Bisa kurasakan setiap tetes waktu merayap lambat. Setiap detik seperti kerikil yang jatuh ke dalam genangan air, menciptakan riak-riak kecil yang perlahan menghilang. Begitulah hidup ini. Sebuah penantian, bukan untuk kebahagiaan yang konon dijanjikan di bumi, melainkan untuk sebuah ketenangan.


​Kala itu, pagi datang tanpa semburat jingga, dan malam tiba tanpa bintang-bintang yang berkedip. Dalam kesunyian seperti itu, aku merenungi semua. Tuhan, tidak pernah Ia menjanjikan kebahagiaan di dunia ini. Ia menyimpannya, membungkusnya dalam paket yang hanya akan terbuka di surga. Kebahagiaan sejati, kata mereka, adalah hadiah bagi hamba-Nya yang berhasil melewati labirin kehidupan.


​Jadi, apa yang tersisa untuk kita di dunia yang fana ini? Ketenangan. Sebuah rasa damai yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diwariskan, dan tidak bisa dipamerkan. Ketenangan itu bagai sungai yang mengalir di bawah permukaan, tidak terlihat, tetapi kehadirannya bisa dirasakan.


​Tidak semua orang beruntung. Ketenangan itu tidak datang pada semua orang. Ada yang memiliki harta melimpah, rumah megah, dan mobil-mobil mewah, tetapi jiwanya kering kerontang. Mereka berjalan di atas permadani sutra, tetapi jiwanya telanjang. Kebahagiaan yang mereka kejar hanyalah fatamorgana. Mereka berlari, mengejar bayangan yang semakin jauh, padahal yang mereka butuhkan adalah berhenti dan membiarkan ketenangan menemukan mereka.


​"Ketenangan bukanlah sebuah tempat, tetapi sebuah keadaan jiwa. Ia tidak ditemukan di luar, melainkan dibangun dari dalam. Kamu bisa memiliki segalanya di dunia, tetapi jika kamu tidak memiliki ketenangan, kamu tidak akan pernah memiliki apa-apa."


Tahu tidak, bagi saya—bagi banyak kepala keluarga di luar sana—rumah itu lebih dari sekadar tumpukan bata dan atap. Rumah adalah garis finish dan garis start sekaligus. Itu tujuan utama, hal yang akan selalu saya perjuangkan mati-matian. Ini bukan cuma kewajiban, tapi naluri. Insting alami seorang kepala keluarga, seorang alpha, yang tahu betul: harus ada tempat kembali yang pasti.


Saya bicara tentang rumah secara harfiah. Bangunan fisiknya. Tempat di mana semua lelah dan letih sepanjang hari bisa diserap, di mana jaket berat pekerjaan bisa dilepas, dan di dalamnya bisa menjadi diri sendiri lagi.


Rumah itu tidak perlu besar, sungguh. Saya tidak terlalu peduli dengan luasan tanah atau berapa banyak lantai. Itu hanya pertimbangan sekunder. Yang utama adalah rasanya. Mungkin ketenangan suasana dan lingkungan adalah awal terbaik untuk menyebut suatu tempat sebagai rumah. Apakah di sana hati bisa damai? Itu intinya.


Sejak hari pertama saya memiliki keluarga kecil ini, insting itu langsung muncul: Saya harus membuatkan rumah yang spesial untuk mereka. Dan anehnya, pondasi utama dalam merancang rumah impian saya selalu tertuju pada satu sumber: gambaran surga yang disebutkan dalam Al-Qur'an.


Bayangkan saja! Surga digambarkan begitu sempurna: mengalir sungai-sungai kecil di bawahnya, pepohonan rindang dengan buah-buahan yang bisa dipetik kapan saja, dan punya tetangga yang baik hati dan seumuran. Rasanya damai sekali, bukan?


Maka, rumah yang saya rancang dalam pikiran saya—dan yang saya usahakan agar bisa terwujud—selalu saya coba tarik sedekat mungkin ke gambaran surga itu. Karena jelas, surga (Jannah) adalah Heaven, adalah tempat kembali yang paling sempurna. 


Dengan begitu, setiap kali saya atau keluarga saya melangkahkan kaki melewati pintu, kami tidak hanya pulang ke sebuah rumah. Kami pulang ke Surga Kecil kami yang diupayakan di dunia ini. Itu adalah janji perlindungan dan kedamaian yang kami pegang teguh.


 Memilihkan sekolah bagi anak-anak seperti sebuah seni, seni mensinkronkan keinginan dan peluang. apalagi di era modern dengan sistem yang tak semua orang tua familiar dengan komputerisasi seperti sekarang. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang telah beralih menggunakan sistem komputerasi menuntut para orang tua memahami skema dan mekanisme proses masuk ke sekolah baru.

Begitupun bagi yang telah mafhum dan mahir mengoperasikan komputer, tak menjadikannya mudah. karena juga harus tahu bagaimana alur dan kriteria jalur penerimaan. dimana yang paling sering menjadi polemik adalah jalur zonasi, atau jalur penerimaan yang memungkinkan siswa mendaftar di sekolah dimana terdapat pembatasan area lokasi sekolah.

Menjadi polemik tersebab banyak kejanggalan yang terjadi, yaitu banyak siswa yang ternyata berdomisili di luar batas jarak yang disyaratkan untuk mendaftar ke sebuah sekolah. Ataupun carut marut yang terjadi pada pendaftar yang memilih jalur afirmasi dimana seharusnya tak berhak memanfaatkan jalur tersebut namun pihak-pihak tertentu dapat menerbitkan keterangan yang membuktikan keafirmatifannya.

Terjebak arus besar

Para orang tua kebanyakan begitu bernafsu mendaftarkan putra-putrinya dengan memanfaatkan jalur zonasi, karena yakin bahwa jarak domisili rumah dan sekolah masih di dalam jarak yang disyaratkan. walau sejatinya tahu dan menyadari bahwa kejanggalan rawan terjadi di jalur ini. mereka tidak menyadari faktor X yang terkadang diluar penilaian dan tak terprediksi. 

Terbukti kemudian, saat peringkat putra-putrinya tergeser secara tidak wajar oleh pesaing-pesaing yang menggunakan faktor X, dengan sejadinya mereka berontak, tanpa strategi dan membabi buta. teringat pepatah lama mengatakan "ubahlah apa yang mampu diubah, dan jangan berusaha mengubah apa yang di luar kemampuan!" artinya, setiap orang memiliki batasan kemampuan, kuasa atau pengaruh. mendobrak kejanggalan itu di luar batasan kemampuan sendiri biasanya akan berakhir seperti bertemu tembok besar yg sulit diruntuhkan, walaupun kadang berhasil namun hanya 1 berbanding seribu kejadian.

Menyusun strategi sejak awal

Ketika PPDB mulai dibuka yang pertama saya lakukan adalah membuat riset, bukan riset major hanya riset kecil kecilan. saya mengumpulkan data-data setiap sekolah yang di jaman jejaring internet telah menggurita ini sangatlah mudah mendapatkannya.

Mulai dari jarak sekolah, akreditasi sekolah, prestasi sekolah, nilai rata-rata penerimaan, nilai rata-rata lulusan, bahkan sampai testimoni mengenai sekolah bisa discraping dengan mudah dari internet. menyusunnya dalam sebuah standar statistika dan mencari sekolah yang paling relevan dengan kondisi sendiri.

Dengan begitu dapat menyusutkan pilihan sekolah dan mendeskripsikan dengan baik letak kelebihan dan kekurangannya. dan kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan dan kecocokan dengan minat anak.

Berikutnya adalah memilih jalur yang paling sesuai dengan kemampuan. baik apabila sudah dimafhumi bahwa jalur zonasi adalah jalur yang sulit dan penuh aral rintang baik secara kasat mata maupun tak kasat mata. maka sebisa mungkin jalur ini coba saya hindari. 

Jalur Prestasi yang jarang dilirik

Sedikit yang mencoba bertarung di jalur prestasi, tersebab jarang yang mempersiapkan jauh-jauh hari. memang sedikit yang memiliki prestasi yang dapat dibuktikan dengan sertifikat baik akademik maupun non-akademik.

jalur non-akademik yang saya pilih dan dipersiapkan dengan baik kepada anak adalah dengan mendisiplinkan mereka di jalur tahfidz. jalur ini juga jalur prestasi yang masih diapresiasi dalam PPDB dengan poin yang cukup tinggi. oleh karena itu jalur ini masih sangat mungkin untuk dikejar dalam bersaing untuk PPDB.


 




Mungkin tak semua mengenal Panji Sakti, tapi setidaknya pernah mendengar lantunan karyanya di latar musik reels instagram, atau youtube atau sportify. Musikalisasi Puisi memang bukan hal baru di dunia pegiat seni, namun mas Panji Sakti sepertinya mampu menggubah lantunan harmoni yang merdu didengar telinga untuk puisi-puisi itu.

Saya pun ternyata baru tahu kalau mas Panji sudah lama memusikalisasi puisi, seperti pada puisi karya Soni Farid Maulana berjudul Sangen yang telah dimusikalisasi oleh mas Panji dan rilis pertama di tahun 2016 silam. kekuatan musikalisasi puisi adalah pada liriknya yang dalam dan syarat makna, ditambah dengan harmonisasi nada yang ringan membuat sebuah karya musikalisasi puisi mendayu-dayu dalam ruang dengar.


Juni 2023 silam, mas panji merilis satu karya kembali yaitu memusikalisasi puisi Moch. Syarif Hidayat yang berjudul Kepada Noor, sebuah puisi yang ditulis yang ditujukan kepada sang istri yang bernama Siti Nurbaya. namun saat penulis menggunakan tanda hubung dan permulaan huruf besar pada puisinya "-Mu" maka puisi ini menjadi semakin menarik dan multitafsir.


Kemudian mas Panji memusikalisasinya dengan harmoni yang apik dan merdu, mendayu dan menarik sisi romantika pendengar. Menjadikan lantunan Kepada Noor sering digunakan di beberapa platform media sebagai latar musik.


Pada akhirnya, sederhananya diksi-diksi pada puisi dan ringannya lantunan harmoni yang didengar membuat musikalisasi Kepada Noor merebut perhatian kalangan yang selama ini justru tidak tersentuh oleh segmen karya musikalisasi puisi. Viral lah karya tersebut dan mungkin tinggal menunggu waktu mas Panji lebih dikenal dan karyanya semakin sering terdengar.


Setidaknya hingga saya menulis ini beberapa karyanya selalu menemani daftar putar saya. seperti "Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja", "Tanpa Aku", dan "Sang Guru" karya musikalisasi puisi yang dikemas dengan lantunan nada yang ringan dan nyaman untuk menemani saat-saat sendiri.


sukses terus mas Panji, saya telah menjadi fans karya-karya anda..! 

 


  Kita akan berbicara tentang fenomena yang terkenal di seluruh dunia, yaitu konsumerisme. Apakah Anda juga salah satu penggemar belanja? Jika ya, maka Anda berada di tempat yang tepat! Dalam tulisan ini, saya akan membahas konsumerisme dengan sentuhan humor yang akan membuat Anda tertawa sambil merenungkan betapa gilanya dunia belanja modern. 

    Konsumerisme tidak hanya tentang membeli barang, tetapi juga tentang kekuatan kemasan. Apakah Anda pernah membeli sesuatu hanya karena terpikat oleh kemasannya yang menggemaskan? Misalnya, bayangkan jika ada biskuit berbentuk kucing dengan wajah yang menggoda Anda untuk memakannya. Dalam hal ini, kucing itu mungkin bisa memenangkan hati Anda, tetapi apakah rasanya juga memenangkan lidah Anda? Kemasan yang kreatif seringkali berhasil mencuri perhatian kita, tetapi setelah membuka paketnya, kita sering kali mendapati isi yang tidak sebanding dengan harapan. Itulah saat anda sedang diserang oleh perang kemasan industri modern.


    Apakah Anda pernah membeli barang baru yang begitu dinanti-nantikan, hanya untuk menemukan versi yang lebih baru muncul hanya beberapa minggu kemudian? Kita semua telah menjadi korban dari fenomena ini. Apakah itu ponsel cerdas terbaru, tablet, atau bahkan sepatu terkenal, konsumerisme seringkali membuat kita merasa terjebak dalam siklus tak berujung. Ironisnya, seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi, barang-barang baru kita sering kali lebih cepat ketinggalan zaman daripada kecepatan Internet di masa lalu! Jadi sekarang semakin sadar kalau baju yang di dalam lemari itu jauh lebih banyak yang ga digunakan daripada yang digunakan kan? bendalah yang ketinggalan jaman, bukan orangnya.


    Kita tidak bisa membahas konsumerisme tanpa menyentuh peran iklan dalam hidup kita sehari-hari. Setiap kali kita menghidupkan TV atau membuka browser, kita diserang oleh iklan yang berjanji untuk menjadikan hidup kita lebih baik, lebih indah, atau lebih menarik. Mereka menggunakan model-model cantik dan pria tampan untuk memperdaya kita, seolah-olah memiliki merek tertentu akan membuat kita menjadi versi yang lebih baik dari diri kita sendiri. Oh, tentu saja, ini semua bercanda! Siapa yang bisa melupakan saat di iklan pasta gigi, orang-orang yang tersenyum menggunakan baju tidur di pagi hari dan berpenampilan segar seolah-olah mereka baru saja keluar dari salon? Jadi, selalu ingat bahwa kehidupan nyata biasanya jauh dari yang ditampilkan di iklan.


    Konsumerisme adalah fenomena global yang tidak dapat dihindari. Namun, dengan sedikit humor, kita dapat melihat sisi lucu dari segala gila belanja yang terjadi di sekitar kita. Ingatlah untuk tidak terlalu tergoda oleh kemasan yang menggiurkan, jangan biarkan diri Anda tertinggal oleh produk yang selalu diperbarui, dan jangan percaya sepenuhnya pada iklan yang menjanjikan dunia yang sempurna. Mari kita belanja dengan bijak, menghargai apa yang kita miliki, dan tak lupa untuk selalu menambahkan sentuhan humor dalam perjalanan kita menjadi konsumen yang lebih cerdas!