Pintu Rumah Kita Yang Sedang Tertutup


 **11 April 2026**

Hari ini ditutup dengan perasaan yang sedikit... mengganjal. Seperti ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari tenggorokan, tapi tertahan oleh gengsi atau mungkin rasa takut yang aku ciptakan sendiri.

Aku sadar, aku punya kebiasaan aneh. Aku suka sekali mengirim pesan tentang hal-hal sepele. *"sendalnya bagus, enak buat jalan-jalan,"* atau *"Kopi hari ini rasanya lebih pahit dari biasanya."* Aku melakukannya bukan karena dia perlu tahu, tapi lebih karena aku ingin merasa diriku masih "ada" di sela-sela harinya. Aku ingin memastikan namaku masih muncul di notifikasi ponselnya, meski hanya sebagai distraksi kecil.

Tapi lucunya, di balik rentetan cerita receh itu, aku justru menutup rapat pintu untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Gundah, gelisah, atau tekanan pekerjaan yang rasanya mau meledakkan kepala? Aku simpan sendiri. Rasa sakit yang terkadang bikin sesak? Aku telan bulat-bulat. Bodoh memang. Aku punya alasan yang terdengar mulia di kepalaku: **"Aku nggak mau bikin dia cemas."** Tapi jujur saja, itu cuma kedok. Sebenarnya aku cuma nggak siap kalau harus terlihat lemah di depannya.

Terkadang berat sekali menjalani semuanya sendirian. Ada saatnya aku menatap layar ponsel, ingin mengetik, *"Aku nggak oke hari ini,"* tapi jariku berhenti. Aku malah mengetik, *"Tadi makan siang enak banget, lho!"*

Siapa, sih, yang nggak mau dimanja? Siapa yang nggak ingin sesekali jadi pihak yang ditenangkan tanpa harus diminta? Tapi setelah kupikir-pikir lagi, berharap dia akan peka dan memberiku "ruang manja" itu rasanya seperti mengejar mimpi di siang bolong.

Dia memang bukan tipe orang yang punya kapasitas untuk itu. Atau mungkin, akulah yang tidak pernah memberinya kunci untuk masuk ke ruang gelapku.

Penyesalan itu datang sekarang. Aku lelah berpura-pura kuat, tapi aku juga terlalu takut untuk memulai kejujuran. Akhirnya, aku terjebak dalam siklus menceritakan hal-hal kecil, sambil memikul beban besar yang pelan-pelan mulai membuat pundakku pegal.

Mungkin besok aku akan mencoba jujur. Atau mungkin tidak. Entahlah.

***

Aku baru sadar, masalahnya bukan cuma pada ketidakterbukaanku. Masalah utamanya jauh lebih dalam: aku mencintainya dengan cara yang hampir menghancurkan.

Rasanya konyol kalau dipikir-pikir. Aku sudah tahu betapa beratnya memikul segalanya sendirian, tapi melepaskannya pun rasanya jauh lebih tidak mungkin. Aku sudah terlanjur jatuh terlalu dalam, sampai batas antara "mencintai" dan "menyakiti diri sendiri" itu jadi kabur.

Aku jadi teringat filosofi lilin. Mungkin itu analogi yang paling tepat untuk posisiku sekarang. Aku rela membakar diriku sendiri, membiarkan sumbuku habis dan tubuhku luluh lantak perlahan-lahan, asalkan seluruh ruangannya tetap terang. Asalkan dia tetap merasa hangat dan nyaman, meski untuk itu aku harus perlahan menghilang ditelan lelehan perasaanku sendiri.

Ada rasa sakit yang aneh di sana—semacam kepuasan yang menyedihkan karena bisa menjadi orang yang selalu ada, meskipun aku sendiri sedang hancur.

Aku tahu, lilin yang terus terbakar pada akhirnya akan padam dan hanya menyisakan bekas kerak yang dingin. Tapi untuk saat ini, melihat dia tidak perlu merasakan kegelapan yang aku rasakan sudah cukup bagiku. Biarlah aku yang habis, asalkan dia tetap bisa melihat jalannya dengan jelas.

Benar-benar definisi mencintai yang melelahkan. Tapi ya, inilah aku. Masih di sini, masih menyala, meski sudah hampir rata dengan alas.

***

Di sela-sela pengorbanan yang kuanggap mulia ini, ada sisi hitam yang seringkali enggan kuakui. Aku sangat berharap dia bisa mengikuti semua kemauanku. Aku ingin dia ada di sini, sesuai caraku, sesuai standarku. Tapi kemudian aku tersadar bahwa harapanku itu seringkali terlalu mengada-ada.

Kemauanku itu seperti matahari. Aku ingin menyinarinya, melindunginya dari gelap, tapi aku lupa bahwa sinarku terkadang terlalu terik hingga justru membakar apa pun yang kusentuh. Aku ingin memiliki, tapi caranya menghanguskan. Aku ingin dia bahagia, tapi harus dengan cara yang aku tentukan.

Sulit sekali rasanya berdiri di tengah-tengah. Egoku ternyata setinggi itu, cukup tinggi untuk membuatku buta dan abai bahwa dia juga punya ruang sendiri. Aku terlalu fokus pada bagaimana cara mencintainya, sampai aku lupa bertanya apakah cara mencintaiku ini justru membuatnya sesak.

Logika dan ego terus berperang, tapi pada akhirnya, hatiku yang keras kepala ini tetap berujung pada satu pinta yang sama.

Tuhan, aku tidak minta banyak lagi. Jika memang aku egois, biarlah ini jadi permintaan egois terakhirku: cukup tetapkan saja umurku agar sampai pada titik di mana aku bisa merengkuhnya kembali. Aku ingin waktu yang cukup untuk memperbaikinya, untuk memeluknya sepanjang hari, sepanjang masa, dan selamanya.

Aku hanya ingin kesempatan untuk sekali lagi berada di dekatnya, tanpa harus membakar, tanpa harus menjadi lilin yang habis. Hanya aku, dia, dan keabadian yang tidak lagi menyakitkan.

-Titik-



0 komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.