17 April 2026
Ada satu kebiasaan yang sepertinya sudah menjadi "kulit kedua" bagiku sejak menginjakkan kaki di kota ini: memakai earphone. Ke mana pun kaki melangkah, bahkan hanya untuk perjalanan rutin ke kantor, benda kecil itu selalu menyumbat telinga. Awalnya, ia adalah benteng. Musik menjadi dinding yang melindungiku dari rasa asing di tempat yang belum kukenal.
Namun, akhir-akhir ini aku mulai merasa ada yang keliru. Ada sesuatu yang hilang saat dentum musik memenuhi kepala.
Aku menyadari bahwa ketika earphone terpasang, salah satu inderaku seolah terpasung. Memang benar, aku bisa mendengar melodi favorit, tapi di saat yang sama, input dunia di sekitarku terhenti. Aku menjadi sosok yang kaku dan tidak responsif. Aku melihat bibir orang bergerak tapi tak mendengar suaranya, aku melihat kendaraan melintas tanpa derunya. Lama-kelamaan, rasanya seperti membeku di tengah keramaian. Aku ada di sana, tapi jiwaku terisolasi dalam frekuensi yang kupilih sendiri.
Pagi ini, aku memutuskan untuk melakukan hal yang berbeda. Kubuka earphone itu, kubiarkan ia tergantung mati di leher.
Seketika, dunia seperti meledak terbuka.
Tiba-tiba saja, aku mendengar semuanya. Suara langkah kaki yang bersahutan di trotoar, gemericik air dari pancuran di taman kota, hingga teriakan khas penjaja asongan yang menawarkan dagangannya. Semua suara itu menyerbu masuk tanpa filter. Ya, memang bising. Sangat bising jika dibandingkan dengan playlist akustik yang biasa kudengar.
Namun, ada harmoni yang aneh di sana. Kebisingan itu adalah tanda kehidupan; sebuah simfoni alam perkotaan yang selama ini sengaja kubisukan. Ternyata, menjadi responsif terhadap sekitar—termasuk pada suara-suara yang tak terduga—membuatku merasa lebih "hidup" dan hadir sepenuhnya. Kota ini tidak lagi terasa seperti latar film bisu, melainkan sebuah ruang yang bernapas, dan aku akhirnya menjadi bagian di dalamnya.
Keputusan kemarin ternyata membawa sisa-sisa pemikiran yang cukup dalam pagi ini. Aku duduk di bangku taman sebentar sebelum masuk ke lobi kantor, mencoba mencerna transisi ini.
Selama ini aku mengira bahwa dengan menutup telinga, aku sedang melakukan self-care—menjaga kewarasan dari polusi suara kota yang brutal. Tapi aku keliru menafsirkan ketenangan. Tenang bukan berarti kedap suara; tenang adalah ketika kita mampu berada di tengah hiruk-pikuk tanpa merasa terancam olehnya.
Ada semacam kepekaan yang mulai tumpul saat aku terlalu lama "bersembunyi" di balik teknologi. Tanpa suara latar dari musik, aku dipaksa untuk kembali belajar membaca situasi. Aku mendengar nada bicara orang yang sedang terburu-buru, aku menangkap decit rem yang memperingatkanku untuk waspada, bahkan aku mendengar sapaan kecil dari petugas keamanan yang selama ini hanya kubalas dengan anggukan kaku karena telingaku tertutup.
Ternyata, saat indera pendengaran terbebas, indera yang lain ikut terbangun. Mataku jadi lebih awas melihat detail arsitektur bangunan, penciumanku lebih peka pada aroma kopi dari kedai di pojokan, dan langkah kakiku terasa lebih ringan, lebih sinkron dengan irama trotoar.
Aku tidak lagi merasa seperti robot yang bergerak di atas rel menuju kantor. Aku merasa seperti manusia yang sedang berinteraksi dengan ruang. Ada keberanian baru yang tumbuh dari hal sederhana ini: keberanian untuk tidak merasa perlu selalu terhibur atau teralihkan.
Mungkin, gaya hidup yang selama ini kuanggap modern dan efisien sebenarnya hanyalah cara untuk lari dari kenyataan yang ada tepat di depan mata. Hari ini, aku memilih untuk tetap "terbuka". Membiarkan kebisingan kota menjadi musik latarku, dan membiarkan diriku sendiri menjadi konduktor bagi pengalaman-pengalaman kecil yang selama ini terlewatkan.
Dunia ini terlalu luas untuk dinikmati hanya lewat satu frekuensi kabel saja.



0 komentar:
Posting Komentar
Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.