Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan



Mari kita bicara soal dilema aspal kita sehari-hari. Memilih mobil di Indonesia itu hampir sama rumitnya dengan memilih pasangan: mau yang konvensional tapi boros emosi (dan dompet), atau yang modern tapi bikin cemas kalau tiba-tiba "putus nyawa" di tengah jalan.


Berikut adalah sedikit curhatan mengenai tiga aliran sesat... eh, maksud saya aliran teknologi otomotif yang sedang bertarung di jalanan kita.


### 1. Mesin Bensin (Internal Combustion Engine)

Ini adalah si "Mantan Terindah." Suaranya merdu, getarannya bikin kangen, tapi harganya bikin nangis setiap kali mampir ke SPBU. Kita masih cinta karena dia ada di mana-mana, tapi jujur saja, membakar uang demi memanaskan atmosfer sambil terjebak macet di Sudirman itu rasanya seperti membakar sate tapi dagingnya buat orang lain. Kita cuma dapat asapnya.


### 2. Electric Vehicle (EV) murni

Si "Pintar yang Bikin Deg-degan." Pakai mobil listrik itu rasanya seperti pakai HP mahal tapi baterainya sisa 5% dan kamu sedang di tengah hutan. Di Indonesia, tantangan EV bukan cuma soal gaya, tapi soal mental. Pertanyaan utamanya bukan lagi "Berapa top speed-nya?" tapi "Waduh, ada colokan nggak di rest area nanti?" Kalau macet total 4 jam karena banjir, rasanya ingin memeluk baterai sambil berdoa semoga AC-nya tidak memakan sisa hidup si mobil.


### 3. Plug-in Electric Vehicle (e-Power Style)

Nah, di sinilah Nissan masuk dengan ide yang agak "nyeleneh" tapi jenius lewat kode e-Power. Secara teknis, ini adalah solusi paling introvert yang pernah ada: Mobilnya bertenaga listrik, tapi dia malu-malu kalau disuruh colok kabel ke tembok.


Definisi Sederhananya: Kamu punya mobil listrik, tapi kamu bawa genset pribadi di dalam bagasi (atau di balik kap mesin).


Cara kerjanya benar-benar kearifan lokal:

 * Kamu isi bensin ke tangki (seperti mobil biasa).

 * Bensin itu bukan buat muter roda, tapi buat kasih makan si genset.

 * Si genset kerja bakti menghasilkan listrik.

 * Listrik itulah yang dipakai buat lari.


### Mengapa Ini "Solusi Cerdas" di Indonesia?

Mari kita jujur, kondisi macet di Indonesia itu tidak manusiawi bagi mesin bensin (yang cuma buang-buang bensin saat diam) dan bikin trauma buat pengguna EV murni (yang takut baterai habis sebelum sampai rumah).


Teknologi "mobil bawa genset" ini adalah penengah yang damai karena:

 * Anti-Panic Attack: Kamu tidak perlu keliling kota cari SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) seolah-olah cari takjil di bulan puasa. Cukup cari pom bensin terdekat yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah minimarket di satu kecamatan.

 * Juara Macet: Saat mobil berhenti total di kemacetan, mesin bensinnya mati. Kamu tetap dingin ber-AC pakai tenaga baterai. Begitu baterai lapar, si genset bangun sebentar, kasih makan, lalu tidur lagi. Efisiensinya luar biasa.

 * Sensasi Instan: Kamu tetap dapat jambakan torsi instan khas mobil listrik yang bikin kepala nyender ke jok saat lampu merah berubah jadi hijau, tapi tanpa keringat dingin melihat indikator baterai.


Jika EV murni adalah masa depan yang masih "loading", dan mesin bensin adalah masa lalu yang mulai "overheat", maka teknologi e-Power atau plug-in gaya genset ini adalah masa kini yang paling masuk akal.


Ini adalah cara elegan untuk bilang: "Saya mau menyelamatkan bumi dan menghemat dompet, tapi saya belum siap lahir batin kalau harus cari colokan di tengah kemacetan Bekasi." Sebuah solusi cerdas untuk kita yang hidup di antara cita-cita ramah lingkungan dan realita macet yang tak kunjung usai.


~tulisan ini ga mengandung iklan~



Kebijakan pemerintah untuk menghidupkan kembali tren Work From Home (WFH) sebagai respons atas melambungnya harga minyak dunia sekilas terdengar seperti solusi yang cerdas dan efisien. Logikanya sederhana: jika mobilitas berkurang, konsumsi BBM menurun, dan beban subsidi negara pun ikut melandai.


Namun, jika kita membedah realita di lapangan, strategi ini hanyalah obat pereda nyeri, bukan penyembuh luka yang mendalam.


WFH memang memotong biaya transportasi secara langsung bagi individu. Namun, data menunjukkan bahwa dampak WFH terhadap pengurangan konsumsi BBM nasional seringkali tidak signifikan. Mengapa demikian?


Pergeseran Konsumsi: Saat tidak ke kantor, kendaraan tetap digunakan untuk keperluan domestik, belanja, atau mengantar anak sekolah.


Logistik dan Kurir: Budaya WFH meningkatkan aktivitas belanja online secara drastis, yang artinya jumlah armada kurir dan logistik di jalan raya justru bertambah.


Efek Psikologis: Bagi sebagian orang, WFH justru memicu keinginan untuk keluar rumah di sore hari guna mencari suasana baru, yang ujung-ujungnya tetap membakar bensin.


Masalah fundamental di Indonesia—khususnya bagi aparatur sipil maupun pegawai swasta di kota besar—bukanlah pada "jam kerja", melainkan pada distribusi lokasi kerja.


Kita terjebak dalam pola hidup di mana rumah berada di penyangga kota, sementara pusat ekonomi menumpuk di satu titik. WFH hanyalah solusi sementara yang sifatnya menunda perjalanan, bukan menghilangkan kebutuhan mobilitas jangka panjang.


Jika pemerintah benar-benar ingin memangkas konsumsi BBM secara struktural dan permanen, solusinya bukan sekadar menyuruh pegawai diam di rumah, melainkan mendekatkan tempat kerja dengan domisili asli mereka.


Memudahkan mutasi pegawai mendekati homebase adalah kebijakan energi yang menyamar sebagai kebijakan SDM.

 

Mengapa memudahkan mutasi jauh lebih efektif dibanding WFH:


Reduksi Jarak Tempuh Permanen: Pegawai yang bekerja di dekat rumah mungkin tidak lagi membutuhkan kendaraan pribadi. Mereka bisa berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi publik jarak pendek yang lebih murah.


Kesejahteraan Psikologis: Mengurangi waktu tempuh berarti meningkatkan kualitas hidup. Pegawai yang tidak stres di jalan cenderung lebih produktif daripada mereka yang dipaksa WFH dengan gangguan domestik.


Pemerataan Ekonomi: Dengan mutasi yang lebih fleksibel, keahlian dan daya beli pegawai tidak hanya menumpuk di pusat kota, tetapi tersebar ke daerah-daerah asal mereka.


Melambungnya harga minyak dunia adalah alarm bagi kita untuk menata ulang tata ruang kerja. WFH mungkin membantu untuk jangka pendek, namun ia tidak mengubah struktur ketergantungan kita pada BBM.


Daripada terus-menerus memaksakan sistem kerja jarak jauh yang seringkali tidak kompatibel dengan semua jenis pekerjaan, pemerintah seharusnya mulai menyeriusi reformasi birokrasi yang memudahkan "pemulangan" pegawai ke daerah asal atau mendekati domisili mereka. Ketika jarak antara tempat tidur dan meja kerja tidak lagi dipisahkan oleh puluhan kilometer aspal, di situlah penghematan energi yang sesungguhnya terjadi.


~efek tidur terlalu lama miring~



Seringkali, kita terjebak dalam hobi menjadi "arkeolog" bagi pasangan kita. Kita menggali luka-luka lamanya, menghitung jejak kaki orang lain di hatinya, atau membandingkan diri dengan bayang-bayang masa lalu yang sebenarnya sudah mati. Namun, mencintai dengan prinsip bahwa dia "lahir saat aku mencintainya" adalah bentuk pembebasan yang paling murni.


Dalam pandangan ini, masa lalu hanyalah kumpulan prolog yang tidak relevan bagi naskah utama yang sedang kita tulis bersama. Kita tidak peduli siapa dia sebelum bertemu kita, bukan karena kita acuh, tetapi karena kita percaya bahwa cinta memiliki kekuatan untuk mereset identitas seseorang.


Dunia mungkin mengenalnya dengan beban-beban lama—kegagalan, kesalahan, atau trauma. Namun, di hadapan seseorang yang mencintainya secara utuh, wanita itu mendapatkan hak istimewa untuk menjadi "manusia baru".


Mencintainya berarti menyediakan ruang di mana dia tidak perlu lagi menjelaskan mengapa dia pernah hancur. Kita tidak mendefinisikannya berdasarkan apa yang telah hilang darinya, melainkan berdasarkan apa yang tumbuh saat dia bersama kita.


Secara psikologis, banyak orang membawa beban masa lalu karena mereka tidak pernah merasa cukup "diterima" di masa kini. Saat kita memandang pasangan sebagai sosok yang baru lahir dalam cakrawala cinta kita, kita memberinya keamanan emosional. Dia tidak perlu bersaing dengan versi dirinya yang dulu, dan kita tidak perlu merasa terancam oleh hantu-hantu masa lalunya.


Mencintai adalah tindakan penciptaan. Ketika aku memilihmu, aku tidak hanya menerima siapa kamu, tapi aku memberi ruang bagimu untuk lahir kembali sebagai sosok yang paling dicintai—tanpa beban, tanpa bayang-bayang.


Menganggap wanita yang kita cintai tidak memiliki masa lalu bukanlah sebuah kenaifan. Itu adalah sebuah pilihan sadar. Itu adalah cara kita mengatakan bahwa satu-satunya versi dirinya yang valid adalah versi yang sedang menatap mata kita saat ini.


Sebab, pada akhirnya, bukankah kita semua hanya ingin ditemukan oleh seseorang yang bersedia menghapus seluruh peta lama kita dan membantu kita menggambar peta yang baru? Di tanganku, dia tidak punya sejarah; dia hanya punya masa depan.

 


31 Maret 2026


Malam ini ruang obrolan keluarga terasa lebih sunyi dari biasanya. Ada sekat tipis yang canggung di antara gelak tawa adik adiknya dan permainan game dari Handphone mereka.


Layar monitor itu—benda mati yang beberapa jam lalu kita tatap bersama dengan penuh harap—ternyata tidak berpihak pada kita. Kalimat "Anda Dinyatakan Tidak Lulus Seleksi SNBP" yang terpampang di sana rasanya jauh lebih dingin dari AC di ruang keluarga.


Aku melihat bahunya sedikit merosot. Anak laki-lakiku, yang rasanya baru kemarin kuseberangkan di depan gerbang SD, kini harus berhadapan dengan salah satu penolakan besar pertama dalam hidupnya.


"Maaf yah," ujarnya lirih. Wajahnya muram, ada gurat rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu dia pikul sendirian.


Duniaku rasanya ikut longsor. Sebagai orang tua, bohong jika aku tidak kecewa. Ada harapan yang kuselipkan di setiap doa-doaku agar langkahnya dimudahkan. Tapi, melihat matanya yang layu, aku tahu ini bukan saatnya untuk ikut terpuruk. Aku harus jadi jangkar, bukan pemberat.


Kusembunyikan sesak itu dalam senyum tipis. Aku hanya mampu mengiriminya pesan WA karena jarak yang memisahkan kami, mencoba mentransfer kekuatan yang kupunya melalui cara apapun yang kubisa.


Pelajaran tentang Kekalahan

Aku ingin dia tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan di atas karpet merah. Jalur raport (SNBP) memang manis jika didapat, tapi gagal di sana bukan berarti akhir dari segalanya.


Aku ingin dia tahu seperti apa rasanya sebuah kekalahan.


Sekarang, pilihannya hanya satu: Bangkit.

Dia harus belajar merangkul rasa sakit ini, mencernanya, lalu menjadikannya bahan bakar. Tidak ada waktu untuk meratap terlalu lama karena medan perang yang sebenarnya—ujian tulis—sudah menanti di depan mata.


“Gak apa-apa, Nak. Kecewa itu manusiawi, tapi jangan biarkan dia menetap terlalu lama. Sekarang waktunya kita asah pedang lebih tajam lagi. Belajar lebih giat, kita bertarung di jalur ujian nanti.”


Mungkin ini cara semesta mengajarinya tentang arti kerja keras yang sesungguhnya. Bahwa sesuatu yang diperjuangkan dengan keringat dan air mata seringkali terasa lebih berharga saat berhasil digenggam nanti.


Malam ini, biarlah dia tidur dengan kecewanya. Besok, aku akan memastikannya bangun dengan semangat baru. Perjalanan menuju kampus impiannya belum usai—hanya berganti rute saja.


Kita berjuang lagi, Nak. Ayah ada di belakangmu!



Siang itu, suasana di ruang helpdesk penyuluh pajak terasa cukup padat. Di salah satu sudut, seorang Wajib Pajak duduk dengan raut wajah yang sedikit lelah. Beliau adalah seorang dokter sukses, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan sesama. 


Namun, hari ini, bukan stetoskop yang ia pegang, melainkan tumpukan kertas dan data digital di layar Coretax.


"Mas, kenapa banyak sekali ya bukti potongnya?" keluhnya sambil menunjukkan daftar panjang transaksi. "Saya harus meneliti ini satu-satu? Dari RS A, RS B, klinik C, sampai honor narasumber. Rumit sekali kalau harus dicocokkan semua."


Penyuluh tersenyum tenang, membantu menarik data otomatis yang tersedia di sistem. 


Namun, di balik percakapan teknis tentang tarif dan kredit pajak, ada sebuah kebenaran yang lebih besar yang sedang bermanifestasi.


Hikayat Tentang "Kepemilikan".


Kesulitan sang dokter dalam memverifikasi setiap rupiah yang ia terima adalah pengingat nyata akan sebuah janji spiritual


Bahwa setiap kenikmatan akan ditanya dari mana asalnya dan untuk apa digunakannya.


Dunia mengenal beliau sebagai orang hebat dengan penghasilan melimpah. 


Namun, di meja itu, kelimpahan tersebut berubah menjadi "beban" administratif. Semakin banyak sumber penghasilannya, semakin tebal daftar bukti potongnya, dan semakin lama waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikannya.

Ini adalah prototipe dari apa yang digambarkan dalam literatur hikayat tentang hari akhir:


Si Miskin yang tak punya apa-apa akan melenggang masuk dengan cepat karena tak ada yang perlu diperiksa.


Si Kaya, meski hartanya halal dan bermanfaat, harus berhenti lama di "gerbang pemeriksaan" untuk mempertanggungjawabkan setiap detailnya.


Tumpukan bukti potong itu bukan sekadar angka. Ia adalah simbol amanah. Sang dokter sedang diajarkan—dan kita yang melihatnya pun ikut tersadar—bahwa setiap tambahan aset di dunia ini membawa konsekuensi "pemeriksaan" yang lebih panjang.


Jika di dunia saja, dengan sistem Coretax yang sudah membantu mengotomasi data, kita masih merasa lelah dan rumit untuk menelitinya, lantas bagaimana dengan hisab di hari ketika tidak ada satu pun yang terlewatkan?


"Dunia ini halalnya adalah hisab, dan haramnya adalah azab."


Maka, setiap kali kita merasa lelah mengurus administrasi duniawi atas harta kita, biarlah itu menjadi pengingat agar kita lebih berhati-hati dalam mencarinya. 


Agar kelak, meski antrean hisab kita panjang karena banyaknya titipan-Nya, kita punya jawaban yang menyelamatkan atas setiap baris "bukti potong" kehidupan kita.



Saya mungkin termasuk salah satu bapak yang terang-terangan mengaku tidak setuju jika bapak-bapak diminta mengambil raport anak sendirian. Bukannya malas atau tidak peduli, tapi mari kita bicara jujur tentang pembagian peran dalam keluarga.


Rata-rata bapak, termasuk saya, seringkali merasa "asing" di hadapan deretan nilai akademis. Bagi kami, angka 80, 90, atau fluktuasi nilai matematika adalah domain ibunya. 


Mengapa? Karena ibulah yang biasanya mendampingi proses belajar harian, yang tahu perjuangan anak menghafal rumus, dan yang paling fasih memberikan apresiasi emosional atas pencapaian akademis tersebut.


Jika bapak dipaksa maju sendirian, percakapan dengan guru seringkali menjadi kaku karena fokus kami memang tidak di sana.


Bapak-bapak punya "radar" yang berbeda. Saat membuka buku raport, mata kami tidak mencari nilai Matematika atau Bahasa Inggris terlebih dahulu. Kami lebih tertarik pada catatan wali kelas mengenai:


Apakah anak saya menghargai waktu?

Apakah dia menyelesaikan apa yang dia mulai?

Sejauh mana dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus dituntun?

Apakah dia memiliki integritas dalam bertindak?


Bagi seorang ayah, prestasi karakter jauh lebih krusial daripada sekadar prestasi nilai. Karakter adalah fondasi yang akan membuat seorang anak mampu bertahan hidup dan meneruskan jejak ayahnya di masa depan.


Membentuk mentalitas anak agar tangguh, jujur, dan mandiri adalah "urusan" bapak yang utama. Bapak mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang keras, bukan sekadar menghadapi ujian di kelas. 


Itulah sebabnya, mengambil raport idealnya dilakukan bersama-sama. Ibu memantau progres kognitifnya, sementara bapak memastikan "pilar-pilar" manusianya tetap tegak.


Jangan biarkan bapak sendirian di sekolah, karena saat ditanya guru tentang nilai, kami mungkin bingung. Tapi jika ditanya soal mentalitas anak, kami punya jawaban sepanjang hari.





Dunia media sosial kita memang aneh sekaligus menakjubkan. Sebuah kejadian di gerbong kereta api, yang bermula dari kelalaian penumpang dan kesigapan petugas, tiba-tiba bermutasi menjadi studi kasus marketing yang menarik.


Kita semua sudah mendengar ceritanya: Seorang wanita kehilangan tas, sang suami memviralkan kejadian tersebut dengan narasi yang menyudutkan, dan seorang petugas security stasiun (yang sebenarnya mengamankan tas tersebut) malah menjadi tertuduh karena satu item yang diklaim hilang.


Namun, di tengah riuh rendah perdebatan siapa yang salah dan benar, ada satu pemenang tak terduga yang diam-diam tersenyum di pojok ruangan: Kopi Tuku.


Yang membuat kasus ini unik bukanlah tas branded atau dompet berisi jutaan rupiah yang menjadi sorotan utama, melainkan sebuah Tumbler Kopi Tuku.


Ketika netizen mulai membedah kronologi dan narasi sang suami yang mempermasalahkan hilangnya tumbler tersebut, fokus publik bergeser. Tiba-tiba, tumbler ini bukan lagi sekadar wadah air minum. Ia berubah menjadi "objek hasrat" yang begitu berharga sampai-sampai pemiliknya rela memviralkan kejadian ini demi mendapatkannya kembali.


Secara tidak sadar, drama ini mengirimkan sinyal psikologis yang kuat ke alam bawah sadar publik: "Sebagus apa sih tumbler Tuku itu sampai segitu pentingnya?"


Inilah yang disebut sebagai Accidental Marketing atau pemasaran yang tidak disengaja. Kopi Tuku mendapatkan eksposur media (earned media) yang nilainya mungkin setara dengan ratusan juta rupiah biaya iklan, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Mengapa momen viral ini menjadi kemenangan telak bagi salah satu brand kopi yang bisa disebut telah lama malang melintang di dunia perkopian tanah air?


Saat seseorang meributkan barang yang hilang, secara otomatis audiens menganggap barang tersebut bernilai tinggi. Drama ini secara tidak langsung menaikkan prestis dari merchandise Tuku. Tumbler itu bukan barang murahan; itu adalah barang yang "layak diperjuangkan".


Konsumen zaman sekarang skeptis terhadap iklan berbayar (Paid Ads). Namun, kasus ini adalah User Generated Content (UGC) yang paling murni. Tidak ada naskah, tidak ada brief dari agensi iklan. Emosi pemilik tas yang merasa kehilangan adalah testimoni paling jujur tentang keterikatan konsumen dengan brand tersebut.


Bagi mereka yang belum punya, rasa penasaran pun muncul. "Oh, ternyata tumbler Tuku itu iconik ya?" Viralitas ini menciptakan urgensi baru bagi pasar untuk melirik produk-produk merchandise kedai kopi tersebut.


Kasus "Tumbler yang Hilang" ini menggambarkan bahwa brand loyalty (kesetiaan merek) adalah aset yang tak ternilai. Kopi Tuku telah berhasil membangun cult following di mana produk mereka bukan sekadar kopi atau botol minum, melainkan bagian dari gaya hidup dan identitas personal pelanggannya.


Tentu, kita bersimpati pada petugas kereta yang sempat tersudut—dan syukurnya kini banyak dibela oleh netizen yang waras. Namun dari kacamata bisnis, fenomena ini adalah bukti bahwa marketing terbaik seringkali tidak lahir di ruang rapat yang dingin, melainkan dari drama kehidupan sehari-hari yang tak terduga.


Bagi Kopi Tuku, ini adalah jackpot. Mereka hanya perlu duduk manis, menyeduh kopi, dan melihat brand awareness mereka melesat naik, didorong oleh sebuah drama kereta api yang tak pernah mereka skenariokan.






Dulu, meja kopi di sudut kantor itu adalah saksi bisu. Di sana, kita bukan sekadar rekan kerja yang berbagi kubikel; kita adalah sekutu. Tempat kita bertukar isi kepala, menertawakan absurditas birokrasi, hingga merancang mimpi-mimpi kecil untuk masa depan. Kamu adalah pendengar yang baik, dan aku (semoga) adalah penyeimbang yang cukup layak bagimu.


​Lalu tibalah hari itu. Kamu memutuskan untuk berkemas. Sebuah langkah wajar untuk mencari tantangan baru atau sekadar udara yang lebih segar. Kita berpelukan, berjanji bahwa frekuensi pertemuan mungkin berkurang, tapi kualitasnya tak akan hilang.


​Namun, aku salah.

​Bukan jarak fisik yang kini membentang di antara kita, melainkan sebuah jurang persepsi yang kau gali perlahan-lahan.


​Masalahnya bukan karena kamu kini berada di "kolam" yang berbeda. Sah-sah saja orang berpindah tempat. Masalahnya ada pada bagaimana kamu kini memandang kolam lama yang pernah membesarkanmu—kolam tempatku masih bertahan.​Setiap kali kita bertemu atau bertukar pesan, ada nada bicara yang berubah. 


Sensitivitasmu menumpul. Kamu tidak lagi bertanya "Apa kabar?" untuk mendengar ceritaku, melainkan sebagai pintu masuk untuk membandingkan nasib.

​Perhatian itu telah bergeser. Dulu kita berdiskusi untuk mencari solusi bersama, kini narasi yang kau bawa terasa seperti kuliah satu arah.


​Secara implisit, tanpa kata-kata kasar atau vulgar, kamu membangun tembok. Lewat senyum simpulmu saat aku menceritakan kendala di kantor lama, lewat saran-saranmu yang terdengar "menggurui" alih-alih "memahami", kamu mengirimkan pesan yang jelas:

​"Lihatlah aku. Aku sudah selamat. Sementara kamu? Kamu masih berkubang di sana."


​Kamu seolah melukiskan tempatku berdiri sekarang sebagai kolam yang airnya tak lagi mengalir. Berlumut. Penuh bakteri. Tempat yang tidak sehat bagi jiwa-jiwa yang ingin maju—sepertimu.


​Ada kepongahan halus di sana. Sebuah keyakinan buta bahwa keputusanmu untuk pergi adalah satu-satunya kebenaran mutlak, dan keputusanku untuk bertahan adalah sebuah kebodohan yang menyedihkan. Kamu seakan lupa, bahwa di kolam yang kau sebut "berlumut" ini, kita pernah tumbuh bersama. Bahwa bakteri yang kau jijikan itu, dulunya adalah ekosistem yang menempa mentalmu hingga kau berani melangkah keluar.


​Sikapmu bukan lagi seperti teman, melainkan seperti seorang nabi yang baru turun dari gunung membawa wahyu, memandang iba pada umatnya yang masih tersesat di lembah.

​Itu menyakitkan, Kawan. 


Bukan karena aku iri dengan kolam barumu yang mungkin lebih jernih atau luas. Tapi karena kau kehilangan kemampuan untuk menghargai pilihan orang lain. Kau lupa bahwa setiap orang punya zona waktu dan medannya sendiri.


​Mengajak orang lain untuk maju itu mulia. Namun, merasa bahwa jalanmu adalah satu-satunya jalan terbaik, sambil merendahkan tempat pijakan orang lain secara halus, adalah bentuk narsisme terselubung.


​Pada akhirnya, aku turut bahagia kau menemukan air yang lebih jernih. Namun, tolong simpan rasa kasihan itu. Karena di sini, di kolam yang kau anggap keruh ini, aku masih bernapas, masih berjuang, dan yang terpenting—aku masih menghargai teman tanpa merasa lebih tinggi darinya.


Tetaplah menjadi orang baik. Jika beruntung kamu akan menemukan orang baik. Jika tidak kamu akan ditemukan orang baik. ~ Buya Hamka ~

Bersama seorang ajudan yang selalu mengikuti kemanapun seperti satelit, Sang bapak langsung mendekati petugas penerima layanan. Dengan tergopoh Si mbak penerima layanan berdiri, kemudian memberikan salam dan menanyakan keperluan tanpa lupa menawarkan senyum manisnya.


Setelah selesai terkejut Si mbak melihat kehadiran bapak berseragam dengan atribut yang menandakan bahwa yang bersangkutan adalah salah satu petinggi di pemerintahan, melanjutkan dengan membimbing Sang bapak untuk mengisi terlebih dahulu aplikasi Kunjung Pajak sebelum menuju ke loket yang seharusnya.


“Saya ingin mendaftarkan Yayasan saya untuk memiliki NPWP!” Pinta sang bapak dengan sopan dan senyum yang juga tak kalah menawan.


Si mbak menjawab dengan ramah. “Maaf bapak, karena di KPP Madya tidak dapat menerima pendaftaran Wajib Pajak baru, bapak dapat mendaftarkan secara mandiri dan online. Kami menyediakan unit komputer yang bapak dapat gunakan untuk mendaftarkan diri di sudut ruangan ini, silahkan bapak!”


Tidak puas dengan penjelasan tersebut Sang bapak, bersikeras ingin bertemu dengan petugas yang dapat memberikan pelayanan publik sesuai dengan keinginannya.


***


“Saya ingin bertemu dengan pimpinan kantor ini, sekarang!” Dengan nada yang ditinggikan Sang bapak mengangkat tubuhnya hingga terlihat jelas seluruh atribut jabatan yang menempel di seragam resminya.


Ketidakpuasan Sang bapak begitu terlihat, kerut di keningnya semakin membentuk gelombang, begitupun warna rona wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Keringat terlihat di pori-pori kulitnya, hampir tak tertahankan mungkin meja yang memisahkan antara Sang bapak dan saya akan digebraknya.


Saya hanya duduk, memandangnya tanpa melepaskan senyum yang ada di sudut bibir. Kemudian menjanjikan akan mempertemukan dengan atasan, meskipun sebenarnya masih berharap agar masalah ini tidak sampai ke atasan.


Karena bagaimanapun juga perihal yang disampaikan Sang bapak tidak terdapat di dalam Standart Operating Procedure. Jadi seharusnya mampu untuk diselesaikan di helpdesk dan tidak perlu sampai harus ke atasan.


***


Setelah mendapat informasi bahwa di Kantor Pelayanan Pajak Madya tidak dapat menerima pendaftaran Wajib Pajak baru secara manual melalui pengajuan fisik, Sang bapak masih bertahan di ruang tunggu. 


Melewati waktu istirahat dan Sang bapak masih bertahan, tanpa saya pahami apakah ada lagi layanan yang dapat dilakukan untuk membuat Sang bapak terpuaskan. 


Melihat hal demikian saya pun membatin, bukankah apabila saya berada di lokasi lain dan berharap mendapatkan pelayanan publik, tujuan saya pasti adalah terselesaikan seluruh kepentingan?


Saya pun mendekati Sang bapak, 


“Boleh saya cek dokumen yang bapak bawa,pak?” Pinta saya, di sela-sela kesibukannya memainkan gawainya.


Sedikit mendongak Sang bapak menyerahkan sebuah map agak tebal karena berisi dokumen yang telah dipersiapkannya. Memandang saya dengan sisa-sisa kesal yang masih terlihat di wajahnya. Namun dengan sigap menutup gawainya seketika, mungkin dia tak menyadari bahwa sedari tadi saya memperhatikan dari kursi helpdesk yang kebetulan hari itu adalah jadwal piket saya.


Bergegas mengikuti saya dari belakang menuju meja helpdesk yang telah kosong, karena Wajib Pajak terakhir yang saya layani telah meninggalkan meja itu. Hari semakin sore, namun kegigihan Sang bapak membuat saya tak bisa mengacuhkannya seterusnya.


***


“Mari, saya bantu untuk mendaftarkan diri secara online pak” sambil mempersilahkan duduk dan meneliti bersama dokumen-dokumen yang Sang bapak bawa bersamanya. 


Sore semakin menjelang, proses membantu mengisikan data-data ke aplikasi pendaftaran NPWP secara online ini memang sedikit memakan waktu apabila didapati kendala-kendala yang timbul karena data-data yang belum valid. Namun kesabaran Sang bapak membuat saya harus membuatkan secangkir kopi, sembari bercerita dan menemukan solusi untuk setiap kendala tersebut.


Mulai dari kondisi kantor, kisah keluarga, hingga ke topik yang membuat begitu banyak opini-opini menjadi perihal yang menarik untuk terus diperbincangkan yaitu politik. Mungkin hanya semacam basa basi namun bisa jadi permulaan perkenalan yang akan terus menjadi ajang silaturahmi kedepannya.


***


“Saya yakin di dunia ini tidak ada yang tidak dapat diselesaikan, hanya butuh ngobrol dan secangkir kopi semua ada jalan keluarnya.” Ucap Sang bapak sembari menjabat tangan saya dengan erat.


Semburat cerah memancar dari wajah Sang bapak yang terlihat semakin menua, barangkali jabatannya juga telah menyedot masa mudanya. Urusannya dengan perpajakan telah diselesaikan, tujuannya telah tertunaikan. Seluruh pertanyaan telah disampaikannya, dan jawaban juga telah diberikan dengan sejelas-jelasnya.


Sang bapak kemudian mendekati saya dari samping, berusaha memeluk dan menepuk dada saya seperti seorang bapak memberikan motivasi kepada anaknya. Sebelum berpisah Sang bapak menyampaikan terimakasih tak terhingga dan meminta kami untuk berfoto bersama, dan mengucapkan kalimat yang begitu membuat saya akan mengingatnya sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan,


“Mas, terimakasih atas bantuannya, saya memiliki hutang budi kepada mas, dan saya akan membalasnya. Ini nomor kontak saya, silahkan hubungi saya bila mas mendapat masalah dimana saya dapat membantu menyelesaikannya.”


Kebaikan akan bermuara kepada kebaikan juga, walau terkadang kita begitu enggan untuk memulai kebaikan itu.


 


Apakah ada lelaki di dunia ini yang tidak memiliki rahasia?  Ada mungkin, tapi ga banyak. Tetapi adakah yang benar benar tak memiliki rahasia terhadap pasangannya? Tak ada, dapat saya pastikan. Setiap laki-laki selalu memiliki rahasia yang akan dia sembunyikan yang tak akan dia sampaikan ke pasangannya. Dan itu adalah kekuatan seorang laki-laki.

Apakah rahasia itu baik ataukah buruk? Jangan tanyakan itu kepada wanita, karena rahasia adalah sebuah ketidakpastian. Sedangkan kodrat wanita adalah makhluk yang menuntut kepastian. Di mata wanita, semua rahasia laki-laki adalah ‘pengkhianatan’, namun laki-laki bersedia menanggung tuduhan itu. Karena baginya rahasia adalah tuntutannya sebagai laki-laki.


Seorang laki-laki yang keluar rumah di pagi hari untuk mencari nafkah, dan disadarinya bahwa di sore harinya dia tak membawa maisah untuk keluarganya. Dia akan merahasiakan semua onak duri yang diinjaknya sepanjang siang dari keluarganya. 


Seorang laki-laki yang mendapati anak-anaknya belum mengecap sesuap nasi, akan menyisakan bagiannya dan merahasiakan perih lambungnya dari mereka. 


Seorang laki-laki yang melihat sedih menggelayut di mata pasangannya, akan merahasiakan semua beban hidupnya di hadapan pasangannya meski dirasa dunia mulai menghimpitnya.


Semua itu, karena mereka adalah laki-laki.


Kemudian pasti akan ada laki-laki yang layu karena rahasia, rahasia yang menyakiti orang-orang disekitarnya. Karena rahasia juga pasti akan membuat layu sekokoh apapun pohon berdiri. 


Ada yang nyeletuk “yang begitu gusar justru yang berdomisili diluar Serang”, Perihal penerapan Perda No.2 tahun 2010 mengenai Penyakit Masyarakat. Sudah sangat viral di media elektronik maupun media sosial tentang Ibu-ibu buta huruf yang membuka warung makannya di siang hari, karena yang bersangkutan tak bisa membaca selebaran dari Pemerintah Daerah setempat mengenai pelarangan membuka warung disiang hari saat Ramadhan. 

Padahal Masyarakat Serang beserta konstituen yang terkait justru adem ayem, MUI nya menanggapi dengan bijak, Pemerintah Daerahnya menerapkan peraturan dengan tetap menjunjung kemanusiaan. Sungguh informasi yang sepenggal dapat memberikan hasil output yang salah kaprah.

Kemudian menjadikan opini yang berkembang, dibarengi dengan pemberitaan yang masif. Entah media menjadikannya berita atai penggiringan opini. Yang pasti di masyarakat telah terlanjur terbentuk dua kubu dalam perang opini tersebut. 

Opini yang berpihak kepada si ibu baik dengan alasan toleransi, juga dengan argumen bahwa Muslim yang berpuasa tak seharusnya tergoda dengan warung makanan yang dibuka di siang hari. Beberapa pihak yang menjadikan toleransi sebagai landasan untuk mendukung si ibu pemilik warung, dengan segera dan tanggap membuka donasi untuk meringankan beban si ibu, yang kabarnya donasi itu telah mencapai 200 juta. Menjadikan setiap warung berlomba-lomba untuk membuka warungnya di siang hari, dengan harapan akan ada satpol PP yang akan menerapkan konskuensi Perda itu bagi warungnya dan mendapat donasi juga. Mbok ya, saya juga punya warung...

Sedangkan opini yang mengusik panca indera saya, justru opini yang membawa keimanan dalam hal puasa. Begitu lemahnyakah tingkatan orang berpuasa sehingga ada warung buka di siang hari saja sudah tergoda? Puasa macam apa yang tak tahan godaan aroma makanan? Terus kalau setiap godaan di bulan Ramadhan di hilangkan, apa yang kalian rayakan sebagai sebuah kemenangan di hari iedul fitri kelak?

Saya ga mengatakan opini ini benar, namun saya juga sedikit terusik dengan pengambilan sudut pandang opini-opini tersebut. Tidak salah opini-opini tersebut bergulir, hanya saja konteksnya bukan untuk penutupan warung, tapi untuk muhasabah diri dalam konteks yang lebih besar yaitu jalan menuju ketakwaan. Justru opini semacam ini akan sangat cocok bila digandengkan dengan ayat Quran berikut ini. 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabut: 2-3].

Sungguh setiap muslim itu akan diuji tentang kadar keimanannya, tak akan luput semuanya. Hanya saja kita kadang sulit membedakan mana yang ujian mana yang bencana. Maka opini-opini diatas bukanlah opini yang menyudutkan, bukanlah opini yang nyinyir, ngenyek atau dangkalnya berlogika. Opini-opini itu hanyalah salah tempat, salah konteks dan salah peruntukannya. Sejujurnya siapapun yang beropini seperti itu dia sedang menanyakan kepada dirinya sendiri. Terlalu personal untuk membahas siapa yang menulis opini itu karena jawabannya ada di dalam diri mereka sendiri.

Konteks mengenai Warung makan yang buka di siang hari bukanlah mengenai individu dan keimanannya, namun tentang syiar islam. Allah berkata dalam Quran, 

“Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan maksiat.” (QS. al-Maidah: 2)

Sekalipun bukan kita pelaku maksiatnya, namun islam melarang kita untuk membantu ataupun memfasilitasi agar maksiat itu terjadi. Puasa Ramadhan adalah kewajiban, siapapun yang tidak melaksanakannya tanpa uzur maka dia telah melakukan maksiat bahkan bisa jatuh ke dosa besar. 

Membuka warung di siang hari bukan lagi masalah individu dan kualitas keimananya, namun masalah memfasilitasi untuk perbuatan maksiat. Sekaligus menyurutkan syiar-syiar islam dalam masyarakat. 

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS. al-Hajj: 32)

Bulan ramadhan, termasuk syiar islam. Di saat itulah, kaum muslimin sedunia, serempak melakukan puasa. Karena itu, menjalankan puasa bagian dari mengagungkan ramadhan. Hingga orang yang tidak berpuasa, dia tidak boleh secara terang-terangan makan-minum di depan umum, disaksikan oleh masyarakat lainnya. Tindakan semacam ini, dianggap tidak mengagungkan kehormatan ramadhan.

Dulu para sahabat, mengajak anak-anak mereka yang masih kecil, untuk turut berpuasa. Sehingga mereka tidak makan minum di saat semua orang puasa. Ini syiar islam, dan sekali lagi ini bukan konteks individu dan keimanannya.


Sebenarnya tidak juga bisa dikatakan hobi, hanya karena dulu bapak adalah pegawai rendahan yang hanya mampu memiliki motor, maka kesenangan itu bermula. Mengendarai motor tidaklah menjadi pilihan bagi sebagian orang saat ini, saat mampu memiliki kendaraan yang lebih mewah. Sudah lewat masa kejayaan kendaraan roda dua ini membelah jalanan, namun tidak bagi saya.

Probolinggo ke Jogjakarta hampir pasti telah menjadi rutinitas bulanan bagiku dan bagi bapak dulu dengan motor butut yang dah tak muda lagi. Bukan tentang tujuan yang membuatku begitu bahagia, namun tentang perjalanannya itu sendiri. Duduk diatas jok motor dan merasakan angin, istirahat di pom bensin ataupun masjid ataupun warung yang terserak di sepanjang jalan, melihat aktivitas masyarakat di pinggir jalan. Pengalaman yang tak kan pernah terlupakan, bahkan telah mengurat nadi. Hingga rasa itu pun selalu ingin terulang.

Mengendarai motor tidaklah semenarik mengendarai kendaraan roda empat, apalagi di kultur Indonesia yang mengedepankan materi sebagai patokan kemakmuran. Motor identik dengan kendaraan kaum proletar, walau sebenarnya ada jenis motor tertentu yg harganya malah jauh lebih tinggi dari kendaraan roda empat. Namun mind set sudah terlanjur terbentuk, bila anda naik motor meskipun duit anda ga berseri, anda akan terlihat seperti tukang ojek.

Pernah naik kuda? Atau onta? Burung onta deh? Belum semua? Sama, saya juga. Hehehe...

Namun setidaknya saya pernah naik gajah di Taman Nasional Way Kambas kala itu, menyusuri sungai dan hutan. Menapaktilasi para pawang gajah membawa gajahnya ke dalam hutan untuk mencari kayu atau memburu babi. Para pawang dan gajahnya ini diharuskan memiliki ikatan, agar mereka dapat melaksanakan tugas dgn baik. Pawang dan gajahnya bukan lagi seperti tuan dan peliharaannya, lebih mirip bapak dan anaknya, atau kakak dan adiknya.

Motor bagiku seperti kuda, onta, burung onta ataupun gajah. Walaupun motor barang mati dengan memperlakukan sebaik-baiknya maka motor seperti mengikuti apa yang kita mau. Setidaknya kalau pecah ban tepat di depan tukang tambal ban, atau kalau macet tepat didepan bengkel motor. Kadang ketika berkendara sendiri di atas motor sering ngobrol sendiri padahal sebenarnya sedang pura-pura berbincang dengan si motor buluk ini. Membangun ikatan walau sebenarnya tak ada yang bisa dibangun.

Dalam perjalanan motor kuperlakukan seperti teman perjalanan, kalau dia kehujanan ya saya juga kehujanan. Kalau dia tersengat terik mentari maka segera kuteduhkan, walau sebenarnya dia juga tak merasakan panas. Hanya sebuah ikatan yang berusaha dibangun agar perjalanan tak begitu sepi dan hening.

Mungkin ikatan itulah rahasia yang membuat setiap perjalananku diatas motor begitu nikmat. Tak peduli apa dan dimana tujuan, ketika melayang di atas motor merasakan angin dan sinar mentari adalah adrenalin yang mencandu. Tak peduli hujan atau pun kabut, nikmat itu serasa tak tergantikan.
Belum pernah terpikirkan sebelumnya, tentang apa yang akan kutinggalkan pada anak-anakku kelak. Beberapa hal memang terlintas begitu saja, namun sebenarnya semua hanya dalam batas rencana. Setidaknya blog ini bisa menjadi peninggalan yang berguna bagi anak-anakku kelak. Berguna bagi mereka untuk mengenal siapa bapaknya. Mungkin meraka tahu diriku didalam rumah, lebih dari itu mungkin mereka belum faham benar, seperti apakah sosok bapak mereka.

Umur tak pernah kenal kompromi, usia tak meminta ijin untuk berhenti. Bahkan jantung di dada ini pun tak kuasa aku mengaturnya, apalah nanti yang akan kutinggalkan bagi mereka. Blog ini telah menampung lebih dari 300 tulisan yang pernah kutuliskan sejak kusadari bahwa aku harus menulis untuk generasiku. Selain itu entah apa yang kutinggalkan bagi mereka.

Yang pertama terfikirkan barangkali way of life. Keluargaku tahu bapaknya sosok yang bagaimana, anak-anakku faham bahwa dibawah rumahku ada 2 nilai moral yang harus dijunjung tinggi. Pertama adalah kejujuran, akar dari keberhasilan menjalin hubungan interaksi dengan sesama manusia adalah kejujuran. Dari berbagai sumber kehidupan saripati-saripati itu kukumpulkan dan akhirnya kudapatkan bahwa kejujuran adalah nilai moral yang mendasari apakah seseorang itu dikatakan baik atau tidak. Maka pembohong dan kemunafikan sudah pasti tidak akan diterima dalam rumah ini.

Kedua adalah tanggung jawab, dalam islam dikenal istilah tamyiz dalam hal pembagian usia seseorang dalam kemampuannya beribadah. Tamyiz adalah batas antara apakah seseorang itu memahami apa yang diperbuatnya dan tidak. Batas kesadaran diri, batas pengendalian diri. Seseorang yang tak mampu menyadari tindakannya maka dia bisa dikatakan belum tamyiz. Anak-anak yang dengan tanpa memahami mudhorotnya melangkahi jamaah dewasa yang sedang shalat di masjid adalah dikaakan belum tamyiz. Allah memaafkan perihal apapun yang dilakukan seseorang yang belum tamyiz, belum memahami kesadarannya, belum bisa membedakan mana baik mana buruk. Belum bisa menimbang mana mudhorot mana manfaat.

Tanggung jawab adalah seseorang yang telah melewati batas tamyiz tersebut. Seseorang yang memahami tanggung jawabnya adalah telah memahami mana baik mana buruk, memahami mana mudhorot mana manfaat. Yang lebih penting adalah seseorang yang bertanggung jawab memiliki kemampuan menerima apapun yang dihasilkan dari keputusannya, baik mudhorot ataupun manfaatnya.

Kedua nilai moral itu menjadi pilar yang menopang rumah bapak mereka, dan mereka harus menjaganya hingga akhir hayat. Entah apalagi yang begitu berharga yang bisa kutingggalkan bagi mereka. Yang pasti kedua pilar moral itu tak akan berjalan tanpa pembiasaan iman. Iman bagiku bukanlah hal yang mudah ditanamkan kepada anak-anak. Iman adalah tindakan yag dibiasakan sehingga pada suatu saat ketika dada mereka tidak didapati iman, mereka akan merasa kehilangan sesuatu. Karena iman adalah perkara pembiasaan.

Dua pekan telah berlalu, Jogjakarta memang bukan kota kelahiranku pun bukan tempat dimana ku dibesarkan. Namun entah kenapa kota tempat nenek dan bapakku dilahirkan ini meninggalkan bekas yang susah sekali dilupakan. Sudah tiga kali lebaran kuhabiskan di kota ini walau tidak secara berturut namun memberikan kesan yang begitu dalam.

Dimulai ketika aset almarhumah ibu yang diwariskan kepadaku. Dengan persetujuan keluarga aset itu kupindahkan ke Jogjakarta mengingat keluarga bapak ada di Jogjakarta. Hingga setiap lebaran kuputuskan untuk mengunjungi keluarga bapak, sedangkan untuk menambah satu malam perjalanan lagi menuju kota Malang sangatlah kepayahan. Kudapati Jogja telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana akhir karirku akan dihabiskan, itupun bila Allah berkehendak memberi bonus pada umurku.

Donotirto sebuah desa kecil di wilayah kabupaten Bantul, sekitar 45 menit arah selatan kota Jogjakarta. Jalan terpendek yang dapat ditempuh untuk menuju wisata pantai terkenal di wilayah Jogja yaitu pantai Parangtritis. Aspal yang menghitam mulus dengan pemandangan sawah-sawah menghampar akan menghiasai kelopak mata setiap orang yang melewati jalur menuju desa Donotirto.

Desa yang tenang, tak terimbas hirup pikuk kota Jogja yang semakin hari semakin memangkas waktu tiap yang melaluinya. Dimana setiap warganya saling mengenal, dari ujung gang hingga ujung desa. Dimana setiap penghuni pasar saling menyapa ramah walau belum pernah bertemu sapa sebelumnya. Suasana pagi yang tak pernah lepas dari ingatan, para tetua yang bersiap menuju sawah. Muda-mudi yang bersiap menuju sekolah bahkan para pamong desa dengan anggunnya tersenyum menyapa. Dan semua itu begitu membekas karena dimataku ada yang begitu unik yang tak akan pernah lupa. Hampir seluruh mereka beraktivitas pagi sambil mengayuh sepeda-sepeda tua peninggalan jepang.

Bagiku sendiri yang notabene makhluk kota besar, melihat pemandangan itu adalah hal yang sangat menggembirakan. Momen langka yang tak akan didapati di hiruk pikuknya kota. Yang bahkan antara tetangga saja sangat sulit untuk bertemu apalagi bertegur sapa. Tetangga bagi komunitas kota besar bagaikan terpisahkan oleh tembok besar sepanjang planet Bumi dan planet Mars.

Ah, Jogja memang sangat sulit dilupakan, malamnya yang membeku selalu menutun langkahku tuk mendatangi sudut-sudut kotanya duduk bersila bersama teman-teman yang tak kukenal sebelumnya. Keramahan merekalah yang menjadikan seperti teman yang begitu lama hilang. Musisi-musisi lokal yang meminta tempat benar-benar menghipnotisku tuk takjub akan keindahan kreatifitas mereka.

Mungkin masih ada lebaran-lebaran yang lain yang akan memanggilku tuk selalu mendatangi Jogja. Mungkin disanalah hatiku tertambatkan, menunggu saat yang tepat tuk membangun kehidupan baru ditanah leluhurku disemayamkan. Mungkin hanya SK yang menghalangi menuju kesana…..



Ada banyak sebab yang menjadikan kita untuk menjadikan tempat kelahiran kita sebagai homebase. Kuartikan homebase adalah tempat berakhir karir kelak, mungkin berbeda bagi orang lain. Homebase adalah tempat ku kembali kelak. Setelah semua tuntutan hidup terselesaikan, habis masa kejayaan, selesainya tanggung jawab. Homebase lebih identik sebagai suatu tempat menunggu maut menjelang.

Sejatinya dalih tak lagi dibutuhkan ketika beberapa orang mengatakan homebase adalah tempat asal-usul, atau tempat dimana masa terlama hidup dihabiskan. Dalih yang hanya akan didapat jawaban bahwa sebenarnya homebase adalah tempat berkumpulnya kenalan terbanyak. Klise memang, mengatakan homebase adalah tempat dimana keluarga berkumpul namun justru ketika homebase didatangi porsi terbesar yang mengisis kebahagiaan adalah ketika berkumpul bersama teman lama. Terbersit keinginan untuk memperlihatkan hasil dari rantauan. Baik itu hasil materi atau keberhasilan membangun rumah tangga. Anak-anak yang tengil tengil, pasangan yang cakap dan good looking, atau bahkan materi yang terkadang justru memaksa tuk melebihi kemampuan sendiri.

Jogja telah menyita perhatianku tuk kujadikan homebase. Jogja bukanlah kota kelahiranku, bukanlah tempat kudibesarkan, bukanlah tempat dimana berkumpul semua kenalanku. Jogja menjadi homebaseku karena penduduknya yang begitu memikat, karne alamnya yang begitu asri, karena keautentikan budaya dan keaslian senyumnya.
 

“Ayah, mbak minta dianter ayah ke sekolah aja!”

Suara saya tercekat di kerongkongan demi mendengar pinta malaikat saya ini. Malaika demikian dia disapa, malaikat yang selalu menjadi tambatan hati saya. Usianya telah memasuki masa sekolah, baru saja memasuki minggu kedua masa sekolahnya. Belum sekalipun diri ini menyempatkan waktu untuk mengantarnya ke sekolah. Salah satu sebabnya adalah letak kantor saya yang kini lebih jauh dari sebelumnya.

Malaika sejatinya telah saya didik mandiri sejak awal, dia membuktikannya dengan tiada rengekan di hari prtama sekolahnya. Tiada takut dan tiada gentar menjalin hubungan dengan orang-orang baru, baik dengan guru-gurunya maupun dengan teman-teman barunya. Namun kalimat yang terlontar di pagi ini sungguh menyentuh relung dadaku.

Dengan senyum genit dan kerlingan nakalnya dia berusaha meluluhkan hati ayahnya yang memang telah menggenang telaga. Hanya saja air mata ini seperti pantang tuk tertumpah dihadapannya. Terbantahkan semua setiap kalimat yang kujanjikan kepada keluargaku bahwa merekalah nomor satu. Kenyataannya saya ga bisa melawan aturan yang ditetapkan instansi tempat dimana disanalah rezeki mengalir. Dilema klasik bagi para pengabdi negara, para jongos rakyat, kroco mumet yang selalu menjadi pusat tekanan.

Bagi banyak ayah kantoran mengantarkan anak ke sekolah adalah momen istimewa dan langka. Dengan jam kantor yang terkadang lebih rajin dari matahari, membersamai anak menuju sekolah menjadi hal yang hampir mustahil untuk dilaksanakan. Berbeda dengan jaman saya sekolah dulu, hari ini anak sekolah pun hanya memiliki 5 hari kerja setidaknya yang saya ketahui dari anak-anak yang memang bersekolah di sekolah swasta. Kenapa saya pilih sekolah swasta? Itu nanti akan saya bahasa di tulisan yang lain, stop sampe disini mbahas.. salah sendiri nyekolahin anak di sekolah swasta.

Waktu yang didapat oleh dua jiwa ketika menjalani proses pengantaran ini memang tak panjang, namun kualitas yang didapat sungguh dalam. Bagi ayah mengantarkan anaknya ke sekolah adalah sebuah tuntunan jiwa dimana menjadi ayah adalah implementasi menjadi sosok pelindung. Ketika mengantarkan anak kesekolah ada kenangan manis dimana ayah akan mengingat kenangan masa lalu yang indah. Membersamai anak ketika menuju gerbang sekolah adalah sebuah ekspresi kebanggaan betapa mengantarkan anak ke sekolah adalah miniatur bagaimana kita akan menyerahkan titipan kepada pemiliknya kelak.

Sedangkan dimata anak, diantarkan oleh ayah adalah sebuah pengakuan. Bagi mereka dengan ayah yang mengantarkan hingga ke pintu gerbang sekolahnya adalah cerita yang akan membuat mereka ada. Lihat itulah ayahku, sesibuk apapun ayahku dia masih mau mengantarku! Itu adalah cerita indah yang akan dibanggakannya dihadapan guru dan teman-temannya. Tak ternilai harganya, namun hanya dapat tertandingi oleh sebuah perintah kedinasan.

Ayah adalah pelindung, pelindung bagi kestabilan jiwanya. Pelindung bagi tautan cita-citanya. Bagi malaikaku aku hanya ingin menjadi cinta pertamanya. Hanya itu, semoga waktu kerjaku bukanlah menjadi penghalang bagi keutuhan cinta itu. Semoga….

Tahukah anda, jika anda hidup di wilayah indonesia dan sekitarnya, pergeseran arah kiblat sebesar 1 derajat saja bisa melencengkan arah sekitar 100 km dari titik Ka’bah. Semakin jauh kita dari Ka’bah lencengan arah ini akan semakin besar. Jadi, sangat dianjurkan untuk setepat mungkin menentukan arah kiblat ini, baik bagi masjid dan mushola maupun ketika kita sholat di rumah atau kantor.

Untungnya menentukan arah kiblat dengan tepat itu tidak sulit. Tidak perlu alat canggih. Dengan berbekal sinar matahari, kita bisa menentukannya dengan amat teliti. Cara ini bahkan bisa lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan kompas yang sangat mudah terpengaruh dengan medan magnet di sekitarnya.

Istiwa A'zham (Persinggahan Utama) - Saat Matahari di Atas Ka'bah

 

Saat matahari di atas Ka'bah, 28 Mei dan 16 Juli, adalah salah satu cara menentukan arah kiblat.Dalam satu tahun masehi, matahari singgah dua kali tepat di atas Ka’bah. Hal ini merupakan pengetahuan yang sudah tua umurnya. Namun sepertinya masyarakat awam tidak banyak yang mengetahui. Dalam bahasa arab disebut sebagai peristiwa Istiwa A’zham (Persinggahan Utama). Peristiwa ini juga disebut "rashdul qiblah".

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Mei (atau 27 di tahun kabisat) pukul 12:18 waktu Mekah dan 16 Juli (atau 15 di tahun kabisat) pukul 12:27. Artinya, semua orang yang bisa melihat matahari pada saat itu dan menghadapkan wajahnya ke sana telah menghadapkan wajahnya ke kiblat. Atau jika kita melihat bayangan benda yang tegak lurus di atas tanah, maka bayangan tersebut akan membentuk garis arah kiblat.

Bagi yang di Indonesia, waktu kejadian tersebut adalah 28 Mei jam 16:18 WIB dan 16 Juli jam 16:27 WIB. Jadi, bagi yang ingin mengecek atau melihat benar tidaknya arah kiblat yang digunakan selama ini silakan keluar pada waktu tersebut dan lihat matahari (atau bayangannya).

Saat Matahari di Bawah Ka'bah

 

Selain itu terdapat 2 hari lain dimana matahari tepat di "balik" Ka'bah (antipoda), dimana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka'bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21:09 GMT (29 November 4:09 WIB atau 6:09 WIT) dan 16 Januari jam 21:29 GMT (17 Januari 4:29 WIB atau 6:29 WIT). Saat matahari di bawah Ka'bah ini cocok digunakan untuk mengecek arah kiblat bagi wilayah Indonesia Bagian Timur yang mungkin sudah masuk malam hari pada saat Istiwa A’zham.

sumber : http://www.al-habib.info