Jakarta ; Hilangnya Kendali Atas Waktu

 



08 April 2026 – 02:14 AM


Entah ini insomnia yang sedang berpesta di kepalaku, atau sekadar efek tubuh yang kekurangan gula, aku tidak tahu. Yang jelas, malam-malamku belakangan ini terasa lebih panjang dari biasanya. Mataku menolak terpejam, sementara otakku terus memutar ulang memori seperti kaset rusak.


Semua ini dimulai sejak ambisiku menang—ketika anganku meronta-ronta untuk menaklukkan kota yang katanya tak pernah tidur ini: JAKARTA.


Ternyata, berteman dengan Jakarta tidak semudah membalik telapak tangan. Hiruk-pikuknya yang tak kenal ampun, kemacetan yang seolah mengisap nyawa, hingga polusi yang menyesakkan dada benar-benar membuat seluruh inderaku shock. Rasanya seperti dilemparkan ke dalam mesin cuci yang sedang berputar kencang. Aku kewalahan. Aku TERKURAS.


Kota ini menuntut segalanya, tapi sepertinya ia lupa memberiku ruang untuk sekadar bernapas.


Namun, di tengah sesaknya beton dan aspal, aku menemukan sebuah celah. Sebuah lokasi yang perlahan menarik kembali kesadaranku, menjahit kembali kepingan diriku yang sempat tercerai-berai.


CIRENDEU


Berdiri di tepi Situ Gintung, aku merasa seperti pulang. Suasananya, riak airnya, hingga semilir anginnya mendadak mengirimku kembali ke 20 tahun yang kuhabiskan di Bandar Lampung. Kota yang telah menyita hampir setengah umurku itu seolah hadir di sini, di pinggiran Jakarta yang sibuk ini.


Di Bandar Lampung, mungkin aku masih punya kemewahan untuk menikmati kopi tanpa terburu-buru, atau berkendara tanpa harus menghitung sisa kewarasan karena macet. Ada ritme yang manusiawi di sana—sesuatu yang di Jakarta dianggap sebagai barang antik yang mahal harganya.


Wajar jika Cirendeu terasa seperti oasis. Di sana, waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat, memberiku ruang untuk "berhenti" sejenak dari tuntutan Jakarta yang serba fast-paced. Memori tentang tempo hidup Lampung itu bukan sekadar nostalgia, tapi mekanisme pertahanan diri agar tidak habis ditelan hiruk-pikuk ibu kota.


Di sini, aku menemukan oasis. Sebuah titik henti di mana aku tidak perlu menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Cukup menjadi aku yang sedang berusaha bertahan hidup. Mungkin Jakarta tidak sekejam itu, selama aku tahu ke mana harus melarikan diri saat dunia terasa terlalu bising.


Malam ini, setidaknya jiwaku sedikit tenang, meski mataku masih terjaga.

0 komentar:

Posting Komentar

Jangan sungkan menuliskan segala sesuatu, maka sampaikan walau pahit. insyaALlah lain waktu saya akan berkunjung balik.