Tampilkan postingan dengan label hari-hariku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari-hariku. Tampilkan semua postingan


Ada sebuah pepatah bijak lama yang berbunyi, "Serahkanlah suatu urusan kepada ahlinya, maka tunggulah keberhasilannya." Di dunia profesional, prinsip ini diagungkan sebagai kunci efisiensi. Namun menariknya, prinsip yang sama justru sering kali menjadi fondasi paling kokoh dalam institusi terkecil bernama keluarga.


Dalam pembagian peran konvensional yang disepakati banyak pasangan, wilayah domestik sering kali menjadi domain utama istri. Ketika urusan rumah tangga—mulai dari manajemen dapur, tumbuh kembang anak, hingga keharmonisan suasana rumah—berada di bawah kendali istri yang cakap, terjadilah sebuah efek domino yang positif.


Bagi seorang suami, mengetahui bahwa "pangkalan utamanya" dikelola oleh seseorang yang andal memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Suami dapat melangkah keluar pintu rumah, menembus kemacetan, dan menghadapi tekanan korporat atau bisnis dengan fokus penuh.


Bagaimana seorang prajurit bisa bertempur dengan baik di garis depan jika ia terus-menerus cemas apakah benteng pertahanannya di belakang sedang runtuh?


Ketika urusan domestik tuntas dan beres di tangan istri, suami merdeka dari distraksi tersebut. Ketenangan pikiran inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi produktivitas, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang jernih di kantor. Tidak bisa dipungkiri, kunci sukses karier seorang suami sering kali dimulai dari tuntasnya urusan di meja makan dan ruang keluarga.


Namun, menyerahkan urusan kepada ahlinya tidak sama dengan bersikap apatis atau lepas tangan total. Di sinilah letak jebakan yang sering membuat hubungan menjadi hambar.


Meskipun istri adalah "manajer utama" urusan domestik, ia tetaplah seorang manusia, bukan mesin. Di balik ketangguhannya mengelola rumah, ada titik-titik lelah yang jarang terucap. Oleh karena itu, kepekaan suami terhadap urusan domestik adalah salah satu bahasa cinta paling mewah bagi seorang istri.


Kepekaan itu tidak harus mengambil alih seluruh pekerjaan. Ia hadir dalam bentuk-bentuk sederhana, misal: Inisiatif mencuci piring setelah makan malam tanpa harus diminta. Peka melihat dahi istri yang berkerut saat anak-anak sulit diatur, lalu masuk untuk menenangkan situasi, atau sekadar bertanya, "Ada yang bisa aku bantu di rumah hari ini sayang?"


Ketika suami menunjukkan radar kepekaan ini, istri tidak hanya merasa terbantu secara fisik, tetapi yang lebih penting, ia merasa dilihat, dihargai, dan dicintai. Validasi emosional ini adalah energi baru bagi istri untuk terus menjaga kehangatan rumah mereka.


Rumah tangga yang sukses bukanlah tentang siapa yang bekerja lebih keras, melainkan tentang bagaimana dua orang membagi ruang dengan bijak.


Menyerahkan urusan domestik kepada istri sebagai ahlinya adalah bentuk penghormatan terhadap kapasitasnya, yang berbuah ketenangan bagi suami untuk menjemput rezeki. Namun, bumbu kepekaan dari suami adalah perekat emosional yang memastikan bahwa rumah tersebut tidak sekadar berjalan secara mekanis seperti perusahaan, melainkan hidup dengan penuh cinta dan kebahagiaan.


Sebab, di balik setiap pria yang sukses di luar sana, selalu ada rumah yang damai yang menantinya untuk pulang. Dan kedamaian itu, dikoreografi dengan indah oleh sang istri, dengan sedikit bantuan penuh peka dan romantisisme picisan dari sang suami.


Kalau ada yang bilang jadi ayah itu tugasnya cuma cari nafkah dan pasang muka tegas di rumah, sini ketemu saya dulu. Biar saya ceritakan betapa dinamisnya isi kepala seorang laki-laki begitu punya anak.


Dari dulu prinsip saya cuma satu: "Saya tidak bisa membesarkan anak dengan manja, dan saya jauh lebih tidak bisa lagi kalau harus membesarkan anak yang telanjur manja."


Membatasi diri supaya tidak memanjakan anak itu memang butuh "rem" yang pakem banget. Jujur, menolak permintaan anak itu ada rasa bersalahnya. Tapi saya tahu, memanjakan anak memang kurang pas buat masa depan mereka. Namun, kalau boleh jujur, bagian paling horor itu sebenarnya bukan pas kita menahan diri, tapi ketika kita sadar anak kita mulai menunjukkan bibit-bibit manja yang akut. Menghadapi anak yang telanjur manja itu perkara yang jauh lebih sulit. Mengubah polanya lagi butuh stok kesabaran yang luar biasa luas.


Tapi... malam ini pertahanan saya runtuh (lagi).


Semua teori parenting, ketegasan, dan prinsip besi yang saya bangun di kepala seketika menguap tidak berbekas. Pelakunya? Siapa lagi kalau bukan anak perempuan saya. Di rumah ini, dia itu pemegang remote kontrol hati ayahnya. Dia benar-benar mahir memanjakan ayahnya, sampai saya sering bingung, sebenarnya siapa yang sedang mendidik siapa?


Tadi pas saya baru pulang kerja, masih capek dan berniat mau langsung mandi, dia tiba-tiba datang membawa segelas air putih. Tidak biasanya. Dia duduk di sebelah saya, memijat lengan saya dengan tangan kecilnya yang sama sekali tidak terasa itu, lalu mulai mengeluarkan jurus mautnya.


"Ayah pasti capek banget ya hari ini? Ayah hebat deh. Oh ya Yah, tadi aku lihat ada buku cerita seru banget di toko depan..."


Sambil bicara begitu, matanya berkedip-kedip polos, suaranya dibuat seimut mungkin, dan tangannya menggelayut di pundak saya.


Skakmat. Detik itu juga, ego saya sebagai laki-laki langsung meleleh. Rasa capek hilang, dan prinsip "jangan manjakan anak" langsung bergeser ke sudut paling belakang otak saya. Saya cuma bisa tersenyum pasrah sambil mengacak rambutnya dan bilang, "Iya, besok Sabtu kita beli ya."


Menulis ini sambil melihat dia yang sudah tertidur pulas, saya jadi mikir sendiri. Saya selalu takut dia jadi anak yang manja. Tapi di sisi lain, saya juga tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya sangat menikmati momen-momen saat dia bermanja-manja dan berusaha "merayu" ayahnya seperti tadi. Ada rasa bangga sekaligus bahagia yang aneh di dalam dada.


Besok-besok, saya harus lebih pintar pasang benteng pertahanan. Tegas untuk urusan mandiri dan tanggung jawab itu wajib, tidak boleh ditawar. Tapi kalau sesekali kalah sama rayuan anak perempuan sendiri? Ya sudahlah... toh, itu cara dia menunjukkan rasa sayang ke ayahnya.


Catatan untuk diri sendiri: Besok tetap belikan bukunya, tapi setelah itu, dia harus beresin mainannya sendiri. Harus adil!





Pernah gak ngerasa gabut akut yang bikin mati gaya? Pas liat kalender, mata langsung seger karena ada tanggal merah yang nempel mesra sama weekend. Long weekend, nih! Tapi sialnya, otakku kosong melompong. Gak ada ide sama sekali mau ngapain.


Pas jarum jam nunjukkin Jumat sore, suasananya makin mencekam. Belum ada bayangan mau bawa anak-istri ke mana. Rumah udah kayak tempat karantina, semua muka udah mulai kusut.


Sampai akhirnya, mulutku refleks nyeletuk, "Ke Bogor yuk!"


Dan anehnya, satu rumah langsung kompak bilang, "Ayuk!"


Aku yang agak panik langsung nanya, "Ada duit?"


Istriku cuma senyum santai sambil ngecek m-banking, "Cukuplah buat bensin sama nginep semalem."


Gak pakai mikir dua kali, kita langsung packing kilat. Masukin baju seadanya ke dalem koper—bener-bener seadanya, gak mikirin outfit OOTD yang estetik—lempar ke bagasi mobil, dan brrrruuummm... kita berangkat!


Kalau dipikir-pikir, kelakuan kita emang sering banget kayak gini. Pergi liburan modal nekat, minim rencana, yang penting jalan dulu. Bahkan kadang di saat kondisi dompet lagi kempis-kempisnya.


Prinsip kita berdua emang agak 'ajaib' sih: Ah, Allah kan Maha Kaya... masa iya buat nyenengin keluarga gak diganti sama Dia?


Tapi malam ini, sambil dengerin suara gerimis Bogor dari jendela kamar hotel, aku jadi mikir. Ada pelajaran hidup yang lumayan dalem di balik kenekatan kami ini.


Di dalam hubungan, emang harus ada pembagian peran yang pas. Aku sadar, aku ini tipe "Gas"—yang kalau ada ide langsung tancap tanpa mikir panjang. Untungnya, istriku itu tipe "Rem".


Tapi dia rem yang tipe ABS. Dia gak langsung bikin mobil berhenti total dan batalin liburan. Dia cuma mastiin remnya pakem dengan bilang, "Cukup buat bensin sama nginep." Artinya, batas amannya udah dia hitung. Bayangin kalau kita berdua sama-sama Gas? Wah, bisa-bisa pulang liburan kita cuma makan promag. Atau kalau dua-duanya Rem? Ya ampun, sampe lebaran monyet juga kita cuma bakal mendekam di ruang tamu.


Sering kali kita dapet nasihat soal tawakal, pasrah sama Tuhan. Tapi dari liburan dadakan ini aku belajar, pasrah itu beda sama konyol. Kita berani berangkat karena "kebutuhan dasar" (bensin dan hotel) udah aman. Sisanya? Soal nanti makan apa atau jalan-jalan ke mana, baru deh kita pasrahin sama skenario langit.


Ternyata bener, pas kita gak berekspektasi tinggi, hidup malah ngasih banyak kejutan manis. Makan mi instan di pinggir jalan Puncak pas ujan-ujan gini aja rasanya udah mewah banget.


Aku jadi kesindir sendiri. Kadang kita nunda bahagia karena nunggu momennya sempurna. Nunggu tabungan ratusan juta lah, nunggu hotel bintang lima dapet diskon lah, atau nunggu punya mobil baru.


Padahal bahagia itu receh banget. Modal baju seadanya, dompet pas-pasan, tapi karena perginya bareng orang-orang tersayang dan lepas dari rutinitas, rasanya udah kayak dapet jackpot.


Jadi, Gak apa-apa sesekali jadi "Gas" yang liar, asal mastiin "Rem" di sebelah kita tetep berfungsi. Dan yang paling penting, selalu sisain ruang di hati buat percaya kalau rezeki itu udah ada yang ngatur. Dan yang pasti kita ini bukan manusia boros, kita masih miskin tapi juga butuh bahagia.





Mari kita bicara soal dilema aspal kita sehari-hari. Memilih mobil di Indonesia itu hampir sama rumitnya dengan memilih pasangan: mau yang konvensional tapi boros emosi (dan dompet), atau yang modern tapi bikin cemas kalau tiba-tiba "putus nyawa" di tengah jalan.


Berikut adalah sedikit curhatan mengenai tiga aliran sesat... eh, maksud saya aliran teknologi otomotif yang sedang bertarung di jalanan kita.


### 1. Mesin Bensin (Internal Combustion Engine)

Ini adalah si "Mantan Terindah." Suaranya merdu, getarannya bikin kangen, tapi harganya bikin nangis setiap kali mampir ke SPBU. Kita masih cinta karena dia ada di mana-mana, tapi jujur saja, membakar uang demi memanaskan atmosfer sambil terjebak macet di Sudirman itu rasanya seperti membakar sate tapi dagingnya buat orang lain. Kita cuma dapat asapnya.


### 2. Electric Vehicle (EV) murni

Si "Pintar yang Bikin Deg-degan." Pakai mobil listrik itu rasanya seperti pakai HP mahal tapi baterainya sisa 5% dan kamu sedang di tengah hutan. Di Indonesia, tantangan EV bukan cuma soal gaya, tapi soal mental. Pertanyaan utamanya bukan lagi "Berapa top speed-nya?" tapi "Waduh, ada colokan nggak di rest area nanti?" Kalau macet total 4 jam karena banjir, rasanya ingin memeluk baterai sambil berdoa semoga AC-nya tidak memakan sisa hidup si mobil.


### 3. Plug-in Electric Vehicle (e-Power Style)

Nah, di sinilah Nissan masuk dengan ide yang agak "nyeleneh" tapi jenius lewat kode e-Power. Secara teknis, ini adalah solusi paling introvert yang pernah ada: Mobilnya bertenaga listrik, tapi dia malu-malu kalau disuruh colok kabel ke tembok.


Definisi Sederhananya: Kamu punya mobil listrik, tapi kamu bawa genset pribadi di dalam bagasi (atau di balik kap mesin).


Cara kerjanya benar-benar kearifan lokal:

 * Kamu isi bensin ke tangki (seperti mobil biasa).

 * Bensin itu bukan buat muter roda, tapi buat kasih makan si genset.

 * Si genset kerja bakti menghasilkan listrik.

 * Listrik itulah yang dipakai buat lari.


### Mengapa Ini "Solusi Cerdas" di Indonesia?

Mari kita jujur, kondisi macet di Indonesia itu tidak manusiawi bagi mesin bensin (yang cuma buang-buang bensin saat diam) dan bikin trauma buat pengguna EV murni (yang takut baterai habis sebelum sampai rumah).


Teknologi "mobil bawa genset" ini adalah penengah yang damai karena:

 * Anti-Panic Attack: Kamu tidak perlu keliling kota cari SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) seolah-olah cari takjil di bulan puasa. Cukup cari pom bensin terdekat yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah minimarket di satu kecamatan.

 * Juara Macet: Saat mobil berhenti total di kemacetan, mesin bensinnya mati. Kamu tetap dingin ber-AC pakai tenaga baterai. Begitu baterai lapar, si genset bangun sebentar, kasih makan, lalu tidur lagi. Efisiensinya luar biasa.

 * Sensasi Instan: Kamu tetap dapat jambakan torsi instan khas mobil listrik yang bikin kepala nyender ke jok saat lampu merah berubah jadi hijau, tapi tanpa keringat dingin melihat indikator baterai.


Jika EV murni adalah masa depan yang masih "loading", dan mesin bensin adalah masa lalu yang mulai "overheat", maka teknologi e-Power atau plug-in gaya genset ini adalah masa kini yang paling masuk akal.


Ini adalah cara elegan untuk bilang: "Saya mau menyelamatkan bumi dan menghemat dompet, tapi saya belum siap lahir batin kalau harus cari colokan di tengah kemacetan Bekasi." Sebuah solusi cerdas untuk kita yang hidup di antara cita-cita ramah lingkungan dan realita macet yang tak kunjung usai.


~tulisan ini ga mengandung iklan~

 



08 April 2026 – 02:14 AM


Entah ini insomnia yang sedang berpesta di kepalaku, atau sekadar efek tubuh yang kekurangan gula, aku tidak tahu. Yang jelas, malam-malamku belakangan ini terasa lebih panjang dari biasanya. Mataku menolak terpejam, sementara otakku terus memutar ulang memori seperti kaset rusak.


Semua ini dimulai sejak ambisiku menang—ketika anganku meronta-ronta untuk menaklukkan kota yang katanya tak pernah tidur ini: JAKARTA.


Ternyata, berteman dengan Jakarta tidak semudah membalik telapak tangan. Hiruk-pikuknya yang tak kenal ampun, kemacetan yang seolah mengisap nyawa, hingga polusi yang menyesakkan dada benar-benar membuat seluruh inderaku shock. Rasanya seperti dilemparkan ke dalam mesin cuci yang sedang berputar kencang. Aku kewalahan. Aku TERKURAS.


Kota ini menuntut segalanya, tapi sepertinya ia lupa memberiku ruang untuk sekadar bernapas.


Namun, di tengah sesaknya beton dan aspal, aku menemukan sebuah celah. Sebuah lokasi yang perlahan menarik kembali kesadaranku, menjahit kembali kepingan diriku yang sempat tercerai-berai.


CIRENDEU


Berdiri di tepi Situ Gintung, aku merasa seperti pulang. Suasananya, riak airnya, hingga semilir anginnya mendadak mengirimku kembali ke 20 tahun yang kuhabiskan di Bandar Lampung. Kota yang telah menyita hampir setengah umurku itu seolah hadir di sini, di pinggiran Jakarta yang sibuk ini.


Di Bandar Lampung, mungkin aku masih punya kemewahan untuk menikmati kopi tanpa terburu-buru, atau berkendara tanpa harus menghitung sisa kewarasan karena macet. Ada ritme yang manusiawi di sana—sesuatu yang di Jakarta dianggap sebagai barang antik yang mahal harganya.


Wajar jika Cirendeu terasa seperti oasis. Di sana, waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat, memberiku ruang untuk "berhenti" sejenak dari tuntutan Jakarta yang serba fast-paced. Memori tentang tempo hidup Lampung itu bukan sekadar nostalgia, tapi mekanisme pertahanan diri agar tidak habis ditelan hiruk-pikuk ibu kota.


Di sini, aku menemukan oasis. Sebuah titik henti di mana aku tidak perlu menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Cukup menjadi aku yang sedang berusaha bertahan hidup. Mungkin Jakarta tidak sekejam itu, selama aku tahu ke mana harus melarikan diri saat dunia terasa terlalu bising.


Malam ini, setidaknya jiwaku sedikit tenang, meski mataku masih terjaga.

 



2 April 2026


Sudah lewat beberapa hari sejak peluit panjang itu ditiup di Gelora Bung Karno, tapi rasanya euforianya masih "nyangkut" di kepala. Aneh memang, memori manusia itu pilih-pilih. Orang mungkin bakal cerita soal gol-gol yang tercipta, atau bagaimana karismatiknya Bang Jay—Jay Idzes—saat memberikan pidato singkatnya tepat di depan tribun tempatku duduk. Orasinya membakar semangat, matanya tajam, dan auranya benar-benar pemimpin.


Tapi, jujur saja, bukan itu yang bikin aku susah move on. Ada satu momen, jauh sebelum keringat pemain membasahi rumput, yang sampai sekarang masih bikin bulu kudukku berdiri kalau diingat lagi. Momen ketika puluhan ribu orang di stadion itu seolah berhenti bernapas sejenak, lalu serentak menghembuskan satu suara: Indonesia Raya.


Gema yang Melampaui Pertandingan

Waktu musik pengiring mulai diputar, atmosfer GBK mendadak berubah. Bukan lagi sekadar kerumunan suporter yang haus kemenangan, tapi berubah menjadi satu gelombang besar. Suara penonton dari tribun utara ke selatan, timur ke barat, menyatu jadi satu dentum yang menggetarkan dada.


Aku merasa seisi stadion bergetar. Bukan karena gempa, tapi karena frekuensi ribuan nyawa yang menyanyikan lirik yang sama dengan rasa bangga yang tumpah-tumpah.


Ada rasa haru yang mendesak keluar. Saat itu aku sadar, nasionalisme itu ternyata bisa terasa begitu fisik—ada rasa hangat yang menjalar di punggung dan mata yang tiba-tiba panas.


Efek Samping yang Menetap

Lucunya, "sihir" GBK itu terbawa sampai ke kehidupan sehari-hari. Sekarang, setiap kali aku tidak sengaja mendengar lagu Indonesia Raya—entah di televisi, di acara kantor, atau bahkan lewat radio—mulutku otomatis komat-kamit.


Duniaku seolah berhenti sejenak. Aku reflek ikut menyanyi, meski cuma dalam bisikan. Seolah ada janji tak tertulis yang harus kutunaikan setiap kali lagu itu berkumandang.


Nasionalisme Tanpa Protokol

Kejadian ini bikin aku mikir: ternyata memupuk rasa cinta tanah air itu nggak harus selalu lewat upacara kaku di bawah terik matahari atau lewat teks pidato yang panjang.


Nasionalisme bisa lahir di tempat yang paling tidak terduga, seperti: Sempitnya bangku tribun yang keras. Aroma rumput stadion yang basah. Teriakan parau mendukung timnas.


Di stadion, kita nggak peduli siapa duduk di sebelah kita, sukunya apa, atau agamanya apa. Kita cuma tahu satu hal: kita punya rumah yang sama, dan lagu kebangsaan itu adalah bahasa pemersatu paling jujur yang pernah ada.


Terima kasih, GBK. Sudah memberiku lebih dari sekadar tontonan bola, tapi sebuah pengingat kalau menjadi Indonesia itu... merinding.

 



Pemandangan sehari-hari di sudut-sudut kota kita sering menyuguhkan sebuah dikotomi visual yang menarik mengenai pola konsumsi.


​Di satu sisi, kita melihat Warteg (Warung Tegal) atau rumah makan sederhana pinggir jalan yang selalu ramai, didominasi oleh para laki-laki. Mereka mungkin mengenakan kemeja lusuh, seragam kerja, atau pakaian kasual yang terlihat sudah lama, menyantap makan siang dengan cepat dan tanpa banyak bicara. Di sisi lain, kita menyaksikan deretan kafe kopi estetik atau gerai jajanan viral yang dipenuhi antrian panjang, dan sebagian besar dari mereka adalah perempuan.


​Jika dilihat sekilas, mungkin muncul anggapan bahwa perempuan-perempuan ini memiliki daya beli yang lebih tinggi. Namun, realitasnya seringkali jauh lebih kompleks, dan seperti yang Anda catat, bukan berarti perempuan lebih kaya. Perbedaan ini tampaknya berakar pada peran sosial, prioritas keuangan, dan beban psikologis yang tak terucapkan.


​Pengamatan mengenai laki-laki, terutama di usia 30 hingga 40-an, sangatlah tajam. Pada usia ini, laki-laki seringkali berada di puncak tanggung jawab—sebagai anak, suami, dan ayah.


​Penampilan Sederhana dan Hidup Hemat yang mereka tunjukkan bukanlah cerminan dari kemiskinan, melainkan sebuah keputusan finansial yang disadari. Mereka adalah garda terdepan stabilitas ekonomi keluarga.


Sederhananya baju dan iritnya pengeluaran pribadi adalah hasil dari matematika pengorbanan, setiap rupiah yang dihemat dari kafein mahal atau pakaian branded dialokasikan untuk pilar-pilar penting kehidupan.


​Bangun tidur, pikiran mereka dipenuhi dengan daftar tugas tak kasat mata, memastikan orang tua yang menua memiliki perawatan dan kehidupan yang layak, merencanakan biaya sekolah, kursus, hingga dana pendidikan tinggi, menjaga agar dapur tetap berasap, cicilan terbayar, dan rumah tangga berjalan harmonis.


​Seringkali juga, mereka merasa harus menjadi jangkar emosional, menjaga perasaan dan memastikan kebahagiaan pasangan.


​Warteg dan warung pinggir jalan bagi laki-laki ini bukan sekadar tempat makan; ia adalah simbol efisiensi maksimum. Makanan cepat, mengenyangkan, dengan harga yang paling ekonomis. Sementara kafe mungkin menawarkan experience dan social currency yang penting (dan memang layak) bagi perempuan dan generasi muda, Warteg menawarkan subsistence yang memungkinkan dana sisa dialirkan ke kebutuhan primer keluarga. Laki-laki di Warteg adalah potret kesetiaan diam pada tanggung jawab.


Laki-laki hampir tak pernah mengucapkannya, Inilah inti dari beban tersebut. Budaya seringkali menuntut laki-laki untuk menjadi pilar yang kokoh, tidak mengeluh, dan memikul beban dengan diam. Mereka menyembunyikan kecemasan tentang masa depan, kelelahan mental, dan kerinduan akan kemewahan kecil di balik raut wajah yang terlihat cuek atau sibuk. Kepuasan mereka ditarik dari kebahagiaan kolektif orang-orang yang mereka tanggung, bukan dari pemenuhan hasrat pribadi.


​Perbedaan cara melihat isi yang datang antara Warteg dan kafe adalah sebuah cerminan sosial yang menyentuh. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap pilihan konsumsi yang berbeda, terdapat perhitungan, pengorbanan, dan beban tanggung jawab yang dipikul secara tidak setara dan seringkali dalam kesunyian.


 


Minggu pagi di Sudirman bukan sekadar ajang olahraga, ini adalah runway. Dan pagi ini, saya adalah model utamanya.


Bayangkan visualnya, Kacamata sport minus (biar tatapan tajam tak terlihat saat ngos-ngosan).


Sepatu merk ala ala  harga UMR last call pula (padahal lari cuma napak, nggak mental).Outfit: Full anak lari atas bawah, lengkap dengan hydration vest padahal cuma lari dari Patung Kuda ke Bundaran HI.


Secara tampilan? Atlet Pelatnas.

Secara realita? Pace 10 (zona nyaman alias jalan cepat berkedok lari).


Saya berlari dengan teknik "shuffle" halus. Kaki diseret dikit biar kelihatan low impact, padahal aslinya sudah low energy. Di kiri kanan, pelari pace 5 melesat wus-wus. Saya tetap tenang. Trust the process, kata motivator lari.


Masuk kilometer ke-8, napas sudah senin-kamis. Keringat bukan lagi menetes, tapi mengalir deras membasahi jersey ini. Mata mulai berkunang-kunang, sampai akhirnya saya melihat cahaya ilahi di pinggir jalan dekat halte busway Karet Sudirman.


Bukan, bukan tukang bubur.

Itu adalah booth jenama minuman isotonik dengan spanduk besar yang melambai-lambai indah:

"GRATIS T-SHIRT EKSKLUSIF BAGI YANG MENUNJUKKAN STRAVA LARI 10K HARI INI!"

Darah saya mendidih. Adrenalin yang tadinya tidur, mendadak bangun dan menampar wajah saya.

"Tinggal 2 kilo lagi, Boy! Sikat!" batin saya berteriak.


Seketika pace saya naik... jadi pace 9:50. Speeding dikit. Saya terjang kerumunan orang yang lagi foto-foto, saya salip mas-mas yang lagi dorong sepeda. Di otak saya cuma ada satu visual: Saya, berdiri gagah di booth, pamer data Strava, dan pulang bawa kaos gratis.


Kilometer 9... napas ngik-ngik.

Kilometer 9.5... betis menjerit.

Kilometer 10! FINISH!


Saya berhenti tepat 100 meter dari booth tersebut. Tangan di pinggang, dada dibusungkan (biar kelihatan pro yang baru cooling down). Dengan penuh percaya diri, saya berjalan ke arah mbak-mbak SPG yang tersenyum ramah.


"Halo Mas, mau klaim kaos? Boleh lihat Stravanya, minimal 10K ya," sapa si Mbak.

"Aman, Mbak. Ini easy run doang kok," jawab saya dengan nada sedikit pongah sambil mengangkat pergelangan tangan kiri.


Saya tekan tombol stop di smartwatch saya.

Saya tekan save.

Layar loading sebentar... dan muncullah ringkasan lari saya hari ini.


Hening.

Dunia berhenti berputar.

Suara bising CFD mendadak senyap.


Di layar jam itu, tidak ada peta rute cacing hijau khas Sudirman. Tidak ada garis oranye rute lari.

Yang ada hanya angka "10.02 km" dengan ikon kecil bergambar orang lari... di atas mesin.

Di pojok atas layar tertulis dengan jelas, polos, dan menyakitkan:


"TREADMILL MODE"


Muka saya pucat. Lebih pucat dari saat lari tadi. Rupanya, saat start tadi pagi, jari jempol saya yang chubby ini salah pencet profil olahraga.


"Mas? Mana petanya? Kalau mode treadmill atau indoor nggak bisa kami validasi soalnya nggak ada GPS-nya," tanya si Mbak, masih tersenyum, tapi senyumnya kini terasa seperti pisau yang menyayat hati.


Saya menatap jam. Menatap mbaknya. Menatap spanduk kaos gratis itu.

Lalu pelan-pelan menurunkan tangan.

"Eh... anu Mbak. Baterainya habis. Hehe. Makasih ya."

Saya mundur teratur, menyatu dengan kerumunan, pulang dengan outfit basah kuyub dan hati yang hancur lebur seharga gorengan dingin.


Bisa kurasakan setiap tetes waktu merayap lambat. Setiap detik seperti kerikil yang jatuh ke dalam genangan air, menciptakan riak-riak kecil yang perlahan menghilang. Begitulah hidup ini. Sebuah penantian, bukan untuk kebahagiaan yang konon dijanjikan di bumi, melainkan untuk sebuah ketenangan.


​Kala itu, pagi datang tanpa semburat jingga, dan malam tiba tanpa bintang-bintang yang berkedip. Dalam kesunyian seperti itu, aku merenungi semua. Tuhan, tidak pernah Ia menjanjikan kebahagiaan di dunia ini. Ia menyimpannya, membungkusnya dalam paket yang hanya akan terbuka di surga. Kebahagiaan sejati, kata mereka, adalah hadiah bagi hamba-Nya yang berhasil melewati labirin kehidupan.


​Jadi, apa yang tersisa untuk kita di dunia yang fana ini? Ketenangan. Sebuah rasa damai yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diwariskan, dan tidak bisa dipamerkan. Ketenangan itu bagai sungai yang mengalir di bawah permukaan, tidak terlihat, tetapi kehadirannya bisa dirasakan.


​Tidak semua orang beruntung. Ketenangan itu tidak datang pada semua orang. Ada yang memiliki harta melimpah, rumah megah, dan mobil-mobil mewah, tetapi jiwanya kering kerontang. Mereka berjalan di atas permadani sutra, tetapi jiwanya telanjang. Kebahagiaan yang mereka kejar hanyalah fatamorgana. Mereka berlari, mengejar bayangan yang semakin jauh, padahal yang mereka butuhkan adalah berhenti dan membiarkan ketenangan menemukan mereka.


​"Ketenangan bukanlah sebuah tempat, tetapi sebuah keadaan jiwa. Ia tidak ditemukan di luar, melainkan dibangun dari dalam. Kamu bisa memiliki segalanya di dunia, tetapi jika kamu tidak memiliki ketenangan, kamu tidak akan pernah memiliki apa-apa."


Tahu tidak, bagi saya—bagi banyak kepala keluarga di luar sana—rumah itu lebih dari sekadar tumpukan bata dan atap. Rumah adalah garis finish dan garis start sekaligus. Itu tujuan utama, hal yang akan selalu saya perjuangkan mati-matian. Ini bukan cuma kewajiban, tapi naluri. Insting alami seorang kepala keluarga, seorang alpha, yang tahu betul: harus ada tempat kembali yang pasti.


Saya bicara tentang rumah secara harfiah. Bangunan fisiknya. Tempat di mana semua lelah dan letih sepanjang hari bisa diserap, di mana jaket berat pekerjaan bisa dilepas, dan di dalamnya bisa menjadi diri sendiri lagi.


Rumah itu tidak perlu besar, sungguh. Saya tidak terlalu peduli dengan luasan tanah atau berapa banyak lantai. Itu hanya pertimbangan sekunder. Yang utama adalah rasanya. Mungkin ketenangan suasana dan lingkungan adalah awal terbaik untuk menyebut suatu tempat sebagai rumah. Apakah di sana hati bisa damai? Itu intinya.


Sejak hari pertama saya memiliki keluarga kecil ini, insting itu langsung muncul: Saya harus membuatkan rumah yang spesial untuk mereka. Dan anehnya, pondasi utama dalam merancang rumah impian saya selalu tertuju pada satu sumber: gambaran surga yang disebutkan dalam Al-Qur'an.


Bayangkan saja! Surga digambarkan begitu sempurna: mengalir sungai-sungai kecil di bawahnya, pepohonan rindang dengan buah-buahan yang bisa dipetik kapan saja, dan punya tetangga yang baik hati dan seumuran. Rasanya damai sekali, bukan?


Maka, rumah yang saya rancang dalam pikiran saya—dan yang saya usahakan agar bisa terwujud—selalu saya coba tarik sedekat mungkin ke gambaran surga itu. Karena jelas, surga (Jannah) adalah Heaven, adalah tempat kembali yang paling sempurna. 


Dengan begitu, setiap kali saya atau keluarga saya melangkahkan kaki melewati pintu, kami tidak hanya pulang ke sebuah rumah. Kami pulang ke Surga Kecil kami yang diupayakan di dunia ini. Itu adalah janji perlindungan dan kedamaian yang kami pegang teguh.

 


......

Tak mudah untukku, Melupakan semua

Yang pernah terjadi, Kau begitu dalam

T'lah tertanam di hati, Dan hidupku

Kusesali semua, Kehilangan dirimu

Membuatku tersadar, Apa yang harus aku lakukan

Bila kau pergi tinggalkanku?, Sungguh ku tak bisa jauh, Dari dirimu

.....

(Patah – Iwan Fals)


                Lirih mengalun dendang dari pemusik legenda Indonesia di ruang kabin kendaraan, berasal dari pemutar musik di dashboard. Menurut para pengamat musik, fokus ke alunan musik dapat menaikkan mood sedangkan fokus ke lirik dapat menimbulkan rasa. Sejak mengenal karya-karya bang Iwan selalu fokusnya adalah lirik karena selalu ada pesan yang ingin disampaikan.


                Duduk sebagai co-pilot adalah istri sendiri, ya masak istri orang? Seperti yang lalu-lalu sambil menatap lekat lekat cermin yang tersemat di sunvisor. Wanita tak akan bisa lepas dari makeup gearnya, memoles yang seharusnya tak lagi perlu dipoles, memperindah yang dari sananya sudah indah.


                “menurutmu, kalau ada wanita yang cukup cantik ada di hadapanmu apa yang akan kamu lakukan?” tiba-tiba pertanyaan meluncur deras dari bibirnya, memberikan perkara yang cukup pelik untuk dibalas.


                “aku akan mengaguminya.” Kujawab dengan tanpa menoleh, karena memang pandangan harus tetap tertuju ke jalan lurus yang ada di depan kaca mobil ini.


                Tangannya berhenti mengusapkan kuas kecil dari pipinya, menoleh sebentar ke arah sopir sambil menahan sesuatu yang tak harus ditahan. “bukankah ajaran agama kita menganjurkan untuk menjaga pandangan?”


                “setelah kagum, baru aku akan menunduk” begitu selorohku, sontak membuatnya menutup semua makeup gearnya dan bertindak serius bak pengawas ujian skripsi.


                Segera kaca jendela kubuka sedikit, membiarkan udara segara pagi menelisik masuk perlahan ke dalam kabin kendaraan. Sepertinya radar kelaki-lakianku sudah memberikan sinyal bahwa perang dunia akan segera hadir.


                “jelaskan maksud kagum tadi?” pintanya dengan sedikit memberikan tatapan mengintimidasi, tatapan yang sama yang dia berikan di awal bulan saat gaji baru saja masuk rekening.

“Jika salah seorang dari kalian melihat wanita yang mengagumkannya, maka hendaklah ia mendatangi (menggauli) isterinya. Karena apa yang dimiliki wanita tersebut sama dengan yang dimiliki oleh isterinya.” (HR. Tirmidzi)” biarkan penjelasan perawi ini yang menjelaskan.

                Laki-laki dianugerahi dengan impuls nafsu yang paling besar adalah dari pandangan, berbeda dari wanita yang impuls terbesarnya adalah rasa. Dengan kepungan budaya, kemajuan teknologi dan bahkan premis-premis akan dunia kewanitaan laki-laki sungguh berada di dunia yang akan selalu merangsang matanya.


                Sekuat mata menahan dan menunduk, maka godaan itu walau hanya sekelebat akan mampir di mata lelaki. Menggelitik area yang tak gatal bahkan tak dapat digaruk. Melawannya justru semakin besar imagi yang tampil dan menggoda. Namun juga bukan alasan untuk membiarkan jelalatan dan terdedah.


                Pun, menurut Buya Hamka “Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya."


                Hati, memerankan fungsinya sebagai kunci untuk membuka pintu ma’siyat atau segera menutupnya. Banyak perselingkuhan dimulai hanya dari pertemuan, namun kemudian hati membiarkan pintunya terbuka. Laki-laki yang memiliki pengendalian penuh akan hatinya begitu kuat memegang kunci hatinya. Tak membiarkan rasa berlanjut dengan cara mengunci rapat pintunya, pertemuan itu hanya terhenti di sebatas kagum.


                Kemudian menutup setiap peluang untuk menjadi jalan masuknya rasa, walau hanya sebuah ‘say, hi’ dalam bentuk apapun. Karena laki-laki begitu lemah soal rasa, dia akan meluap atau justru akan tenggelam. Sebelum itu terjadi, hatilah penentunya.


                “Darimana aku tahu, kalau kamu memang telah menutup hatimu untuk wanita lain?” sergahnya kemudian. “aku boleh cemburu kan? Terus kenapa kamu seperti ga terima kalau aku cemburu?”


Syukurlah pagar kantor telah terlihat, dan tak perlu kujawab pertanyaan maha hebat itu.


Indana, putri ketiga yang selalu paling dekat dengan ayahnya. Tak terasa, sudah menempati tingkat terakhir di sekolahnya. Sekolah yang setara dengan sekolah dasar ini memang sedikit berbeda, memiliki 7 tingkatan kelas dan Indana telah menempuhnya sekitar 6 setengah tahun.


Di penggal akhir pembentukan karakternya inilah dia wajib menempuh sebuah training yang disebut Dauroh Hamasiyah (DAHAM). Sebuah kegiatan yang mewajibkan santri dipisahkan selama 30 hari dari rumah tinggalnya dan dari keluarganya.


Daurah yang makna sebenarnya dalam bahasa Arab yaitu berkeliling atau berputar-putar, adalah sebuah proses yang terus menerus mengulang-ulang suatu kegiatan. Sehingga daurah adalah merupakan sebuah training atau pelatihan yang dilakukan secara berulang untuk menguatkan sesuatu hal kepada seseorang.


Hamasiyah bermakna menancapkan semangat atau menguatkan semangat agar santri memiliki bekal yang cukup untuk menjalani proses berikutnya dalam kehidupannya, hamasiyah juga bermakna memberikan motivasi yang tinggi kepada santri untuk lebih baik lagi dalam menghadapi rintangan yang akan datang di proses berikutnya dalam menuntut ilmu.


Dalam kegiatan DAHAM, santri diharapkan memiliki peningkatan dalam akhlak, ibadah dan keilmuwan. Sehingga memiliki standar yang tinggi untuk kualifikasi madrasah.


Ketika rumah telah menjadi lembah iman dan akhlak dalam peningkatannya, maka madrasah adalah lembah ilmu yang harus dijalaninya.Dan DAHAM memiliki tujuan untuk meningkatkan standar ilmu itu agar setara dengan standar madrasah.


Indana menatap kegiatan DAHAM yang mana harus berpisah dengan kami dengan wajah begitu ceria, yang menjadikan kami ikhlas melepasnya, semangatnya akan memberikan kesabaran kami untuk menunggunya 30 hari kemudian untuk kembali ke rumah. 


Teh hangat buatannya mungkin tak akan menghiasi meja kopi ayahnya sepanjang pagi dan sore sebulan ini. Tiada perempuan mungil yang akan membukakan pintu rumah saat ayahnya pulang dari kantor, setidaknya sebulan ini.


Mungkin setiap rindu kami, akan menjadi semangatnya merapal doa doa malam. Semoga...!

    


Tanpa Komitmen engkau tak akan pernah memulai, tanpa konsistensi engkau tak akan pernah menyentuh garis finish.

 

     Pandemi Covid-19 memberikan dampak tersendiri pada tubuh ini, setelah tiga kali terdiagnosis dengan virus ini. Namun semua tidak ada yang tersiakan, mengingat dampak itu maka recovery panjang harus dilakukan. 


    Terhitung sejak bulan Mei 2022 langkah pertama diniatkan. Setelah terlihat matahari sedikit menyingsing di peraduannya, bulat tekad untuk menembus kabut. Hawa dingin tak begitu terasa di antara nafas yang memburu. Yup, pada awalnya lari kuanggap hanya aktivitas biasa. Bagaimana tidak lari adalah kegiatan yang tak perlu diajarkan, setiap manusia yang diberi nikmat sehat tentunya sudah memiliki blueprint dalam kepalanya bagaimana harus berlari. 


    Namun, nyatanya tak setiap orang mampu mempertahankan durasi lari dengan baik. Sehingga akhirnya ku berfikir pasti ada teknik dan ilmu tersembunyi yang belum ku ketahui mengenai lari yang baik dan benar. Apa lacur, baru juga belum mencapai satu kilometer, rasanya dada panas, tenggorokan kering, dan nafas tersengal seperti dikejar aparat. Endurance kali ini adalah tembok yang harus kutaklukkan.


    Dulu, ketika masih berusia anak SD hampir setiap pekan pak guru olahraga pasti memaksa kami untuk berlari terlebih dahulu untuk menghabiskan waktu olahraga. Endurance masih bersahabat kala itu.


    Memang selama ini masih rutin kujalani latihan sepakbola, namun intensitas aktivitas berlari pada sepakbola dan aktivitas hanya berlari sungguh berbeda. Dalam sepakbola, apabila stamina tidak lagi mendukung masih dapat menyempatkan waktu untuk berjalan bahkan berhenti. Karena di dalam sepakbola bukan hanya berlari namun juga menggunakan otak dan insting terlebih dalam sepakbola adrenalinlah yang menjadi penguasa.


    Berbekal pengalaman pertama dari sekian puluh tahun tidak melakukan aktivitas lari yang membutuhkan endurance inilah kuputuskan untuk terlebih dahulu menggali tentang rahasia berlari. Dan jawaban paling berat yang kutemukan adalah berlari membutuhkan konsistensi, sedangkan konssitensi bukanlah teman terbaik yang pernah menyertaiku.


    Konsistensi adalah komitmen yang terus menerus dipegang, layaknya layang-layang konsistensi adalah benang yang mengikatnya dengan tangan kita. Tanpa konsistensi layang-layang pastinya akan terbang jauh terbawa angin. Kemudian hilang ditelan cakrawala. Berlari membutuhkan tali yang kuat untuk terus menahan godaan agar tetap terus berlari. Berhenti berarti sama seperti menurunkan layang-layang tersebut, dan saat memulainya kembali sama seperti awal menaikkan layang-layang, dimana hal tersebut adalah kegiatan paling sulit untuk bermain layang-layang, begitupun berlari.



“Selamat ultah...!”
“Selamat milad..!”
“Selamat haul...!”
“Dirgahayu....!”

Bila tanggal 4 Januari tiba, Hp akan berdering. Notifikasi muncul, yang notabene memberi ucapan selamat. Di satu hal saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya semua, sangat berarti sebagai bentuk keakraban dan persaudaraan. Namun di lain sisi saya sungguh sedih, setiap tanggal 4 menjelang kesedihan saya akan hadir kembali.

Menjelang tidur, di malam sebelumnya sulit saya memejamkan mata. Meski lelah melanda, capai menggerogoti tungkai dan sendi. Satu yang selalu berkelebat di dalam kepala, apa yang akan terjadi disaat-saat sakaratul maut saya kelak.

Apakah sebelum menaiki ranjang ini saya sudah dalam keadaan wudhu’? bagaimana jika Allah tak berkenan menghidupkan saya kembali besok pagi? Apa yang harus saya pertanggung jawabkan kepada Allah kelak, sedangkan siksaNYA sungguh perih dan panjang. Hal-hal ini selalu menghantui saya, dan semakin menjadi saat ucapan-ucapan itu bertubi datang.

Terkadang untuk menghindari agar rasa sedih dan mashgul itu tak datang, jauh-jauh hari saya sudah memperingatkan teman dan saudara agar tak memberikan saya ucapan selamat, akan lebih baik bila mendoakan saya saja. Doakan saya kebaikan, insyaALlah saya akan membalasnya dengan do’a yang tak kalah baiknya.

Hingga pada tahun ini saya tersentak oleh kajian dr. Syafiq Riza Basalamah yang pada salah satu kajiannya menanyakan kepada khalayak tentang makna kalender islam yang kita miliki. Adakah yang rutin menggunakannya? Kenapa harus menggunakan kalender hijriyah sedangkan Masehi sangat populer?

Kita ini muslim, memiliki kalender sendiri. Patokannya adalah saat hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan seharusnya kita bangga dengan kalender kita sendiri. Dan yang paling penting adalah, semua perhitungan waktu yang pernah disebutkan di dalam Alquran dan hadits patokannya adalah Kalender Hijriyah, bukan Masehi.

Maka sejak itu saya pun semakin konsen dengan kalender Hijriyah, termasuk perhitungan tahun kelahiran. Saya dilahirkan pada hari Selasa tanggal 19 Rabi’ul awal 1403 H yang bertepatan dengan tanggal 4 Januari 1983, sehingga dalam hijriyah milad saya adalah pada tanggal 19 Rabi’ul awal 1438 H yg bertepatan dengan tanggal 29 Desember 2016 M. Muslim seharusnya menggunakan kalender Hijriyah yang berarti saya lebih yakin bila kelahiran saya adalah di tanggal 29 Rabi’ul awal bukan 4 Januari.

Dalam kelander Hijriyah setiap 33 tahun maka akan lengkap berselisih setahun dengan kalender Masehi. Artinya bila dalam Kalender Masehi usia saya telah mencapai 34 tahun pada tanggal 4 Januari, maka dalam kalender Hijriyah usia saya adalah genap 35 tahun pada tanggal 29 Rabi’ul awal. Kurang dari setengah perjalanan lagi menuju usia wajar ummat Muhammad. Yang mana sudah saatnya mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dan selalu mengingat mati. Karena sejak matilah perjalanan sesungguhnya dimulai.

Allah.....

‘Memintarkan orang soleh itu jauh lebih mudah daripada, mensolehkan orang pintar.’ Sepenggal kalimat dari seorang ustadz yang memberikan ceramah rohani di salah satu ruang kantor yang kini kutempati. Begitu dalam dan butuh beberapa saat untuk kucerna, disaat yang sama terlintas wajah anak-anakku. Kucoba kukaitkan antara kalimat itu dan wajah-wajah mungil yang kini barangkali sedang menikmati masa bermainnya.

Jejak-jejak jemari di dinding, atau pecahan-pecahan keramik di beberapa bagian lantai rumah tak kan pernah kuhilangkan. Tak jua terbersit untuk merenovasi serpihan-serpihan memori itu dari sudut rumah ini. Di setiap kamar, di setiap perabot ada terserak tawa canda mereka. Di bingkai jendela, di daun pintu ada tertinggal air mata sendu mereka. Biarlah bekas itu tetap menghiasi rumah ini selamanya.

Di setiap subuh hari, ada lantunan tilawah dari mulut-mulut mungil. Bukan tanpa permulaan, yang pasti disetiap malas mereka ada tarikan selimut kami, ada percikan air diwajah kantuk mereka.

Di setiap adzan berkumandang, jerit panggil kami yang mengganggu riang waktu main mereka. Bukan tanpa perjuangan, namun lelah lalai kami, harap memiliki arti di kehidupan mereka.

Di setiap wajah ketidakpuasan mereka, ada hentakan yang akan membuat mereka sadar. Bukan tanpa perlawanan, namun kami ingin mereka memiliki karakter yang dimiliki para orang soleh di awal usia mereka. karena mengisi kepala dengan ilmu dunia sangatlah mudah saat hati-hati mereka telah tertaut dengan iman, dan iman dapat dipatri dengan kebiasaan.

Saat serambi hati mereka terisi dengan kebiasaan yang akhlakul karimah, beban berat tidaklah selesai tertanggung. Karena anak-anak ini bukanlah seperti mangga yang diperam, yang dipaksa matang didalam ruang pengap, sempit dan gelap. Mereka adalah anak-anak zaman yang harus berkembang sesuai zaman yang mereka tapaki.

Namun tak bisa dipungkiri, di luar area rumah adalah wilayah yang tidak bisa dengan mudahnya dikontrol dan dikendalikan. Ada banyak sekali impuls yang akan membuat pemikiran dan penafsiran mereka akan kehidupan mereka sendiri teralihkan dari yang selama ini kutanamkan. Saat itu terjadi, ingatankau menerawang ke sebuah kalimat yang diberikan ibu dulu. ‘seperti engkau memegang mainan ular-ularan, biarkan kepalanya bergerak kesegala arah namun peganglah erat ekornya!’

Semakin sulit memang merangkum isi hati dan kemauan kepala anak-anak yang beranjak dewasa. Seperti mengisi balon dengan cat beragam warna, dan kemudian kita tak akan pernah bisa menebak warna apa yang akan keluar terlebih dahulu. Besar kemungkinan justru warna warna cat itu akan memunculkan warna baru yang jauh lebih indah dari warna apapun yang pernah kita masukkan.

Entah pengambilan buku raport yang keberapa kalinya yang tak bisa kami datangi lengkap ibu dan bapak. Sebab undangan yang diberikan adalah ditujukan kepada kedua orang tua, namun rata-rata yang ada diruangan kelas ini didominasi oleh ibu-ibu. Hanya 3 orang bapak bapak yang nongol menjadi pembeda.

Kali ini semangatku membara untuk ambil buku raport gadis sulungku, sebab setelah ini langsung menuju ke lokasi sekolah lanjutan yang diidam-idamkannya. Setelah seminggu yang lalu kami bertiga mengikuti test masuknya. Sebentar lagi gadis sulungku sudah SMP, waktu terasa hanya melewati kami. Seperti menyaksikan balapan di lintasan balap, kami hanya duduk di salah satu spot sedangkan para pembalap melewati kami dengan kencangnya. Kemudian termangu lagi, hingga pembalap melintasi kami lagi, berulang ulang setiap lap hingga finish tiba tiba mengakhiri semuanya.

Begitupun saat ku baca sebuah kertas pengumuman yang membuat jemariku tak sabaran tuk merobek ujungnya dan sedikit mengintip kata yang tertera didalamnya, DITERIMA ataukah BELUM DITERIMA.
 Tiba-tiba memori masa kecil gadis beliaku ini memenuhi isi kepala, sejak pertama kali kepala mungilnya kudekap didadaku, saat pertama kali menjejakkan kaki, saat pertama kali bisa mengayuh sepedanya, saat masuk sekolah beberapa tahun yang lalu. Semua hanya lewat seperti ku menyaksikan pembalap dari salah satu kursi tribun penonton. Berkelebat dengan cepat kemudian menghilang.

‘bapak, apakah putrinya sudah puber?’ Saya benar benar terbata menjawab pertanyaan dari salah satu pewawancara test masuk salah satu sekolah SMP ini. Pertanyaan yang sama sekali tak terlintas dipikiran untuk kusiapkan jawabannya. Pertanyaan ini bobotnya sama kayak dulu calon mertua menanyakan kepadaku, ‘apakah kamu siap menerima tanggung jawab membahagiakan anakku?’

Bukan karena ketidak tahuanku akan keadaan putriku. Bukan pula karena aku malu sebab aku adalah lelaki sedangkan dia adalah perempuanku. Namun angan-anganku kembali tercekat, putri sulungku sudah beranjak dewasa, dia bukan lagi gadis kecil yang dulu kugendong kemana saja dan kubanggakan sebagai penerusku.

Mungkin sebentar lagi, aku akan menerima penolakan darinya. Karena isi kepalanya sudah tak lagi sejalan dengan isi kepalaku, dan egonya sudah mampu untuk berkata ‘tidak’ kepadaku. Sebentar lagi keinginannya sudah berdiri sendiri, nasehatku barangkali hanya sepintas lalu. Dan sebentar lagi peranku mungkin bukan lagi bapaknya, tapi lebih sebagai sahabatnya. Peran baru yang kucoba tuk kujalani dengan meraba-raba, seperti apakah dunia wanita itu.

Mungkin ketika saat itu tiba, aku akan mundur selangkah. Akan ku persilahkan ibundanya menjadi sahabat terbaiknya, aku akan menjadi pelindungnya saat ada seorang lelaki yang mengetuk pintu rumahku dan meminta ijin untuk bertemu dengannya. Aku akan menjadi sopirnya saat dia memintaku untuk mengantarkan bersama teman-teman wanitanya. Aku akan menjadi penggemar rahasianya saat sepucuk surat dari salah seorang temannya mampir di alamat rumah.

Saat itu tiba, aku mungkin akan menyesali telah kehilangan banyak waktu membersamainya saat kecil dulu. Akan kuserahkan tugas sebagai ‘roomate’ kepada bundanya, karena perasaan wanita lebih terkait terhadap sesama wanita. Aku menyadarinya dan aku relakan itu semua. Mungkin sisa-sisa keberadaanku akan ada di dalam setiap shalat dan doaku.

Ah, mungkin aku terlalu baper memikirkan hal-hal yang terlalu jauh. Si sulung baru mau masuk SMP, belum juga puber. Namun pikiran ini selalu saja melayang layang setiap kali si sulung berganti jenjang sekolah. Saat lulus TK dan mau masuk SD pun dulu begini, sekarang hendak masuk SMP malah makin menjadi. Ketika masuk SMA barangkali saya ga ikut mendaftarkan saja, biarkan bundanya yang bergerak, daripada air mataku tumpah nanti di sekolahan. Berabe...

Apatah lagi nanti saat ada seorang lelaki yang meminang dirinya, bisa nangis 7 hari 7 malam (bung ahay version...). namun saat-saat itu pasti akan tiba, bila Allah memberiku umur panjang maka keadaan itu harus ku persiapkan sejak dini. Namun jika tiba saatnya berpisah, rasanya tak kuasa kami mencegahnya seiring tak kuasa kutahan apa yang menjelang di depan.
Dia memintaku duduk disebelahnya, disamping degup jantungnya. Dia memandangku, membaca suasana hatiku. Dia merasakan kehadiranku sepenuhnya, menyelimuti gelisahku. Kemudian dengan segenap keberaniannya, dia tumpahkan semua isi hatinya. Ah ... dasar wanita, ini semua hanyalah masalah rasa, yang harus ku-iya-kan. Namun tanpa itu wanita tidak akan pernah menjadi wanita.

Ayam jantan sudah bersahutan sejak sebelum mentari menampakkan sinarnya dicakrawala. Namun kabut tak jua beranjak dari kaca jendela kamar kami, menyapa embun yang kian pekat membasahi kisi kisi hati ini. Pagi ini adalah pagi di tahun ke dua belas usia pernikahan yang rencananya akan kami jalani selama kami masih hidup.

Empat buah hati kami, berebutan mengetuk pintu agar tetap bersama di pagi yang membeku ini. Teriakan dan candaan semakin hari semakin ramai, bersamaan dengan semakin bertamahnya keinginan yang mereka miliki. Mereka mengalihkan dunia yang selama ini kuketahui, memberi tambahan semangat untuk menjalani hari.

Menjalani pernikahan tidaklah semua mengenai suka cita, tidak juga semua mengenai duka lara. Pernikahan seperti meloncat ke dalam kolam yang berisi pijakan antara duka dan suka. Silih berganti berada diantaranya. Kadang juga terjerembab bersama, mengusap luka bersama, basah bersama. Terkadang menemukan permata, melihat langit yang sama.

Pernikahan menggambarkan tentang sebuah jalinan temali dimana ujungnya tidak sama panjang namun melekat bersama hingga temali itu menjadi lebih kuat dan tegar. Membuka pintu rumah dan yang didapati pertama adalah serakan mainan bahkan handuk basah, terbangun dengan aroma gosong masakan didapur, kalut saat pasangan belum juga sampai dirumah saat matahari telah terbenam. Dapat dengan lapang melepaskan kejengkelan tanpa berfikir mungkin dia lebih jengkel.

Namun menukar semua itu dengan memutar waktu bukanlah sebuah pilihan yang akan kuambil. Dua belas tahun yang kulewati telah membentukku menjadi lelaki seperti apa diriku seharusnya. Pernikahan memberiku pengalaman yang lebih dari cukup untuk menjadi suami.

Mencumbui kecemburuan, membersamai rindu, tertawan oleh sosok yang jauh lebih lemah ... ah pernikahan.
Bahagianya hari tidaklah mungkin ditakar dari surutnya cahaya mentari, indahnya malam tidak pula diukur dari ada dan tiadanya gemintang. Aku hilang di antara keramaian, bercanda dengan fikiranku sendiri.Memandangi bayangan, dengan dinginnya rasa.

Mentari masih bersinar dengan teriknya namun tak jua kurasakan hangatnya. Kutunggu malam tiba semoga gemintang bisa memberikanku keindahan, walau diujung langit kulihat awan hitam berarak.

Ku tak berharap hujan kembali datang, namun bukankah hujan adalah pertanda bahwa pekat akan segera hilang? Namun kini disekujur kulit telah kurasakan rintik air di udara, walau sebenarnya hujan belum datang. Awan hitam masih bergayut di kaki langit. Setia menunggu angin yang akan menghantarkannya ke tanah kering bebatuan.

Aku berdiri di persimpangan, merendah bersamai pioni. Menatap dengan mata yang berdebu, badai akan segera tiba. Menentukan hendak kemana hati ini akan dibawa. Menunggu setiap kata agar dapat kutahan rintihan lidah dan gelegarnya ucapan.

Tak peduli setajam apa hempasan hujan, aku akan tetap berjalan. Walau sakit, walau perih, karena di persimpangan itulah aku akan menunggu saat mentari kembali menyala.

Belahan jiwa....
Apa kabarmu disana?
Adakah engkau baik-baik saja?
Bila mendung menggelayuti langitmu, aku akan basah untukmu.
Kita akan duduk di bangku itu, dan memandang pelangi hingga mentari tak lagi bersinar.
Bersama.....
Hingga bosan hujan mengguyur
Hingga enggan mentari bersinar
Hingga lelah awan hitam menaungi
Hingga tiba waktu berhenti.

Beberapa waktu terakhir ini istri senang nonton satu acara di salah satu Chanel TV, acara yang awalnya tak membuatku tertarik. Semacam liveshow yang ditayangkan seminggu sekali, dengan durasi sekitar 60 menit. Awalnya ku pikir hanya acara murahan, biasalah acara-acara liveshow begini pasti banyk yang diatur, awalnya yang tujuannya mencari muatan yang mendidik lama-lama berubah jadi mencari rating murni.

Namun memang bila melihat chanel yang menayangkan bukan chanel yang biasanya berisi ‘sampah’. Jadilah tergerak tuk membersamainya nonton acaranya. Membersamai istri dalam mengerjakan hobynya itu termasuk romantis loh, kecuali kalau hoby istri nonton uttaran.

Judul acara live show itu menarik, “Married at the first sight” dimana acara dibuat sesungguhnya dan dengan pengaturan atau drama yang sangat minim. Di barat sono, menikah tanpa mengenal terlebih dahulu calon pasangannya bagi sebagian orang adalah hal tabu, dan bagi sebagian yang lain justru aneh.

Dengan berbagai persiapan, penilaian yang dilakukan oleh panelist yang terdiri dari pakar pernikahan, agamawan, psikiatrist dan dokter. Setiap season akan ada 3 pasangan yang akan dinikahkan tanpa mereka terlebih dahulu mengenal pasangannya masing-masing. Mereka diberi kesempatan selama 6 bulan setelah pernikahan untuk mengenal pasangannya masing-masing. Setelah 6 bulan 3 pasangan ini akan dipanggil kembali dan ditanya tentang komitmennya dalam melanjutkan pernikahan itu. Apakah mereka mendapatkan cinta dari pernikahan itu atau mereka jadi tidak cocok dan mengajukan cerai.

Di dunia yang agak ke timur, hal semacam ini justru sangat lumrah, dari jaman nenek moyang kita sering ada pernikahan yang diatur. Bahkan di dalam Islam justru menikah adalah pintu gerbang menuju kehidupan berumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Bagi dunia yang agak ke barat hal ini masih menjadi pertentangan.

Yang menjadi seru kemudian adalah, ketika di dalam liveshow ini, setiap episode menampilkan tiap babak dari 6 bulan kehidupan awal para pasangan yang sebelumnya tidak pernah bertemu sama sekali ini, dan hanya dipertemukan saat di altar pernikahan. Ada yang takjub dengan fisik pasangannya, ada juga yang kecewa karena tak sesuai impiannya. Semakin hari bersama, semakin mereka mengenal karakter, sifat, gaya hidup, kebiasaan bahkan menemui apa yang selama ini tak pernah terfikirkan oleh tiap tiap pasangan masing-masing.

Ada yang terkejut, dan sangat berharap pasangannya mengikuti setiap maunya. Ada yang terkejut dan bersikap defensif dan menutup diri dari pasangannya. Lebih banyak lagi yang terkejut dan berusaha mengenal lebih baik pasangannya. Semua tergantung bagaimana setiap pasangan bereaksi terhadap perbedaan.

Dalam menjalani pernikahan, kita merelakan banyak bagian dari diri kita untuk hilang. Namun bagian yang hilang tersebut menyisakan ruang yang siap diisi oleh orang lain yang kita nikahi. Perihal merelakan inilah yang membutuhkan waktu yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lama waktunya pun tak memperdulikan sejauh mana kita mengenal pasangan sebelum nikah dulu. Mau cintanya first sight atau thousand sight after, tetep saja perkara merelakan ini adalah perkara yang sulit untuk diketahui ujung akhirnya. Bisa jadi hingga akhir hayat, masalah merelakan ruang untuk diisi orang lain ini masih menjadi perihal yang belum mendapatkan solusinya.

Saya tidak pernah menjadi perempuan, hingga saya tidak akan pernah tahu bagaimana perempuan merelakan hatinya untuk diisi dengan kehadiran orang lain dalam hidupnya yang saya tahu hanya sebuah larik indah dari om Garin Nugroho dalam menggambarkan hati perempuan; Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.

Om Garin menggambarkan cinta dihati perempuan itu seperti kuku, akan terus tumbuh walau dipotong sekalipun. Hati yang di dalamnya ada cinta yang tak pernah padam bila sudah mendapat tempatnya. Meskipun hanya memiliki ruang seujung jari, cinta itu tak pernah akan pernah lekang oleh waktu.

Sedang diriku, diriku memiliki ruang yang cukup luas untuk cinta yang tak akan pernah lekang oleh waktu itu. Dadaku cukup bidang untuk seluruh keluh kesah itu. Lenganku masih cukup kekar untuk mengangkat beban hidup itu. Dan jemariku masih cukup halus untuk mengusap setiap tetes air mata yang mengalir di pipi itu.

Aku sering lupa..
Bagaimana caramu membangunkanku
Setiap pagi

Aku sering lupa...
Hari ulang tahunmu
Daripada anak-anakmu

Aku sering lupa...
Bagaimana engkau tetap terjaga
Menungguiku

Aku sering lupa...
Tentang rapuhnya hatimu
Menjaga hatiku

Aku sering lupa...
Besarnya pengorbananmu
Mencintaiku

Aku sering lupa, tentang bagaimana kamu membersamai diriku. Tentang perasaanmu, tentang hari-harimu, tentang lelahnya jiwamu. Aku terlalu egois, memintamu tuk selalu mengerti diriku.

Aku sering lupa, tentang berapa kali aku pernah menyakitimu. Namun entah apa yang kini dapat membuatmu bahagia. Aku terlalu sibuk, hingga tak pernah terlintas tuk menanyakannya padamu.

Aku sering lupa, tuk sekedar memelukmu saat kau membutuhkan dekapanku. Ceritamu setiap malam, hanya kuanggap angin lalu. Aku terlalu lelah, hanya tuk menjadi pendengar setiamu.

Aku sering lupa, melihat relung hatimu. Menciderai harapanmu tentang kewajiban kebapakanku kepada anak-anak kita. Aku terlalu kerdil, menyerahkan masalah rumah tangga ini hanya kepadamu.

Aku sering lupa, jika tak ada manusia yang hidup abadi, begitupun dirimu. Mungkin saat itu penyesalan pun sudah teramat terlambat. Aku terlalu malu, mengakui bahwa dirimulah satu-satunya wanita yang memenuhi ruang waktuku.

Namun, aku tak pernah lupa....
Namamu akan selalu ada dalam doa-doaku

Dua pekan telah berlalu, Jogjakarta memang bukan kota kelahiranku pun bukan tempat dimana ku dibesarkan. Namun entah kenapa kota tempat nenek dan bapakku dilahirkan ini meninggalkan bekas yang susah sekali dilupakan. Sudah tiga kali lebaran kuhabiskan di kota ini walau tidak secara berturut namun memberikan kesan yang begitu dalam.

Dimulai ketika aset almarhumah ibu yang diwariskan kepadaku. Dengan persetujuan keluarga aset itu kupindahkan ke Jogjakarta mengingat keluarga bapak ada di Jogjakarta. Hingga setiap lebaran kuputuskan untuk mengunjungi keluarga bapak, sedangkan untuk menambah satu malam perjalanan lagi menuju kota Malang sangatlah kepayahan. Kudapati Jogja telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana akhir karirku akan dihabiskan, itupun bila Allah berkehendak memberi bonus pada umurku.

Donotirto sebuah desa kecil di wilayah kabupaten Bantul, sekitar 45 menit arah selatan kota Jogjakarta. Jalan terpendek yang dapat ditempuh untuk menuju wisata pantai terkenal di wilayah Jogja yaitu pantai Parangtritis. Aspal yang menghitam mulus dengan pemandangan sawah-sawah menghampar akan menghiasai kelopak mata setiap orang yang melewati jalur menuju desa Donotirto.

Desa yang tenang, tak terimbas hirup pikuk kota Jogja yang semakin hari semakin memangkas waktu tiap yang melaluinya. Dimana setiap warganya saling mengenal, dari ujung gang hingga ujung desa. Dimana setiap penghuni pasar saling menyapa ramah walau belum pernah bertemu sapa sebelumnya. Suasana pagi yang tak pernah lepas dari ingatan, para tetua yang bersiap menuju sawah. Muda-mudi yang bersiap menuju sekolah bahkan para pamong desa dengan anggunnya tersenyum menyapa. Dan semua itu begitu membekas karena dimataku ada yang begitu unik yang tak akan pernah lupa. Hampir seluruh mereka beraktivitas pagi sambil mengayuh sepeda-sepeda tua peninggalan jepang.

Bagiku sendiri yang notabene makhluk kota besar, melihat pemandangan itu adalah hal yang sangat menggembirakan. Momen langka yang tak akan didapati di hiruk pikuknya kota. Yang bahkan antara tetangga saja sangat sulit untuk bertemu apalagi bertegur sapa. Tetangga bagi komunitas kota besar bagaikan terpisahkan oleh tembok besar sepanjang planet Bumi dan planet Mars.

Ah, Jogja memang sangat sulit dilupakan, malamnya yang membeku selalu menutun langkahku tuk mendatangi sudut-sudut kotanya duduk bersila bersama teman-teman yang tak kukenal sebelumnya. Keramahan merekalah yang menjadikan seperti teman yang begitu lama hilang. Musisi-musisi lokal yang meminta tempat benar-benar menghipnotisku tuk takjub akan keindahan kreatifitas mereka.

Mungkin masih ada lebaran-lebaran yang lain yang akan memanggilku tuk selalu mendatangi Jogja. Mungkin disanalah hatiku tertambatkan, menunggu saat yang tepat tuk membangun kehidupan baru ditanah leluhurku disemayamkan. Mungkin hanya SK yang menghalangi menuju kesana…..



Ada banyak sebab yang menjadikan kita untuk menjadikan tempat kelahiran kita sebagai homebase. Kuartikan homebase adalah tempat berakhir karir kelak, mungkin berbeda bagi orang lain. Homebase adalah tempat ku kembali kelak. Setelah semua tuntutan hidup terselesaikan, habis masa kejayaan, selesainya tanggung jawab. Homebase lebih identik sebagai suatu tempat menunggu maut menjelang.

Sejatinya dalih tak lagi dibutuhkan ketika beberapa orang mengatakan homebase adalah tempat asal-usul, atau tempat dimana masa terlama hidup dihabiskan. Dalih yang hanya akan didapat jawaban bahwa sebenarnya homebase adalah tempat berkumpulnya kenalan terbanyak. Klise memang, mengatakan homebase adalah tempat dimana keluarga berkumpul namun justru ketika homebase didatangi porsi terbesar yang mengisis kebahagiaan adalah ketika berkumpul bersama teman lama. Terbersit keinginan untuk memperlihatkan hasil dari rantauan. Baik itu hasil materi atau keberhasilan membangun rumah tangga. Anak-anak yang tengil tengil, pasangan yang cakap dan good looking, atau bahkan materi yang terkadang justru memaksa tuk melebihi kemampuan sendiri.

Jogja telah menyita perhatianku tuk kujadikan homebase. Jogja bukanlah kota kelahiranku, bukanlah tempat kudibesarkan, bukanlah tempat dimana berkumpul semua kenalanku. Jogja menjadi homebaseku karena penduduknya yang begitu memikat, karne alamnya yang begitu asri, karena keautentikan budaya dan keaslian senyumnya.