidak akan pernah membiarkan satu sama lain tersesat sendirian lagi.



Saya mungkin termasuk salah satu bapak yang terang-terangan mengaku tidak setuju jika bapak-bapak diminta mengambil raport anak sendirian. Bukannya malas atau tidak peduli, tapi mari kita bicara jujur tentang pembagian peran dalam keluarga.


Rata-rata bapak, termasuk saya, seringkali merasa "asing" di hadapan deretan nilai akademis. Bagi kami, angka 80, 90, atau fluktuasi nilai matematika adalah domain ibunya. 


Mengapa? Karena ibulah yang biasanya mendampingi proses belajar harian, yang tahu perjuangan anak menghafal rumus, dan yang paling fasih memberikan apresiasi emosional atas pencapaian akademis tersebut.


Jika bapak dipaksa maju sendirian, percakapan dengan guru seringkali menjadi kaku karena fokus kami memang tidak di sana.


Bapak-bapak punya "radar" yang berbeda. Saat membuka buku raport, mata kami tidak mencari nilai Matematika atau Bahasa Inggris terlebih dahulu. Kami lebih tertarik pada catatan wali kelas mengenai:


Apakah anak saya menghargai waktu?

Apakah dia menyelesaikan apa yang dia mulai?

Sejauh mana dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus dituntun?

Apakah dia memiliki integritas dalam bertindak?


Bagi seorang ayah, prestasi karakter jauh lebih krusial daripada sekadar prestasi nilai. Karakter adalah fondasi yang akan membuat seorang anak mampu bertahan hidup dan meneruskan jejak ayahnya di masa depan.


Membentuk mentalitas anak agar tangguh, jujur, dan mandiri adalah "urusan" bapak yang utama. Bapak mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang keras, bukan sekadar menghadapi ujian di kelas. 


Itulah sebabnya, mengambil raport idealnya dilakukan bersama-sama. Ibu memantau progres kognitifnya, sementara bapak memastikan "pilar-pilar" manusianya tetap tegak.


Jangan biarkan bapak sendirian di sekolah, karena saat ditanya guru tentang nilai, kami mungkin bingung. Tapi jika ditanya soal mentalitas anak, kami punya jawaban sepanjang hari.


 


Pernahkah merasa mencintai lawan jenismu padahal dia masih belum menjadi muhrimmu? 


Bagi kalangan ikhwah dan atau yang telah tertarbiyah ini merupakan hal yang amat sangat dihindari, karena satu pintu zina bila telah terbuka maka pintu zina yang lain akan terbuka. Karena zina sesungguhnya adalah dimulai dari hati.


Mendapat suri tauladan indah dari seorang laki-laki mulia Bani Umayyah, Umar ibn Abdul Aziz r.a. Sebuah penggal dari kehidupannya yang menceritakan betapa cintanya tak pernah kandas pada seorang wanita yang bukan menjadi istrinya. 


Pernah juga kisah ini diceritakan oleh ust. Anis Matta dalam serial kepahlawanannya. Namun tak salah bila kuulangi kisah ini menggambarkan betapa cinta itu karuniaNYA dan tak akan pernah kandas.


Bermula dari seorang laki-laki ‘borju’ tetapi alim yang harus menunda shalat berjamaahnya hanya karena masih menyisir rambut. Kisah perbaikan diri seorang manusia yang hanya berlangsung dua tahun lima bulan saja. Dan ia berhasil menggelar kemakmuran, kejayaan dan nuansa kehidupan ala Khulafaur Rasyidin.



Ada pernah suatu ketika Umar ibn Abdul aziz jatuh hati pada seorang gadis. Hanya, Fathimah binti Abdul Malik, putri sang paman yang saat itu mendampingi hari-harinya sebagai isteri belum mengijinkan Umar menikahi gadis itu. 


Cinta itu tetap ada, dan menyala, meski api belum betemu sumbunya. Sepeninggal keinginannya itu puncak pengorbanan pada diri Umar menghampiri. Dimulai dari fisik yang anjlok, tanpa istirahat, tanpa gizi memadai, tanpa jeda tuk sekedar tertawa. Dihabiskannya hari-harinya untuk kejayaan umat, rakyat yang dipimpinnya dan negerinya yang elok rupawan.



Seperti jawaban Muzahim, budak sekaligus perdana menterinya saat umar bertanya,  


“bagaimana kondisi kaum muslimin pagi ini?”


Muzahim tersenyum .”Semua kaum muslimin dalam kondisi sangat baik wahai amirul mu`minin..., kecuali saya, anda, dan baghal tunggangan anda ini!”, begitu katanya.



Kemudian di tumpukan laktat perjuangannya Fathimah yang merindukan senyum di wajah umar datang membawa gadis itu untuk dinikahi umar. Ya, gadis itu, gadis yang sangat dicintainya dulu, begitupun sebaliknya. 


Nyala cinta itu berbinar, merajut kembali sumbu harapan, membirukan warna romantika dikelelahan warna hatinya. Tetapi cinta semasa dan cinta besar perubahan bertemu atau bertarung. 


Dan di sini di pelataran hati sang khalifah. Ajaib, Umar justru menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.



Tak ada cinta yang mati disini, karena sebelum meninggalkan kediaman Umar, gadis itu bertanya sendu,


"Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?”


 
Umar bergetar haru, ada sesak didadanya,  


“ Cinta itu masih ada....” ia menjawab. “ bahkan kini rasanya jauh lebih dalam...”


 
Cinta Umar adalah cinta di atas cinta, bukan cinta yang kandas oleh kehinaan seorang hamba.Cinta itu lebih besar namun bersarang di dada yang lebih lapang pula. 



-ref : ABCP by salim a. fillah- 

Dia yang berkata, cukuplah kamu untukku

Dan ku cukupkan diriku hanya untukmu


Dia yang membelai temaramnya sisi hidupku

Dan membersamainya hingga ke lorong tergelapku


Dia yang datang membawa pucuk-pucuk rindu

Dan meminta hujan agar tak segera berlalu


Dia yang ada dikala gelegar halilintar bertalu

Dan bersedegup menghangatkan laraku


Dia yang menyemai bahagiaku

Dan membesarkannya dengan bahasa kalbu


Dia yang merenda pinggiran kelambu

Dan merajut angin dari segala penjuru


Dia, dan hanya dia

Hingga waktu tak lagi mengenali keberadaanku


Saat itu malam belumlah terlalu malam, suara binatang malam pun belum bersahutan. Namun dingin seperti tak hendak beranjak barang sejengkalpun dari kulitku. Walau harus dibilang malam yang sungguh romantis, momen itu pun telah sirna karena rembulan saat bulat bulatnya justru telah pudar di malam yang lalu. Yang tersisa hanya mendung dan angin yang menggesek pucuk-pucuk daun bambu di depan halaman rumah.


Di dalam bilik yang terdalamku, pendaran lampu bohlam 10 watt menyisir tiap-tiap sudut ruangannya. Meninggalkan bayangan dibalik beberapa benda yang tak beraturan, setia bayangan menunggui objeknya sepertiku yang tak beranjak tentang apa adanya dia. Cekikikan empat anak manusia didalamnya, kadang jeritan ketidakpuasan dari sibungsu menambah nada yang tercipta. Tetaplah menjadi anak manusia sepanjang hidupmu nak! Karena bapakmu dan ibumu juga anak manusia. Karena jaman ini sungguh aneh sering menjadikan anak-anak jaman menjadi robot dan zombi.


Dia duduk di kursi reot tak berbusa itu, memandangi laron yang berterbangan disekitar lampu. Tak butuh lagi lampu itu dihias dengan aksesoris mahal, laron itu menjadikannya seperti lampion mahal yang berpendar dikelilingi planet-planet dan satelit-satelit. Namun tidak dimatanya, karena dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Memandang apa yang tak dapat kulihat, meski akus endiri sedang disampingnya memandangnya dengan penuh takjub. Dia yang tak pernah tertidur sebelum matahari tenggelam, dia yang kabarnya memiliki tenaga yang tak setangguh para bapak namun snaggup bertahan hingga tengah malam saat si bapak tak sanggup lagi terjaga.


Dia sedang memegang kenyataan bahwa dirinya berada dalam ketidak berdayaan akan perasaannya sendiri. Namun begitulah Tuhan melebihkan sebagiannya atas sebagiannya para lelaki. Maka dengan perasaannya itu lah dia berkomunikasi dengan hatinya. Dia tidaklah sempurna dan dialah yang terbaik dari semuanya, saat kusadari itu saat itulah aku diam. Maka jelaskanlah pada malam tentang apa yang kau rasa, berceritalah kepada rembulan saat tiada yang mampu mendengar, berdirilah dengan lemah gemulai laksana daun-daun bambu itu, niscaya angin akan segera berlalu.


Tidurlah saat lampu dimatikan, lepaskan sayap-sayap letihmu mungkin dengan begitu malam kembali indah dan rembulan akan segera datang. Bermimpilah, barangkali esok tiada lagi akan tersimpan kecemasan dan gundah gulana!
Mungkin beginilah rasa yang ada di dada bapakku dulu, saat hujan mendera dengan derasnya. Namun tak kunjung anak-anaknya kembali ke rumah, padahal saat itu sudah lewat jam pulang sekolah. Apakah mungkin disekolah memang sedang tidak hujan? Ataukah mereka hanya sedang menepi, mempersilahkan guyuran air menggenang baru mereka beranjak?

Barangkali bukanlah air hujan yang bapakku pedulikan, hanya saja bila badanku basah kuyup apakah tubuhku masih bertahan terhadap demam? Karena tidaklah bapakku memanjakan dengan kendaraan yang mewah untuk mengantarku pulang pergi sekolah, pun tidak bekal sekolahku dicukupkan agar dapat menaiki kendaraan umum kala itu.

Sepeda ini pemberian bapakku yang begitu berharga, demi membahagiakan beliau sepeda jengki kumbang tua ini tetap kukendarai ditengah-tengah himpitan sepeda gunung yang mulai popular kala itu. Namun dengans edikit sentuhan menjadikan sepeda kumbang itu terlihat modis dan mengelabuhi umurnya. Biru mengkilap, dengan roda karet mentah berwarna orange tua, selaras dengan kulit sadle yang juga terkesan classic, tak akan ditemui lagi sepeda dengan langkah torpedo yang tersisa di parkiran sekolahku ini setidaknya.

Hujan tak kunjung reda, hingga suara adzan ashar memenuhi ruang udara. Bapakku semakin gelisah, dia bercumbu dengan rasa yang semakin lama semakin remang-remang. Anak-anakmu belum jua kembali ke peraduan, walau gelegar halilintar begitu menggema.

Kuyup, menggigil, gemeretak sekujur tubuhku saat kuucapkan salam di depan pintu rumah. Ku berlari ke pintu rumah paling belakang agar segera menuju kamar mandi dan tak hendak membasahi seluruh ruang rumah. Ibuku memburuku dengan handuk dan bergegas membantu melepas semua kain yang basah melekat dibadan. Walau ingin sekali hati meraih secangkir teh panas di meja itu namun tetap kulangkahkan kaki ke kamar mandi dan kubasuh seluruh sisa air hujan dan lumpur yang melekat.

Bapakku hanya melihatku dengan senyum dikulum, entah puas Karena si anak telah kembali pulang dengan selamat ataukah lega Karena ibuku tak lagi cemas tentang teh yang keburu dingin. Bapakku hanyalah lelaki tua dengan rasa yang sulit kumengerti. Senyumnya tak hanya menunjukkan bahagia, marahnya bukan selalu perkara benci, candanya tak hanya tentang lelucon.

Entah aku bercerita tentang bapakku, ataukah diriku sendiri. Yang pasti sore ini sedang hujan diluar jendela sana, dan anak-anakku belum juga memberi kabar tentang keberadaannya apakah dirumah ataukah sedang terguyur hujan. Satu hal yang pasti di benakkau kini, aku adalah anak bapakku, mengalir darahnya didalam diriku, begitupun rasa yang ada ini terhadap anak-anakku,aku adalah bapakku.
Bahagianya hari tidaklah mungkin ditakar dari surutnya cahaya mentari, indahnya malam tidak pula diukur dari ada dan tiadanya gemintang. Aku hilang di antara keramaian, bercanda dengan fikiranku sendiri.Memandangi bayangan, dengan dinginnya rasa.

Mentari masih bersinar dengan teriknya namun tak jua kurasakan hangatnya. Kutunggu malam tiba semoga gemintang bisa memberikanku keindahan, walau diujung langit kulihat awan hitam berarak.

Ku tak berharap hujan kembali datang, namun bukankah hujan adalah pertanda bahwa pekat akan segera hilang? Namun kini disekujur kulit telah kurasakan rintik air di udara, walau sebenarnya hujan belum datang. Awan hitam masih bergayut di kaki langit. Setia menunggu angin yang akan menghantarkannya ke tanah kering bebatuan.

Aku berdiri di persimpangan, merendah bersamai pioni. Menatap dengan mata yang berdebu, badai akan segera tiba. Menentukan hendak kemana hati ini akan dibawa. Menunggu setiap kata agar dapat kutahan rintihan lidah dan gelegarnya ucapan.

Tak peduli setajam apa hempasan hujan, aku akan tetap berjalan. Walau sakit, walau perih, karena di persimpangan itulah aku akan menunggu saat mentari kembali menyala.

Belahan jiwa....
Apa kabarmu disana?
Adakah engkau baik-baik saja?
Bila mendung menggelayuti langitmu, aku akan basah untukmu.
Kita akan duduk di bangku itu, dan memandang pelangi hingga mentari tak lagi bersinar.
Bersama.....
Hingga bosan hujan mengguyur
Hingga enggan mentari bersinar
Hingga lelah awan hitam menaungi
Hingga tiba waktu berhenti.

Perempuan itu datang padaku, dia membisikkan Sesuatu yang membuatku terperangah. Dia membelaiku lembut namun tatapannya tajam bagai elang hendak menerkam. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya, namun segenap rasa dan kesadarannya menolak dan tak hendak setuju. Seluruh perhatiannya terpusat padaku namun jauh dilubuk hatinya ada badai yang sedang memporak porandakan berandanya. Lidahnya hendak membentuk sebuah kata namun bibirnya terkunci rapat. Dikepalanya telah terbentuk berbagai macam rencana namun jauh di dalam relung jantungnya degup kekhawatiran menyeruak bersama tangis. Sebelum kegundahan dikalbumu kau bisikkan, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku ingin tuli agar engkau tak pernah mengucapkan itu.

 Perempuan itu menyita pandanganku, membuat apapun dibaliknya tak lagi menarik. Menutup setiap objek bagai tabir kasat mata yang tak pula tertembus cahaya mentari. Dia berdiri bagai angin diatas pegunungan, menghentak, memporak porandakan, mendesing namun tak ada yang mampu menghindari. Dia duduk menatapku, menjamah kesadaranku dan kemudian memandangku sayu. Matanya hitam pekat bak granit terasah air hujan, namun bintang gemintang ada didalamnya saat kupandang dalam dalam. Sebelum tumpah bergalon galon air matamu, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku ingin buta agar engkau selalu yang terindah bagiku.

Perempuan itu membangunkanku dari mimpi, mimpi indah yang kuciptakan sendiri. Dari sedih, dari lara, dari penderitaan dan dari setiap jengkal keresahan yang ada di hati. Dia menyadarkanku bahwa tak ada selainnya perempuan yang dapat memahamiku. Dia adalah mimpiku yang dijadikan Tuhan dalam do’a do’aku. Sebelum engkau kembali menjadi mimpi mimpiku saat tiada lagi yang dapat dilakukan selain bermimpi, aku hanya ingin engkau tahu bahwa aku tak ingin bermimpi saat ini untuk hidup membersamaimu.
http://www.hadila.com
Saya : adakah manusia yg tubuhnya sesehat nabi jaman sekarang?
hehe, kl menurut saya sih, tubuh kita ini sakit. hanya berapa persen sakitnya yg beda. kalau udah sampai diatas 50% barulah ambruk...

disebabkan dari pola makan, gaya hidup, lingkungan.

Seseorang : Insya Allah ada mas, Bahkan Nabi itu Klo sakit, dengan sakit yang sama jenisnya, namun 2 kali lebih parah dari orang biasa.

lagipula riwayat tentang bekam itu menunjukkan bahwa itu bukan sesuatu yang rutin dilakukan oleh Nabi. tapi bekam itu adalah kebiasaan orang arab ketika itu yang diperbolehkan oleh Nabi. itu saja.

entah salah atau benar, sudah mulai ada gerakan "terselubung" yang mulai meremehkan ilmu kedokteran yang dipelajari dikampus-kampus dengan beralasan adanya pengobatan cara nabi, bahkan sampe di embel-embeli kata syar'i segala, seolah berobat kedokter gak syar'i.

Saya : di kitab thin nabawy dibedakan antara perobatan penyakit, dan penjagaan kesehatan.

dan bekam dilakukan untuk keduanya.baik itu perobatan penyakit dan juga penjagaan kesehatan.

mungkin yg dibahas diatas tetang bekam sebagai perobatan penyakit.
tidak dibahas tentang bekam sebagai penjagaan kesehatan.

asal kata thib itu sebenarnya adalah perawatan/penjagaan bukan perobatan.
bekam itu lebih dititik beratkan pada penjagaan penyakit, karena pelaksanaan bekam dibutuhkan setidaknya lebih dari 1 kali untuk mendapatkan hasil.

mungkin kalau masalah hukumnya, apakah termasuk ibadah atau bukan di kitab thib nabawy tidak diterangkan secara jelas oleh ibnu qayyim. hanya memang ibnu qayyim mencantumkan hadits hadits penduung seperti yg telah disebutkan diatas.
kalimat yg tepat adalah, mengikuti thib nabawy/ pengobatan dan penjagaan kesehatan yg dicontohkan rasul adalah pokok atau yg utama, dan medis modern adalah sebagai alternatifnya atau second opinion.

karena tindakan yg dilakukan dlm medis modern adalah tindakan perobatan skait, dimana tindakan dilakukan bila sakit telah muncul. sednagkan thib nabawy adalah menitik beratkan pada penjagaan kesehatan.

jadi mengatakan gerakan "terselubung" meremehkan medis modern itu adalah bentuk prasangka menurut saya om. itu hanya opini atau persepsi beberapa orang yg ga mau rugi dagangannya disaingi.

Seseorang : sebagai consumer setia madu dan habbatussauda, saya bener-bener setuju bahwa thibbunnabawi harus ditempatkan diposisi utama sebagai upaya pencegahan. sekalipun tak bisa dipungkiri ada juga yang bisa digunakan sebagai pengobatan. namun kok saya jadi rada ragu yah klo bapak bilang tindakan medis modern sebagai secon opinion. harusnya sama-sama ditempatkan pada level yang utama diposisinya masing-masing. yang satu dipencegahan dan yang satunya lagi dipengobatan.

masalah persaingan dagang, saya belum menemukan kampanye kedokteran modern untuk meninggalkan herbal. saya memandang hanya ada perbedaan persepsi saja atau khilaf

Saya : hak setiap orang pak untuk tidak setuju, pemahaman saya ya speerti itu tentang kesehatan.

sy tidak menampik atau mengesampingkan medis modern, pada kondisi tertentu penanganan medis modern itu memang dibutuhkan. tetapi tidak untuk yg utama dalam hal penjagaankesehatan

tapi sebagai last option, dan juga sebagai second opinion.

seperti yg diungkapkan ibnu qayyim "sepertiga ilmu yg diturunkan ALlah di dalam islam itu adalah tentang kesehatan"

kita hanya perlu belajar, dan berusaha mempelajarinya.
Seseorang : iya klo saiya biasanya untuk mengetahui sakit lewat cara pengobatan modern (tes darah,urin dsb) setelah dokter mengatakan diagnosanya.. baru menggunakan pengobatan herbal..
saya sepakat bahwa pengobatan modern hendaknya tidak ditempatkan sebagai second opinion secara mutlak.. klo saya lebih prefer ke herbal karena di pengobatan modern sebagian praktisinya(dokter) berlaku terlalu komersil(dengan royal memberi obat harganya mahal pulla juga pemberian merk obat yg "menguntungkan" ybs bukan melihat kebaikan untuk si pasien.. juga industri obatnya yang sebagian besar masih belum diketahui kehalalanya (apalagi klo impor)...
sedang klo di pengobatan herba/thibun nabawil praktisi dan industri obatnya relatif lebih baik dari sisi ini (menurut saya) karena sebagian besar mereka adalah orang yang semangat menjalankan agama

Saya : ilmu tentang pembedahan anestesi, yg ada di medis modern tidak diajarkan di thib nabawy, namun ibnu sina memulainya terlebih dahulu.

dan banyak contoh tindakan medis modern yg tak ada di thib nabawy sebagai bentuk penanganan darurat kesehatan yg ternyata banyak dimulai oleh para dokter islam jaman dahulu.
nah .... fikiran sy juga gini naun sy ga mau memukul rata, ada juga kok dokter yg baik ga terkait kartel farmasi.

eh ada banyak ilmu diagnosis yg berkembang loh ga hanya melulu lab.

dalam ilmu diagnosis juga bisa memilih, yg diajarkan di banyak fakultas kedokteran dan yg paling umum adalah mendiagnosis melalui symptom

ada juga yg ga diajarkan di fakultas kedokteran namun tetap sebagai penemuan ilmu diagnosis oleh seorang dokter jerman namany iridologi.

ada juga ilmu diagnosis pembacaan darah, telinga, telapak tangan, akupunktur. banyak om... hehehe
yg nomor 1 sih kita hanya perlu percaya.

kalau mindset bahwa kalau saya sakit kan ada dokter.... ya emang susah segalanya snagat bergantung pada dokter. menurut saya sih, sebagaimuslim warisan ilmu kesehatan ini setidaknya kita kuasai walau sedikit, sehingga dokter benar bear melakukan fungsinya sebagai dokter, bukan sebagai penjual obat atas desakan pasien.

Seseorang : ane mulai praktekkin ini....sebisa mungkin kedokter tuh alternatif terakhir... pernah coba dan akhirnya radang tenggorokan sembuh dengan resep herbal dari Prof hembing. cuman kadang2 harus hati-hati banget soalnya ada penyakit yang tingkat bahayanya beda banget cuma cirinya mirip. saya melihat banyaknya tingkat kematian demam berdarah karena orang tua terlambat membawa kerumah sakit karena menyangka cuma sakit panas biasa.

kalaupun harus melakukan tindakan medis, saya sms temen yang apoteker buat minta obat yang bebas alkohol atau telepon temen yang dokter buat bikinin resep.

gak tau deh ini mo "menjauhi" dokter atau mo hemat...heheehehe

++++++

Dialog diatas benar benar terjadi antara saya dan rekan, menggambarkan 2 pemahaman tentang kesehatan yang saling menghargai meskipun ada perbedaan mendasar dalam pola pikir.

hal-hal seperti inilah yang mampu menciptakan ukhuwah yang hebat antara ummat islam. salaing menghargai perbedaan selama tidak menyangkut hal yg paling pokok yaitu aqidah.

ada banyak sekali hikmah yang bisa saya petik dari diskusi ini... semoga juga yang membacanya.

Ditulis oleh : My Lovely Wife


Hari ini seperti biasanya, aku mengikuti pengajian rutin di tempatku bekerja. Hari ini, pas bertepatan dengan jadwalku menjadi pembawa acara. Pengajian berjalan dengan lancar seperti biasanya. Kali ini, tema kajian yang disampaikan tentang senyum. Bahwa senyum merupakan sedekah yang paling mudah. Tak perlu banyak biaya dan bersusah payah. Di akhir kajian, aku pun membuat kesimpulan. Alangkah indah kalo tiap hari, kita pun tersenyum kepada orang-orang terdekat kita. Dan yang paling dekat dengan kita tentu adalah suami kita. Oleh karena itu, mulailah tersenyum kepada suami. Sebab senyum yang tulus dari hati dapat memupuk cinta. Kontan teman temanku yang lain, yang mengikuti pengajian berkata : “cie...Memang benar benar pujangga kata-katanya. Cocok sama suaminya yang suka membuat status-status romantis di salah satu jejaring sosial.”

Pikiranku pun kembali kemasa lalu. Di tahun awal pernikahanku dengan suamiku. Waktu itu jarak masih memisahkan kami. Suamiku bekerja di kota bandar lampung sementara aku bekerja di kota Palembang. Memang pengajuan berkas pindah mengikuti suami sudah aku ajukan ke instansi tempatku bekerja. Tapi ternyata, prosesnya tidak bisa langsung pindah mengikuti suami. Aku harus menunggu sekitar empat bulan sebelum akhirnya surat keputusan pindahku keluar.

Selama kurun waktu empat bulan itu, rasanya aku dihujani kata-kata yang bertubi-tubi dari suamiku. Kata-kata romantis yang dikirimkannya melalui sms. Dari mulai bangun tidur sampai mau tidur lagi. Dari mulai matahari terbit sampai matahari beranjak ke peraduannya. Hingga aku menobatkan suamiku sebagai “manusia romantis”.

“Awalnya kamu memang menyukai. Tapi nanti lama kelamaan rasanya dihati hambar. Yang mulanya berbunga bunga menjadi biasa saja. Itu karena jarak kalian jauh. Mungkin kalo sudah tinggal satu rumah, kebiasaan itu berkurang”. Itu komentar salah satu temanku begitu tahu kebiasaanku yang mendapatkan sms cinta setiap hari.

Tak lama berselang, surat keputusan pindahku pun keluar. Senangnya hatiku saat itu. Karena aku tak mau berlama-lama jauh dari suamiku. Langsung ku telpon suamiku mengabarkan hal ini. Kudengar tawanya di telpon. Ku rasakan ada bahagia disana.

Suamiku lantas mengajukan cuti selama seminggu dari kantornya. Pada saat weekend, aku dan suamiku berangkat ke kota Bandar Lampung. Tinggal di kontrakan dan lingkungan yang baru. Pindah ke kantor yang baru. Semuanya berubah. Tapi tidak dengan kebiasaan suamiku. Kadang terkejut ku dibuatnya. Saat bangun tidur ku temukan selembar kertas dengan kata-kata romantis didalamnya. Ternyata, ucapan temanku di kantor yang lama tidak terbukti. Jauh atau pun dekat jarak kami, kata-kata itu tetap ada. Bahkan memenuhi hari hariku. Mewarnai pernikahan kami.

Disini, salah satu teman di kantorku pernah bercerita. Kalo dia tidak pernah mendapatkan kata-kata yang romantis dari suaminya. Terkadang dia menginginkan kata-kata seperti itu dari suaminya. Tapi suaminya belum pernah memberikan kata-kata romantis kepadanya. Ada sedikit keluhan tertangkap disana.

Dalam hati aku pun bersyukur. Bahwa suamiku tipe “manusia romantis”. Yang menghadiahkan kata-kata romantis kepadaku. Dan dengan kata-katanya bisa membuatku terbang melayang. Membuat hatiku merasakan hal lain, yang tak bisa aku rasakan dari sesuatu yang biasanya aku dapatkan. Yaaa, kita memang mencintai pasangan kita dengan cara yang berbeda. Dan aku disini, mencintai cara suamiku mencintaiku. Tak perlu mendengarkan komentar mereka. Sebab memang, kita mencintai pasangan kita dengan cara yang berbeda.





Getaran Handphone bergidik diatas meja
menjalarkan kabar yang mungkin tak terbayangkan
seketika suasana lengang mencari arah suara
di seberang hendak berkata sayup sayup terbawa angin

aku tak pandai berucap
mungkin hanya menambah beban
namun tak sanggup rintihan itu ku bekap
dadaku sesak namun engkau sedang butuh sandaran

wanita yang kita puja bersama telah lama berlalu
aku tahu itu masih meninggalkan pilu
walau selalu kau coba untuk menutup haru
hari harimu masih tetap seperti malam malam kelabu

di kala senja sering kau duduk disampingku
mungkin sudah lama aku melupakan rasanya menjadi anak kecil
ketika kau sering menina bobokkan lelahku
menyelimuti malam-malamku ketika tubuhku menggigil

entah berapa puluh kali aku menantang egomu
namun kau selalu memiliki halus budi
mempersilahkan marahku
dan meredamnya dengan hangat pelukmu

engkau kupanggil ayah, karena memang engkaulah panutanku
kini suaramu tak semenggelegar dahulu
rintihmu rapuh, tatapanmu layu, dan senyummu mulai kaku

engkau kupanggil ayah, sebab tanpamu dunia tak akan pernah menyapaku
lihatlah kini, anakmu tertatih membawa beban
berjibaku dengan peluh dan keringat dengan dada lebam

engkau kupanggil ayah, hingga akhir hayatku pun nasabmu melekat erat
kini hadirmu kutunggu, akan kubuktikan baktiku kuat
jangan tunggu harapku nyata di saat segalanya telah telambat

Ayah...


Teman, hari ini dua puluh sembilan tahun yang lalu aku dilahirkan
Karena orang tuaku tak pernah memberitahukan tanggalnya dalam kalender Hijriyah
Maka maafkanlah apabila aku tak bisa menyamakan tanggalnya dengan tradisi nabi kita

Teman, di hari ini aku tak merasakan suka cita sedikitpun, karena bertambahnya usiaku
Hari ini aku tak tahu bagaimana mengungkapkan bahagia itu, padahal jatah waktuku terus berkurang
Entah bagaimana aku bisa berpesta jika aku tahu aku akan segera berpisah dengan kalian
Lebih menyedihkannya lagi aku belum menyiapkan sedikitpun wasiat untuk keluargaku

Teman, di hari yang bagi sebagian besar manusia adalah hari untuk saling merayakan ini aku sedih
Terbayang bagaimana sendirinya dikegelapan kubur nanti,
Terbayang kelunya lidah ini membalas setiap pertanyaan dikala hidupku yang lalu
Entah dari bagian tubuh yang mana mereka akan bersaksi akan lalainya hati ini
Di hari ini tolong jangan bergembira untukku.

Teman dihari ini tolong jangan kau ucapkan ‘selamat’ untukku
Aku akan sangat sedih bila kau lakukan itu
Disaat usiaku semakin bertambah, anak tangga menuju liang lahat itu semakin berkurang
Sudikah kau masih mengucapkan selamat kepadaku teman?

Teman, tolong bantulah aku dengan mengikhlaskan setiap khilafku yang pernah ku perbuat atasmu
Tolong relakan setiap lisan yang terucap dan menyakiti hatimu
sudilah kiranya kau usap tingkah laku burukku dengan pintu maafmu
Tolong berilah sedikit ruang bagi hatimu tuk meringankan beban dosaku yang pernah kutorehkan padamu

Teman, rasanya dosa-dosaku sangatlah menumpuk, tolong jangan kau tambah itu dengan pengaduan yang memberatkanku dihadapan Yang Maha Adil kelak.
Kalaupun aku pernah merenggut hakmu dengan zalim, maka aku mohon bantulah aku dengan kesaksian yang meringankanku.
Pukullah setiap lupa dan lengahku bila dulu aku pernah mengacuhkanmu ketika kau membutuhkanku

Teman aku mohon kabulkanlah pintaku kali ini saja
Tolong jangan ucapkan ‘selamat’ kepadaku di hari ketika malaikat maut itu mengintaiku.
Terima kasih teman.

-Note untuk hari ulang tahunku 04 Januari 2012-
Ditulis tanggal  02 Januari 2012, sebelum ucapan itu datang bertubi tubi dan semakin membuatku sedih.
Suatu petang ketika orang-orang sedang sibuk berebut waktu untuk segera pulang kerumah masing-masing setelah melakukan rutinitas pekerjaannya. Di sebuah halte busway terlihat seorang bapak dengan 3 anaknya yang masih kecil-kecil.Mereka sedang menunggu datangnya busway yang sebentar lagi akan membawa mereka pulang.

Ketiga anak itu berusia sekitar 8,5 dan 3 tahun.Anak terkecil bagaikan seorang putri,ia begitu cantik dalam dekapan sang bapak.sedangkan kedua anak lainnya yang putra sedang asyik bermain-main kesana kemari,itu lah ciri anak seantero dunia.

Tibalah saatnya busway yang ditunggu datang.Para penumpang pun seperti robot yang mendapat perintah yang sama, bergegas menuju pintu masuk busway,termasuk sang bapak dan ketiga anaknya.

Kemudian keluarga itu dapat duduk di kursi busway yang disusun seperti kereta api listril(KRL).lalu kedua anak laki-lakinya beranjak dari kursinya dan bermain petak umpet di sela-sela tubuh orang dewasa yang sebagian besar mengisi ruang busway itu,sambil berteriak girang.

Terlihat beberapa penumpang yang wajahnya menjadi begitu muram.Mereka merasa tidak nyaman dengan kegaduhan itu.hingga akhirnya ada seorang penumpang pria yang ketus menyatakan protesnya ke sang bapak,

"Pak,tolong anaknya di atur ya,disi kan penumpang juga ingin tenang,sudah capek kerja,eh pulang kok masih aja ada yang ganggu!!"

Kemudian sang bapak sambil menggendong putrinya pun menjawabnya dengan senyum,

"Maaf ya mas,ibu mereka baru saja meninggal sore ini di rumah sakit,dan saya belum mengatakan hal ini ke mereka,nanti begitu sampai rumah saya akan mengatakannya. Biarlah mereka merasakan kegembiraan yang menjadi hak mereka,karna saya merasa mereka akan banyak kehilangan kegembiraan setelah tahu bahwa ibu yang biasa mengasuh mereka dan menyayangi mereka setiap saat sudah tidak bersama mereka lagi selamanya.Mas tidak keberatan kah,kalau mereka bermain sebentar saja di bus ini?"


Mendengar apa yg dibicarakan sang bapak,sebagian penumpang yang mendengarnya lalu terdiam dan merenung,termasuk sang pria yang baru saja memperotes sang bapak dengan ketus.Tiba-tiba mereka teringat akan kasih sayang dan kesalahan-kesalaahn yang pernah mereka perbuat kepada ibunya.

Diam-diam diantara mereka ada yang mengambil handphone di saku celananya,lalu jari jempolnya membuat barisan kalimat "ibu apa kabar?besok pagi saya mau pulang menjenguk ibu.maafkan segala salah saya,ibu"

kemudian dia mengirimkan sms itu ke nomor ibunya,dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya besok..

Bersyukurlah bila anda masih memiliki ibu! karena saya tahu hampanya kehilangan seorang ibu.

“………………Maka seharusnyalah laki-laki memahami wanita karena laki-laki memiliki unsur kami.”

Tak tahu aku ingin menulis apa di ramadhan yang sudah menginjak hari kedelapan ini? Pecan pertama dari 4 edisi ramadhan. Lebih lumrahnya apabila mengikuti jejak Rasul dalam pembagiannya yaitu 10 malam pertama, 10 malam kedua dan 10 malam terakhir. Yang dalam hal ini kita barusaja menjalani malam kedelapan bulan suci ini. Masih banyak waktu tersisa untuk memunguti remah-remah pahala yang banyak terserak didalam ramadhan tahun ini.

Syukur Alhamdulillah fisik mulai bertenaga, beberapa hari yang lalu mengawali bulan penuh rahmat rasanya badan ini tak lagi memiliki tulang, terasa lemah, punggung sangatlah berat unutk ditegakkan, kepala begitu berat unutk didongakkan. Flu berat menghampiri dan demam datang tak kunjung reda. Baru ramadhan kali ini kuawali doa dengan ucapan begitu pasrah dan tak bersemangat, keceriaan awal Ramadhan seketika sirna.

Batuk masih menggigit tenggorokan, dan tinggal sisa sisa lendir yang berusaha keluar namun seperti tersekap bulu bulu hidung yang tak kunjung hilang. Kuawali hari pertama di kalender masehi atau hari kedua di kalender hijriyah ini dengan berendam di air hangat yang disiapkan istri. Segar dan menyegarkan, untuk sementara kurasakan sekujur sendiku begitu ringan digerakkan, kepalaku yang seminggu ini terasa berat kembali normal dan senyum yang terenggut akhir-akhir ini kembali berbinar. Indahnya pagi ini!

Setelah tak kurang 8 hari kunikmati puasa dalam kondisi yang tak mengenakkan, fajar tadi akhirnya bisa kunikmati santap saur dengan lahapnya, ditemani sulungku yang mulai belajar puasa, tentu saja istriku tercinta yang telah susah payah menyiapkan hidangan saur yg begitu nikmat, bahkan lebih nikmat ketika kurasakan lidahku tak lagi kebas dan bebal. Terima kasih sayang, syukurku atasmu bertambah!

Kemudian hari-hari workday dimulai kembali, meninggalkan 3 anak-anak lucu dirumah bersama beberapa khadimat, bukanlah hal yg mudah. Ditambah dengan si sulung yang mulai pembelajaran puasanya, mengikuti setiap pertanyaannya akan ramadhan tak semudah ketika kita berargumen dengan atasan kita. Pertanyaan mereka sederhana namun mereka membutuhkan jawaban yang extra rumit. Tak seperti atasan yang memiliki banyak pertanyaan kompleks namun cukup dengan jawaban sederhana.

Menjadi sopir pribadinya bukanlah sebuah beban, bagiku itu adalah sebuah kehormatan. Salah satu bentuk terima kasihku atas 3 orang anak yang lucu-lucu, hidangan yang selalu tersedia di meja makanku, pula sebagai kunci penentram hidupku. Alangkah nikmatnya menjadi pendampingnya didalam kendaraan bersamanya pagi ini. Pagi ini kupilih kendaraan yang memiliki kabin untuk mengantarnya, disamping kondisi fisikku yang belum 100% fit juga pagi ini bersama cerahnya langit dan mentari ingin kulihat siluet diwajahnya.

Pagi ini begitu sempurna, sampai kulihat sebuah mobil biru tua berjalan didepan kendaraanku, sangat pelan dan tak pernah mau menepi atau member jalan bagi kendaraan lain untuk lewat. Hingga iring-iringan kendaraan dibelakangnya mengular, kadang membuat pengendara lain gusar dengan mengklaksonnya. Namun hal itu tak menggoyahkan si pengemudi mobil biru tua itu bergeming dari posisinya dibadan jalan. Lambat dan menguasai badan jalan.

Setelah sampai giliranku berada tepat dibelakang mobil biru tua itu barulah kami sadar bahwa pengemudinya seorang wanita, lebih tepatnya seorang ibu berpakaian seragam hijau dengan make up tebal dan gaya duduk tegangnya dibelakang kemudi.

“Ah, memang harus sabar kalau mengemudi dibelakang wanita….” ucapku lirih, tak juga bermaksud menghardik ataupun mencemooh, namun hal ini terdengar istriku yang kebetulan juga wanita.

“jangan terlalu gusar dengan wanita sayang, maklumilah wanita bukanlah makhluk yang sempurna.” Timpalnya.

“kok bisa begitu?” sergahku.

“sayang, wanita itu hanya memiliki kromosom XX mereka tidak memiliki unsur Y layaknya laki-laki. Laki-laki memiliki unsur yang lengkapyang menjadikannya seorang qawwam, menjadikannya kekar,tegas dan sekaligus lemah lembut dan penyayang. Sedangkan kami kaum wanita hanya memiliki sebilah unsur hanya memiliki unsur X bahkan dua kali unsur ini yang menjadikan kami hanya memiliki air mata untuk mengobati segalanya. Maka seharusnyalah laki-laki memahami wanita karena laki-laki memiliki unsur kami.”

Kemudian ku hanya mampu membalas senyumnya. Kukendorkan kembali ijakan gasku, kubatalkan jemari ini untuk menekan klakson dan kemudiajn kugumamkan kembali kalimatnya, “yah.. wanita adalah makhluk yang tak sempurna, tuk melengkapi keberadaan lelaki, aku harus memahami itu.”

Bukan karena memperingati apa ku terinspirasi membuat slideshow flash kecil ini. hanya saja hati in begitu menggebu akan sayang kepadanya.

istriku yang kucinta, engkaulah penentram hatiku.
kupersembahkan ini untukmu



Bagilah pedihmu
by : Baim

apa pun yang akan kau lakukan
ingatlah diriku selalu tetap bersamamu
setiap kau merasakan sedih
sebutlah namaku sayang
ku kan disisimu

* jalanilah semua keinginanmu
ku kan selalu menunggu kehadiranmu
kapan saja tuk dirimu dan hatimu

reff: bila kau merasa
sepi menyiksamu bertahanlah sayang
walau kita jauh
bagilah pedihmu biar kau tetap tersenyum

hanyalah kekuatan dirimu dan juga diriku
kita kan terus berjalan

repeat *

ingatlah selalu ku menunggu

rumah idamanku adalah..
dimana begitu banyak cahaya
walau itu dari sebatang lilin jingga
ataupun hanya pendar pelita

rumah idamanku adalah...
tempat dimana kurebahkan kepala
ketika masalah tak sanggup lagi mendera
walaupun dindingnya bukanlah tembikar bata

rumah idamanku adalah..
gelak tawa dan canda ria penghuninya
dimana aku dan istiku menumpahkan suka duka
tanpa terkena hujan dan terik sang surya

rumah idamanku adalah...
ketika terdengar lantunan ayat ayat suci menggema
serta bersarangnya ilmu dan guru mengajar bersama
baik siang ataupun malam tanpa jeda

rumah idamanku adalah..
bukanlah tinggi besar dan mewah
tak pula berperabot dengan harga luar biasa
hanya saja setiap ruangnya lega dari masalah
Wanita perkasaku kini terbaring lemah (15 September 2006)

Tak sengaja menangkap judul sebuah artikel dari blog opick ‘Sekeping hati untuk Bunda’. Sebuah kalimat pendek yang akhir-akhir ini sering membuat perhatianku tak urung langsung teralihkan. Yah…kata atau kalimat yang didalamnya ada penggalan bunda, ibunda, ibu,emak, mamak atau yang berartian sama. Kata yang akan langsung mengantarkan memory ingatanku ke sosok lemah yang kini terbaring tak berdaya diatas pembaringan didalam kamar dibagian rumah kebanggan kami.

Ibu yang kukenal dulu adalah seorang sosok yang tegar, tahan banting bahkan aku dulu menjulukinya ‘wanita perkasaku’ kini sedang bergumul dengan sakitnya. Sakit yang tak kami duga kedatangannya, sakit yang telah ditetapkan Allah atasnya. Wanita perkasaku kini berada dalam pembaringan, mencoba melawan sakitnya dengan desahan nafas penuh kesabaran, walau kadang kulihat sedikit air mata mengalir dari pipi keriputnya. Jemarinya yang pecah-pecah mencerminkan tanggung jawabnya akan kami namun begitu lembut ketika menyentuh kulit kami, kini terasa keriput dan kekuningan menandakan sudah tinggal sedikit kekuatannya tuk bertahan.

Ketika tangisku pecah memandang penderitaannya, hanya sedikit yang mampu diucapkannya, ‘Tolong jangan menangis’ ucapnya lirih. Semakin menjadi tangisku saat ucapan itu keluar dari sisa tenaganya. Diletakkannya tangannya diatas kepalaku, namun tak sanggup lagi kiranya kalimat berikutnya tuk dikeluarkannya. Senyumnya menyungging ketika ditatapnya cucunya, cucu pertamanya yang baru sempat disentuhnya, belum sempat digendong dan dicumbunya. Diciuminya cucu yang juga putrid pertamaku dan dibisikinya yang lirih terdengar,’jadilah wanita kuat untuk keluargamu’ pesannya.

Baru setengah Tahun yang lalu tumor itu diketahui, setelah menggerogoti tubuh ibuku tanpa diketahui. Karena memang letaknya didalam ususnya. Sehingga saat gumpalan sel yang tak stabil itu mulai menutupi jalannya makanan dan mengganggu sitem percernaan tubuh ibu baru gejala mulai nampak. Dan kemudian dokter memvonis harus operasi untuk mengangkat tumor itu.

Apakah masalah selesai setelah tumor itu diangkat? Ternyata tidak. Masalah yang lebih pelik mulai muncul, ternyata operasi itu membuka pintu baru untuk beberapa masalah yang muncul, mulai dari penolakan tubuh atas terapi kemo, hingga gangguan lambung dan kerja usus yang tak optimal lagi. Sehingga membuat penderitaan ibu semakin hebat. Namun kami hanya bisa pasrah dan tawakkal. Dokter sudah bekerja semaksimal mungkin. Manusia boleh berusaha namun Allahlah penentunya. Wanita perkasaku kini terbaring lemah diranjang, tanpa tenaga tanpa keriangan yang dulu selalu menghiasai hari-hari kami. Ada yang hilang dalam hidup keluarga kami. Tempat kami menumpahkan keluh kesah kami, Tempat kami memuji kelezatan masakan yg kami makan, tempat kami mencari cermin ketika jiwa kami mulai lelah. Ibu…..

Kini anakmu yang dulu selalu kau andalkan telah jauh dari sisimu, 2 minggu yang kulewatkan bersamamu dalam sakitmu adalah waktu paling berharga dalam hidupku karena diwaktu itulah kutahu aku bisa membalas sedikit penat dan lelahmu membesarkan putramu, walau penat dan lelah yang kurasakan tidak sebanding dengan pengorbananmu selama 19 tahun yang kau curahkan tuk menjadikanku seperti sekarang ini.Ibu titikan airmata penderitaanmu kini akan menjadi sebentuk kristal pengabdianku untukmu.

Ibu…..tidakkah engkau ingin melihat lucunya cucumu?
Ibu…..telah kubangunkan istana untukmu disisiku..tidakkah engkau ingin melihatnya?
Ibu……bahkan adik terkecilku pun belum penuh mendapatkan kasih sayangmu
Ibu …..aku minta berjuanglah untuk kami.

Dari sekian banyak permintaan kami, ibu…..tolong kabulkan lah yang ini…bersediakah ibu berjuang demi kami? Sehingga dapat kulihat lagi senyuman dibibirmu..karena tak kan indah mentari pagi kami tanpa senyummu.

Ya Allah….kalaulah ini ujian berilah kesabaran dan ketabahan kepada ibuku untuk melawan sakitnya.
Ya Allah….Kalaulah ini peringatan ampunilah kami ya Allah
Ya Allah….tiada daya, tiada kekuatan melainkan dariMU.


~~
Wanita yang perkasa (17 September 2006)

Ibu……
Anakmu kini akan menemuimu
Memenuhi panggilanmu
Saat rindu sudah begitu besar
Rasanya tak sanggup lagi tuk bersabar

Ibu……..
Darah yang mengalir ditubuh ini bergolak
Ketika tahu engkau sedang meradang menahan sesak
Darahmu ini merasakan deritamu
Sudah seharusnya kutatap wajahmu
Dan kudekap semua sakitmu
Sehingga tak akan ada lagi rintihan

Ibu……
Kau besarkan aku dengan airmata dan darah
Kini kan kuhapus airmata itu dengan baktiku
Dan kan kutebus darah itu dengan pengorbananku diatas semua manusia dibumi ini
Walau pun itu tidaklah ada secuil
Untuk airmata dan darahmu
Tapi itulah kesanggupan buah hatimu ini…
Ibu……….
Anandamu kini sudah kau jadikan manusia pilihan
Saat tiada lagi pilihan didunia ini
Karena jalan yang kau berikan adalah ketetapan
Sepasti jalanku keluar dari rahimmu dulu.

Ibu……..
Orang bilang kasihmu sepanjang jalan
Dan sayangku hanya sepanjang penggalah
Memang seperti itulah ada nya
Namun percayalah bundaku sayang
Panjang penggalah ini adalah sepanjang umurku.

Ibuku saying….
Sebentar lagi anandamu pulang
Kan kubiarkan hatimu menatap putramu ini
Ibuku sayang.....
Saat kembaliku nanti
Pastikan anandamu ini masih bisa menatap senyummu
Ibuku sayang…..


~~
Rintik hujan itu datang tiba-tiba (18 September 2006)

Senin pagi itu kumulai hari dengan begitu cerah secerah terpaan mentari hangat di balik semu awan putih, Namun dibalik cerahnya pagi itu tersembunyi rapat dalam relung hati kepedihan ketika melihat penderitaan orang yang paling kusayangi diatas ranjang sakitnya. Subhanallah….1 bulan yg lalu ketika kukunjungi ibu, masih dalam keadaan segar walau ada bekas operasi pengangkatan tumor di bagian tubuhnya. Namun ketika melihat ku dan cucunya rasanya tiada terpancar penampakan orang sakit diwajahnya. Yang ada adalah senyum ceria, gelak tawa dan ucapannya yang lembut namun begitu membekas dalam hati.

Dan sekarang ibu tak ada lagi disisiku, Tiada lagi sosok wanita perkasa dalam hidupku. Tokoh panutanku dalam hidupku, mentor setiaku dalam membesarkan anakku. Murobbi terhebatku dalam mengarungi lika-liku iman dalam hati.Dan guru paling faham akan keinginan-keinginkaku. Tiada lagi sosok itu yang akan kutelpon dimalam hari tuk kumintai sekedar pendapatnya, atau untuk meminta nasehat bagaimana meluluhkan sifat manja istriku.

Disenin pagi itu ketika kuterduduk dengan teh hangat di kantin belakang kantorku, dikejutkan oleh deringan Hand Phone yang tak biasanya sepagi ini ada telpon dari keluarga di malang.Sehingga dengan sedikit perasaan khawatir kuangkat dan suara pertama yang kudengar adalah tangisan. Semakin gundah hatiku dibuatnya, dan ketika kabar itu sampai di gendang telinga barulah hati ini merasa berdegup semakin kencang dan darah terasa begitu cepat terkesiap kekepala.

Ibu akan dikuburkan jam 3 sore, kala itu jam 9 pagi kugesah seluruh tenaga dan kemampuan tuk bisa hadir sebelum jam 3, namun apa bisa dikata, menyemayamkan jenazah lebih cepat lebih baik, dan prinsip itu bertentangan dengan kondisi lalu lintas, baik udara maupun darat. Sehingga jam 5 baru kusampai ditempat tujuan. Tak sempat lagi kumasuk kedalam rumah langsung kususul ibu ke makamnya, kuterduduk disebelah nisannya dan diatas gundukan yang masih basah dan wangi oleh bunga. Tak ada kata yang keluar dari dalam mulut karena memang tiada kalimat yang harus kuucapkan selain do`a. Tak ada air mata yang mengalir deras karena memang pesan terakhir yang ditinggalkannya untukku adalah “ojo nangis le”. Disebelahku adikku laki-laki menungguiku, kemudian kuberdiri dan kushalatkan ibuku dengan shalat ghaib karena tidak memungkinkan lagi tuk shalat jenazah di pemakamannya. Kemudian adik bungsuku menyusulku dan menumpahkan seluruh kepedihannya ditangkupan dadaku, tidak seperti adik tertua yang bungsu ini memang masih kecil satu-satunya adik perempuan yang kumiliki wajar bila pedihnya amat sangat ditinggalkan sosok ibu dalam usia yang masih belum dewasa untuk mengerti apa yang terjadi.yang dia tahu hanya dia tak akan pernah melihat ibunya lagi.Apalagi belaian mesra, ajaran lembutnya, atau pujian sayangnya.

Sekembaliku dari makam ayah sudah menunggu disertai sanak saudara dan tetangga yang turut berduka cita. Kulihat ketegaran diwajah ayah, walau sesekali ada titikan airmata disela-sela kelopak matanya yang mulai keriput dan menghitam.Kupandangi sosok yang mulai melemah kondisinya didepanku itu, kucium tangannya dan akupun dirangkulnya seakan tak akan dilepaskannya lagi.Begitu lama sehingga airmatanya tak lagi terbendung.

Malam ketiga dirumah tempat kudibesarkan kulewati dengan menghibur diri dan adik-adikku, kuturuti semua keinginannya, kubelikan semua yang dimintanya. Agar supaya kenangan akan ibu akan sedikit terlupakan.Sehingga ketika ku akan kembali ke rumahku dilampung masih berat rasanya mereka melepasku, karena kini akulah pengganti sosok ibu bagi adik-adikku. Karena akulah yang menghabiskan masa terlama bersama ibu. Sehingga ilmu dari beliau akulah yang paling banyak menyerapnya.

Dengan menyisakan perasaan sedih kutinggalkan keluargaku yang sebenarnya masih membutuhkanku, karena didalam keluarga akulah yang paling tegas, mewarisi ketegasan ibu dalam mengambil setiap keputusan, karena ragu-ragu akan celaka pada akhirnya.Dibalik senyumanku ada terbersit pedih ketika ku bertemu sesama sanak saudara maupun kerabat dan handai tolan.Sosok ibu yang kini meninggalkan warisan 3 putranya dengan kesabaran dan kelembutannya tak akan pernah hilang karena bagiku tidak akan pernah ada sosok ibu pengganti atau mantan ibu, selamanya ibu adalah sosok terindah dalam kehidupan manusia.

Allahummaghfirlaha warhamha wa aafiha wa`fuanha…..Ya Allah Engkau Maha Pengampun, maka ampunilah segala dosa dan kesalahan ibuku, Ya Allah Engkau Maha Pemaaf maka maafkanlah kekhilafan dan ketidak tahuan ibuku. Ya Allah Jadikanlah tempat beristirahatnya sekarang menjadi taman surga baginya. Ya Allah, jadikan kami putra-putrinya menjadi shaleh dan shaleha sehingga sanggup menjadi penyambung amalnya. Ya Allah matikanlah ibuku bersama para syuhada dan orang baik-baik. Sehingga mendapatkan tempat terindah disisiMU disurgaMU. Allahummagh firli waali waalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiiroh.Amiin.

~~
Hari ini Ulang Tahun Ibu (07 Desember 2009)

Puji Syukur pada-Mu Ya Allah, hari ini ibundaku telah genap berusia 51 tahun, seandainya beliau masih ada disisiku. Suatu masa yang panjang dan berarti bukan hanya baginya dalam menjalani hidup, tapi merupakan tetes-tetes perjuangan yang terajut menjadi kesuksesan empat putra-putrinya.

Ibuku bukan seorang sarjana, bukan pula seorang cendekia. Ibuku lahir dari sebuah keluarga biasa, tapi ibuku terlahir dengan semangat yang luar biasa.

Tiga tahun berlalu, sudah dua kali ulang tahun ibuku, aku tak bisa mencium pipinya. Di sela-sela waktuku bekerja, kutemukan bait-bait puisi dari relung hati yang mewakili perasaanku untuk ibu. Pagi ini, didalam sebuah kartu ucapan merah jambu, kuselipkan puisi itu dan kukirimkan dengan harapan akan di saat ulang tahun ibuku. Hanya dengan do’a kupanjatkan kepada Allah, agar dengan ridho-Nya ibu mau menyentuh dan membacanya, sayang ini hanya sebatas tulisan pun belum pernah ada perangko yang bisa mengantarkannya menembus surga.


Ibunda...
Di tirai pagi kubersandar pada dinding kesedihan
Di senandung alam kuberbaring pada rajutan kerinduan

Ibunda...
Telah jauh jarak antara kutub-kutub tubuh kita
Membentang kerinduan didalam anak-anak sungai diujung mata kita

Ibunda...
Coba kukumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Coba kupilah yang terbaik untuk isi kerinduanku

Tapi bunda...
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku

Dunia... ah apalah arti dunia ketika surgapun ditelapak kakimu
Menopang segala yang ada ditubuh, hati dan luangan kasih sayangmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu... kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda

Tidak bunda...
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang ada di dalam dada hamba, betapa hamba mencintai dan menyayangi ibu hamba.
Amien.

Mother You are the one and only.

“Merapi sedang ingin sendiri, dia tak ingin diganggu siapapun. Dia kirimkan debu dan pijaran batu merah ke sekitarnya hanya tuk memberitahukan bahwa merapi sedang ingin sendiri.”

Disitu, di beberapa bagian punggungnya pernah kutapaki untuk mengenalnya lebih dekat, membelainya dengan punggungku, dan memberinya kehangatan dengan kencingku. Namun kali ini dia hanya ingin sendiri tak berani kujamah sedikit pun bahkan bulu kakinya.

Di seberang teluk itu pun bukan hanya awan menghitam, namun debu yang siap bertebaran. Tak lagi ku ingin menemaninya. Bersua dengan dingin, bergumul dengan halimun dan embun menusuk tulang. Burung dan kelelawar enggan bersimpuh, bersungut memandangi rumahnya yang kalang kabut.

Sobatku melihatku gundah dan berujar “bukankah disana pernah kau potret keriangan?”
Ku terduduk di jajaran bangku paling pojok, bermimpi seandainya aku berada disana, kala semua masih bersahabat. Ku yakin semua akan menjadi begitu indah.

Ku bersila diantara batu-batu kerikil, berhayal ketika alam belum hendak memutuskan kesendiriannya. Ketika manusia bukanlah pengganggu, ketika uang belum menjadi singgasana.

Aku ingin menyusuri jalan setapaknya lagi, membelah talas-talas malas yag menghalangi diantara cadas.

Aku ingin berteriak hingga hampa paru-paruku, di atas sebuah puncak dimana lerengnya sedap belerang tersekap dalam pengap.

Aku ingin kembali menyentuh awan laksana kapas yang berukirkan kerat-kerat bak belawan di ujung mata memandang.

Cemburu ku pada gemintang yang tak jua pulang walau peraduan telah ditetapkan
Harapku laksana ikan yang berenang di tengah samudra hingga tak pernah lekang kerinduan.

Setangkup rindu ku tautkan pada pucuk daun
Dipagi hari kala kabut tergantikan embun
bersama burung dengan nadanya yang anggun
berharap riak-riak harapan kembali terbangun


-karet gelang , 03 November 2010-

Istriku, rasanya sudah lama tidak kutulis seberkas cinta dalam uraian untukmu. Rasanya sudah lama juga tak ku lap cintamu dengan gombal. Namun apa salah nya bila kali ini kutuliskan hari-hari dalam indahnya kertas ini.
Istriku, ketika kutuliskan surat ini, diluar sana sedang hujan deras, petir menyambar, gesekan daun bamboo menjadikannya semakin merana. Kaca jendela sedang berembun merasakan hawa  yang semakin dingin dan kabut yang semakin menyesakkan pandangan.
Istriku, tahukah kamu bahwa surat ini kubuat tidak untuk ku kirimkan melalui pos ataupun tidak pula berusaha kucarikan perangko, karena kau sedang tertidur pulas disebelahku memeluk anak-anak kita dan membelakangiku, kau simpan perasaan yang aku pun tak begitu faham adanya.
Istriku bersama surat ini kutuliskan kesedihan ketika kita bersama, kugambarkan kegembiraan ketika kita lalui waktu berdua, setiap coretan tinta didalamnya adalah misteri dan kenangan yang sudah,sedang dan hendak kita jalani. Semoga selama diri ini membersamai adalah sebuah lentera bagi gelapnya ruang hatimu.
Istriku, luka, perih dan getir setiap kali kuterjaga ditengah tengah dingin malam membayangkan ketika waktu berakhir. Entah itu waktumu, waktuku ataukah waktu dunia yang akan mendahului kita. Sering terucap lebih baik aku menutup wktuku dulu agar aku tak pernah merasakan sakitnya kehilanganmu. Namun itupun jarang membuatku terjaga kalau kau membaluri ku dengan doa dikala pagi menyingsing.
Istriku, matahari mulai meninggi ketika kertas ini tak lagi muat membendung bahagia ini. Disampingmu membesarkan anak-anak kita. Udara tak lagi sedingin ketika kumulai kata demi kata. Sudah saatnya kau buka mata melihat kedepan, dunia tak seindah dimimpi malam kita. Bukan uang yang kutakutkan, bukan pula soal hidangan pagi ini yg kukhawatirkan. Namun sampai kapan aku bisa menjaga agar air matamu tak tumpah lagi, demiku, demi anak-anakmu, atau demi rentannya hatimu sendiri.
Istriku, ingin rasanya kupanjangkan lagi surat ini, hanya agar kau tahu bahwa aku rindu denganmu. Walau kau pun hanya berbaring lelah disebelahku. Namun apalah dikata si sulung sudah terjaga, biarkan hari-hari kedepan kita isi dengan kalimat cinta dan kasih sayang hingga tak tersisa lagi waktu tuk menangisi apa yg telah hilang dari hidup kita.